Fabulously Castle part 10

FC

Judul         : Fabulously Castle 10

Author      : HyukgumSmile

Genre        : romance, friendship

Rating       : PG-17

Main Cast  : Cho kyu hyun, Lee hyuk jae, Lee donghae, Choi siwon

 

 

“kau membawa semuanya?”

“hmm!”

“makanan?”

“eum!”

“kita bisa membelinya dijalan”

“itu tidak steril”

“tapi.. bukankah kita akan pergi ke medvice? Disana ada banyak hal yang bisa kau pesan”

“aku bahkan tak tau kita akan pergi kemana”

 

Donghae menghela nafsnya sedikit berat. Perdebatan panjangnya bersama eun na memang jarang sekali tidak terjadi. Meski perlu donghae akui jika eun na bukanlah gadis yang terlalu cerewet, tapi hobynya membantah setiap perkataan orang lain benar-benar membuat kepalanya terasa akan pecah.

Berkencan dengan gadis super itu tak semudah yang donghae kira. Ia masih ingat saat mengajari eun na bermain ski, beberapa minggu yang lalu. gadis keras kepala yang baru pertama kali bermain itu bahkan berkali-kali membantahnya.

Eun na bukan gadis perajuk, tapi emosi kecilnya seringkali memuncak dan anehnya hal seperti itu hanya terjadi pada donghae. Eun na seperti menyukai hal-hal semacam berteriak kencang tepat didepan wajahnya.

Donghae perlu bersabar. Selain masalah kencan mereka yang akhirnya diketahui keluarga, donghae tak punya alasan lain untuk menghindar. Lagipula, dari awal dia sendiri yang merasa jika ini tak terlalu sulit. Dan pada akhirnya ia juga yang terlalu sering mengeluh karena perubahan sikap eun na tak se-praktis yang ia bayangkan.

‘ajari aku bermain ski!’

Donghae masih ingat saat yeoja itu berkata ingin kembali belajar ski. Terakhir yang donghae terka, ada bekas kemerahan pada lengannya saat eun na mencengkram bagian itu sebelum terjatuh.

‘kenapa ski? Kita bisa coba yang lain’

‘aku ingin itu, lee donghae. Aku sedang ingin bermain ski’

‘pikirkan hal lain’

‘aku ingin ski!’

‘ck, aku sedang ingin menonton. Kita menonton saja’

‘baiklah. Turunkan aku disini! Aku bisa pergi sendiri’

‘hhh~ kang eun na, terakhir yang kuingat setelah bermain ski bersamamu ada goresan merah bekas cakaran tanganmu, disini’

‘kau bisa menggunakan jaket yang lebih tebal’

Donghae hampir menjitaki kepala gadis itu jika saja eun na bukan gadis yang akan membuatnya terkena sangsi berat mengingat status mereka yang terlalu terikat. Ia menggeram. Gadis keras kepala itu tak mencoba membujuknya, tidak sama sekali.

Ia justru hadir dengan ide konyol yang dengan kata lain tetap mengharuskan donghae menemaninya bermain ski, sore itu.

“disini?” Donghae mengangguk. Ditengah raut wajah eun na yang terlihat tak mengerti. “bukankah kita akan ke medvice?”

Donghae menatap yeoja itu malas “untuk apa kesana jika kau sudah membawa ini” matanya melirik bekal bawaan eun na. Perlu donghae akui jika eun na tak semanja yang ia bayangkan. Gadis itu bisa memasak, poin lebih yang ia miliki dibandingkan wanita lainnya yang selama ini donghae tiduri.

Donghae melihat eun na tersenyum samar “wae?” tanyanya ragu.

Tanpa perlu menjawab eun na segera berjalan menuju bibir pantai. Kakinya melangkah kecil, membuat donghae cukup terperangah dengan sikap kekanakannya. Yeoja itu bahkan tak memikirkan apakah ia menggunakan sunblock mengingat bajunya yang saat ini tak memiliki lengan.

Lalu tiba-tiba ia berfikir ‘apakah eun na menyukai pantai?’

Donghae menghalau pikiran liarnya ketika eun na terlihat mengambil posisi dibawah sebuah pohon. Tak terlalu sulit untuk tau apa yang eun na lakukan. Gadis itu membuka bekal miliknya lalu menyambar sepotong sandwich. Donghae tersenyum mengerti. Sosok kang eun na bukanlah gadis yang perlu repot-repot bermanis mulut untuk membuat orang sekitarnya tertarik.

Faktanya, eun na memang selalu bersikap biasa. Jika ia perlu berteriak, maka akan ia lakukan tanpa perduli apakah donghae atau orang lain akan berfikir macam-macam tentangnya. Seperti itulah yang donghae tau. eun na tidak akan menunggunya duduk bersama lalu memakan bekal dengan nuansa romatis yang..

Ugh! Membayangkannya saja sudah membuat perutnya mual.

“kau suka pantai?”

Donghae mendekat, meraih sepotong sandwich saat samar-samar ujung matanya menangkap gerak eun na yang mengangguk tanpa menoleh. Mereka terdiam cukup lama, memperhatikan entah apa yang menarik dari deburan ombak pantai sore itu.

Tiba-tiba saja donghae teringat sesuatu.

“apa tanggapan orang tuamu?”

Dan eun na segera menatapnya cukup kaget “tentang apa?”

Donghae kembali mengingat kencan mereka yang terendus media minggu lalu hingga harus menjadi cover majalah yang sialnya tak dilarang untuk beredar oleh cho kyu hyun. brengsek!

