Can’t Life Without You

cant life without you

Happy Reading^^

“oppa..”

“hmm?”

Ji yeon mendengus malas. Bahkan sekarang hyuk jae tak lagi ingin menatapnya saat berbicara.

“aku..”

“aku masih banyak pekerjaan, yeon. Lebih baik kau segera tidur. Sudah larut”

Ji yeon menunduk dalam. Diruangan besar berisikan berbagai macam buku dan dokumen itu ia merasa jika memang ada yang berbeda dengan kehidupannya kini. Ji yeon merasa seperti sesuatu tengah membalik keadaan menjadi lebih rumit.

Di ruang kerja hyuk jae yang memang bersebelahan dengan kamar pribadi mereka, hyuk jae terus menghabiskan waktunya untuk menyendiri.

Selain karena urusan kantor yang belakangan terlihat semakin menmpuk, hyuk jae tak lagi memberitaunya mengenai masalah apa yang ia hadapi hingga harus mempekerjakan diri sekeras itu di kantor.

Yang jelas, usai pulang larut, hyuk jae tak akan memilih untuk tidur. Ia akan berkecimpung didalam ruang kerjanya bahkan hingga pukul satu dini hari entah untuk apa. Ji yeon tak mengerti. Dulu, hyuk jae bukan seroang yang gila bekerja seperti ini.

“tapi oppa—“

“yeon, kumohon. Kali ini jangan membantah”

Ji yeon terkesiap untuk sesaat. Dari nada bicara namja itu saja ia tau jika suami yang menikahinya hampir setahun lalu itu sedang tak ingin ia ganggu. Ji yeon tersenyum miris, bahkan kehadirannya di labeli sebagai perusak suasana sekarang.

Ia menunduk dalam dan mengangguk meski ia tau hyuk jae tak sekalipun berpaling dari selembar kertas yang terus ia tatap dengan ekspresi yang tak dapat terbaca.

“arraseo,,” gumamnya pelan “aku tidur dulu, oppa”

Ji yeon berjalan keluar. Ia bahkan merasa jika hyuk jae tak perlu lagi wejangannya tentang ‘jangan tidur terlalu larut’ atau bahkan ‘cepat menyusulku, oppa’.

Hal semacam itu telah berkali-kali ia lontarkan meski tak sekalipun ia rasa berguna. Hyuk jae tak lagi mendengarkannya. Berbeda dengan dulu saat lelaki itu selalu tersenyum dan mempertimbangkan keluh kesah dan setiap permintaan kecilnya lalu berkata, ‘geurae, kau benar. Terimakasih, sayang’

Ji yeon terpaku di depan pintu kamarnya. Sesuatu terasa jauh lebih dingin sekarang. Lalu bayang hyuk jae yang memanggilnya penuh cinta beberapa bulan lalu membuatnya merasa tertekan.

Hyuk jae berubah.

Dan ji yeon merindukannya.

__

Ji yeon menunduk dalam kepalan tangannya yang berlipat diatas meja. Hari itu ia berinisiatif untuk memasak lebih banyak. Ada makanan kesukaan hyuk jae jika saja ia mau pulang lebih awal.

Sekarang, seluruh piring itu sudah kosong. Ji yeon sengaja membuangnya karena merasa tak lagi perlu untuk berharap. Seluruh angannya pupus. Dulu, kehidupan rumah tangga bersama hyuk jae ia pikir akan menyenangkan.

Karena selama menjalin hubungan kasih hyuk jae terlihat serius dan mencintainya dengan sepenuh hati.

Ji yeon kembali melenguh malas. Pikirannya benar-benar kacau. Bahkan ulang tahun pernikahan mereka tak lagi diingat hyuk jae. Padahal, seharusnya ini menyenangkan. Setahun lalu bukankah mereka mengucap janji didepan tuhan dengan binar bahagia?

Lalu mengapa sekarang seperti ini?

Dua bulan lalu, ji yeon baru sadar ketika hyuk jae yang mulanya selalu menyempatkan diri pulang sebelum pukul sembilan malam kini berubah. Ia pulang larut bahkan hingga dini hari tanpa memperdulikan hal-hal kecil seperti ji yeon yang masih menunggunya dibantalan sofa.

