The Last [HyukJae Birthday]

Happy-Birthday-King2

Happy Reading^^

 

“yak!! Aniyo anadwae!!”

Ji yeon buru-buru menutup telinganya yang kini terasa bergetar hebat. Sialan. Tidak adakah suara sopan yang lebih lembut dan menggambarkan dirinya sebagai seorang wanita?

“aku, kan, sedang belajar! Kau memintaku untuk melakukannya sendiri lalu berteriak seperti itu. Neo micheosseo?!”

Hyeri segera berjalan dengan kedua tangan yang masih bersidekap pada pinggang dan tak lama sebuah jitakan keras jatuh bertepatan pada ubun-ubun ji yeon.

“ya!! Sakit!!”

“kau ini wanita atau bukan? Cara mengaduk adonan saja kau tidak tau”

Ji yeon mendelik tak setuju. “aku pegawai sebuah majalah fashion, bukan seorang pattisier”

Lalu hyeri memutar bola matanya malas. Ji yeon memang tukang bantah. Ia selalu punya banyak alasan untuk memperkukuh jika pendapatnya tetaplah benar dan hyeri benci berdebat dengan gadis menyebalkan itu.

“aku juga seorang dancer, bukan koki. Tapi aku bisa melakukannya!”

Ji yeon kini balas memutar bola matanya. Mangkuk berisikan adonan berwarna putih susu itu berpindah tangan lalu hyeri mengkondisikan jemari lentiknya untuk mengaduk adonan. Memang terlihat berbeda, tapi apa terlalu berfungsi? Bahkan ji yeon yakin seperti apapun cara mengaduknya, adonan itu tetap akan menjadi sebuah kue saat dipanaskan.

“lagipula apa gunanya aku meminjam ini semua pada nyonya han? Kita bisa menggunakan mesin, hye. Ini terlalu menyiksa.”

Ji yeon menggusuk buku lengannya pelan. Terasa sedikit nyeri karena terlalu lama bergerak. Ia mengalihkan wajahnya ketika hyeri segera melemparkan death glare tajam itu padanya. Lalu kembali menatap hyeri penuh permohonan. “ayolah hye,, ini akan memakan waktu yang lama”

Hyeri mendengus “kita masih punya banyak waktu, park ji yeon. Ini masih pukul sepuluh pagi”

“tapi aku—“

“kau tidak akan mengunjungi salon. Aku berani bertaruh untuk itu”

Ji yeon melunturkan bahunya lemas. Ia tidak memiliki banyak alasan memang. Terutama untuk menghindari hyeri yang memang sudah kelewat mengenalnya. Tapi memasak kue didalam dapur kecil dan memerlukan tenaga super benar-benar membuat ji yeon muak.

Ji yeon bisa memasak. Bahkan ia bisa membangga akan itu. Tapi jika untuk sebuah kue,, ji yeon bahkan lebih memilih untuk menghabiskan uangnya agar tak perlu melakukan ini.

Sumpah! Mengaduk adonan yang semakin lama semakin terasa memberat itu hampir mengakibatkan persendiannya lepas. satu persatu. Dan ia benci sekali bau racikan adonan yang terasa amis. Ji yeon benci bau telur.

“lakukan seperti ini. Jangan terlalu pelan. Kau tak akan mendapatkan perubahan meski kau mengaduknya hingga sore hari. Jangan terlalu kencang juga, buku lenganmu bisa copot”

Kini mangkuk itu kembali pada ji yeon. Ji yeon mau tak mau harus menerimanya. Suka tidak suka, ia memang harus melakukannya. Ji yeon mengumpat kesal. Ck. Seharusnya ia tak meminta hyeri untuk ia jadikan guru memasak.

Ji yeon bisa tiba-tiba kehilangan pendengarannya jika terus bersama hyeri. Atau yang lebih parahnya lagi, ia bisa saja kehilangan jantungnya. Menyebalkan.

“nah, seperti itu. Lebih cepat sedikit”

Ji yeon mempercepat gerakan tangannya. Menuruti hyeri. Matanya menatap lekat-lekat adonan itu. Ia tak menyangka jika kegiatan membosankan seperti ini justru menjadi kesukaan banyak wanita.

Gumpalan adonan itu semakin membesar. Lalu tiba-tiba ji yeon berpikir, apakan hasilnya akan memuaskan? Bagaimana jika ini semua tak seperti harapannya? Atau bagaimana jika pada akhirnya berhasil tapi hyuk jae tidak suka?

Oh, hyukjae.