“memangnya apa lagi yang perlu orang tuamu tanggapi tentang kita?”

Donghae sempat terperanjat ketika kata ‘kita’ tiba-tiba saja menghiasi percakapan sengit mereka. dan baru ia sadari jika eun na juga mengeluarkan ekspresi yang serupa.

Eun na mengedik kilat “tidak ada. Mungkin mereka tak perduli”

“kalau begitu kita batalkan saja pertunangan ini”

Eun na menatap donghae malas dengan mata menantang “aku sangat menunggu saat itu terjadi tuan lee donghae!” sinisnya.

Donghae tersenyum kecil. Entah eun na serius dengan perkataannya atau tidak. Yang jelas, donghae selalu merasa terhibur jika eun na menjawab setiap pernyataan skeptis miliknya dengan lirikan tajam dan sedikit emosi seperti saat ini.

 

‘aku ingin melihat calon istrimu’

‘kami hanya bertunangan, hyung’

‘apa dia cantik?’

‘kau bersikap seperti ‘aku tak tau apa-apa’, sementara semalam aku memergoki suruhanmu tengah membuntutiku’

‘ck, seharusnya aku membayar yang lebih profesional’

‘seharusnya memang seperti itu’

‘lalu, kapan kalian akan menikah?’

‘hyung, berhenti membicarakan pertunangan konyol ini’

‘oh ya? Apa yang membuatmu tak kunjung membatalkan ‘pertunangan konyol ini’?’

‘hanya tak ingin membuat onar’

‘dan berkencan lebih lama?’

“HYUNG!’

‘bawa dia padaku. Jika kau telah merasa itu penting, nanti’

 

 

__

Malam itu mereka memutuskan untuk berkumpul. Sejenak  melepaskan setiap beban yang menggelayuti mereka dengan mengunjungi PUB baru milik donghae. Beberapa hari yang lalu arcade baru saja membuka sebuah cabang baru. Memperluas daerah pemasarannya hingga itaewon dan ceongdam.

Hyuk jae tampak menggandeng seorang wanita, begitupun dengan kyu hyun sementara siwon masih bersama hye yo. Mereka duduk pada bangsal utama. Tak terlihat ingin menempati ruang VIP untuk sementara waktu.

“dia benar-benar akan menikah?” siwon terlihat seikit antusias. Mereka datang lebih awal dan donghae berkata akan menyusul setelah rapat direksi berakhir.

Hyuk menenggak palleto cruise-nya dengan khidmat. Sejenak membasahi kerongkongan dengan koktail tanpa alkohol. Aneh, entah sejak kapan ia berusaha untuk tak menyentuh minuman yang satu itu. padahal sungguh, sebelum ini hyuk jae akan selalu menyisakan waktu senggangnya untuk sekedar menimati segelas barang dua gelas vodka.

Hyuk jae kemudian menaikkan kedua alisnya “entahlah. Aku tak mengerti” jawabnya.

Siwon terdengar mendesah kecewa “dia memberitau segalanya padamu bukan?” tuntutnya.

Hyuk jae menggeleng “dia butuh privasi. Dia hanya berkata jika dia mulai memikirkan tentang pernikahan, tak lebih”

Hyuk jae kemudian kembali berkutat dengan seorang wanita yang merangkulnya erat. Namja itu terlihat membisikkan sesuatu kemudian tersenyum bersama. Gadis itu.. entah sudah yang keberapa. Tak banyak yang tau rekor pasti seorang lee hyuk jae hingga saat ini.

Namun barang jelas jika dia bukan lagi yang belasan.

“lalu kau, bagaimana?” siwon beralih menatap kyu hyun.

“kau bertanya pada orang yang salah, choi” jawab namja itu asal lalu mengecup kilat pipi seorang wanita. Hye yo terlihat mendengus kesal kemudian kembali menenggelamkan diri dengan earphone miliknya.

Kyu hyun tersenyum “kau bertunangan dengan seorang abnormal, choi” umpannya.

Siwon mendelik tak mengerti “abnormal?”

“yeoja normal tak akan menimkati masa seperti ini dengan batasan ciuman” sambungnya.

Siwon kemudian terbatuk paham. Ia hanya tersenyum kemudian menyandarkan diri dan segera memeluk hye yo erat. Lama mereka menghabiskan waktu dengan dunia mereka sendiri. Dan hampir dua puluh menit setelahnya, donghae datang.

“maaf, aku terlambat”

Hanya itu yang ia ucapkan. Namun semua terasa menjadi begitu hening. Kyu hyun, hyuk jae, siwon maupun hye yo mencengang tak percaya. Padahal, sungguh tak ada yang aneh dari kedatangan donghae.

Tapi, mungkin akan berbeda jika keempat orang yang tau pasti mengapa donghae tak keburu menikah di usia 24 tahunnya itu tiba-tiba datang dengan menggandeng jemari seorang wanita cantik.

Dan lagi, akan terasa amat wajar jika donghae segera duduk dan mendekap wanita itu erat. Namun pasalnya, namja itu justru terlihat salah tingkah kemudian menggaruk kepala belakangnya yang –tentu saja- tidak gatal.

Ia tersenyum separo, kemudian mempererat genggamannya secara perlahan.

Malam itu, donghae memperkenalkan eun na kepada mereka.

 

__

“jadi kau pemilik group kang?” siwon terlihat sangat antusias pada wanita yang baru saja donghae perkenalkan. Sebelum ini, selain menatap berita di televisi mereka tak pernah benar-benar bertemu eun na.

