Magic Stick~

dongha

Happy Reading^^

 

 

Derit kecil yang hampir menyaingi suara angin terdengar perlahan menjauh. Kaki kecilnya terlihat berjinjit ketika ia mulai berjalan cepat menuju suatu titik yang bisa ia gunakan sebagai tempat persembunyian.

“42..43..44..”

Sial! Ia kehabisan waktu hanya untuk mencari tempat persembunyian. Dengan cepat kaki kecilnya menuntunnya untuk meringsek masuk diantara celah kecil yang terjepit diantara bilah anak tangga dan lemari besar disana.

Bibirnya mengulum senyuman lucu. Dari balik dinding gelap berhawa menyejukkan itu ia yakin ia tak akan pernah ditemukan.

“49.. 50!! Aku akan mendapatkanmu!!”

Ia menutup matanya erat. Hampir tertawa jika jemari kecilnya tak berhasil mengunci rapat mulutnya. Bibir itu kini bungkam. Lalu tubuhnya bergirik ngeri saat derap langkah seseorang mulai mendekat.

Ia meringsek makin dalam, berharap jika kali ini bukan ia lagi yang harus merengek agar menang. Detik berikutnya, jemarinya melonggar. Gedebum jantungnya yang bagai ditabuh genderang  mulai membaik.

Derap itu mengecil, perlahan menjauh lalu tak terdengar lagi dalam beberapa waktu setelahnya.

Setetes keringat membasahi pelipisnya, lalu jemari itu akhirnya terlepas. Hal pertama yang perlu ia lakukan adalah, meraup udara sebanyak mungkin. Yang jelas, kali ini paru-parunya telah berusaha terlalu keras.

“hhh~” keluhnya usai tarikan nafas pertama berakhir. Harapannya, ia bisa beristirahat sebelum ada yang bosan lalu menyerah untuk mencarinya. Bibirnya sempat terkikik kecil lalu dada itu kembali bergemuruh meminta diisi. Namun belum sempat ia bernafas, sebuah kepala muncul dari balik bilik.

“bwa!!”

Tubuhnya bergetar luar biasa. Keterkejutan tiba-tiba menyerangnya. “kyaaa!!!” pekiknya keras.

“kena kau!!”

Dengan cepat tubuhnya tertarik keluar. Menyapa sinar matahari yang beberapa waktu lalu belum seterang ini.

“dasar anak nakal, sudah kukatakan jangan bersembunyi disana. Apa otakmu tidak bisa mencari tempat yang lebih baik, huh?”

Kini tubuhnya menggelinjang hebat. Lelaki itu menggelitik bagian pinggangnya dengan cepat. Menggelikan, sekaligus memuakkan.

“ahahah! Iya, maaf!” pekiknya menahan geli.

“ck, memangnya semudah itu, huh?”

“ahaha,, iya, iya. Ampun!!”

Lelaki itu tersenyum miring. Tangannya berhenti sesaat lalu tak lama berganti wajahnya yang kini terbenam dalam perut namja kecilnya “aaahh!! Geli… ap.. ahppaa!!” ia menggelinjang hebat lalu sesuatu mendesak dari balik celana dalamnya “aaa appa aku bisa buang air disini!!”

Dan teriakan terakhir itu sukses membuatnya terbebas dari neraka dunia. Nafasnya memburu hebat mengingat beberapa detik lalu ia baru saja diguncang hebat.

“nah, sudah jera, lee dong ha?”

Dongha mendelik kesal. “belum! Aku akan mencari tempat yang tidak bisa appa temukan!” sungutnya cepat “tapi,, setelah aku buang air. Aaa sesak sekaliiii”

Donghae tertawa kecil menanggapi putra kecilnya. Bibirnya tak berhenti bergetar menahan geli dalam diri. Ia bangkit lalu berjalan menuju dapur. Disana, tubuhnya segera memeluk eun na dari belakang. Membuat wanita itu terkejut sebentar sebelum sebuah sendok hampir saja mendarat diujung kepalanya.

“galak sekali” protes deonghae manja “tamu bulananmu sedang datang, ya?”

Eun na seharusnya semakin kesal. Tapi pertanyaan donghae justru membuatnya tertawa terbahak-bahak. Salah satu tangannya menyalakan air lalu mencucinya hingga bersih.

“wae, ada yang berulah, hmm?”

Donghae memeluknya makin erat. “nah itu kau tau. Sesuatu mendesakku. Jadi cepatlah usir tamu bulanan sialanmu itu, arraseo?!”

Eun na balik tertawa. Tangannya melonggarkan pelukan donghae kemudian berbalik. Jemarinya kini bersarang dibalik rambut tebal donghae yang mulai menutupi tengkuk lelaki itu. Membelainya dengan jemari secara perlahan.

Donghae menutup matanya menikmati langkah awal sebelum menunggu kembali tamu bulana eun na pergi. Sial! Ia merindukan wanita ini. Padahal tamu bulanan itu baru datang empat hari yang lalu.