Ji yeon buru-buru tersadar dan melirik layar ponselnya cepat. Ia tersenyum geli. Aha! Semenjak pagi ini, ji yeon bahkan belum menghubungi hyuk jae. Sementara semua orang termasuk hyeri sudah berbondong-bondong mengucapkan selamat padanya.

Ji yeon menatap layar ponselnya sekali lagi. Foto mereka beberapa minggu yang lalu. Ketika hyuk jae sengaja menculiknya dipertengahan siang dan membawanya untuk duduk diatas puncak bukit. Sebelum kembali berangkat menuju china.

Manis sekali.

“cepat selesaikan. Jangan sibuk sendiri dengan ponselmu”

Tatapan tajam ji yeon mengarah pada hyeri. Sirik sekali. Padahal hyeri juga tengah asik dengan ponsel miliknya. Yah, paling-paling juga tengah berdebat dengan kyu hyun. Dua pasangan abnormal itu, kan, memang keterlaluan. Bahkan berdebat pun bisa mereka lakukan lewat pesan.

“kau juga sibuk dengan ponselmu”

“apa ji?”

“tidak. bukan apa-apa. Lupakan saja”

Ji yeon mendengus geram. Jika ia sedang tak butuh hyeri untuk menyelesaikan kue ini, maka mungkin ji yeon sudah bersiap-siap untuk melemparkan yeoja menyebalkan itu dari lantai apartemennya.

“ya! Jangan diperlambat! Bukankah sudah kukatakan adonannya tidak akan mengembang jika seperti ini. Kau ini bagaimana sih”

Ji yeon mendelik malas. “oh hye, ini tetap akan jadi sebuah kue! Tak akan merubah apapun”

Dan hyeri balas mendelik, namun dengan kedua mata tak setuju “tentu saja hasilnya akan berbeda. Adonan yang tak mengembang akan berpengaruh pada rasa dan minat seseorang untuk memakannya”

“memangnya kue buatanmu harus seperti itu?”

Hyeri mengangguk tegas. “ya. Dan kyu hyun sangat menyukainya”

Ji yeon buru-buru memutar bola matanya. Selalu saja membahas kue ulang tahun yang kyu hyun suka. Jika hyuk jae mencintainya, hyuk jae juga akan suka apapun yang ji yeon buatkan. Seperti tidak mengenal pria saja. Mereka, kan, memang suka memuji.

“park ji yeon!!”

“iya, apa?!”  ji yeon berteriak keras.

“tidak seperti itu!!”

Ji yeon menghempaskan pegangannya lalu berjalan menuju pantri. Mengambil sebuah mixer dan mempersiapkannya dengan cepat. Tak lama ia kembali lalu hampir menyentuhkan mixer pada adonan miliknya sebelum melihat hyeri sebentar.

Hyeri hanya duduk diam memperhatikannya.

“ini akan jadi lebih cepat, hye. Percayalah” ji yeon memberikan cengiran lucu miliknya. Dan hyeri hanya menanggapinya dengan mengedik sekali.

“terserahlah. Biasanya adonan tanpa cinta juga tak akan membuahkan kebahagiaan”

Ji yeon terdiam. “coba jelaskan” ujarnya bingung.

Hyeri segera turun dari kursi dan meraih gelas. Mengisinya penuh penuh dengan susu strawberry yang tersedia didalam lemari pendingin ji yeon lalu meneguknya hingga habis.

“entahalah. Tapi menurutku seburuk apapun rasanya jika kau membuatnya dengan tanganmu hyuk jae oppa tetap akan menghargainya. Tentu saja, ia merasa terlalu beruntung karena kau mau repot-repot hingga buku lenganmu hampir copot hanya demi kue ulangtahunnya”

 

 

__

“kau yakin?”

“eum”

“tapi berada didepan orang banyak sangat beresiko”

Ji yeon melirik arlojinya sebentar. “aku akan berusaha bergerak sehalus mungkin. Lagipula, aku sudah minta tolong hon oppa agar dia menjagakan salah satu kursi untukku”

“gila, kau akan duduk bersama ELF?”

Ji yeon mengangguk “tentu saja. Aku ingin melihat bagaimana mereka merayakan ulangtahun hyuk jae” ji yeon tersenyum manis. Tubuhnya sudah sibuk sedari tadi untuk menyiapkan segalanya. Kue, mantel hangat, tas, beberapa makanan kecil lainya dan ponsel. Ji yeon memasukkan ponselnya kedalam tas lalu kembali menatap hyeri.

“cah, aku pergi. Terimakasih untuk kue dan segalanya. Aku mencintaimu!”

