Ignorant Feelings 2 [Booming Heart Sequel]

Booming Heart

Happy Reading^^

 

 

“jadi, apa kau menyetujuinya?”

Ji yeon menatap donghae sebentar sebelum kembali pada semangkuk es krim miliknya. Sementara donghae yang tengah berada didepannya meneguk secangkir american coffe sebelum menggeleng acuh.

“tidak” jawabnya.

“wae?” ji yeon memberhentikan diri, menatap donghae sedikit tidak setuju.

“tidak banyak keuntungan yang kudapat. Jadi, untuk apa?”

Ji yeon menyendok kembali es krim miliknya. “aneh, hyuk jae bilang proyek itu memiliki keuntungan yang sangat besar”

Donghae terdiam.

“mengapa menurutmu tidak?”

Donghae mengerjap, mengusap tepian gelas coffe miliknya lalu berdehem kecil “molla. Hanya perasaanku saja” jawabnya.

Donghae menghindar ketika ji yeon segera berdiri dan hampir memukulkan sendok besar es krim miliknya pada donghae.

“aku serius!” yeoja itu memberengut lucu. Membuat donghae menahan tawa jika ia tak ingin seluruh cafe merasa terganggu.

“arra, mianhae” donghae menarik ujung kemeja ji yeon kemudian memaksanya untuk kembali duduk “percuma saja, mereka meminta pembangunan dipinggiran kota. Kau tau, kan, desa disana masih sangat indah, jadi mungkin aku tidak akan sampai hati untuk melakukannya” jelas donghae.

Ji yeon mengerutkan keningnya cepat “hyukjae bilang kau mampu melakukan apapun yang kau mau” akunya.

Donghae kembali terbatuk sekali “nah, aku kan tidak mau. Jadi aku tidak bisa” jawabnya asal.

“jadi, apa hyuk jae kalah karena perusahaan lain? Dia bilang perusahaanmu tentu lebih bagus. Aku fikir dia akan kalah bersaing karena dirimu”

‘dia mengalah, yeon’ bisik donghae dalam hati.

Donghae mengacak rambut yeoja itu lembut. Membuat ji yeon sempat memberengut. Ia tak suka seseorang mengacaukan tatanan rambutnya. Meski itu hyuk jae sekalipun.

“kau terus membicarakannya. Apa kau merindukannya?”

Lalu donghae merasa terkutuk dengan pertanyaan yang ia lontarkan. Ji yeon mengangguk mantap. Memberikan donghae luka yang menganga.

“mengapa ia tidak datang?”

Ji yeon kembali memberhentikan diri. “entahlah, dia bilang dia harus menemui eommanya. Aku juga tidak tau untuk apa” ji yeon mengedikkan bahu.

‘dia memberiku kesempatan’ bisiknya kembali.

Donghae terdiam. memperhatikan ji yeon terasa jauh lebih berarti saat ini. entahlah, entah karena donghae merasa terlalu dibatasi, atau memang perasaannya saja yang selalu ingin memperhatikan ji yeon.

Yang jelas, donghae tak perlu makan jika siang hari seperti ini ia lalui bersama ji yeon. Sesederhana itu alasannya untuk memberanikan diri menghubungi ji yeon.

Dan nyatanya, hyuk jae mengalah. Walau hanya untuk kali ini saja.

‘nyatakan perasaanmu padanya, dan biarkan ia memilih’

Donghae dapat merasakan seluruh tubuhnya meremang. Perkataan hyuk jae beberapa hari yang lalu benar-benar membuatnya terguncang hebat. Benarkah ia harus melakukan ini? menyatakan perasaannya dan membiarkan ji yeon untuk memilih?

Tubuh donghae semakin bergetar.

Lalu bagaimana jika ternyata ji yeon memilih hyuk jae? meninggalkannya dalam kesendirian? Sementara hyuk jae terlihat benar-benar yakin dengan keputusannya untuk mengakhiri persahabatan mereka.

Pada siapa donghae harus mengadu jika semua ini tak seperti keinginannya? Apa yang harus ia lakukan jika hyuk jae dan ji yeon akhirnya berjalan bersama diatas altar pernikahan?

