Mistletoe (Listen To You Sequel)

cover

 

Judul               : Mistletoe (Listen To You Sequel)

Author             : DraKyuBubble

Main cast         : Cho KyuHyun, Jung San Di

Other cast        : Lee Donghae, etc

Genre              : Romance

Length             : Oneshoot

Rating             : PG17

 

Satu persatu halaman website telah habis dibabat oleh San Di tanpa ampun. Mulai dari yang membeberkan artikel singkat hingga artikel dengan informasi detail sekalipun. Matanya bergerak cepat membaca kata demi kata, jari-jari lentiknya menari lincah di atas papan ketik, memasukkan keyword yang sama dengan keterangan berbeda.

Wanita cantik itu benar, batinnya. Cho Ahra benar. Dirinya sekarang sudah memenuhi headline news media sosial sejak event besar yang baru saja di gelar satu bulan lalu .

“Kau benar-benar hebat, Cho Kyuhyun.” umpatnya pelan. San Di menggigit bibir bawah ketika sebuah judul besar muncul di layar Macbooknya.

Pernikahan Pengusaha Muda Cho Menghabiskan Dana Melebihi Harga Satu Kapal Pesiar

“Oh … great.” Desahnya lalu menghempaskan punggung pada sandaran kursi.

Ini bukanlah hal yang sangat dia harapkan. Dia  tidak pernah menyangka bahwa yang menikahinya bukan hanya seorang pria yang cukup populer di kalangan para pengusaha besar, tapi juga dikenal masyarakat luas. Bahkan wajah pria itu kini sudah mulai terpampang di majalah fashion ternama, membuatnya resah bukan main.

Sejenak San Di menatap gambar dirinya dan Kyuhyun yang menghiasi dinding kamar, foto pernikahan mereka yang terlihat bahagia. Keningnya berkerut samar saat mengalihkan pandangan ke jam dinding. Sekitar lima menit lagi pria itu akan tiba dirumah. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat sepuluh dan dia masih terjaga didepan meja tulisnya dalam keadaan seperti ini.

Celana jeans biru panjang disertai kemeja putih yang tiga kancing bagian atasnya tidak dipasang dengan benar, hingga memamerkan bagian selangka gadis itu yang melengkung indah. Rambutnya di ikat tinggi dan poninya jatuh menutupi sebagian dahi.

Baru saja San Di menutup Macbooknya pintu kamar mereka terbuka, pria itu muncul dengan senyuman manis. San Di memperhatikan penampilan Kyuhyun dari atas hingga bawah dan menemukan sebuket mawar merah ada pada genggaman tangan kanan pria itu.

Seketika itu juga San Di mengerang malas dan menatap bosan pada Kyuhyun yang berjalan mendekatinya. “Kau mendapat hadiah dari penggemar? Lagi ?” Kyuhyun terkekeh pelan mendengarnya.

“ Kali ini siapa? Apa bunga itu berasal dari model cantik yang sering bertandang ke kantormu?”

“Jika iya?” Kyuhyun tersenyum miring dan meletakkan buket itu di atas meja nakas disamping ranjang mereka. Dia melepas jas dan kancing kemeja seraya menatap geli pada gadis yang kini sedang menunjukkan wajah tidak peduli padanya.

“Apa kau cemburu, nona? Katakan padaku dengan jujur.” Goda Kyuhyun. Kyuhyun sekarang telah selesai mengganti pakaiannya dengan celana training hitam bergaris abu-abu di bagian tepi dan kaus v-neck hitam yang melekat pas pada tubuhnya.

Kyuhyun memperhatikan San Di dari ranjang mereka, duduk menyandar pada kepala ranjang sambil memangku benda hitam kesayangannya. Menurut Kyuhyun, San Di bukanlah tipe gadis yang pencemburu. Selama dia mengenal  San Di, San Di tidak pernah sekalipun memperlihatkan sinyal-sinyal tak mengenakkan padanya ketika wanita lain datang dan memohon perhatian yang lebih dari seorang Cho Kyuhyun.

“Aku tidak cemburu. Tidak sedikitpun. Hanya ingin mengeluarkan argument bahwa wanita itu pantas untukmu.” Ucap San Di ringan.

“Hm?” Kyuhyun mengerutkan dahi, memastikan telinganya tidak salah dengar. Terkadang San Di suka mengeluarkan kalimat yang kurang dia mengerti.

“Tubuhnya lumayan, kakinya juga sempurna, wajahnya cantik, dahinya indah, memiliki latar belakang yang tak jauh beda denganmu. “ San Di beranjak dari meja tulis dan membiarkan seluruh rambutnya jatuh tergerai melewati bahu, berjalan menuju ranjang yang telah di isi lebih dulu oleh Kyuhyun.

“Jadi?” Kyuhyun menepuk-nepuk spot di sebelahnya agar gadis itu segera duduk disana.

“Jadi kesimpulannya …  dia  adalah tipe wanita ideal mu.” Sahut San Di mantap. Ini bukanlah kejadian langka bagi Kyuhyun , karena San Di memang sering memuji kelebihan wanita lain secara terang-terangan didepannya.

“Oh ya? Kau pintar sekali menciptakan alasan. Lalu menurutmu kau itu siapa?”  Kyuhyun memajukan wajahnya sedikit. San Di menoleh dan agak kaget menemukan wajah Kyuhyun yang terlalu dekat. Dia segera meletakkan jari telunjuk di bibir Kyuhyun dan mendorong wajah pria itu menjauh.

“Aku? Tentu saja istri Cho Kyuhyun. Kau kira posisiku bisa digeser oleh wanita idealmu? Bermimpi saja kau,Cho. Aku tidak akan menyerahkan marga Cho dengan mudah pada sembarang orang.”

“Percaya diri sekali. Secinta itukah kau padaku?”

