Listen To You

kyu-vert

 

 

 

Judul               : Listen To You

Author             : DraKyuBubble

Main cast         : Cho KyuHyun, Jung San Di

Other cast        : Lee Donghae, etc

Genre              : Romance

Length             : Oneshoot

Rating             : PG15

 

Haii, aku balik tapi gak bawa FC. Maaf ya, aku lagi nyoba buat nyelesaian part endingnya dulu. Nah, ini, aku kasih kalian semua oneshoot. FF ini bukan punya aku loh, ini amanah dan kalau boleh jujur ini keren. Harus baca ya! Jangan lupa direspon. Siapa tau authornya mau ngasih sequel, kan^^ Karna readers yang baik itu adalah mereka yang mau menghargai hasil karya orang lain. Susah loh bikin FF keren begini.

Yowes, silahkan dibaca.

 

“Aku sudah pernah mengatakan bahwa aku berhenti. Aku tidak melakukan pekerjaan itu lagi.” San Di membungkuk dalam, gadis itu baru saja menolak mentah-mentah penawaran tertinggi dari semua harga yang pernah diterimanya selama ini.

“Bagaimana jika kami naikkan lagi? Berapa yang kau inginkan nona Jung, tinggal sebutkan saja.”

San Di mendengus namun tetap mempertahankan wajah datarnya. Wanita  yang duduk dihadapannya ini adalah orang paling keras kepala yang pernah ditemuinya. San Di menghirup oksigen dan menghembuskannya perlahan, menatap malas satu persatu sekelompok manusia berusia paruh baya yang kini tengah menanti jawabannya.

“Sekali lagi maaf, tapi ini bukan masalah harga. Aku sudah berhenti, itu saja. Jadi aku ingin kalian  menghargai pilihanku. Permisi.”

Setelah memberi salam terakhirnya, San Di berlalu, meninggalkan ruangan luas beserta orang-orang yang kecewa atas sikapnya.

Pintu berdebam, semua yang bernyawa di ruangan itu saling memandang satu sama lain. “Maaf, nona. Sepertinya murid kami yang satu itu sedang mengalami sedikit depresi pra ujian akhir , jadi agak sulit untuk membujuknya. Dia memang gadis yang sangat dingin, mohon dimaklumi sifatnya yang kurang manis dan tidak memberikan senyum padamu sepanjang perbincangan kita.”

Wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang itu tersenyum misterius, membuka kacamata berframe emas miliknya lalu menyilangkan kaki. “ Tidak masalah kepala sekolah Park. Aku suka dia. Tolong kalian pastikan gadis itu menerima permintaan yang sudah kuajukan kemarin. Karena aku tidak main-main dengan keputusanku kali ini. ”

 

 

***

San Di melangkahkan kedua kaki dengan lambat di koridor. Matanya memandang lurus kedepan dengan kedua tangan tenggelam dalam saku sweater rajutan berwarna biru lembut miliknya. Konyol sekali. Berusaha hidup dengan tenang itu ternyata tidak mudah. Bahkan dengan satu kalimat ‘aku sudah berhenti’ saja tidak mampu mencegah semua gangguan yang membombardir hingga melipatgandakan kegelisahannya setiap hari.

San Di menguap malas.

Haruskah memperdebatkan hal yang menurutnya tidak penting untuk dipermasalahkan? Baginya dunia tidaklah serumit itu. Sederhana saja jika kau melakukannya sesuai alur. Benar, sesuai alur. Bagaikan anak panah yang melesat meninggalkan busurnya, bergerak lurus teratur menuju satu titik yang menjadi tujuan utama, dan jika tepat mengenai sasaran, semua selesai.

Kenapa begitu sulit jika hanya tinggal melaksanakan apa yang telah ditetapkan? Dunia ini hanya akan kacau dan hancur jika pemimpin mereka bertindak dengan memprioritaskan diri masing-masing. Omong kosong jika kau kira setiap orang mau mematuhi segalanya.

Masa bodoh.

Jam istirahat berakhir. San Di sudah berada di kursinya lebih cepat lima menit sebelum suara bel dibunyikan. Dan buku-buku tebal itu sudah membentuk tumpukan rapi di atas mejanya, bersiap menerima asupan ilmu yang akan diberikan.

“Akh.” San Di meringis singkat saat cubitan kecil mendarat di wajahnya, meninggalkan bekas merah yang tidak terlalu ketara di pipi.

“Kau menolak tawaran lagi,hmm? Kali ini kenapa? Alasan apa yang kau berikan pada mereka, nona besar?” Lee Donghae duduk memutar tubuhnya menghadap San Di, memberikan gadis itu ekspresi penasaran akutnya yang mampu menyebabkan sebagian kaum hawa yang memandangnya menggigit bibir menahan diri.

“Aku bilang aku berhenti.” Sahut San Di santai. Gadis itu membuka lembaran buku cetak sastra dan mulai menyibukkan diri dengan membacanya.

“Apa? Yah, jika kau berhenti, bagaimana dengan nasibmu nanti? Kau tahu aku tidak bisa membiarkanmu hidup seperti ini. Kudengar bayarannya cukup menggiurkan, kenapa kau tidak menerimanya saja? Kau ingin mati ditanganku huh?!”

“Aku bilang berhenti ya berhenti. Aku tidak ingin lagi menjadi seorang pendidik tak bermoral. Apa orang tua mereka tidak bisa mengajari anaknya sendiri hingga harus membuang-buang uang membayar gadis sepertiku untuk membereskan semuanya? Aku tidak mau.”

“Tapi San Di—“

San Di segera meletakkan jari telunjuk di bibir, mengisyaratkan Donghae untuk tutup mulut dan bersuara karena gadis itu sedang berusaha memfokuskan pikiran sepenuhnya pada buku yang terbentang dihadapannya.

Donghae  memejamkan kedua mata, menghirup nafas dalam dan memegang dahinya frustasi. Gadis ini  memiliki komitmen yang sangat kuat. Sekali berkata tidak , akan sangat sulit mengubah pendiriannya yang kokoh. Entah dari mana dia belajar cara mengendalikan diri. Donghae  tidak pernah mendengarnya berbicara melebihi nada standar, selalu tenang.

Diam-diam Donghae menggeser bangkunya mendekat, menjahili gadis ini sebentar tidak ada salahnya kan? Akhir-akhir ini mata pria itu sakit melihat betapa sibuknya San Di dengan semua buku tebalnya, seakan dunia akan kiamat jika dia tidak membaca satu lembar pun dari benda berbahan kertas itu dalam sehari.

“Kudengar dia berasal dari sekolah elite di daerah distrik Gangnam.”

San Di mendelik begitu mencerna kemana arah pembicaraan Donghae. Pria itu kini tengah menatapnya geli dengan posisi menumpukan sebelah tangan di atas meja untuk menyangga kepalanya.

“Aku sudah melihat fotonya. Dia sangat tampan, postur tubuh yang lumayan, senyum yang menawan, otaknya juga tidak bisa dibandingkan denganmu, nona ‘Bookworm’. Kadar IQ nya melebihi rata-rata. Dia juga sudah ditetapkan sebagai calon CEO perusahaan besar Asia di usia muda.”

San Di mendengus malas lalu melirik pria menyebalkan disebelahnya, namun pria itu malah membalasnya dengan tersenyum manis.

“Lalu apa? Kau ingin aku jatuh cinta padanya setelah  kau mempromosikannya seperti produk smartphone canggih yang baru keluar  padaku?”

“Aku tidak bilang begitu, kau selalu saja sensitive jika menyinggung masalah pasangan. Aku hanya merekomendasikan.”

“Kau berbicara seolah aku ini gadis yang tidak pernah laku.”

“Oh, ayolah. Aku sedang bergairah mencarikannya satu untukmu. Setidaknya kita bisa melakukan double date saat Valentine’s Day nanti.” Donghae menaik turunkan alisnya dan nyaris membuat San Di ingin memuntahkan kembali sarapan paginya.

“Berhenti membual. Pria seperti itu tidak akan ada harganya dimataku . Tidak berguna semua nilai positive yang disandangnya jika orangtuanya harus merepotkan diri menjemputku untuk ‘memperbaiki’ anak mereka. Pasti ada yang salah dengannya.”

San Di kembali pada kegiatan membacanya yang sempat tertunda, namun gagal berkonsentrasi karena pria disebelahnya mengoceh lagi mengenai hal yang membuatnya jengah.

“Tidak ada yang salah dengannya, tapi ada banyak yang salah denganmu. Kau menolak banyak sesuatu  dalam tiga bulan terakhir , Jung San Di. Bahkan pria-pria yang sudah lama memburumu juga kau musnahkan.”

