[STILL YOU] : First~

jihyuk

Happy Reading^^

 

 

‘h hyuk-ah.. hiks..’

‘wae? Mengapa kau menangis?’

‘h hyuk-ah.. hiks.. a aku..’

‘bicara yang benar! Kau kenapa?’

‘hiks.. hiks.. a aku,, itu,,’

‘lee donghae!’

‘lee teuk hyung,,’

‘lee teuk hyung? kenapa? Apa yang terjadi?’

‘hiks..a appa meninggal’

 

Sore itu gerimis kecil membasahi seoul yang memang sudah terlihat gelap menutup diri dari hangatnya sinar matahari. Aku terdiam. Tubuhku seperti tertahan sesuatu yang tak kumengerti. Aku tersadar ketika ponselku hampir terjatuh lepas. Membuatku pada akhirnya merasakan nyeri kuat pada ulu hati.

‘jangan kemana-mana, aku kesana!’

Aku masih berdiri dilorong gedung MBC usai menyelesaikan kontrak kerjaku. Sekelebat bayangan wajah manager yang memburam membuatku semakin tak terkendali. Tanpa perduli betapa hyung manager ingin aku terlihat tenang, aku berlari. Merogoh kunci mobil pribadiku lalu melaju menuju gedung management.

 

Berita itu datang. Duka menyerang tanpa permisi. Tanpa memberi sinyal betapa badai itu akan menghalau bahagia secepat ia pergi. tanpa sadar betapa luka menganga itu pada akhirnya benar-benar menusuk.

Menghunus fakta menjadi lebih nyata.

Aku terdiam dikeheningan sore. Masih lekat dalam ingatanku isakan donghae yang tiba-tiba membuat seluruh tubuhku meremang hebat. Bukan masalah jika donghae memang harus menangis, namun bayang pesakitan itu tiba-tiba mengaung dalam gendang telingaku.

Aku belum sama sekali menghubungi lee teuk hyung. Masih berfikir jika ini hanyalah semacam permainan kecil yang tengah dimainkan beberapa orang untuk mempertaruhkan beberapa botol soju diakhir pekan nanti, dengan mengorbankan diriku.

Tanganku terasa gatal, tak henti-hentinya menekan klakson mobil saat lampu jalan menunjukkan warna hijau sementara beberapa mobil terlihat mulai bertele-tele untuk menahan langkahku.

Aku gamang. Perasaanku menjadi lebih kacau ketika bayang lee teuk hyung yang terus menggema kuat.

Lima belas menit setelahnya aku tiba. Tanpa benar-benar sadar dimana aku meletakkan mobil, aku menghambur menemuinya. Menemui bocah bodoh yang jika kali ini benar-benar melakukan hal konyol akan membuatku mengulitinya hidup-hidup.

Nyatanya, aku terpaku. Menemukan donghae tengah terisak hebat didalam tundukan dalam kepalanya kemudian membuatku merasa semakin kacau. Tungkaiku bergerak maju, berhenti tepat didepannya lalu menatapnya dengan delikan mata penuh tanda tanya besar.

Ia mendongak, matanya memerah, bibirnya bergetar, lalu dengan sekali sentak ia menghambur dalam pelukanku. Mengeja dengan keras beban yang menghimpit dadanya.

“hyuk.. appa..”

 

 

__

‘..meninggal…’

Aku terdiam “ini bukan lelucon, shin hyeri!”

“ya tuhan, aku bersumpah kau boleh mengulitiku jika ini benar-benar lelucon!”

“t tapi.. bagaimana bisa?”

Aku mendengar  berbagai suara berisik disana. Bisa kutebak jika hyeri tengah berada dikerumunan ‘mereka’ yang kali ini mungkin jauh lebih banyak dari yang kuperkirakan.

“entahlah, berita ini masih simpang siur. Pihak SM masih mencoba mencari tau kebenarannya”

“lalu mengapa kau sepanik ini?!”

“Park ji yeon!! Aku tidak tau lagi harus menghubungi siapa. Setelah berita ini tersebar, namja gila itu bertindak lebih aneh dan mencemaskan. Kau tau,, maksudku,, aku,,”

Aku mulai mencoba menebak jalan fikirannya.

“a aku.. disini terasa sesak. Semua orang berkumpul lalu menampilkan wajah memelas yang membuatku merasa semakin lemah. Kyu hyun bahkan hampir menangis dan memberontak pulang jika saja manager tak mencegahnya”

Aku membayangkannya. Bagaimana kyu hyun yang tengah berada dalam latihan musikalnya bersama beberapa dancer termasuk hyeri berada dalam kondisi yang buruk saat berita menggemparkan ini keluar.

