Ignorant Feelings 1 [Booming Heart Sequel]

Booming Heart

 

 

“benar tak terjadi apapun?”

Ji yeon kembali menoleh dan memastikan sesuatu. Sementara hyuk jae mulai merasa risih dengan pertanyaan berulang milik ji yeon yang selalu menanyakan hal yang itu itu saja.

“iya, tak terjadi apapun”

Hyuk jae memposisikan jemarinya pada kepala ji yeon lalu kembali memutarnya untuk berbalik.

“benar? Tak ada apapun?”

Hyuk jae menghela nafas geram. “kau kenapa? Apa pernyataanku tak cukup membuatmu percaya?”

Kemudian ji yeon diam dengan sendirinya. Hyuk jae mulai bernada tak biasa. Dan itu pertanda jika ji yeon tak boleh lagi memancingnya dengan pertanyaan yang-yeah memang- terlalu banyak ia lontarkan.

Ji yeon menggeliat pelan dalam gulungan tubuhnya. Menghangatkan diri disore musim semi bersama hyuk jae.

Ia tak melakukan apapun. Dan itu cukup.

Cukup untuk sekedar mencegah emosi namja itu meledak dan cukup untuk memendam rasa penasarannya atas sosok tak kasat mata yang ia temui minggu lalu.

Hari itu, ji yeon hanya berniat memanggil mereka. sungguh tak ada maksud apapun. Namun tiba-tiba hyuk jae berjalan cepat mendatanginya.

Menggenggam jemarinya erat lalu menyeretnya menuju pintu. Ji yeon tak dapat melakukan apapun. Namun sesuatu terlintas dalam sudut matanya ketika donghae, terlihat mengejar mereka dengan sebuah bercak merah pada bibir.

Ji yeon ingin sekali bertanya. Jika ia bisa.

Namun hyuk jae terlalu cepat hingga saat ji yeon sadari, pintu rumah tertutup cukup kuat lalu hyuk jae menariknya menuju kamar.

Namja itu memeluk ji yeon erat. Seperti meluapkan sesuatu yang terlalu lama ia tahan. Nafasnya bergemuruh kencang hingga akhirnya ia berkata jika ia terlalu lelah.

Ji yeon tak mengerti. Sungguh.

Hanya semenjak hari itu hyuk jae -terlalu- sering berkunjung dan menghabiskan tidur siang mereka bersama. Hyuk jae perlu memeluk ji yeon agar ia tenang. Meski hanya untuk satu atau dua jam sebelum akhirnya harus kembali ke kantor.

Ji yeon kembali bergerak. Oke, ia masih belum merasa tenang. Segala pemikiran itu menghantuinya. dan hyuk jae benar-benar jahat telah merahasiakan ini darinya.

“kau tak nyaman?”

Ji yeon diam ketika hyuk jae menghembuskan nafasnya disekitar bahu. “kau terus bergerak tak tentu arah” sambungnya.

Ji yeon menoleh. “b.. bukan seperti__”

“maaf”

Ji yeon merasa pelukan namja itu melonggar dengan cepat. jemari yang mulanya hyuk jae gunakan untuk memeluk ji yeon kini beranjak.

Hyuk jae akhirnya mengusap sekitar bibirnya canggung.

Dan sekejap saja ji yeon tau jika namja itu sedang tak menyukai sikapnya.

Mereka sama. Hyuk jae merahasiakan cerita miris itu dari ji yeon, dan ji yeon merahasiakan perasannya. Meski sama-sama mengerti, tak sekedar mudah untuk mereka saling mengungkapkannya.

Ji yeon mulai merasa risih. Suasana tak nyaman diantara mereka melunturkan segala kehangatan yang selalu mengelilingi mereka selama ini.

“aku akan membuat coklat hangat”

Hyuk jae kemudian berdiri menjauhi balkon dan mulai terlihat sibuk didalam pantri.

__

“bukan itu maksudku, jika kau mengerti” Hyuk jae menatap donghae ragu. “aku hanya merasa perlu melindungi milikku” sambungnya.

Donghae mengalihkan tatapannya datar. Kata ‘milikku’ yang dilontarkan hyuk jae secara tidak langsung menekankan jika tindakannya tentu saja benar. Tapi bukan hanya itu yang membuat telinga donghae panas.

Kenyataan jika hyuk jae tak lagi memberikannya kesempatan untuk menemui ji yeon benar-benar membuatnya jengah. Oh hell! Haruskah namja itu mendatangi kediaman ji yeon setiap saat?

