Stubbornity

Bjf9rGJCYAEY87B

Happy Reading^^

 

 

Ji yeon buru-buru masuk saat flip pintu apartemennya terbuka. Kedua mata gadis itu terlihat sangat sayu dengan kantung mata yang hampir setebal kemasan sereal. Yeoja itu segera melangkah, lalu terduduk pada lantai marmer untuk sekedar membuka tali sepatu yang ia gunakan.

Sial! Ji yeon belum pernah berpikir jika menjadi seorang pemimpin redaksi berarti akuivalen dengan menghabiskan hampir seluruh waktu istirahatnya didepan komputer. Dan, demi tuhan ia bahkan masih perlu training dua bulan lagi untuk menduduki posisi itu.

Ji yeon menghela nafasnya gusar. Tubuhnya seperti tidak lagi bertulang. Dan ia butuh sesuatu semacam tempat yang layak untuk beristirahat setelah hampir dua puluh empat jam menatap garang layar komputer.

Bunyi lemparan sepatu menggema. Siapa perduli. Toh ia sedang berada dalam apartemennya. Dan meskipun ini sudah sangat-amat larut memasuki jam tidur, ji yeon tetap bisa tenang. Mengingat selain ia sendiri, ia juga bukan tipe yang suka dibantah.

Setelah berjalan dan hampir mendekati sofa bed yang –ya tuhan, kali ini terasa sangat amat jauh- terletak ditengah-tengah ruangan, tanpa perduli banyak hal ji yeon segera menghempaskan diri. Menutup kedua matanya dengan lengan lalu hampir mendengkur.

“jadi selama aku tak ada kau pulang selarut ini?”

Samar-samar ji yeon mendengar suara. Seperti suara seseorang yang pernah ia kenal. Dan ketika membuka mata dengan usaha yang super duper keras, ji yeon menemukan hyuk jae tengah berdiri, bersandar pada dinding dengan tangan yang berlipat didada.

“oh, kapan kau datang?” racau ji yeon.

“hampir empat jam yang lalu. Dan coba jelaskan mengapa gadis sepertimu harus pulang pukul sebelas lewat dua puluh menit” hyuk jae menatapnya dengan tatapan tajam yang lumayan membuat ji yeon sadar. Tapi lumayan saja tidak cukup untuk menutupi rasa kantuk yang kini menderanya. Ia butuh tidur.

“hngg? Kenapa kau pulang?”

Ji yeon tak perduli lagi. Entah apa yang ia lontarkan bermanfaat untuk menjawab pertanyaan dari hyuk jae atau tidak. yang jelas, selagi ia bisa, ia akan mencoba untuk berbicara. Lagipula, apa namja itu tidak melihatnya? Ia kan sudah terlihat seperti pasien-pasien sekarat. Mengapa masih banyak tanya?

Hyuk jae berjalan maju, lalu berjongkok tepat didepan sofa. Berhadapan langsung dengan ji yeon. Tangannya menarik lengan yeoja itu lalu menelisik air mukanya. “kau mabuk?”

Dan,, TUK! Kepalan tangan ji yeon segera bersarang pada kepala lelakinya. “mabuk kepalamu!!” protes ji yeon yang entah mengapa kali ini merasa jika jawabannya sungguh sempurna.

Hyuk jae terdiam, lalu tersenyum tipis. Dasar gadis ini. Tubuhnya kemudian berdiri dan menyelipkan salah satu lengannya pada tungkai ji yeon.

“kau mau apa?”

Dengan kedua mata yang masih tertutup dan bibir yang hanya terbuka kurang dari seperempatnya saat berbicara, hyuk jae akui respon gadis ini masih tangkas. Suaranya memang terdengar seperti suara kumur-kumur. Tapi tak apa, asal hyuk jae masih mengerti maka ia tak akan keberatan.

“membawamu menuju ranjang” bisiknya seduktif.

Ji yeon yang kepalang tak sadarkan diri segera mencengkram sisi kiri coat hitam hyuk jae dan meracau dengan suara yang semakin kecil. “kau mau mati, hah?” ancamnya seperti cicitan anak burung.

