Unperfect Us 1/2 (Impossible Love Sequel)

Love-Poem-by-Sachi-joseph

Judul         : Unperfect Us 1/2 (imPOSSIBLE Love sequel)

Author      : HyukgumSmile

Genre        : romance,

Rating       : PG-17

Main Cast  : Cho Kyu Hyun, Park Ji Yeon

Other Cast : lee hyuk jae, park jung so

Summary : Warning! No edited.

Disclaimer : lama tak bertemu. Kau terlihat semakin.. sempurna.

 

 

Ada banyak hal yang harus kau tau mengenai cinta. Salah satunya dinamakan pengorbanan. Cara yang paling menyakitkan daripada bunuh diri atau gila sekalipun. Dan itu, terjadi padaku..

Banyak hal yang tidak kumengerti. Mengapa ia tak memilih egois saja? Seperti aku yang selalu memilih untuk berdosa demi cintanya. Tapi nyatanya tidak. Logika masih menguasainya, dan ia memilih untuk meninggalkan cintaku.

Sementara aku, masih disini. berdiri ditempat yang sama. Masih hati yang sama dan cinta yang sama..

 

 

-Riga tahun kemudian-

Ribuan mobil bergerak silih berganti membelah jalanan kota seoul di pagi buta. Memberikan kebisingan berarti untuk aktivitas sehari-hari yang membosankan. Banyak mobil melaju pelan. Tak sedikit pula yang melaju diatas rata-rata.

Banyak yang hanya sekedar untuk memecah keheningan pagi, dan lebih banyak lagi yang berujung pada pelataran gedung pencakar langit yang tinggi.

“selamat pagi direktur” perawakan tinggi putih dengan setelah jas hitam formal berbandul lilitan benang emas disetiap kancing itu berjalan angkuh. Memberikan sebuah kunci hitam yang tak kalah andil dalam membentuk wibawa super tinggi miliknnya pada seorang lain yang menyapanya pagi itu lalu melenggang masuk.

Ia berjalan cepat. Menyusuri lantai cream mengkilap meskipun tak sama sekali mengalahkan kilau sepatu kulit limited edition miliknya. Semua mata seperti terpaku. Menyorotnya penuh cahaya putih bersinar seharga dewa langit yang diturunkan demi keselamatan dunia, kemudian menunduk.

“sajangnim” hanya itu yang terdengar.

Namja itu menganggukkan kepalanya sopan. Kembali lebih menekankan wibawanya sebagai pemimpin baru yang luar biasa berkuasa pada perusahaan ekspor impor nomor satu dinegara itu. cho coorporation.

Tiga tahun.

Segalanya telah berubah. Cho kyu hyun. lulusan terbaik ditahunnya telah didaulat sebagai satu-satunya ahli waris yang enam bulan lalu diresmikan sebagai pemimpin tunggal perusahaan berpengaruh itu.

“bagaimana pagi ini?” seorang perawakan cantik tinggi mengikutinya. Mengeluarkan sebuah tab dengan seorang lagi dibelakang mereka membawa sebuah nampan penuh aroma latte. Seperti biasa.

“kosong hingga waktu makan siang lalu memiliki janji rumit dengan teman lama bernama shim changmin, tuan”

Ketiga wajah itu menoleh. Mengarah tepat pada sesosok tampan dibalik pintu ruangan yang tersenyum miring menggoda.

“kau boleh keluar nona jung” namja itu mengangkat tangannya sekali sebelum semua orang meninggalkan mereka berdua. “lama tak bertemu” ujarnya kemudian dan berjalan menuju meja kebesaran perusahaan.

“ya, selama kau yang selalu mengulur janjimu. Brengsek” namja itu maju beberapa langkah hingga berdiri  didepan meja dan menopang tubuh dengan kedua tangannya “oh, sahabat lamaku begitu sibuk rupanya hingga mengacuhkanku yang mengejarnya seperti akan meminta tanda tangan seorang idola” oloknya ringan.

Kedua namja itu tersenyum sama miring. Sama mengerikannya. “jika bukan karena ini kau fikir seingin apa aku disamakan dengan idolamu, hah?” ia menunjuk setumpuk file didepannya dan bertatap mata dengan pria bernama changmin itu. tak lama mereka sama-sama tertawa sebelum akhirnya berpelukan ala pria.

“tawamu terdengar lebih baik” changmin melonjakkan diri. Meletakkan tubuhnya diatas meja kerja direktur itu dan melipat kedua kakinya acuh.

“bersyukurlah karena telah mendengar tawaku sebelum kau mati. Turunkan kakimu!” changmin kembali tertawa kemudian mengedikkan bahu tak perduli “setidaknya jauh lebih baik daripada tiga tahun belakangan, cho kyu hyun”

 

__

Minggu sore yang cerah. Sedikit lebih hangat dan padat. Penerbangan terakhir dari london akhirnya mendarat dengan selamat dan membawa sesosok wanita muda penuh karisma penakluk didalamnya.

Tak terlalu tinggi dengan stelan blazzer baby pink dan jeans ketat membentuk body. Berjalan acuh pada setiap pandangan yang mengarah padanya. Ia menyeret sebuah koper merah maroon hingga akhirnya menoleh kekanan dan kekiri.