Ji yeon maju, mengecup pipi hyeri cepat dan tersenyum bahagia. Sial. Sejak kapan ia seantusias ini saat ulang tahun hyuk jae? Tahun lalu bahkan ia hampir melupakannya. Jadi, apa yang ji yeon kejar?

Hyeri menatapnya tak percaya. Tapi percayalah jika hyeri lebih menyukai ji yeon yang seperti ini. Terkadang menjadi hyuk jea yang terus mengalah karena keras kepalanya ji yeon membuat hyeri cukup kasihan. Jadi jika ji yeon bisa berubah menjadi lebih aktif, kenapa tidak?

“mau aku jemput?”

Kepala ji yeon tampak dari balik jendela. Ia menggeleng pelan. “tidak usah, aku tidak bisa memastikan akan pulang pukul berapa”

Hyeri akhirnya mengangguk paham. Mobil hyeri yang berhenti cukup jauh dari tempat tujuan ji yeon segera melaju usai ji yeon melambaikan tangannya cepat.

Ji yeon segera berjalan menuju gedung. Bibirnya terus menyunggingkan sebuah senyuman dan salah satu tangannya terus menggoyang pelan box yang berisikan sebuah kue. Buatanya. Pagi ini.

Ji yeon masih sempat tersenyum meski beberapa kali bergumam bingung. Bagaimana bisa penglihatannya hanya mendapati segelintir ELF malam ini? Bukankah seharusnya ji yeon kesulitan untuk masuk mengingat ia datang cukup terlambat karena hyeri memaksanya untuk berdandan?

Apa mungkin mereka melupakan tanggal ulang tahun hyuk jae? Tapi walau bagaimanapun kehadiran hyuk jae dan tujuh orang namja tampan lainnya itu tetap saja seharusnya menyedot perhatian, bukan?

Mengabaikan rasa bingungnya, ji yeon berjalan menyusuri bagian kanan gedung. Disana, sudah ada sebuah pintu yang disediakan hon oppa agar ia bisa masuk dan melihat kekasihnya dalam jarak pandang yang lebih dekat.

Tapi lagi-lagi ji yeon terdiam. Bagian dalam gedung pun tak jauh beda dengan keadaan sebelumnya. Sedikit lebih lengang. Atau mungkin karena seluruh kru sedang sibuk untuk recording?

Ji yeon meraih ponselnya lalu segera menghubungi hon oppa. Bunyi dering terdengar, lalu pada panggilan ketiga, seseorang dibalik sana menjawabnya cepat.

“ya, ji?”

Ji yeon tersenyum. “oppa!!” sapanya ceria. “ah, aku sudah disini. Oppa dimana?”

Hening sejenak. Ji yeon mengerutkan keningnya bingung. “disini? Dimana ji?”

Ji yeon sontak semakin tak mengerti. “di,, disini oppa. Digedung sukira. Bukankah oppa yang memintaku untuk menunggu disini?”

 

 

__

‘kau dimana?’

Hyuk jae buru-buru duduk dari acara tidur santainya saat pesan pertama dari ji yeon masuk hari ini. Sial! Hyuk jae berharap ia masih ingat meski harus menjadi deretan orang terakhir yang mengucapkan selamat padanya. Tapi nyatanya, tidak. Tidak samasekali.

Yeoja itu justru bertanya ia sedang berada dimana. Gila. Apa ingatannya memang sudah separah itu hingga tak lagi bisa mengingat tanggal ulang tahun kekasihnya. Lagipula, ulang tahun hyuk jae kan hanya berjarak beberapa hari dari ulangtahunnya. Bagaimana bisa ia masih lupa.

‘didorm. Wae?’

Hyuk jae membalasnya malas-malasan. Sudah hampir pukul sepuluh malam dan ia sudah ingin beristirahat. Lelah sekali. Hyuk jae pikir setidaknya ia masih bisa sedikit tersenyum jika pesan selamat dari ji yeon masuk.

Tapi nyatanya, pesan yeoja itu justru menjatuhkan moodnya habis-habisan.

‘tidak ada kegiatan?’

Hyuk jae mengerutkan keningnya. Tumben sekali ia bertanya selarut ini. Hyuk jae meletakkan kembali earphone yang baru saja ingin ia gunakan lalu berniat menghubungi ji yeon secepatnya. Tapi belum lagi ia bereaksi, ponsel hyuk jae bergetar lebih dahulu.

“ne, yeobseo?”

 

 

__

Hyuk jae berlari cepat usai memarkirkan mobilnya cukup jauh dari keramaian. Sudah hampir pukul sepuluh malam dan sukira mungkin masih akan berlangsung. Jadi, keberadaan para penggemarnya juga tentu masih dapat diprediksi.