Dan hyuk jae tersenyum. Salah satu tangannya kemudian terselip pada punggung ji yeon, dengan sekali gerak segera menggendongnya lalu menatap wajahnya lekat-lekat. “kalau begitu biarkan aku mati daripada melihat tulang-tulangmu remuk karena harus tertidur disofa kecil ini”

Ji yeon tak menyahut lagi. Hanya setelah empat langkah hyuk jae berjalan, jemari yeoja itu segera mengalung tepat dileher hyuk jae. Kepalanya yang terkulai bersandar pada bahu dan terselip pada leher hyuk jae.

“kenapa kau pulang?” racau ji yeon lagi.

“kenapa kau harus tau?”

Pelukan ji yeon mengerat. “itu bukan jawaban dari pertanyaanku, lee hyuk jae”

Hyuk jae tak ambil pusing. Bahkan dalam kondisi tak bersahabat pun, ia masih sempat mendebat hyuk jae. Benar-benar hoby yang luar biasa. “kau bahkan tak menjawab satupun pertanyaanku” kesal hyuk jae.

Kepala ji yeon mendongak. “pertanyaan yang mana? Coba ulangi, aku lupa”

Hyuk jae ingin sekali melemparkan yeoja itu dari lantai lima apatemennya. Tapi, tentu jika ji yeon bukan separuh jiwanya. Kini hyuk jae tau mengapa alasan klise macam itu terus menjadi momok baginya untuk bertindak.

Matanya menatap ji yeon, menimbang apa ia harus tinggal dan menginap atau sekedar menghantarkannya dan segera pulang ke dorm.

“coba ulangi!!” ji yeon menjambak coat hyuk jae. Hampir membuat jalannya limbung lalu hyuk jae menatap ji yeon kesal.

“kau mau jatuh dan mati, hah?” sungutnya.

“kalau begitu mengapa tidak kau biarkan saja aku mati dengan tulang yang remuk di sofa bed itu? Ck!”

Hyuk jae menjawil hidung ji yeon dengan hidungnya sendiri. Sialan. Ji yeon bahkan punya cara mendebat yang luar biasa tak mampu membuat hyuk jae membalasnya. Ada hawa yang tak bisa hyuk jae jelaskan yang membuatnya hampir tertawa sebelum sempat memikirkan lanjutan perdebatan mereka.

Hyuk jae berdiri tepat dipinggiran ranjang besar milik ji yeon. “besok saja aku tanyakan. Kau, kan, harus istirahat” jawabnya dengan nada yang kali ini terdengar begitu lembut.

Hyuk jae menurunkan ji yeon pelan. Sebisa mungkin agar yeoja itu tak tersentak dan membuat kesadarannya pulih. Lalu usai itu hyuk jae menarik selimut sebatas leher dan mengecup keningnya lembut. “jjalja”.

“kau mau kemana?”

Hyuk jae berbalik saat ji yeon kemudian duduk –dengan kedua mata yang tertutup rapat-. Ia menatap lurus kedapan sementara kini hyuk jae berada disampingnya. Yeoja itu menguap lebar sekali, lalu bahunya jatuh lemas pertanda jika ia sudah semakin mengantuk.

Hyuk jae menunduk, menyembunyikan helaian rambut ji yeon dibelakang telinganya lalu tersenyum. “tergantung. Jika kau minta aku untuk tinggal mungkin—“

“kalau begitu tinggal lah”

Hyuk jae mengulum senyumnya lebar. Ia mengedik lalu segera berjalan menuju sisi ranjang yang berlawanan. Sementara usai berbicara, tubuh ji yeon segera merosot dan terhempas pada ranjang, ia menggeliat dan berputar kesamping. Disana, hyuk jae segera datang, memeluk pinggangnya hingga ji yeon harus dan memang harus tidur dalam dekapan hangatnya.