Sekelebat memori mencoba menyeretku dalam pusara masa lalu yang terasa baru sebentar ini terjadi.

Aku, pernah bertemu Tn. Park, hampir dua tahun silam, ketika.. hyuk jae memperkenalkan apartemen baru keluarga mereka pada media. Sosok ramah yang terlalu hangat itu menggunacangku dalam prahara ‘cinta dua sisi’ yang coba ia tunjukkan. Masalah perceraiannya bersama Ny. Park ia jadikan alasan mengapa hubunganku dan hyuk jae harus dilandasi rasa lain yang lebih kuat daripada sekedar cinta.

Darinya aku menyadari  banyak hal termasuk cara mencintai seseorang dengan benar, meskipun pada akhirnya tak benar-benar kulakukan.

“kau masih melanjutkan latihanmu?”

“tentu saja tidak. Ji, seandainya kau tau betapa.. lihat! Mereka bahkan menangis. Aku tidak bisa terus berada disini”

Ji yeon ingat betapa hyeri benci suasana melankolis sekalipun hatinya merasakan kesedihan serupa.

“ji, temani aku”

“bagaimana bisa? aku sudah di apartemen sejak satu jam yang lalu”

“kumohon. Nah, nah,, mereka berencana untuk pergi setelah latihan selesai. Ji, demi apa kau harus bersamaku!”

Ji yeon tersentak. Ia mau saja menemani bahkan datang untuk menyampaikan rasa belasungkawanya terhadap lee teuk. Oppa yang selama ini selalu tersenyum kendati ia dan hyuk jae tak lagi bersama sejak enam bulan yang lalu.

Tapi, jika dengan berbelasungkawa berarti harus datang dan bertemu member lainnya..

“tapi hye, aku__”

“kumohon, aku tak mungkin menghadapi ini sendiri. Kau tau..” hyeri terdiam sejenak, seperti menyadari satu hal yang semenjak tadi ia lupakan “tidak. Bukan begitu ji. Aku tak bermaksud__”

“tak apa hye,, hanya saja aku tidak bisa. kemungkinan untuk bertemu dengannya masih menjadi musuh terbesarku”

“oh,, ji..”

Ji yeon memejamkan mata ketika rengekan hyeri mulai terdengar “aku ingin saja pergi, tapi__”

“tapi masalah antara dirimu dan hyuk jae oppa tak bisa kau jadikan alasan untuk tak datang. Ingat! Bukankah lee teuk adalah oppa kesayanganmu? Dia bersedih, dan kau lepas tangan?!”

 

 

__

“aku berusaha untuk pulang, tapi pihak mereka melarangku untuk pergi sebelum acara berakhir. Aku juga ingin pulang!”

Aku menutup mataku erat, kyu hyun, siwon dan ryeowook tidak dapat meninggalkan pekerjaan mereka hingga malam ini. ryeowook akan selesai pukul sembilan sementara siwon akan selesai pertengahan malam mengingat gala besar yang menjadikannya brand ambassador tengah berlangsung khidmat.

“hyung, aku sudah membicarakan ini pada manager. Sungguh, aku juga ingin berada disamping lee teuk hyung.”

“baiklah, yang penting kau datang. Aku bersama donghae baru akan meninggalkan gedung. Kami akan menjemput kyu hyun terlebih dahulu”

“ne, aku pasti datang. Aku,, tidak mungkin tidak datang. Akan kuusahakan untuk pulang lebih awal. saat ini aku belum melakukan apapun. Usai opening speech ini aku segera berangkat”

Aku mengangguk “ya, sebaiknya begitu”

 

 

__

Aku merapatkan jaket kulit milikku saat akhirnya pintu kaca gedung management kami terbuka. Donghae dan aku yang masih sama-sama larut dalam kepelikan jalan pikiran masing-masing.

Berita itu benar adanya. Lee teuk hyung baru saja keluar dari barak kemiliterannya dua jam yang lalu. aku memejamkan mata sebelum akhirnya melihat gerombolan remaja tanggung yang memadati pelataran gedung.

Aku menyuruk dibalik jaket, menyembunyikan gundukan sembab yang masih tertera jelas dibawah mataku. Manager sudah berkali-kali menegaskan jika tak boleh ada air mata didepan publik. Kesedihan ini milik kami, dan meskipun semua orang yang mencintai kami ikut bersedih, lara ini tetap harus disimpan sendiri-sendiri.

Semua orang harus terlihat tegar. Seperti yang selama ini manager dan lee teuk hyung katakan. Fans bukan tempat berbagi air mata duka.