“Aku sedang tidak tertarik membahas pria, Lee Donghae. Jadi tolong tutup mulutmu.”

Allright then. Wajah mengerikan San Di cukup untuk membungkam Donghae. Tapi bukan pria namanya jika menyerah pada seorang gadis.

“Hei, bantu aku mengerjakan soal-soal nanti malam.”

“Ck.”

“Yah. Aku sedang memohon pada seorang juara umum disekolah. Kau berniat menjatuhkan harga diriku, Jung San Di?” San Di menghela nafas panjang dan merebut buku tugas milik Donghae. Pria itu tersenyum puas hingga kedua matanya menghilang.

“Aku akan menyalinkannya untukmu. Tidak usah datang kerumahku, aku akan tidur cepat malam ini.” sahutnya tak bersemangat.

San Di tidak ingin mendengar rumor buruk lagi tentangnya karena para tetangga sialan yang mengobral berita murahan mengenai dirinya dan Donghae. Jika dia membiarkan pria itu terus-menerus  berkunjung kerumahnya, maka mereka akan dikira pasangan mesum karena San Di tidak memiliki siapapun di rumah kosong itu.

Kedua orangtuanya pindah ke Busan dan bekerja disana. Mereka hanya mengirimkan uang sekali sebulan pada San Di dan itupun tidak cukup untuk memenuhi segala kebutuhannya. Itulah alasan mengapa San Di memilih pekerjaan ‘itu’ untuk mendapatkan uang tambahan.

Tapi dia tidak pernah menyangka bahwa yang harus menjadi objeknya kali ini adalah seorang pria yang sepantaran dengannya. Padahal San Di sudah menegaskan bahwa dia tidak menerima tugas yang berada diluar peraturannya. Haruskah dia melanggar rules yang dibuatnya sendiri?

 

 

***

Dewan sekolah baru saja mengadakan rapat mendadak tadi malam, dan hasilnya, tidak akan ada yang mengerti betapa San Di ingin membuang dirinya jauh-jauh ketempat terpencil di ujung bumi. Awan mendung serasa memayunginya kemanapun ia pergi.

“Kenapa bukan ketua kedisiplinan saja? Aku sudah bilang aku tidak bisa.”

“Tapi kau adalah ketua murid, San Di. Kedudukanmu lebih tinggi dari pada Kim Kibum. Kaulah yang lebih berhak mendapatkan tugas ini.”

Apa dia bilang? Berhak? Sepertinya kepala sekolah Park Jung Soo tidak bisa membedakan antara hak dan pemaksaan. Haruskah dia diajarkan juga? San Di hanya ingin memusatkan seluruh perhatian dan hidupnya pada ujian akhir tapi tidak bisa.

San Di memutar bola mata malas, “ Sebagai ketua murid, yang wajib ku atur dan kupimpin adalah siswa-siswa disekolah kita, bukan sekolah mereka.”

“Maka karena itu…” pria yang sudah memasuki usia kepala tiga itu memberikan sebuah surat pada San Di.

“Kami sudah mengatur segalanya. Kau hanya perlu menyelesaikan tugasmu dalam kurun waktu dua bulan. Dan jika dalam jangka waktu singkat itu kami mendengar keluhan dari client mu, kami tidak akan segan-segan melarangmu mengikuti ujian kelulusan.”

San Di memejamkan mata untuk sepersekian detik lalu menatap pasrah anggota dewan sekolah yang duduk dengan tatapan berharap di hadapannya. Kenapa mereka mau bersusah payah mencampuri urusan pribadinya seperti ini? Apakah wanita berambut panjang bergelombang itu yang telah mengancam mereka untuk melakukan ini padanya?

Dunia sungguh tidak adil. Apa yang bisa diperbuatnya selain menurut? Bagi San Di ujian akhir dan ujian kelulusan adalah segalanya. Tidak ada pilihan lain lagi selain mengambil pekerjaan ini.

“Kau pindah?!”

“Begitulah.”

“Sungguh? Ya Jung San Di!”

“Hm?”

San Di terus saja mengepak barang-barangnya, memasukkan pakaian beserta buku-bukunya kedalam tas berukuran besar sedangkan Donghae berdiri di ambang pintu kamarnya. Pria itu tidak bisa tenang saat mendengar kabar bahwa San Di akan pindah ke Seoul, Gyeonggi International High School.

Sekolah itu memberikan pelayanan khusus sepenuhnya bagi anak-anak dari staff perusahaan Samsung Corp yang berpusat disana serta anak-anak dari staff perusahaan besar lainnya. Dan lagi, sekolah berkelas yang terkenal dengan basis internasionalnya itu juga hanya memperbolehkan para siswa dengan nilai akademik tertinggi untuk bisa menginjakkan kedua kaki melewati gerbangnya yang megah.

“Kau akan pindah rumah juga?”

“Hm. Hanya sekitar enam puluh hari.”

“Jarak Apgeujong ke Seoul membuatmu harus menunggangi subway express, Jung San Di.”

“Lalu?”

“Aku tidak akan meminjamkanmu uang. Aku bahkan tidak tahu dimana kau akan tinggal disana. Apa kau punya tempat menginap? Katakan agar aku bisa mengunjungimu kesana.”

Oh ya tuhan, bahkan seorang Lee Donghae juga bisa lebih cerewet daripada wanita tua. Lihatlah sekarang pria itu sudah berdiri disebelahnya yang tengah mengancingi ransel sambil berkacak pinggang dan ekspresi protesnya yang menonjol.

“Kau tenang saja, sekolah sudah mengatur semuanya untukku. Jadi tidak akan terjadi apa-apa.”

San Di bisa mendengar helaan lega keluar dari bibir tipis Donghae. Tanpa menunggu lama San Di melangkah keluar rumah dan menarik Donghae bersamanya.

“Jadi beginikah akhirnya? Kau meninggalkanku, nona besar?” Donghae tidak bisa melepaskan genggamannya dari tangan San Di, terlalu sulit melepas gadis itu ke Seoul.

San Di memberikan senyum terbaiknya pada Donghae, senyum yang bahkan tidak pernah ditunjukkannya pada siapapun kecuali pria itu, pria yang selalu berada disisinya selama lima tahun terakhir. Sahabat? Entahlah. Tapi San Di sudah menganggapnya seperti oppa sendiri.

“Jangan bertingkah seolah aku memang akan meninggalkanmu. Kekanakkan. Kau terlihat menjijikkan  dengan wajah cengeng Lee Donghae. Kau sedih karena tidak ada lagi yang menyalinkan tugas esai untukmu, kan? Dasar pemalas.”

Donghae membawa tubuh San Di kepelukannya, mendekapnya erat dan mengusap-usap pelan rambutnya. San Di hanya tersenyum kecil dan ikut membalas. “Jangan lupa, kirimi aku pesan selamat pagi dan selamat tidur setiap hari. Mengerti?”

San Di melepaskan pria itu lebih dulu. “Aish … terlalu banyak omelan, aku pergi.”

“Jika kau kembali dengan tubuh penuh memar aku akan membunuhmu, Jung San Di!”

 

 

***

Dia duduk disana. Pria dengan kulit seputih porselen dan seringai yang menggoda, bentuk tubuh yang sempurna tercetak jelas dibalik kemeja putihnya, dan wajahnya yang— oh ,damn. Kau tak akan yakin mau mengakuinya. Begitu mempesona. Dan tentu saja dengan latar belakangnya yang juga luar biasa.

Karakternya?

Pria dengan sejuta kesempurnaan ini memiliki sifat buruk yang berhasil disembunyikan oleh wajah angkuhnya. Jika kau pernah mendengar kalimat ‘Seburuk-buruknya manusia, pasti masih tersimpan kebaikan pada dirinya, walaupun sedikit’ , bermimpi saja. Karena filosofi bijak itu tidak berlaku untuk si brengsek yang satu ini.

Dia adalah seorang bajingan kelas kakap berharga diri tinggi, egois, licik, suka mengintimidasi, keras kepala, tidak mau mengalah, dan satu lagi, seorang cassanova yang digilai banyak wanita. Berolahraga di atas ranjang sudah menjadi mainannya sehari-hari.

Wanita mana yang tidak rela membuang jauh-jauh harga diri mereka dibawah kuasa si brengsek tampan itu demi mencicipi permainan hebatnya. Berganti wanita setiap hari sudah seperti mengganti-ganti pakaian baginya. Tidak ada wanita yang sama di hari yang berbeda.