“selamat malam, sayang”

“hng”

 

 

__

Ji yeon menggeliat gelisah. Ada sesuatu yang tengah memborbardir perutnya dengan gerakan memutar yang membuatnya mual bukan main. Ji yeon kembali menggeliat, menekuk tubuhnya untuk meminimalisir rasa yang detik detik sebentar lalu mulai menimbulkan perih.

Tidak. ini tidak main-main.

Ji yeon segera terbangun dan menghempaskan selimutnya cepat. Tungkainya berlari menuju pintu kamar mandi, mendobraknya kuat lalu kepalanya sudah bersarang disekitaran kloset. Memuntahkan seluruh isi perutnya pagi itu.

Ji yeon mengernyit heran. Aneh, ia merasa belum makan apapun. Lalu mengapa perutnya seperti padat sekali?

“kau kenapa?”

Ji yeon berpaling saat hyuk jae sudah berdiri didepan pintu dengan mata kantuk yang sudah ia coba adaptasikan. Tubuhnya bersandar pada pintu kamar mandi dan menatap ji yeon dengan muka datarnya.

“kapan kau datang?” ucap ji yeon semena-mena.

Hyuk jae, memutar bola matanya malas. “kau sudah mempertanyakan itu semalam, dan aku sudah menjawab. Sekarang, coba jawab pertanyaanku. Semuanya” tukas hyuk jae dalam satu nafas.

Ji yeon mengernyit heran. “semua? Semua yang mana?” ia berusaha berdiri, menutup closet lalu duduk diatasnya. Perutnya perih. Perih sekali.

“kenapa kau pulang larut? Apa memang selalu seperti itu selama aku tidak dikorea? Kau mabuk? Dan,, ada apa dengan perutmu?”

Hyuk jae mulai melirik jemari ji yeon yang meremas baju blazzer yang tidak sempat ia ganti semalam. Perut yeoja itu pasti sedang bermasalah. Ia tak akan berusaha menekuk tubuhnya jika bukan seperti itu.

Ji yeon mendengus. “pertanyaanmu banyak sekali” protesnya kesal “dan akan sangat menyebalkan untuk menjawabnya”

“oke. Jadi jelaskan saja pada bagian ada apa dengan perutmu”

Kali ini, hyuk jae yakin sembilan puluh persen jika gadisnya memang tengah bermasalah. Kening ji yeon mengucurkan bulir-bulir keringat dingin sebesar biji jangung. Jika bukan karena kesakitan, maka hyuk jae belum menemukan alasan yang tepat sebagai penyebabnya. Karena itu ia berusaha bertanya, meski pada akhirnya ji yeon hanya mengacuhkannya dan kembali berjalan menuju ranjang.

“perutku perih”

Sesingkat itu saja. Lalu ji yeon kembali berbaring dipinggiran ranjang. Hyuk jae menatapnya ragu sekaligus dengan tatapan luar biasa. Gadis itu bahkan tak menganggapnya setelah semalam mereka tidur bersama. Oh oke, tidur bersama mungkin terdengar berlebihan. Tapi maksudnya, hyukjae berada disampingnya selama itu, dan semua berakhir seperti ini? Seolah hyukjae hanya datang secara tiba-tiba dan semalam bukanlah malam yang hangat.

Hyuk jae tersadar saat ji yeon kembali meringis. Yeoja itu membelakanginya dan kembali menekuk perutnya. Hyuk jae tak habis pikir, jika apa yang ia bayangkan kini adalah benar, maka ia bersumpah akan mendatangkan baby sitter hanya untuk seorang park ji yeon.

Hyuk jae melangkah maju, duduk dipinggiran ranjang pada ruang yang tersisa. “sudah berapa hari kau seperti ini?” tanyanya.

“baru hari ini”

Hyuk jae menatap punggung ji yeon tajam. “maksudku, sudah berapa hari kau selalu pulang selarut ini?” tanyanya kembali.

Ji yeon berbalik, menyipitkan matanya untuk menatap hyuk jae. “jangan mengajakku berdebat, lee hyuk jae. Ini sakit sekali!” ji yeon hampir melotot, lalu tubuhnya kembali pada posisi membelakangi hyuk jae.

