The Fact (Impossible Love Sequel)

Love-Poem-by-Sachi-joseph

Judul         : The Fact (impossible love sequel)

Author      : HyukgumSmile

Genre        : Romance

Rating       : PG-17

Main Cast  : Cho Kyu Hyun, Park Ji Yeon

Other Cast : han nari, baek eun so

Summary : Apa kau mencintaiku? Apa kau pernah mencintaiku?

 

Tak perlu menoleh untuk memastikanku ada disini,

Tak perlu berbalik untuk memaksaku tetap mengikutimu,

Tak perlu tertunduk untuk menyelaraskan langkah kita,

Tak perlu deru angin untuk menyampaikan betapa aku mencintaimu..

Aku, masih hati yang sama dengan saat dimana kita bertemu,

Meskipun terkadang takdir begitu menyiksa, aku tak perduli,

Bagiku, bersamamu adalah sebuah takdir.

Meskipun setiap manusia, langit, bumi dan tuhan menentang kita..

-Tiga tahun kemudian-

“kau yakin ingin segera pulang?” dua orang yeoja nampak tengah menyusuri ruang terang koridor sebuah bangunan.

“hmm. Maaf, aku tak bisa bergabung” gadis itu memelas manis didepan salah satu gadis lainnya.

“kenapa?”

“hanya sedang tidak ingin” ucap gadis itu mengedikkan bahunya pelan. Ia menyempatkan diri untuk menyelipkan untaian rambut hitam legamnya ke belakang telinga.

“alasan yang membosankan”

“ayolah nari, lain kali aku berjanji untuk datang” yeoja itu tampak menyatukan keseluruhan jarinya meskipun sedikit terhambat karena tumpukan buku tebal yang bertumpuk diantara sudut siku-siku lengannya.

“haah, baiklah. Permohonanmu diterima. Tapi ingat nona park, tak selamanya kau bisa lolos” ji yeon segera melompat girang. Menempelkan tubuhnya pada nari dan memeluknya erat.

“kau yang terbaik” ucapnya sebelum berlalu pergi.

 

__

Yeoja cantik berperawakan sedang itu nampak tengah sibuk menepis segala macam bentuk debu yang tertempel pada perabotan apartemennya. Tubuh mungilnya tampak sedikit basah karena pekerjaan yang sebenarnya tidak terlalu berat namun membutuhkan kesabaran yang luar biasa itu.

Ji yeon mengalihkan fokusnya ketika suara bel apartemen mengusik pendengaran. Ia segera berdiri dan menyambar cardigan hitam miliknya. Wajar saja, yeoja itu hanya memakai sehelai tengtop tipis dan itu sangat tidak pantas untuk digunakan keluar rumah.

Ji yeon segera membuka pintu apartemen rumahnya. Dan detik berikutnya menampakkan wajah seolah terkejut yang berlebihan.

“k kau..”

“aku datang”

Ji yeon mengerjapkan matanya beberapa kali hingga indra penglihatannya itu benar-benar yakin jika seseorang yang saat ini berdiri didepan pintu apartemennya benar-benar namja brengsek yang -dulu pernah- mencuri ciuman pertamanya. Cho kyu hyun.

“bagaimana bisa kau datang?”

“mudah, hanya mengendarai mobil dan bertanya” jawab namja itu ringan. Ia menaikkan bahunya sebentar sebelum melangkahkan kaki menuju ruang tengah.

“ya, aku belum menyuruhmu untuk masuk!”

“aku tidak perlu persetujuanmu untuk masuk” kembali. jawaban namja itu benar-benar memancing emosi ji yeon.

“jangan bertindak seolah-olah ini rumahmu, cho!” yeoja itu tampak melangkah maju dan berdiri disamping namja yang saat ini telah duduk dengan santainya pada sofa ruangan itu.

“ck, kau cerewet sekali” namja itu menarik pergelangan tangan ji yeon dan memaksanya untuk duduk tepat disampingnya. “ini memang bukan rumahku, tapi ini rumah kekasihku. Park!” sambungnya kemudian.

CHU~

“lama tak bertemu”

Ji yeon masih terperangah dengan perlakuan tiba-tiba namja itu. ia masih terduduk. Diam dan menampilkan wajah bodohnya disana. Ck, seharusnya ia langsung membanting pintu ketika tau jika ‘tamu tak diundangnya’ itu adalah kyu hyun.