Telunjuk eun na bermain nakal. Mengitari lembut garis tulang yang terbentuk dari tengkuk donghae hingga bersarang di bahunya dan turun menuju dada bidangnya yang hanya terlapis kaos putih tipis yang sialnya semakin membentuk tubuh donghae dengan sempurna.

“jangan menggodaku, sayang..” bisik donghae parau. Nafasnya terasa mulai panas dan ia butuh lebih dari sekedar usapan jemari eun na.

“eum.. bukan aku yang melakukannya..” bisik eun na tak kalah halus.

Donghae terkekeh dalam pejaman matanya. “aku bisa menghabisimu jika kau terus seperti ini. Kau tau, kan, aku susah sekali menahan diri dari godaanmmu”

“kk~ jadi menurutmu aku ini wanita penggoda?”

Tangan donghae menjalar menuju pinggul eun na. Hampir menyentuh bongkahan padat itu meski tak ia lakukan. Donghae memang terlalu senang menempatkan tangannya didekat tempat-tempat berisi dalam tubuh eun na. Itu menyenangkan, menurutnya.

“lebih dari itu, kau bahkan pencuri kelas kakap”

“wae?”

Kini donghae mendekat. Bibirnya menyentuh ujung bibir eun na meski sekali lagi, tak benar-benar berada disana. Ia suka sekali melihat eun na tiba-tiba semakin menginginkannya saat donghae tak benar-benar menyantuk titik-titik tertentu.

Benar saja, kini jemari eun na mencengkram erat kaos putihnya. “karena aku kehilangan separuh jiwaku. Dan entah mengapa aku begitu yakin jika kau pasti menyembunyikannya disuatu tempat.” Bisik donghae tepat disamping telinganya.

Eun na bergidik sesaat. Mereka terdiam lama, setelah eun na sadar jika ini bisa saja berlanjut menjadi lebih serius, ia akhirnya memilih untuk berhenti lebih awal.

Eun na menghela nafasnya dalam lalu membuka mata dengan perlahan. “cah, kalau begitu kau lebih dari seorang pencuri ulung. Karena aku kehilangan hampir seluruh jiwaku”

Donghae membuka matanya, seulas senyum mempesona bertengger dari bibirnya. Jika eun na tidak salah terka, maka sepertinya lelaki itu tengah terkesima dengan perkataannya. Dan itu membuat eun na merasa lebih bahagia.

“jadi, bisa aku lanjutkan pekerjaanku?” sambungnya.

Donghae terkesiap sesaat. Ia mengerjap lalu dengan cepat tersenyum. “tidak boleh!” jawabnya.

Kedua alis eun na menyatu sempurna. “wae? Aku harus menyelesaikan ini, sarapanmu dan dongha juga belum jadi”

“hmm~” donghae mendekatkan wajahnya hingga kini bersarang tepat pada leher eun na “kau saja yang jadi sarapanku, bagaimana?”

Eun na terbahak keras. Jemarinya memukul dada donghae pelan, membuat donghae kebingungan setengah mati. “ada yang salah?” tanyanya ragu.

“haha~ lalu apa yang akan dimakan dongha?”

Donghae menaikkan bola matanya, bibirnya berkerut menunjukkan jika ia tengah berfikir. Lalu sesaat kemudian ia tersenyum penuh seringai.

“ASI-mu masih ada?”

PLETAK!

Eun na buru-buru melepaskan tangan donghae yang kali ini tak lagi melingkar erat. “pergi mandi! Pikiranmu sungguh kotor!!”

Donghae mengusap kepalanya pelan. Kakinya melangkah menuju eun na. Jemarinya segera menarik yeoja itu mendekat. Memutar tubuhnya hingga eun na yang semula telah berbalik kini kembali berhadapan langsung dengannya.

Donghae menunduk, menyatukan bibirnya dengan eun na dengan cara yang sulit untuk dijabarkan. Melumatnya kuat, membuat eun na merasa jika bibirnya mungkin akan kebas untuk beberapa saat.

Donghae menyudahinya setelah merasa membutuhkan udara. Bibirnya kembali menyeringai mempesona. Membuat eun na meleleh jika ia tidak sepenuhnya sadar.

“aku kan hanya bertanya. Siapa tau aku bisa berbagi dengan dongha setelah mengurasnya habis. Kau tau, kan, minum susu dipagi hari itu menyehatkan?”

Eun na menutup matanya kuat. Sial! Apa pikiran namja ini bisa lebih baik? Ini bahkan masih terlalu pagi untuk memikirkan hal yang macam-macam seperti itu.

Donghae terkekeh melihat wajah masam eun na usai ia memutar bola matanya jengah. Dasar wanita, hati dan ekspresi selalu saja berbeda. Memangnya donghae tidak tau jika eun na juga menginginkannya?

Semacam merindukan sentuhannya, mungkin.

Donghae melepaskan pelukannya. Jemarinya sempat membelai punggung eun na sebelum akhirnya berniat menciuminya kembali.

“appaa!!!”

Donghae terperanjat kaget, tak jauh  berbeda dengan eun na yang kini mendorongnya kuat hingga tubuh mereka benar-benar terpisah dalam jarak yang jauh.