Lelaki itu memutar bola matanya kesal. Tangannya menyentuh pinggang ji yeon lalu memaksanya berbalik. Ji yeon menolak, memposisikan tubuhnya semakin melengkung. “berbaliklah, biar kulihat!”

“kau bukan dokter, tuan sok tau.”

Hyuk jae menyerah. Menggunakan nada kesal memang bukan jalan yang tepat. Pada akhirnya, ia menyelipkan salah satu tangannya pada punggung ji yeon dan memeluknya, lalu memutar tubuh yeoja itu agar berbalik.

“ya!!”

“luruskan tubuhmu. Jangan ditekuk” perintahnya tanpa perduli teriakan ji yeon. Hyuk jae meletakkan sebuah bantal pada sandaran ranjang lalu memposisikan tubuh ji yeon agar lurus sedemikian rupa.

Tak lama, dua jari hyuk jae segera menekan perut ji yeon. “kau, gadis bodoh yang bertingkah sok dewasa” cibirnya.

“ssh.. sakit” ji yeon memeluk sebuah bantal, menggigitnya sedikit dan meringis sambil melihat jemari hyuk jae tanpa memperdulikan perkataan namja itu padanya.

Hyuk jae hanya menghela nafasnya berat. Kedua matanya menatap ji yeon lekat-lekat. Yeoja itu bahkan sudah tak perduli lagi dengan umpatan yang biasanya akan ia balas dengan bahan perdebatan baru. Jadi, untuk tidak memberatkan ji yeon, hyuk jae berhenti mencoba untuk mendebatnya.

Jemarinya segera meraih ponsel lalu tak lama berdiri dan kembali dengan segelas air putih.

 

 

__

“sebaiknya dia beristirahat selama tiga hari kedepan. Asam lambungnya masih sangat tinggi karena perutnya kosong dalam waktu yang cukup lama. Dan tolong berikan dia makanan lembut yang mudah dicerna. Akan menimbulkan perih jika ia mengkonsumsi makanan yang sulit cerna”

Hyuk jae mengangguk memperhatikan dokter yang kini duduk bersamanya disebuah sofa.

“ini resepnya. Aku akan meminta kwang yo untuk mengantarkannya. Tidak masalah bukan jika kwang yo tau alamat kekasihmu?”

Hyuk jae mengangguk menerima resep yang diberikan dokter lalu menatapnya sebentar. “bukan masalah jika dia bisa menjaga rahasia. Lagipula, aku rasa kwang yo tidak tau jika ini apartemen ji yeon”

Dokter itu mengangguk dengan senyuman kecil. “aku akan bebicara padanya. Tapi semalam aku dengar kau masih di cina. Kapan kau pulang?”

Hyuk jae berdiri mengikuti dokter kim yang selama ini memang menanganinya secara pribadi. Namja itu berdehem sekali. “semalam. Ada beberapa urusan sebelum conferensi pers dan beberapa interview”

Dokter kim jelas tak akan tau. Tapi untuk ukuran seseorang yang telah merawatnya hampir lima tahunan itu, hyuk jae yakin dokter kim cukup mengerti. Hyuk jae mengantarkannya hingga pintu apartemen dan dokter kim berpamitan hingga disana.

Usai dokter kim pergi, hyuk jae melirik resep yang ia genggam. Menggeleng tak percaya jika ternyata terkaannya cukup benar. Demi tuhan, sepertinya ia memang harus memanggil seorang baby sitter untuk ji yeon.

Hyuk jae menyarungkan kertas resepnya pada saku celana, balik mengeluarkan ponselnya lalu berjalan menuju dapur.

 

 

__

Ji yeon megerjap beberapa kali. Ia rasa ia pernah terbangun pagi ini. Tapi mengapa tiba-tiba ji yeon merasa jika kepalanya berat sekali? Ia ingin tidur. Mungkin efek kehilangan waktu istirahat hampir empat hari belakangan.

