[STILL YOU] : Second~

jihyuk

Happy Reading^^

 

Saat itu, saat hyuk jae berpikir jika ia telah mencintai ji yeon dengan segenap perasaan miliknya, hyuk jae yakin bahwa meninggalkan ji yeon adalah hal bodoh yang tak akan pernah ia lakukan.

Hyuk jae jelas tak bisa hidup tanpa ji yeon. Kenyataan yang ia sadari bahkan semenjak pertama kali ia meminta wanita itu menjadi kekasihnya. Hyuk jae menyukai segala hal tentang ji yeon. Sifat cerewet dan manja miliknya. Sifat ji yeon yang moody dengan tempramen yang bisa hyuk jae kendalikan hanya dengan sebuah pelukan hangat. Dan hyuk jae menyukai kenyataan bahwa ji yeon hanya akan menurut padanya.

Kenyataan jika hanya ia yang bisa memeluk ji yeon dan hanya pelukannyalah yang selalu ji yeon terima.

Ia bergantung pada wanita itu. Hyuk jae bahkan beberapa kali hampir kehilangan nafas ketika banyak berita yang berpotensi mengguncang hubungan mereka. Padahal ia sendiri tau jika ji yeon bukan tipe pemikir dan akan mengambil keputusan dengan sembarangan.

Yeoja itu akan menanyakan langsung padanya. Dan hal itu semakin membuat hyuk jae yakin jika ia dan ji yeon bisa bertahan. Terutama saat ji yeon bisa menerima kesibukannya yang selalu terjepit waktu.

Ji yeon bahkan pernah mendatanginya menuju dorm karena saat itu hampir satu bulan hyuk jae tak lagi menampakkan diri didepannya. Tapi hyuk jae justru merasa menjadi terlalu berarti. Menurutnya, seperti ia yang tak bisa melupakan ji yeon, yeoja itu juga merasakan hal yang sama padanya.

Tapi itu jelas dulu. Saat hyuk jae masih yakin jika ia dan ji yeon sama-sama memiliki cinta yang sama besar. Sama-sama yakin jika satu sama lain akan selalu terikat pada sebuah kesetiaan. Dan saling percaya jika satu sama lain tak akan pernah mendua.

Ji yeon bukan tipikal gadis yang akan melirik banyak lelaki. Justru memiliki hyuk jae adalah apresiasi terbesar yang pernah ia miliki dalam hidup. Wanita itu menyukai hyuk jae bertahun-tahun silam. Dan pada akhirnya, kefanatikan ji yeon justru berbuah pada pertemuan yang membawa mereka hingga pada saat ini.

Semenjak saat itu, ji yeon mulai sadar jika seharusnya ia memang tak memuja hyuk jae berlebihan. Karena usai tau seluruh rahasia pribadi hyuk jae, ia justru merasa jika ternyata hyuk jae tak ubahnya lelaki biasa. Ia hanya diberikan beberapa kelebihan dengan salah satunya menjadi super star.

Dan, sikap itulah yang selau menjadikan hyuk jae tak pernah berpaling. Ji yeon bukan yeoja yang akan berteriak histeris jika bersamanya. Ia juga bukan penggemar yang gila dan terus menggila.

Ji yeon biasa saja. Salah satu karyawan yang bekerja pada perusahaan busana nomor satu itu justru lebih terlihat seperti gadis yang terlalu pasif. Ia benci mendatangi konser hyuk jae hanya untuk berteriak dan mengacungkan lightstick.

Itu bukan gayanya sekali.

Tapi justru hal semacam itu yang hingga kini terus bersemayam dalam ingatan hyuk jae. Berada pada titik terlemahnya bahkan disaat hyuk jae tak lagi memiliki kekuatan untuk mengingat segala kebahagiaannya bersama yeoja itu dulu.

Mereka telah berlalu lama. Hampir empat bulan dan hyuk jae belum bisa barang sedetikpun melupakannya. Ji yeon, tetaplah ‘dia’ yang terus tumbuh dengan rasa menyakitkan didalam hati hyuk jae.

“hyuk-ah, kau ingin makan dimana?”

Hyuk jae bahkan tak pernah tau jika saat itu masih ada kehidupan disekitarnya. Hyuk jae pikir, selain hatinya, pikiran dan seluruh indranya juga hampir mati.

Merasa tidak ada jawaban donghae berpaling menatap bangku belakang yang terasa hening. Donghae mendesah ketika manik hitam miliknya menangkap sosok hyuk jae yang masih terdiam menatap luaran jendela mobil.

“hyuk?!”

Hyukjae tampak sedikit bergetar, lalu tanpa menoleh ia bergumam. “hmm?”