“pulanglah, tidur yang nyenyak”

Aku menatap donghae yang melambai pada beberapa gadis remaja. Mata mereka turut sembab bahkan beberapa diantaranya masih menangis. Demi tuhan aku mencintai mereka yang masih setia mendukung kami. Menangis dalam kesedihan karena memiliki satu rasa yang sama lebih dari delapan tahun ini.

Aku sedang diburu waktu. jika bukan dalam keadaan seperti ini mungkin aku akan tersenyum lalu membelikan mereka satu cup kopi untuk menghangatkan diri. mereka terlalu memaksakan diri untuk ikut dalam kesedihan ini. padahal sungguh, kami tak pernah menginginkan mereka untuk menangis bersama dalam duka.

 

 

__

“oppa!!”

aku menoleh dan mendapati seorang gadis yang berlari kecil menuju mobil “oh, hyeri-ah. Dimana kyu hyun?”

Aku dapat melihat gelagat kecemasan dari matanya. Yang aku tau, hyeri salah satu gadis yang menyayangi lee teuk hyung dengan porsi yang berlebih karena lee teuk hyung sendiri belakangan ini jauh lebih dekat dengan kyu hyun, kekasih hyeri.

Aku mendekat, diiringi donghae yang berjalan gontai. Ia masih dengan sebuah ponsel pada telinganya, menghubungi keluarganya yang hari ini justru baru saja berangkat menuju mokpo.

“oh, kyu hyun masih didalam. Oppa bersama siapa?”

“aku bersama donghae”

Aku melirik kearah belakang dan menemukan donghae kembali terisak. Perlahan kuurut pelan ujung hidungku, kutarik donghae kedalam rangkulanku, menepuk pundaknya beberapa kali untuk menenangkannya lalu menuntunnya untuk berjalan bersama hyeri yang membuntuti kami.

“apa kalian hanya berdua saja? Mana yang lainnya?”

Aku berhenti tepat setelah pintu masuk teater tertutup. “kangin hyung dan sungmin sudah akan berada disana. Siwon dan ryoewook akan sedikit terlambat. Jadi, kami berinisiatif untuk menjemput kalian disini. Apa dia sudah selesai?”

Hyeri mengangguk paham “sebenarnya, belum. Tapi dia tak lagi dapat berlatih jadi manager meminta waktu istirahat dalam beberapa hari ini”

“lalu, dimana dia?”

Hyeri tampak menoleh kekiri. Disana, ada lorong panjang menuju lokasi musikal kyu hyun. Tapi kali ini karena latihan mereka sudah berakhir, barang tentu bocah itu sudah berada didalam ruang ganti.

“dia ada didalam ruang ganti. Bersama beberapa pemain lainnya. Lewat sini, oppa…”

 

 

__

Ji yeon memintal jemarinya dalam gelisah. Ada banyak orang didalam ruangan itu, tapi satu-satunya yang ia kenal hanyalah kyu hyun. Seorang namja yang sedari ji yeon datang tak pernah berhenti untuk mendesah gelisah.

Hyeri memintanya untuk menjaga namja itu selama ia keluar menjemput beberapa orang yang akan membawa mereka kekediaman lee teuk. Semisal namja itu kalap dan berubah brutal karena terlalu tak sabaran untuk melihat hyung tercintanya itu.

“hhh~”

Ji yeon kembali menoleh pada kyu hyun. Wajah gusar dan lelahnya terpancar begitu jelas. Tapi jauh dari itu, ia terlihat cemas dan ji yeon belum pernah melihatnya sekalut itu selama ini.

Hyuk jae juga pernah kacau. Dibeberapa keadaan saat grup mereka terkena masalah, saat lee teuk akan menjalani wajib militernya dan yang terakhir kali ini. Saat setiap orang hampir menangis memikirkan nasib leader terbaik grup mereka.

Saat itu, dulu, ji yeon akan terlihat pasrah jika hyuk jae sudah datang mendobrak pintu apartemennya dan menarik yeoja itu menuju sofa dan membaringkan kepalanya dipaha ji yeon. Dulu, itu terasa begitu menyenangkan. Karena ji yeon hanya perlu mengusap sayang rambut namja itu lalu berbicara empat mata dengannya.

Anehnya, ucapan ji yeon akan selalu mampu menenangkan hyuk jae. Entah itu hanya sekedar nasihat kecil, guarauan, atau bahkan beberapa kata tak penting yang mampu membuat mood hyuk jae bangkit.

Tapi itu dulu, saat semua masih baik-baik saja.