Tubuhnya bergerak gelisah. Dan kemudian melirik ruang kosong dikasur sebelahnya. Ji yeon terdiam. Ia merasa jika ini hanya mimpi. Tapi aroma maskulin hyuk jae nyatanya masih bersisa. Jadi ia bisa menyimpulkan jika perdebatannya dengan namja itu memang pernah ada pagi ini.

“kau sudah bangun?”

Ji yeon menoleh kearah pintu. Dan benar saja, hyuk jae berdiri disana. Dengan sebuah celana training dan baju kaos putih lengan pendek yang polos. Pantas saja ia disebut superstar. Bahkan dengan baju sesederhana itu saja, hyuk jae terlihat sangat tampan.

Ji yeon mengangguk tanpa berkata apapun. Tiba-tiba ia merasa jika kehadiran hyuk jae cukup membantu. Terbukti dengan kini kedua tangan namja itu tengah membawa sebuah nampan. Mungkin, dia baru saja selesai –belajar- memasak.

Ji yeon merasakan jika ranjangnya bergerak. Dan kini, hyuk jae sudah duduk tepat disamping ranjang. Salah satu tangannya bergerak menyapu poni ji yeon yang berantakan lalu mengecup keningnya lembut.

“sudah lebih baik?” tanyanya pelan.

Ji yeon ingin tertawa. Ia ingat baru beberapa jam yang lalu ia dan hyuk jae berdebat dengan nada saling meninggi. Tapi mau bagaimana lagi. Jika sudah diperlakukan seperti ini, ji yeon sendiri justru tak dapat mengelak dan berpura-pura menjadi sosok yang terlalu galak.

Pada akhirnya, ji yeon mengangguk. Lalu hyuk jae bergerak membetulkan selimutnya yang sudah tumpang tindih berserakan entah kemana. Tau betul sifat tidur ji yeon yang luar biasa meresahkan.

Hyuk jae bergerak membelakanginya. Ji yeon tau, namja itu tentu tengah mengambil sepiring makanan yang baru saja ia buat. Tapi demi apa ji yeon lupa jika hyuk jae adalah namja kolot yang percaya jika manusia sakit hanya memerlukan semangkuk bubur.

Ji yeon memberengut cepat “kenapa harus bubur lagi?”

“lagi? Memangnya kau makan apa belakangan ini?”

Ji yeon terdiam. Aish! Sial. “tidak ada” jawabnya tanpa perlu berbohong. Dokter yang baru saja memeriksanya tentu sudah membeberkan semuanya pada hyuk jae. Jadi, ya, ia tidak perlu terlalu repot untuk berbohong dan menambah tumpukan dosanya.

“nah, kan. Bagus sekali, bukan, kelakuanmu?”

Hyuk jae melontarkannya dengan sedikit senyuman yang dipaksakan dan mata yang sedikit melotot agar ji yeon tau bahwa ia sedang tidak senang dengan kelakuaannya yang hidup tak teratur. Tapi mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur terjadi dan jika diminta untuk memilih ji yeon juga tak akan jauh jauh dari kenyataan seperti sekarang ini.

Ji yeon mengedikkan baunya sekali. “mau bagaimana lagi” acuhnya.

“tidak usah bekerja”

Ji yeon dengan cepat menatap hyuk jae. Dengan tambahan kedua mata menyipit dan bibir yang berdesis tak terima tentunya. “oh, memangnya kau pikir aku ini seorang superstar yang setiap kali naik panggung bisa menerima gaji yang setara dengan satu bulan kebutuhanku? Aku hanya pegawai biasa!” ketus ji yeon membara.

“justru karena kau hanya pegawai biasa. Mengapa harus seperti ini jika memang hanya pegawai biasa?”

Ji yeon terdiam. Andai pemimpin redaksi bisa ia sebut sebagai posisi yang biasa. Tentu ji yeon tak akan mati-matian untuk menuntaskan traine nya menjelang ia naik pangkat. Akhirnya, ji yeon tak memilih untuk melanjutkannya.