“Park Ji Yeon!!”

Yeoja itu mengernyit pelan. Membuka kacamata hitam yang bertengger dihidungnya dan tak lama tersenyum cerah. “Hyukjae-ah!!” ia melambai membalas sebelum akhirnya namja itu berlari mendekat dan berakhir dengan sebuah pelukan penuh rindu.

“rasanya sudah lama. Sepupu” namja itu merenggangkan pelukannya, menjelajahi matanya dengan paras dan tampilan yeoja itu lalu menggeleng pelan. “ck ck, london benar-benar merubahmu” sambungnya.

Yeoja itu tergelak sesaat. Menampakkan seberkas garis lurus pada matanya. Cantik. Sangat cantik. Ia kemudian memukul lengan namja itu dan berujar fasih.

“aku pulang. Sekarang bawa aku pada rumah”

 

 

__

Senin sore. 04.00 KST.

Dari segala hal yang kyu hyun benci, menemani changmin berbelanja adalah hal yang berada pada urutan paling atas. Astaga, tipe pria super cool yang setabiat dengannya itu memiliki sifat berbelanja akut melebihi wanita. Satu fakta menggelikan yang kyu hyun temui.

Siang itu, setelah menculiknya dari kantor changmin membawa namja itu pada sebuah tempat perbelanjaan sosialita elit seoul untuk membeli beberapa jam tangan dan pesanan stelan jas formal terbarunya. Dan sialnya, kyu hyun tak dapat menolak namja itu terlebih dengan satu alasan memuakkan darinya.

‘aku baru saja pulang dari jepang dan bersusah payah menemuimu lalu kau hanya akan mengabaikanku?’

Ck, changmin sekali. Pria cool yang melankolis.

“aku fikir, samantha ferdina akan mengeluarkan branded yang lebih eksklusif lagi. kau tau, ini seperti tak jauh beda dengan yang kupesan dari paris”

Namja itu terus mengoceh. Satu lagi kebiasaan ‘wanita’ milik changmin. Meskipun berbicara dengan nada jantan penuh kharisma ala dewa, ia tetap saja cerewet. Dan kyu hyun tak suka yang itu.

“lalu untuk apa kau tetap membelinya?”

“kau tau, mungkin karena safir biru yang elegan ini” ia menunjuk batu mengkilap kecil yang indah disana.

“kau bisa membeli safir yang jauh lebih besar dan mahal jika kau mau. Perlu kuingatkan jika kau adalah direktur perdagangan elektronik di negara ini, shim changmin”

“aku suka yang ini”

Mereka selalu berbeda. Tak pernah satu arah. Jika kyu hyun akan memilih diam atas krisis ekonomi yang masih bisa ia tangani, maka changmin akan uring-uringan mencari cara ‘kecil’ agar berbeda dengan yang kyu hyun lakukan. Jika kyu hyun akan memilih seorang desainer berkelas untuk memanage busana formalnya, maka changmin akan turun tangan atas detail terkecil pada desain jas brandednya. Jika kyu hyun lebih memilih untuk membeli segalanya dengan perhitungan digit super miring, maka changmin akan sesuka hati membeli apapun yang ia anggap ia sukai kapanpun dan dimanapun.

Benar-benar berbeda bukan? Kyu hyun juga sempat berulang kali berfikir, jika ia memiliki banyak teman kampus yang setabiat dengannya, tapi mengapa ia harus memilih untuk bersahabat dengan changmin?

Klise. Namun kau hanya perlu mengangakan lebar kedua rahangmu jika pertanyaan seperti ini tercetus pada kyu hyun. namja itu. dengan penuh kayakinan akan menjawab, setia. Sepele, namun tak ada yang lebih berarti daripada kesetiaan penuh prinsip changmin dalam hubungan persahabatan mereka. Tak ada yang lebih kyu hyun hormati daripada satu hal itu. tak ada.

Drrt.. Drrt..

Kyu hyun tersentak. Terlalu lama memikirkan changmin membuatnya lama kelamaan akan membuka tabir masa lalu yang kelam. Ya, sangat kelam.

Tiga tahun.

Segalanya telah berubah. Ia lulus dengan nilai luar biasa sempurna lalu mengambil alih perusahaan appanya dan setelah enam bulan bekerja namanya berjejer rapi diantara eksekutif muda paling berpengaruh tahun itu.

Ia berubah. Rupa, pengendalian emosi, wibawa, kepintaran dan pola pikirnya. Semua berjalan sesuai yang diharapkan keluarga cho. Memiliki putra mahkota kebanggan keluarga yang nyaris sempurna.

Tiga tahun. kyu hyun tumbuh menjadi pria dewasa yang penuh tanggung jawab dan wibawa. Telaten dan penuh dedikasi. Dan terbukti jelas pada kertas-kertas saham yang bertambah nilai dan namanya yang terus terpampang dimajalah bisnis korea bahkan dunia.

‘eksekutif muda yang sempurna’

Semuanya telah berubah, kecuali dua hal. Pendirian dan cintanya pada seorang yeoja yang hingga saat ini tak pernah ia tau berada dimana. Untuk dua hal itu, kyu hyun bersumpah tak bisa dan tak akan pernah bisa untuk melakukannya.