San Di mendelik kesal sebelum kemudian menenggelamkan dirinya dibalik selimut. “Jangan salah paham. Aku hanya takut popularitasku jatuh jika kau terlalu dekat dengan wanita lain. Kau tahu kan sekarang ini aku sudah mulai menjadi artis terkenal.  Siapa tahu aku bisa menjadi seperti Kim Yoon Ah.”

Kyuhyun menyingkirkan benda yang ada di tangannya jauh-jauh. Tiba-tiba saja psp nya berubah menjadi sesuatu yang paling membosankan.

Kyuhyun ikut berbaring. Mereka berdua kini saling berbagi kehangatan di balik selimut. San Di tidur menghadap tepat padanya dengan kedua mata terpejam. Bibir dinginnya terkatup rapat, kedua pipinya merona karena pengaruh udara Seoul yang rendah –salju mulai berjatuhan diluar sana, bulu mata lentik serta alis matanya yang memukau selalu berhasil menghipnotis Kyuhyun untuk tidak beralih sedikitpun dari wajah itu.

Dia pasti sangat lelah karena Incheon Hospital menampung banyak pasien hari ini, batin Kyuhyun.

Tidak biasanya San Di langsung tertidur begitu kepalanya menyentuh bantal. Dia akan meminta Kyuhyun menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur agar bisa menariknya menuju alam bawah sadar. Baginya suara bass Kyuhyun lebih terdengar seperti Lullaby yang mengalun merdu dengan ritme harmonis, mengesankan, sekaligus membuatnya mengantuk.

“Sedang mengagumi istrimu sendiri, tuan?” ucap San Di dengan nada rendah. Kyuhyun tersenyum singkat.

“Kau belum tidur?”

“Seharusnya aku sudah tidur dari tadi jika kau tidak memandangiku penuh gairah seperti itu. Kau membuatku merinding, Cho.”akhirnya San Di membuka mata. Kyuhyun menyipitkan kedua matanya dan memandang lurus pada bagian bawah wajah San Di.

“Kenapa bibirmu hari ini aktif sekali ? Kau ingin aku menciummu?”

Sontak San Di langsung membalik badan membelakangi Kyuhyun. Serentetan makian yang kurang jelas bunyinya mulai menghambur keluar dari mulut San Di.  Aksen Busan-nya meledak jika sedang dalam keadaan tidak mendukung seperti ini. Jantungnya berdegup kencang dua kali lipat setelah melihat Kyuhyun mengeluarkan seringai khasnya yang menggoda.

“Berhenti mengutukku dalam bahasa planet, Cho San Di. Bicaralah lebih jelas supaya aku mengerti. “ seru Kyuhyun kemudian. Pria itu mendekat dan melingkarkan lengannya ke pinggang San Di, menarik tubuh gadis itu merapat dan mendekapnya dari belakang. Dia tidak akan sanggup tidur  nyenyak malam ini jika dirinya tidak memeluk tubuh ramping itu erat-erat.

 

 

***

“Yah! Cho Kyuhyun!”

 

Teriakan mengerikan menerjang gendang telinga Kyuhyun bahkan sebelum pria itu sempat meletakkan ponselnya ditelinga. Kyuhyun mengenali suara wanita itu diseberang sana. Sebelah tangannya yang lain masih sibuk menekan-nekan tombol remote control untuk mengganti siaran televisi. Secangkir cappuccino dengan asap yang masih mengepul tersaji hangat di atas meja kaca yang berada dihadapannya.

 

“Noona, bisa kau pelankan suaramu? Aku tahu kau merindukanku tapi bukan begitu caranya.”

 

“Aku hanya ingin memastikan kau masih hidup atau tidak.”

 

Ahra mulai mengoceh panjang lebar  dan Kyuhyun hanya diam mendengarkan dengan tampang malas. Kedua matanya melirik ke arah pintu kamar saat mendengar bunyi gaduh seperti benda berjatuhan. Dahinya mengernyit heran.

 

Apa gadis itu sudah bangun? Seingat Kyuhyun tadi saat dia meninggalkan kamar , San Di masih terlelap di atas ranjang .

Kyuhyun tidak tega membangunkannya karena dia tampak tertidur pulas.

 

“Eoh?  Apa kau bilang?” Kyuhyun bahkan nyaris melupakan suara Ahra ketika wanita itu menyebut-nyebut nama San Di dalam pembicaraan mereka.

 

Tak lama kemudian , dalam satu sentakan cepat pintu kamar pun terbuka, memperlihatkan San Di yang berdiri di ambang pintu dengan wajah bantalnya.

 

Walaupun penampilan San Di pagi ini lebih mirip penghuni panti rehabilitasi—rambut acak-acakan, wajah mengantuknya yang dominan, serta piyama merah mudanya yang kebesaran, bagi Kyuhyun gadis itu tetap menduduki urutan nomor satu dalam daftar gadis paling cantik didunia bahkan saat bangun tidur sekalipun.

 

“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”

 

San Di menurunkan pandangannya kebawah. “Siapa yang telah berani memakaikanku piyama sialan ini saat aku tidak sadar diri? Beritahu aku agar kuhajar wajahnya.”

 

Kyuhyun meringis menahan tawa. Dia tahu persis bahwa reaksi itulah yang akan ditemukannya pertama kali saat San Di terjaga. San Di memang tidak suka piyama tidur. Alasan, karena terlalu manis katanya. Dia tidak suka sesuatu yang bersifat terlalu feminim, hanya gadis gila yang mau mengenakan pakaian-pakaian seperti itu.

 

“San Di?” Kyuhyun mengulangi kalimatnya, matanya menilik ekspresi wajah datar San Di yang masih berdiri di ambang pintu seraya mengusap pelan wajahnya.

 

“Dia baru saja bangun dan mengancam akan menghajar wajah tampanku. Kau ingin titip salam ?”