Hyuk jae mengendap menuju sebuah pintu disamping gedung dan memasukinya. Satu-satunya jalan aman untuk masuk dan selamat. Tungkai panjanganya segera bergerak menuju ruang recording dan segera menjelajahkan matanya menyapu ruangan.

“hyung!!”

Hyuk jae menyapa seorang yang membelakanginya. “hon hyung!!”

Dan segera berlari ketika namja yang lebih tua hampir delapan tahun darinya itu menyahut pelan. Hyuk jae berlari kecil. Dengan cardigan dan coat hitam yang ia gunakan, hyuk jae berjalan dengan terburu.

“hyung, eodiga?”

 

 

__

“bodoh!”

Ji yeon menunuduk dalam-dalam. Ia tak berpikir semua akan seperti ini. Ia pikir dengan tetap membiarkan ponselnya tanpa mengecek hal apapun ia akan baik-baik saja. Nyatanya, ji yeon bahkan baru tau jika jadwal hyuk jae yang seharusnya hari ini datang bersama SJM menuju sukira diundur menjadi beberapa hari kedepan.

Ji yeon mengusap buku lengan dan lengan atasnya yang terasa linu “mana aku tau”

Ji yeon masih menunduk tanpa menatap hyuk jae yang kini berdiri didepannya. Mereka tinggal berdua. Hampir seluruh kru sudah akan pulang dan ji yeon masih disana. Tanpa siapapun, tanpa tau akan pulang dengan siapa.

Hyuk jae menggeram melihatnya. Bodoh sekali. Ia melangkah maju lalu meletakkan telapak tangannya pada puncak kepala ji yeon. “kau, kan, penggemar setiaku. Mana mungkin kau tidak tau”

Ji yeon mendongak tak terima. “enak saja! Sejak kapan aku jadi fans setiamu?”

Hyuk jae mendengus dan mencibir cepat. “buktinya, kau tau aku dan member lain akan datang hari ini”

Kedua bola mata ji yeon membesar sempurna “itu,, aku tau dari—“

“hon hyung tidak pernah memberikan jadwal kedatangan artis pada fans. Jangan bohong! Kau pasti mengikuti salah satu fanacc-ku”

Bahu ji yeon melemas seketika. Sialan. Memangnya hyuk jae tidak bisa berpura-pura tidak tau saja? Seperti sebegitu bangganya ia jika ji yeon ternyata memang fans sejatinya. Tapi ji yeon sudah kepalang kesal. Penundaan jadwal kedatangan SJM menjadi pemulanya.

Tsk! Seharusnya ia tau hal itu jadi tidak perlu menjadi bahan perdebatan seperti ini. Seharusnya juga hyuk jae yang terkejut bukan main karenanya, bukan ia yang dikejutkan balik oleh hyuk jae dan jadwal sialannya yang terus berubah-ubah.

“hh~ sudah, ayo pulang”

Hyuk jae menarik pergelangan tangan ji yeon. Disini, dari atas atap gedung, hyuk jae bisa merasakan betapa yeoja yang katanya membawa mantel hangat tapi bahkan tak bisa menutupi gemeletuk giginya yang kedinginan itu mulai berada dalam keadaan yang tidak baik.

Ia harus segera menjauhkan ji yeon dari angin malam atau yeoja itu akan jatuh sakit besok pagi.

“t tapi..” Ji yeon menahan lengannya, membuat hyuk jae kembali berbailk dan menatapnya dengan sorot ‘apa lagi?’ miliknya. “u ulang tahunmu bagaimana?”

Hyuk jae mendengus kesal. “hoh, sebentar lagi juga akan berakhir. Memangnya itu penting untukmu? Kau bahkan tak mengingatnya dengan benar—aww sakit!”

Hyuk jae menatap ji yeon kesal. Tapi ji yeon menatapnya dengan jauh lebih kesal lagi. Tak memperdulikan hyuk jae yang menggosok kepalanya kesakitan. Lalu apa gunanya ia mengaduk adonan sampai buku lengannya hampir putus? Aish, namja sialan ini.

“aku membuatkanmu kue sejak pagi, kau tau?!” pekik ji yeon setelah memukul belakang kepala hyuk jae keras dan,, oh sial! Ia tiba-tiba tersadar cepat.

“AAA KUENYA!!!”

 

 

__

Hyuk jae tak bisa menyembunyikan tawa gelinya usai ji yeon membuka kotak berisikan kue yang katanya ia buat sendiri itu. Memang mungkin bukan saatnya hyuk jae menuntut kesempurnaan. Karena kue yang katanya -lagi- terlihat cantik itu kini sudah penyok dibeberapa bagian dengan krim yang sudah awut-awutan.