Saat hyuk jae akhirnya mencuri ciuman ji yeon didepan para tamu dan memasangkan yeoja itu cincin pertanda ikatan sah yang terjalin diantara mereka. apa yang harus donghae lakukan?

Namja itu meneguk ludahnya gugup. Jelas, donghae pernah membayangkan hal seperti itu terjadi. Beberapa bulan lalu ia juga pernah dihantui pemikiran jika hyuk jae akan melarikan ji yeon secara diam-diam.

Namun jelas, hyuk jae bukanlah seseorang yang perlu ia curigai. Namja itu memegang perkataannya dengan baik. Menunggu kesiapan donghae untuk merelakan ji yeon bersamanya.

Meski pada akhirnya, tak ada yang terjadi selain donghae yang menggunakan kesempatan itu untuk kembali menikam hyuk jae.

“hae?”

Donghae mengerjap cepat. dia melamun. Jelas memberikan kesan tidak nyaman untuk ji yeon. Namja itu menatap ji yeon sebentar, lalu, haruskah ia melakukan ini?

Donghae gamang. Perasaannya berkata jika ia adalah pihak yang akan tersisihkan dari pusara percintaan mereka. ia merasa kecil, dan tak sanggup menyaingi hyuk jae meski hanya untuk menggantikan posisinya dihati ji yeon.

Apa yang akan terjadi setelah ini? perpisahan? Ji yeon tentu tak akan lagi seperti ini setelah mengetahui segalanya. Barang jelas ia akan menjauh demi menjaga perasaan kekasihnya. Jadi donghae harus bagaimana?

Donghae merasakan desiran hebat dalam hatinya. Ya tuhan, pandangan pias hyuk jae tiba-tiba menyusup dengan sengaja. Menguatkan alasan terpendamnya untuk menyatakan segalanya.

Terkutuklah kau Lee hyuk jae!
“yeon..”

Ji yeon mendongak, menatap donghae dengan tatapan polos yang menggemaskan. Donghae menyempatkan diri untuk tersenyum tipis, meneguk coffe yang mendingin seiring kikisan waktu yang berlalu.

“ada apa?” Ji yeon menuntut.

“ani,, hanya…” donghae menggantungkan jawabannya. Jadi, sekarangkah?? “ehem.. ahaha.. tidak. Aku hanya punya sedikit masalah, boleh aku bertanya padamu?”

Ji yeon memberengut bingung. Ekspresi donghae jelas tak biasa. Namun ia memilih membiarkannya, mendengar keluhan donghae mungkin lebih penting dibandingkan menganalisa mengapa donghae perlu menjadi sosok yang kaku siang itu.

“emm.. seperti ini. menurutmu apa cinta selalu benar?”

Ji yeon kembali tak mengerti “maksudmu?”

Donghae menggeliat gelisah lalu menatap ji yeon dengan mata yang lebih serius “nah, yeon. Bayangkan jika kau memiliki seorang sahabat dan tiba-tiba kau menyukai kekasih sahabatmu”

Ji yeon terdiam. matanya mengerjap beberapa kali, membuat donghae mengeluarkan keringat dingin yang menyiksa. Lalu tiba-tiba yeoja itu tertawa keras “aha.. ahaha.. kau lucu! Jadi kau tengah menyukai kekasih sahabatmu?”

Donghae sempat terkesima saat ji yeon tak benar-benar menangkap maksut tersirat dari pertanyaan yang ia lontarkan. Ia ikut tertawa miris menatap ji yeon yang mulai berhenti.

‘kau belum benar-benar tau, yeon’

“lalu apa yang terjadi?”

Donghae mengusap tengkuknya ragu”emm__”

“kau bukannya sedang menyukaiku,kan?”

Donghae melotot sempurna. Kepercayaan dirinya kemudian menjadi luntur dan turun hingga tingkat paling bawah. Lalu jika benar ia menyukai ji yeon, apa ji yeon tak akan menanggapinya dengan serius? Lihat saja senyuman mengolok yeoja itu.

“oke, aku bercanda” dan donghae semakin terpukul hebat. Apakah terkesan sangat mustahil jika ia menyukai ji yeon? Rona tak perduli yeoja itu. apa ji yeon memang telah menyingkirkan jauh-jauh kemungkinan itu? kemungkinan jika donghae bisa saja menyukainya?