Eun na mengangguk lembut lalu tak lama donghae datang dengan dua gelas koktail ditangannya. Namja itu tersenyum cukup cangung kemudian mendudukkan diri bersebelahan dengan eun na. Memberikan salah satu koktail pada gadis itu lalu menatap hyuk jae yang balik menatapnya dengan senyuman licik. “sejak kapan kau tak memesan vodka?”

Donghae berpaling pada kyu hyun. kemudian seluruh mata memperhatikannya dan minuman yang tengah ia tenggak. Donghae hanya mendelik sekali “sejak bersamanya” jawab donghae –terlalu- jujur.

Kemudian eun na menunduk dalam. Tatapan tiga sekawan itu mengulitinya. Secara tidak langsung, mereka tengah bertanya apa yang ia lakukan hingga donghae berubah. Padahal, sungguh. Satu bulan berkencan tak membuat eun na mampu mendikte donghae sesuka hatinya.

Namja itu tetap memiliki satu kebebasan yang tak akan pernah eun na batasi. Kencan mereka pun hanya akan terjadi jika donghae menghubunginya, atau jika eun na menginginkan namja itu menemaninya. Maksudnya, memang lapisan canggung itu telah pecah. Namun tak berarti kebebasan pribadi donghae dapat eun na atur sesukanya.

Ini. Sangat. Bukan. Eun na sekali.

Gadis itu hanya tersenyum kecil. Menanggapi pertanyaan yang secara tak langsung terlontar itu dengan cengiran tak bersalah.

“jangan hakimi dia” donghae menyergah seluruh tatapan mereka kemudian kembali menyeruput koktail miliknya. “ini pertama kali ia mendatangi sarang alkohol” sambungnya.

Seluruh mata nampak menyipit. Dan dua diantara mereka tersenyum apatis. Lebih pada memberikan cibiran kosong atas jawaban donghae yang –sebenarnya- sangat logis.

“jadi, apa yang kau inginkan dari membawanya ke ‘sarang alkohol’?” timpal siwon.

Donghae terdiam sesaat. Benar, apa yang ia harapkan dari ini. dan lagipula, dia melupakan banyak hal. Bukankah ‘sarang alkohol’ itu miliknya? Dia juga pihak utama yang menyebabkan mereka semua berkumpul disana.

Donghae mengerjap, kemudian menegakkan tubuhnya “begini, aku__”

“donghae-ah!” Lalu seluruh mata tertuju pada satu titik “kau datang?”

Donghae diam. Tak melakukan apapun ketika gadis itu datang dan memeluknya didepan eun na. Jujur saja, ini bukan rencananya. “hampir satu bulan ini kau tak datang. Kemana saja?”

Ia tak menjawab. Lebih memilih untuk berpaling, menumbuk lurus manik mata eun na yang menyiratkan goresan ketidaksukaan. Ada bermacam rasa keterkejutan disana, dan yang lebih mendominasi adalah rasa kecewa.

“aku sibuk” jawabnya asal.

Tak ada banyak suara setelahnya. Hyuk jae, kyu hyun maupun siwon memilih untuk kembali pada wanita mereka sementara donghae hanya terdiam memperhatikan eun na yang terpaku beku.

“lalu, kau merindukanku? Hm?”

Gadis itu tampak diluar dugaan mendekatkan diri dan hampir saja menyentuh ujung rahang donghae sebelum namja itu menjauh. “wae?!” lalu suara satu oktaf lebih tinggi memekakkan telinganya.

“kau tidak lihat? Aku bersamanya”

Eun na hanya terperanjat. Lalu terlihatlah tatapan tak suka seseorang padanya. Yeoja itu, meliriknya dengan ujung mata setajam pisau. Belati dua sisi. “siapa dia?” tanyanya arogan.

Donghae menghela nafasnya berat “wanita-ku”.

Dan detik berikutnya, suasana hening tercipta dengan pekat. Hyuk jae, kyu hyun dan siwon memilih untuk pergi. Yeoja itu memerah dengan cepat kemudian melemparkan segelas koktail hingga membasahi baju eun na. Donghae menatapnya tak percaya. Meski tak mencoba untuk melerai, raut wajahnya perlahan terlihat mulai cemas.

“boleh aku tau namamu? Bagaimana kau bisa mendapatkan lee donghae-ku dan sejauh apa hubungan kalian?”

Eun na mengernyit paham. Pasti ada sesuatu yang pernah terjadi antara yeoja itu dan donghae. Sebelum dirinya datang dan kemudian, ada yang berubah.

“bukan hak-mu untuk bertanya” jawab eun na bijak.

“benarkah? Ada yang kau sembunyikan dariku?”

Eun na mendongak cepat “aku Kang eun na. Cukup itu saja yang perlu kau tau” eun na kemudian meraih sekotak tisu dan membersihkan beberapa bagian bajunya yang terlihat kotor.

“aku ingin tau lebih. dan bisakah kau tak bersikap seolah kau wanita suci? Tak ada yang benar-benar suci jika kau ingin bersama donghae”

Dan eun na tersentak “a apa?” tanyanya.

Donghae segera berdiri, menarik tangan gadis itu lalu pergi meninggalkan eun na. Donghae menyeretnya kuat, lalu berhenti disebuah lorong menuju kamar kecil.

“apa yang kau katakan?!” bentak donghae tertahan.

Diluar dugaan, yeoja itu justru mendekat dan memeluk donghae dalam diam. Bibirnya mengerucut mencoba untuk terlihat manja lalu bergelayut pada leher donghae. “aku merindukanmu” ucapnya tanpa rasa bersalah.