Meskipun sedikit banyak pekerjaannya yang begitu padat menyita waktu itu telah sedikit demi sedikit menggeser posisi yeoja itu dalam fikirannya, tetap saja akan ada masa dimana yeoja itu kembali mengadakan kudeta dan menginterfensi keberadaannya dalam otak kyu hyun.

Oh, kyu hyun melupakan satu hal. Yeoja itu memang telah bergeser jauh dari posisi utamanya dalam fikiran kyu hyun, tapi tidak didalam hatinya. Gadis itu, masih duduk pada singgasana tertinggi dan tak akan pernah tergantikan. Dan untuk yang satu itu, kyu hyun berani menjamin nyawanya untuk kebenaran yang ia tanamkan kuat dalam hatinya.

Sakit. Ulu hatinya mulai kembali berulah. Sekelebat bayangan yeoja itu kembali mengkudeta otak besarnya dan yang ia tau sebentar lagi ia akan tenggelam dalam luapan masa lalu yang penuh duri tajam beracun. Brengsek! Seharusnya ia tak mengingat sebanyak itu. setidaknya tidak saat didepan semua orang. Ia hanya ingin terlihat lemah dihadapan yeoja itu, bukan dihadapan orang lain.

“kyu!” kyu hyun tersentak. Sebuah telapak tangan bersarang dibahunya. Dan yang ia tau, nyeri itu mulai berubah menjadi perih.

“ya?”

“ponselmu berbunyi berkali-kali” kyu hyun menoleh. Mendapati sinar ponselnya yang terang dan ada sebuah nama disana. Kyu hyun sigap meraihnya dan menatap changmin sekilas.

“Aku keluar sebentar” ia berdiri dan berjalan cepat “ya, noona?__”

 

 

__

“aku pulang” namja itu berjalan ringan memasuki sebuah rumah mewah kawasan elite seoul. Dua orang menyambutnya untuk membawakan sebuah tas kerja miliknya.

“kyu, kau sudah pulang?”

“hmm” ia menghempaskan tubuhnya pada sofa dan menggumam.

“ya, jangan tidur. Cepat mandi!” yeoja itu menarik tangannya kuat. Membuat kyu hyun mau tak mau membuka kedua matanya dan mendelik acuh.

“aku tau kapan aku harus mandi. Kau fikir aku bocah yang perlu diingatkan waktu untuk mandi?” celotehnya panjang. Ia merutuk lalu menatap yeoja didepannya yang terlihat mulai kesal.

“aish, baiklah maafkan aku noona” ia mengacak rambutnya pelan sebelum berjalan cepat menghindari ahra “aku ingin istirahat” pekiknya.

“ya! Jangan tidur. Kita harus kerumah paman” ahra berteriak tak kalah kuat. Membuat kyu hyun berbalik dengan salah satu alis terangkat tinggi. “paman?”

“ya, paman park” kyu hyun semakin menaikkan alisnya tinggi. Ada satu rasa yang ia tau berbeda kali ini. firasatnya berkata lebih jitu. Ini kabar penting. Ya, penting. “ji yeon baru saja pulang”

Dan detik berikutnya kyu hyun tak mengerti bagian mana dari kalimat itu yang membuatnya terpaku. Seluruh refleks tubuhnya seketika meluntur. Ia kaku. Hatinya lebih lagi. dan otaknya, penuh dengan satu nama itu. Park Ji Yeon.

 

 

__

Dari semua kesialan yang menghampirinya hari itu, yang satu ini adalah kesialan termanis. Sial, karena duduk untuk acara makan malam keluarga yang membosankan pada meja panjang yang riuh penuh celoteh yang terkadang berisi omong kosong disana. Tapi manis, sangat manis ketika yeoja itu, park ji yeon, tengah terduduk kaku didepannya.

Kyu hyun tak mengerti pada bagian mana rasa hangat itu menjalar. Yang pasti, saat ini hatinya yang sebenarnya memang telah padat berisi semakin terasa sesak. Bayangan yeoja itu memudar dan menghilang lalu beralih menjadi nyata. Dan satu hal yang benar-benar harus kyu hyun garis bawahi, ia hidup. Ia kembali hidup atas separuh nyawanya yang pernah hilang. Gadis itu,, kembali.

 

 

__

Gadis itu berdiri resah. Sesekali merapatkan cardigan tipis itu pada tubuhnya. Ia mendesah berat sebelum akhirnya membuka mata. Ji yeon tak mengerti. Untuk apa kepulangannya harus dirayakan bak seorang ratu yang baru saja menghilang bertahun-tahun? meskipun well, mungkin itu ada benarnya. Tapi, sepertinya tak harus dengan acara makan malam keluarga besar yang tentu saja akan membuatnya semakin tak dapat berkutik.

Tiga tahun.

Selama itu ia berusaha semampunya untuk melupakan kyu hyun. mencoba menggantikan namja itu dengan seseorang yang mungkin saja berpengaruh lebih besar dalam hidupnya meskipun pada akhirnya ia selalu gagal.