Ji yeon tau, lelaki itu akan mengangkatnya untuk tidur bersama didalam kamar jika ia menemukan ji yeon sudah terlelap diatas sofa ruang tamu.

Tapi bukan itu. Bukan yang seperti itu yang ji yeon inginkan.

Ia mau hyuk jae yang peduli padanya. Ia ingin hyuk jae yang romantis dan selalu berlaku lembut padanya. Ia tak pernah berharap hyuk jae akan menjadi pekerja keras dan meninggalkannya demi setumpuk uang.

Ji yeon tak butuh uang. Asal hidup bahagia bersama hyuk jae, itu saja sudah cukup.

Ia benci ketika hyuk jae berkali-kali meninggalkannya untuk urusan perusahaan yang –mungkin- sekarang sudah ia anggap lebih penting dari apapun. Ji yeon tak suka jika suaminya itu menjadikan pekerjaannya sebagai perhatian utama.

Ia tak ingin ditinggalkan.

Ji yeon menggeram kesal. Ini masih pukul delapan. Tapi kenyataan jika hyuk jae tak pernah lagi pulang sebelum pukul sebelas membuatnya muak. Ji yeon memutuskan untuk menyerah lalu bangkit dan membenamkan diri didalam selimut tebalnya.

Mengucurkan emosi lewat kristal pertama yang akhirnya muncul dalam rumah tangga mereka.

__

Paginya.

Hyuk jae memasangkan dasinya erat. Sebuah senyum tipis terpatri dalam bibir tebalnya ketika pagi itu ia terbangun dengan lebih baik.

Setelan kemeja hitam pas badan yang ia kenakan cukup membuatnya terlihat lebih baik meski cekung matanya tak dapat ia tutupi dengan baju mewah semacam apapun. Ia tak perduli. Ada hal penting yang lebih baik daripada hanya memperhatikan cekung matanya.

Hyuk jae melirik ranjang besar di kamar mereka –ia dan ji yeon-, lalu memberengut saat pagi ini istrinya tak lagi bersikap sama. Ada yang berbeda. Biasanya, semarah atau seperti apapun yeoja itu tengah merajuk, ia tetap akan memasangkan dasi hyuk jae sebelum keluar kamar dan menikmati sarapan buatannya bersama.

Tapi ini berbeda. Ji yeon tak tampak semenjak hyuk jae membuka mata. Dan itu sedikit banyak mengganggu mood paginya.

Hyuk jae berjalan keluar kamar  usai membereskan diri. Kakinya melangkah menuju pantri dan menemukan ji yeon berada disana. Tapi aneh, ji yeon tak melakukan apapun selain berdiri didepan tungku penggorengan dengan mata yang kosong.

“Park ji yeon, apa yang kau lakukan!!”

Hyuk jae berlari cepat menarik ji yeon menjauh lalu memadamkan api kompor sebelum minyak yang terlanjur panas itu akhirnya meledak.

Sekelebat amarahnya memuncak saat yeoja itu tak berekspresi apapun selain hanya terdiam dan mengusap lengannya yang memerak akibat cengkraman hyuk jae.

Hyuk jae kembali menariknya usai menutup kompor didapur dengan sehelai handuk basah. Tangannya menarik lengan ji yeon hingga mereka berhenti di ruang tamu apartemen mereka. Hyuk jae melirik tajam kedua mata ji yeon yang masih terlihat tak berisi. Bibirnya menggeram.

“apa yang kau fikirkan?!” geramnya.

Hyuk jae terus menatap ji yeon yang tak menanggapi pertanyaannya. Hyuk jae semakin merasa jika kepalanya akan pecah. Pekerjaan yang menumpuk dan sikap ji yeon yang perlahan berubah terus mengacaukan pikirannya.

“park ji yeon..”

Hyuk jae tersentak saat yeoja itu akhirnya mengangkat wajah. Menatap hyuk jae dengan mata sayu penuh ketidak percayaan.  Lalu kedua mata itu meredup dan berubah pias. Membuat hyuk jae tak mengerti.

“oppa..” cicit ji yeon hampir teredam suara angin.