Dan hari ini, pria itu baru saja menerima kabar bahwa akan ada seorang murid pindahan dari sekolah lain yang ditugaskan untuk mendisiplinkannya. Dia tertawa sinis, membuka profil seorang gadis yang tertera pada layar Macbook nya. Kedua matanya bersinar antusias begitu membaca setiap detail mengenai gadis itu. Banyak hal menarik yang akan didapatnya setelah ini, dan dia … sedang menunggu saat-saat itu tiba.

“Dengarkan aku bocah tengik.” Pintu kamarnya yang dibuka tiba-tiba membuatnya menoleh ke arah pintu.

“Aku tidak ingin mendengar bantahan atau apapun kali ini. Persetan dengan semua kejeniusanmu, tapi aku disini hanya melaksanakan tugas yang diberikan appa dan juga eomma padaku. Jadi, jika kau berbuat masalah lagi, kau akan mati di tanganku.”

Dia hanya tersenyum miring menanggapi ancaman yang jelas-jelas ditujukan wanita cantik itu untuknya.

 

 

***

“Silahkan masuk, nona Jung San Di.”

Seorang pelayan berpakaian stelan jas hitam rapi kini menuntunnya memasuki sebuah rumah, bukan, bukan rumah, melainkan mansion mewah dengan luas yang tidak bisa ditebaknya. Interiornya yang unik dan didominasi dengan gradasi warna alami mampu menyejukkan mata. Semuanya ditata seapik mungkin, menyiratkan siapa pemilik mansion ini sebenarnya– seorang pemuja kesempurnaan.

San Di melangkah ringan melewati sebuah lorong yang disepanjang dindingnya di hiasi foto-foto keluarga. Mereka semua terlihat bahagia dan kesan hangat menguar melalui senyum-senyum yang mereka tunjukkan.

San Di terus berjalan hingga tiba disebuah pintu berwarna coklat pinus yang telah dipernis. Pelayan itu memberikannya kunci  dan mempersilahkannya dengan ramah untuk memasuki kamar itu.

“Sekarang kamar ini milikmu, nona. Kau akan tinggal disini selama beberapa hari kedepan.”

San Di mengangguk paham lalu masuk kedalam ruangan bernuansa putih yang disediakan untuknya. Donghae benar, harga yang mereka tawarkan tidak main-main. San Di membuka lebar jendela kamarnya yang langsung menghadap ke taman belakang mansion. Ada danau kecil disana, dan sebuah pancuran air yang menyembur deras.

Rambutnya bergerak teratur diterpa angin malam, kedua matanya menatap kagum pada  pemandangan diluar sana. Tempat ini benar-benar diluar perkiraannya. Satu pertanyaan besar kini menggelayuti kepala San Di. Seperti apa objek yang harus ditemuinya nanti? Apakah benar separah itu?

 

 

***

San Di refleks membuka pintu begitu ketukan yang tidak bisa dibilang sedikit menghantam pintu kamarnya. Seorang housemaid berpakaian serba merah muda memberikan sebuah map aneh padanya.

“Apa ini?” tanya nya.

“Ini adalah berkas yang berisi semua tugas yang harus anda kerjakan dan selesaikan, nona Jung San Di. Tuan kami menitipkannya padaku, dia berpesan agar kau melaksanakan tugasmu dengan baik, karena dia akan merasa sangat berterima kasih jika kau dapat membawa perubahan.”

San Di hanya diam dan membungkuk memberi salam, lalu kembali memasuki kamarnya. Dia mulai membaca satu persatu lembaran berkas yang berada ditangannya.

“Apa-apaan ini?” gumamnya. Semua penjelasan yang ada didalam kertas itu nyaris menenggelamkan semangat sekolahnya pagi ini. Padahal gadis itu sudah berpakaian seragam lengkap dan siap berangkat.

“Haruskah seperti ini? Sebenarnya dia itu anak kecil atau apa? Shit.” Berbagai jenis umpatan dari negara penghasil ginseng lolos dari bibir dinginnya. Dia harus melakukan ini semua? Hah, baiklah. Ini tidak sulit. Baginya ini sama saja seperti menginjak serangga di lubang lumpur.

San Di berjalan menuju lantai teratas, tempat dimana kamar yang harus ditujunya berada. Dan dengan segenap keberanian yang memang telah terkumpul, San Di membuka kenop pintu besar bergaya klasik. Seketika aroma maskulin yang khas merasuk kedalam indra penciumannya.

Ruangan yang luas  itu tidak gelap, namun tidak bisa juga dikatakan terang. Karena si pemilik hanya menyalakan lampu tidur di meja nakas nya sedangkan dia masih bergumul di bawah selimut.

Jam beker berdering ria di atas meja, dan dalam hitungan sekejap benda bising itu terlempar menubruk dinding dan jatuh kelantai , hancur berkeping-keping. San Di menyipitkan kedua mata menatap seseorang yang masih dengan santainya melanjutkan tidur di atas ranjang king size miliknya, tidak menyadari kehadiran San Di disana.

San Di mencari sesuatu di dinding kamar dan ruangan itu kini berubah menjadi terang, dia bisa melihat dengan baik sekarang. Pria itu bergerak gelisah diranjangnya lalu menyingkap selimut untuk melihat siapa yang telah berani mengganggu tidurnya.

“Tidurmu nyenyak, tuan muda?” Sebuah sindiran halus menyapanya pagi ini. Cho Kyuhyun merasa gadis ini berbeda dari yang lain. Lihat saja caranya memandang, dia benar-benar dingin dan penuh perhitungan. Kyuhyun ingat wajah itu, wajah yang ditemukannya dalam Macbook, gadis yang ditugaskan untuk mendisiplinkannya.

“Selamat pagi, Jung.” Balasnya ringan. Kyuhyun menurunkan selimutnya hingga sebatas pinggang dan menyandarkan punggung pada kepala ranjang, memamerkan bagian tubuh atasnya yang polos dengan senyum licik yang merekah di bibir tebalnya yang sensual. Sebelah tangannya terangkat ke atas , mengacak-acak rambut berwarna dark brown miliknya hingga menjadi lebih berantakan lagi, tapi percayalah, dia tampak lebih menggoda sekarang.

Oh, terkutuklah gen keturunan Cho yang mengalir dalam darah si brengsek itu.

San Di hanya menatapnya risih. Tidak ada perubahan dari ekspresi wajah tenangnya dan itu cukup untuk membuat Kyuhyun merasa tertantang dengan sikapnya.

“Apa dikamarmu tidak ada jam?”

“Kau tidak lihat sesuatu yang ada di lantai itu apa?”

“Kupikir kau sudah tahu apa tujuanku berdiri disini, tuan Cho yang terhormat. Sekarang aku ingin kau bangun dan segeralah mandi. Kurasa kau masih ingat bahwa pagi ini kau harus sekolah jika tidak ingin terlambat.”

Kyuhyun mendecih. “ Kenapa aku harus melakukan itu?”

“Karena kau harus mendengarkanku.”

“Bagaimana jika aku tidak mau?”

“Maka aku harus memaksamu. Kau tinggal pilih, opsi A atau opsi B.”

Kyuhyun sudah paham dengan trik San Di, trik murahan. Opsi A adalah cara lembut, sedangkan opsi B dengan cara kekerasan. Dan Kyuhyun ingin bermain-main dengan gadis itu sebentar.

“Apa tidak ada opsi C? Aku lebih suka huruf C karena itu adalah bagian awal dari namaku.”

San Di memejamkan mata mengumpulkan kesabaran kemudian menghirup oksigen perlahan. Memang tidak semudah itu. Yang sedang dihadapinya kini adalah seorang pria berusia sembilan belas tahun dan memiliki kepala batu. Dan harus San Di akui bahwa dia benci melihat seringai pria itu, membuatnya kehilangan fokus.

Dengan sigap San Di berjalan cepat menuju ranjang Kyuhyun, menyibak kasar selimut yang menutupi tubuh pria itu dan menyeretnya turun dari ranjang. Kejadian itu berlangsung terlalu cepat hingga Kyuhyun tidak menyadari pergerakan San Di.

Dengan cepat pula Kyuhyun menyambar lengan San Di, membanting gadis itu ke atas ranjangnya sebelum San Di berhasil menceburkannya kedalam bath up, menahan kedua pergelangan tangannya di atas kepala dan menghimpit kedua kaki pendek San Di di antara kakinya.

“Kekuatanmu tidak bisa diremehkan, Jung. Kau kuat juga, kulihat dari data-datamu kau memang hebat. Lulusan bela diri aikido dan taekwondo, huh?”