Donghae mendengus kasar. “aku tidak” tangannya segera mencoba untuk melepaskan rangkulan gadis yang justru terkait semakin kuat. gadis itu mendekat, membuat jarak diantara mereka menipis.

“kau brengsek” donghae terus memperhatikannya, gadis itu menutup mata seolah menikmati bau nafas donghae yang menenangkan “kau tidak menemuiku hampir satu bulan ini, lalu kau berkata jika kau tidak merindukanku?”

Donghae tersenyum. jemarinya bergerak menekuni lekuk pinggang gadis itu lalu berbicara lembut “shim hyemi, akan lebih realistis jika kau segera menjauh dariku. Karena apapun yang akan kau lakukan, aku tidak lagi merasa tertarik. Bukankah itu yang kucoba jelaskan dengan menghilang selama satu bulan darimu”

Sontak mata mereka beradu. Manik hitam gadis itu menatap donghae tak percaya. Seingatnya, dulu, donghae tak sekasar ini. dan walau bagaimanapun donghae pernah berjanji tak akan meninggalkannya meski namja itu memiliki wanita lain.

“b bagaimana bisa?” tanyanya terbata.

Donghae tersenyum, ia mendekat hingga dapat berbicara tepat disamping telinga hyemi “karena,, karena aku lee donghae” ia menjauh lalu mengusap pipi hyemi lembut “dan aku bisa melakukan apapun pada siapapun, termasuk padamu” lanjutnya.

Donghae berniat untuk melangkah pergi, namun tangan gadis itu kembali mencengkramnya erat. Tiba-tiba saja linangan air mata sudah membanjiri kedua pipinya dan donghae bersumpah paling benci adegan semacam ini. seolah ia akan bertahan saja dengan rasa iba yang menggerogoti hatinya.

Sayangnya, donghae tak lagi punya rasa iba pada wanita jalang.

“donghae-ah, j jangan pergi. kumohon” gadis itu terisak kecil “bukankah aku tak melarangmu untuk memiliki wanita lain? Aku rela,, tapi jangan seperti ini”

Donghae tersenyum samar. Dalam hati, terkadang ia memiliki kepuasan tersendiri setelah seorang gadis memohon padanya. Tapi kali ini donghae merasa berbeda. Ia tak lagi tertarik untuk bermain.

Ia berbalik lalu menatap gadis itu dalam “sejak awal aku tak berencana untuk terus bersamamu. Selain mungkin akan ada wanita lain yang menantiku, bersamamu juga terlalu membosankan. Lagipula, aku tidak tau posisimu hingga kau memiliki hak untuk mengatur hidupku” donghae terus memperhatikan air mata yang mengalir dari pipi hyemi. Seketika ia teringat entah sudah berapa gadis yang pada akhirnya menangis seperti hyemi, karena dirinya.

Tiba-tiba ia merasa begitu jahat. Dan donghae tak mengerti mengapa ia harus merasakan hal yang semacam itu. seingatnya, sebelum bertemu eun na.. oh eun na lagi!! donghae terus membatin hingga tak sadar jika hyemi kembali mendekatinya.

“jangan pergi,, aku tak meminta apapun selain__”

“shin hyemi…” donghae berhenti sejenak, menimbang apakah yang satu ini perlu ia katakan atau tidak. “aku telah bertunangan” sambung donghae meyakinkan diri.

“aku tau! tapi bukan masalah besar sejauh kau juga akan membatalkannya, hae”

Donghae terperanjat. ‘iya! Dulu!’ batinnya.

Donghae menarik tangannya cepat “aku belum berfikir untuk itu” donghae mantap untuk tak lagi perduli “aku pergi” ucapnya.

Ia baru saja akan berbalik ketika kemudian matanya menangkap sosok eun na berdiri tepat dibelakang mereka. entah mengapa ia merasa menjadi begitu panik. Terlebih ketika hyemi berteriak.

“aku hamil!”

Untuk pertama kalinya ia merasa menjadi begitu limbung. Kakinya berinisiatif bergerak menuju eun na saat gadis itu menutup mulutnya dengan sebelah tangan dan menatap donghae tak percaya. Disisi lain donghae sangat ingin berbalik dan menampar hyemi hingga ia tak berbicara sesuka hati.

Namun ia terlambat untuk memilih. Eun na terlanjur berjalan pergi. membuatnya terpaksa berbalik lalu menatap hyemi geram.

“kau sengaja mengatakannya?!” tanyanya dengan suara rendah. Donghae maju selangkah lalu mendengus “dengar, aku benci melakukan ini pada wanita. Tapi aku lebih benci ketika seseorang mengatakan ketidakbenaran tentangku” tangannya mencengkram lengan hyemi yang mulai terlihat takut “benar kau hamil?!”

Hyemi baru menyadari jika tindakan bodohnya hanya akan memicu emosi donghae. Gadis itu tau donghae tak pernah suka diperlakukan semau omongan orang. Ia akan bertindak. Dan bodohnya hyemi baru menyadari itu sesaat setelah ia melihat kobaran api dimata donghae.

Hyemi menggeleng takut-takut. Lalu tubuhnya bergetar ketika donghae memejamkan mata pertanda ia bertambah geram. Namun diluar dugaan, namja itu justru melepaskan cengkramannya dan berjalan mundur.

“berterimakasihlah pada tunanganku” ujarnya dingin dan berlalu begitu saja.