Ji yeon tau, ini pasti terjadi. Namun setidaknya ia tak pernah berfikir akan secepat ini. setelah kelulusannya yang membanggakan ia telah bekerja dengan posisi yang baik di london bersama siwon.

Namun entah apa yang terjadi hingga eomma memaksanya untuk pulang lebih cepat.

Bukan. Bukan ia tak merindukan wanita tua yang sangat ia cintai itu. tapi ini.. terlalu tak dapat diterima oleh logikanya ketika ia harus kembali menatap kota dimana ia menyimpan berjuta kenangan tak menyenangkan itu tiga tahun yang lalu.

Segalanya,, tampak berubah. Kecuali satu, hatinya.

“kau terlihat berbeda” suara berat itu menginterupsi perdebatan ji yeon dengan dirinya sendiri. Suara itu,, ya tuhan mengapa hatinya kembali bergemuruh?

“eum. Kau juga” yeoja itu berbalik dan menemukan kyu hyun berada disana. Ia, tersenyum. Senyuman yang tiga tahun ini selalu membayangi kepalanya dengan sejuta kerinduan. Dan sekali lagi, hatinya bergemuruh lebih kencang. Ini. Inilah alasan ji yeon untuk tidak ingin pulang. Ia takut. Takut kembali jatuh cinta pada pria itu. pria yang sama yang tak pernah beranjak dari hatinya.

“lama tak bertemu” namja itu berjalan pelan. Mulai mengarah pada tempat ji yeon berdiri di balkon rumah. Ji yeon terkesiap.

Tidak, jangan lagi.

“aku merindukanmu”

Dan terlambat.

Ia, pada akhirnya kembali jatuh cinta. Pada pria yang sama, hati yang sama. Ji yeon benci akan kenyataan itu. seharusnya bayangan kyu hyun yang mulai terkubur pelan tak akan pernah bangkit lagi. namun hipotesa itu jelas seribu persen salah. Rasa itu kembali bangkit hanya karena satu kata penuh arti. Dan detik itu juga ji yeon mengumpat akan keputusan terbesarnya sehari yang lalu.

“kyu,, kita__”

Ji yeon terdiam. Untuk sesaat, ia kembali lupa bagaimana cara untuk bernafas. Aroma itu, masih sama. Menusuk indra pembaunya kuat. Dan berbaur dengan aroma terdahulu yang tak pernah menghilang dari memori terkuatnya. Rindu itu mencuat. Memberikan sejuta kehangatan pada pelukan selamat datang-mungkin-yang kyu hyun berikan.

“aku merindukanmu. Sangat” sekelebat otaknya tertancap tombak besi panas. Ji yeon, kembali kalah.

 

 

_Tiga bulan kemudian_

Mungkin, jika kau mengenal kata-kata ‘penyesalan selalu datang diakhir’, maka inilah yang harus kau koreksi dengan baik mulai saat ini. yeoja itu berjalan cepat dengan sebuah map dan sebuah ponsel terjepit diantara telinga dan bahu atasnya.

“tidak, aku hanya akan pergi ke kantor appa”

“lalu?”

“lalu? lalu aku harus bertemu dengan kolega bisnisku”

“a a. Kau salah”

“tidak”

“cepatlah aku tak banyak waktu. Lima menit lagi rapat akan dimulai” yeoja itu memutar bola matanya jengah lalu memidahkan ponsel itu pada telinga disisi lain.

“lalu aku harus bertemu direktur cho untuk sebuah urusan”

“urusan apa?”

“ck, brengsek” umpatnya.

“kau mengatakan sesuatu?”

“tidak. Cuaca diluar cerah sekali”

“kkk~ jadi, apa urusanmu dengan direktur cho?”

“kenapa kau ingin tau?”

“aku penasaran”

“dan jika aku tidak ingin mengatakannya?”

“maka bibirmu akan kebas semalaman karena kau tak akan berhenti menciummu” yeoja itu menjauhkan ponselnya lalu mengecek jika ia tidak sedang salah sambung. Ia bergidik ngeri sebelum kembali menempelkan ponsel itu pada telinganya.

“well, kau memang brengsek. Baiklah aku harus segera masuk”

“ck. Arraseo. Jangan macam-macam. Aku mencintaimu” bip!

 

Mungkin. Itu yang harus dikoreksi dari sebuah ‘penyesalan diakhir’. Karena toh pada akhirnya ji yeon tak mampu bertahan dan memilih untuk menyerah pada pesona yang tak pernah luntur dari namja brengsek yang baru saja menghubunginya itu.

Ia tertawa pelan sebelum akhirnya melangkah lebih cepat menuju ruangan appanya. Tiga bulan. Masih cukup singkat bukan? Namun rasanya semua telah menggunung semakin tinggi. Cintanya dan perasaannya. Ia seakan tak bisa berlari. Dan jika pun ia mencoba, ia tetap akan berhenti ditempat semula.

Park ji yeon. Tak pernah lepas dari seorang cho kyu hyun.

“appa!” ji yeon membuka pintu ruangan itu dan menemukan seorang lainnya disana “oh, josonghamnida. Maaf aku mengganggu” ia kemudian menunduk dan tersenyum begitu ringan.