Mungkin memang berat jika difikirkan dengan cermat. Tapi mereka, masih anak manusia yang sama yang dulu pernah saling mengaitkan jemari satu sama lainnya. atau jika masih ingin di perjelas, mereka masih dengan orang yang sama. Rasa yang sama. Dan tentu saja, hubungan yang sama.

Terkadang ji yeon pun tak begitu mengerti dengan ‘apa’ yang mereka jalani saat ini. mengingat hubungan absurd diantara mereka yang seolah merajut benang yang tak pernah putus dan saling berhubungan itu selalu mampu membuat kehidupannya lebih berwarna. Lebih berwarna dari sekedar menjalani masa kuliah bersama para sahabat dan didekati beberapa namja tampan di kampus.

Dirinya tak begitu perduli dengan setiap orang yang berkata ‘hei, kau tau sepertinya dia menyukaimu’. Atau yang lebih parahnya lagi ‘aku ingin kau menjadi kekasihku’. Yaah, bualan terbusuk yang pernah didengarnya.

Ji yeon tak begitu ambil pusing. Mengingat hingga saat ini telah ada orang yang selalu mengklaim dirinya sebagai ‘kekasih’ meskipun seingat ji yeon, namja itu tak pernah meminta langsung padanya untuk menjadikan dirinya seorang kekasih. Tapi toh kembali lagi, ji yeon menerima semuanya dengan baik. Dengan sadar. Dan yang paling penting dengan kemauannya sendiri.

“ya!!” ji yeon telonjak kaget merasakan sebuah benda lembut yang menyentuh sebelah pipinya. Ia segera melontarkan tatapan ‘pembunuh berdarah dingin’ miliknya pada namja yang saat ini justru memberikan cengiran bocah kepadanya.

“apa yang kau lakukan?!”

“menyadarkanmu. Kau,, bisakah tidak terlalu larut dengan duniamu sendiri?” namja itu memajukan diri, memperpendek jarak tubuhnya dengan ji yeon “meskipun aku tau, otak bodohmu tidak pernah memikirkan hal lain selain cho kyu hyun” ucapnya kembali dengan penekanan pada setiap bait namanya. “tapi aku tidak suka ditinggalkan” sambungnya.

“apa yang kau bicarakan, huh?”

“lagi pula, untuk apa kau repot-repot memikirkanku? Aku disini. Nyata” sambungnya tanpa memperdulikan pertanyaan ji yeon.

Sekali lagi, ji yeon hanya mampu mengerjapkan matanya berkali-kali. Beberapa bulan tidak bertemu dengan namja itu membuatnya sadar satu hal. Cho kyu hyun bukan lagi ‘bocah’ yang tiga tahun lalu menyatakan cinta padanya. Namja itu, tumbuh dengan baik menjadi pria tampan yang baru akan memulai masa kuliahnya. Ditempat yang sama dengan ji yeon.

Untuk yang satu itu, ji yeon juga tidak begitu mengerti. Namja dengan kualitas otak melebihi rata-rata itu justru memilih berkuliah di universitas semacam inha university. Universitas yang memang tidak buruk. Tapi seoul masih memiliki berbagai universitas yang lebih bagus dari itu. dan kyu hyun, dengan bodohnya menolak beberapa beasiswa yang mereka ajukan.

Ji yeon sempat ingin memukuli namja itu dengan berbagai benda yang dapat meruntuhkan pemikiran bodoh itu dari otaknya. Namun bagian hati terkecilnya menolak untuk melakukan hal serupa. Terlebih ketika namja itu mengatakan alasan ‘konyol’nya pada ji yeon.

‘aku tak ingin lagi berada jauh darimu’

Hanya itu. hanya beberapa bait kata yang –tak logisnya- mampu meruntuhkan pertahanan ji yeon untuk menolak namja itu beredar disekitarnya. Tapi untuk beberapa saat setelahnya, ji yeon harus bersyukur atas kembalinya rotasi kehidupannya. Kembalinya kyu hyun dalam bidang gravitasi kuatnya. Dan kembalinya kyu hyun dalam pusat tatanan terpenting yang berputar disekelilingnya.

“sebaiknya kau mandi” ji yeon terkesiap. Seketika kesadarannya kembali dan sialnya justru langsung tertuju pada manik mata coklat hazel milik kyu hyun.

“n ne?” jawab ji yeon terbata. Matanya masih tak lepas dari benda sebulat almond yang entah mengapa mampu menelannya dengan baik itu.