“appaaaa!!”

Donghae menutup matanya erat. “sial!” umpatnya. Ia melirik eun na yang tersenyum mengejek, lalu wajahnya berubah pias.

“sayang..” rutuknya manja mencoba meminta pertolongan.

Eun na berbalik tak perduli. “nah, kan.  Siapa yang menginginkan anak laki-laki dulu?” ia berjalan menuju wastafel “dan sebaiknya kau pergi sebelum teriakannya semakin memekakkan telingaku, sayang”

__

“appa!!”

“isch, wae?!”

Donghae sedikit meninggikan nada bicaranya agar dongha berhenti berteriak. Langkahnya membelah porselen rumah mereka hingga berhenti tepat didepan dongha yang kali ini tampak sibuk dengan televisi.

Dongha segera berbalik mengetahui donghae sudah mendekat. Entahlah, mungkin hanya perasaan donghae saja atau anaknya ini seperti sangat terobsesi dan menyayanginya dengan cara berlebihan?

Dongha tak pernah terlalu antusias untuk bermain dengan eun na. Mungkin juga karena eun na bukan sosok yang mau repot-repot menyusahkan diri dengan bermain petak umpet atau berlarian disekitar rumah bersama dongha. Terlebih jika ia harus menyelesaikan pekerjaan rumahnya.

Dan dongha bukan sosok yang mau diam. Sepertinya sifat donghae benar-benar menurun pada anaknya yang satu itu. Selain terlalu aktif, dongha terkesan manja meski aura pria sejati ala bocah kecil selalu dapat dongha keluarkan ketika ia meminta untuk mengikuti donghae menuju tempat olahraga langganannya.

“appa!!” teriak dongha cepat. Bocah itu segera meringsek masuk dalam pelukan donghae lalu berbaring dibawah jepitan lengannya. Bocah kecil itu menarik jemari donghae untuk melingkari tubuhnya lalu dengan tenang menatap wajah donghae yang kali ini tampak sedikit masam.

“appa, kau marah?”

Donghae mengerjap sesaat. Seharusnya ia tak menunjukkan kekesalan semacam apapun pada dongha. Wajar saja, sejak awal eun na sudah memperingatkan resiko jika mereka memiliki seorang anak. Salah satunya tentu saja acara bermesraan mereka yang tak lagi bisa dilakukan disembarang tempat ataupun waktu.

“ah, anio.. waegeurae?” tanya donghae balik.

Dongha mengangkat bahunya acuh. Wajahnya kembali ia tenggelamkan pada lengan appanya lalu mengusap otot donghae yang kekar. “appa, jika nanti aku besar, apa mungkin aku memiliki ini?”

Donghae terkekeh geli. Tangannya dengan cepat menarik dongha hingga mendudukkannya dalam pangkuan. “mau ini, eoh?” tunjuknya pada lengannya sendiri. Dongha mengangguk cepat “untuk apa?”

“itu terlihat keren sekali!!” pekik bocah kecil itu bersemangat. “aku kan bisa memeluk seorang gadis nanti jika aku memilikinya”

Donghae hampir tergelak kuat “gadis? Kau sudah punya kekasih?”

“ah,, appa. Tentu saja belum” dongha tersenyum malu. Pipinya terlihat memerah namun detik berikutnya ia segera bangkit, mendekatkan diri pada donghae dan berbisik “tapi appa, baek seo bin itu cantik, kan?”

Akhirnya donghae tertawa lepas. “oh, kau menyukainya? Anak gadis tuan baek ji no? Tetangga didepan sana?”

“appa!!”

Donghae segera membekap dongha dalam pelukannya, menggelindingkan diri hingga kini ia memeluk bocah kecil itu dalam posisi tertidur. Dongha menyandarkan diri pada dada bidang appanya. Posisinya yang kini berada diatas donghae membuatnya bisa duduk dengan mudah pada perut donghae.

“appa..”

Donghae menyanggah kepalanya dengan tangan. Kedua matanya tertutup rapat “hmm?” sahutnya asal.

“aku ingin punya adik”

Donghae segera terduduk dengan menahan dongha yang hampir terjungkal dari perutnya lalu tersungut-sungut kesal.

“appa, aku bisa jatuh!!”

Donghae tak memperdulikannya. Matanya segera menatap mata dongha dalam-dalam. “mengapa kau berkata seperti itu?” tanyanya penasaran.

Dongha mengedik acuh. “aku bosan bermain dengan appa. Kau kan hanya bisa menemaniku dimalam hari lalu akhir pekan. Eomma, kan, tidak mau jika aku mengajaknya bermain seperti ini. Jadi,, ya, jika aku punya adik, mungkin aku tidak akan bosan” tutur dongha jujur.

“eoh, apa begitu membosankan menjadi anak yang terlalu dimanja?”

Dongha mengangguk. “aku bahkan kesal jika diperlakukan sama seperti anak gadis lainnya. Aku, kan, pria sejati.”