Ji yeon menggelengkan kepalanya cepat. Sial! Seharusnya ia tak memikirkan hal seperti itu. Setidaknya ada hal penting selain mengenang masa lalu untuk saat ini. Setidaknya, sekarang, ji yeon datang bukan untuk menguak masa silamnya bersama salah satu hyung dari namja yang kini berada didepannya.

Ji yeon ikut-ikut menghela nafasnya gusar. Keberadaan kyu hyun sedikit banyak juga membebaninya. Karena secara tidak langsung, ia terlihat tak berguna karena ia tak bisa sedikitpun menenangkan namja itu.

Tapi, ya, mau bagaimana lagi. Selama bersama hyuk jae, ji yeon hanya akan dekat dengan donghae –yang ini sudah pasti- lalu lee teuk, sungmin, siwon dan shindong. Ia juga belum begitu akrab dengan kangin ataupun heechul yang baru saya menyelesaikan wajib militer mereka.

Bahkan ji yeon belum sempat kembali menyapa heechul karena perpisahannya bersama hyuk jae terjadi beberapa bulan sebelum heechul keluar barak tentara.

Ji yeon kembali menggeleng. Nah, kan, ini yang ia cemaskan jika mengikuti saran hyeri. Pikirannya tak akan pernah lepas dari sosok lelaki itu. Karena hal seperti apapun, sekecil apapun, apapun itu bisa mengembalikan ingatan liarnya pada masa lalu.

“oppa..” ji yeon mencoba mengalihkan pikirannya. Mungkin menenangkan kyu hyun akan terdengar lebih baik.

Kyu hyun menoleh, dan ji yeon terdiam saat tatapan sendu kyu hyun terliat. Lalu tak lama namja itu tersenyum kecil dan menggosok permukaan wajahnya lembat.

“maaf, apa aku menakutimu?”

Ji yeon menggeleng secara tak sadar. “aku hanya kawatir karena oppa terus mendesah gusar”

Kyu hyun terkekeh kecil. “apa seharusnya aku tertawa saat ini?”

“anioo!” ji yeon mengibaskan tangannya cepat. Merasa sudah salah bicara karena tanggapan kyu hyun yang terlihat berbeda meskipun tetap diselingi tawa yang mempesona.

“maksudku,, ya,, semua orang juga cemas. Meskipun kami tau oppa lebih dekat dengan lee teuk oppa, tapi reaksimu justru membuat keadaan semakin rumit. Kau membuat semua orang bahkan aku menjadi mencemaskan kondisimu”

Kyu hyun terdiam. Sesuatu dalam dirinya mencoba membenarkan, tapi sesuatu lainnya tetap saja mengeluarkan hormon yang tak akan berhenti membuatnya jauh lebih cemas. Ia menatap ji yeon yang memandangnya dengan tatapan kalut. Oh, apakah semenyeramkan itu bentuknya saat ini?

Ia akhirnya mencoba untuk lebih menenangkan diri. “oke, maafkan aku” tuturnya kemudian. Kyu hyun menarik nafasnya dalam-dalam. Walau bagaimanapun keinginannya untuk segera bertemu dengan hyungnya, ia tetap saja harus bersikap baik agar tak semakin merepotkan.

“dan,, ji yeon-ssi.. terimakasih”

Ji yeon hanya mengangguk sekilas. Perubahan sikap kyu hyun perlahan membuatnya terbawa suasana menjadi lebih tenang. Ia melirik sekitar ruangan. Sepertinya ruangan ini terkhusus untuk management SM. Karena selain kyu hyun, ada hyeri dan tiga dancer lainnya yang ji yeon kenal sebagai dancer khusus management untuk Super Junior.

Ada prince manager. Ada juga beberapa orang yang entah datang dari mana dan juga memadati ruangan. Ruang sempit yang seharusnya menjadi tempat beristirahat itu kini terlihat seperti ruang besar yang sedang melakukan reuni akbar.

Ji yeon menggeleng ragu. Dia, jujur saja, juga benci berada dikeramaian. Tapi ia juga tak suka berada dalam kesunyian. Aneh? Ya, memang seperti itu. Ji yeon suka tempat ramai namun tenang. Seperti itulah dirinya.

“ji yeon-ssi?”

Ji yeon dengan cepat menatap kyu hyun. “ya, oppa?” jawabnya ragu.

Ji yeon melihat kyu hyun yang menatapnya sedikit dalam aura kebingungan. “mungkin hanya perasaanku saja atau aku merasa jika kau dan eun hyuk hyung sudah jarang terlihat bersama. Dia tak pernah menceritakan apapun tapi tak juga pernah membawamu pada kami. Apa kalian baik-baik saja?”