Hyuk jae mengerutkan alisnya. Menunggu apa yang akan dikatakan ji yeon padanya. Hyuk jae tentu punya hak untuk tau dan penjelasan mengenai semua sikap aneh yeoja ini dipagi buta.

“wae?”

Hyuk jae menyahut tak sabaran. Matanya semakin tajam menunggu ji yeon yang terlihat semakin mengulur-ulur waktu.

“oppa..” panggilnya lagi.

Hyuk jae menggeram tak percaya “iya, ada apa?”

“apa oppa mencintaiku?”

Tiba-tiba hyuk jae teriam. Emosinya menguar entah kemana lalu ekspresinya yang penuh rasa tak sabaran berubah datar. Apa yang baru didengarnya? Apa pendengarannya bermasalah?

Pria itu menatap ji yeon tak percaya. Apa yang ia pertanyakan? Ji yeon tentu sudah terlalu lelah hingga bertanya hal konyol seperti itu. mereka suami istri. Sepertinya hal semacam ‘apa oppa mencintaiku’ tak lagi penting untuk dipertanyakan.

“terjadi sesuatu padamu?” tanya hyuk jae balik.

Ji yeon mendongak, menatap sayu mata hyuk jae yang kini menatapnya tak mengerti. Entah mengapa, ji yeon merasa begitu kecil saat hyuk jae bahkan tak mau mengucapkan kata itu untuknya.

“jawab saja. Apa oppa mencintaiku?”

Hyuk jae terdiam. Ji yeon pasti telah dicekoki berbagai macam masalah hingga pikirannya sekalut ini. Apa yang salah dengan tatapannya? Mengapa rasanya kali ini ji yeon selalu menghindari kontak mata dengannya?

Hyuk jae diam. Tak berniat menjawab sama sekali.

“dwaesseo” hyuk jae terperanjat saat cengkraman tangannya dihalau ji yeon secara halus. “sepertinya terlalu sulit untukmu menjawab” sambungnya.

Seketika hyuk jae merasa begitu kehilangan. Perasaannya berkecamuk hebat saat ji yeon melangkah melewatinya. Ia tak dapat berbalik. Ada satu rasa yang menahannya untuk bertahan diposisi seperti itu hingga pada akhirnya kenyataan menohoknya kuat.

Hyuk jae berbalik cepat. “yeon, kau—“

“oppa, kita bercerai saja”

Dan kemelut hitam pekat itu mendatangi hyuk jae dengan cepat. Ia terdiam, lalu menguasai keadaan dengan baik sebelum akhirnya tersenyum tipis.

“kau bercanda?” tanyanya mengolok “kau bahkan tak bisa hidup tanpaku”

Ia berjalan pelan mendekati ji yeon. Memeluk ji yeon yang terdiam dari belakang lalu mengecup cuping telinganya lembut.

Ji yeon memejamkan matanya erat. Sial! Mengapa dalam keadaan seperti ini hyuk jae justru bersikap begitu lembut? Ji yeon bahkan lupa kapan terakhir kali mereka melakukan hal seperti ini.

“aku serius” jawab ji yeon menutup aktivitas mereka. Jemarinya menarik tangan hyuk jae dan melepaskan diri dari dalam pelukan namja itu. Ia berbalik, dan menemukan hyuk jae yang menatapnya dalam.

“kenapa ingin bercerai?”

Ji yeon ingin sekali memukuli wajah namja itu dengan wajan besar mengingat ekspresinya yang seolah tak perduli dan menganggap permintaannya bukanlah hal yang serius.

“aku lelah” jawab ji yeon menatap mata hyuk jae tegas. “aku seperti tak lagi menjadi sosok seorang istri usai kau abaikan hampir dua bulan ini. Jadi, untuk apa kita bertahan jika oppa tak lagi menginginkanku?”

Hyuk jae mengepalkan jemarinya sesaat. Ia melangkah mendekati ji yeon lalu dengan cepat menarik pinggang yeoja itu agar mendekat padanya.

Ji yeon terkesiap. Sial! Tubuh mereka bahkan tak lagi memiliki celah berarti saat ini. Hyuk jae memajukan diri dan kemudian ji yeon merasakan bau mint berkas nafas hyuk jae pada wajahnya yang menghangat.