 

San Di terkesiap.” Siapa itu?” Kyuhyun tersenyum lebar. San Di berjalan mendekat dan menjatuhkan diri tepat disebelah Kyuhyun yang duduk sambil menyilangkan kaki. Tangannya berusaha menggapai ponsel Kyuhyun namun berhasil dihalangi pria itu.

 

“Baiklah, nanti kuberitahu dia. Akan kututup sekarang.”

 

Selesai. Kyuhyun meletakkan ponselnya di atas meja kaca sedangkan San Di menatapnya tajam. Kyuhyun tahu gadis itu tidak suka jika dia menyembunyikan sesuatu.

 

“Apa?”

“Dengan siapa kau bicara? Kenapa menyebut-nyebut namaku?”

“Kau ingat sekarang hari apa?” Kyuhyun mengganti topik pembicaraan. San Di menggeleng.

“Sekarang hari libur, Cho San Di. Sebaiknya sekarang kau mandi dan buatkan sesuatu yang enak untukku.” Kyuhyun menyesap cappuccino nya dan kembali menyibukkan diri dengan siaran televisi.

 

“Oh astaga, lihat siapa yang berbicara. ” San Di berjalan menuju kamar mandi yang berada didalam kamar mereka, mengabaikan seruan tidak waras Kyuhyun yang menawarkan diri ingin mandi bersamanya.

 

Saat berjalan melewati ranjang , tanpa sengaja San Di melihat buket mawar yang tadi malam diletakkan Kyuhyun di atas meja nakas. Otaknya mulai berputar dan mengambil mawar tersebut lalu membawanya keluar.

 

“Kau ingin menyimpan ini dirumah? Kalau iya aku akan memindahkannya kedalam vas kosong yang dibelikan eonnie seminggu lalu.” San Di mengacungkan buket itu agar Kyuhyun bisa melihatnya.

 

“Tidak, taruh saja di kamar. Aku akan memberikannya pada bibi Kim nanti, wanita tua itu hobi sekali mengoleksi bunga.” Sahut Kyuhyun, tidak beralih sedikitpun dari morning breaking news yang sedang ditontonnya.

 

“Maksudmu tetangga kita?”

“Hm.”

“Kau tidak sedang berminat diserang oleh anak-anaknya yang sinting kan, Cho?”

 

Tinggal di area perumahan elite di Gangnam membuat Kyuhyun dan San Di mendapatkan banyak tetangga baru. Kyuhyun membeli rumah berlantai tiga dengan gaya klasik khas barat dan interior yang mengesankan itu sehari sebelum hari pernikahannya dengan San Di. Dia sengaja memilih lokasi itu karena tahu San Di tidak terlalu suka suasana sepi, gadis itu suka bersosialisasi dengan orang banyak.

 

Kim ahjumma adalah salah satunya. Wanita paruh baya itu memang memiliki tiga orang anak perempuan yang usianya tidak jauh beda dengan San Di. Walaupun San Di sangat menyukai wanita itu, tetapi ketiga anaknya senang sekali menyapa dan menggoda Kyuhyun. Dan San Di … jelas tidak suka dengan hal itu. Membuatnya merasa terganggu.

 

Kyuhyun menoleh dan menunjukkan senyum bangganya.” Sepertinya dunia tahu benar dimana letak pesonaku. Mungkin saja nanti aku akan makan malam bersama salah satu dari mereka.”

 

“Aku tidak mau bertanggung jawab jika mereka mencakar habis wajahmu saat kau menginjakkan kaki di halaman rumah bibi Kim.”

“Aku punya dokter pribadi disini. Kau tidak perlu khawatir, nyonya.”

“Sayangnya aku tidak melayani pria berkepala besar sepertimu.” Jawab San Di setengah ketus.

 

Kyuhyun memutar tubuh sepenuhnya agar bisa memandang San Di lekat-lekat. “Kau tahu? Kau terlihat semakin seksi saat marah-marah seperti itu, Cho San Di.”

 

“Diam kau.”

 

San Di kembali masuk ke dalam kamar dan meletakkan buket itu di atas meja, melepas piyamanya sambil jalan lantas menghilang dibalik pintu kamar mandi.

 

Tanpa menunggu lama lagi San Di sudah kuyup dibawah guyuran air dingin yang menyembur deras dari shower, membasahi tubuh polosnya mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. San Di mengangkat wajah dan menatap pantulan dirinya di cermin.

 

Sudah satu bulan lebih dia hidup bersama Kyuhyun, dan besar perasaannya pada pria itu … tolong jangan tanyakan. Dia benar-benar bahagia bisa menghabiskan sisa-sisa usianya dengan pria yang bahkan tidak pernah dia sangka akan menjadi pemilik sahnya.

 

San Di memandangi benda logam yang melingkar di jari manisnya, simbol ikatan kuat dari  pernikahan mereka yang ikut basah terkena air, mengkilat dibawah cahaya lampu. Dia ingat betul bagaimana raut wajah Kyuhyun saat menyematkan benda itu di jarinya. Begitu menawan dan menenangkan.

 

“Musim gugur baru saja lewat, diluar angin bertiup kencang, dan sekarang kau mandi dengan air dingin. Kau ingin mati membeku disini, nona sok kuat?”  tiba-tiba saja air yang mengucur deras dari shower berubah menjadi  hangat. San Di tahu pria itu yang menyetel ulang suhunya.

 

“Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan? Kau sudah menghuni tempat ini selama lebih dari lima belas menit. Apa kau tidak tahu mitos tentang ikan hiu yang bersembunyi di dalam bath up?” Kyuhyun berdiri menyandar disisi  pintu sambil memasukkan tangan kedalam saku, menunggu hingga gadis itu selesai dengan ritual paginya.

 

“Aku sedang membayangkan coklat panas dan semangkuk ramyeon pedas.” Balas San Di acuh.

 

“Oh sial … Kau membuat perutku semakin berulah. Kemari kau.” Kyuhyun meraih sebuah handuk putih dan membantu gadis itu mengeringkan rambut selagi San Di memasang baju handuknya.