Ji yeon segera menyembunikan kepalanya kedalam lutut yang ia lipat. Mungkin, berada diatas gedung seperti ini memang bukan hal yang baik. tapi ditemukan oleh seorang namja dengan sekotak makanan yang luar biasa hancur lebih tidak baik lagi.

“jadi, ini buatanmu?”

Ji yeon mendelik tajam. “diam kau! Aku sudah berusaha membuatnya hingga buku tanganku hampir lepas!”

Dengan cepat hyuk jae mengacak rambut ji yeon “berlebihan sekali”

“ini sungguhan. Lee hyuk jae! Kau harus tau adonan kuemu ini sangat sulit untuk diolah!”

Hyuk jae mengedikkan bahunya sekali. Ya, mana dia tau. Hyuk jae kan tidak tau cara membuat kue dengan baik dan benar. Dan karena hyuk jae tau jika ji yeon juga memiliki sifat yang sama, maka hyuk jae menyimpan sedikit ragu dalam benaknya.

Ji yeon menatap hyuk jae yang terus memfokuskan pandangannya pada kue strawerry yang ji yeon bawakan. Argh! Namja itu pasti tengah tertawa puas dalam hati. Dan ia benci sekali jika sudah ditertawakan hyuk jae.

Ji yeon bersidekap. Udara diatas atap sangat dingin.

“kau yakin kau yang memasaknya?”

Dan kini ji yeon mendelik tanpa menjawab. Membuat hyuk jae seratus persen yakin jika yeoja itu memang ingin karyanya diakui. Hyuk jae tersenyum puas. Melirik arlojinya sebentar lalu menatap kue yang tak lagi berbentuk sejenak.

“masih ada waktu, mana lilinnya?”

“eoh?”

“lilin. Kau bawa lilinnya kan?”

Ji yeon mengangguk dengan wajah polosnya lalu berbalik meraih dua buah lilik yang sengaja ia letakkan didalam tas miliknya. Hyuk jae meraihnya cepat, menyalakannya lalu kini mengangkat kue itu untuk ia letakkan diatas telapak tangan ji yeon.

“nyanyikan satu lagu untukku!”

Ji yeon tersentak. Apa! Lagu?! Lee hyuk jae ini  terlihat mulai gila. Ji yeon, kan, tidak suka bernyanyi. Atau, oke, ia akui jika suaranya memang terlalu pas-pasan.

“nyanyikan sebuah lagu untukku, park ji yeon”

Oke!! Oke!!

Ji yeon diam sejenak. Lagu? Ya, memangnya lagu apa lagi yang pantas untuk sebuah perayaan ulang tahun? Ji yeon membenarkan posisinya sejenak, lalu segera berdehem sekali.

Saeng il Chuk ka hamnida! Saeng il Chuk ka hamnida!

Ji gu e seo u ju e seo, Je il saranghamnida!

Kkoppodadeogopkke,

Byeolbodadeobalkke

Sajabodayongamhage,

 Happy birthday to you

Saeng il Chuk ka hamnida! Saeng il Chuk ka hamnida!

Kkottaunnachinguya gulgogitkkesarayo

Saranghanda uri hyuk jae,,, saeng il chuk ka hamnida!!

 

“yee!!”

Ji yeon bergoyang kekiri dan kekanan lalu menyodorkan kue yang masih berada diatas tangannya pada hyuk jae. Membuat namja itu tersenyum tipis lalu segera menutup mata. Tak lama hyuk jae membuka matanya lalu meniup lilin berangka 29 itu.

Ji yeon segera mendekat, meletakkan kuenya tepat disamping mereka lalu merangkak maju. “kau meminta apa?” tukasnya tanpa basa basi.

Hyuk jae yang sudah tau akan seperti apa pertanyaan ji yeon justru tak memperdulikannya. Namja itu segera berputar, menukar posisinya dan kembali pada keadaan mereka yang masih duduk dipinggiran atap gedung.

“ya! Kau minta apa?” tanya ji yeon mengulangi.

“hanya rahasia antara aku dan tuhan”

Ji yeon mendecak kesal “sebagai kekasimu seharusnya aku boleh tau” ia ikut menjuntaikan kakinya dipinggiran atap gedung lalu memberengut.