Hyuk jae menyatukan ujung hidung mereka hingga satu-satunya hal yang belum bersentuhan sama sekali hanyalah bibir yang mereka gunakan untuk berbicara.

Ji yeon mati-matian berusaha untuk tak tergoda. Jantungnya sudah bekerja terlalu diluar batas usai perlakuan seperti ini tak lagi ia terima hampir dua bulan lalu. Dari desiran jantungnya saja, ji yeon tau jika dirinya merindukan hyuk jae. Merindukan sosok suaminya yang dulu.

“aku pikir kau yang tak lagi menginginkanku hingga meminta perceraian”

Ji yeon tersentak mendengar fakta itu. Matanya terbelalak ingin protes jika hyuk jae-lah yang meninggalkannya selama ini, bukan ji yeon. Tapi hyuk jae justru membungkam bibirnya cepat.

Menciumnya selembut kapas saat kedua mata ji yeon masih terbuka tak percaya. Ji yeon menatapnya dalam. Kedua mata hyuk jae tertutup menikmati bibir ji yeon yang lembut. Melumatnya halus dalam hasrat besar yang tertahan.

Perlahan ji yeon merasa bodoh. Air matanya menjadi begitu kuat dan membandel untuk keluar. Dan kristal bening itu akhirnya menampakkan diri pada hyuk jae. Memperlihatkan wujud yang untuk pertama kalinya hyuk jae lihat.

Hyuk jae merasakan pipinya basah. Berbagi ciuman rindu bersama ji yeon tentu terlalu memabukkan hingga ia melupakan banyak hal. Hyuk jae membuka kelopak matanya dan menemukan kedua mata ji yeon yang sayu dan berair.

Sontak ia terkejut. Bibirnya berhenti meski tak beranjak barang sesentipun dari milik ji yeon. Lalu sebelah tangannya ia gunakan untuk menghapus jejak air mata dari pelupuk mata istrinya itu.

Hyuk jae tak percaya. Setelah menjalin kasih tiga tahun dan menikah setahun yang lalu, ji yeon pada akhirnya menitikkan air mata kesedihan miliknya dengan gamblang. Membuat hyuk jae merasa menjadi lelaki paling brengsek yang pernah ada.

“ulljimayo” pintanya lembut.

Ji yeon menangis semakin kuat. wajahnya sudah tersembunyi dibalik bahu hyuk jae yang kali ini tak dapat mengeluarkan bujukan macam apapun. Namja itu merasakan jika ji yeon tengah memukul dadanya pelan.

Dalam dekapannya yang masih seerat sebelumnya, hyuk jae merasa begitu hancur ketika ji yeon menangis karenanya.

“kau jahat!” gumam ji yeon kecil. “bagaimana bisa kau pergi dan pulang semaumu? Aku menyiapkan segalanya lalu menunggumu hingga pulang meski sering kali tak menemukan wajahmu yang muncul dari balik pintu”

“bagaimana bisa kau sejahat ini?! Aku bersabar untuk mu hampir dua bulan ini. Kau bahkan tak pernah lagi memperdulikanku dan selalu mengurusi pekerjaanmu tanpa henti. Kau pikir aku ini pajangan?! Apa kau hanya membutuhkan statusku saja? Apa aku tak berharga untukmu?!”

Hyuk jae memeluk ji yeon semakin erat. Hatinya seperti diremas kuat mendengar pernyataan ji yeon yang selama ini ia sembunyikan.

“aku tak butuh uang, oppa” suara ji yeon mengecil “aku tak butuh banyak materi. Aku butuh kau. Untuk apa aku memiliki segalanya tapi kau tak pernah ada disini. Untuk apa menjadi kaya jika kau tak pernah lagi memperhatikanku? Untuk apa?”

“aku tak membutuhkan apapun. Hidup sederhana pun aku mau asalkan kau tak seperti ini” ji yeon ssemakin terisak. Bahunya bergetar halus “aku merindukanmu” cicitnya pelan.

Tubuh hyuk jae tiba-tiba meremang. Banyak sekali penyesalan yang kali ini ia rasakan terlalu dalam.

“bahkan kau melupakan ulang tahun pernikahan kita. Apa itu tak lagi penting bagimu?”