 

 

__

Donghae berjalan cepat menuju parkiran kemudian membukakan pintu dengan perlahan. Usahanya mengejar eun na bukanlah hal yang sia-sia meski setelah bertemu, tatapan eun na kembali pada sosok wanita dingin yang dulu pernah donghae kenal. Tak berselang lama, mesin mobil terdengar menderu dan berjalan membelah jalanan kota.

“kau tak apa?” tanya ronghae ragu. Eun na mengangguk sekali kemudian kembali bungkam dan menatap jalanan yang terlihat berlalu cepat. donghae mendesah ragu.

“maaf,” ucapnya.

Eun na berbalik “untuk apa?”

Donghae terdiam. tak mampu menjawab ataupun memberi alasan yang tepat mengapa ia harus meminta maaf pada eun na. Yang jelas, ia merasa bersalah meski ia pun tidak begitu sadar sedalam apa kesalahannya.

Suasana tak berubah. Tak sedikitpun menunjukkan betapa hubungan mereka cukup harmonis sebelum ini. Beberapa kali donghae mencoba untuk berbicara namun eun na tak menanggapinya dengan serius.

Donghae bersumpah ingin menabrakkan diri pada trotoar jalan mengingat perjalanan pulang mereka lebih terasa seperti neraka. Sunyi dan mencekam.

“kau marah padaku?” tanya donghae pada akhirnya. Eun na menggeleng, tapi tak sekalipun menyahut untuk memastikannya. “lalu mengapa kau diam? Aku__”

“aku ingin pulang. Sekarang” yeoja itu memutus pembicaraan mereka sampai disana.

 

 

__

Kyu hyun masih berdiam diri. beberapa kali hanya mematut tubuh pada jendela kaca yang besar. Menghubungkannya dengan seluruh objek membosankan diluaran sana.

Matanya kosong. tak ada cahaya atau apapun yang bisa kau jadikan penerang. Dan fikirannya, seperti galaksi tanpa planet. Kosong.

Namja itu berkali-kali mendesah gusar. Terkadang memasukkan jemarinya kedalam saku kemudian mengeluarkannya kembali dalam beberapa saat. Ia menenggak segelas cairan berwarna merah lalu memijat pelipisnya pelan.

Lalu tak selang beberapa lama, tubuhnya beringsut nyeri. Sebuah tangan menghangatkan dadanya. Memeluknya erat dari belakang hingga dengan beraninya menghembuskan nafas hangat itu pada lehernya.

Kyu hyun terkesiap. Sejenak terdiam sebelum akhirnya menjauhkan lengan yeoja itu dan berbalik menatapnya. Yeoja itu,, hanya tersenyum. Dengan sebuah kecerahan binar mata yang bulat hitam, ia memberikan seluruh cahayanya untuk kyu hyun.

“ada apa?” kyu hyun memulai.

Yeoja itu tampak kembali tersenyum dengan cengiran lucu yang menggemaskan. Lalu ia memajukan diri dan melingkarkan lengannya pada leher kyu hyun “hanya merindukanmu” jawabnya singkat.

Kyu hyun tak merespon. “kita baru saja bertemu pagi ini” ujarnya malas.

“tapi aku merindukanmu. Tidak boleh?” yeoja itu kemudian semakin memajukan diri dan menenggelamkan wajahnya pada leher kyu hyun.

“jess..” kyu hyun memanggilnya malas. Mencoba untuk melepaskan rangkulan erat itu dari tubuhnya.

“hmm”

“jess, ini kantor. Jangan konyol” ujarnya kembali.

Yeoja itu terlihat tak perduli. Kegusaran kyu hyun tak membuatnya jengah. Ia semakin memajukan diri lalu memojokkan kyu hyun pada sudut kaca. Yeoja itu kemudian menarik diri dan mengecup bibir kyu hyun cepat. “ini kantormu” jawabnya.

“bukan tidak mungkin seseorang akan masuk”

“tapi seseorang hanya akan masuk jika kau mengijinkannya”

“jess..” yeoja itu tampak mulai kesal. Bibirnya kemudian merengut dan mengerucut kecil. Ia menarik rangkulannya, berdiri dan menatap kyu hyun dengan delikan mata.

“kau tidak merindukanku?” ujarnya sedikit meninggi. Kyu hyun hanya membuang muka. Tak ingin terlibat dalam emosi konyol semacam ini.

“jawab aku!!”

“aku hanya tak ingin terlihat senonoh. Kau wanita, jaga saja martabatmu!” kyu hyun menyahut kesal.

“martabat? Sejak kapan kau mengenalnya?”

Kyu hyun bergenyit. Pandangan sebelah alis yang meninggi itu sungguh mengintimidasinya. Namun ia tak memiliki banyak tenaga untuk meladeni yeoja itu. kyu hyun kembali memalingkan wajah. Memilih menatap apapun kecuali wajah yeoja itu.

“aku memang pria brengsek.” Ujarnya pelan “tapi seperti apapun brengseknya aku, aku tetap hanya akan mencintai wanita baik-baik. Aku masih menghargai sebuah kehormatan jika kalian –kaum hawa- tidak menjualnya padaku. Karena bagiku, apapun yang kalian jajakan tentu dapat kubeli. Tapi percayalah, wanita yang menjaga miliknya dengan baik, lebih menarik daripada kalian yang menjajakannya demi uang dariku” kemudian kyu hyun menatap yeoja itu lamat “katakan. Berapa yang kau inginkan? Aku sedang malas bercinta”

“kyu!!” Yeoja itu terlihat membesarkan bola matanya. Lalu tak lama kedua mata itu berkaca-kaca dan menatap kyu hyun tak percaya. “aku tak sehina itu! aku hanya merindukanmu” dan suara parau itu mengecil dengan cepat.