“mandi. Kau tau mandi?” ulang kyu hyun “dan,, hei berhenti menatapku seperti itu. kau ingin aku melakukan apa, huh?”

“apa?” yeoja itu merengut. Mengalihkan matanya sebelum tenggelam lebih dalam kedalam pesona seorang cho kyu hyun.

“tidak ada. Cepat pergi. Kau membuatku tidak dapat bernafas” gumam kyu hyun pelan.

“Sebenarnya apa yang kau bicarakan? Kau hanya bergumam tak jelas dan aku tidak bisa mengerti bahasa asingmu itu!” ji yeon mendongak. Menatap wajah kyu hyun dengan maksud meminta penjelasan. Ia memajukan sedikit tubuhnya. Dan anehnya, kyu hyun dengan cepat memundurkan tubuhnya. “kau kenapa?” tanya ji yeon pelan.

“aku tidak baik. Karena kau. baumu dan juga bajumu. Bisakah kau lebih cepat pergi? Aku tak ingin terjadi sesuatu yang tidak kau inginkan” ucap namja itu tegas. Membuat ji yeon dengan cepat mudur dan menyilangkan kedua tangannya didepan dada.

“memangnya apa yang akan kau lakukan?” tanyanya polos.

“kau ingin aku menjelaskannya disini?” seketika tubuh ji yeon meremang. Sebuah seringai setan terukir mengerikan pada wajah namja itu.

“t tidak perlu. Baiklah aku pergi”

 

__

“kau sudah lihat? Kau tau dia sangat tampan. Kau harus melihatnya so!”

“benarkah? Apa lebih tampan dari seorang kim kibum?”

“ya tuhan kau pasti gila. Dia tidak bisa dibandingkan dengan siapapun!”

“jangan bercanda! Kim kibum itu sangat tampan, asal kau tau saja!”

“kau harus melihatnya. Harus. Agar kau tau kekasih tampanmu itu tidak ada apa-apanya”

“yak! Han nari!!”

“sst!”

Kedua gadis itu kembali terdiam. Mengangguk beberapa kali kepada pengunjung perpustakaan lainnya yang merasa terganggu dengan kelakuan mereka. Ji yeon sudah berkali-kali memperingatkan mereka. Tidakkah terlalu kekanakan menceritakan ‘namja’ lain sekeras itu sementara kau tau kekasihmu dapat menemukanmu kapan saja dan dimana saja?

“benarkah dia tampan?”

“kau akan segera tau bahwa namja yang kau gilai itu benar-benar nol jika dibandingkan dengannya”

“tapi aku tak pernah melihat namja yang lebih baik daripada kibum”

“ck. Dia bahkan lebih pintar dari kekasihmu itu. aku dengar beberapa universitas terbaik seoul menawarkannya beasiswa penuh. Hanya saja dia memilih untuk berkuliah disini. Kurasa ini takdirku. tidakkah kau berfikiri ini sangat indah?”

“ck, mimpi saja kau nona han. Dan jangan pernah katakan dia lebih pintar dari kekasihku. Dia yang terbaik di kampus ini!”

“kau akan lihat bagaimana dia mengalahkan kekasihmu. Dan pada saat itu kau hanya akan tercengang dengan mulut terbuka dan.. bang!”

“yak! Apa maksudmu?!”

“aku yakin dia akan mengalahkan rekor nilai kim kibummu yang sangat tampan itu. dan saat itu terjadi, kau tidak akan memiliki satupun kesempatan untuk mencampakkan kibum dan mengejarnya karena takdir akan segera mempertemukan aku dan dia”

“han nari, kau..”

“aku rasa inilah saatnya aku harus berbangga. Ketika kau tidak harus berteriak karena namjamu itu berada pada posisi pertama peringkat nilai kampus lagi”

“han nari__”

“bisakah kalian tenang?” ji yeon berdiri jengah. Ia bosan. Sudah terlalu bosan bahkan ketika sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di kampus itu hingga sore ini kedua yeoja didepannya tak pernah berhenti memperdebatkan ‘namja’ yang katanya ‘tampan’ dan ‘pintar’nya melebihi kim kibum itu. kyu hyun. ya, siapa lagi memang?

“ji yeon-ah, kau kenapa?” nari bersuara pelan.

“kenapa? Kenapa?? Han nari, aku lelah mendengarkan celotehanmu tentang namja baru itu. tidak bisakah kau bercerita hal lain. Dia tidak sesempurna itu dan dengan alasan apa kau mengatakan dia takdirmu? Jangan bodoh, dia lebih muda darimu dan kau saat ini sedang bersama lee hyukjae” tutur ji yeon panjang.