Ia kembali menatap bubur yang kini berada dalam pangkuannya. Yah, mau bagaimana lagi. Sebagai rasa terimakasih dan sekaligus mengingat jika perutnya memang belum menerima asupan macam apapun, ji yeon pada akhirnya menyendokkan bubur itu kedalam mulutnya.

“yaks, buburmu tidak ada rasanya!”

Hyuk jae menatap ji yeon dari kejauhan. Namja itu baru saja masuk dengan mambawa segelas air putih ditangannya. Tatapannya datar, dan ji yeon tau jika hyuk jae juga sedang tak ingin berdebat.

“kau bahkan tak punya bahan makanan yang lebih baik dari sebungkus mi ramen”

Ji yeon menatap hyuk jae cepat. “kalau begitu kenapa tidak masak mi ramen saja?”

“dan membiarkan lambungmu berkarat lalu bolong?”

“cerdik sekali menyamakan lambungku dengan bongkahan besi”

Hyuk jae tak merespon. Ia duduk lalu kembali mengusap rambut ji yeon yang berantakan. Tak lama, ji yeon merasa jika rambutnya ditarik. Dan disana, hyuk jae tengah sibuk menguncir asal rambutnya kebelakang.

“berapa hari kau tidak makan?”

Hyuk jae bergerak mendekat. Salah satu tangannya menyampirkan ikatan rambut ji yeon kesamping lalu memeluknya lembut.

“entahlah, empat hari mungkin”

Hyuk jae mendengus geli. “aku bersumpah jika menemukanmu dalam keadaan seperti ini lagi, aku akan membayar mahal seorang baby sitter untuk—“

“jangan berlebihan, hyuk. Aku hanya—“

“hanya membiarkan lambungmu kosong dalam waktu yang cukup lama hingga kadar asam lambung meningkat dan jika dibiarkan semakin lama, dinding lambungmu akan saling membelit”

Ji yeon tak membantah. Hyuk jae pasti sudah menghafal kata-kata dokter tadi untuk menceramahinya. Jadi, ji yeon hanya mendengarkannya secara bijaksana sembari terus menghisap cairan –yang hyuk jae katakan sebagai bubur- yang diberikan untuknya.

“aku serius, lee ji yeon” tukas hyuk jae setelah sekian lama mereka saling diam. Tangannya melingkari perut ji yeon. Lalu lewat leher ji yeon yang jenjang hyuk jae bahkan bisa menghirup bau vanilla meski ia tau jika ji yeon belum mandi sama sekali.

“iya iya. Aku minta maaf”

Hyuk jae hanya mengangguk sekali. “bagus. Karena surat anjuran doktermu sudah aku kirimkan pada kantor. Jadi, selama tiga hari ini, bersabarlah untuk terus berada didalam rumah”

“hmm,, aku juga—APA?!”

Hyuk jae tak menyahut. Ia meraih mangkuk bubur yang sudah kosong lalu meletakkannya pada nakas. Jemarinya segera menyiapkan beberapa obat yang dokter berikan sebelum  berbalik dan menemukan wajah kusam ji yeon disana.

“minum obatmu” perintahnya tanpa perduli apa yang terjadi.

“bagaimana bisa kau mengirimkan surat anjuran dokter itu tanpa persetujuanku?” ji yeon menatap hyuk jae kesal. Namja ini benar-benar. Suka sekali bertindak semaunya.

“tentu saja aku  bisa. Kau, kan, milikku”

Untuk yang satu itu, ji yeon tak memiliki banyak alasan untuk membantah. Tapi, hyuk jae kan seharusnya bertanya mengenai banyak hal. Ji yeon ada beberapa janji presentasi besok dan besoknya lagi. Ia bisa saja kehilangan posisi yang hampir sebulanan ini ia usahakan. Argh!

“tapi aku ada rapat penting. Hasil diskusiku dengan yoora harus—“

“aku tidak perduli. Minum obatmu” hyuk jae menyodorkan tiga bongkahan obat yang ukurannya tak tanggung-tanggung. Membuat ji yeon langsung terlonjak kaget dan beringsut mundur.