Hyuk jae terkekeh geli “aku masih punya omma appa dan sora noona sebelum mendahulukan dirimu. Dan, ini bukan lagi rahasia jika kau sampai tau”

Ji yeon kembali mendengus kesal. Kepalanya tanpa tedeng aling-aling segera menyandar dan bertumpu pada bahu hyuk jae. Dan namja itu membiarkannya. Usai berada dalam banyak aktifitas yang padat memang sangat melelahkan. Tapi hyuk jae rela menukar seluruh waktu istirahatnya jika ji yeon bisa menjadi semanis ini.

Ji yeon memang gadis yang manja. Tapi bersikap seperti itu hanya ia lakukan jika sedang bersama hyuk jae. Bukan ditempat seperti ini. Dan terkanag, hanya terkadang, hyuk jae ingin melakukan hal yang seperti ini.

Bermesraan tanpa perlu memikirkan akan ada banyak orang yang melihat atau paparazi dan fansnya sendiri. Terkadang hyuk jae bahkan ingin memberitau dunia jika ji yeon adalah miliknya.

Tapi, agaknya hal seperti itu belum harus terjadi.

Hyuk jae tersenyum lalu mengacungkan telapak tangannya yang menengadah.  “mana kadoku?”

Ji yeon terperanjat. “huh? Kado?” ulangnya. Ji yeon menarik kepalanya lalu menatap hyuk jae terkejut.

“ya, kadoku. Mana?”

“i itu—“

“jangan katakan jika kau tak mempersiapkannya!”

Bahu ji yeon melemas. “seharusnya kue itu bisa jadi kado untukmu. Kau, kan, tau aku benci memasak kue. Tapi aku melakukannya untukmu. Membuat kue itu susah sekali, kau tau? Apalagi kue mu ini rasa strawberry. Sulit sekali memperkirakan banyak halnya. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah rusak”

Ji yeon menunduk menatap jalanan dibawahnya. Menatap mobil kecil-kecil yang melintas dan mulai berpikir jika pepohonan pada halaman gedung itu berguna sekali untuk menutupi keberadaan mereka.

“aku tidak mau tau. Aku ingin kadoku sekarang”

“ya! Kau tuli? Aku tidak membawa apapun, lee hyuk jae”

“berikan aku apa saja”

“tapi aku tidak memiliki apapun”

“kau punya banyak hal, park ji yeon”

Ji yeon terkejut dan menoleh kesamping. Dan disana kepala hyuk jae tau-tau sudah begitu dekat dengan wajahnya. Ji yeon menatap kedua bola mata hyuk jae lekat-lekat. “kau ingin melakukan apa?” tanyanya spontan.

Hyuk jae menyeringai lebar. Bahunya mengedik “entahlah, aku juga tidak tau. Kurasa kau yang paling mengerti jalan pikiranku, sayang”

Ji yeon memutar bola matanya malas. “hanya untuk ulang tahunmu saja!” ancamnya tegas.

Jemari ji yeon segera bersarang pada rahang tegas hyuk jae. Rahang yang selalu ia suka kapanpun itu. Rahang tegas yang selalu menimbulkan kesan seksi pada lelakinya itu. Lalu tak lama bibir mereka menyatu.

Ji yeon menahannya lama. Lalu melepaskannya. Menatap kedua bola mata hyuk jae yang tertutup lalu terbuka perlahan dan menatapnya penuh minat. Sejujurnya, ini kali pertama mereka melakukannya ditempat seperti ini. Tempat dimana ada banyak orang yang bisa saja melihat mereka. Dan ji yeon pikir rasanya tidak buruk.

Tapi untuk kali ini ji yeon sedikit tidak perduli. Karena menjadi anak nakal terkadang terdengar menyenangkan.

Hyuk jae tersenyum tipis. Jemarinya ikut bersarang pada jemari ji yeon yang masih berada pada rahangnya. Menggenggam jemari ji yeon lalu mengecupnya. Menariknya kedalam pelukan.

“terimakasih” bisiknya lembut.

Ji yeon hanya menggumam dan mendongak dari dada hyuk jae. Dan namja itu mengambil kesempatan untuk kembali mengecup bibir merah ji yeon. “untuk semuanya. Untuk kue, untuk hadir malam ini, untuk sedikit merepotkanku, untuk kebodohanmu dan untuk ini” hyuk jae mengecupnya kilat.

Hyuk jae kembali mengingat-ingat latihan mereka yang berakhir berantakan pagi ini karena moodnya yang luar biasa turun. Bagaimana bisa ji yeon membiarkan orang lain menjadi yang pertama. Bukankah seharusnya ji yeon-lah yang menjadi yang pertama?