San Di menahan nafas, wajah Kyuhyun sangat dekat, terlalu dekat. Bahkan San Di mampu merasakan deru nafas pria itu di wajahnya. Pria itu hanya mengenakan jeans hitam tanpa atasan. San Di berusaha berontak, namun seluruh anggota geraknya tidak bisa digunakan.

“Tapi bagaimana ini? Sayangnya aku lulusan judo, jadi aku menguasai semua teknik mengunci. Kau kalah telak walaupun menguasai dua bela diri sekaligus, nona sok berkuasa.”

“Lepaskan aku.” Desis San Di, mencoba menekan emosinya ke titik terendah. Jari-jari panjang Kyuhyun yang lentik menari di rambut hitamnya, menyisipkan sebagian anak rambut ke balik telinganya. “Kau merawat dirimu dengan sangat baik, Jung. Aku suka. Bagaimana dengan sedikit berolahraga di pagi hari? Aku yakin kau akan berlutut memohon menginginkanku lagi setelah itu.”

San Di menggertakan giginya, menahan segala umpatan dibalik tenggorokan.

“Terima kasih.” Kyuhyun menaikkan sebelah alis takjub. Jawaban tak terduga dari gadis itu mencengangkannya.

“Kau … Akh!”

Ringisan kesakitan lolos dari mulut Kyuhyun ketika San Di tanpa sungkan menyatukan dahinya dengan dahi pria itu sekuat tenaga hingga cengkraman Kyuhyun di kedua lengannya terlepas. San Di menendang perut Kyuhyun dan pria  itu jatuh dengan mulus menghantam lantai marmer kamarnya.

“Cepat bergerak atau aku akan mematahkan lenganmu, Cho.” titah San Di singkat, merapikan seragamnya lalu beranjak keluar dari kamar Kyuhyun. Kyuhyun menatap punggungnya dengan sorot tajam dari belakang.

“Gadis sialan.”makinya.

 

 

***

Hari demi hari San Di lalui dengan kesabaran yang semakin menipis. Cho Kyuhyun adalah pria paling sinting yang pernah ditemuinya, menutupi semua sifat buruk yang melekat dalam dirinya dengan memasang wajah angkuh dan dingin dihadapan banyak orang, sulit diatur dan benar-benar penuh arogan.

Berterima kasihlah pada wajahnya karena pria itu memiliki fisik yang sempurna. Jadi ada alasan juga mengapa segerombolan gadis-gadis tak tahu diri di sekolah berbasis internasional itu membuat fansclub tersendiri untuk memuja pangeran tampan mereka. Mereka sungguh tak punya otak, selera rendahan.

Pangeran? What the hell. Bagi San Di si brengsek Cho hanyalah iblis yang dikirim dari neraka untuk menyiksanya. Tidak tahukah dia betapa memuakkannya seringai miring itu dimata San Di tiap kali Kyuhyun berhasil menaikkan darahnya hingga ke ubun-ubun dengan segala kelakuannya yang diluar batas?

Setidaknya San Di masih mampu menahan diri agar tidak melayangkan tinjunya untuk menghancurkan wajah sempurna Cho Kyuhyun. Dia masih sayang nyawa, tidak ingin menjadi santapan para anggota fansclub si brengsek itu mengamuk lalu menelannya hidup-hidup.

“Mati saja kau sana.”

Tatapan mata San Di kian menajam seiring langkah kakinya mendekat menuju atap sekolah. Kepala dewan  Gyeonggi High School memerintahkannya untuk mencari si Cho sialan itu keseluruh sudut sekolah karena pria itu diwajibkan untuk mengikuti kelas bimbingan bisnis khusus untuk menjadi seorang CEO yang baik dalam memimpin perusahaan.

Dan memang sudah menjadi tugasnya untuk mengawasi pria itu selama 24 jam, sesuai dengan ketentuan yang tertera dalam berkasnya, berkas yang telah ditandatangani oleh Cho Yeung Hwan dan kedua pihak sekolah.

“Kau mencariku?” suara bass rendah yang sangat familiar berhasil membuat San Di menoleh dan menghentikan langkahnya. Wajahnya berubah datar begitu melihat Kyuhyun duduk di tepi pagar pembatas menghadap tepat kearahnya.

“Jangan tersenyum seperti itu seolah kau tidak memiliki kesalahan padaku, Cho. Aku harus mengucapkan kata ‘maaf’ lebih dari seratus kali bulan ini karena membela kelakuanmu yang tidak bermoral dan tidak tahu malu. ” nada suara San Di yang datar dan lebih terdengar mengancam hanya menggelitik di telinga Kyuhyun. Pria itu malah menyeringai singkat, membuat San Di merinding.

Benar. Bagi San Di dia memang sangat kekanakan dan keterlaluan. Pria brengsek itu suka mencari masalah, membolos, berkelahi, bermain dengan wanita jalang, membuat keributan, dan nyaris mencelakakan dirinya sendiri karena mengemudi dalam keadaan mabuk. San Di lah yang bertanggung jawab penuh untuk menyelamatkan pria itu dengan segenap kemampuannya.

“Jika kau datang kesini hanya untuk memaksaku melakukan ini dan itu lebih baik kau pergi saja. Aku tidak akan menuruti peraturan bodohmu.”

San Di memasang wajah tak peduli. Matanya meneliti posisi duduk Kyuhyun yang terlalu berbahaya. Sedikit saja pria itu terhuyung kebelakang, maka dia akan langsung kehilangan keseimbangan dan berakhir dengan tragis dibawah sana.

“Apa yang kau lihat?”

San Di melipat kedua tangan didepan dada. “Kuharap kau berhati-hati, Cho Kyuhyun. Aku tidak ingin kau mati konyol karena terjatuh dari lantai empat.”

Kyuhyun menyeringai .”Kenapa? Takut kehilangan pemandangan indahmu, nona? Atau mungkin saja kau mulai terpesona padaku?”

“Aku hanya berusaha mencegah keributan dalam keluargamu. Appa dan noona mu mungkin akan mencekikku jika mereka menganggap aku tidak becus menjaga putra kesayangan Cho dengan benar.”

“Begitukah?” sebelah alis Kyuhyun menaik.

“Hm. Seharusnya hanya aku yang boleh membunuhmu brengsek, setelah semua kontrak kerja ini selesai.  Sekarang aku ingin kau mengikutiku turun kebawah dan temui Profesor Yoon untuk menghadiri kelas bisnismu atau aku akan mengadukanmu pada  Ahra eonnie.”

Kyuhyun tidak bergeming. Dia hanya diam menunggu gadis itu berbalik dan kembali memakinya. Entahlah, tapi melihat seorang Jung San Di marah-marah memberikan kepuasan tersendiri baginya.

“Selamat , Jung.”

San Di menghentikan langkah dan memutar tubuh. Mengerutkan sedikit dahi karena ucapan aneh Kyuhyun.

“Anak-anak disekolah mempersembahkan julukan baru untukmu. Nerd number one. Secinta itukah kau pada buku-buku tebalmu? Ah, sepertinya memang begitu. Si juara umum, kan? Bagaimana kalau kita buat kesepakatan saja nona pintar?”

Oh, sialan. Dia berulah lagi.

“Apa motifmu? Katakan padaku.” San Di merasa ada yang tidak beres dengan kepala Kyuhyun setelah melihat pria itu menyunggingkan senyum miringnya.

“Aku akan mengikuti kelas bisnis, tapi dengan syarat.”

Dugaan San Di benar. Kepahitan hidupnya masih berlanjut dan akan terus berkepanjangan, padahal hanya tinggal satu bulan lagi tapi si brengsek Cho ini masih belum juga bisa mengubah tingkahnya.

“Kau harus mengerjakan semua tugas-tugasku, semuanya, tanpa kecuali. Termasuk soal-soal esai hukuman yang diberikan oleh guru sejarah dan sastra. Kau tahu aku tidak suka belajar, jadi semua tugas itu tidak ada gunanya untukku. Aku terlalu sibuk untuk melakukan hal yang tidak berguna.”

San Di mengepalkan kedua tangan namun segera ia sembunyikan kedalam saku blazer.

“Terserah.”

Dan senyum kemenangan pun mengembang di bibir Kyuhyun.

 

 

***

Kirimkan saja dia ke Kutub Selatan asalkan bisa berjauhan dari Cho Kyuhyun. San Di kini tampak menyedihkan dengan kantung mata panda yang menghiasi wajah putihnya, duduk di kamar, masih mengenakan seragam sekolah. Jam kini menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit malam. Itu artinya dia sudah menghabiskan waktu sekitar lima jam di meja belajar.