“anak gadis? Seperti baek seo bin, maksudmu?”

“appa!!”

Donghae kembali membekap mulut dongha rapat. Ish, bocah ini suka sekali menjerit, persis seperti eommanya. Donghae menatap mata bocah kecil itu lama. Sungguh memiliki satu lagi anak bukanlah hal yang baru untuknya. Donghae juga ingin melengkapi keluarganya dengan sosok seorang gadis kecil, atau namja tampan pun bukan masalah. Yang jelas, ia juga menginginkan malaikat itu.

Tiba-tiba sebuah pikiran melintas didalam benaknya. Donghae buru-buru menarik dongha lalu berbisik. “cah, minta adikmu pada eomma”

“mengapa harus pada eomma? Pada appa saja bisa,kan?

“ya! Appa mau mau saja. Tapi kan yang akan merawat adikmu sebelum dilahirkan itu eomma.”

“eoh, mengapa begitu?!”

Donghae memejamkan matanya rapat-rapat. Sial! Ia lupa jika dongha terlalu kecil. “emm,, karena,, kau tau, kan, adik kecil itu lahirnya dari perut seorang wanita. Sama sepertimu dulu. Jadi, jika eomma setuju appa akan segera membuatkan adik untukmu. Mudah, bukan?”

Dongha mengerjap “memangnya eomma tidak memberikan appa izin untuk memberikanku adik?”

Donghae menepuk wajahnya pelan, lalu raut matanya berubah sedikit kesal. “kau mau adik atau tidak?” ancamnya jengah. Dengan cepat dongha berubah dan segera bangkit dari perut donghae.

Bocah itu berlari menuju dapur, membuat senyuman donghae perlahan menghilang digantikan seringai yang mengerikan. Donghae meraih selembar koran pagi, hanya tengah bersiap-siap untuk menerima amukan eun na beberapa saat lagi.

Dan, benar saja. Tiba tiba kepala eun na muncul dari balik dapur “LEE DONGHAE, APA YANG KAU KATAKAN PADA ANAKMU?!!”

Donghae melirik kebelakang dengan santai. Lalu disana ada eun na dengan raut kesalnya dan dongha dengan bulir air matanya. Haah~ sepertinya bocah itu akan memaksa mulai saat ini.

__

“eomma, ayolah..”

Dongha berjalan mengitari meja makan mengikuti langkah eun na yang sudah terlalu sibuk pagi itu.

“eommaaa..”

Eun na mendesah jengkel. Dengan cepat diletakkannya dua piring yang terus ia bawa keatas meja lalu berjongkok. “dongha-ya, kau tidak bangun sepagi ini hanya untuk meminta itu, bukan?”

Eun na tertunduk lesu saat dongha mengangguk dengan wajah pias luar biasa. “tapi sayang, memberikanmu adik bukanlah hal yang mudah, eomma harus..”

Eun na terdiam. Sial! Dongha masih terlalu kecil untuk tau alasan seperti ‘eomma harus mencabut alat pencegah kehamilan, menunggu tamu bulanan eomma pergi dan baru dapat berusaha bersama appa-mu’. Oh, bunuh saja eun na jika ia harus mengatakan hal semacam itu.

“harus apa??” dongha mengerjap penasaran “eomma hanya harus mengeluarkan bayi lucu dari perut, hanya itu, bukan?”

Eun na kembali menutup matanya erat. Donghae pasti sudah menjelaskan hal yang bukan-bukan pada anaknya. Sialan. “bukan begitu” eun na berdehem sekali “begini, sayang. Sebelum mengeluarkan bayi yang lucu, eomma harus merawatnya dulu didalam perut selama hampir satu tahun. Jika kau ingin punya adik, eomma tidak bisa memberikannya besok atau lusa. Itu,, terdengar sangat mustahil”

Dongha diam. Tampak berpikir sejenak. “tapi appa bilang—“

“stop!!” potong eun na jengah “eomma yang akan memberikanmu adik, bukan appamu. Jadi bersabar saja. Tidak bisa secepat itu, sayang. Dan tolong berhenti mempercayai ucapan mesum appa-mu”

“siapa yang mesum?”

Eun na segera berbalik menatap donghae yang pagi itu telah siap dengan dasi dan setelan kantoran miliknya. Namja itu berjalan menuju eun na dan dongha. Menciun kening eun na lembut lalu berbalik menggendong dongha kedalam pelukannya.

Dongha meringsek masuk kedalam pelukan donghae, membuat eun na merasa kesal bukan main seteleh beberapa detik lalu dongha masih terlalu rewel sebelum donghae datang.

“sudah sarapan?” tanya dongha pelan pada anaknya.

Dongha menggeleng manja. Donghae melirik eun na ragu, “kau tidak memasak?” tanyanya lembut.

Eun na meliriknya lalu menghela nafas super panjang yang pernah ia hembuskan pagi itu. “kau pikir aku bisa melakukan apa jika anakmu terus meringsek membuntutiku meminta adik. Ck, sudah kukatakan jangan membicarakan hal yang macam-mcam padanya!”