“ingin tau pendapatku?”

Donghae mengangguk dalam diam.

“hae, cinta tidak pernah bisa ditebak akan datang pada siapa” donghae bersorak setuju. Pertanda baik bagi perasaannya. Secara tidak langsung, ji yeon mendukungnya. Bukankah cinta tidak bisa ditebak?

“tapi kau pasti mampu mengendalikannya.” Lalu senyuman donghae luntur seketika “kau tau? aku juga pernah menyukai seseorang yang salah, dulu. Aku bahkan pernah menyukai sepupuku sendiri.”

Donghae cukup terkejut “yang benar?!” tanyanya cepat.

Dan ji yeon mengangguk mantap “dan disaat seperti itulah aku harus mampu mengendalikan perasaanku. bagaimana aku harus tidak terjebak dalam cinta yang terlalu buta. Kau tau, hae? Meski cinta tak pernah bisa ditebak, kita tetap bisa merasakannya saat pertama kita bertemu. Karena itulah, pengendalian diri memang harus selalu kita miliki dalam hidup”

Donghae mengerjap. Jadi, apa menurut ji yeon donghae tidak memiliki pengedalian diri? diam-diam donghae membenarkannya.  Bukankah ia memang kehilangan hal yang seperti itu? hyuk jae pun telah mengatakannya, beberapa minggu yang lalu.

“hae, cinta memang selalu memiliki satu rasa. Rasa ingin memiliki yang besar. Aku juga pernah merasakannya. Tapi.. jika dengan memilikinya hanya akan membuat semua hati tersakiti, apa tidak terlalu jahat bagimu? Sama saja seperti kau menghancurkan kehidupan bahagia yang pernah mereka jalin”

Dan donghae menghancurkan kebahagiaan hyuk jae? begitukah?

“lagipula,,” ji yeon menggantung kalimatnya dalam detik yang panjang “hae,, kau harus ingat hal besar lainnya. dia kekasih sahabatmu”

Dan donghae terdiam lama. Ji yeon,, begitukah jalan pikiranmu? Apa semua ini menjelaskan betapa ji yeon akan selalu bersama hyuk jae dan tak memilih donghae bahkan sebelum ia menyatakan perasaannya?

“nah bagaimana? Apa pendapatku membantu?” Ji yeon mengejutkan donghae dengan suara melengking miliknya. Namun donghae hanya terdiam.

Perlukah donghae mengetahui yang satu ini?

“yeon,, apa kau begitu mencintai hyuk jae?”

Tatapan ji yeon berubah seketika “tentu saja!” jawabnya tegas.

“seberapa besar?”

Ji yeon memberengut tak terima “mengapa kau harus mempertanyakannya? Aku sangat mencintainya. Kau fikir apa yang membuatku bertahan sejauh ini tanpa sebuah lamaran pernikahan?”

Donghae tertegun. Jadi.. ji yeon telah sepenuhnya siap menjadi milik hyuk jae seutuhnya? Menjadi pendamping namja itu untuk selamanya? Donghae merutuki dirinya dalam diam. Dan dia adalah alasan hyuk jae tak kunjung melamar ji yeon.

“kau ingin menikah dengannya?”

Ji yeon mengangguk “kami pernah membicaraknnya dua tahun yang lalu, tapi lenyap begitu saja”

‘aku tau yang itu,’ batin donghae.

“yeon..” ji yeon menatap donghae, lalu sesuatu seperti memberikan kesan tak baik dalam hatinya. Donghae terdiam cukup lama sebelum..

“bagaimana jika aku menyukaimu? Ani, maksudku.. bagaimana jika aku mencintaimu?”

 

__

BRAK!

Pintu apartemen terbuka dengan keras. Ji yeon kemudian masuk dengan tergesa. Sempat melirik sepatu kantor milik hyuk jae untuk meyakinkan diri jika lelaki itu memang tidak sedang menemui eommanya.

Hyuk jae melirik langit yang terlihat menurunkan kristalnya. Gerimis sore itu berbeda. Jelas berbeda. Tak ada cahaya semenjak dua jam yang lalu, dan gerimis baru saja datang tanpa hujan lebat dan petir.