Atau mungkin haruskah donghae yang akan menjadi seseorang yang terus beranjak setelah mereka meminta waktu untuk berdua?

Oke, perlu donghae akui jika ji yeon memang milik hyuk jae. terlepas dari persahabatan –yang sebenarnya tak logis- diantara mereka bertiga, ji yeon dan hyuk jae jelas memiliki hubungan yang lebih special.

Tapi perasaannya..

“cih.. milikmu” desis donghae mencibir.

“dia memang milikku.”

Tatapan mereka bertemu dalam aliran listrik yang terlalu tajam. Ada runcing-runcing berduri yang jika semakin ditelusuri, akan semakin menyakiti mereka perlahan secara bersamaan.

“tak perlu kau tekankan” donghae mendecak jengah.

“mungkin perlu. Jika itu membuat sesuatu berubah”

Donghae berdiri dengan cepat “aku fikir kau datang untuk memperbaiki hubungan kita” ia terdiam sesaat “aku akan pergi jika__”

“kau masih berfikir ini dapat diperbaiki?”

Donghae menatap hyuk jae dalam. “menurutmu?” tanyanya ragu.

Shit! Donghae bergetar hebat. Apa ada yang menakutkan disini?

“aku, seorang sahabat… yang gagal”

Donghae mendongak cepat. bibirnya terasa mulai kelu ketika hyuk jae menunduk dalam dengan seulas  senyum pias.

“sejak awal seharusnya tak ada rahasia diantara kita. Aku yang salah, merahasiakan perasaanku hingga titik dimana kau harus merasakan hal yang sama”

“ini bukan kita” donghae semakin merasa berbeda “kita, tak lagi pernah ada, Lee donghae. Kita hampir mati. Dan sesaat lagi benar-benar akan mati” sambungnya.

Donghae menatap hyuk jae dalam diam. Binar matanya penuh keterkejutan dan ketidaksukaan yang terlalu kentara.

“kita mati, sejak rasa itu sama-sama menggerogoti perasaan kita. Menumbuhkan ego yang sama-sama tak pernah kita pangkas. Dan membekukan otak untuk tak perlu lagi saling memikirkan.” hyuk jae berdiri lalu berjalan menuju donghae. Bahu mereka sempat bersentuhan halus sebelum akhirnya kembali memberikan jarak yang cukup jauh.

“lee donghae..” hyuk jae memanggilnya dalam kehampaan. Tak lagi ada nada yang dulu pernah mereka gunakan. Tak juga lagi ada nama yang pernah menghiasi kehidupan normal mereka. Hyuk jae.. pada akhirnya berubah.

“aku terlalu serius untuk menjadi egois.” Ia berbalik menatap pintu “nyatakan perasaanmu padanya, dan biarkan ia memililih”

Lalu pintu ruangan terdengar menggebrak halus.

__

Donghae terdiam. di sebuah ruangan besar yang terlalu remang. Lampu kecil menyinari sepersekian bagian ruangan tanpa memberi kesan terang.

Sudut ruangan penuh dengan rak-rak besar. Dan ada beberapa meja yang berjejer rapat. Disana, ada ranjang besar. Dan juga seperangkat sofa bed yang nyaman.

Donghae tersenyum miring. Dalam keheningan renungan kelamnya, donghae ingat, kejadian itu, hampir tiga tahun yang lalu.

Malam itu, donghae pulang. Usai menjemput beberapa map yang tertinggal untuk ia kerjakan diwaktu senggangnya. Donghae ingat betul mengapa ia memilih untuk berhenti ketika hujan pertama turun dimusim panas tahun itu.

Malam mulai menjadi begitu kelam saat langit juga memuntahkan hampanya pada bumi. Seluruh manusia tampak antusias memandangi dingin bulir kristal yang gumapalan awan turunkan.

Dan donghae ingat, bagaimana sosok wanita itu menyita seluruh perhatiannya dengan sempurna. Ia tersenyum. Menatap jatuhan hujan dengan salah satu tangan menampung jernihnya air tuhan.

Donghae ingat.

Masih mengingatnya dengan jelas.

Entah sejak kapan. Yang pasti, setelah hampir dua tahun hyuk jae mengangkatnya menjadi sekertaris pribadi, donghae menjadi lebih ingin berada pada kediaman kantor hyuk jae dibandingkan kantornya sendiri.

Donghae juga ingat bagaimana perkenalan pertamanya dengan yeoja itu ketika hyuk jae membawa mereka bertiga untuk makan siang sebagai simbol kedekatan yang –memang harus- mereka jalin.