Lihatlah semua yang berserakan di atas meja, bertumpuk-tumpuk hampir mencapai tinggi lima puluh sentimeter dan itu semua adalah tugas-tugas yang selalu ditunda oleh Cho Kyuhyun.

“Aku akan membunuhmu Cho .”

Walaupun kalimat yang sama terus meluncur dari bibirnya namun tangannya tidak berhenti menulis, berusaha menyelesaikan soal-soal  yang sudah dikuasainya.

Hingga gadis itu tersendat pada soal-soal matematika, San Di merutuk kesal. Dia tidak mahir di pelajaran ini. Matematika adalah bidang yang sudah dibencinya sepanjang abad, dia tetap tidak akan bisa menyelesaikan soal itu meski sudah memandanginya berjam-jam. Butuh waktu lama baginya hanya untuk memecahkan satu soal terkutuk itu.

Haruskah pergi ke kamarnya? Bukankah dia jenius?

Tidak. San Di membulatkan tekad untuk tetap mengerjakan soal matematika sendirian, menyingkirkan niat untuk bertanya pada Kyuhyun. Hanya lima soal, dia pasti bisa menyelesaikannya. Jika dia tidak bisa, maka akan lebih parah lagi akibatnya. Mungkin si lidah tajam Cho itu akan mencemoohnya habis-habisan.

Waktu terus berjalan dan San Di bernafas lega. “Selesai.”

Dia melirik jam dinding dan tersenyum puas. Ternyata tidak sesulit itu jika dia tahu rumus-rumusnya. Hanya butuh waktu tiga jam dan lima soal itu berhasil terpecahkan. San Di harus lebih sering mengekplorasi otaknya agar tidak selalu bertumpu pada pelajaran yang dikuasainya saja. Dia juga harus bisa menguasai pelajaran yang sulit jika ingin lulus ujian akhir.

San Di mengumpulkan semua tugas-tugas itu menjadi satu lalu berjalan keluar kamar. Dia ingin meletakkan tumpukan tugas itu di atas meja kamar Kyuhyun. Dan ketika kakinya baru mencapai depan pintu kamar pria itu, suara desahan dan erangan wanita terdengar jelas merasuk gendang telinganya, membuat tubuhnya meremang dalam seketika.

San Di mematung, tubuhnya membeku ditempat. Bayangan – bayangan dan imajinasi liarnya tentang apa yang sedang dilakukan pria brengsek itu di atas ranjang membuat dadanya sesak. Jadi inikah kesibukannya? Disaat San Di mati-matian berusaha menyelesaikan semua tugasnya hingga larut malam, si pria sinting itu malah bercinta didalam sana. Penghargaan macam apa yang pantas diberikan untuk gadis itu setelah dia melakukan segalanya demi mematuhi peraturan kontrak dan melindungi pria itu dari hukuman? Jawabannya tidak ada, selain bayaran dengan harga tinggi.

San Di berbalik arah dan berjalan menjauhi kamar Kyuhyun dengan menyeret langkah. Kenapa tiba-tiba dia tidak bersemangat seperti ini?

“Sialan kau Cho Kyuhyun.”

Apa yang baru saja terjadi telah menjelaskan semuanya. San Di tidak yakin lagi bisa mentolerir sikap Kyuhyun.

 

 

***

Pagi menjelang. Wanita itu tersenyum puas. Berdiri di hadapan Kyuhyun dengan balutan dress mini  ketat dan seksi. Dia baru saja melemparkan dirinya pada Kyuhyun dengan sukarela karena membutuhkan bantuan dana untuk menebus semua tagihan yang menjeratnya, membiarkan tubuhnya menjadi santapan panas pria itu beberapa jam yang lalu.

“Aku akan mengirimkannya ke nomor rekeningmu setelah ini.” ucap Kyuhyun datar. Wanita itu maju mendekat dan mengecup singkat bibir tebal Kyuhyun.

“Kau sangat baik hati, tuan Cho. Terima kasih.” Bisiknya seduktif. Kyuhyun meliriknya tajam, memberi isyarat pada wanita cantik itu untuk segera menyingkir dari pangkuannya.

“Pergilah , dan jangan tunjukkan lagi wajahmu dihadapanku.”

Wanita itu menatapnya nakal sebelum akhirnya keluar dari kamar Kyuhyun.

Selalu begitu, Kyuhyun tidak akan bisa bertahan lama dengan wanita-wanita yang telah memuaskan hasratnya. Terlalu mudah, mereka semua terlalu rendah dan tidak bernilai. Itulah sebabnya mengapa pria itu tidak pernah menjalin hubungan khusus dengan salah satu dari mereka. Mereka semua hanya menginginkan harta dan kekuasaan.

“Dasar rubah betina.” umpatnya dengan raut wajah dingin.

Kyuhyun melihat jam di dinding kamarnya dan mengernyit heran. Kenapa sepi sekali? Biasanya gadis itu akan masuk mendobrak paksa pintu kamarnya lalu mengoceh panjang tentang peraturan, berdiri dengan angkuh diambang pintu dengan wajah datarnya yang menggelikan.

Kemana perginya nona-sok-tahu-segalanya itu?

Kyuhyun turun dari ranjang dan berjalan membuka pintu kamar. Seorang housemaid lewat dan Kyuhyun segera mencegatnya.

“Oh, selamat pagi, tuan muda Cho.” sapanya ramah.

“Mana Jung San Di?”

“Nona Jung sudah berangkat sekolah lima belas menit yang lalu. Dia menitipkan ini padaku untuk diberikan pada tuan.” Housemaid itu menyerahkan setumpuk lembaran kertas dan Kyuhyun menerimanya dengan alis saling bertaut.

“Ini …” Kyuhyun tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

Semua itu adalah tugas-tugasnya. Dan gadis itu benar-benar menyelesaikan semuanya dalam waktu satu hari. Bagaimana mungkin dia bisa mengerjakan semua ini sendirian?

“Nona Jung juga menyarankan tuan untuk sarapan dulu sebelum berangkat ke sekolah. Breakfast tuan sudah tersaji di ruang makan. Nona Jung berpesan agar tuan Cho tidak terlambat datang hari ini karena dia tidak ingin tuan terkena sanksi dari Hwang sonsaengnim.”

 

 

***

Terkutuklah Jung San Di. Tidak melihat batang hidung gadis itu benar-benar membuatnya gila dan uring-uringan. Sudah lima hari San Di tidak menampakkan diri dan Kyuhyun mulai setengah frustasi memikirkan perubahan sikapnya yang mendadak. Akhir-akhir ini San Di terkesan menjauhinya, tidak ingin bertemu dengannya, bahkan didalam mansion sekalipun. Jika ada kesempatan, San Di selalu menghindar, berusaha untuk tidak bertatap mata dengannya, hanya memerintahkannya untuk mengerjakan kewajibannya melalui note-note kecil.

San Di menutup buku catatan dan mendorong kursi belajar. Setengah jam lagi adalah jadwal makan malam Kyuhyun. Dia harus lebih dulu keluar dan kembali masuk kedalam kamar jika tidak ingin berpas-pasan dengan pria itu. Sebenarnya San Di juga tidak mengerti kenapa dia harus terus-terusan menjauhi si brengsek Cho.

Apa dia cemburu? Yang benar saja. Cemburu pada wanita jalang bukanlah gaya seorang Jung San Di. Dia juga bukan tipe gadis transparan yang perasaannya mampu ditebak-tebak oleh orang lain.

San Di mengacuhkan semua persepsi gilanya dan beralih membuka kenop pintu kamar.

“Sedang bermain hide and seek, huh? Hebat sekali.”

Nada suara bass rendah yang terkesan mengintimidasi berhasil membuatnya terlonjak kaget. Kyuhyun sudah menantinya diluar kamar, bersandar ke dinding dengan pose melipat kedua tangan didepan dada.

Dari penampilannya saat ini, San Di yakin bahwa Kyuhyun baru saja kembali dari Cho Group. Berpakaian stelan jas hitam, kemeja putih yang sengaja dibiarkan terbuka dua kancing bagian atasnya, serta tatanan rambut yang disisir asal dengan jari. Sorot matanya yang tajam menusuk menguasai tatapan San Di hingga gadis itu tidak mampu mengalihkan pandangan.