“hyuk jae? omo! Yang benar saja yeon. Dia yang mendekatiku dan aku tak pernah menyetujui untuk bersamanya. Dan lagi, mengapa kau perduli dengan pembicaraan kami kali ini? bukankah kau akan menutup telinga ketika kami membicarakan seorang namja?”

ji yeon melirik nari kesal. Adakah yang salah disini? Ya! Dia yang salah. Nari benar, untuk apa dia perduli? Toh sejauh ini sahabatnya itu memang akan selalu cerewet ketika menemukan namja baru dan ji yeon tak pernah protes.

“nari benar yeon, ada yang salah denganmu?” tanya eun so kemudian. Ji yeon terdiam. Segala perkataan nari menggema dalam fikirannya. Dan satu hal yang ia fikirkan adalah bagaimana caranya keluar dari topik pembicaraan ini tanpa rasa malu sedikitpun.

“yeon, kau baik-baik saja?” tanya nari menambahkan.

“aku? Tentu aku baik-baik saja. Dwaesseo. Aku ingin pulang” dengan cepat ji yeon membereskan beberapa buku miliknya dan berjalan menuju pintu perpustakaan.

“ada apa dengannya?”

“entahlah.. oh ya, apa kau tau..” dan bla bla bla.

 

 

__

“untuk apa kau datang lagi?” ji yeon terdiam didepan pintu apartemennya. Baru saja ia menghempaskan tubuhnya pada satu-satunya tempat yang paling ia cintai –tempat tidur- itu justru suara nyaring bel apartemennya berbunyi beberapa kali.

“aku? Tidak ada. Hanya berkunjung” jawab kyu hyun asal.

“aku bukan pasien rumah sakit yang terbaring lemah di ranjang pesakitan jika kau tau” ji yeon menutup pintu apartemennya ketika namja itu kembali melenggang masuk tanpa izin darinya.

“aku tau. memangnya aku pernah mengatakan itu?”

“tidak. Jadi berhentilah ‘berkunjung’ mulai dari sekarang” ji yeon berjalan kasar menuju dapur. Membuat kyu hyun menatapnya tak percaya. ‘ada apa dengan yeoja itu?’ pikirnya.

Sejujurnya. Tak ada alasan yang begitu signifikan bagi ji yeon untuk bersikap seolah marah pada namja itu. dia marah? Ya, tentu saja ia marah. Mengingat pembicaraan hampir seluruh yeoja kampus yang ia temui beberapa waktu yang lalu lah yang membuatnya sangat kesal. Dan tentu saja, karena ada kyu hyun disini. Biarkanlah ia melampiaskan rasa kesalnya pada namja bodoh yang telah mencuri perhatian seisi kampus itu.

Ji yeon menuangkan susu dari sekotak miliknya di lemari pendingin. Ia berjalan pelan menuju wastafel dan meneguknya kencang hingga hanya tersisa beberapa bagian. Panas. Ya suasana hatinya sedang panas. Atau mungkin ‘sangat panas’? tubuhnya bergetar kecil ketika sepasang tangan melingkar pada bahunya.

“kau cemburu. Hmm?” tanya kyu hyun cepat.

“cih, mimpi saja. Lepaskan tanganmu!” ujarnya ketus. Ya tuhan, bisakah ia bersikap lebih baik? Tidak! Tidak untuk saat ini.

“bersikaplah lebih baik park” namja itu masih bertahan. Suara, intonasi bahkan nada berbicara dan kedua tangannya pasti.

“aku tidak bisa. dan tidak ingin” ujar ji yeon dingin. ji yeon terdiam ketika suara kekehan kecil ia dengar dari belakang tubuhnya. “apanya yang lucu, hah?” yeoja itu berbalik. Sontak memutuskan rangkulan kyu hyun pada bahunya.

“kau. kau sangat lucu. Terutama saat sedang cemburu seperti ini” ujar kyu hyun masih diselingi dengan senyuman maut andalanya. Namun entahlah, emosi ji yeon justru semakin terpancing dan tak akan reda sebelum namja itu mengucapkan satu kata. Ya, satu kata yang sangat berarti.