“its ok baby, come here” pria usia lanjut itu berujar inggris sangat fasih pada ji yeon. Yah, appanya memang mulai membiasakan diri dengan kebiasaan barunya itu.

“im sorry dad. There’s a problem before” ji yeon berjalan mendekat.

“hmm. Im sorry too. I’ve a lil problem and i hope you’ll wait for me at lunch” pria itu menggenggam pergelangan tangan ji yeon dan memohon.

“yeah, not bad. That’s a promise” ji yeon mengangguk pelan sebelum akhirnya berlalu. Sedikit lebih baik. Mungkin kehidupan korea tak seburuk imajinasinya. Atau hanya karena pria itu? pria yang akhirnya kembali meluluhkannya sehari setelah kepulangannya?

“ji yeon-ah” Yeoja itu menoleh. Tersenyum ketika menemukan jungso didepannya “oppa” gumamnya “oppa tidak bekerja?”

Jungso menggosok pelan tengkuknya. Gugup. Ya tuhan , tertangkap basah tidak diruangan yang tepat ketika jam kerja masih berjalan. Mungkin bukan contoh yang baik.

“emm, aku__”

“ya,, alasanmu diterima” ji yeon terkikik kembali.

“kau dari ruangan appa?”

“hmm”

“untuk apa?”

“aku ingin menghabiskan waktu bersama appaku, tuan.” Mereka kembali tertawa.

“biar kutebak. Appa memiliki tamu dan memintamu untuk menemuinya saat makan siang?” jungso tersenyum puas. Ia tidak salah karena tiba-tiba saja adiknya itu mengerucut kesal padanya. “baiklah, kurasa ruanganku tak masalah untuk dijadikan penampungan sementara”

 

 

__

“sudah selesai?”

Ji yeon terkesiap ketika tangan kekar itu melingkari tubuhnya posesif. Satu hal yang ia rasakan adalah debaran jantung yang semakin tak menentu dan,, hangat.

“mm” gumamnya pelan. Tak lama dapat ia rasakan sesuatu yang lembut menyapa pipi lalu beralih pada rahang tipisnya.

“baiklah. Ayo makan” namja itu menarik pergelangan tangannya untuk duduk dibalkon apartemen. Ya, ji yeon memang memilih untuk tinggal di sebuah apartemen miliknya. Meskipun awalnya mendapat tatapan super tajam dari jungso, toh appanya memperbolehkan dan ia bebas mulai saat itu.

Tapi,, ji yeon masih cukup pintar untuk tidak kembali membawa kyu hyun kedalam apartemennya. Kejadian itu,, akh! Jangan diingat! Ini apartemen kyu hyun. jauh dari kata sederhana dan lagi, ia rasa jungso tak akan tau dalam waktu dekat.

“kenapa di balkon?” yeoja itu memberengut. Dalam sekejap kyu hyun menyeretnya menuju balkon dan membawakan spagetti masakannya kesana.

“suasana baru. Aku belum pernah melakukan ini bersamamu” namja itu bersuara kemudian mengambil tempat duduk disamping ji yeon.

“memangnya apa yang kau lakukan tiga tahun ini? klise sekali jika kau tidak__”

“tidak ada” potong  kyu hyun cepat “tidak pernah ada wanita lain. Perlu kau garis bawahi yang itu” sambungnya. Ji yeon mengerjap. Menatap kedua mata itu tak percaya. Jangan katakan jika..

“oh, jadi kau memiliki pria lain disana? Bagus sekali” tegas namja itu kembali.

“tidakkah kau berfikir jika itu rasional? Aku berusaha melupakanmu disana dan tentu saja aku mencari pria lain”

“tapi pada akhirnya kau gagal. Meninggalkannya dan kembali mengingatku” ji yeon tersentak. Dari deretan kalimat itu, tak satupun ada yang salah. Kyu hyun benar. Instingnya selalu jitu dan keakuratannya dalam membaca pikiran..

“jangan coba-coba untuk mengagumiku, nona” dan akhirnya ji yeon hanya mendengus kesal.

 

 

__

“kau akan menginap?”

Kyu hyun bermain. Memutar jemarinya pada untaian rambut hitam terurai milik ji yeon. Setelah selesai dengan makan malam itu, mereka memutuskan menetap disana untuk menikmati bulan.

“tidak. Sebentar lagi aku akan pulang”

Ji yeon diam. Berada dalam pelukan kyu hyun adalah kelemahannya. Dan saat ini, ia justru tengah menikmati kelemahan terbesarnya. Berada disekitar namja itu, menghirup aroma maskulin yang keluar dari tubuhnya, merasakan kehangatan pelukannya, dan lembut bibirnya.

Ji yeon diam. Sapuan bibir tebal itu mengusik sesuatu dalam hatinya. Meskipun ia tau, pria yang bersamanya itu telah mahir melakukan itu bahkan semenjak ia SMA. Namun rasa itu tak pernah berubah. Selalu manis dan menggairahkan.

Ji yeon memperkuat genggamannya. Jemari kyu hyun seakan tak sanggup untuk melepaskan sebuah teriakan besar dari dalam hatinya. Sesuatu tengah mengusiknya disana. Dan ji yeon tau persis apa itu.