Kyuhyun melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka berdua hingga pria itu bisa menatap wajah San Di dengan jelas. Iris coklat terangnya yang menyala, bulu mata yang lentik, dahi lebarnya yang tertutupi poni , serta bibir itu, bibir dingin yang selalu mengumpatinya setiap hari membuatnya tidak tahan ingin menyentuh bibir merah muda itu dengan jemarinya.

“Ada apa denganmu, Jung? Kau selalu melarikan diri setiap kali bertemu denganku. Apa kau mulai takut sekarang? Kemana lenyapnya sikap nona-sok-berani kita?”

San Di membuang muka, berpura-pura tidak melihat Kyuhyun dan berjalan melewati pria itu. Namun Kyuhyun lebih cepat. Kyuhyun segera bergerak dan menghalangi jalan San Di menuju ruang makan.

“Minggir.”

Kyuhyun tidak bergerak. Dia hanya ingin mendengar gadis itu marah-marah dan membalas ucapannya dengan makian brengsek seperti biasa.

“Minggir kau, Cho.” San Di masih berupaya mempertahankan kesabarannya tetapi pria itu juga tetap bersikeras.

“Kubilang menyingkir kau atau aku akan—“

“Mematahkan lenganku. Benar? Kau sungguh ingin mematahkan lenganku jika aku menghalangi jalanmu, Jung? Cih. Kau bahkan masih bisa menyombongkan diri disaat-saat seperti ini. Aku sangat terkesima.”

San Di terdiam, tidak berniat mengangkat wajahnya untuk melihat pria itu.

“Pergilah masuk ke ruangan kerjamu dan periksa dokumen-dokumen perusahaan yang telah diberikan oleh appa mu.”

Kyuhyun mendecih singkat. “Kau kira aku mau menuruti semua jadwal rutinitas harian yang sudah kau buat untukku? Bermimpi saja kau, Jung. Tidak akan pernah. Mungkin saja jadwal-jadwal itu sudah hangus terbakar di tempat pembuangan sampah sekarang. Kau boleh memeriksanya kalau kau mau.”

Kali ini San Di memberanikan diri menatap balik iris hitam legam di hadapannya dengan tatapan menantang, dagunya terangkat angkuh. “Baiklah kalau begitu, biar aku saja yang memeriksanya, seperti biasa. Kau pergi saja sana bersenang-senang ke starclub dengan wanita-wanita jalangmu. Aku tidak akan memerintah dan melarangmu lagi. Semuanya terserah padamu, aku tidak peduli.” Sahutnya pelan menahan emosi.

“Apa kau bilang?”

“Bukankah itu yang biasa kau lakukan? Aku tidak pernah menyangka bahwa selain kejeniusanmu, di bagian terdalam otakmu itu juga banyak tersimpan pemikiran kotor tentang tubuh wanita dan cara-cara menikmatinya. Lakukan saja semaumu sialan, lagipula itu tidak ada hubungannya denganku.”

Rahang Kyuhyun mengeras. Matanya menggelap. Mendengar kalimat terakhir dari gadis itu membuatnya merasa terhina, tidak dihargai. Belum pernah sekalipun ada wanita yang berani berkata seperti itu padanya.

Sebelum San Di sempat bergerak, Kyuhyun sudah lebih dulu mendorong tubuhnya hingga menabrak dinding dan menyudutkannya, menghimpit tubuh kecil San Di di antara dinding dan tubuhnya yang tinggi tegap.

San Di meronta, namun kekuatannya tiba-tiba menghilang entah kemana. Kyuhyun tampak lebih mengerikan kali ini dan dia tidak sanggup mengendalikan pria itu hanya dengan teriakan dan umpatan yang sia-sia. Dia menahan tubuh Kyuhyun yang semakin merapat pada tubuhnya dengan kedua tangan. Wajah Kyuhyun semakin dekat hingga kedua ujung hidung dan dahi mereka saling bersentuhan.

“Dengar, Jung.” Kyuhyun berbisik tepat diwajahnya. San Di dapat menghirup dengan jelas bau mint yang menguar dari tubuh pria itu.

“Kurasa kau juga ingin merasakan apa yang dirasakan oleh wanita-wanita jalang itu saat aku menyentuh mereka. Katakan jika aku salah.”

San Di melemparkan tatapan kebenciannya yang paling dalam. “Lebih baik aku mati membeku di antartika daripada harus menjadi penghuni ranjangmu, brengsek. Menyingkir dari tubuhku sebelum wajah memuakkanmu itu hancur ditanganku, Cho.”

“Oh … benarkah? Kita lihat saja apa kau bisa mengalahkanku.”

Kyuhyun segera meletakkan sebelah tangannya dipinggang San Di, menarik tubuh pendek gadis itu dan mengangkatnya hingga San Di  menginjak permukaan sepatu hitamnya. Sedangkan tangannya yang lain berpindah pada tengkuk San Di, menekan hingga bibirnya dapat menyentuh bibir lembut gadis itu.

San Di tidak dapat menolak, sialnya tubuhnya bereaksi diluar kendali, mengabaikan perintah otaknya yang mengarahkan untuk mendorong pria itu jauh-jauh. Kyuhyun melumat bibir San Di dengan kasar dan menuntut, segala emosi dan perasaannya yang tidak menentu tiba-tiba saja mendesak keluar. Ada gejolak asing yang dirasakannya saat menyentuh gadis itu, sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak pernah muncul dalam hidupnya.

Dan saat kesadaraannya mulai memulih, San Di menyadari bahwa dia baru saja berbuat kesalahan. Bibir Kyuhyun begitu berani dan lihai, bergerak tanpa sungkan diatas bibirnya. Matanya membulat begitu dirasakannya oksigennya sudah berkurang, dadanya mulai terasa sesak karena ulah Kyuhyun.

Apa sebenarnya yang ada didalam otak pria itu? Ini merupakan penghinaan terbesar dalam sejarah hidupnya dan tidak termaafkan. Ini pelecehan.

San Di berusaha menggerakkan kedua tangannya yang terhimpit tubuh Kyuhyun dan mendorong tubuh pria itu dengan sekuat tenaga. Dan tepat ketika dia berhasil melepaskan diri dari jeratan memabukkan yang Kyuhyun ciptakan, sebuah suara merdu mengintrupsi kegiatan mereka.

“Kyu.”

San Di terkejut, begitu pula dengan Kyuhyun. Mereka segera menjauh dan menoleh mencari sumber suara. Disana telah berdiri seorang gadis tinggi yang cantik, berambut panjang tergerai berwarna coklat caramel, jepit berbentuk pita merah menghiasi rambutnya dengan tatanan elegan, wajah yang dipoles make up tipis, mengenakan dress hijau tosca sebatas lutut yang memamerkan bahu putihnya dan high heels setinggi tujuh sentimeter.

“Seohyun?”

“Aku sudah mencarimu kemana-mana, apa yang kau lakukan disini? Bukankah Cho Yeung Hwan ahjussi bilang malam ini kita akan mengadakan malam bersama keluarga membicarakan pernikahan  kita?”

Tunggu dulu. San Di mengerutkan dahi tak percaya. Tunangan? Si brengsek ini sudah punya seorang tunangan tapi masih saja mempermainkan wanita?!

“Kau tunangannya?” San Di ingin memastikan sendiri dan bertanya. Seohyun beralih meliriknya rendah, meremehkan.

“Iya , dia tunanganku. Cho Kyuhyun adalah tunanganku. Apa kau tidak punya telinga?” Seohyun sengaja menekankan kata-kata tunangan pada San Di. Dia memperhatikan penampilan San Di dari atas hingga bawah.

“Kau pasti gadis bayaran yang ditugaskan untuk mendisiplinkan calon suamiku.”

Wajah San Di berubah drastis begitu mendengar kata-kata ‘gadis bayaran’ .

“Terima kasih atas kerja kerasmu, tapi sekarang keluarga Cho sudah tidak membutuhkan jasamu lagi. Aku bisa melakukannya sendiri untuk Kyuhyun. Kyuhyun akan berubah dengan baik jika berada di bawah kendaliku.”

San Di menelan kepahitan perasaannya sendiri dan mengerjap pelan, menahan cairan bening yang menumpuk di pelupuk matanya agar tidak jatuh. Dia tidak ingin tampak lemah dihadapan dua makhluk elite yang berdiri angkuh disekitarnya.

“Baguslah kalau begitu. Aku bisa pergi sekarang.”

Kyuhyun sontak mengalihkan pandangannya pada San Di ketika pernyataan mengundurkan diri yang secara tidak langsung itu meluncur dari bibirnya, nada lemah yang sengaja ditegaskan agar terdengar kuat.

“Mau kemana kau?”