 

“ Hari ini kita jalan-jalan. Bagaimana?” San Di mengangkat wajah untuk melihat Kyuhyun yang notabene lebih tinggi dua puluh senti darinya.

 

“Kau tidak sedang membuat lelucon, kan?”

 

Kyuhyun menghentikan gerakan tangannya dan melemparkan tatapan datar pada San Di, seperti yang sering dilakukan gadis itu jika sedang merasa kesal padanya.

 

“Aku seratus persen serius, nona. Apa kau ingin menemaniku seharian ini?”

 

Sejujurnya San Di merasa sangat senang saat pertanyaan itu terlontar dari bibir Kyuhyun. Sejak acara pernikahan mereka yang berlangsung megah di San Barcode—nama hotel yang bernaung di bawah kekuasaan Cho Group, Kyuhyun dan San Di tidak mempunyai banyak waktu luang untuk mereka habiskan bersama.

 

Kyuhyun terlalu sibuk mengurusi roda bisnis keluarga Cho sedangkan San Di juga disibukkan dengan shift kerjanya dirumah sakit. Mereka berdua sudah sangat lama menanti saat-saat berharga dan sekaranglah saatnya, batin San Di. Bukankah suatu keberuntungan mereka berdua sedang libur hari ini?

 

San Di memperhatikan Kyuhyun yang masih bertahan menunggu jawabannya. Dan ketika senyum manis San Di mengembang, Kyuhyun langsung tahu apa yang akan gadis itu katakan .

 

“Jadi kau mengajakku berkencan, tuan Cho?” sahut San Di, matanya berkilat-kilat semangat.

 

Kyuhyun mengulas senyum. “Sepertinya begitu.” Lalu meletakkan kembali handuk putihnya di gantungan yang ada disebelah shower. “Cepatlah berganti pakaian, aku akan menunggu diluar. Kita harus mengisi perut terlebih dahulu sebelum kau lupa diri dan tenggelam dalam tawaranku yang cukup menggiurkan itu.” Gurau Kyuhyun.

 

San Di mendecih singkat dan berjalan keluar kamar mandi. Sebelum sempat kedua kakinya mencapai lemari pakaian mereka yang memiliki lima pintu, mata San Di menangkap sesuatu di atas ranjang. Sejenak dia terdiam memandangi benda itu ,lalu beberapa detik kemudian matanya beralih menatap pintu kamar yang tertutup dengan perasaan hangat yang mengalir didadanya.

 

 

 

***

 

Kyuhyun berdiri disamping sport car merah maroon  berlabel Buggati Veyron, mengenakan coat tebal hitam dan jeans dark blue yang melilit tungkai panjangnya. Kedua tangannya disembunyikan kedalam saku untuk menghindari cuaca dingin diluar. Salju sudah mulai turun satu persatu menghujani halaman rumah mereka yang awalnya ditumbuhi oleh rumput hijau.

 

Pohon oak yang ditanam di taman belakang juga sudah penuh dengan butiran salju—menutupi permukaan ranting-rantingnya yang kering. Pancuran air yang menghiasi halaman depan telah membeku, dan sepertinya air itu tidak akan menyembur keluar hingga musim dingin berakhir.

 

Kyuhyun refleks membalikkan badan begitu mendengar langkah kaki seseorang dibelakangnya. Matanya menatap kagum saat sosok itu tersenyum sumringah dengan kedua pipi merona, bukan karena malu—tapi karena pengaruh suhu.

 

“Bagaimana penampilanku?” San Di merentangkan kedua tangannya dan berputar sekali.” Bagus tidak?”

 

Kyuhyun mengamati syal berwarna putih yang melingkar dileher San Di lalu berganti pada coat tebal yang juga berwarna senada dengan syal tersebut. Dia menipiskan bibir dan menyipitkan mata, membuatnya terlihat seolah sedang berpikir keras.

 

“Sejauh ini kau adalah teman kencanku yang paling cantik.”

 

“Kurasa hanya akulah satu-satunya orang yang sudi berkencan denganmu.” gerutu San Di. Dia mengikuti langkah Kyuhyun yang masuk kedalam mobil.

 

“Kau suka?” tanya Kyuhyun. Dia menyalakan mesin dan beralih memandang San Di.

 

San Di meliriknya malas. “ Tentu saja. Apa kau kira aku akan menolak semua ini padahal sudah ada namaku yang terajut di atasnya?” San Di memperlihatkan nama ‘Sandy’  yang tertulis di ujung syal nya dengan benang biru.

 

“Dan lagi, kau menulisnya dengan ejaan yang salah, Cho. Kau membuatku terdengar seperti orang Eropa.”

“Terima kasih.”

“Itu bukan pujian.” ralat San Di.

 

Mobil Kyuhyun melaju dengan kecepatan sedang menembus jalanan panjang Seoul,  melodi Beethoven Piano Sonata No.8 ‘Pathetique’ mengalun lembut didalam mobil—mengubah suasana menjadi nyaman dalam sekejap.

 

San Di menyukai musik klasik, dan Kyuhyun berani bertaruh bahwa San Di bisa menghabiskan waktu di ruang baca rumah mereka sambil memutar musik-musik itu dengan buku tebal ditangannya, duduk bersantai dan kaki bersila di atas sofa, kaus putih kebesaran serta celana jeans panjang, ditambah kacamata berframe coklat yang menggantung separuh di batang hidungnya.

 

Membayangkan kebiasaan San Di saja sudah cukup membuatnya ingin melirik gadis yang jelas-jelas kini  sedang duduk disebelahnya . San Di sedang terpana menatap gedung-gedung pencakar langit yang berderet disepanjang jalan, bibirnya sedikit terbuka—hal yang biasa dilakukan gadis itu jika  terlalu fokus pada sesuatu.

 

“Bisa kau matikan musikmu, nyonya Cho? Aku yakin kau tidak akan suka melihat atraksi ku yang mengemudi sambil tidur.”