Hyuk jae tersentak. Dengan cepat ia menarik ji yeon untuk menjauh dari pelukannya lalu menatap yeoja itu dalam.

“sumpah, demi apapun aku tak melupakannya!” akunya cepat.

Ji yeon menghapus air matanya dengan punggung tangan, matanya terpaku pada keseriusan hyuk jae yang terlihat sedikit tak terima.

“tapi kau tak terlihat perduli. Kau bahkan tak menyempatkan diri untuk pulang lebih cepat demi menghabiskan waktu bersamaku. Apa itu yang kau sebut tak melupakannya?”

Hyuk jae bergantian menatap manik mata ji yeon lalu seketika beranjak pergi. Ji yeon terdiam. Tubuhnya melemah. Jadi hyuk jae benar-benar tak lagi perduli dengan pernikahan mereka?

Ji yeon meringkuk pada sandaran sofa. Menangis semakin keras memikirkan rasa  cintanya yang semakin terabaikan.

“park ji yeon”

Lalu ia terhenyak sesaat. Wajahnya dengan cepat mendongak dan ia menemukan namja itu tengah berdiri didepannya dengan nafas yang terengah. Hyuk jae kemudian berjongkok, tepat didepan ji yeon dengan sebuah kue dan lilin di salah satu tangannya.

“aku tak melupakan apapun, sungguh” akunya.

Ji yeon masih terdiam saat hyuk jae menarik tangannya untuk berdiri. Namja itu mendekatkan sepotong kue berwarna coklat dengan lilin berangka 1 padanya. Namja itu tersenyum tipis.

“happy anniversary, sayang” bisiknya lembut.

Ji yeon terperangah. Air matanya kembali mendesak untuk keluar. Ji yeon merasakan jika hyuk jae memeluknya erat. Membiarkannya berada dalam kebingungan untuk beberapa saat yang lama.

“kau terlambat”

Ujar ji yeon usai hyuk jae berhasil memberhentikan tangisannya. Namja itu tersenyum tulus. Dua buah tangannya terselip dibalik pinggang ji yeon lalu mengangkat yeoja itu untuk duduk pada sandaran sofa agar mereka terlihat sama tinggi.

Hyuk jae melangkah maju. Melingkarkan jemarinya disekitar pinggul ji yeon dan menyatukan hidung mereka.

“bodoh! saat aku pulang kau sudah tertidur. Bagaimana aku bisa mengucapkannya?” bisiknya lembut.

Ji yeon masih memberengut dan terisak sesekali. “kau kan bisa membangunkanku!”

Hyuk jae terkekeh sesaat “sepertinya tidak semudah itu, sayang. Kau terlihat sangat lelah jadi kuputuskan untuk menyimpan itu untuk kuberikan padamu pagi ini. tapi kau justru seperti ini. meminta perceraian yang menjijikkan”

Ji yeon membuka matanya. Sudah cukup terlalu terlena dengan pesona hyuk jae. Ia bisa jatuh lebih dalam lagi jika terus seperti ini. Ji yeon menatap hyuk jae ragu, lalu matanya kembali awas.

“tapi oppa tak lagi memperdulikanku. Jadi, ya,, aku pikir mungkin—“

Ji yeon terhenti saat perkataannya terputus ciuman kilat dari hyuk jae. Namja itu balik menatapnya mengintimidasi lalu menekan pinggulnya untuk semakin mendekat.

“dengar. Tidak ada kata mungkin dalam rumah tangga kita” ucapnya tegas “konyol sekali jika usai mencintaimu selama tiga tahun aku menyerah hanya setelah satu tahun pernikahan kita. Kau pikir aku sebodoh itu, huh?”

Ji yeon mengerucutkan bibirnya cepat. Bukan berarti tidak percaya. Hanya perkataan hyuk jae terlalu tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi hampir dua bulan ini.

“dan juga,, maaf sudah mengabaikanmu dua bulan ini”

Hyuk jae menutup matanya lalu kembali melumat bibir ji yeon lembut penuh kehangatan. Tangannya menarik pinggul ji yeon semakin merapat lalu meremasnya geram saat akhirnya ji yeon membalas ciumannya.

Hyuk jae gila. Ia bisa gila hanya karna merindukan ji yeon setengah mati.