Kyu hyun menatapnya malas “berhenti menangis” titahnya datar.

“tidak!! Mengertilah jika aku hanya merindukanmu! Aku merindukanmu kyu.”

Dan detik berikutnya, kyu hyun memajukan diri. kedua genggamannya mencengkram lengan yeoja itu keras dan menatapnya dengan mata penuh kebencian “katakan rindu apa yang kau rasakan setelah meninggalkanku selama ini?! katakan!!” pekiknya keras.

Yeoja itu terisak semakin keras “bukan itu maksudku. Kau tau saat itu__”

“aku tidak ingin tau! dan jangan pernah membuatku tau dengan masalalu!”

“tapi,, aku benar-benar menyesal. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu” yeoja itu menggenggam jemari kyu hyun erat. Air mata itu membasahi kedua pipinya dengan deras. Matanya memerah dan bibir itu terlihat bergetar.

“omong kosong!” kyu hyun mengempaskan jemarinya kemudian berlalu pergi.

“kyu!! Kyu!!”

Kyu hyun terus berjalan. Menghindari teriakan memanggil dari arah belakang secepat yang ia bisa. namun belum sempat jemari itu menyentuh permukaan pintu, seseorang menarik tengkuknya lalu menciuminya dalam.

Kyu hyun diam. Tau betul hal seperti ini akan terjadi. Namun jika sebelumnya ia akan terus mengalah, maka kali ini saja, izinkanlah ia untuk memulai menjadi manusia yang egois.

Kyu hyun hanya diam. Tak merespon apapun meski lumatan yeoja itu terus menuntutnya dalam. Yeoja itu kalap. Menghabisi seluruh permukaan bibir kyu hyun tanpa perduli ‘martabat’ yang baru saja ia bicarakan bersama namja yang baru saja ia cium paksa.

Kyu hyun tak bergeming. Usai yeoja itu lelah, ia menatap kedua mata yeoja yang kini justru tertunduk didepannya “sudah?” tanyanya penuh arogansi.

Yeoja itu tak menyahut. Namun sebuah kekehan ringan terdengar dari suara berat kyu hyun. namja itu menyeringai remeh lalu mengangkat dagu yeoja itu dengan jemarinya. “dengar,, semakin rendah harga dirimu dihadapanku, maka akan semakin jauh cintaku untukmu”

Kyu hyun menghempas jemarinya. Menyarungkannya pada saku celana dan menatap yeoja didepannya malas. “jangan berharap banyak, jess. Aku, tak pernah bisa melupakan kesalahanmu. Seharusnya kau tau itu”

Kyu hyun kemudian tersenyum. Ia mendongak dan kembali mulai berjalan sebelum bola mata hazel miliknya menumbuk pada seorang yeoja lain, yang berdiri didepan pintu.

 

 

__

Je young terdiam. masih berdiam diri didepan jendela apartemennya. Tak ada yang menarik disana. Hanya terlalu banyak bayangan hitam dan kerlap-kerlip lampu yang menghiasi jalanan kota.

Yeoja itu kemudian mendesah dan memejamkan kedua matanya erat. Sial! Mengapa harus dia yang melihat kejadian itu?

Je young kembali merutuki diri. bergumam dengan ocehan pelan yang keluar dari bibirnya. Tak lama kemudian, kejadian beberapa jam lalu kembali terlintas dan melewati pikirannya beberapa kali.

Je young menggeram “arrgh! Kenapa harus aku?!” teriaknya.

Setelahnya je young kembali terdiam, bayangan bagaimana yeoja itu mencium kyu hyun dan memohon untuk menatapnya kembali menghantui je young. Namun anehnya, sesuatu justru tengah mengiris ulu hatinya tipis.

Seharusnya, je young semakin membencinya. Bukan memikirkan namja itu dan berpihak padanya. Namja itu,, apa kurang jelas makna dari setiap perkataannya? bahkan ia tak perduli pada martabat.

Pria itu,, brengsek.

Namun justru menimbulkan sebuah tanda tanya besar bagi je young. Benarkah ia brengsek??

Keesokan harinya, je young memasuki kantor dengan wajah tertekuk. Wajahnya memanas bahkan hanya ketika pintu otomatis itu terbuka dan hawa dingin perusahaan menyambutnya. Je young merutuki diri. kini, rasa malu dan takut menghantui dirinya. Apakah kyu hyun akan memecatnya seketika atau apa lagi yang akan terjadi setelah ini?

Namun satu kenyataan yang terjadi, kyu hyun tak memuculkan diri. seharian penuh je young tak menemukannya hingga seorang memberi tau je young jika hingga seminggu kedepan, kyu hyun akan berada di macau untuk urusan perusahaan.

Well! Good news. Je young bebas untuk seminggu ini. and bad news, ada satu tanda tanya besar yang bersarang dalam benaknya.

 

 

__

Seminggu setelah mencoba untuk menenangkan diri, ji yeon akhirnya mendatangi kantor dengan wajah kusam.

Seharian penuh ia memikirkan berbagai cara untuk menemui je young dan menjelaskan semua ini padanya. Ji yeon juga tak mengerti mengapa hanya karena masalah seperti ini sahabatnya menjadi pendiam total.

