Happy Birthday :’)

Birthday-Quotes1

 

Pernah terpikir olehmu mengapa semua ini terjadi? Mengapa kini, kau disana dan aku disini tanpa kata. Tanpa sebuah canda tawa atau guyonan kecil lainnya. Tanpa rahasia yang dulu selalu kau bagi dan kita selesaikan bersama?

Pernahkah?

facebook-friend-quotes

Saat itu siang menerjang tenang. Saat aku menemukanmu disudut aula, bersama rombongan lainnya yang belum saling mengenal. Saat tahun pertama sekolah menengah kita dimulai. Saat ketika tawa adalah hal kecil yang bisa kita bagi kapanpun dan dimanapun.

Ketika aku tertegun melihat kedua mata runcingmu dengan bulumata hitam tebal yang lentik. Saat pada akhirnya kusimpulkan kau tak sekalipun friendly dan ingin berteman. Ketika pada akhirnya aku justru ketakutan dan mengambil jarak aman.

Lalu bodohnya, semua sirna ketika kau mulai berbicara. Dengan satu topik yang membuat rasa ketertarikaanmu begitu kuat, sama halnya denganku.

Saat itu, saat yang ku tak tau entah apa yang terjadi pada kita, kau mulai mencair. Lalu dalam sekejap kita berbagi tawa. Ketika sesuatu yang begitu menarik membuat kita semakin tak terpisah lalu kau mulai bergantung padaku. Saat ketika aku juga bergantung padamu.

Dan semua berlalu begitu saja. Ketika tahun berganti dan kita masih berjodoh dalam datu ruang kelas terbatas. Lalu kau menemukan teman barumu dan aku pun begitu. Saat kemudian dua menjadi empat. Lalu kita berbagi tawa dan selalu bersama.

Pernah kau tau seberapa bahagia kita? Saat akhirnya waktu kembali berputar dan kita adalah dua dari empat yang tak retak. Kau dan aku. Kita.

Saat kemudian persahabatan itu luntur menyisakan kau dan aku dalam waktu yang menerjang.

Pernah kau tau mengapa begitu mudah untukku bertahan denganmu? Bahkan ketika aku tak memiliki siapapun sementara kau bisa berbaur semaumu. Pernah kau mengerti mengapa aku bertindak seolah aku kekasihmu yang dilanda cemburu?

Kau boleh tertawa. Tapi ini memang terlalu konyol. Kau wanita, begitupun aku. Jadi, bisakah kau berpikir alasan yang lebih logis dari semua ini? Ha-ha! Ini memang konyol. Tapi aku benar-benar,, mencintaimu.

Kau satu dari entah berapa orang yang mampu mengaturku semaumu. Meletihkan harga diriku demi kau yang kekurangan tenaga menghadapi masalahmu. Berbagi. Tertawa. Segalanya.

Kau,, bisakah aku menganggapmu adik?

Ya, kau memang seperti itu bagiku.

Jika memang untuk menjadi kakak biologismu terasa begitu mustahil. Maka, sandarkan saja kepalamu pada pundakku. Ketika kau tak berdaya dan begitu memerlukanku. Tidakkah selama ini aku ada? Atau memang hanya aku saja yang terlalu membanggakan diri?

Aku tak mengerti entah apa yang terjadi ketika kemudian kau menemukan seseorang yang kau panggil adik. Tapi konyolnya, ketika aku menganggamu seperti itu, kalian justru punya berbagai rahasia yang tak kutau. Membuatku merasa begitu tersisihkan disudut bahagia yang semula milik kita.

Kau kemudian menjadi berbeda. Entah ini hanya perasaanku saja atau kau memang benar. Aku berubah karena menemukannya. Sosok kekasih yang entah mengapa begitu sulit untuk kutinggalkan.

Ketika pada akhirnya kau bersamanya lalu aku pun bersama yang lain.

Hari ketika semua kemudian berhenti dan kau memohonnya sendiri.

Lalu, semua berakhir begitu saja.

Friendship-quotes-List-of-top-10-best-friendship-quotes-27 (1)

Kini, ketika aku bahkan tak lagi mampu menjangkaumu dalam tawa, kutitipkan doa besar dalam mimpi dan cita-citamu.

Aku tak berharap begitu besar. Hanya jika kau tau bahwa aku telah hidup dalam penyesalan karena melepaskanmu, kau mungkin akan mengerti mengapa pandanganku tak pernah luruh ketika kau tertawa bahagia bersama mereka.

Aku, masih menyayangimu. Masih sebesar sebelumnya. Masih sedalam itu untuk kau tau.

Masih berharap cerita dulu dapat terulang selama ini dan masih terasa manis yang terlalu pekat.

Perlukan aku meneriakkannya didepanmu? Ketika pada akhirnya aku mengalah dan meminta maaf karena membuatmu merasa tersisihkan. Maaf karena saat itu aku begitu larut bersamanya. Maaf karena bahkan aku tak bisa menjaga dan membuatmu tertawa seperti adikmu yang luar biasa.

Kini kita berbeda arah. Tanpa suara. Tanpa benar-benar terikat komunikasi yang jelas.