Donghae memutuskan untuk menepi. Membuka kaca lalu menatap ji yeon dengan senyum yang luar biasa sempurna.

“kau tidak pulang?” teriak donghae. Gemericik hujan hampir menenggelamkan suara miliknya.

“eoh, donghae-ah!” pekik ji yeon terkejut sesaat “aku masih menunggu bis” jawabnya.

Donghae tersenyum. Beberapa bulan setelah makan siang itu berlangsung, tak ada lagi panggilan ‘tuan’ sebagai lambang kesopanan yang sebelumnya ji yeon gunakan.

Dan donghae menyukai itu.

Menyukai cara mereka mengakrabkan diri tanpa batas kasta yang jelas.

Donghae kembali berteriak kencang “mau minum?”

Mereka menyambangi kedai soju, di sekitar gongchun sebelum memasuki kompleks bangunan pencakar langit yang megah.

Disanalah donghae menyadari jika ji yeon benar-benar berbeda. Tak sama seperti gadis kebanyakan yang ia kenal.

Ji yeon pekerja keras. Ia membenci petir namun menyukai hujan. Warna kesukaannya hitam dan putih. Ia terlalu menggilai musik western hingga makanan kesukaannya adalah es krim. Donghae juga baru menyadari jika yeoja lembut yang ia kenal ternyata adalah seorang peminum yang patut diacungi jempol.

Bodohnya, donghae lupa jika ia terlalu buruk dalam hal itu.

Donghae tak minum banyak. Berbeda dengan wanita didepannya. Ji yeon menghabiskan hampir sebotol soju untuk dirinya sendiri. Hingga akhirnya donghae terpaksa memberhentikan yeoja itu ketika ia mulai meracau tak jelas.

Sekali lagi, donghae bodoh.

Ia tak tau harus membawa ji yeon kemana. Mencari alamat ji yeon bukanlah hal konyol yang akan ia lakukan. Menghubungi hyuk jae adalah hal konyol lain yang tak akan ia lakukan.

Hyuk jae tengah berada di london. Jika disini malam, maka tentu disana tengah pagi buta. Dan hyuk jae benci dibangunkan oleh deringan ponsel jika tidurnya terlalu nyenyak.

Pada akhirnya, donghae menyerah. Mungkin, menjadi pria brengsek walaupun tak dalam arti yang nyata harus ia pilih.

Donghae, membawa ji yeon menuju sebuah hotel.

Tak terjadi apapun. Donghae tau benar bagaimana ia harus menghargai wanita itu. ia tau betul bagaimana harus bersikap. Dan malam itu, berlalu dengan donghae yang terus memandangi wajah ji yeon dalam keheningan kelam.

Donghae tersadar, perasaannya berbeda. Yang ia benar-benar mengerti adalah debaran jantung miliknya tak lagi sama.

Ini cinta.

Dan semua tertuju pada wanita itu.

Donghae tersenyum dengan sumringah ketika pagi menjelang. Lalu akan tetap seperti itu ketika waktu makan siang datang. Mereka akan makan bertiga lalu bercerita panjang. Dan sejak saat dimana donghae menyadari segalanya, rasa itu tumbuh semakin besar.

“arrghh!!”

Donghae menggeram. Tangannya bergerak menyapu beberapa botol yang terpajang diatas nakas kamar.

Itu hotelnya. Hotel mereka. ia dan ji yeon.

Hampir tiga tahun yang lalu.

Donghae juga masih ingat betul bagaimana ia dengan begitu bahagia menceritakan segalanya pada hyuk jae. donghae ingat, bagaimana ekspresi namja itu ketika mendengarkannya.

Dan baru donghae sadari, seharusnya ia bisa lebih peka saat itu.

Seharusnya ia juga lebih dapat menyadari untuk apa hyuk jae mengangkat wanita itu menjadi sekertaris pribadinya hanya empat bulan selang ia bekerja.

Seharusnya, donghae tau.

Hubungan ‘pertemanan’ yang dipaksakan hyuk jae adalah salah satu upaya namja itu berusaha mengkomunikasikan diri jika wanita itu terlalu spesial baginya, sehingga donghae perlu tau dan juga mengenalnya.

Tapi donghae terlalu buta. Pesona wanita itu meyilaukan seluruh rasa peka hatinya terhadap hyuk jae. dan satu bulan setelahnya, hyuk ajae datang. Membawa sebuah kotak merah yang berisikan cincin berkilau.