 

San Di sempat mendelik tajam, namun akhirnya tetap melaksanakan apa yang Kyuhyun inginkan. Kyuhyun berhenti disebuah caffe. Mereka masuk kedalam dan San Di cukup terkejut karena mendapati tempat itu ramai dikunjungi orang. Dia tidak yakin bisa duduk hingga akhirnya Kyuhyun menarik lengannya.

 

“Disana.” Mata San Di langsung tertuju pada bangku kosong yang terletak disudut ruangan , tepat bersebelahan dengan jendela besar yang menghadap langsung ke jalan raya. Kyuhyun sangat tahu posisi favorite nya.

 

“Kau sudah memesan tempat?” bisik San Di ketika mereka sudah duduk berhadapan. Kyuhyun hanya menyeringai singkat seraya membuka buku menu nya. “Memangnya kau kira siapa pemilik caffe ini?”

 

O-oh, pria ini sedang menyombongkan diri rupanya. San Di membuka buku menu nya dengan kasar lalu membentangkannya hingga menutupi seluruh wajah. Dia tidak ingin terpesona melihat seringai memikat yang masih bertahan di bibir Kyuhyun. Bisa semakin besar kepala pria itu jika mengetahuinya.

 

“Kau pesan apa?” tanya Kyuhyun. San Di menurunkan buku menu dan melihat seorang pelayan sudah berdiri disamping meja mereka.

 

“Sallad dan sandwich, tanpa tomat. Dan … segelas coffemilk hangat.”

“Kenapa tanpa tomat?” sela Kyuhyun cepat.

“Aku tidak suka tomat.” Jawab San Di datar, seolah itu bukan pertanyaan yang asing lagi baginya. Dan dia tahu bahwa

 

Kyuhyun pasti juga tahu bahwa dia benci buah merah itu.

 

Setelahnya, Kyuhyun ikut memesan makanan yang berbeda dan segelas Americano Latte. Dia menopang dagu dengan sebelah tangan dan menatap wajah San Di.

 

“Kau adalah seorang dokter yang tidak mengerti tentang kesehatan.”

“Aku cukup paham dengan bidangku.”

“Lalu apa kau tahu sesuatu yang terkandung didalam tomat?”

“Kau tidak bisa memaksakan selera seseorang, Cho. “

“Benarkah? Apa harus ku ajari dulu agar kau bisa menyukai buah itu?”

 

San Di  langsung bungkam. Tidak … tidak tidak. Jangan sampai itu terjadi lagi. Dia masih ingat betul bagaimana terobsesinya pria itu mengajarinya cara memakan ice cream dengan benar. Dan cara yang diajarkan Kyuhyun padanya ternyata tidak cukup ‘benar’.

 

“Lain kali aku akan mencoba menyukainya.” San Di tergagap ,menelan saliva nya sendiri dengan perasaan gugup, dan percakapan mereka terhenti saat pelayan datang mengantarkan pesanan.

 

“Kemana kita setelah ini?” tanya San Di sambil memasukkan potongan Sandwich kedalam mulutnya. Kyuhyun melihatnya sekilas lalu kembali memusatkan perhatian pada piringnya.

 

“Kesuatu tempat dimana kau akan merasa seperti berada di surga.” Jawabnya ringan.

 

 

 

***

 

Awalnya San Di mengira bahwa Kyuhyun akan membawanya ke bookstore terdekat untuk berburu buku, tapi ternyata dugaan gadis itu salah. Sekarang dia menemukan dirinya berdecak kagum dengan mata bersinar cerah melihat hamparan salju putih dihadapannya.

 

Kyuhyun membawanya ke ski resort.

 

“Kau membayar berapa hingga kita bisa masuk ke tempat menakjubkan seperti ini?” seru San Di. Kyuhyun berjalan berdampingan dengannya.

 

“Salah seorang kenalanku adalah pemilik resort ini. Jadi dia memberikanku sedikit potongan harga karena aku teman yang baik.” Sahut Kyuhyun.

 

“Kau suka bermain snowboard?” hembusan  hangat nafas Kyuhyun menerpa wajah San Di begitu pria itu berbicara pelan dalam jarak dekat. San Di hanya mengangguk dua kali sebagai jawaban, seolah dia sudah jatuh cinta pada tempat itu.

 

“Bisa bermain?”

 

Dan jawaban San Di selanjutnya membuat Kyuhyun tergelak menahan tawa. “ Apa-apaan itu? Kau suka bermain snowboard tapi tidak tahu caranya bermain?”

 

“Aku tidak punya banyak waktu untuk mempelajarinya. Musim dingin selama sekolah kuhabiskan dengan membaca buku dirumah dan berkunjung ke Haru Caffe bersama Donghae. Jadi aku hanya bisa menikmati para snowboarder yang bermain lincah melalui televisi.” Raut wajah San Di berubah kecewa begitu mengingat masa-masa lalunya.

 

“Kau sungguh ingin menjadi kutu buku?”

“Aku ingin menjadi gadis paling pintar sedunia.”

“Tidak cukup pintar juga untuk mengerjakan lima soal kalkulus.”

“Apa?”

 

San Di menatap mata Kyuhyun yang juga sedang menatapnya lurus dengan senyum mengejek.

 

“Apa kau lupa saat kau mendisiplinkanku dulu? Aku sempat memintamu untuk mengerjakan semua tugas esai sekolah dan ternyata kau benar-benar menyelesaikannya dalam waktu singkat.”

 

San Di memutar mata sejenak untuk mengingat. “Ah … aku tahu itu. Lalu?”

 

“Apa maksudmu lalu? Semua soal matematika yang kau kerjakan tidak ada yang benar satupun. Jika aku tidak memeriksanya terlebih dahulu mungkin saja sonsaengnim akan memberiku sanksi lagi.”