Je young selalu berangkat lebih pagi dan meninggalkannya di kantor. Pulang lebih awal dan tak ingin menemuinya selama,, ya, hampir seminggu ini.

Belum lagi jadwal padat ji yeon menuntutnya untuk selalu berada disamping bom. Mengambilan gambar untuk iklan terbaru mereka baru rampung semalam. Dan sisa waktu istirahatnya ji yeon gunakan untuk memikirkan tindakannya sore ini.

Gadis itu berjalan cepat. mengayunkan langkah kakinya setelah pintu lift terbuka lalu menggebrak pintu kantor.

“je, aku__”

“aku tak dengar.. tidak” je young mengangkat kadua telapak tangannya seolah tengah menyerah dalam perang lalu merangkul beberapa map dan berjalan pergi. bersiap untuk meninggalkan kantor.

“je, tapi.. tapi aku.. Je!!”

Ji yeon menyusulnya cepat. melangkahkan kakinya panjang untuk menyamakan diri dengan je yeong yang memang –jauh- lebih tinggi darinya. Kedua yeoja itu nampak beriringan. Terlihat saling kejar-mengejar menuju pintu lift.

Je young menekan sebuah angka. Nampak tak nyaman dengan seorang yang terus memanggil namanya berkali kali. Yeoja itu berdehem sesaat kemudian pintu lift terbuka dan menyegerakan diri untuk masuk.

“je, ini bukan keinginanku”

Ji yeon masih memanggilnya. Memberikan beberapa alasan yang entah mengapa tak sedikitpun ingin je young terima. Yeoja itu hanya diam. Tak bergeming sedikitpun.

“je, sungguh ini diluar dugaanku!” ulang ji yeon.

Je young tampak kesal kemudian memalingkan wajah “dan ini ada dalam prediksiku!” tegasnya. Ji yeon menggeram putus asa. Ia mengacak rambutnya kasar kemudian kembali membela diri.

“seharusnya kau tak marah. Bukankah wajar jika aku menyukainya?”

“tidak. Hal yang paling wajar adalah jika kau membencinya” jawab je young.

“aku tak bisa menentukan aku harus suka pada siapa!!”

“tapi kau bisa mengendalikannya!!”

Kedua yeoja itu saling meninggikan suara. Tak ada keberadaan orang lain disana. Namun suasana didalam lift terasa semakin memanas. Ji yeon beberapa kali meneteskan keringat dingin miliknya. Ya tuhan, mengapa turun beberapa lantai saja terasa begitu lama?!

“je, biarkan aku mencoba.. setidaknya__”

TING! Lift berbunyi.

Je young tak lagi memandangnya. Yeoja itu semakin menggertakkan rahang dan berjalan cepat meninggalkan ji yeon. Lalu setelah berada didepan lift, dengan satu tangan ia bergerak, mengisyaratkan agar ji yeon tak lagi mengikutinya.

“berhenti mengikutiku. Fikirkan saja dirimu hingga kau sadar betapa kau mulai menjadi seorang idiot”

Ji yeon terdiam. oke! Je young benar-benar marah. Lalu sekelebat bayangan je young menjauh hingga pintu lift tertutup dengan cepat.

 

 

__

Sore berganti malam. Hampir satu jam berada dalam toilet perusahaan tak membuat ji yeon merasa tenang. Kedua matanya membengkak dan merah. Ujung hidungnya juga memerah dan yang lebih parahnya lagi, beberapa bagian blazzer miliknya basah.

Ji yeon kembali mengusapkan tisu pada pipinya kemudian membasuh wajah dengan air. Kepalanya berat. Terlebih jika memikirkan cara harus keluar tanpa seorangpun tau jika ia baru saja selesai menangis.

Akhirnya, malam itu. setelah jam pulang berlalu lama ji yeon memutuskan untuk keluar. Ia baru ingat jika ini sudah hampir jam delapan malam. Setidaknya memang tak akan ada orang dikantor dan juga tak akan ada taksi yang melintas.

Ji yeon berjalan pelan, kemudian ketika pintu otomatis  terbuka suara gemerisik menumbuk indra pendengarannya dengan cepat. ji yeon mendongak sembari berdoa agar ini bukanlah,,

Hujan.

Fine. Ia terjebak, saat jam dimana tak akan ada lagi taksi yang melintas dan ia tak membawa mobil, payung atau semacamnya. Kepalanya terasa semakin pusing. Sementara halte masih terlalu jauh untuk ia tempuh dengan berlari-lari kecil.

Yeoja itu mendesah dalam. Ini hari paling sial dalam hidupnya. Tak ada satupun keberuntungan yang mendatanginya dan tak ada satupun senyuman yang dapat ia kembangkan.

Ji yeon melirik arlojinya kilat. Sudah semakin larut. Bagaimana jika terjadi sesuatu jika ia tetap berada dihalaman kantor sementara lampu lobby kantor baru saja dimatikan. Yeoja itu menutup erat matanya. Tak ada pilihan lain.

Ji yeon mendongak, memperhatikan sebelah tangan yang ia gunakan untuk menutup ubun-ubunnya lalu kembali menatap jalan. Ini mudah, hanya berlari kecil hingga pekarangan kantor, berbelok menuju cheese pell dan berhenti.

Lalu kembali berlari melewati galery shop dan halte, ada dua ratus meter setelahnya.

Ji yeon mengambil nafas terakhirnya lalu dengan sebuah highells dan rok kantor yang ketat, kaki kecilnya mulai menembus hujan yang deras hingga hampir lima menit kemudian, ia baru akan sampai pada pintu jaga kantor.