“aku berusaha untuk menyelesaikan proposal pembangunan hotel baru perusahaan” sambungnya lembut usai pagutan panjang mereka. Kening mereka menyatu dan hyukjae masih terlihat belum ingin membuka mata sementara jemari ji yeon telah bersarang pada tengkuknya.

“dan setelah itu kuharap kau tak akan menolak untuk berlibur bersamaku selama satu bulan penuh”

“mwo??!”

Ji yeon membelalakkan matanya tak percaya. Maniknya menangkap keseriusan dari mata hyuk jae meskipun ia belum benar-benar percaya. Hyuk jae menghela nafasnya lega. Seolah merasakan jika inilah hal yang selalu ingin dikatakannya dari dulu pada ji yeon.

“aku ingin mengatakannya padamu tapi selalu terbentur waktu. Maaf, aku harus bekerja ekstra hingga harus pulang larut dan meneruskannya dirumah. Tapi bukan masalah besar sebenarnya jika mengingat liburan panjang kita nanti”

Hyuk jae berhenti. Kembali mengecup bibir ji yeon kilat “dan kurasa kita belum sama sekali melewati bulan madu semenjak setahun yang lalu”

Ji yeon terpana. Wajahnya merona alami dan kedua pipinya bersemu indah. Hyuk jae paling suka moment dimana ia dapat membuat yeoja itu terkesima karena rasa cintanya. Tangannya bergerak mengusap pipi ji yeon lembut.

“jadi, masih ingin bercerai?”

Ji yeon terkejut, lalu memukul dada suaminya menahan malu. Dengan cepat hyuk jae memeluknya erat setelah yeoja itu mengembunyikan diri dalam dekapannya.

Hyuk jae mengusap sayang rambut ji yeon. “lain kali ji kau benar-benar ingin bercerai dariku, cobalah cari alasan yang lebih masuk akal. Karena apapun yang terjadi harus selalu memiliki dasar yang kuat, mengerti?”

Ji yeon mengangguk.

“atau, kurasa kau tak perlu mencoba untuk itu. Karena apapun yang kau lakukan tak ada berdampak padaku. Aku tak akan pernah melepaskanmu” bisik hyuk jae pelan.

Ji yeon semakin menenggelamkan diri dalam pelukannya. Menahan malu serta rasa bahagia.

“oh, ya.” Hyuk jae melonggarkan pelukannya, merogoh sesuatu dibalik saku celananya lalu mengeluarkan sebuah kotak biru kelam. “aku membelikan ini untukmu. Meskipun ini bukan hari kelahiranmu, tapi..” ia berhenti, meraih kalung tipis dari dalam kotaknya lalu memasangkannya pada leher ji yeon. “aku berharap banyak agar rumah tangga kita abadi, seperti ini”

Telunjuk hyuk jae mengusap bandul lambang ‘tak terhingga’ yang tergantung pada kalung milik ji yeon.

“dan jangan pernah lagi bertanya apakah aku mencintaimu atau tidak!” kecamnya “kau terlalu konyol jika masih mempertanyakannya. Seluruh dunia juga tau aku tak pernah bisa melakukan apapun jika tanpamu”

Ji yeon tersipu mendengarnya. Demi apa ia tak pernah membayangkah hal seperti ini akan terjadi disaat kesabarannya sudah terlalu menipis. Ia pikir, pernikahan mereka benar-benar akan berakhir di meja pengadilan.

“happy anniversary, sayang” hyuk jae mengecup dahi ji yeon lama, menyalurkan rasa cintanya yang tak pernah habis pada ji yeon “aku mencintaimu”

Dan pagi itu kebahagiaan baru tumbuh dari seberkas kecil air mata yang ada.

‘Lee hyuk jae, aku juga mencintaimu’

-FIN-

 FF nista apa lagi ini??><

haha, sepertinya aku udah lama banget gak nulis FF romance. kaku banget deh rasanya ngebayangin cuplikan adegan romantis mereka dalam otak ku. tapi yo wes lah, memang kaya gini jadinya. romance rada rada yadong dikit -ini banyak banget cium ciumannya-. semoga pada terhibur, terkhusus untuk aku yang dapet ilham cerita ini dari mimpi *gilak! aku mimpi anniversary sama hyuk jae><*

semoga kesan romantisnya gak hilang ya, aku sih berharap ini jadi FF pembuka buat oneshoot lainnya. karna sepertinya aku memang ‘terlalu’ fokus sama FC dan memorable sampai mengabaikan FF oneshoot yang lain.

oh ya, memorable aku hapus ya. kalau mau baca lihat aja di ‘imyoonafiction’ disana udah sampai part 5 kok:) udah itu aja. selamat berkhayal^^

With love, Park ji yeon.