Bahkan beberapa kiriman ucapan ulang tahun beseta kue yang berbondong-bondong datang pada akhirnya tak cukup untuk menghiburnya. Entahlah, hyukjae merasa butuh ucapan itu. Hanya dari ji yeon. Karena segalanya memang terasa belum lengkap jika tak ada ji yeon disana.

Kyu hyun bahkan sempat membelikannya sebuah kue. Dan hyuk jae cukup terkejut karena itu bukan sifat kyu hyun sekali. Tapi bukan masalah. Jika semua kekesalannya harus berakhir seperti ini maka hyuk jae dengan senang hati akan menerima.

Tak masalah jika ji yeon bukan yang pertama. Asalkan ia berada disekitar hyukjae, kapanpun, meski bukan bertepatan dengan pukul 00.00 , meski tak ada kado dan hanya tersisa kue berwarna putih dengan hiasan strawberry. Ditambah dengan kenyataan jika ji yeon sudah mau bersusah payah membuatnya sendiri, maka hyuk jae sudah merasa begitu bahagia.

“emm,, ya,, sepertinya menjadi yang pertama bukanlah hal yang paling tepat. Tapi menjadi yang paling terakhir itu penting sekali. Jadi, terimakasih sudah menjadi yang terakhir untukku” hyuk jae melirik arlojinya lalu menunjukkannya pada ji yeon. Sudah pukul duabelas lewat lima belas menit. Dan ji yeon-lah yang terakhir.

“eoh! Aku yang terakhir, ya?”

Ji yeon bergerak girang dalam pelukan hyuk jae. Membuat namja itu semakin geram pada tingkah kekanakannya. Hyuk jae melepaskan pelukannya pada ji yeon lalu segera berdiri. Usai itu, ji yeon mengikutinya dan berhenti ketika tubuhnya menghangat.

Kini, coat hitam hangat yang penuh dengan bau hyuk jae itu mengelilingi tubuhnya.

“dan terimakasih karena kau masih mau menungguku ditengah cuaca yang seperti ini. Sekarang sebaiknya kita pulang, kau bisa sakit”

Ji yeon mengangguk manis. Hyuk jae segera meraih tas ji yeon, menyandangkannya lalu kembali berjongkok. Tak lama, kotak yang semula terbuka kini kembali tertutup rapat. Dan ji yeon hanya mampu tersenyum ketika namja itu masih memiliki niat untuk menyimpan –atau sukur-sukur mau memakan- kue buatannya.

“ayo,,” bisiknya.

Ji yeon berjalan mengikuti bimbingan hyuk jae. Dimalam yang telah berganti itu, mereka belajar banyak hal. Tentang bagaimana hyuk jae yang akan terus menghargai ji yeon demi hubungan mereka. Atau tentang bagaimana setiap detik terasa lebih berarti meski tanpa sebuah tanggal yang begitu penting jika mereka sudah bersama.

Sesederhana itu saja.

 

‘kau ingin tau harapanku?’

‘eum! Bolehkah?!’

Hyuk jae tersenyum dan kembali memasukkan ji yeon kedalam pelukannya. ‘aku hanya meminta agar tuhan menjadikanmu yang terakhir. Tak perduli dalam hal apapun. Bagiku, aku hanya ingin berakhir pada dirimu. Itu saja’

‘eung?’

‘hmm, wae?’

‘tidak, itu,,, terdengar manis’ ji yeon mendongak, lalu berjinjit dan mengecup pipi hyuk jae sekilat yang ia mampu. Tapi ini sudah terlalu terlambat ketika jemari hyuk jae kemudian menahan tengkuknya dan menekan bibirnya dalam-dalam pada bibir ji yeon.

‘lagipula,, lee hyuk jae, aku tidak pernah keberatan jika kau memang akan berlabuh padaku’

‘hmm?’

‘ayo sama-sama menjadi yang terakhir!’

 

-FIN-

Ini cerita apaan?! Mhihi,, aneh banget, kan?

Tapi, ya, begitulah. Sedikit sulit mendapatkan inspirasi belakangan ini. Dan entah mengapa mungkin saya begitu larut dengan kehidupan twitter –karena,, gila! Dia update foto terus!!-. jadi, seperti ini saja, cerita singat saya yang sama sekali tidak luar biasa-_-

Tapi,, ekm,,

Lemme say something.

Happy Birthday Lee hyuk jae!! Ih, engga terasa udah tiga tahun saya bisa merayakan hari special ini. Dan, entahalah, semua esensi bahagia dan rasa meletup-letup dalam hati ini engga pernah berubah. Terimakasih karena hingga ditahun ketiga ini kamu tetap bisa tersenyum, karena senyuman kamu itu nafas saya /lebay/. Saya gak pernah berharap yang muluk-muluk, tapi harapan saya untuk kamu memang sangat banyak. Sangat amat banyak, malah.