“Kembali ke sekolah dan rumahku yang sebelumnya, brengsek.” Sahut San Di pelan.

“Tidak, kau tidak boleh pergi.” Tanpa sadar Kyuhyun mengucapkannya, membuat Seohyun menatapnya cemas, tak suka.

“Kau tidak bisa pergi, masa kerjamu disini masih ada dua minggu lagi, Jung. Aku tidak akan memberimu izin meninggalkan mansion ini.”

“Tapi aku—“

“Jika kau tetap nekat pergi, aku tidak akan membayar semua pekerjaan yang telah kau laku—“

“Tak apa, aku tidak bermasalah dengan bayaran. Yang penting sekarang aku harus kembali, seseorang mungkin sudah hampir menangis disana karena terlalu lama menanti kepulanganku.”

“Jung San Di !”

“Jadilah pria yang baik dan bertanggung jawab, Cho Kyuhyun. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau tetap membuat masalah dan merepotkan kedua orangtuamu lagi.” San Di tersenyum, senyum yang dipaksakan.

 

 

***

5 years later, Incheon , Haru Caffe,  12.45 KST 

 

San Di meneguk coffeemilk hangatnya sekali lagi, udara musim gugur mengharuskan dia mengenakan pakaian berlapis disertai syal grey lembut yang melingkari leher jenjangnya. Matanya menatap daun-daun kering berwarna kuning kecoklatan yang jatuh berterbangan mengotori permukaan jalan. Sudah lima tahun berlalu, dan San Di sudah menggenggam tujuan yang menjadi sasaran anak panahnya dari dulu. Menjadi seorang dokter.

Tidak tahu apa yang dia rasakan sekarang, tapi San Di benar-benar bersyukur karena kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil, dia tidak akan lagi menyusahkan kedua orangtuanya karena sekarang dirinyalah yang akan membiayai hidup mereka di Busan.

“Sedang merenungi nasib, nona?”

San Di mendelik kesal, dia sudah hafal betul suara itu. Donghae baru saja tiba dan pria itu menarik kursi tepat dihadapannya. Donghae menggosok-gosokkan kedua telapak tangan, berharap dengan begitu dia dapat menghilangkan rasa dingin dari musim gugur yang baru saja mempengaruhinya selama perjalanan di luar.

“Dari kantor?” San Di membuka mulut setelah Donghae selesai memesan makanannya.

“Hm, ini jam makan siang. Makanya aku keluar dan mengajakmu datang kesini.”

“Dan kau membuatku hampir mati membeku menunggumu. Kau tahu? Aku sudah menghabiskan tiga cangkir coffeemilk dan ini yang keempat. Aku tidak tahu lagi bagaimana harus memenuhi perutku dengan ini.”

“Kau bisa pesan sandwich kalau mau.”

“Aku sedang tidak ingin makan.”

“Kalau begitu nikmati saja minumanmu.”

San Di ingin sekali melempar apapun yang ada dimeja ke wajah tanpa dosa yang ditunjukkan Donghae. Pria ini benar-benar suka membuatnya kesal sejak mereka tamat sekolah.

“Bagaimana kabar Han Yoora?”

Donghae melahap pasta nya.” Dia baik-baik saja, setelah kau memeriksa keadaan kandungannya kemarin, aku menyuruhnya agar tidak melakukan pekerjaan yang menguras tenaga.”

“Katakan juga padanya untuk rajin mengkonsumsi sayur dan buah-buahan segar, itu bermanfaat untuk perkembangan saraf dan alat-alat indra bayi kalian.”

“Akan kuberitahu nanti.”

Tiba-tiba Donghae menghentikan sendoknya, teringat akan sesuatu. Matanya melirik San Di ragu, tidak yakin apa akan berpengaruh buruk nantinya pada kondisi gadis itu jika ia bertanya.

“Bagaimana kabarmu?”

San Di tersentak dari lamunannya. “Hm. Apa?”

“Masih memikirkan client terakhirmu? Kenapa tidak kau coba hubungi saja?” Donghae beralih menatap wajah San Di dan gadis itu … jelas sangat tidak ingin membahasnya.

“Aku sibuk, banyak pasien yang menunggu kehadiranku di rumah sakit. Untuk apa menghubunginya, membuang-buang waktu saja.”

Donghae mengangguk mengerti. Tapi tiba-tiba pria itu teringat akan sesuatu lagi.

“Ah, aku hampir lupa. Kepala presdir di perusahaan tempatku bekerja saat ini sedang membutuhkan penanganan medis. Dia meminta bantuanku untuk mencarikannya dokter. Bagaimana kalau kau saja? Bisa kan?”

San Di menghabiskan coffeemilk nya hingga tandas. “ Berikan aku alamat rumahnya, aku akan datang kesana nanti malam untuk memeriksa nya.”

Donghae tersenyum. “Baiklah.”

 

 

***

San Di tiba didepan pintu utama sebuah rumah yang berukuran sangat besar, halamannya yang luas ditumbuhi berbagai macam tanaman hijau, dekorasi yang mengesankan.

“Aku tidak tahu siapa yang menghuni rumah ini, tapi dia pasti memiliki aset yang berlimpah.”

Semakin jauh kedalam San Di melangkah, semakin banyak hal-hal dirumah mewah itu yang menambah decak kagum terus terlontar dari bibirnya, memuji betapa berkelasnya selera pemilik rumah elite itu.

“Sedang apa kau disini?” pertanyaan ketus itu menghantam gendang telinga San Di. Dia berbalik dan menemukan Seohyun berdiri di ujung tangga dengan berkacak pinggang. Wanita itu tidak berubah sedikitpun, masih terlihat cantik dan arogan seperti dulu. Hanya saja umurnya yang mungkin bertambah. Dia tahu cara merawat diri dengan benar, tidak seperti dirinya yang selalu tampil apa adanya.

“Kenapa kau bisa ada disini?” Seohyun berjalan mendekat, San Di memasang tampang datarnya tak peduli.

“Aku disini untuk memeriksa pasien.” Jawabnya ringan. Seohyun tertawa sinis. San Di mengutuk Donghae dalam hati.

Sebenarnya apa yang diinginkan pria itu? Mengirimnya ke neraka? Sudah sangat jelas bagi San Di siapa yang berada didalam rumah ini jika Seohyun berdiri dengan angkuh dihadapannya.

“Dasar gadis bayaran tidak tahu diri. Berani sekali kau—“

“Dokter Jung, silahkan menuju tingkat atas. Tuan sudah menunggumu.” Salah seorang housemaid merusak makian Seohyun dan membuat wanita mendecak kesal. Dia menatap San Di tajam sebelum akhirnya pergi dan dengan sengaja menabrakkan bahunya pada San Di.

San Di hanya melihat kepergiannya dengan wajah tenang. Seohyun pasti sudah gila, pikirnya. Dia berjalan menuju sebuah kamar dan berdiri mematung didepan pintu. Terdengar helaan nafas panjang keluar dari mulutnya. Dia tidak siap, San Di belum siap menghadapi sosok yang akan ditemuinya saat ini. Betapa bodohnya dia mau menerima permintaan Donghae.

 

“Tidak, sebaiknya aku pergi saja.” Keputusannya sudah bulat. Dia tidak akan masuk ke dalam kamar itu. Yang ada nanti dia malah terkena amukan Seohyun. San Di berputar balik dan berniat melangkah menjauhi pintu ketika sebuah suara berhasil menghentikan langkahnya.

“Berhenti disitu.”

Oh, sial. Dia tertangkap basah.

San Di menelan salivanya gugup. Kenapa harus semengerikan ini jika hanya harus bertemu dengan pria itu? Tidak cukupkah dunianya hancur dan terbalik karena pengaruh kuat pria itu dalam hidupnya?

Dia sudah bertekad tidak lagi ingin melihat wajah tirus pria itu, tapi keadaan saat ini seolah sedang menghukumnya. Apa sebenarnya yang terjadi? Ini bukan manipulasi atau imajinasi, ini kenyataan. San Di dapat melihat dengan jelas menggunakan kedua matanya.

Cho Kyuhyun berdiri tegap di sana, tidak jauh darinya. Pria itu tumbuh semakin tampan dan matang di usianya sekarang, tampan lebih dewasa dengan potongan rambut baru yang memamerkan dahi indahnya, alis mata hitam tebalnya yang tegas, dan rambut dark brown yang membingkai wajah sempurnanya. Kyuhyun mengenakan kemeja biru dan celana bahan berwarna hitam yang membalut kaki panjangnya. Lengan kemeja itu digulung hingga sebatas siku, menunjukkan sebagian otot tangannya yang kekar.