“kau tidak mendengarkanku?”
Hyuk jae mengganti posisinya menjadi lebih nyaman. “maaf” namja itu menatap lurus kedepan dengan dua bola mata yang kosong lalu menutupnya erat “aku mengantuk”

Donghae kembali mendesah berat. Perubahan hyuk jae tentu bukanlah sesuatu yang membuatnya harus terkejut. Donghae sadar betul bagaimana namja itu merubah sikapnya beberapa waktu belakangan.

“kau ingin makan dimana?” tanya donghae.

“aku tidak lapar”

Donghae berbalik tak perduli. Terkadang, ia sangat ingin menghentakkan kepala sahabatnya itu pada dinding beton. Agar setidaknya ia sadar, atau sukur-sukur jika kepala hyuk jae bisa pecah. Setidaknya, ia tak perlu menyaksikan bagaimana namja itu berubah menjadi manusia yang tengah sekarat dan meregang nyawa secara perlahan.

Hyuk jae tak pernah sekalut ini. Setidaknya, hal-hal semacam hilangnya konsentrasi dan perubahan sikapnya yang menjadi dingin seperti ini belum terjadi. Belum, sebelum ia kembali bertemu park ji yeon.

Donghae tau, bahkan mungkin terlalu tau jika hyuk jae tak lebih dari seorang pria yang kini tengah merindukan sosok’nya’. Tapi nyatanya, karena donghae sendiri tau alasan dibalik mengapa hyuk jae harus berpisah dengan ji yeon, maka ia tak sekalipun berniat untuk bertanya.

Hal-hal semacam itu sudah pernah ia prediksi. Bahkan sejak awal mereka menjemput kyu hyun satu minggu yang lalu.

Yah, semua mulai berjalan normal. Semenjak lee teuk mulai kembali tersenyum dan berani menunjukkan ketegarannya. Semua memang berjalan menjadi lebih baik, tapi sepertinya tidak dengan hyuk jae.

Donghae menghembuskan nafasnya gusar. Ia belum sepintar itu dalam menasihati orang lain. Tapi jika kasusnya seperti ini, donghae bahkan merasa jika berteriak tepat didepan wajah hyuk jae dan menyadarkannya jika ia masih merindukan ji yeon mungkin adalah jalan yang terbaik.

“kita makan ditempat biasa”

 

__

Hyuk jae memutar sendoknya pelan. Nafasnya berhembus ringan meski terkadang tetap menyakitkan.

“kau tidak makan?”

Hyuk jae tak menyahut. Pertanyaan semacam itu sudah terlalu sering ia dengar. Dan terkadang terdengar berlebihan. Meski hyuk jae sadar sikapnya-lah yang memaksa setiap orang harus bertanya.

“aku tidak lapar”

Hyuk jae tak berbohong. Bukankah sudah ia katakan jika ia memang tidak lapar. Perutnya sedang tak ingin diisi sesuatupun. Dan jikapun iya, hanya akan ia lakukan demi kebutuhan naluriah. Maksudnya, hyuk jae akan makan. Jika ia merasa itu perlu.

Entahlah, mungkin kekosongan menjadi sesuatu yang sangat berarti baginya, kini.

Seseorang yang duduk tepat disebelah kanan donghae berdesis lalu menghentakkan sendoknya putus asa. “hyuk, aku tidak mengerti apa yang terjadi padamu. dan meski kau tetap menjadi seorang profesional selama yang ku tau, kau tetap tidak boleh seperti ini!”

Hyuk jae menutup matanya erat. Kepalanya berdenyut menjadi lebih sakit. Banyak godam yang menghujamnya hingga kini kesakitan itu ia jadikan sahabat.

“aku selesai” hyuk jae berdiri, tak memandang siapapun kecuali porselen putih yang masih berisi makanan miliknya “dan aku ingin pulang” lanjutnya.

 

__

Malam itu, seoul menutup diri dari bintang. Jelas, penghias malam itu tak lagi terlihat barang satu pun. Dan hembusan dingin angin malam menjelaskan betapa langit juga sedang tak ingin digubris.

Ia ingin sendiri, dan bertindak sesuai kemauannya.

Awan menurut saja, meski terkadang langit tak adil menurunkan kesakitannya dalam gelap. Dalam ruang remang yang tak terjangkau cahaya. Sedangkan bahagia bisa saja meredam sunyi dalam pahit dan kelam.

Gerimis tiba-tiba saja datang. Menyongsong dinginnya kota yang tengah dilanda minus. Salju hampir menumpuk, dan kini tetes kecil bekas prihatin dunia menghampirinya.

Hyuk jae berdiri didepan baklon dorm. Tepat didepan pintu kaca yang terkadang berembun, menjadi lebih buram dan dengan cepat ia bisa menuliskan sebuh nama.

Ini hampir natal. Tinggal menghitung hari dan kebahagiaan natal itu akan menghampiri mereka dengan cepat.