“kau mau membunuhku?” tukasnya melupakan perdebatan mereka sebelum ini. Biarlah, ia bisa membicarakan itu lain kali. Tapi obat ini?! Err.. ji yeon kan paling benci minum obat terutama yang dengan luar biasa bangganya dibuat seukuran jempol kaki manusia.

“jika aku bisa, aku sudah melakukannya dari dulu”

Lalu ji yeon menatap hyuk jae mendelik. Ia segera membenahi posisinya lalu menarik selimut dan membungkus dirinya rapat-rapat.

“kau justru akan mati lebih cepat jika seperti itu” hyuk jae menarik ujung selimut. Tapi percuma, jika sudah diminta meminum obat, maka respon dan tenaga ji yeon memang akan melampaui batas.

“itu lebih bagus. Dan, sebaiknya kau tak perlu kemari jika konferensi pers-mu akan berlangsung besok. Segeralah pergi ke cina!”

Hyuk jae mendengus. “kau sepertinya senang sekali jika melihaat aku sengsara saat kau mati”

“memangnya kau akan sengsara jika aku pergi?”

“tentu saja. Aku butuh teman berdebat untuk menghilangkan rasa bosanku dari hidup yang itu-itu saja”

Ji yeon membuka selimutnya cepat. Meski kalah cepat dengan hyuk jae yang kini justru mengekangnya dalam posisi tengkurap dengan kedua tangan yang tak bisa bergerak. “sialan!” umpat ji yeon tepat didepan wajah hyuk jae.

Hyuk jae justru tersenyum. Samar-samar bibirnya segera lengket diujung bibir ji yeon tanpa peringatan yang berarti.  Ji yeon terdiam. Dari respon tubuhnya saja, ji yeon tau jika ia tengah merindukan hyuk jae. Tapi harga dirinya tentu tidak serendah itu.

“pervert!” tukas ji yeon cepat.

Hyuk jae kembali tersenyum. “tak masalah. Aku mulai terbiasa mendengarnya” hyuk jae kembali mengecup ujung bibir ji yeon. “kau merindukanku?” tanynya kemudian.

“jika aku berkata tidak?”

“aku tau kau bukan pembual yang handal”

Hyuk jae menggeser ciumannya, semakin tipis, semakin lembut dan semakin membuat ji yeon ingin berteriak kencang.

“dan jika aku berkata ya?”

“aku juga tau kau tak pernah berbohong”

Lelaki itu tersenyum. Lalu mulai mencium bibir ji yeon rakus. Sial! Sifat primitif itu akhirnya keluar juga. Ji yeon menerimanya –tentu saja- dengan senang hati. Belum lupa jika ia sudah hampir satu bulan kehilangan hyuk jae. Jika bertemu pun namja itu hanya akan sekedar berkunjung karena jadwalnya memang terlanjur padat belakangan ini.

“jadi, merindukanku?” bisik hyuk jae usai menghabisi ji yeon lembut.

“tidak juga, sebenarnya. Bagaimana denganmu?”

“sama saja. Tapi bagaimana jika kita menghabiskan waktu berharga sebelum aku kembali pukul empat nanti?”

Ji yeon terbelalak cepat. “pukul empat?!” ulangnya tak setuju.

Hyuk jae mengangguk “besok ada converensi pers dan beberapa interview. Jadi, ya, aku harus kembali”

Ji yeon memberengur kesal. “lalu untuk apa kau pulang jika hanya satu hari, bodoh?”

Yeoja itu mendorong tubuh hyuk jae sementara hyuk jae tertawa cukup pelan sekedar untuk menenangkan isi kepalanya. Ia berguling, kepalanya tiba-tiba sudah berada nyaman didalam pangkuan ji yeon, lalu kedua mata namja itu mengerjap lucu.

“merayakan ulang tahunmu tentu saja” hyuk jae merangkak naik, mengecup bibir ji yeon yang masih terperangah secara kilat lalu berbicara tepat didepan wajahnnya, “selamat ulang tahun, wanitaku. Aku mencintaimu”

 

-FIN-

Ini, gaje banget. Tapi entah kenapa aku bahagia banget waktu bikinnya *ketauan gilanya*😄.