“hae, dia kekasihku. Dua tahun ini. dan aku berniat melamarnya”

Kalimat itu adalah hal pertama yang membuat segalanya berubah. Mimik wajah hyuk jae tak pernah menyiratkan rasa benci. Namun donghae tau benar, ada rasa kecewa dan pertahanan diri yang hyuk jae coba bangun dengan kuat.

Donghae ingat, saat mereka terlalu belia, hyuk jae pernah berkata “hanya ada satu wanita yang akan kuperkenalkan padamu. dan saat itu terjadi, akan ada sekotak cincin untuknya”. Donghae ingat bagaimana mereka berkelakar mengenai wanita yang kelak akan mengisi kehidupan mereka. bagaimana jika anak mereka berjodoh dan bagaimana persahabatan anak-anak mereka jika saja mereka tak berjenis kelamin berbeda.

Donghae ingat. Ingat betul pancaran hangat yang bahagia itu dari mata hyuk jae. dan hari itu, sejenak semua luruh dalam tatapan bersalah miliknya.

“a apa?!”

Donghae tak kuasa menahan keterkejutannya. Semua berjalan terlalu cepat. dan ia tak pernah menyangka semua ini sebelumnya.

Yang donghae tau, ji yeon tak memiliki siapapun. Ah,, atau donghae saja yang menyimpulkannya sendiri? Ia tak pernah bertanya. Dan ji yeon maupun hyuk jae juga tak pernah memberitaunya.

“aku menyimpan berita ini untukmu. Sejak awal ingin kau yang pertama tau. tapi,, aku juga tak mengerti dengan__”

“hyuk, katakan jika semua ini tidak benar”

Dan setelahnya, jalan tak lurus itu mereka tempuh. Hyuk jae membenarkan diri dengan berita miliknya sementara donghae terlihat tak pernah ingin menerima. Hawa dingin itu menguar dari tatapan mereka. dan hangat yang pernah ada akhirnya luruh.

Donghae, tak lagi bersikap sama. Begitupun dengan sahabatnya.

“aku mencintainya, dan kami,, membicarakan sebuah pernikahan beberapa bulan ini. aku akan melamarnya, hae.” Hyuk jae diam dalam tunduknya “tapi aku akan menunggu, hingga kau tak lagi merasa perih”

Seharusnya donghae tau. seharusnya memang seperti itu. hyuk jae mencoba memberi tau dirinya akan kehadiran ji yeon sebagai wanita yang terlalu special hingga harus ada disekitar orbit persahabatan mereka.

Seharusnya donghae tau, ketika hyuk jae menitipkan yeoja itu padanya untuk ia jaga. Hyuk jae tak pernah menitipkan siapapun! Tapi donghae justru terlalu larut dalam rasa bahagia akan kesempatan yang hyuk jae berikan padanya.

Ia salah. Terlalu menyimpulkan banyak hal dengan sesuka hati. Dan bertindak seolah tak lagi perduli ketika sinar silau itu mulai mengaburkan pandangannya akan persahabatan mereka.

Dongha memilih egois. Memperjuangkan ji yeon sekuat apapun yang ia bisa. mencoba merebut perasaannya selama hyuk jae tak memberikan batas ‘tunggu’ yang pernah ia janjikan dua tahun lalu.

Hingga akhirnya, hari yang benar-benar ia takutkan datang.

Hyuk jae jengah. Terlalu bosan dengan keegoisannya yang tak pernah putus. Terlalu lelah untuk terus tersakiti dan menyakiti. Terlalu jengah untuk menyadarkan donghae.

Memang dari awal donghae harus tau. ia HARUS tau.

Bukan sekedar melebarkan tangan bebas tanpa beban.

Hyuk jae memberikannya waktu. Dan itu jelas bukan untuk membuat pria itu jengah. Hyuk jae ingin donghae sadar, dengan kesadarannya sendiri. Hyuk jae ingin ia berusaha, agar nanti, ia tak perlu sakit hati.

Hyuk jae ingin ia bahagia. Dan donghae tak pernah menangkap maksud yang satu itu.

Yang ia tau, semakin jauh pernikahan mereka dilaksanakan, maka semakin besar kesempatan yang ia miliki untuk mendapatkan ji yeon.

Donghae tak sadar. Secara tak langsung, ia menyakiti dirinya. menyakiti ji yeon. Dan terlebih lagi, ia menyakiti sahabatnya.

Hyuk jae menunggu terlalu lama, hingga akhirnya donghae pun berubah menjadi lebih liar. Ji yeon pun menunggu terlalu lama. Menunggu hyuk jae memintanya untuk menjadi teman seumur hidupnya.

Dan donghae tau, ia dalang dibalik semua ini.