Anehnya, hyuk jae tak begitu sadar. Ia bahkan baru menyadari natal akan menyongsong ketika pagi ini, kado dari sora noona datang. Menghentaknya dengan sebuah kotak kosong berisikan sebuah undangan makan malam keluarga.

Hyuk jae terdiam. Bodoh! bahkan ia tak ingat jika ia pernah menjanjikan acara berkumpul bersama dimalam natal pada keluaranya. Dan lebih sialnya lagi, hyuk jae tak bisa merealisasikan hal semacam itu ditengah jadwal yang entah mengapa ia setujui-setujui saja.

Hyuk jae tersenyum lemah. Oh, natal. Jadi, mana hadiahnya?

Pintu dorm tiba-tiba saja terbuka dan hyuk jae dengan cepat tau jika ia akan berada dalam sebuah masalah besar.

“aku benar-benar tidak mengerti. Bisa kau jelaskan sesuatu padaku?”

Nah! Menjelaskan.

Salah satu yang hyuk jae masukkan dalam daftar kebenciannya semenjak beberapa bulan lalu.

“aku tidak lapar. Dan ingin pulang. Apa itu tidak cukup jelas, hae?” jawabnya tenang.

Hyuk jae dapat merasakan jika seseorang berjengit dibelakangnya. Tentu saja, memang sikap yang bagaimana yang hyuk jae tak ketahui dari seorang lee donghae?

“aku benar-benar tidak lapar” hyuk jae berbalik, menatap donghae dalam sebuah penjelasan tanpa perkataan. Semua tergambar dalam matanya dan entah bagaimana caranya mampu membuat donghae tak lagi perlu bertanya.

Sial. Donghae tak pernah tau apa saja hal membahagiakan yang ji yeon berikan pada hyuk jae. Terakhir ia melihat, hyuk jae menjadi namja yang paling brengsek memang empat bulan yang lalu. Tapi hanya empat hari usai mereka berpisah. Karena mereka sendiri dituntut untuk profesional, jadi donghae tau topeng setebal apa yang hyuk jae gunakan.

Namja itu sukses menyembunyikan kepahitan perasaannya. Ia justru hadir dengan sosok yang lebih serius serta super sibuk. Album duo mereka yang ia minta untuk dipercepat, kegiatan sosial dan bahkan ia lebih memilih untuk mengikuti henry menuju beijing hanya untuk sesuatu yang ia sebut sebagai ‘rileksasi’ meski hanya dalam waktu dua hari.

Tapi hyuk jae memang seperti itu. Semenjak awal donghae mengenalnya, hyuk jae memang merupakan sosok yang terlalu pekerja keras. Dan kini hal seperti itu sukses ia terapkan dalam perasaanya.

Ji yeon mungkin memiliki eksistenti berlebihan dalam hidupnya. Tapi selama hyuk jae merasa nyama-nyaman saja dengan keputusannya, donghae tak masalah. Baginya, meski ia mengenal ji yeon cukup dekat, keputusan hyuk jae bukanlah sesuatu yang perlu ia perdebatkan.

Donghae mendukung segala keinginannya. Tapi tidak jika sudah seperti ini.

Donghae menatapnya lekat-lekat. Dan sosok yang dulu selalu penuh tawa itu kini mendadak hilang dari figur seorang lee hyuk jae. Ia menjadi lebih hampa. Dan donghae merasa jika kerinduan sahabatnya pada yeoja itu telah melebihi batas maksimal.

“kau harus menemuinya!” tutur donghae mengambil kesimpulan.

Hyuk jae terdiam cukup lama. Matanya tiba-tiba kembali kosong. ia menatap apapun selain donghae, setidaknya, apapun yang tidak menuntutnya untuk menjawab.

“tidak”

Hyuk jae akhirnya menjawab. Dan tak ingin dibantah. Kakinya berjalan pelan usai pernyataan donghae cukup membuatnya hampir oleng dan jatuh. Ia masih kuat. dan meski sesuatu seperti melemaskan lututnya, hyuk jae ingin tetap tampak kuat didepan siapapun.

Namja itu menidurkan diri pada ranjang dan menutup kedua matanya dengan lengan. Sungguh, ia begitu ingin donghae mulai menyumpal diri dan tak lagi berbicara. Meski hyuk jae tau hal seperti itu sedikit tidak mungkin.

Donghae memiliki sifat simpatik yang terkadang terlalu berlebihan.

Benar saja. Namja itu medengar gemuruh suara langkah kaki yang kemudian disusul gebrakan pintu kamar. Seseorang menarik selimutnya dan duduk tepat dihadapannya.

Hyuk jae menghela nafasnya putus asa. “tidak. Itu tidak mungkin sekali terjadi, lee donghae!” keduanya terdiam.

“wae? Apa yang salah dengan menemuinya?”