“berhenti mempermainkanku!” ji yeon meletakkan gelas itu kasar pada meja dapur dan berjalan menuju kamarnya sendiri. Sedikit lagi. sedikit lagi sebelum akhirnya yeoja itu terhenti karena tarikan kuat kyu hyun pada pergelangan tangannya.

“ya, apa yang terjadi padamu? apa perlu kau semarah itu?” tanya kyu hyun cepat.

“ya perlu! Sangat! Dan harus! Kau tau, kau menjengkelkan sekali!!”

Pada akhirnya kyu hyun kembali tersenyum. Melihat yeoja didepannya tengah memukul bahunya berkali kali. Ia tau. sangat tau bagaimana perasaan yeoja itu. perasaan yang hampir sama ketika ia tengah berkumpul dengan seluruh sepupu namjanya dan mereka semua membicarakan satu hal yang sama. Kecantikan ji yeon.

Kyu hyun menarik yeoja itu pelan kedalam dekapannya. Membiarkan tangan kecil ji yeon masih memukuli lengannya sesekali. Dan setelah itu, suasana sunyi tercipta. Memberikan kyu hyun kesempatan untuk mendengarkan detakan jantung ji yeon yang bertalu kencang.

“kau sangat bahagia didalam pelukanku” ujar kyu hyun pelan. Dan kembali ia harus terkekeh pelan ketika salah satu tangan yeoja itu –kali ini- memukul dadanya –dan- cukup kencang. Membuatnya terbatuk pelan untuk beberapa saat.

“apa aku terlalu mempesona untuk mereka semua? Apa kau berfikir agar aku pindah saja?” ji yeon mengangkat kepalanya cepat menatap kyu hyun.

“apa yang kau katakan?” tanyanya dengan suara tinggi.

“baiklah, aku tidak akan pindah” seolah mengerti, namja itu hanya bergumam dan kembali memeluk ji yeon erat. Ia tau, yeoja itu tak akan pernah mengatakan hal yang ia ingin katakan begitu saja. Ia akan memikirkan segala dampak baik dan buruk dari setiap perkataan yang terlontar. Setidaknya itu yang kyu hyun pelajari setelah mengenalnya selama tiga tahun.

Dan satu hal lagi yang ia pelajari adalah bagaimana membaca pikiran yeoja itu hanya dari ekspresi dan setiap perkataannya. Kyu hyun mengerti. Sangat mengerti lebih tepatnya. Ia juga tidak tau mengapa yeoja cerewet itu tidak bisa mengungkapkan isi hatinya dengan gamblang. Atau mungkin juga karena perasaan yang harus ia tuturkan dengan gamblang itu menyangkut kyu hyun? karena itu ia tidak berani berbicara?

Memang, mungkin akan sulit bagi ji yeon untuk berbicara segamblang kyu hyun mengutarakan segala perasaannya. Bukan karena kyu hyun. Tapi terlebih pada rasa tak pantas dirinya jika berkata ‘aku cemburu’ pada namja yang bahkan bukan siapa-siapa baginya. Setidaknya hingga saat ini. karena kyu hyun tak pernah memintanya untuk menjadi seseorang yang spesial dan juga tidak pernah meresmikan hubungan mereka sebagai sesuatu yang spesial. Jadi, apa terdengar pantas kau cemburu pada dia yang bukan siapa-siapa bagimu?

“aku disini”

“eh?”

“aku disini. Kau tak perlu khawatir” ulang namja itu. kyu hyun sejenak menghela nafas “aku akan pergi jika menemukan gadis lain yang lebih cantik. Jika itu yang ada dalam fikiranmu, maka buang saja jauh-jauh.” Sambungnya.

“aku tidak akan pergi. Tidak sebelum kau sendiri yang memintaku untuk pergi. Dan untuk berbagai macam alasan yang membuatmu cemburu, Lupakan semuanya! Karena sampai kapanpun, aku buta rasa saat melihat yeoja lain selain dirimu”

Untuk beberapa detik yang terasa sangat membahagiakan, ji yeon tersenyum. Itu. itu adalah kata-kata yang ia inginkan. Dan sesuai perjanjian, maka segala emosi yang bersarang dalam benaknya akhirnya hilang. Lenyap tertelan rasa bahagia yang membuncah karena ucapan singkat namun berarti dari seorang namja bernama cho. Cho kyu hyun.

Ji yeon memberanikan diri untuk membalas pelukan namja itu. sebelum akhirnya ia merasakan nafas menenangkan milik cho kyu hyun pada lipatan lehernya. Menenangkan. Merasakan nafas hangat namja itu pada dirinya.