Langit seolah menyadari jika hyuk jae belum benar-benar sanggup untuk menerima sesuatu yang lebih berat dari tetesan lembut miliknya.

Hyuk jae menghela nafasnya lega ketika tiba-tiba lengan kecil lain memeluknya hangat. Itu park ji yeon. Tidak ada yang tau password apartemennya selain yeoja itu dan donghae.

Hyuk jae tersenyum tipis pada dirinya sendiri. Konyol. Bahkan ia masih memikirkan namja itu saat ini.

“sudah lama?”

Hyuk jae merasakan yeoja itu menggeleng dalam punggungnya. Dekapan ji yeon sungguh erat. Membuat hyuk jae tersadar akan besarnya rasa tak ingin kehilangan milik yeoja itu terhadapnya.

“bagaimana makan siangmu?” hyuk jae meletakkan jemarinya diatas pelukan ji yeon. Mengusap pergelangan tangan yeoja itu lembut untuk memberikan kehangatan.

“kau kehujanan?” tanyanya.

Ji yeon kembali menggeleng. Suasana menjadi lebih hening. Hyuk jae tau, ji yeon sedang tak ingin diusik. Ia hanya ingin menenangkan diri, dan hyuk jae memang akan selalu menjadi tujuan utamanya ketika ia merasa perlu untuk memeluk seseorang.

Hyuk jae mendesah berat saat tshirt belakangnya terasa mulai lembab. Oke, ji yeon menangis. Dan hyuk jae tidak menyukainya. Hyuk jae benci ketika ji yeon menangis. Seolah ia adalah namja yang tak mampu melindungi yeoja itu saja.

Jemarinya menarik milik ji yeon hingga pelukan itu terlepas. Ia berbalik dan menemukan ji yeon dengan mata berair dan hidung yang mulai memerah. Ia kembali mendesah gusar.

“jadi,, kau sudah tau?” tanyanya.

Ji yeon diam. Ia menunduk dalam dan kristal bening miliknya tiba-tiba menetes kembali. hyuk jae tak dapat melakukan apapun selain memajukan diri dan memeluknya erat. Sungguh, air mata ji yeon adalah kesakitan tersendiri untuknya.

“ulljima”

Namja itu mengusap punggung ji yeon lembut. Menenangkan gadisnya yang mulai bergetar hebat. Isakan ji yeon terdengar menggema, bahunya bergerak naik turun dan jemarinya menggenggam ujung tshit hyuk jae erat.

Ji yeon tertekan.

Diantara cinta mereka yang terlalu liar.

-TBC-

 

 

With love, Park ji yeon.

5 thoughts on “Ignorant Feelings 2 [Booming Heart Sequel]

  1. tata says:

    hiks hiks hiks beneran nangis ini #untung tadi sebelum pulang unnie beli tissu

    oh God. emang paling nyakitin kalau diterkam orang dekat kita sendiri. but, cinta emang ga pernah bohong. kasihan ji yang tertekan. hyuk yang serba salah. hae yang frustasi sama perasaannya.

    ok. lanjut ya .. uda g sibuk ujian kan?! apa tinggal ujian praktik?!

  2. Sapphire says:

    Wow bener bener kisah cinta yg rumit……….”

  3. al says:

    Masih adakah sahabat sebaik hyuk jae??? Sepertinya sudah langka,,
    Aduh ngebayangin hyuk jae waktu nenangin ji yeon,,pasti suasanya melo melo galau gitu hehe…
    Hae ya….berikan mereka restu atau kau akan kehilangan dua orang yg menyayangimu sekaligu
    Sekian
    Thanks^^

  4. Nathalie park says:

    dan hae oppa ttp ngasih tw jiyeon klo dy jg jth cinta sm jiyeon???wlwpn dy tw jiyeon lbh syg sm hyukjae oppa???aigooo…knp hae oppa d’sni egois bgt sich.??????
    Smkin penasaran gmn sm sikap jiyeon stlh tw perasaan’y hae oppa k’dy???atw jgn” ntr jiyeon gkn milih dua”y????

  5. puput says:

    O o..TBC..please endingna ma eunhyuk..sumpah disini sikap eunhyuk gentleman bgt..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s