Hyuk jae benar-benar berpaling. Jika ia bisa, ia juga ingin berlari dan menemui yeoja itu. tapi sekali lagi, jika ia bisa. Nyatanya, banyak alasan yang terus menghalanginya untuk berpikir seperti itu.

Ini kehidupan nyata. Semua harus berjalan serba realistis.

“karena aku yang mengakhiri semuanya” tandas hyuk jae pelan. Benar. Ia yang mengakhiri segalanya. Ia yang menghilang dan pergi. Ia yang ingin diantara mereka tak lagi ada ikatan. Ia yang ingin berjalan sendiri-sendiri.

Lalu se-realistis apa hidupnya jika tiba-tiba ia datang dan berkata ‘aku merindukanmu’? tidakkah itu terdengar begitu memilukan? Dan harus hyuk jae kemanakan harga diri ji yeon? Ia akan terlihat seperti wanita murahan jika hyuk jae terus datang dan pergi semaunya.

Sial. Bahkan ia masih sempat memikirkan harga diri’nya’ saat batin hyuk jae sendiri hampir sekarat.

Donghae mengacak rambutnya kasar “bukan berarti kau tak boleh mendapat kesempatan kedua, bukan?”

Benar, bukan berarti ia tak bisa mendapatkan kesempatan itu. tapi bukan yang seperti itu yang hyuk jae maksud. Ia mengerti bagaimana donghae selalu berusaha memberikannya pendapat meski sebagian besar tak begitu ia lakukan.

Tapi kali ini berbeda. Hyuk jae merasa jika donghae tak mengerti. Tak ada yang mengerti masalah ini kecuali dia dan,, ya, mungkin saja ji yeon.

“aku memang merindukannya, hae. Tapi kembali bukanlah jalan yang tepat.”

 

Dan ego itu kini tumbuh sebagai salah satu penghalan diantara mereka.

 

 

-TBC-

udah lama banget rasanya engga ngupload FF-__- maaf ya, dua puluh empat jam sekarang serasa ga cukup. masih banyak TO dan UN malah tinggal dua minggu lagi :’D ini still you yang kedua. ceritanya gak bersambung, tapi aku bikin drabble per part. maksudnya, ya,,, gitudeh. susah ngejelasinnya😦

dan, FC juga udah lama banget kayanya gak diupload. maaf, nanti kalau syudah selesai direvisi insyaallah aku post hari ini juga.

With love, Park ji yeon.

5 thoughts on “[STILL YOU] : Second~

  1. ah…. ini makin sru but overall sebenarnya aku masih penasaran ama another man-nya jiyeon, siapa dia dan sejauh apa hubungan mereka sampe hyuk ngotot mau pisah atau itu hanya salah faham dengan bumbu sedikit kekhilafan🙂 disini jelas banget klo hyuk terlalu parah setelah perpisahannya dan jiyeon berlangsung dan aku suka moment dimana hyuk terluka hahahah😀 sekali2 boleh dia dibuat cemburu lebih parah, mungkin makin asyik xixixix

  2. semakin kesini dibuat penasaran..
    eeeh, hyukjae bener2 segitu bgt setelah putus dr jiyeon..
    seperti separuh jiwanya hilang.. *tarikanang
    miriss dh tau hyukjae sprti itu, tpi yaa mau gmna lagi.. dia yg memutuskan, harus bisa doong konsisten..
    jiyeon baik2 saja..??

    komen diatas demen bgt ngeliat hyukjae menderita..

    saeeng, fokus ajj dulu sm TO, Ujian dan segala macamnya..
    aku ttp setia kok nungguin ff km dipublish *kedip2..

  3. fikaarni16 says:

    maaf ya aku belum baca ff apapun di sini, aku juga komen di sini sama sekali ga baca dulu, tapi aku mau ngasih tau..
    setelah aku cek hampir di semua ff kamu, kok pict boram, dibilangnya Jiyeon? cast2 yang selama ini kamu pakai kan itu Jeon Boram bukan Park Jiyeon, tapi kok kamu nyebutnya Jiyeon? apa aku salah paham? maaf sekali lagi, soalnya aku buka wp ini karna tertarik dengan couple hyuk jae-boram, eh pas kebuka malah kamu nulis semua pict Boram dengan nama Jiyeon..

  4. tata says:

    ngenes banget hyuk disini hiks hiks T.T
    ini ceritanya bener2 bikin greget. egois. harga diri. cinta. rindu.
    aaaaaa campur aduk ini perasaan >_<
    iya saeng… semangat buat menghadapi TO n UN yang sebentar lagi dihelat🙂

  5. puput says:

    Update soon thor..makin bikin gemes aj c eunhyuk…tapi,author ada niat bwt critain cow yg nyium c ji yeon ga di next chap?
    *wink-minta penjelasan untuk PILnya ji yeon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s