 

San Di berusaha sekuat mungkin untuk tidak berlari dan memeluk erat pria itu. Semua yang dia bayangkan hanya harapan kosong tak bermakna, yang nantinya hanya akan menyiksa dirinya lebih dalam lagi. San Di tidak ingin jatuh, tidak untuk kali ini.

Kyuhyun melangkah seraya memasukkan kedua tangannya dalam saku celana. Matanya menatap rakus sosok gadis yang berdiri membeku dihadapannya, menelusuri seluruh lekuk wajah gadis itu tanpa ada yang terlewatkan, seakan tidak ingin kehilangan memori tentang betapa menariknya San Di saat ini dimatanya.

“Apa-apaan ini, kau tidak terlihat sakit sama sekali.” San Di membuang wajah dan lebih memilih menatap lukisan abstrak yang terpajang di dinding ruangan. Kyuhyun tersenyum singkat.

“Memang tidak. Kau kira aku bisa sakit semudah itu? Bodoh sekali kau.” San Di menipiskan bibirnya menahan umpatan. Pria ini ternyata belum berubah.

“Kalau begitu aku bisa pergi sekarang.”

“Tidak untuk kali ini.” Kyuhyun menarik lengan San Di dan menahan gadis itu agar tidak pergi menjauh darinya.

“Aku tidak akan melepasmu lagi. Jangan harap kau bisa lari setelah kau masuk dalam perangkapku, Jung.”

San Di melepas paksa lengannya dari cengkraman Kyuhyun.”Benarkah? Setelah semua yang kau lakukan padaku, sekarang kau ingin aku berada didekatmu? Yang benar saja, Cho. Aku tidak akan mau menjadi yang kedua.”

Kyuhyun menatapnya tajam. “Tidak ada kata kedua.”

San Di membulatkan matanya tidak percaya. Apa maksud perkataan pria sinting ini? Apa dia sedang mencoba mempermainkannya lagi?

“Apa?”

Keterkejutan San Di belum berakhir sampai disitu karena tiba-tiba saja Kyuhyun menariknya paksa dan mengurung tubuh kecil San Di dalam rangkulan lengannya yang berada dipinggul gadis itu. Kyuhyun menatap lembut manik mata San Di lekat-lekat sedangkan gadis itu hanya bisa diam, menunggu apa yang akan terjadi berikutnya dengan pasrah karena dia tahu bahwa dia tidak akan bisa menang mengalahkan Kyuhyun.

“Dengarkan aku, nona sok tahu yang menyebalkan. Pertama, aku sudah berubah menjadi pria yang baik. Kedua, aku sudah menjadi pria yang bertanggung jawab, terutama terhadap perusahaan yang kini kupegang. Dan ketiga, aku belum menikah. Kau tahu kenapa? Karena aku menunggumu, bodoh.”

San Di mengerjap-ngerjapkan kedua matanya bingung, antara sadar dan tidak sadar. Dia tidak menyangka bahwa Kyuhyun menolak pernikahannya dengan Seohyun demi dirinya.

“Hubunganku dengan Seohyun saat ini tak lebih dari sekedar rekan kerja bisnis. Cho Group dan SH Corp sepakat  untuk bekerja sama dalam mengelola saham tanpa adanya ikatan pernikahan antara kedua belah pihak. Jadi, aku sebagai pengendali hidupmu, mengumumkan bahwa mulai detik ini kau harus terus berada di sisiku hingga akhir. ” tegas Kyuhyun. Matanya menatap San Di mengancam.

“Tunggu. Apa yang tadi itu proposal lamaranmu untukku? Segitu saja? Tidak ada kata-kata cinta nya? Kau benar-benar payah merangkai kalimat, Cho Kyuhyun. Lepaskan aku.” San Di berusaha melepaskan pelukan Kyuhyun namun pria itu malah merapatkan tubuh mereka lebih kuat.

Kyuhyun melemparkan tatapan tidak sukanya pada San Di. “Mengeluarkan kata-kata menjijikkan seperti itu hanya akan membuat perutku mual. Jangan memaksaku untuk mengatakannya, kepalaku sakit.

San Di mendelik kesal pada Kyuhyun. “Ingatkan aku untuk membunuhnya.” geram San Di tiba-tiba.

“Siapa? Lee Donghae? Aaa …  jangan terlalu kejam, nona. Dia itu sekretaris kepercayaanku, bagaimana pun juga dia berperan besar dalam rencana ini.” Kyuhyun mendaratkan bibirnya di kelopak mata kanan gadis itu . San Di tersenyum.

“Sialan kau, Cho Kyuhyun.”

 

 

 

End

 

 

16 thoughts on “Listen To You

  1. setia says:

    ah aku suka ceritanya si. to kukira akn dijelaskan.knp kyuhyun bs bersikap separah itu. ank sma tp kok nakalnya kelewatan.🙂

  2. shin viviana says:

    neomu neomu joahae…nice n sweet story…keep,writing…

  3. rhaaa18 says:

    Huwaaaa,, mereka manis sekali .. Sekalinya udah adu mulut bikin aku gereget hha . Ceritanya bagus banget .. Sequel yaa hihi🙂 ditunggu lohh . Keep writing

  4. marly says:

    Dan yahhhh….ini butuh sequellll…hihihhiii…

  5. lia aprilia says:

    Aku juga suka ceritanya, boleh lah di lanjut ~~

  6. Shin Viviana says:

    selalu sukaaaa….ma smua ff dblog ni…..nice story… dtunggu ff fcnya…. mo endingkah ff th…?????

  7. Ayunie CLOUDsweetJEWEL says:

    Padahal ini lebih cocok kalau chapter daripada oneshoot. Btw, DraKyuBubble adadalah author yang menuli

  8. Ayunie CLOUDsweetJEWEL says:

    Padahal ini lebih cocok kalau chapter daripada oneshoot. Konfliknya luas untuk dikembangkan. Btw, DraKyuBubble adalah author yang menulis “Mission Impossible” dengan cast KyuHyun-Eun Ji, kan? Itu ff nggak dilanjut kah?

  9. Kazahana says:

    Alur di ending cerita gak kecepetan yahh??
    Atw mw dibuat sequelnya ini thor??

  10. puput says:

    As u said saeng..it’s nice story..
    Msh nungguin update FCmu..
    Lg ribet dgn ospek kah?
    Thx 4 share..

  11. sapphire says:

    Pass mereka berantem itu bagian serunya “””” dan nakalnya kyuhyun parah bgt tapi lebih seru klw di bikin chapter

  12. Gummy eunhyuk says:

    Walah kyu berubah jadi manis sekali suka sama ceritanya lebih suka lagi kalo ada seqeulnya😀

  13. tata says:

    woooooaaaaah…
    coba ini ada sequel pasti tambah mantaaaabbbbb!!!!
    sedikit tergelitik waktu tau pekerjaan san di itu apa. omg… ada ya orang kaya yg butuh didisiplinkan macam kyu?!
    bajingan tingkat dewa yg takluk sama sikap kaku san di. ini benar2 kereeeeeen
    cara unik buat mendisiplinkan sseseorang. ini bisa dibuat referensi saat ngajar nih🙂
    tapi… apa g terlalu lama ya waktu buat kyu menjerat san di lagi?! 5 tahun?!
    namun itu sepafan dengan hasil yg didapat. kyu jauh lebih matang dalam menjerat san di dengan pesonanya

  14. amoy says:

    Hahahha….donghae biang keladinya…go..go..kyu.

  15. Huahaha .. pertemuan pertama san di – kyu amazing … terjadi kekerasan antara aikido, taekwondo melawan judo .. hehe .. and the winner .. aikido&taekwondo …

    ?? San di sbnrnya guru private or bodyguard or babysitter kyu ???? Hehe kasihan .. pusing2x an smp 3 jam buat ngerjain 5 soal eh kyu mlh lg ” mojok ” .. ckck ….

    ” jika kau buat masalah lg,kau akan mati di tanganku ” huahaha .. ahra kejam eiiii …

    Dasar .. dah punya tunangan tp msh main yeoja ckck ini benar2 deh kyu oppa .. hem apa mgkn san di mulai suka sm kyu ??? Begitu jg kyu ???

    Ommo .. hebat .. kyu oppa berubah oke n tetap setia sm san di dlm 5 th … hebat .. eh ga deh .. ga hebat .. masa ngelamar ga ada romantis nya ????

    Kik kik … dong hae .. dlm bahaya tuh .. jgn dekat 2x san di ya ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s