Donghae menatap eun na yang menghentakkan kakinya menuju dapur, lalu menatap dongha. “masih belum mau?”

Dongha kembali menggeleng “eomma tidak mau..” bocah itu meringsek kedalam pelukan donghae yang masih setia berdiri disampingnya. Mengusap bahu dongha yang pagi ini terlihat begitu ingin bermanja-manja.

“ck, sudahlah. Tidak harus hari ini,  bukan? Eomma harus memikirkannya dulu”

“untuk apa dipikirkan? Memangnya memberikanku adik sungguh menjadi sebuah beban, ya?”

Donghae terdiam sesaat. Dongha belum mengerti, eun na tentu memikirkan masa depan dan bagaimana ketelatenannya untuk kembali merawat bayi dalam waktu dekat jika ia memang memutuskan untuk hamil.

Belum sempat donghae membuka mulutnya, eun na datang membawakan dua gelas susu coklat. Meletakkannya diatas meja lalu kembali kedapur tanpa berbicara.

“lihat, kan?! Eomma,, aku mau adik!!”

Dongha menjerit keras, turun dari kursi dan berlari menuju kamarnya sendiri. Eun na kembali keluar dengan wajah masam, menatap donghae tajam sekaligus kesal.

“lihat, bagus sekali, bukan, ajaranmu?”

__

Donghae mendengus, melihat dongha yang kini jadi bersikeras memiliki adik hanya karena perkataannya semalam. “dongha-ya, kau tidak boleh seperti itu pada eomma”

Dongha meringsek kedalam pelukan appanya.

“kau kan tau, eomma mungkin masih memikirkan beberapa hal sebelum memutuskan untuk memberikanmu adik. Eomma tidak mungkin membiarkanmu sendiri, tapi ini semua butuh waktu, sayang..”

Dongha mendongak cepat. “appa bilang ini mudah. Lalu mengapa harus membutuhkan waktu?”

“tentu saja karena..” donghae mulai kehilangan kata-kata. Sial, searusnya ia tak perlu memperngaruhi dongha untuk memaksa eun na memiliki adik. Ia bisa saja kan berjanji untuk berusaha sekuat mungkin. Lagipula, dongha benar-benar tak tau jika memiliki adik tak semudah bayangannya.

Donghae tentu harus berusaha mati-matian agar benih keduanya tertanam dalam rahim eun na. Belum lagi jika memang nanti eun na hamil, dong ha tentu harus menunggu selama sembilan bulan agar adiknya hadir dimuka bumi ini.

Dan lagi,, memangnya bayi dua hari bisa dongha bawa untuk bermain? Ini,, sunggun diluar ekspetasi donghae. Ia tak pernah memikirkan betapa seharusnya ia belikan saja dongha seekor binatang peliharaan sebelum adiknya mampu untuk mengimbangi tingkah aktifnya.

Tapi,, eun na kan tidak suka hewan.

“hiks,, appa..”

Donghae tersadar saat bocah kecil itu mulai terisak, semakin memeluknya yang kini mulai kembali terlihat kusut. Percayalah, donghae pasti akan kehilangan dua atau tiga jam awal untuk datang ke kantor.

Sepertinya ia memang harus membereskan masalah yang ia buat sebelum eun na semakin kesal dan dongha semakin menuntut. Tangannya terselip diantara lengan bocah itu lalu menggendongnya dalam dekapan hangat.

“dongha-ya,, memberikan adik untukmu tidak semudah itu. Sepertinya appa salah berbicara, maaf” mulai donghae.

“tapi appa bilang—“

“jangan terlalu didengar. Berusaha untuk membuatkanmu adik memang menyenangkan, tapi tidak semudah itu. Eomma juga belum bisa berusaha saat ini sebelum tamu bulanannya pergi. Jadi—“

“nugu?”

Donghae mengerjap “nugu?? Mwonde?”

“tamu bulanan eomma itu, siapa?”

Donghae kembali menepuk wajahnya gusar. Sial! Ini akan semakin rumit, batinnya. Donghae berdehem sekali. “emm, maksud appa, perut eommamu sedang bermasalah. Nah, adik kecil itu, kan, keluarnya dari perut eomma, jadi, sekarang ia belum akan keluar karena perut eomma sedang bermasalah”

Dongha mengerjap mencoba mencerna perkataan donghae “jadi,, kapan eomma bisa mengeluarkan adik?”

“emm,, ya,, mungkin satu bulan lagi adikmu akan ada didalam perut eomma”

“lalu dimana adikku sekarang?”

Donghae menghela nafasnya lelah. “dongha-ya, ini sedikit sulit untuk dijelaskan karna—“

“dwaesseo!!”

Donghae mendongak melihat dongha yang kini berdiri, wajah bocah kecil itu terlihat kesal dengan sisa bulir air mata yang mulai mengering. “appa, kalau begitu aku saja yang membuat adikku sendiri”

Mata donghae melebar sempurna “ya!! Mana bisa seperti itu!” pekiknya kaget.