“tinggallah, untuk hari ini saja” namja itu menghentikan ciumannya lalu mengalihkan wajahnya pada lekukan leher ji yeon. Menghirup aroma gadis pujaannya itu lama dan menyimpannya apik didalam ingatan terkuatnya. Bau shampo itu,, mungkin berubah. Tapi debaran jantung akibat menghirupnya masih sama. Bahkan kali ini jauh lebih keras dan cepat. Mereka, tak pernah sejauh ini dulu.

“tidak mungkin” ji yeon bereaksi. Meringsek pelan membalikkan tubuhnya dan berakhir pada dirinya yang berada dalam pangkuan kyu hyun dengan mata saling beradu. “nikahi dulu aku, baru kau boleh memintaku untuk tinggal” candanya. Mereka terkekeh untuk sebentar.

“jika kau siap, aku akan menikahimu kapanpun” namja itu kembali menatapnya intens lalu tak lama sebuah kehangatan jemari dirasakan ji yeon pada pinggangnya.

“apa pernikahan semudah itu dimatamu?” ji yeon mendelik. Menampilkan wajah seolah-olah sangat ingin tau.

“tidak. Karena itu aku hanya akan mengatakan ini padamu” ji yeon terkekeh pelan. Ia meletakkan jemarinya melingkar pada tengkuk namja itu. “menggodaku?” tanya kyu hyun seduktif.

“menurutmu?” ji yeon meringsek semakin maju. Mengeratkan lingkaran tangannya.

“kau tak berbakat sama-sekali. Cepat katakan apa maumu” kyu hyun mendengus kecil sebelum akhirnya meletakkan jemarinya pada lengkungan pipi ji yeon lalu mencium sudut bibirnya. Ji yeon terkekeh.

“aku mau pulang. Boleh?” ia membesarkan bola mata coklat almond itu dan memohon dengan ekspressi menggemaskan.

“aish,, sejak kapan kau belajar seperti itu, ha?” kyu hyun menggeram. Salah satu kelemahannya adalah rengekan yeoja itu dan kali ini ia benar-benar sudah tak tahan untuk tidak menciumnya.

“aku bngf_”

Dengan cepat kyu hyun bergerak. Meletakkan sebelah tangannya untuk menahan yeoja itu dan menempelkan bibir mereka. Ia menunduk, menyebabkan posisi ji yeon terbalik dan pada akhirnya yeoja itu hanya mampu mengeratkan rangkulannya pada leher kyu hyun. dua keuntungan sekaligus. Kehangatan dan ciuman yang semakin dalam.

Ia menekan bibirnya lembut. Masih menahan kuat punggung yeoja yang semakin mengeratkan diri itu. dan sesekali menggigit bibir bawahnya lembut. Gemuruh itu terasa semakin membuncah. Sekali lagi, mereka tak pernah seintim ini dulu.

“hh~ kau ingin membunuhku, eo?” yeoja itu memerah dengan ekspresi kesal yang lucu.

“jangan berekspresi seperti itu. kau membuatku ingin kembali menciummu. Kau ingin tak kuperbolehkan pulang, hmm?” dan detik berikutnya ji yeon hanya mampu terdiam kaku. Namja itu, satu hal lagi yang tak berubah. Ia tetaplah cho kyu hyun yang mesum dengan tingkat nafsu setinggi langit pada bibir ji yeon. Sial.

 

 

__

Ji yeon mendesah geram. Dari seluruh map yang tertonggok diatas meja kerjanya, tak satupun dari isinya yang saat ini menempel didalam ingatannya. Ia telah berusaha untuk lebih dari sekedar berkonsentrasi namun justru tatapannya tak pernah lepas dari layar ponselnya yang menampiklan gambar ia dan kyu hyun yang tengah bersama.

Entahlah, namun semacam ada perasaan yang mengganjal dalam hatinya. Perasaan yang dapat dikatakan ketakutan, kecemasan dan kekhawatiran. Tak terlalu berlebihan memang, namun itu cukup mengganggu. Mengganggu fikirannya dan terus berputar dalam ingatannya.

Park jung so.

 

-Flashback-

“akhirnya kau pulang” jungso berjalan tegap menuju meja kerjanya “kuharap kau tak lupa untuk apa kau pergi” lanjutnya.

Ji yeon mengerjap heran. Dari berbagai macam bahan pembicaraan untuk memulai percakapan mereka yang awalnya hangat, mengapa jungso justru memilih topik itu? topik yang jelas sekali akan langsung menohoknya.

Ji yeon tak bodoh. Ia tau, saat ini kakak laki-lakinya itu tengah memperingatkannya untuk tidak kembali mengulang kejadian lampau. Dan jelas sekali, nada ketidak sukaan itu masih merekah jelas dari nada bicaranya.

“oppa..”

“kau masih sering menemuinya?”

Ji yeon terdiam. Oh ayolah, jangan lanjutkan pembicaraan ini. ji yeon bisa saja mati mendadak karena serangan jantung. Dan yang lebih penting lagi, ia sedang tak ingin berbedat dengan jungso saat ia baru saja pulang dan mencoba bersenang-senang kembali.