 

San Di mendecih dan mulai memamerkan ekspresi datarnya. “Kau bahkan tidak mengucapkan terima kasih saat itu. Padahal aku sudah menghabiskan waktu sepanjang malam untuk membantumu tapi aku malah mendapati kau sedang bercinta dengan wanita lain. Kau membuatku tampak menyedihkan.”

 

San Di segera memalingkan wajah ke arah lain saat tatapan Kyuhyun berubah menjadi tatapan bersalah. Kyuhyun menarik pinggang San Di agar tidak menjauh darinya.

 

“Hei.” Panggil Kyuhyun.

“Hm?” San Di masih menatap para pemain ski yang bergerak cepat di depan sana.

“Ikut aku.”

 

Dan setelah itu San Di tidak tahu lagi kemana Kyuhyun menyeretnya dengan papan snowboard yang sudah dipasangkan pria itu dikedua kakinya. Tidak lupa Kyuhyun juga memberikannya gear pengaman, agar memperkecil kemungkinan ia terjatuh sebagai pemain pemula.

 

Yang membuat San Di mengutuk pria itu dalam hati adalah … Cho Kyuhyun tidak membawanya ke bagian Beginner Trail, melainkan Intermediate Trail, dimana penurunan salju tampak lebih terjal dari pada rintangan untuk seorang pemula.

“Kau ingin membunuhku, Cho.” San Di menatap tak percaya jalur menurun yang ada didepannya. Dia memang sedikit takut, tapi orang-orang yang meluncur dengan mulus disekitarnya membuat gadis itu merasa iri.

 

Kyuhyun sama sekali tidak mengacuhkan keluhan San Di. Pria itu malah berdiri tepat dihadapannya dan memegang erat kedua lengan San Di untuk menahan gadis itu agar tidak meluncur dengan sendirinya ke bawah tanpa kendali.

 

“Apa kau yakin aku bisa?” San Di masih kehilangan rasa percaya dirinya. Sebelah tangan Kyuhyun beralih menyentuh bagian belakang tubuh San Di.

 

“Luruskan pinggangmu. Lalu ketika papan ini meluncur kebawah, tekuk kedua lutut dan titik beratkan bobot badanmu kebelakang untuk menghentikan gerakan papan seluncur sebagai rem dadakan.” Jelas Kyuhyun panjang lebar.

 

“Bagaimana jika aku tidak bisa melakukannya?” tanya San Di khawatir.

“Kau akan mati.”

“Yah!”

 

“Maka karena itu berusahalah.” Tegas Kyuhyun. “Kau mengerti?” suaranya melembut. San Di mengangguk pelan tak pasti dan Kyuhyun dengan perlahan melepaskan kedua lengan gadis itu.

 

“Tapi … aku boleh meluncur lurus saja kan? Tidak harus membuat zig-zag, berputar dan pola huruf ‘S’ seperti mereka?”  San Di menunjuk para pemain yang lebih ahli darinya. Kyuhyun tersenyum sebagai isyarat persetujuan.

 

“Aku akan menantimu dibawah , jadi meluncurlah dengan hati-hati.”

 

Oh ya Tuhan … pria itu meninggalkannya dan meluncur sendirian kebawah. San Di bisa melihat dari tempatnya, Kyuhyun berdiri disana kira-kira sejauh sepuluh meter, menunggunya sambil melambaikan tangan. Dengan segenap keberanian yang telah berhasil dia kumpulkan, perlahan namun pasti San Di membiarkan dirinya terbawa papan seluncur yang licin itu menuruni rintangan salju, menatap fokus lurus kedepan.

 

Awalnya memang berjalan mulus dan menyenangkan, tapi ketika seorang peluncur melintas dengan tiba-tiba disampingnya, gadis itu terkejut dan kehilangan konsentrasi, keseimbangannya goyah dan dalam hitungan detik bagian bawah tubuhnya mendarat sempurna di atas salju.

 

San Di meringis singkat dan menatap tajam jalur menurun dihadapannya. Dia terjatuh.

 

Ini memalukan, semua orang disini memperhatikan dan mengenalinya sebagai istri Cho Kyuhyun. Dia tidak boleh kalah seperti ini. Kyuhyun masih menantinya disana dan menggerak-gerakkan tangan ke atas, membuat kode agar gadis itu segera bangkit dari jatuhnya.

 

San Di kembali berdiri. Dia menghirup nafas teratur dan menghembuskannya melalui mulut hingga uap putih mengepul disekitar wajahnya. Dia sudah terlalu lama berdiri disitu dan bibirnya sudah mulai dingin.

 

Aku tidak boleh berakhir disini, batinnya kuat.

 

 

 

 

***

 

 

“Aku membencimu.”

 

Hampir lebih dari  lima belas kali kata-kata itu terlontar dari bibir San Di. Dia duduk di atas ranjang dengan kedua kaki menjulur kebawah, terendam dalam air hangat, tubuhnya tidak bisa digerakkan namun hatinya lebih kesal lagi. Kyuhyun berjongkok didepannya dan memijat pergelangan kakinya yang terkilir.

 

“Sudah kubilang kan sebelumnya, kau harus berhati-hati. Kita sudah menghabiskan sehari penuh di resort itu hanya untuk melihatmu terus terjatuh.” balas Kyuhyun. Setelah selesai dengan pekerjaannya, pria itu menyingkirkan kedua kaki San Di dan membawa baskom keluar.

 

Beberapa saat kemudian dia kembali lagi dengan membawa perban dan cream khusus untuk kulit memar. Kyuhyun menaikkan kedua kaki San Di ke atas ranjang dan memoles cream itu pada kakinya, lalu setelahnya membalut kedua kaki San Di dengan perban.

 

San Di tidak mengatakan apapun. Dia hanya diam mematut hasil kerja Kyuhyun lantas beralih menatap pria yang kini duduk di tepi ranjang. San Di menilik ekspresi tenang wajah Kyuhyun yang terus bertahan walaupun dia mengomel tidak jelas sejak tadi.