“aku merindukanmu”

 

 

-satu tahun kemudian-

“woo! Kau lihat so. Kau harus lihat!!” gadis itu berteriak keras ditengah kerumunan mahasiswa lainnya yang berada disana. Tujuan mereka hanya satu. Mengecek pada urutan ke berapa nama mereka berada.

“ya tuhan, so. Tunggu,, aku harus mengambil gambarnya” yeoja itu mengeluarkan poonsel miliknya.

“kau berlebihan nari. Sudahlah, ayo pergi” eunso menarik kuat tangan sahabatnya itu. mencoba keluar dari kerumunan orang-orang yang semakin memadati papan pengumuman.

“kau tau so, ucapanku tidak pernah salah. Dan kali ini kau memang harus terima bahwa kyuhyun jauh lebih pintar dari pangeran berkudamu itu” ucap nari bersemangat.

“diamlah! Itu hanya kebetulan saja” ketus eunso. Ya tuhan, bagaimana bisa nama kyu hyun berada diatas nama kekasihnya? Bukankah eunso sudah meminta kibum untuk belajar mati-matian demi rekor pertahanan nilainya? Dan sekarang, rekor itu justru berada didalam genggaman kyu hyun.

“kebetulan? Tidak ada yang kebetulan disini. Kau ingat, ini sudah semester kedua dan kyu hyun kembali mengalahkan kekasihmu itu. jadi, sekarang saatnya kau mengakui jika kekasihmu itu memang bukan apa-apa lagi dikampus ini” cerca nari panjang.

“ya! Setidaknya kibum masih berada di posisi kedua han nari!” teriak eunso tak terima.

“kau hanya berusaha menghibur diri so. Akui saja jika kyu hyun memang lebih baik dari kekasihmu itu”

“han nari!!”

Ji yeon hanya terdiam. Memperhatikan kedua sahabatnya yang tak pernah bosan membicarakan namja itu membuatnya tak habis fikir. Apa yang ada dalam kepala mereka hanya namja? Bahkan mereka tidak begitu perduli nama mereka ada di urutan berapa. Berbeda dengan ji yeon yang sangat peduli jika ia harus meningkatkan prestasinya. Mengingat semester ini namanya berada pada posisi tujuh. Ia harus bisa berada dalam lima besar nilai sempurna kampus itu. ya, harus.

Ji yeon merogoh sakunya cepat ketika getaran ponsel itu merambat pada saraf sensoriknya. Dan sebuah lengkungan manis tercipta disana ketika sebuah pesan baru saja masuk.

‘ayo rayakan ini. aku akan berbelanja. Tunggu aku dirumah’

 

__

“cepat sekali” ji yeon menutup pintu apartemen ketika  kyu hyun telah berlalu masuk mendahuluinya.

“aku tak bisa menahan diri untuk bertemu denganmu” jawab kyu hyun asal.

“dasar perayu ulung!” ji yeon menyusul namja itu menuju pantri dapur, sekilas memutar bola matanya jengah ketika namja itu memamerkan cengiran bocah menjijikkan miliknya.

“setidaknya aku tidak berbohong” kyu hyun meletakkan seluruh belanjaannya pada meja pantri dan berjalan menuju ji yeon. Namja itu mengecup cepat pipi ji yeon sebelum akhirnya berjalan menuju ruang tamu untuk membuka mantel tebal miliknya dan meletakkannya pada sandaran sofa.

“kau berbelanja dimana?” tanya ji yeon sembari meletakkan beberapa bahan makanan kedalam lemari pendingin.

“supermarket paman” jawabnya pelan. Ji yeon terdiam lalu memandang namja itu tak percaya.

“paman lee? Bukankah itu sangat jauh dari apartemenmu?” ji yeon sedikit tak percaya. Namja yang memilih untuk tinggal di sebuah apartemen yang jauh darinya itu memilih untuk berbelanja di supermarket yang justru lebih jauh lagi dari apartemen kyu hyun sendiri.

“paman lee memintaku untuk datang. Jadi, pagi ini aku kesana” jawab kyu hyun ringan. Namja itu mulai duduk pada bangku pantri dan meletakkan kedua tangannya diatas meja.

“untuk apa paman memintamu datang?” kyuhyun menaikkan bahunya ringan sebelum kembali memandangi ji yeon yang masih menata bahan makanan itu kedalam lemari pendingin.