“wae? Mudah, bukan? Hanya menunggu perut eomma tidak sakit lagi. Aku akan bertanya pada eomma sekarang”

Donghae buru-buru menahan tangan bocah yang terlihat akan menuruni ranjang kecilnya itu. Gawat, bisa-bisa eun na tidak berbicara dengannya jika tau ia telah menceritakan siklus bulanannya pada anak mereka.

“dongha-ya.. jangan..”

“heis,, appa, aku kan hanya ingin membuat adik!” dongha bersungut kesal, membuat donghae tak kalah terlihat kesal.

“kau pikir membuat adik itu mudah? Kau bahkan tidak memiliki apapun untuk membuatnya”

“memangnya membuat adik memerlukan apa?”

Donghae yang mulai tersulut emosi berkata lantang “ya,, tentu saja,, tongkat ajaib”

Sejenak mereka terdiam. Dongha menatap donghae ragu sementara donghae terlihat begitu frustasi. Apa yang baru saja ia bicarakan?! Tongkat ajaib? Ya, Konyol sekali!!

“tongkat,, ajaib?”

Kepalang tanggung, donghae mengangguk tegas. “ya, kau kan tidak punya tongkat ajaib” sambungnya.

Dongha mendengus “aku bisa membelinya. Appa katakan saja, dimana appa membelinya?”

Kini donghae hampir menyemburkan tawa besarnya. Bocah kecil ini mengapa begitu polos? Donghae ingin sekali memakan dongha hidup-hidup usai ia berkata ‘aku bisa membelinya’. Uh-oh, memangnya tongkat seperti apa yang bisa memberikannya adik dan dijual bebas diluaran sana?

Ini gila.

Donghae mendekatkan diri, menciptakan suasana seolah ia akan menceritakan sebuah cerita panjang. Ia berdehem sekali “itu tidak dijual dimanapun” bisiknya. Dongha menatapnya ragu, kesal sekaligus tidak percaya “hanya appa yang punya”

Dan dongha mendengus semakin kesal. “mana ada seperti itu. Semua orang pasti bisa membelinya, tidak mungkin hanya appa yang memilikinya!”

“ya! Kau tidak percaya? Kau pikir kau lahir dari apa? Dari tongkat appa!!”

“uhh,, benarkah?”

Donghae mengatur ekspresinya kembali. Pembicaraan mereka semakin menggila saja. Dan raut wajah dongha terlihat mulai antusias.

“bagaimana bisa? Apa hanya appa saja yang memiliki tongkat itu?”

Donghae tersenyum licik “ya, tentu saja bisa. Karena itu namanya tongkat ajaib.” Ia berhenti, lalu berfikir sejenak “sebenarnya,, bukan hanya appa, tapi eommamu hanya menyukai tongkat milik appa”

Dongha bergumam kecil “uhh,, seharusnya eomma punya beberapa agar ia tak bergantung pada appa”

“ya!! Mana bisa seperti itu!” pekik donghae tak terima.

Dongha menatapnya menantang “wae? Bukankah memang seperti itu? Appa punya banyak baju untuk appa pilih jika appa bosan dengan model yang itu itu saja. Seharusnya eomma juga boleh punya banyak tongkat agar eomma tak bosan karena hanya memiliki satu tongkat”

Donghae menggeram “tidak bisa, dongha-ya. Eommamu hanya akan menyukai dan terus menyukai punya appa!” tegasnya.

“wae?”

“karena hanya punya appa yang eomma mau. Eomma tidak akan pernah menyukai tongkat-tongkat lainnya”

“apa seo bin juga lahir dari tongkat appa?”

Donghae memejamkan matanya kuat-kuat. Nah, kan, pembicaraan ini memang benar-benar sudah gila!

“bukan. Seo bin itu lahir dari tongkat appanya”

“jadi, perbedaan tongkat itu membuat kami juga berbeda, ya?”

Donghae mengangguk “nah, anak pintar. Sekarang berhenti membahas itu. Kau tidak ingin sarapan?”

Dongha menggeleng. Menatap donghae ragu lalu terlihat berpikir sejenak. “appa, aku mau lihat tongkat appa..”

__

Donghae bersumpah akan bunuh diri mendengar pertanyaan anak lelakinya yang satu ini. “MWOO??!” pekik donghae cepat. “a apa katamu?” ulangnya.

“aku mau lihat tongkat appa. Aku ingin tau aku lahir dari tongkat yang seperti apa”

Kali ini donghae terdiam cukup lama. Percakapan ini sungguh sudah terlalu jauh. Apa? Melihat tongkatnya? Gila. Donghae bukan ayah cabul yang akan mempertontonkan kejantanannya pada anak lelakinya sendiri!

Ia bergerak gelisah tampak berpikir sejenak. Dongha terlalu pintar untuk terus menerus ia bohongi. Bibirnya bergemeletuk cemas. Tidak. Dongha belum boleh mengerti apa yang ia maksud. Bukankah ia hanya berniat untuk menjahili putranya, tadi?

“emm,, dongha-ya,, tongkat appa itu tidak boleh dilihat oleh siapapun. Hanya eommamu yang boleh melihatnya”

“heis~ wae?” rutuk dongha manja.