Donghae sadar, dua tahun berusaha tak membuat matanya buta. Ia sadar betul betapa besarnya cinta ji yeon terhadap hyuk jae. betapa yeoja itu memilih untuk menunggu lamaran hyuk jae padanya. Betapa ia sadar jika hyuk jae perlu ia pertahankan.

Dan donghae juga tak bodoh. ia punya berjuta alasan besar yang mendindinginya dari kata ‘memilih’. Donghae tau, ia tak akan menang. Meski dengan terlalu licik ia menggunakan rasa cinta hyuk jae yang terlalu besar terhadap ji yeon dan terhadap persahabatan mereka menjadi tombak, yang akhirnya menyayat hati semua orang.

Hyuk jae menyerah, memutuskan untuk tak lagi memihak pada persahabatan yang donghae jadikan senjata. Memilih untuk melanjutkan hidup dengan wanita, yang saat ini baru benar-benar donghae sadari, sangat berarti dalam kehidupan sahabatnya.

Hyuk jae pergi, meninggalkannya dalam gamang yang tak surut termakan waktu. Donghae justru semakin tenggelam. Dan bodohnya, ia tak pernah berusaha untuk berenang. Ia tak penyambut uluran tangan hyuk jae. Donghae justru berbalik arah, menenggelamkan diri hingga akhirnya hyuk jae menyerah untuk terus menolongnya keluar.

Hyuk jae, pergi. dengan sejuta usahanya yang terlalu donghae sia-siakan. Dengan setiap tindakan kasihnya yang donghae acuhkan. Dan dengan setiap kekecewaannya karena terlalu gagal menolong, menolong donghae, yang terlalu brengsek.

Donghae menggeram. Berteriak sekencang yang ia mampu hingga himpitan itu sebisa mungkin pergi.

“BUKAN KAU YANG GAGAL!!” pekiknya kencang. “TAPI AKU!!!”

“aku yang gagal menjadi sahabatmu! Aku yang bodoh! aku yang egois!! Ya! Memang aku, lee hyuk jae!!”

Dan redam ruang itu memakan setiap teriakannya dalam diam.

Karena cinta tanpa arah akan membawamu pada posisi tebing yang menyakitkan. Menyeretmu untuk jatuh dan dalam hitungan detik, dan,, bam! Kau berkeping tanpa bentuk.

Karena cinta yang hakiki semestinya tak pernah membawamu dalam keterpurukan.

-FIN-

With love, Park ji yeon.

10 thoughts on “Ignorant Feelings 1 [Booming Heart Sequel]

  1. kyuhyuk says:

    arrrgh.. benar* menguras emosi >.<
    jiyeon gmn? hyuk ji nikah kan? terus hae ??

    wait for next chapter saengie ^^

  2. tata says:

    kenapa malah tambah kelam begini hubungan hyuk n hae?!
    itu cinta… kejaaaam!!!

    haaah…
    beginilah cinta, deritanya tiada akhir.

  3. vita says:

    Haduhhh gmn ini lalu apa yg bakal terjadi diannn kmu selalu bsa buat cerita yg menyayat hati n bikinmewekkkk

  4. *napak..
    ninggalin jejak dulu..^^

  5. Ayunie CLOUDsweetJewel says:

    Aigo, kenapa makin rumit kayak gini??? Emang susah kalau udah menyangkut cinta.

  6. ai-sparkyu says:

    Sedikit lega, karena setidaknya donghae udah sadar sama kesalahan dia.. Dan udah sadar sama semua sikap hyuk jae yg selama ini berusaha sabar demi menjaga perasaan donghae. Memang gk bisa nyalahin donghae sepenuhnya atas semua yg terjadi diantara mereka bertiga, karena dari awal donghae gk sadar kalau ji udah jadi milik hyuk jae, tapi biar gimana pun ji udh jadi milik hyuk jae walaupun hyuk jae sedikit terlambat utk ngasih tau ke donghae. Semoga aja dengan donghae yg udah mulai sadar ini, dia bisa ngerelain ji buat nikah sama hyuk jae..

  7. Dwi_h@E says:

    berasa bgt sakit nya mereka *eunhae*

  8. Nathalie park says:

    Penasaran sm perasaan’y jiyeon bwt k’2 namja itu??????

  9. maria says:

    eunhyuk or donghae yg ji yeon pilih? lanjut next part thor

  10. clee says:

    Lee Donghae ㅠㅠㅠㅠ
    Masih ada aku disini sayang..
    Haha.

    Unnie…. mau request happy ending yah! Haha. Jangan sad ending. Kasian donghae-ku wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s