Ji yeon tersentak kuat. Ini juga salah satu alasannya tak ingin mendampingi hyeri untuk mengikuti acara itu. Mungkin jika minus hyuk jae dari sana, ia akan dengan senang hati untuk datang. Tapi masalahnya, ia bagian dari mereka. Jadi terdengar sangat mustahil jika namja itu tidak datnag.

Sekarang, masalah terbesar ji yeon adalah bagaimana ia harus menjawab pertanyaan konyol kyu hyun padanya. Hubungan mereka? Bukankah sudah berlalu lama. Dan,, hyuk jae tak pernah menceritakannya?

“kalian sedang dalam masalah? Mengapa kau tak datang bersama hyung?”

Ji yeon kembali mengerjap. Ia tak mungkin mengabaikan begitu saja perntanyaan kyu hyun. Walau bagimanapun namja itu tetap saja sudah ia anggap seperti oppanya sendiri. Kyu hyun lebih tua satu tahun darinya.

“oh, anio oppa. Aku,, dia.. eum,, kami—“

“kyu.. mereka datang!”

 

 

__

Aku mengikuti hyeri yang berjalan menuju lorong diujung gedung. Ada salah satu pintu yang kali ini terbuka dan menampakkan seberkas cahaya dari dalam. Dengan sekali tebak saja, aku tau jika kami akan mengarah kesana.

Donghae tetap berjalan disekitarku. Sial! Seharusnya ia menunggu didalam mobil saja jika akan terus seperti ini. Aku tak ingin melihatnya pingsan seketika hanya karena beban mental yang begitu besar.

Ya, aku cukup merasakan beban seperti apa yang donghae rasakan. Tapi tetap saja, ia harus tegar. Ini bukan akhir segala-galanya. Dan aku disini untuk mendukungnya.

Hyeri berjalan semkain cepat. Kutarik lengan donghae untuk mendekat lalu kini ia berjalan tepat didepanku. Pintu itu terlihat semakin besar, lalu cahanyanya semakin menerangi jalan kami. Saat berada didepan pintu, hyeri dengan sigap membukanya.

“kyu, mereka datang!”

Aku terbatuk sekali. Aneh, perasaanku menjadi lebih buruk berkali-kali lipat saat akhirnya pintu terbuka. Donghae masuk terlebih dahulu. Lalu aku bisa menerka jika kyu hyun sudah akan menghambur dalam pelukannya.

Ketika kuputuskan untuk ikut andil, tiba-tiba mataku mengerjap aneh. Donghae tak sedang memeluk kyu hyun. Aku beralih pada kyu hyun yang saat itu menatap donghae ragu.

“hyung?” panggilnya kecil.

Bukannya menyahut, donghae justru berbalik. Mentapaku tak percaya. Kuangkat daguku sekali untuk bertanya. Lalu denghae beralih menatap seseorang dibalik punggung kyu hyun. Dan saat itulah, waktu berhenti berdetak.

Dia, datang kembali.

 

 

-TBC-

Masih ingat still you? Nah, itu yang berdua mau disatuin lagi disini. Entahlah, aku jadi suka banget nulis jihyuk belakangan ini. Jadi,, ya,, gini deh:)

With love, Park jiyeon.

 

6 thoughts on “[STILL YOU] : First~

  1. vita says:

    Dian sayangggg di tunggu still you nya second ak jga kangen ama jihyuk. 4 jempol buat kamu dehhh

  2. Ayunie CLOUDsweetJewel says:

    Huweee, ini mengingatkan kembali ke hari berkabung itu u_u JiHyuk bertemu kembali dan aku nggak mau Hyuk kembali pada Ji. Enak saja, Jiyeon udah selingkuh.

  3. tata says:

    aduuh saeng… jadi mewek2 ini
    hiks hiks hiks T.T
    my angel teuki

    astaga… q bener2 terluka lagi saat ingat peristiwa berdarah itu.

    oh my…
    ini ff menyayat hatiku
    tanggung jawab dian, tissu unnie habis ini…

  4. ai-sparkyu says:

    Ini nih yg bikin mewek.. Teringat jelas waktu Teuki oppa nangis.. T_T
    Oh, jadi Ji sma Hyuk bakal disatuin lagi disini?
    Oke, aku tunggu mereka kembali bersatu..😀

  5. ah,,moment itu membuatku galau..ji kembali? bagus..seru kayaknya nih konflik..aku nunggu😀

  6. puput says:

    Backgroundnya pas ayahnya leeteuk mninggal y?
    Set and timingnya bagus..
    Tapi baca yg ini jd inget anak2 suju pas brita duka itu ada..
    *ikut2an sedih lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s