14 thoughts on “Can’t Life Without You

  1. maria says:

    kirain bakalan cerai baneran ternyata buat liburan sebulan penuh Eunhyuk so sweet

  2. kyuhyuk says:

    so sweeet Hyukjae-ah :*

  3. tata says:

    suamiq sampek tanya, “kenapa nangis ma? sakit? ato ayah bikin salah??”
    terus aku jawab, “nggak yah. ini loh, gara2 baca ffnya dian jadi ikutan nangis. ceritax sedih tapi romantis.”
    “jadi, gara2 baca cerita sampek nangis trus habisin tissu?” suamiku sampek geleng2 kepala.

    aaaaaaaa parah!!!
    hahahaha
    cengeng bgt y q?? tpi… salahin kamu yg bikin ini ff saeng!!!

    memorable?! q blum bca. ntar q jlan2 dech ksana.

    FC kapan lanjut saeng??! #kedip2genit O.~

  4. marly says:

    Aku kira hyukjae ud menyukai wanita lain…hosshh syukurlah kaga..🙂

    Nah itu baru blg suami yg hebat, liburan sebulan penuh..asseekkk

  5. waaaaaahhhh…
    ini jiyeonnya buru2 bgt minta cerai.. tpi suka nih cerit yg gini, ga belibet.. kereeeeennnnn.. ^^
    fightiing..

  6. vita says:

    Aaaaaa so sweet. Daebak !!!

  7. ai-sparkyu says:

    Eiisshh, si ikan teri romantisnya gk nahan di ff ini…
    Gimana ji yeon gk melting klo pada akhirnya diperlakukan semanis itu sma hyuk jae walaupun awalnya serasa diabaikan?
    Pas baca diawal kerasa bgt nyeseknya jdi ji yeon, tapi diakhir”.. Waaa, senyum” sendiri bacanya…
    Hahahaha… Oke, aku sudah mulai gila gara” hyuk jae!!

  8. ririnsetyo says:

    binggung mo koment apa, bagus sech cuman rada ketebak jalan ceritana hehee tetep semangat ya^^

  9. Dwi_h@E says:

    awal nya unyuk ngeselin tp ending nya manis bgt, pake ngajak liburan segala *ikutttt*

  10. Nathalie park says:

    Aigoo…kasian bgt y jiyeon 2bln d’cuex’in sm enyuk oppa..gemez dech pz enyuk oppa cuex’in jiyeon smpai ky gt rsa’y pngn mukulin dy..hahahahahahaha..tp seneng krn pd akhr’y enyuk oppa bs jujur klo ada alasan kuat knp dy cuex’in jiyeon ky gtu..untung jiyeon’y msh bs nerima alasan’y cba klo ngga d’jamin th enyuk oppa pzti bkln nyesel bgt udh cuex’in jiyeon..

  11. clee says:

    Maaf telat tapi tetep mau ngucapin..
    Happy Anniversary Hyukjae & Jiyeon ♡♡
    Keep loving each other ya😉

  12. kiran says:

    slm knl.. Qw reader bru dsni.. wktu nyari ff yg cast nya eunhyuk gag sengaja nemuin wp ini jdilah qw trdampar dsni..Wat authornya izin menjelajah ya..^_^

  13. keiobi says:

    Romantis bgt eonn..

    Huaaa, seandainy q jdi cwe tu..

    #mengharapbanget..

  14. Huaa ini .. so touching .. hiks .. smp menangis terharu … ternyata hyuk jae sibuk krj hgg mengabaikan istrinya demi liburan honeymoon … huaaaa … tp hyuk jae jahat .. dia bkn istri nya sedih selama 2 bln ckckck .. bgs deh ga cerai … hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s