San Di mendesah. “Sebenarnya ada sesuatu yang dari tadi ingin kutanyakan padamu.”

 

Kyuhyun melirik San Di sekilas dan tersenyum misterius, dia yakin San Di mulai menyadari gelagat anehnya sejak tadi pagi.

 

“Apa? Katakanlah.” Sahut Kyuhyun ringan.

 

Tanpa menunggu aba-aba lagi San Di segera mengeluarkan apa yang ada didalam benaknya sekarang.”Apa benar sekarang hari libur?”

 

Curiga. Tentu saja. Itu yang San Di rasakan saat tanpa sengaja dia membaca pesan masuk di ponsel Kyuhyun, dan pesan itu berasal dari Donghae. Donghae mengetikkan sebaris kalimat aneh yang tidak dia mengerti, seakan hanya dia sendiri yang tidak memahami isi pesan tersebut.

 

‘Kyu, I’ve managed all that you want, you don’t have to worry again. Your second meeting with CEO of Ballymore Group will be delayed next week in London. What about San Di? I hope your plan will be success.’

 

Sejenak San Di memperhatikan Kyuhyun yang hanya diam penuh arti, kemudian pria itu tersenyum miring padanya. Kyuhyun bangkit dari ranjang dan menyuruhnya untuk keluar menuju ruang baca di rumah mereka.

 

Sebenarnya ruangan itu tidak cukup luas, namun Kyuhyun mendesainnya dengan sangat baik. San Di merasa nyaman jika menghabiskan waktunya disana. Berbagai jenis buku yang sudah dikumpulkan San Di sejak sekolah hingga sekarang, semuanya ada disana, disusun dan ditata seapik mungkin di atas rak-rak kayu jati yang telah dipernis.

 

San Di menyeret langkah pelan mengikuti Kyuhyun dari belakang. Dilihatnya pria itu berdiri dibelakang sebuah meja dengan senyum memikat. Di atas meja itu terdapat sebuah kotak berukuran sedang yang sudah dibungkus sesederhana mungkin.

 

San Di mendekat. “Apa ini?” dia menyentuh permukaan kotak dan menerka-nerka isinya.

 

“Kau sungguh tidak ingat ini hari apa?”

“Kau sendiri yang memberitahuku sekarang hari libur, Cho.”

“Tidak ada gagasan lain? Selain hari libur?” desak Kyuhyun.

“Lalu apa lagi?”

“Sepertinya kau benar-benar menganggap bahwa hari ini adalah hari libur. Dasar gadis bodoh.”

 

San Di mendelik tajam. Sifat menyebalkan Kyuhyun muncul dan pria  itu bicara dengan nada sinis padanya. Tanpa meminta persetujuan Kyuhyun, San Di meraih ujung bungkus kotak itu dan membukanya paksa. Dia sudah tidak sabar bermain teka-teki terlalu lama dengan Kyuhyun.

 

Dan ketika kotak itu terbuka, San Di tidak mampu menahan diri hingga mulutnya terbuka. Matanya membulat sempurna hingga tak bisa berkata apapun.

 

“Cho?” gumamnya. Kyuhyun berusaha menahan senyum.

“Hm.”

“Kau –“

“Ya?”

 

“Bagaimana kau bisa tahu tentang semua ini? Oh … sial. Kau membuatku terkesan, Cho Kyuhyun.” San Di memperhatikan dengan kedua mata berbinar semua benda yang ada didalam kotak dihadapannya.

 

“Tahu tentang apa? Tahu bahwa kau menggilai buku-buku bergenre self-improvements, novel detektif, dan juga Manga anime?”

 

San Di tidak lagi mengacuhkan Kyuhyun, dia terlalu sibuk dengan buku-bukunya dan mengeluarkan semua buku itu dari kotak. Tiba-tiba ponsel San Di berdering, San Di mengangkat panggilan tersebut dan langsung meletakkannya ditelinga kanan, sedangkan perhatiannya masih terfokus pada novel Sherlock Holmes.

 

“Yeoboseyo?”

 

Dan setelah itu San Di sontak menjauhkan ponselnya dari telinga karena teriakan bergemuruh sekelompok orang diseberang sana yang memanggil namanya. San Di sangat hafal pemilik suara di antara mereka. Ahra, Mr. dan Mrs.Cho, ayah dan ibunya, Donghae, serta Yoora.

 

“Yah, apa kalian tidak melihat sekarang jam berapa?” San Di melirik jam dinding yang sudah menunjukkan tengah malam kurang lima menit. Apa orang-orang itu sudah gila menghubunginya larut malam seperti ini?

 

“Happy Birthday, nyonya Cho! Maaf karena kami terlambat mengucapkannya. Semoga malam ini kau dan suami tampanmu bisa menghabiskan malam bersama.”

 

Sambungan terputus. San Di terkesiap. Dia memutar kepala dengan gerakan lambat menghadap pria yang sejak tadi hanya berdiri diam disebelahnya, tenang dan memasukkan kedua tangan kedalam saku celana.

 

“Jadi, apa ingatanmu sudah pulih, nona?” sindir Kyuhyun. “Ada yang ingin kau katakan padaku?”

 

San Di mengumpat dalam hati, memaki diri karena dengan bodohnya melupakan hari kelahirannya sendiri. Dia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Kyuhyun, terutama orang-orang yang telah mengucapkan selamat padanya.

 

“Kalau orang tuamu tahu kau seperti ini, mereka pasti akan sakit hati. Kau seharusnya mengatakan—“

 

“Terima kasih.”

 

Kyuhyun tertegun, gadis itu mengangkat wajah dan menatapnya dalam. Senyum tipisnya  membuat Kyuhyun tidak mampu mengalihkan pandangan sedikitpun.