“atau dia yang masih sering menemuinu?” jungso mendelik tatapan tajam. Dan jelas sekali berbeda dengan canda tawa mereka beberapa saat yang lalu di lorong koridor perusahaan.

“aku masih dapat melihat cintanya yang besar untukmu. Apa kau tergugah?”

“oppa!”
“aku anggap itu ‘tidak’. Kau tau bagaimana kondisi appa jika tau mengenai hubungan tak waras kalian” ji yeon menggeram berat. Yang ia tau, tak ada yang tak waras dalam hubungannya bersama kyu hyun. mungkin benar mengenai dosa. Ji yeon akui itu tak akan terelakkan. Tapi ini..

“tak ada yang tak waras oppa..” geramnya. Sontak jungso menoleh. Menemukan tatapan tak suka milik ji yeon padanya. Seolah menegaskan satu hal. Mata berbinar jungso akhirnya berubah gelap dan dingin seketika.

“apa kau sedang mencoba untuk mengatakan padaku jika hubungan bodoh itu kembali kalian rajut?” jungso berdiri. Sorot dingin itu semakin menakutkan dan mengintimidasi ji yeon. Ji yeon terdiam. Gagap.

“o oppa..”

“astaga perk ji yeon! Apa kau terlalu bodoh untuk mengerti perkataanku?” jungso menggebrak meja. Menonjolkan beberapa urat kebiruan di ujung tangannya.

“aku tidak bisa oppa! Bertemu dengannya membuatku__”

“perlu aku yang memperingatkannya?” sontak ji yeon membesarkan bola matanya. Ia tau betul makna kumpulan kata itu. secara tidak langsung, jungso tengah menawarkan diri untuk membantu ji yeon melenyapkan kyu hyun. melenyapkan dalam arti yang sebenarnya.

“OPPA!!” pekiknya. Ia tak mengerti mengapa seketika jungso menjadi begitu otoriter dan sangat membenci ia dan kyu hyun saat ini. dan lagi, jungso bukanlah tipe orang yang akan sekasar ini. jadi, ada apa dengannya?

“aku cukup lelah menutupi keberadaanmu darinya dan sekarang kalian bertemu lalu dalam sekejap mata kembali berulah membuatku hampir mati” jungso menggeram kesal. Menatap ji yeon penuh amarah namun air mata yeoja itu lebih mendominasi perasaan bersalahnya. Yang ia tau, adiknya itu tak pernah tau jika jungso memang berusaha mati-matian untuk menutupi keberadaannya dari kyu hyun.

“oppa, jadi..” jungso berjalan cepat. Mencengkram pergelangan tangan ji yeon kuat.

“dengar. Aku lelah. Tak ingin terlibat lebih jauh. Aku,, tak ingin kau seperti ini. tapi kau sendiri yang memilih dan aku benar-benar tak akan bertanggung jawab atas apapun yang terjadi. Fikirkan ini baik-baik” namja itu menunduk dan mendesah berat “cepat atau lambat semua ini pasti terbongkar dan saat itu terjadi, aku tak akan pernah berada dibelakngmu lagi. kau,, mulai bisa memilih yeon”

-Flashback End-

 

Dan semuanya berakhir begitu saja. Ji yeon membatu sementara jungso menghempas pintu kuat dan menghilang bahkan hingga hari ini, ji yeon tak pernah lagi menemukan kakak laki-lakinya itu. ia seperti benar-benar menghindar dan menjauh pergi.

Air mata kembali mengaliri pipinya. Kegelisahan itu benar-benar menghantuinya. Tak ada satupun pekerjaan yang mampu ia lakukan. Yang ia tau, ia tak lagi memiliki siapapun untuk mengadu. Tidak dengan park jungso yang memutuskan untuk mudur dan meninggalkannya sendiri.

Sendiri? Air mata itu semakin deras mengalir. Selama ini, jungso selalu melindunginya. Tak pernah sekalipun ia berkata lelah untuk menjaganya. Ia kakak yang baik. Ralat, terbaik lebih tepatnya.

Tak ada yang benar-benar mampu melindungi ji yeon selain dirinya. Bahkan, ketika kejadian menggemparkan akal sehat itu ia ketahui. Ia tetap melindungi ji yeon. Setidaknya, dari amukan appa dan eommanya karena jungso menyimpan segalanya dengan baik.

Tak ada satupun yang tau mengenai masalah yang jungso lebih sering sebut dengan aib itu. ji yeon kembali menggeram. Bayangan jungso berkelebat dalam fikirannya. Mungkin ia benar, tapi mungkin juga tidak. Mungkin.

Kata itu seperti berputar dengan cepat dalam kepalanya. Mungkin. Mungkin ia benar, atau jungso lah yang benar. Atau tidak ada yang benar sejauh ini? setidaknya, jungso telah menghalangi cinta ia dan kyu hyun. lalu tetap benarkah apa yang dilakukan kakak laki-lakinya itu?

Ji yeon terkesiap ketika getaran ponsel menggerogoti pikirannya. Mengganti layar penuh potret dirinya bersama kyuhyun dengan layar biru muda dan menampilkan sebuah nama disana. Ji yeon dengan cepat meraih sapu tangannya dan menghela nafas berkali-kali.