“kau tau, nilai hyuk jae menurun. Aku rasa dia terlalu berusaha keras untuk mengejar sahabatmu yang sudah jelas-jelas memujaku itu” ucap kyuhyun santai. Ji yeon memandanginya jengah. Kyu hyun memang sudah tau jika nari sangat mengidolakan dirinya. “jadi, paman lee memintaku untuk berbicara padanya agar dia mau berubah” sambungnya.

“panggil dia hyung” perintah ji yeon.

“untuk apa?”

“dia lebih tua darimu. Kau ingat?”

“ck. Aku bahkan jauh lebih dewasa darinya” keluh kyu hyun cepat.

“lalu?”

“lalu apanya?”

“apa yang kau katakan padanya?” tanya ji yeon jengah.

“oh itu. aku hanya mengatakan agar dia lebih rajin belajar dan menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Lalu pergi bekerja di perusahaan appanya dan mengajak gadis itu berkencan jika ia sudah membawa sebuah mobil sport keluaran terbaru” kyu hyun menyeruput pelan segelas coklat panas yang baru saja dibuatkan oleh ji yeon untuknya.

“semudah itu? nari bukanlah gadis matrealistis” tutur ji yeon didepan kyuhyun.

“setidaknya, kita belum mencoba” namja itu kembali mengangkat kedua bahunya dan menyeruput coklat panas didepannya. Ji yeon mengangguk beberapa kali. Namja itu, terkadang pemikirannya sangat dapat diterima logika manusia. Benar-benar cerdas.

“ayo memasak!” teriak kyuhyun tiba-tiba.

“memasak? Apa kau tidak tau kemampuan memasakmu itu seperti apa?” sela ji yeon cepat.

“eii, mencela masakanku? Kau fikir siapa yang menghabiskan bubur buatanku ketika sedang sakit, huh?” kyu hyun memajukan tubuhnya dan menatap ji yeon dengan tatapan konyol.

“kau fikir aku mau memakan bubur encer yang tidak memiliki rasa itu jika tidak terpaksa, huh?” balas ji yeon tak kalah konyol. Untuk beberapa saat, kyuhyun terdiam. Lalu kembali memundurkan tubuhnya dan menyeruput coklat panasnya –lagi-.

“eum,, baiklah, alasanmu diterima. Jadi, karena aku sama sekali tidak memiliki bakat memasak, kau dibebani tugas untuk memasakkan sesuatu yang lezat untukku. Arraseo!” ji yeon berdehem pelan sebelum memutar bola matanya lebih jengah. Terlebih setelah namja itu meletakkan dagunya pada lipatan tangannya diatas meja dan berkedip berkali-kali. Sungguh menjijikkan.

 

__

“apa kau tidak memiliki sedikit saja rasa kemanusiaan?” kyu hyun menatap makanan didepannya dan kembali menatap ji yeon.

“aku sudah sangat lapar dan kau,, sudah, makan saja!” jawab ji yeon asal.

“ya! Aku membelikanmu bahan makanan yang sangat banyak. Dan kau hanya mengolahnya menjadi dua mangkuk nasi goreng kimchi?”

“ck. Kalau kau tidak mau tidak usah dimakan. Lagipula, aku memasak nasi goreng kimchi karena kau menyukainya. Makan saja atau kau mati kelaparan karena aku tidak ingin kembali ke dapur untuk memasakkanmu makanan yang lainnya.”

Kyu hyun terdiam melihat yeoja itu berceloteh panjang lalu berakhir dengan kedua sumpit dan mulutnya beradu. Namja itu menggeleng tak percaya. ‘Dasar yeoja aneh’ batinnya.

“setidaknya kau mencintaiku” seolah dapat membaca pikiran namja itu, ji yeon berkicau pelan sebelum melanjutkan acara makan malamnya.

 

__

“apa menurutmu aku harus pulang?” kyu hyun berkali kali menahan kakinya agar tidak terdorong dengan mudah oleh ji yeon.

“tentu saja!” ji yeon kembali mendorong punggung namja itu mendekat menuju pintu apartemennya.

“tapi aku masih ingin berada disini” kyuhyun berbalik dan menggenggam kedua pergelangan tangan ji yeon cepat.

“tidak bisa. kau lihat, ini sudah malam dan aku tidak ingin ada namja lain didalam apartemenku” ji yeon tak putus arang. Saat ini tangannya tetap mendorong dada kyu hyun mendekat menuju pintu.