So, ya, happy birthday for me. Im getting really old and,, ya,, old.

Thanks for everything. For my beloved Allah SWT who give me a wonderful life. Thanks for my beloved parents who loved and still loving me till this time. Thanks for my beloved brother who always makes my day really bad but i love that. Thanks for my beloved poo, who always love me, care and give me a special gift. Thanks for my bestie, it was so amazing to know that you hv an egg smell now-_-. Thanks to everything who care and prayed for my life.

And,, ya, welcome my old life^^

I hope that i can be the best in everythings. Makes my parents proud of me. Hopefully that i can reach my big dreams. My favorite university. May allah always bless my way. Dan finally, i just want to say that, i love you all.

For my beloved readers. Thanks to still here with me. And thanks to always believe in me.

Once again, thankyou^^

 

special pict of the week:

Bjjp0PuCEAEfyY3

Bjf9707CYAAUQgu

Bjf2HzDCEAAUVD7

 

 

With love, Park ji yeon.

 

14 thoughts on “Stubbornity

  1. clee says:

    Happy Birthday unnie!^^

    AAAA!
    Leehyukjae so sweet banget > 3 <
    Jiyeon beruntung banget yah haha.

  2. ultah dq..??
    happy b’day, selalu yg terbaik untukmu..
    apa yg km cita2kan tercapai semua..
    amiiin..

    hyukjae tambah cakep ya..??
    wkwkwkw, ud gitu sweet pula..
    aaahh, bikin iri..>.<

  3. ai-sparkyu says:

    hyuk jae manis bgt disini… >,<
    selalu berhasil bikin aku melting tiap x baca kisah romantis hyuk jae dan jiyeon…

    oh, btw.. happy birthday..
    kecup sayang dri lee hyuk jae ^^

  4. vita says:

    Ahhhh soooo sweet

  5. nurainah says:

    saengil chukkae hamnida saengku ji….
    jeongmal bogoshipo🙂 lama gag nongol…

    semoga kamu sehat selalu, makin dewasa, makin cantik, segala yg kamu cita citakan terwujud, selalu dalam naungan Allah SWT dan semoga tulisan tulisan kamu makin bagus lagi.. amin

    ahhhhh hyuk jae, aku semakin mencintaimu…
    itu ajah yg bisa aku bilang untuk story ini….

  6. lia aprilia says:

    Seangil chukkaeo ~

  7. marly says:

    Happy birthday🙂🙂🙂

  8. tata says:

    happy your life day saeng …
    betewe, uda setua apa nich?! hihihihi

    semoga semua berjalan sesuai dengan harapan dan doa. amiin

    itu ff nice banget…
    jadi ingat twitt kamu tadi…
    OMG!!! gila sendiri. unnie pikir itu beneran hyuk yg lagi ngoceh ma kamu. #otak lagi ga konek ini
    hahahahaha
    imajinasi tingkat tinggi
    tapi, gapapa… selama itu buat kita bahagia ^_^

  9. Kazahana says:

    Happy retrun your BIG DAY..
    May Allah SWT blessing your life..
    Long life with happiness..

  10. Dwi_h@E says:

    huahhh… So sweet

    Met ultah saeng….
    Hehehe… Telat

  11. maria says:

    happy birthday meskipun telat gak papa ya

  12. rhaaa18 says:

    Hyaa ,, so sweet bgt yaa Hyuk-oppa ..
    Foto2nya bikin kesemsen🙂 #keepwriting yaa

  13. minrakyu says:

    OMG.. hyukjae.. romantisnya dirimu,,
    uwaaa demi apa makin cinta deh ama kamu,,
    btw,, ini mah ngebayangin enyuk yg pirang kaya kemaren pas di RCTI cakep gila ni mahluk,, saingan banget sama Kyu kkkkk,,,,

  14. keiobi says:

    Hyukjae ganteng bgt ya..
    Swear deh, smakin lma dlytin ..

    So sweet bgt…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s