Yeoja itu kemudian berhenti sesaat. Bibirnya terlihat mulai memucat dan membeku. Ji yeon memperhatikan sekitar. Oh, mungkin ia harus berhenti di minimarket terdekat untuk membeli payung.

Ji yeon kemudian memutuskan untuk menyeberangi jalanan tanpa memperhatikan zebra cross hingga tanpa sadar sebuah sepeda motor melintas dengan kecepatan maksimal. Ji yeon panik. Satu-satunya hal yang mampu ia lakukan hanyalah memeluk branded bawaannya dengan erat hingga cahaya itu terlihat semakin terang

Hening.

Detik berikutnya, ji yeon merasa diguncang hebat dan sebuah teriakan tertuju padanya.

“mengapa kau hanya diam?! Kau ingin mati, huh?!”

Ji yeon membuka matanya pelan. Sejurus cahanya terang itu kemudian memudar dan satu-satunya hal yang ia temukan hanyalah…

“hyuk jae-ssi??”

Lalu semuanya perlahan mengabur.

 

 

__

‘silahkan tinggalkan pesan anda dan__’

Bunyi pertanda terputusnya panggilan terdengar memuakkan. Donghae menghempas ponselnya keatas meja lalu meraih segelas reposado tequila. Mengenggak cairan biru pekat mendekati hitam itu hingga habis lalu meringis sesaat.

“kau minum lagi?”

Donghae melirik siwon yang duduk tepat didepannya. Pagi itu, siwon datang berkunjung bersama kyu hyun. entah dalam rangka apa. mereka menghambur masuk lalu saling berdiam diri didepan meja bilyard yang ada di apartemennya.

“hanya segelas”

“itu sudah yang kedua” ralat kyu hyun cepat.

Donghae tak ambil pusing lalu menyesap gelas yang saat ini hanya dipenuhi air mineral biasa. Sempat membuat siwon mengkerutkan kening karena kebiasaan donghae yang belakangan selalu beruba-ubah.

“dia masih marah?”

“dia tak menjawab teleponmu?”

Donghae mendelik kedua namja itu cepat. sudah cukup saja kenyataan jika eun na benar-benar marah membuat kepalanya hampir pecah. Lalu dua namja ini datang dengan fakta lain jika ternyata eun na memang tak menjawab panggilan donghae setelah malam itu.

Donghae tau, eun na pasti marah. Namun biasanya, eun na akan mereda dengan sendirinya. Bukan dengan terus berdiam diri berhari-hari seperi ini.

‘oh aku mulai berfikir jika aku benar-benar mengenalnya’ keluh donghae dalam hati.

“kau tidak menghubunginya?”

“belum”

“apa dia marah karena kau menampar hyemi?”

Donghae mengurut kening bersamaan dengan kyu hyun. “dia marah karena mengetahui tunangannya seorang yang brengsek, choi”

Meskipun tak terima, diam-diam donghae membenarkannya. Tapi apa benar eun na tak pernah tau kebusukannya? Karena meskipun bukan seorang selebritis, donghae cukup terkenal. Setidaknya pada kalangan pers dan netizen korea.

Atau ia saja yang lupa jika eun na baru kembali dari luar negeri dan terlalu lugu untuk mengetahui kebusukannya?

“datangi saja dia”

Donghae mengerjap. Menatap kyu hyun lalu berbalik pada siwon. “dia akan lebih mudah memaafkanmu jika kau mendatanginya. Semacam, memiliki rasa dipuja karena dia telah merepotkanmu”

Kyu hyun mengangguk “wanita itu menyusahkan. Tapi cara mendapatkan mereka adalah salah satu yang menyenangkan” pangkasnya.

“kenapa harus meminta maaf?” donghae bertanya sengit disusul kekehan kyuhyun dan siwon.

“aku baru tau jika cinta benar-benar membutakan” tutur kyu hyun mencibir. “kau tak akan sekacau ini jika kau tak menginginkan ‘hubungan kalian’ tetap baik baik saja, idiot”

“lagipula, kau menghancurkan angan-angannya. Kau tau, setiap wanita menginginkan lelaki baik-baik. Bukan yang sepertimu”

“brengsek!” donghae melakukan protes dengan kerutan wajah frustasi “aku juga tak memintanya untuk ada di’posisi ini’!”

“tapi kau baru menyadari jika hanya gadis itu yang pantas untuk ada di ‘posisi ini’

Donghae terdiam. Dan pagi itu ia mulai berfikir keras tentang gagasan ‘mendatangi rumah eun na’ untuk meminta maaf.

 

-TBC-

 Here the 10 chapter of FC.

please read before:

Ini penting, biar gak ada lagi yang protes. Part 11 fix aku protect. Karena,, yaa,, gitu deh *aku tau readers pasti ngerti*. Nah karena ‘NC’ bukan konsumsi publik, jadi terpaksa aku protect dengan kemudahan PW yang sama seperti part 9. Jadi, buat yang udah punya, diharapkan untuk gak protes. Karena PWnya sendiri gak perlu kalian minta -lagi- kalau sebelum ini udah punya PW part 9. buat yang belum minta,, sabar ya:) DM aku secepatnya. kalau gak aku bales, koment part ini.

See you^^

 

With love, Park ji yeon.

55 thoughts on “Fabulously Castle part 10

  1. Asri says:

    Kyaaa,,,keren bngtt
    eonn mnta PW part 11 dong…

  2. dewi says:

    lanjut ya tjor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s