“yeobseo” panggilnya.

“……”

“yeobseo?”

“kau menangis?” seperti dihantam godam besar. Baru saja ia memikirkan segala keputusan jungso lalu kyu hyun datang dengan sejuta perhatian padanya. Namja itu tau tanpa perlu melihat. Lalu cinta macam apa lagi yang perlu ji yeon ragukan darinya?

“yeon..” ji yeon tersentak.

“umm, ne?”

“ada apa? Terjadi masalah?” ji yeon menarik nafasnya ringan. Lalu mencoba untuk tersenyum sebelum akhirnya berbicara.

“tak ada, hanya sedikit tidak enak badan” jawabnya.

“kau, sakit? Apa kau demam?” oh ayolah kyu, jangan tunjukkan perhatian itu saat hatinya sedang gamang. Air mata itu kembali menetes meskipun dengan cepat ia hapus kembali.

“ya, hanya sakit biasa”

“tunggu disana. Aku akan__”

“jangan. Tidak. Tidak perlu kyu, aku sudah minum obat” ji yeon berusaha menacari alasan yang sebisa mungkin diterima akal sehat cho kyu hyun.

“tapi kau__”

“aku tak apa. Benar” ji yeon meyakinkan.

“baiklah. Tapi jangan larang aku ke apartemenmu malam ini” ji yeon terdiam. Banyak hal berkecamuk dalam kepalanya. Dan yang paling mengusiknya adalah perhatian yang diberikan namja ini padanya.

“yeon”

“ne, kyu?”

“kau kenapa?”

“aku,, hanya sedang tidak enak badan. Bukankah sudah kukatakan?” jawabnya kembali. terdengar suara desahan diujung sana. Sepertinya kyu hyun tau untuk tidak memaksa yeoja itu lebih dalam.

“baiklah. Aku hanya ingin mengatakan jika hari ini aku akan sedikit terlambat untuk datang ke apartemenmu. Aku ada rapat hingga sore. Tak apa kan?”

“hmm” ji yeon mengangguk pelan. Menyetujui dan menjawab sekaligus.

“hanya itu. selebihnya, kau boleh berbangga hati karena aku benar-benar merindukanmu” ji yeon tersenyum. Cho kyu hyun, gumamnya dalam hati “merindukan ciumanmu maksudku”

“brengsek kau cho kyu hyun!” kyu hyun terkekeh pelan diikuti ji yeon. Sedikit ada yang berkurang dari bebean diatas pundaknya. ‘Karena kyu hyun’. kembali kalimat itu terngiang jelas.

“arraseo. Aku akan pergi menemui appa. Kau, sudah makan?”

“sudah. Kau sendiri, Sudah makan?”

“eum. Jangan lupa minum obatmu. Aku harus masuk. Bye. Aku mencintaimu yeon” ji yeon terdiam. Ada yang menghangat disana meskipun tetap saja masih ada yang berkobar.

“aku juga mencintaimu, kyu” dan pada akhirnya kalimat itu tetap terlontar dari bibirnya. Ia tak berbohong. Ia memang mencintai namja itu dan tak sedikitpun berniat melupakan cintanya. Hanya saja jungso kembali melesak kedalam otaknya dan sepersekian detik setelah ia mengangkat wajah lusuhnya..

“e eonni…” disana. Berdiri seorang cho ahra.

“…..”

“eonni, aku__”

 

PLAKK

 

-TBC-

kemarin ada yang minta ini dipost lagi. sebenarnya aku gak yakin sih, soalnya bahasanya masih rada-rada aneh dan monoton. maklum, ini kan project waktu awal debut-__-  tapi yasudah, aku post aja biar cerita ini bisa kelar sampai akhir.

 

 

With love, Park Ji Yeon.

5 thoughts on “Unperfect Us 1/2 (Impossible Love Sequel)

  1. tata says:

    pantesan. perasaan uda pernah baca dech.
    tapi dimananya, lupa. hehehe

    ok. tetep bagus ceritanya. alurnya juga ndak kecepetan.

    hanya saja, dari dulu mau bilang, kok tumben ji jadi sepupunya hyuk?! hihihi
    udah bosenkah??

  2. adelcho says:

    aduh kasian banget kyu ma jiyeon..

  3. lia aprilia says:

    Sepertinya aku belom baca sampe sini deh -_-
    Kasian banget sih kyuji T_T kisah cinta mereka sangatlah rumit ga ada yg mendukung mereka sama sekali : [
    Yg par2 nya post lagi dong mau lanjut bacanya terus FC part 17-nya kapan????

  4. ai-sparkyu says:

    Bener” sedih ngeliat Kyu sma Jiyeon..
    Cinta sesempurna itu harus terkendala sma status mereka..
    Jungsoo memang bener, tapi ngeliat gimana Kyu dan Jiyeon punya cinta sebesar itu, memang rasanya sulit utk enggak mempertahankan cinta mereka..
    Rasanya bakal susah utk nemuin titik penyelesaian diantara mereka..

  5. puput says:

    Yg kepergok ma ahra sapa?kyu or ji yeon?
    Next chap y..seru ini critana..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s