 

“Terima kasih karena telah memberiku hadiah. Terima kasih karena telah mengajakku jalan-jalan. Terima kasih karena sudah mengingat hari ini. Terima kasih karena kau … sudah mau hidup mendampingiku, Cho.”

 

Jantungnya berdegup kencang. San Di tidak pernah berkata seperti ini sebelumnya pada Kyuhyun. Dia menarik nafas dalam-dalam walaupun sebenarnya saat ini dia tidak bisa bernafas dengan benar karena sekarang Kyuhyun menatapnya terlalu intens.

 

“Terima kasih karena te—“

 

Untuk beberapa detik berikutnya San Di benar-benar kehilangan suara. Kyuhyun meraih dagunya dan mengecup lama sudut bibir gadis itu, lalu berpindah dan melumat pelan bagian bawah bibirnya. San Di hanya mampu memejamkan kedua mata dan mencengkram erat kemeja Kyuhyun, sementara pria itu semakin leluasa memperdalam ciumannya dengan sebelah tangan yang menarik pinggang San Di mendekat.

 

Seketika San Di merasa perutnya terbalik karena sentuhan Kyuhyun, dadanya terasa sesak karena perasaan bahagia. Kyuhyun melepaskan San Di dan menatap gadis itu penuh arti.

 

“Tidak perlu berterima kasih. Kau hanya perlu tetap berada disisiku sehingga aku merasa bisa menghadapi dunia. “ San Di bisa mendengar nada serius dalam suara Kyuhyun. Pria itu bersungguh-sungguh mengatakannya.

 

San Di tersenyum singkat. “Dari mana kau mengutip kata-kata manis itu,Cho? Apa sesederhana itu? Hanya perlu berada disisimu?”

 

“Tentu saja tidak.”

 

O-oh, sial, dia mulai lagi. Wajah San Di berubah datar kembali. Berada dalam suasana romantis bersama Cho Kyuhyun memang tidak bisa bertahan lama. Pria itu akan dengan cepat merusak semuanya.

 

“Maksudmu?” tanya San Di malas.

 

“Tidak ada yang gratis didunia ini, nona. Tidak cukup hanya dengan kata terima kasih, kau tetap harus membayar coat tebal, syal , balutan perban, serta semua buku-buku ini secepatnya.” Celoteh Kyuhyun seperti biasa, hingga bibir pria itu terlihat lucu saat mengucapkannya.

 

“Kau lebih terdengar seperti seseorang yang sedang menagih utang, Cho Kyuhyun.”

 

“Benar sekali.” Kyuhyun menyelipkan tangannya dibawah kaki San Di dan mengangkat tubuh gadis itu hingga San Di harus melingkarkan lengan dilehernya agar tidak terjatuh. Dia berjalan membawa San Di menuju kamar mereka.

 

“Kau harus menghangatkanku, nyonya Cho. Aku kedinginan karena terlalu lama mengajarimu bermain snowboard diluar sana.” Ucap Kyuhyun.

 

“Tidak untuk malam ini. Bokongku sakit karena terlalu banyak jatuh, aku bahkan masih belum bisa menggerakkan kedua kakiku dengan sempurna.” Protes San Di cepat.

 

“Should I give you butt massage?” Kyuhyun menyeringai.

 

San Di melemparkan tatapan membunuhnya pada pria itu. Walaupun kemampuan bahasa inggris nya terbatas, tapi San Di tidak cukup bodoh untuk memahami apa makna dibalik kata ‘butt massage’.

 

“Lain kali aku akan membeli kamus bahasa inggris setebal sepuluh senti untuk memukul kepalamu yang  tidak waras itu. Pervert .” Ancam San Di. Kyuhyun tertawa kuat mendengarnya.

 

 

End

nah, ini sequelnya listen to you. makasih banyak loh responnya. ayoo ayo direspon yang banyak lagi^^

With love, Park ji yeon.

 

10 thoughts on “Mistletoe (Listen To You Sequel)

  1. setia says:

    aku sempet lupa sm cerita sebelumnya. akhirnya inget juga. dan mereka sudah menikah. walaupun.mereka bukan pasangan yang angkur dan sering adu mulut tp tetep manis.🙂

  2. Lia mela says:

    Mesum Kyu endingnya akakak😀
    tapi sweet banget yah, kyu mendadak bijak😀

  3. Gummy eunhyuk says:

    Sempet lupa sama cerita sebelummya eeh coba baca ulang cerita sebelumnya baru dah inget ayo ayo dilanjut lagi sequel ya🙂

  4. puput says:

    Suka…dan sukanya pke banget..
    How nice to see them happy..
    Tapi..masa san di msh santai2 aj kl kyu dideketin cew2??
    Dan apa kbr lee donghae dsini?
    masih ad lnjtnna kan y??
    *ngarep.com

  5. Shin Viviana says:

    nice story,,,, kyuuu ma san di bkin ngiri dh….. dttunggu fc nya

  6. tiwi says:

    So sweet banget kyuhyun ne.

  7. LEVHA NURY says:

    Kkkkkkkkkkkkk
    Happy ending
    Tapi sumpah ngeselin bgt itu yg meluncur. Tabok tabok tabokkk

  8. Iyha Buchu says:

    Sist…..KApan Post Fabulously CAstle part Next nya…??
    Ditunggu yach,jgn Lma2…?/
    Heheheheh…

  9. cho sasa says:

    Emm over All great, cuman…….. Gatau kenapa aku lebih Suka cast nya ituuu jeyoung-kyuhyun (karna faktor wp sebelah&salahsatu ff kamu) hehe. Aku udah klop bgt deh sama jeyoung-kyuhyun dan jiyeon-eunhyuk eheheaheheh

  10. Aigoo .. itu wife n husband kok ga ada mesra nya ya ?? Hehe

    Ckck dsr kyu oppa ms ngajar in main sky lg ke tingkat lanjut bkn pemula … tuh kan jd deh tragedy butt hehe .. dsr modus .. nawarin ” butt massage ” lg …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s