Yang pertama, tentu saja saya harapan agar kamu dan seluruh hidup kamu akan semakin lebih berarti. Semoga panjang umur, dan selalu ada untuk saya. Saya gak butuh tindakan yang macam-macam kok, cukup tetap sehat dan berdiri tegap dengan sebuah senyuma saja, itu sudah lebih dari cukup buat saya. Saya sayang kamu, dan saya paling engga bisa kalau udah rindu kamu. Jadi, untuk hari ini, untuk update-an twitter yang kelewat banyak, saya mengucapkan terimakasih:) senang sekali rasanya kamu bisa melewati hari istimewa ini dengan banyak cinta dari semua orang. Makanan, bunga, greeting card, kue, dan,, itu, papan iklan yang bisa kamu lihat dijalanan kota, itu juga hadiah buat kamu. Dan saya, salah satu orang dibaliknya. Mhihi,, senang sekali bisa melakukan ini. Melakukan banyak hal istimewa dihari dimana lelaki sempurna seperti kamu dilahirkan. Dan,, saya bingung harus bagaimana mengungkapkannya. Tapi jujur saja, saya bahkan bisa menjadi manusia super sibuk untuk ulangtahun kamu yang mungkin engga pernah tau kalau saya ada didunia ini /sedih/, tapi its ok, saya justru merasa begitu berarti dengan semua ini.

Jadi, lee hyuk jae. Terimakasih untuk semuanya. Untuk tetap bernafas dan hidup dengan baik. untuk menjadi manusia super yang selalu jadi kebanggan saya. Untuk terlahir dan menjadi super junior eunhyuk. Untuk tetap tersenyum dan menari. Untuk tetap melakukan segala hal baik dan untuk eksistensi kamu dalam hidup saya. Terimakasih banyak.

Saya sayang kamu, Lee hyuk jae.

My precious:’)

 

With love, Park ji yeon.

 

 

6 thoughts on “The Last [HyukJae Birthday]

  1. aaah, lee hyuk jae..
    happy bday, selamat ulang tahun buatmu..
    selalu yg terbaik unukmu..

    ide ceritanya ga mainstream.. banyak yg berharap jd yg pertama, tapii yg terakhir lbh penting, lbh dikenang dan lebih spesial (menurut aku).
    dan teteup bhasanya ga susah2 utk dimengerti.. ini salah satu yg aku suka dri tulisanmu..

    tpii overall, aku suka harapan2 yg km cantumin dq, bikin hati adem dh ngebacanya.. tuluuussss banget.. sumpah, aku ngebaca sampe merinding loh..
    aku aminin deh.. amiiiinnn..

    satu lagi..
    selamat menempuh ujian nasional..
    berdoa, berusaha, dan jangan patah semangat..
    *kisshug

  2. @uliezgaem says:

    hahahaaa kepancing juga akhirnya😀

  3. hyukjae ultah yg ke 28 kan tahun ini? berarti ada typo kayaknya dian..kamu nulis 29..but overall aku jg senyam-senyum sendiri bacanya.. aku baru nyadar satu hal
    YA AMPUN!! MEREKA BENERAN UDAH OM-OM RUPANYA// hahahha g papalah, makin tua makin asik bisa di ajakin tiiiiiitttttt *sensor hahahah.. oke, abaikan koment g jelas ini

  4. tata says:

    unnie pikir kamu uda hiatus…
    ternyata update🙂
    manis banget ya ji disini. omigot… itu kue… sayag banget jadi hancur. padahal bikinnya susah
    kamu bener tentang mereka yang uda mulai jadi ahjussi tampan di twitter tempo hari. jadi tambah yakin kalo mereka uda punya gebetan #ceile basaku
    but, i hope mereka bener-bener bahagia dengan kisah mereka
    n buat hyuk-ppa… happy to be old ^_^

    itu si febby… seneng banget ma namja mateng y?!😛

  5. ai-sparkyu says:

    enggak aneh kok, ini manis bgt..
    ternyata Ji bisa juga bersikap manis kayak gitu.. apalagi sampe bikinin kue..
    dan aku suka bgt sma wish nya eunhyuk..
    btw, happy birthday lee hyuk jae..🙂

  6. keiobi says:

    Wuahhhh…
    Daebak eon..

    Q kira nie ff sad ending..

    Sungguh TDK bsa dpredikskan endingny gmn..

    Kren eon..

    Lnjut trus ya bwt ff ny ..
    Keep fighting..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s