“tapi aku sepupumu. Ayolah noona” namja itu sedikit membungkuk dan menunjukkan puppy eyes nya pada ji yeon. Membuat ji yeon terdiam sesaat sebelum akhirnya kembali mendorong dada namja itu.

“dasar namja licik!” gumamnya. Kyu hyun tertawa pelan sebelum akhirnya menahan tubuhnya. Tangannya masih menggenggam pergelangan tangan ji yeon sebelum akhirnya mendesah berat.

“arraseo aku pulang. Tapi, bisakah kau ambilkan mantel hangatku disana?” kyu hyun menunjuk sofa ruang tengah dan beberapa saat kemudian ji yeon kembali dengan sebuah mantel dan sepasang sarung tangan.

“hati-hati” ujar ji yeon setelah mereka sampai di ujung pintu apartemen. “semalat malam, semoga tidurmu menyenangkan” ji yeon tersenyum manis pada namja yang saat ini sudah berada diluar pintu apartemen.

Kyu hyun mengernyit tak puas “itu bukan salam yang benar” lalu mendekat sebelum akhirnya menyentuhkan jemarinya pada tengkuk ji yeon. “ini adalah salam yang lebih baik” ujarnya sebelum menyatukan bibir tebalnya pada ji yeon.

Namja itu mengecup ji yeon dalam. Mempermainkan bibirnya berkali-kali. Mengulumnya lembut seolah ji yeon adalah seseorang yang rapuh. Sedangkan yeoja itu hanya mampu menutup kedua matanya. Seperti biasa, ciuman kyu hyun selalu luar biasa. Mampu membuatnya menghilang untuk sementara waktu. Membuat letupan-letupan kecil itu terasa di ujung hatinya. Membuat banyak kembang api meledak dan menimbulkan berjuta warna warni indah dan jutaan kupu-kupu menggelitik perutnya.

Namja itu berhenti tepat disaat ia merasakan remasan jemari ji yeon pada rambut belakangnya mengeras. Yeoja itu sudah kehilangan seluruh oksigennya. Hanya itu kesimpulan kecil yang dapat kyu hyun ambil. Mereka saling berpandangan. Tersenyum begitu manis sementara kedua tangan ji yeon masih melingkar pada leher namja itu.

“a apa yang kalian lakukan?” kyu hyun dan ji yeon tersentak ketika suara itu,, suara yang sangat dikenal baik oleh ji yeon terdengar terbata. Mereka saling berpaling dan seketika menjauhkan diri ketika sosok namja diujung sana menatap mereka dengan tatapan tak percaya.

“o oppa..”

 

__

Ji yeon meremas ujung bajunya, tak menyangka jika apa yang ia lakukan bersama kyu hyun akan diketahui secepat ini oleh jungso. Kyu hyun baru saja pulang, setelah ujung pipinya mengeluarkan sebercak darah. Ji yeon kembali mengumpat kejadian yang tak lama sebelum ini ia saksikan. Kyuhyun, dengan gamblang mengatakan jika ia mencintai ji yeon dan itu membuat jungso tak dapat menahan diri untuk tidak memberikannya sebuah pukulan keras.

Berkali-kali ji yeon telah mencegah kucuran air mata laknat itu untuk keluar. Tapi firasat buruk dalam dirinya terus memaksakan jejak yang menganak sungai itu kembali menghiasi pipi merahnya. Jungso mengacak rambutnya pelan lalu berbalik menghadap ji yeon.

“apa kau gila?! Kyu hyun itu adikmu!!” bentak jungso padanya.

“oppa..”

“jangan menangis seperti itu!!” bentaknya sekali lagi.

Ji yeon masih setia mengeluarkan cairan itu dari ujung matanya sementara jungso meremas rambutnya kasar mengetahui kenyataan tentang hubungan adiknya bersama kyu hyun.

“sejak kapan?” tanyanya gusar.

“oppa, dengarkan aku..”

“jawab aku park ji yeon!!” ji yeon menunduk dalam. Selama ini, tak pernah sekalipun jungso membentaknya seperti itu. apa perbuatannya sudah sangat salah hingga bahkan jungso terlihat sangat marah?

“liburan musim semi. empat tahun yang lalu” jawab ji yeon bergetar.

“selama itu? dan kau telah berciuman dengannya?” ji yeon mengangguk pelan. Membuat nafas jungso semakin tercekat.

“ya tuhan park ji yeon, apa yang kau fikirkan, hah? Apa kau tau betapa besarnya dosamu? