Unperfect Us 2/2 (Impossible Love Sequel)

Love-Poem-by-Sachi-joseph

Unperfect Us 2/2 (ImPOSSIBLE Love sequel)

Judul         : Unperfect Us 2/2 (imPOSSIBLE Love sequel)

Author      : HyukgumSmile

Genre        : romance,

Rating       : PG-17

Main Cast  : Cho Kyu Hyun, Park Ji Yeon

Other Cast : lee hyuk jae, park jung so

Disclaimer : lama tak bertemu. Kau terlihat semakin.. sempurna.

 

 

 

Ada banyak hal yang harus kau tau mengenai cinta. Salah satunya dinamakan pengorbanan. Cara yang paling menyakitkan daripada bunuh diri atau gila sekalipun. Dan itu, terjadi padaku..

Banyak hal yang tidak kumengerti. Mengapa ia tak memilih egois saja? Seperti aku yang selalu memilih untuk berdosa demi cintanya. Tapi nyatanya tidak. Logika masih menguasainya, dan ia memilih untuk meninggalkan cintaku.

Tapi,, aku masih disini. berdiri ditempat yang sama. Masih hati yang sama dan cinta yang sama..

 

 

-Author POV-

Semuanya terjadi begitu cepat. Yang ji yeon tau ahra menamparnya kuat lalu mencacinya dengan wajah memerah penuh emosi. Menghancurkan kantornya sebelum mengancam akan membocorkan ini pada appa.

Dan well, ancaman itu tak pernah terfikirkan secepat ini oleh ji yeon. Ahra, benar-benar serius dengan ancamannya. Dan saat ini, ji yeon hanya mampu menunduk. mendengarkan murkaan appanya yang tak jauh beda dengan semua orang yang juga memurkainya selama ini.

Ji yeon tak menangis. Tidak untuk saat ini. ia terlalu lelah untuk kembali menuai air mata dan mengulang kejadian lalu. mungkin, kau bisa katakan jika hatinya telah beku. Ya, beku. Hati itu membatu seiring prinsip hidup yang ia jalani. Ia semakin mencintai sosok cho kyu hyun.

‘aku harap kau baik-baik saja’

Pesan itu seperti memberikan berjuta semangat untuknya. Kyu hyun. ji yeon tau namja itu pasti juga merasakan hal yang tak jauh beda dengannya. Atau bisa saja lebih parah mengingat paman cho adalah seorang otoriter yang luar biasa bedebah.

Ji yeon tersentak ketika ponsel ditangannya direbut paksa dan detik kemudian terdengar bunyi gebrakan keras dari beradunya benda itu dengan lantai. Ji yeon mendongak.

“APPA!!” pekiknya.

Satu hal yang membuat ji yeon semakin meringis perih adalah keabsenan jungso. Namja itu benar-benar menepati perkataannya untuk tidak pernah berada disisi ji yeon kembali. dan hari itu, ia tak datang. Atau mungkin lebih tepatnya tak ingin turun dari kamarnya untuk sekedar membela ji yeon dari amukan appa.

“aku tak mengerti. Inikah yang kau dapat dari bersekolah disana? Ini?!!” ji yeon menutup kedua matanya. Lebih dari sekedar tak sanggup untuk melawan bentakan appanya, ia memilih untuk diam dan menerima segalanya.

 

 

__

Malam itu, ji yeon kembali ke apartemennya. Seperti biasa, meskipun eomma memohon untuk memintanya tinggal, ia akan memilih untuk kembali daripada harus serumah dengan dua orang dingin yang menatapnya tajam itu. hanya eomma, hanya eomma yang masih perduli meskipun tak juga mendukungnya.

Dan seperti yang ji yeon perkirakan, kyu hyun, pasti disana. Menunggunya didepan pintu dengan ekspresi cemas yang luar biasa kentara. Kusut. Lusuh dan seolah tak memiliki hidup. Tatapannya kosong, menatap ubin apartemen dengan kepala penuh dengan berjuta pemikiran.

Namja itu tersentak. Setelah menemukan ji yeon, tatapan kosong itu sirna. Banyak kecemasan disana, tapi nama ji yeon adalah yang paling mendominasi. Pria itu, tak bisa sedikitpun tanpa memikirkannya.

“kau baik-baik saja?” ia berjalan cepat menemui ji yeon dan mengusap pipi yeoja itu lembut. Ini,, seperti de javu. Ji yeon ingat bagaimana kejadian yang lalu tak jauh berbeda dengan ini. dan seingat ji yeon, kejadian itu berakhir dengan ia pergi meninggalkan kyu hyun.

lalu, apa yang akan terjadi kali ini?

“aku baik. Bagaimana denganmu?” ji yeon membalasnya dan menggenggam pergelangan tangan yang berada di pipinya kuat. Satu kesimpulan pasti. Cintanya kali ini jauh lebih kuat. Jadi, ji yeon berujar fasih jika ini bukanlah de javu. Ia,, akan mencoba untuk bertahan. Demi kyu hyun.

“hmm. Aku sangat mencemaskanmu” namja itu  kembali mengusap pipinya lembut. Satu tangan lagi ia gunakan untuk mengelus hangat lengan ji yeon.

Ji yeon terkekeh ringan “kau memperlakukanku seperti anak kecil. Aku lebih tua darimu, bodoh” ujarnya dengan sebuah senyuman.

Kyu hyun menunduk. menyamakan tinggi mereka dan menatap kedua mata bening itu serius “kau, lebih dari sekedar anak kecil bagiku. Memang benar, kau lebih tua. Lalu apa yang salah?” dan demi apa. Itu adalah tonggak keyakinan yang dibangun kyu hyun untuk memperkokoh pertahanannya. Ji yeon tersenyum manis.
“tidak. Tidak ada yang salah”

Mereka tersenyum bersamaan. Dan detik berikutnya bibir itu diam. Dibungkam manis oleh lumatan lembut dari namja itu. ji yeon tak mengerti, ada banyak perasaan lega dalam hatinya. Namun yang paling dapat ia garis bawahi adalah pendiriannya untuk tetap bersama namja itu. bersama kyu hyun.

“kumohon. Kali ini, bertahanlah” namja itu menatapnya penuh permohonan. Mereka sama-sama kacau. Satu kepastian tak terbantahkan adalah, seluruh keluarga mereka telah tau. well, tak ada satupun yang mendukung mereka saat ini. dan tentu, itu bukanlah suatu beban yang ringan.

“mm. Aku berusaha. Demi cho kyu hyun”

 

 

__

Kedua anak manusia itu tak begitu perduli. Seminggu setelah kejadian itu, semua terlihat baik-baik saja. Ya, menurut pandangan logis. Mungkin, mereka baik-baik saja karena kyu hyun maupun ji yeon tetap kembali pada kegiatan mereka.

Yang berbeda hanyalah lingkungan mereka. Sikap dingin dan apatis seolah begitu tertuju untuk mereka. Dan yang lebih menyakitkan lagi, sikap itu terlontar dari keluarga mereka sendiri.

Awalnya, tak begitu sulit karena kyu hyun selalu ada untuknya. Tapi, belakangan ini semua terasa lebih berat. Ji yeon, mulai merasa jika ini tak akan semudah kejadian yang lampau. Dan meskipun instingnya tak sekuat kyu hyun, ia tau kali ini instingnya berkata benar.

 

 

__

“apa?!”

“tak perlu berlebihan”

Kedua namja itu terdiam. kyu hyun menyesap lattenya pelan, berbeda dengan changmin yang masih berusaha mencari kesadarannya kembali.

“apa kau gila? Dia sepupumu bukan?” namja itu kembali bertanya dengan ekspresi lebih baik. Wibawa yang tak pernah lepas.

“ya, dia sepupuku. Dan aku mencintainya. Apa aku gila?”

“tentu saja kau gila! Kalian satu keluarga, bagaimana bisa saling mencintai?”

Kyu hyun terdiam. berulang kali apapun yang diucapkan changmin berputar dalam otaknya. Mungkin, dari sekian banyak orang yang tak mendukungnya, changmin tetaplah salah satu yang akan bertahan disisinya.

“tapi,, aku..”

“ada apa denganmu? Kenapa kau bisa seperti ini?”

Kyu hyun menunduk. meremas rambutnya gusar. Sekelebat ingatan masa lalu kembali menghantuinya. Dulu, jika saja ia tak pernah mencoba untuk mendalami yeoja itu, mungkin ini tak akan terjadi.

Semua berawal dari rasa ingin taunya tentang mengapa yeoja itu terlihat begitu membencinya? Dan mengapa ia terlihat selalu berbinar jika bersama siwon? Semua bermula dari mengapa, hingga satu pertanyaan menjadi ujung tombak pikirannya. Mengapa harus park ji yeon?

“dulu, dia membenciku. Aku pernah menceritakan ini padamu. saudara sepupu yang penuh kilatan marah padaku sementara menatap siwon dengan binar terang benderang” changmin mengangguk “dialah orangnya” sambung kyu hyun.

“aku juga tak begitu paham ketika aku mulai risih dan ingin mengambil alih perhatiannya hingga pada akhirnya jantungku penuh gedebum gemuruh saat pertama kali menciumnya”

“APA? KALIAN BERCIUMAN?!” kyu hyun tersentak lalu menoleh cepat pada beberapa pengunjung cafe dan melirik changmin tajam “oke-oke baiklah, aku minta maaf. Lanjutkan” ujar changmin tenang.

“semenjak saat itu kurasa semuanya berbeda. Awalnya fikiranku memaksa jika itu hanyalah keusilan masa remaja kami. Namun pada akhirnya aku bertahan. Mencintainya lebih dari tiga tahun dan bertahan meski tak pernah bertemu. Ada hal gila lain yang kau fikirkan? Aku bertahan hanya dengan mendengarkan suaranya sementara seluruh yeoja ingin melemparkan diri mereka padaku dan aku menolak mereka”

Changmin menatap namja itu serius. Ini, berbeda dari asumsinya selama ini. mungkin, untuk ukuran seorang cho kyu hyun masalah seperti ini tak akan begitu menekannya. Namun buktinya, saat ini namja itu terlihat sangat berantakan. Ia membiarkan rambut halus itu mulai tumbuh disekitar dagunya dan wajah itu terlihat semakin pucat.

“tapi dia menyerah dengan keadaan dan meninggalkanku, tiga tahun yang lalu. Membuatku tak dapat menatap yeoja lain dan dengan bodohnya terus mencari dimana keberadaannya”

Dan satu kesimpulan yang dapat changmin ambil adalah, kyu hyun benar-benar mencintai yeoja itu. lihat, ia tak pernah membicarakan yeoja lain hingga sepeti ini. seperti orang gila yang tak bernyawa.

“lalu apa yang akan kau fikirkan jika tiba-tiba ia kembali dengan cinta yang juga tak pernah berubah? Kami masih saling mencintai dan jika boleh kukoreksi cintaku terasa semakin dalam padanya”

Mungkin, tak mudah berada dalam posisi seperti kyu hyun. ia mencinta pada orang yang salah. Tapi, bukankah cinta datang dari yang maha kuasa? Lalu untuk apa ia menurunkan rasa itu pada dua makhluknya yang tak boleh bersatu dan menyiksa mereka sedemikian rupa?

“kami bertahan hingga beberapa hari yang lalu, appanya terkena serangan jantung ringan” seketika changmin tersentak. Membesarkan kedua bola matanya tak percaya.

“kalian..”

“ia menarik paksa ji yeon ketika menemukanku berada dalam apartemen anaknya malam itu” kyu hyun menerawang, kembali mengingat hari terakhir ia bertemu ji yeon.

“dia memukulmu?”

“hanya sekali, disini” namja itu menjawab ringan dan menunjuk ujung bibirnya yang masih lebam membiru.

“lalu, apa yang akan kalian lakukan?”

Kyu hyun kembali mendesah gusar. Dan jelas, ini bukan jawaban yang baik “kami? Mungkin akan lebih baik jika kata itu diganti dengan aku” kyu hyun berhenti sejenak “dia menghilang. Atau lebih tepatnya tak ingin menemuiku lagi”

“apa dia akan kembali pergi?”

“entahlah, yang ku tau kesehatan appanya adalah kelemahan terbesar baginya.” Kyu hyun kembali menunduk gusar “aku,,, merindukannya changmin-ah”

 

 

__

Minggu kedua. Ji yeon terduduk tenang disamping pria tua itu. mengusap sayang rambut appanya lalu kembali mengupas buah untuk makanan pria itu jika ia telah terbangun nantinya.

Dua buah plester melingkari jemarinya posesif. Ia, kehilangan konsentrasi terbesarnya. Kesehatan appa dan kerinduan yang besar pada kyu hyun.

Setelah hari dimana ia ditarik paksa oleh appanya untuk pulang, ia tak pernah lagi dapat menemui kyu hyun. mungkin, ini juga adalah salah satu andil jungso mengingat ia sangat murka saat ji yeon mebeberkan segalanya malam itu.

 

-Flashback-

“apa yang ada dalam fikiranmu park ji yeon?!!”

“appa..”

“aku meninggalkanmu agar kau dapat berfikir lebih baik. Dan sekarang aku melihatmu bersamanya dalam sebuah apartemen? Mengapa kau terlihat begitu jalang? Apa aku mengajarimu seperti itu, hah?”

Dari sekian banyak kata yang menusuk hatinya, kata itu adalah yang paling membuatnya tak tahan untuk mengeluarkan air mata. Bahkan saat ini, appanya telah menganggap harga dirinya serendah itu.

“jawab aku!! Jangan bertingkah seperti gadis remaja dengan terus menangis!” pria tua itu berjalan didepannya berkali-kali. Mengatur nafasnya yang bergemuruh besar.

“appa, mianhae” hanya itu yang mampu keluar dari bibirnya.

“maaf? Apa dengan maaf nama baik keluarga kita akan kembali? apa kau pernah memikirkan keluargamu untuk bertindak sejauh ini bersama adik sepupumu itu?”

Ji yeon meremas ujung bajunya. Untuk yang ini, ia menyerah. Kemurkaan appanya benar-benar tak sanggup ia tahan hingga air mata itu mengalir dengan sangat deras di pipinya.

“tinggalkan dia! Jika kau masih ingin menjadi anakku!” ji yeon mendongak. Membesarkan kedua bola matanya tak percaya.

“appa kumohon jangan seperti ini” lututnya melemas. Ia berlutut memohon didepan pria yang ia panggil appa itu.

“jangan panggil aku seperti itu jika kalian tak menghentikan percintaan bodoh penuh nafsu setan seperti ini!” dan detik berikutnya, sebuah api berkobar dalam matanya. Ada sesuatu yang tak mampu ji yeon terima meskipun berada ditengah kemurkaan appanya.

“tak ada yang bodoh appa! Aku mencintainya dan hubungan kami bukan hubungan yang bodoh!”

“a apa katamu?!”

“aku mencintainya. Dan dia juga mencintaiku. Apa yang salah dengan semua ini? mengapa kalian egois setelah beberapa tahun lalu memisahkan kami dengan mengirimku entah kemana dan kali ini kalian tetap tak bisa menerima kami? Kenapa?!!” pekiknya gerah.

“m memisahkanmu?”

“hubungan ini, sudah begitu lama appa. Aku mencintainya lebih dari enam tahun yang lalu dan perlu appa tau tak ada yang berubah hingga saat ini”

“PARK JI YEON!” ji yeon menoleh dan menemukan jungso disana. Penuh dengan tatapan murka dan emosi menyala.

-Flashback End-

 

Sekali lagi, semuanya terjadi begitu cepat. Setelah itu appanya terjatuh meringkuk memegangi dada dan tak sadarkan diri. berjuta paku menembus jantung ji yeon. Tersadar jika semua ini benar-benar telah membutakannya. Ia tersentak ketika pria didepannya bergerak aktif kemudian membuka matanya pelan.

“appa sudah bangun?” ji yeon menghampirinya dan meletakkan sebuah bantal agar pria itu dapat duduk bersandar.

“mm. Kau belum pulang?”

Ji yeon menggeleng pelan “setelah jungso oppa datang baru aku akan pulang” jawabnya.

“tapi kau belum istirahat sayang”

“gwenchana. Aku tak mungkin meninggalkan appa sendiri. Aku akan menunggu jungso oppa, setelah itu aku akan pulang. Aku berjanji” ia kemudian tersenyum tipis sebelum memberikan pria tua itu segelas air putih.

Kesehatan pria itu memang sudah jauh lebih baik. Berbeda dengan saat pertama ia memasuki rumah sakit dan dokter berkata ‘beruntung sekali kalian membawanya tepat waktu’.

“jangan lupa untuk pulang kerumah” ji yeon tersentak. Hatinya mengeras dan ia sangat mengerti jika pria tua itu tak ingin sama sekali ia kembali tinggal di apartemennya.

“ya, appa”

 

 

__

Ia berbohong. Ia melanggar janjinya. Dan ia, kembali datang ke apartemen itu setelah hampir dua minggu hatinya menekannya untuk tak perlu kembali datang. Ada berjuta rasa perih yang ia rasakan. Jika berpisah dengan kyu hyun beberapa tahun yang lalu hanya menyiksa hatinya, maka kali ini seluruh tubuhnya mati rasa.

Dan satu kesimpulan pasti, ia telah mencintai namja itu dengan seluruh yang  ia miliki.

Awalnya memang, ia hanya berniat untuk mengunjungi apartemen itu sembari mengambil beberapa barang miliknya disana sore itu. ya, awalnya. Sebelum telefon apartemen berbunyi nyaring dan seorang diujung sana berujar memohon jika ia perlu melihat keadaan kyu hyun.

Sore itu. hingar bingar pub ternama menghiasi gendang telinga ji yeon. Kumpulan manusia yang bersatu dan mengatakan jika itu adalah sebuah kesenangan sedang menghentakkan kaki mereka di lantai dansa.

Ji yeon menipiskan jarak pandangnya. Berusaha menerobos kerumunan manusia yang tengah asik dengan dunia mereka. Bahkan beberapa pria mencoba untuk mendekati ji yeon jika saja yeoja itu tak segera berlalu pergi.

Dan seketika, ujung matanya menangkap seorang pria melambai padanya. Itukah shim changmin? Batinnya. Ia berjalan mendekat dan sebuah batu menohok tenggorokannya ketika seorang lagi terlihat tak sadarkan diri disana. Menunduk menopang diri pada meja dan menenggelamkan wajahnya dalam lipatan tangan.

“dia tak pernah seperti ini” ji yeon menoleh pada pria itu “ia tak pernah selepas ini. dan , kurasa hanya kau yang mampu mengendalikannya saat ini” sambungnya.

Ji yeon membungkuk atas ucapan terimakasihnya. Setidaknya, kyu hyun tak sendiri saat ia berada dalam kondisi seperti ini.

“cogio, bisa bantu aku membawanya? Mobilku ada diluar” ji yeon memberanikan diri untuk berbicara.

“panggil aku changmin. Aku sahabatnya” namja itu menyahut kemudian bergerak membopong tubuh kyu hyun.

 

 

__

Ji yeon terdiam. changmin sudah lama pergi, meninggalkannya bersama namja tak sadarkan diri itu berdua. Dalam apartemennya –apartemen kyu hyun malam itu.

Sekali lagi, rasa perih menjalar melalui hatinya. Ia,, sangat merindukan namja itu. tapi tak pernah berfikir akan bertemu dalam kondisi sepahit ini. setaunya, kyu hyun memang pecinta wine. Tapi ia tak pernah menenggak vodka bahkan hingga semabuk ini. ia tau bagaimana namja itu menjaga dengan baik kesadarannya selama ini.

Ji yeon mendesah gusar kemudian berjalan. Ia duduk di pinggiran ranjang dan mulai membuka satu-persatu sepatu namja itu. lalu beralih pada jasnya dan pergi untuk membuatkan air ginseng sebagai obat hangover.

Ji yeon menatapnya dalam. Banyak guratan kelelahan disana. Dua minggu, apakah dalam waktu sesingkat itu kyu hyun telah hancur? Apa kyu hyun telah menyerah dan mengangkat bendera putih atas kerinduan yang menyerangnya kuat?

Ji yeon menyeka air matanya cepat. Sakit sekali memperhatikan namja itu saat ini. sesuatu menggores ulu hatinya. Ji yeon tau ia tak akan sanggup.

“kau tak boleh seperti ini” ia mendekat dan membuka dua buah kancing baju namja itu lalu menyeret selimut tebal untuk menutupi tubuhnya.

“jika kau semenderita ini, lalu sehancur apa aku? Aku yang menyebabkanmu hingga seperti ini dan rasa bersalahku sudah lebih dari cukup untuk membunuhku” ia menatap kyu hyun lemah. Ia tak kuat. Tak sekuat itu untuk menghadapi semua ini.

“appa sudah lebih baik. Mungkin lusa sudah boleh pulang” ia berhenti sejenak “dan aku tak ingin kesehatannya kembali memburuk. Aku,, harus pulang” suara parau itu terdengar mengecil.

Ji yeon mengusap sayang rambut kyu hyun “aku membuatkanmu air ginseng. Semoga kepalamu tidak terlalu berat besok pagi” dikecupnya kening itu sesaat sebelum akhirnya berdiri hendak menjauh.

“jangan pergi” ji yeon tersentak. Sebuah tangan menahannya kuat. Mencengkram jemarinya posesif “jangan pergi” ucapnya kembali.

“k kyu.. kau bangun?” ji yeon mencoba untuk mundur, namun percuma karena tenaga pria itu masih sangat kuat. “kau harus istirahat” ucapnya terbata.

“jangan pergi, kumohon” ji yeon menggigit bibirnya. Ia tak tau harus bagaimana. Apa ia harus menemani pria itu hingga kembali tertidur? Tapi ini sudah larut dan ia tak ingin jungso kembali mengamuk.

“kau mabuk kyu” hanya itu yang mampu ia ucapkan. Namun diluar dugaannya, namja itu dengan cepat terduduk dan menariknya kuat kedalam satu dekapan hangat.

“aku mungkin mabuk, tapi kesadaranku selalu penuh jika itu mengenaimu” namja itu menyatukan alis mereka. Berucap dengan mulut bau alkohol namun ji yeon tak perduli. Kata-kata itu, suara itu, dekapan itu.. ia, menyerah untuk tidak merindukan kyu hyun. ia tak bisa.

“aku harus pulang” ucapnya tercekat.

“kumohon jangan pergi. Aku membutuhkanmu” namja itu berujar berat. Ada beribu kelemahan disana. Permohonan dan keputus asaan. Tiga rasa yang menghimpit jantung ji yeon kuat. Ia, tak pernah berfikir jika kyu hyun akan semenyedihkan ini.

“kyu,,”

“mungkin dulu aku akan menerima semuanya. Tapi kali ini, sungguh aku tak sedikitpun mampu tanpamu. Kumohon, jangan pergi” namja itu mengeratkan pelukannya pada punggung ji yeon.

“kyu, appa..”

“kau tak perlu bertindak. Cukup aku yang akan berusaha untukmu. Itu saja cukup” dan sebutir air bening itu kembali mengalir. Kyu hyun, apa sedalam itu rasanya pada ji yeon? Yeoja itu bahkan tak sanggup lagi berfikir untuk egois jika mengingat appanya dan kyu hyun, masih berkeras diri untuk berusaha sendiri. Kenyataan yang memukul ji yeon keras.

“kyu..”

“kumohon. Cukup pertahankan cintamu. Aku,, benar-benar membutuhkannya untuk terus bernafas” air mata itu semakin mengalir deras. Membanjiri kedua pipi ji yeon dan tentu saja juga mengenai pipi kyu hyun.

“kyu, kau mabuk” ucapnya terisak. Ia mengusap pipi kyu hyun lembut dengan suara terisak yang kentara. Dan, sesuatu terjadi. Kyu hyun membuka matanya pasti tanpa ada satupun keraguan didalamnya.

“sepenuhnya aku sadar jika aku tengah memelukmu malam ini dan mengatakan jika..” ia berhenti sejenak “aku mencintaimu. Semakin mencintaimu” lanjutnya. Ji yeon tak tau bagian mana yang terasa begitu terang dalam hatinya. Ia bahagia. Tentu saja.

“aku juga mencintaimu kyu,, aku juga” isaknya kuat. Ia memeluk leher namja itu kuat. Membenamkan dirinya dalam bahu bidang namja itu. mengalirkan berjuta air mata kerinduan yang tak dapat lagi ia tahan.

“terimakasih, kau membuatku jauh lebih baik” namja itu tersenyum sebelum membalas erat pelukan itu. mereka terdiam. isak tangis ji yeon menjadi satu-satunya suara dalam keheningan malam itu.

Kyu hyun bergerak, melonggarkan pelukannya dan menatap yeoja itu intens. Jemarinya dengan cepat menghapus air mata yang mengalir “jangan menagis. Aku tidak suka melihatmu menangis” ucapnya lembut.

Ji yeon mengangguk. Mencoba untuk berhenti meskipun terasa amat sulit. Ia mendongak. Membalas tatapan lembut milik mata hazel tu. Dan seketika kyu hyun menciumnya lembut.

Ji yeon tak tau apa-apa. Seluruh disekitarnya memudar, mengabur seketika dan detik berikutnya yang ia tau ia hanya memiliki satu fokus. Kyu hyun. namja itu menciumnya lembut, sangat lembut dan penuh cinta.

Tak banyak yang ji yeon harapkan setelah tak menemuinya dua minggu lalu. dan pada akhirnya dunianya menghitam. Ia membiarkan namja itu mendorongnya lembut dan membaringkannya diatas ranjang. Namja itu masih menciumnya. Ji yeon dapat merasakan beberapa lumatan yang berlebihan dan.. sepertinya ia tau ini akan berakhir seperti apa.

Kyu hyun menindihnya. Menciumnya lebih dalam pada bibir dan sesekali beralih pada rahangnya. Namja itu sadar. Penuh dengan kesadaran ketika hati dan fikirannya bekerja singkron dan menimbulkan satu keninginan yang sangat besar. Memiliki ji yeon seutuhnya.

Ia menyeruakkan kepalanya dalam lekukan leher ji yeon. Mengecupnya lembut penuh kasih sayang “aku mencintaimu” dan kata-kata itu, adalah akhir dari seluruh kesadaran mereka berdua.

 

 

__

Banyak yang berputar dikepala ji yeon ketika pagi itu, ia pulang dengan amukan besar dari jungso. Namun ia tak perduli dan menyahutnya ringan.

“ia mabuk. Tak mungkin aku meninggalkannya sendiri”

Well, jungso tak berucap banyak setelah itu. dan ji yeon dapat berjalan bebas menuju kamarnya. Ia tau, jungso tak akan mempertaruhkan berita besar ini demi keselamatan appanya. Ia tau itu.

Ji yeon berputar, membaringkan tubuhnya diatas sebuah ranjang. Ia membuka scraf soft blue yang melingkari lehernya dan memejamkan kedua bola matanya. Dengan sendirinya tangan itu bergerak menyusuri lehernya dan mengusap bagian itu lembut.

Sekelebat bayangan kyu hyun melintas dalam ingatannya. Bagaimana namja itu merangkulnya, memeluknya posesif, menciumnya lembut dan.. memasukinya.

Ji yeon mengerutkan matanya erat. Memasukinya. Konyol. Ia yang selama ini selalu menjaga kehormatannya nyatanya luluh pada ucapan cinta kyu hyun dan membiarkan namja itu merebut yang satu itu. kehormatannya.

Ji yeon tak tau jika mungkin selama ini, ia juga membutuhkan hal yang sama. Ia butuh memiliki kyu hyun. tapi toh bukan disaat seperti ini. bukan disaat ia sedang berfikir untuk kembali meninggalkan namja itu.

Namun sekelebat potongan percintaan mereka kembali terbayang. Menusuk ulu hati ji yeon yang sebenarnya tak sedikitpun merasakan penyesalan berarti. Yang ia tau, ia milik kyu hyun saat ini. meskipun jika ia pergi, ia tetaplah milik kyu hyun.

Ji yeon mendudukkan dirinya lemah. Ia tak pernah berfikir jika semuanya akan terjadi sejauh ini. setidaknya, tidak jika keluarga mereka tak menentang dan mereka mungkin telah menikah. Mungkin. Sekali lagi mungkin.

Ji yeon menerawang, mengingat bagaimana ia bangun dalam dekapan seorang cho kyu hyun tanpa sehelai benangpun. Bagaimana meskipun namja itu terlelap ia tetap memeluk ji yeon posesif, menjadikan lengannya sebagai bantal sementara tangannya menekan kuat agar mereka sama-sama hangat. Dan,, bagaimana ji yeon dengan jahatnya pergi sebelum ia terbangun dengan hanya meninggalkan secarik kertas.

‘Aku pergi’

Hanya itu. sesimpel itu karena tak ada kata lain yang mampu ji yeon tuliskan untuk menggambarkan jika ia akan benar-benar pergi. Setelah memberikan segalanya pada kyu hyun.

Ji yeon tertegun. Suara berisik dari luar mengusiknya. Lalu tak lama seorang mendatanginya dengan raut wajah cemas “nona, ada seorang mengamuk dan mengatakan ingin bertemu denganmu”. Ji yeon tersenyum miring. Kyu hyun. ia tau itu.

“tuan jungso tengah menahannya, saya harus bagaimana nona?”

Ji yeon tertunduk. Menyimpulkan segala keputusannya menjadi sebuah bulatan utuh lalu mendongak “katakan padanya, aku tak ingin bertemu dengannya”.

 

 

__

Pagi itu, hampir seminggu setelah ji yeon memutuskan untuk menerima tawaran jungso memakai jasa bodyguard. Terkesan berlebihan, tapi setidaknya membantu meskipun hatinya benar-benar sakit.

Selama itu tak bertemu membuat hatinya panas. ia butuh kyu hyun. seperti ia membutuhkan udara untuk bernafas. Dan udara itu menghilang, seperti bayangan kyu hyun yang tertinggal samar dalam ingatannya.

“saham perusahaan meningkat kearah lebih baik. Setelah direktur bergabung dan bekerja dengan baik. Sajangnim berkata untuk mempertahankan posisi direktur dan berencana untuk memberikan posisi itu pada anda dan tuan”

Sekertaris itu terus berbicara sepanjang perjalanan koridor perusahaan. Akhirnya, ji yeon memilih untuk bergabung dengan perusahaaan keluarganya, membantu jungso yang tampak mulai lelah dengan semua beban yang diberikan appa sendirian.

“mana sajangnim?”

Ji yeon menoleh sebelum tubuhnya hampir oleng dan terjatuh “direktur!!” seseorang membantunya untuk berdiri. Ji yeon memperhatikan bawahnya dan sebelah higheelsnya patah. Ia mengatupkan kedua matanya dan menggeram.

“damn!”

“ne, direktur?”

“tidak ada. Carikan aku sepatu untuk hari ini” ji yeon melepas kedua benda itu dan melemparkannya kedalam tempat sampah. Dan sial, meleset.

“direktur..”

“cepat pergi!!” gadis itu kembali memejamkan matanya erat. Konsentrasinya benar-benar pecah hari ini. sebuah pesan mendatangi ponselnya pagi ini. kyu hyun. dan, ji yeon bergidik ketika kembali mengingat isinya.

‘maafkan aku jika aku menyakitimu malam itu. well, when you think you must go, i haven’t a reason to stay alive’

Simpel. Tapi berarti besar.

 

 

__

Ji yeon berlari menyusuri koridor putih itu. sesekali menabrak bahu orang yang lalu lalang tapi tak sedikitpun memperlambat langkahnya. Ia bahkan sudah tak perduli atas citra dirinya sebagai direktur perusahaan besar dan tetap berlari.

Disana, ia menemukan banyak orang. Banyak orang yang ia kenal. Ada appa dan eommanya juga jungso. Ada juga hyuk jae dan beberapa orang lain yang menatapnya dengan tatapan yang tak mampu dijelaskan.

Ada changmin disana. Ada pula tuan dan nyonya cho, orang tua kyu hyun. dan yang paling ji yeon tangkap keberadaannya disana adalah ahra. Yeoja itu berjalan gontai menemui ji yeon dan seketika memeluknya erat.
“ji yeon-ah..”

Detik setelahnya ji yeon tak mengerti. Udara disekitarnya menghilang dan satu hal yang ia tau air matanya mengalir deras. Ia terdiam. menerima pelukan posesif dari ahra tanpa melawan. Siang itu, changming menghubunginya.

‘kyu hyun terjun bebas dari lantai tiga apartemennya dan ditemukan tak sadarkan diri’

Oke, bagian mana kini yang tak berpotensi membunuhnya? Terjun bebas? Lantai tiga? Atau ditemukan tak sadarkan diri? ji yeon menggenggam lengan ahra kuat.

“eonni,, apa dia baik-baik saja?” suara itu,, suara paling menyedihkan yang pernah ia keluarkan. Dan ahra serta semua orang disana harus tau seberapa frustasinya ia saat ini.

“yeon-ah..”

“jawab aku eonni! Apa dia baik-baik saja?” yeoja itu mengeras. Meneriaki yeoja lain didepannya dengan air mata yang mengalir semakin deras.

“eonni jawab aku..” suara itu mengecil dan tak lama setelahnya tubuh ji yeon merosot menuju lantai. Ia kehilangan kekuatannya untuk menopang diri. ia kehilangan udaranya untuk bernafas. Dan ia kehilangan dirinya. Nyawanya.

“eonni tolong katakan dia akan baik-baik saja.. kumohon eonni” ji yeon menangis. Menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar hebat dan tak satupun yang berani mendekatinya. Ia terperosok. Sangat dalam.

“yeon, aku tak bisa mengatakan apapun. Tapi percayalah dia akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat. Dia pasti bertahan” ahra kembali memeluknya posesif. Satu hal yang harus semua orang tau, ji yeon benar-benar mencintai kyuhyun diluar ekspetasi mereka. Cinta itu, dalam. Sedalam apapun yang tak pernah terfikirkan oleh mereka.

“eonni katakan dia akan baik-baik saja” yeoja itu terus menangis. Tak ada yang mampu dikatakannya selain memohon. Memohon agar ada satu orang saja yang berkata jika namja itu baik-baik saja saat ini.

 

 

-dua bulan kemudian-

Hampir dua bulan berlalu. Tujuh minggu lebih tepatnya. Namun tak ada yang berubah. Namja itu, masih terbaring diam diatas kasur putihnya. Hening. Tak ada suara selain bunyi dentingan sebuah alat yang menyatakan jika jantungnya masih bekerja.

Satu bulan lebih. Cukup bagi ji yeon untuk benar-benar terpuruk setelah akhirnya dokter menyatakan jika namja itu sedang koma. Tak sadarkan diri untuk waktu yang tak dapat ditentukan.

Kemungkinan hidupnya sangat kecil. Ia, tak akan sadarkan diri dan medis tak mampu melakukan apapun. Tak ada jalan baginya. Dan jika suatu saat ia memang terbangun, tak ada hal lain yang menjadi penyebabnya selain dorongan kuat dalam dirinya sendiri.

“kau belum pulang?” ji yeon menoleh dan menemukan ahra dibelakangnya. Ia menggeleng pelan dan kembali memfokuskan dirinya pada wajah tirus namja itu.

“kau harus istirahat yeon. Kau sudah menungguinya sejak semalam” ji yeon menerawang. Benar. Sudah lebih dari duapuluhempat jam ia duduk disana. Memegangi tangan dingin kyu hyun erat. Berharap jika detik berikutnya namja itu terbangun dan kembali memeluknya posesif. Seperti dulu.

Sebuah tangan menyentuh pundaknya “yeon, pulanglah. Aku akan menungguinya disini” yeoja itu mendekat dan memegangi pundak ji yeon lembut.

“tidak eonni. Aku akan disini. Menungguinya hingga kapanpun” untuk sejenak ahra terdiam. memandangi ji yeon yang masih sibuk dengan fokusnya.

“tapi kau perlu makan. Aku tau kau belum melakukannya. Lihat, kau pucat”

“aku bisa memesannya jika aku lapar. Tapi aku belum lapar jadi..”

“yeon..”

“kumohon eonni. Jangan memintaku untuk pergi”

Ahra terdiam. tak ada lagi yang mampu ia katakan jika ji yeon telah memohon padanya. Dan pada akhirnya ahra hanya mengangguk dan berjalan pergi.

“kyu, kau tau. ternyata eonnimu benar-benar cerewet” ji yeon mendekat. Menyisir helaian rambut tebal kyuhyun dan mengecup keningnya lembut “tapi tak apa. Yang penting aku tau jika ia tak marah lagi padaku. Bukankah itu bagus?”

Ji yeon terdiam. matanya seketika meredup. Tak ada jawaban. Tak ada suara. Hening menyelimuti mereka. Dan setetes air bening itu kembali merosot jatuh. Ji yeon mengusap pipinya kasar. Tidak. Ia tak boleh menangis. Tak boleh menunjukkan kesedihannya didepan namja itu. tidak.

“tak apa. Kau boleh menjawabku lain kali” ucapnya kemudian.

Selalu. Kegiatan yang tak pernah berubah. Menunggui kyu hyun yang terbaring dan menggenggam tangannya erat. Sesekali mengambil alih tugas perawat untuk membasahi tubuhnya dengan air lalu mengeringkannya kembali dengan handuk tebal.

Terkadang bahkan bercerita panjang lebar. Mencoba berinteraksi dengan namja itu meskipun hasilnya tetaplah nihil. Menceritakan bagaimana ia melewati hari tanpa kyu hyun. tak ada yang mencuri ciumannya dan pekerjaan kantor yang semakin hari semakin tak dapat ia tangani karena harus menemui kyu hyun disana.

Hampir dua bulan, namun tak ada yang benar-benar berubah. Mungkin, kecuali untuk restu keluarga mereka. Orang-orang itu terlihat mulai diam dan tak berkomentar banyak semenjak kejadian itu. dan well, tak sedikitpun membuat ji yeon tersentuh. Karena jika mereka masih tak memberikan restupun ia tetap akan hidup bersama kyu hyun jika namja itu bangun nantinya.

 

 

__

“kau senang?” ji yeon mendelik namja disampingnya geram.

“sedikit” ia mendelik semakin kesal. Ia baru saja diusir ahra dari dalam kamar rawat kyuhyun karena celotehan namja disampingnya ini.

“aku tak mengerti mengapa kyu hyun mau berteman dengan namja cerewet sepertimu” ujarnya kesal.

“aku juga. Lebih heran lagi ketika menemukannya mencintai yeoja super cerewet sepertimu” ji yeon kembali mendelik kemudian memutar tubuhnya untuk kembali berjalan menuju ruangan kyu hyun.

“ya, kau mau kemana?”

“bersamamu membuatku emosi. Bagaimana bisa kyu hyun memintamu untuk menjagaku? Kau justru membuatku stress!” kesalnya.

Namja didepan itu terkekeh pelan lalu menunduk “kyu hyun memang tak pernah mengatakannya. Tapi kau tau, jika ia sadar nanti dan menemukanmu dalam keadaan tak baik, maka aku adalah orang pertama yang akan ia pukuli”

“bukankah itu bagus?”

“tentu. Untukmu. Tapi tidak untukku” changmin tersenyum. Raut wajah yeoja itu terlihat semakin membaik. Ia memegangi bahu ji yeon dan mendorongnya menuju arah berlawanan.

“karena itu kau harus makan. Kau tidak lihat kau sudah seperti mayat hidup? Pucat. Kurus. Ya tuhan, jangan sampai kyu hyun tak bernafsu lagi saat melihatmu nanti” ji yeon mendengus kesal. Changmin. Namja super cerewet sahabat kyu hyun. hanya dia, yang hingga saat ini masih bertahan disamping hubungan mereka.

“kau baik-baik saja?” seketika changmin berhenti melihat ji yeon memegangi ujung pelipisnya. Yeoja itu mengernyit pelan.

“aku baik-baik saja” yeoja itu mengibaskan tangannya lalu berjalan. Namun tak lama setelah tubuhnya oleng dan tumbang mengikuti gravitasi.

 

 

__

Ji yeon terdiam. tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Siang itu, ia tidak menemui kyu hyun. appa memintanya untuk pulang dan ia baru dapat menemui namja itu malam ini.

Ji yeon menangis. Tak tau mengapa. Banyak alasan yang mendasarinya untuk mengeluarkan air mata itu. tapi ia ingin hanya kyu hyun yang tau. ia ingin sekali bercerita panjang jika saja ini belum larut.

Air mata itu terus mengalir deras. Membasahi pipinya yang sudah tak lagi terlihat pucat. Ia bergerak naik. Mencoba untuk dapat menyentuh bibir namja itu. lalu berbisik pelan setelahnya.

“bangunlah. Aku tak ingin anakku tak memiliki appa” dan detik berikutnya air mata itu kembali mengalir. Ji yeon terkekeh pelan.

“aku tak berencana mengatakan ini padamu. tapi,, umurnya sudah tujuh minggu. Kau senang?”

Ji yeon tak tau harus seperti apa. Diantara segala keresahan hatinya berita kehamilan ini adalah yang paling membuatnya sesak nafas. Ia sudah berencana akan mengatakan berita itu pada kyu hyun jika saja appa tak memintanya untuk pulang.

Tapi, mungkin menemui appa bukanlah opsi yang buruk. Pria tua itu berbincang banyak padanya dengan jungso dan paman cho disana. Dan kesimpulannya cukup bagus untuk menambah mood baik ji yeon sore itu.

Meskipun sebenarnya ia sangat ingin membiarkan namja itu tertidur. Tapi kebahagiaan ini benar-benar tak dapat untuk ia pendam sendiri. Kenyataan jika sebuah nyawa tumbuh dalam dirinya dan nanti, nyawa itu akan berwajah sama, bersifat sama dan memanggil seorang kyu hyun dengan sebutan appa.

“kau tak berencana untuk bangun? Aku baru menerima berita ini dan kuharap kau senang” lanjutnya pelan. “aku,, ingin kau disini” suara itu mengecil. Terngiang kembali perkataan dokter dua bulan yang lalu mengenai kondisi namja itu dan semua seolah meruntuhkan asa indahnya.

“kyu, bangunlah.. kumohon. Kau tidak mungkin meninggalkanku sendiri” namja itu masih diam. Dan bulir bening itu kembali menyeruak.

“kyu kau harus bangun. Aku harus bagaimana jika kau terus tertidur? Aku membutuhkanmu.” Ji yeon memandang wajah itu putus asa. Dua bulan sudah. “kyu..” isaknya “appa sudah merestui kita. Kita bisa menikah dan merawatnya bersama”

DEG

Detik berikutnya ji yeon terdiam. pandangannya penuh keterkejutan manatap wajah itu lalu beralih pelan menuju jemarinya. Mata yeoja itu membulat lalu menekan tombol merah disekitar ranjang tempat tidur kyu hyun tergesa-gesa.

Jemari itu, menunjukkan pergerakan berarti.

 

 

__

Tak perlu terkejut karena semuanya. Tak perlu pula membelalakkan mata karena pada kenyataannya, cinta memang sanggup melakukan apapun. Malam itu, kyu hyun tersadar. Terlepas dari kondisinya yang lemah, ia setidaknya telah membuka mata dan mengucapkan nama ji yeon saat pertama kali mampu berucap.

Tak ada yang lebih membahagiakan daripada kenyataan jika bahkan dua hari setelahnya, namja itu sudah mampu untuk berbicara dan tersenyum. Dokter mengatakan jika perkembangannya sangat pesat dan itu diluar dugaan mereka. Keluargapun tak semudah itu percaya. Terlebih ketika ji yeon menceritakan seluruh kronologi malam itu.

Hanya karena dua berita mengejutkan itu. kyu hyun tersadar dengan cepat.

“pagi” ji yeon berjalan ringan. Meletakkan berbagai buahan bawaannya diatas meja dan mendudukkan diri disamping tempat tidur.

“pagi” kyu hyun tersenyum. Cukup cerah untuk wajah pucatnya. Namja itu bersandar pada kepala tempat tidur setelah menghabiskan sarapannya.

“bagaimana harimu?”

“cukup baik setelah kau datang” ji yeon tersenyum. Menatap kyu hyun penuh rasa tak percaya. Ia memutar bola matanya jengah.

“kau hampir saja mati tapi masih mengingat berbagai bualan menjijikkan itu?” kyu hyun nampak terkekeh pelan sebelum sebelah tangannya menarik tengkuk ji yeon dan menciumnya dalam.

“aku merindukanmu” ujarnya lembut. Alis mereka menyatu dan senyuman itu tak sedikitpun lepas dari bibir kyu hyun.

“atau merindukan ciumanku?” goda ji yeon dan kemudian terdengar gelak tawa dari namja didepannya.

“atau mungkin desahanmu?” ji yeon terbelalak dan menjauhkan diri cepat. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan dan menatap namja itu horor.

“kau.. baru dua hari terbangun kau sudah kembali brengsek!” ji yeon memukul lengannya kuat setelah kyu hyun terkekeh lebih keras.

 

 

__

“jadi, selama itu?”

“hmm” ji yeon mengangguk. Setelah tersadar, kyu hyun dipidahkan dalam bangsal inapnya sendiri. Dan saat ini ia tengah tertidur. Atau lebih tepatnya menidurkan diri disamping ji yeon.

Mereka berpelukan erat. Jauh dari kata tertekan dan penuh dengan raut bahagia. Mereka, setidaknya mulai dapat bernafas lega setelah segala masalah yang hampir satu tahun merenggut kebahagiaan mereka.

Kyu hyun tersenyum “maaf meninggalkanmu begitu lama” ia menyeruakkan kepalanya pada bahu ji yeon. Mengecup bahu itu pelan sebelum akhirnya terdiam. ji yeon, saat ini tengah menatapnya tajam. “wae?” tanyanya cepat.

“lain kali, jika kau melakukan hal bodoh seperti ini lagi maka aku tak akan berbaik hati untuk menungguimu” ji yeon mendelik kemudian berbalik dan kembali menyandarkan punggungnya pada dada kyu hyun. ia tersentak ketika benda lembut itu menyentuh leher dalamnya.

“bukankah sudah kukatakan? Aku tak akan hidup tanpamu” jawab namja itu ringan.

“tapi bukan seperti ini caranya. kau, membuatku cemas. Kau tak berbicara, tak ada kekehan menyebalkanmu selama dua bulan. Kau fikir itu menyenangkan?”

Kyu hyun terdiam. mungkin memang sedikit mengerikan membayangkan yang sebelum ini ia lakukan. Namun dalam sebuah kejujuran ia berucap jika ia tak pernah sedikitpun menyesal. Terlebih jika restu itu telah terdengar fasih oleh indra pendengarannya.

“maafkan aku. Aku hanya,, sedang berusaha untuk mendapatkanmu”

“kau sebut itu usaha? Bagaimana jika kau mati?” suara itu mulai parau. Dan kyu hyun rasa ia tak akan membiarkan yeoja itu menangis untuk yang kesekian kalinya karena dirinya.

“jangan menangis. Bukankah sudah kukatakan, aku tidak suka melihatmu menangis” ujarnya pelan “aku tak akan pergi” sambungnya “karena tuhan juga tau jika kau tak akan mampu hidup tanpaku”

Setelahnya mereka saling terdiam. menghayati setiap perbincangan mereka yang menyenangkan. Ji yeon mendekap erat tangan kyu hyun yang melingkar bahunya. Lalu tak lama ia dapat merasakan tangan namja itu menghangatkan perutnya.

“tujuh minggu?” tanyanya antusias. Ji yeon mengangguk pasti kemudian namja itu mengelus perutnya lembut “terimakasih”

Ji yeon terperangah. Dari beribu kata bualan yang kyu hyun lontarkan, yang baru saja ia dengar adalah yang terasa paling manis. Menghangatkan hatinya secara penuh. Tak ada ruang yang tersisa. Dan ji yeon dapat memastikan jika ia benar-benar bahagia bersama namja itu.

“kita akan merawatnya bersama. Membesarkan makhluk kecil yang meriuhkan apartemen kita. Melihatnya berhasil dan menemukan dunianya sendiri” ji yeon semakin terperangah. Tunggu,, jangan katakan jika kyu hyun sedang..

“menikahlah denganku. Aku berjanji akan membahagiakanmu, selamamnya”

 

 

-epilog-

Jika dalam cerita dongeng seluruh kejadian akan berbuah manis, maka kau dapat menyebut ceritaku begitu. Aku, bahagia.

Terlepas dari kenyataan bahwa aku mencintainya, mengandung anaknya dan sebentar lagi benar-benar akan memilikinya. Aku benar-benar bahagia. Lebih dari apapun. Lebih dari siapapun.

Cho kyu hyun, hidupku. Tak pernah terbayangkan jika kehidupan yang gila ini akan membawa cintaku padanya. Seorang sepupu yang membuat duniaku begitu berwarna. Aku terjatuh, kemudian kembali tertawa. Terjatuh lagi dan kembali tersenyum.

Semua terjadi begitu saja. Seluruh ujian berat ini seakan menjadi pintu yang menghantarkanku padanya. Pada kehidupan kami. Dan akhirnya, aku tetap akan bahagia. Selama dia selalu disini. Bersamaku. Merajut benang kesempurnaan bersama. Menyatukan cinta dalam satu kehidupan. Pernikahan.

Cho kyu hyun, aku mencintaimu.

Park ji yeon, aku juga mencintaimu.

 

-FIN-

Maklum deh ya, ini kan tulisan lama. Jadi, ya, kalau maish amburadul itu memang murni kesalahan saya. Saya maish belajar saat itu.

Ini konfliknya, rada drama mellow gitu. Tapi yaudahlah ya, semoga pada suka sama repost yang ini.

 

With love, Park ji yeon.

 

7 thoughts on “Unperfect Us 2/2 (Impossible Love Sequel)

  1. Yoon says:

    Walaupun tulisan jadulnya Gk serapi sekarang, tapi masih suka sama ceritanya..
    gimana mereka berdua bertahan demi cintanya..
    seingatku masih ada satu after story lagi, Iy kn?

  2. vita says:

    Hiks..hiks..aku menangis kamu emng author the best saeng.

  3. tata says:

    ff ke 2 yang unnie baca
    bikin persediaan tisu habis. aku ingat pernah baca ff ini. dan sekali lagi lupa dimana hahahaha
    bener2 dramatis gila. aku pernah suka sama sepupu sendiri tapi ga sampai sebegitunya banget.
    bener2 nyesek. happy end story

  4. gaemsaaaa says:

    Bacanya terharu bgt..
    Cinta mereka penuh perjuangan..
    Jiyeon diungsikan ke luar negeri, kyu sampe terjun dari apartemen..
    Untungnya gak kenapa2, meskipun koma 2 bulan..
    Dan finally, happy ending^^

  5. ai-sparkyu says:

    Rasanya lega bgt karena ceritanya happy ending..
    Kesabaran itu pahit, tapi buahnya manis..
    Ungkapan yg pas bgt untuk Kyu dan Ji..
    Luar biasa liat perjuangan mereka, bahkan Kyu rela mempertaruhkan nyawanya untuk Ji. Gk kebayang gmn kalo seandainya Kyu gk selamat.. Ji pasti hancur bgt, terlebih dia lagi hamil anak Kyu..
    Tapi syukurlah, kejadian itu justru menyadarkan keluarga mereka dan akhirnya merestui mereka..
    Selamat buat Kyu dan Ji…
    Daebak!😀

  6. Sapphire says:

    Q pikir bakalan sad eh ternyata happy ending,,,,,daebak

  7. puput says:

    Bagus thor..sumpah kyu keren!ampe rela mw bunuh diri bgitu..hadeuh.. nice shot krn ini happy end

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s