Aku tak pernah tau apa yang terjadi padamu. Mengapa kau menangis. Mengapa kau tertawa. Bahkan karena terlalu tolol, aku tak pernah tau bagaimana cara meminta maaf darimu. Dan setelah bertahun berlalu, lewat tulisan kecil yang entah mengapa bisa tercipta, kututurkan maaf dalam rasa penyesalan yang dalam.

Aku memang keparat. Anggap saja akulah yang paling bersalah karena kau memang tak tersentuh dosa. Anggap saja aku adalah ujung pangkal perpisahan kita. Atau apaun yang kau mau, anggapp saja begitu.

Ini hari bahagia. Seharusnya tak kukirimkan pesakitan ini padamu. Tapi hanya untuk kau tau, karena usai ini akan begitu sulit bagiku untuk menemuimu. Sekedar bertegur sapa atau mendengar tawamu. Maka aku hanya ingin kau tau jika seabsen apapun kau dalam hidupku, aku, dengan bodohnya tak pernah mampu menghapus tawa bahagia kita.

Ketika aku harus berusaha mengais memori itu dan bertanya mengapa kini semua tiada.

Aku berharap banyak padamu. Semoga hidup yang kau pilih mampu membawamu dalam rasa bahagia. Semoga apapun yang kau inginkan tetaplah mejadi yang terbaik. Semoga tuhan selalu menyertaimu dalam ridhonya.

Aku tak pernah membencimu. Seperti daun jatuh yang tak pernah membenci angin. Mungkin hanya rasa terimakasih yang tersisa dalam. Karena tuhan begitu tau siapa-siapa yang terbaik untukmu. Aku sengaja dijauhkan secara paksa, entah apa yang belum kukoreksi dalam kekuranganku hingga kini kita benar-benar seperti orang asing. Seperti tak pernah sekalipun saling mengenal. Seperti terpisah dalam dua dunia yang berbeda. Seperti dulu tak pernah ada satupun hal special diantara kita.

Kini, jika ada dimensi dimana waktu berhenti berputar. Disanalah kutitipkan asa-ku tentang kita. Tentang betapa manisnya masa lalu yang tercabik egoku yang terlalu tinggi. Tentang apapun yang membahagiakan aku dan kau tanpa batas. Ketika menatap matamu adalah bahagia, bukan bencana.

Aku ingin mengatakannya ini padamu sejak lama. Entah karena aku yang terlalu pengecut atau karena rasa tak siap ku akan reaksimu.

Kini, hanya melalui tulisan singkat yang tak terbaca ekspresi. Biarkan saja aku mengais memori dan mengatakan jika aku masih seperti dulu. Entah apa yang membuatku merasa begitu ringan kini tanpamu.

Terimakasih karena pernah menjadi bagian dariku. Bagian hidup yang pada akhirnya harus menjadi kenangan. Tak masalah jika setelahnya aku harus menjauh. Kita akan berjalan kearah yang berbeda. Menapak langkah kaki tanpa pernah lagi menoleh kebelakang.

Jadi, diakhir aku berusaha mengenangmu, biarkan aku berdiam diri dan percaya jika semua sudah terlalu cukup untuk berlalu.

Kita tak akan pernah lagi sama. Dan kemudian, dalam ombak yang menelan penyesalanku hingga kedasar, kutitipkan semua kenangan dalam genggamanmu yang mencengkram. Membiarkan kau yang pada akhirnya mencampakkan tawa kita dalam kotak kecil tak terbuka.

Selamat ulang tahun, susan.

Words cant describe how much i love you and our memory. I wish you all the best of the best, because seeing you happy makes me too. And i should stop think how much you really meant to me. Because life is too short to stuck at the past.

At least, i really do love you, before.

Thankyou, for being a part of my life.

Love,

 

 

PS : jangan nangis –tapi tulisan ini akan terlihat konyol kalau diselingi tawa-. Aku bakal usahain buat ngirim hadiahmu, su. Maaf buat semua yang kadang gak bisa aku jabarkan dengan kata-kata. Mungkin aku yang terlalu takut. Atau mungkin aku gak siap dan gak seberani itu.

Tapi walau bagaimanapun kau sahabat terbaik, entah kayakmana kau harus mencerna tulisan konyol ini. Aku gak pernah ngelupainmu, loh, su. Enggak bahkan sampai sekarang. Maaf kalau waktu itu aku terlalu egois. Dan maaf butuh waktu selama ini untuk kau tau.

Tiga tahun cukup buat bikin kita jadi orang asing. Dan sebelum kau benar-benar lupa kalau aku pernah ada meski Cuma untuk merepotkanmu, aku Cuma mau kau tau kalau perasaanku gak senyaman itu selama ini. Gak ada yang bisa gantinmu, su.

Sekarang udah lewat enam tahun semenjak pertama kita ketemu. Dan aku lega setidaknya kau sempat tau walau udah terlambat tentang perasaanku. Aku sayang samamu, loh, su. Maaf karna aku terlalu bodoh dan gak bisa jaga persahabatan kita, dulu.

 

 

With love,

Deep on undescribing words,

Me.

 

 

Ours.

mmmmmmmmmmmmmmmm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s