“karena… karena.. ya.. hanya eomma yang bisa melihatnya. Jika bukan eomma, tongkat ajaib itu tidak akan terlihat. Ia tidak ingin jika itu bukan eomma”

Donghae bersumpah akan mengiris lidahnya usai ini.

“ck! Mengapa orang dewasa selalu memiliki rahasia? Kalau begitu beritau aku cara appa berusaha membuatkanku adik!”

Donghae menggeram “itu juga tidak bisa dijelaskan. Pokoknya hanya appa yang memiliki tongkat untuk membuatkanmu adik dan hanya eommamu yang boleh melihatnya, menyentuhnya atau melakukan apapun semaunya. Kau tidak perlu memikirkan itu, biar appa dan eomma saja yang berusaha untukmu. Yang penting, appa janji akan memberikanmu adik secepatnya”

Donghae menuntaskan pembicaraan mereka secepatnya. Ia bisa gila membayangkan betapa ia sudah menjadi begitu konyol karena pembicaraan ini.

“tapi appa—“

“heis~ bocah nakal. Jangan berkata jika kau tengah penasaran sekarang. Karena rasa penasaranmu tidak bisa appa jawab dengan benar. Intinya, hanya appa dan eomma yang tau bagaimana cara terbaik untuk menghadirkan adik untukmu. Biarkan appa berusaha,, dan biarkan tongkat ajaib appa yang menuntaskannya”

“jadi,, appanya seo bin juga—“

“ya, semua orang yang memiliki anak kecil cerewet sepertimu memiliki tongkat mereka sendiri dan memakainya dengan cara mereka sendiri”

“tapi seo bin tidak cerewet. Apa tongkat milik appanya—“

Donghae megacak rambutnya gusar “berhenti membicarakan ini atau aku akan dihabisi istriku setelah ini, lee dong ha!”

“tapi appa…”

Dan donghae bersumpah ini terakhir kalinya ia mengingat betapa memiliki sebuah tongkat ajaib dan menceritakannya pada seorang bocah kecil yang selalu ingin tau sungguh sebuah malapetaka besar. Sial!

-FIN-

Nah, kan. Ini apa??!! *histeris*

Ini gila banget. Dan kepikirannya hanya beberapa saat setelah ulangan fisika selesai. Demi apa?! Ini konyol banget>< tongkat ajaib? Such a bit crazy think-__-‘

With love, Park ji yeon.

28 thoughts on “Magic Stick~

  1. ai-sparkyu says:

    Ini masih pagi bgt, dan aku udah ngakak setengah mati karena baca ff ini…
    Hahahahahaha…..
    Donghae gila bener, ngejelasin sampe sejauh itu sma anak kecil.
    Apaan coba pake istilah tongkat ajaib segala?
    Awas loh, Naeun makin ngamuk klo sampe Dongha tanya” ttg tongkat ajaib itu…
    Ya ampun, itu Dongha nya juga kebijakan bgt yaa! Gk siap” pertanyaannya sampe buat Donghae frustasi…
    Daebak! Aku suka sma ceritanya..😀

  2. Ayunie CLOUDsweetJewel says:

    Eh busyeet, mulut capek karena ngakak. Wkwkwk… Anaknya Dong Ha kepo banget, sampai2 Dong Hae kebingungan dan frustasi sendir. Aigo, Dong Ha ini ngingetin ma wp sebelah. Kekeke… Btw, FC-nya ditunggu^^

  3. ai-sparkyu says:

    Ini masih pagi bgt, dan aku udah ngakak setengah mati karena baca ff ini…
    Hahahahahaha…..
    Donghae gila bener, ngejelasin sampe sejauh itu sma anak kecil.
    Apaan coba pake istilah tongkat ajaib segala?
    Awas loh, EunNa makin ngamuk klo sampe Dongha tanya” ttg tongkat ajaib itu…
    Ya ampun, itu Dongha nya juga kebijakan bgt yaa! Gk siap” pertanyaannya sampe buat Donghae frustasi…
    Daebak! Aku suka sma ceritanya..😀

    • HyukGumsmile says:

      bagus deh kalau bisa bikin ngakak^^ hehe, ide yang satu ini trmasuk gila banget. dan aku jadi merasa bersalah karna istilah ‘tongkat ajaib’ sekarang malah jadi populer-__- nista banget kan ya?? haha..
      iya, dongha kan cerewetnya mirip eun na, jadi sama-sama bisa ikin donghae frustasi..

  4. astagaaaaaa…
    magic stick itu bikin dongha penasaran..
    siapa suruh hae pagi2 bikin keributan.. sempet bingung baca part2 awal.. it magic stick maksdnya apaaa..?? kesininya bru ngeh..
    astagaaaa, dongha emg ank pinter, pengen banyak tau, smpe donghae bingung mw ngejawab apa buat pertanyaannya.. kkkkk~..
    nice FF saengi, fightiiiiiiiiiiingg.. ^^

  5. ahiru kitagawa says:

    ya ampun donghae oppa ampe pusing ngejelasinnya….’dongha jgn dengar kan appa mu… dia ngaco bgt’ hehe…

  6. marly says:

    Wakakakakak… Tongkat ajaib nya donghae itu pasti bgs bgt #loh? #plakkkkk..
    Si dongha maksaa bgt mau lihat tongkat ajaib milik appa nya.. Astagaaaa..kalo Eun na tau pasti donghae ga bakal selamat..🙂

  7. mooairi says:

    bwahahahahahahaha
    apa ini saeng?

    pagi ini aku sedang free dari tugas, jadi iseng buka2 blog kamu
    n what…?! aku nemu magic stick

    dongha… daonghae’s son with eun na
    cerewet mirip eun na n berkharisma seperti hae

    tapi, itu kenapa harus bahas hal begituan sama anak sendiri coba?
    hae geblek dah ><
    ini gak cocok buat dibaca pagi2 gini. harusnya aku baca ntar malam
    gara2 baca ini ff aku sampai ngakak2 sendiri di depan komputer kantor
    n… akhirnya, dapat death glare dari my bos
    hahahahahaha

    tapi ga papa, ini benar2 membunuh kebosananq pagi ini

    oy, mau nanya… ini after story dari hae n eun na di FC kah?

    • tata says:

      aduuh… maaf y saeng
      baru sadar kalo td q comment pake akun kantor >< #deepbow

    • HyukGumsmile says:

      nah, kan. eonni pertama aku mikir ini kan id comment baru tapi kok kayanya udah kenal gitu. ternyata eonni-__-
      dan jangan tanya ini apa karena aku sendiri susah buat ngejelasinnya. sumpah ini ide gila banget, kan, unn??😄
      iya, dongha mirip eun na dan donghae *iyalah anaknya, duh*. dan donghae itu memang bapak yang geblek karna nyeritain yang bukan-bukan. tapi disitu serunya unn, coba bayangin kalau dia beneran cerita gitu sama anaknya ntar, pasti seru😄
      wah, bagus deh udah ngusir kebosenan eonni. dan,, ini bukan sequel kok unn. cuma cerita iseng aja, tapi pairingnya donghae tetep eun na:)

      • tata says:

        iy… mv bgt. g unnie ulang lge dech. sueer!!! ‘-‘v

        tpi bneran dech saeng… g kebayang kalo ini ff di’drama’in!!!
        pasti jdi TOP DRAMA EVER!!
        q bner2 bpikir ini ff after story hae n eun na dFC loh!!

  8. ini ngakak banget. Sumpah bacanya sampe ketawa ketawa sendiri hahahaa

  9. maria says:

    ngakak bacanya seru,lucu tp partnya eunna kurang butuh sequel

  10. vita says:

    Ha ha ha lee donghaeeeee apa2an itu ngomongin tongkat n tamu bulanan ke anak yg raa ingin tau nya tinggi pusing sendiri kn jadi nyaaaaa

  11. Nathalie park says:

    Hahahahahahaha…ngakak bgt bca crita ini..sumpah y itu ikan nemo koq bs y ngomong ng’lantur ttg tongkat ajaib sm anak’y???hahahahahaha..aigoo…virus yadong’y enyuk oppa ky’y udh nular bgt sm ikan nemo..sumpah ikan nemo’y mesum bgt..dan aigoo..dongha’y lucu bgt pzti ganteng bgt sm ky appa’y cmn koq sfat pengen tw’y itu ky sft’y c’evil kyu y???hahahahahhaha..

  12. clee says:

    Yaampun abis ngubek2 wordpress ketemu blog ini. Dan ini FF pertama yang aku baca dari blog ini.
    HAHA
    Ketawa sampe nangis bacanya, lucu banget.

  13. Quiny says:

    Nyambi nunggu balesan pw FC part 11, baca ini dan ngakak parah. Saengiiiii apa apaan tongkat ajaib xD pas banget ini cast pas banget buat Lee Donge!😄 pabbo appa!

  14. hahaha. . dongha lucu amat yh. tongkat ajaib^^

  15. ah lucunya dongha..
    tongkat ajaib nii. ribet tuh donghae jelasinnya

  16. minrakyu says:

    ya ampun demi apa ya ini dongha yg pinter apa bapaknya yg agak2 c..
    kkkk… ngebayangin ntar hae kalo jadi ayah kaya gini gmn yah..
    wkkkkkkk,,,,,,,,,,,

  17. YAK .. lee dong hae … apa maksud nya .. ” tongkat ajaib ” ????? Membuat adik pakai tongkat ajaib appa nya ?? ( tepok jidat ) itu kalo di dengar orang lain .. bisa habis di cincang eun na loh .. ckckckck

    Dong ha … sabar ya .. adiknya lom bisa dtg .. soalnya tongkat ajaib appa mu msh di simpan di gudang huahahaha …

  18. Eva Dwi says:

    Bhaksss ngakak sumvah ..
    Annyeong aku member bru . Ijin bca ffnya dan Salken..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s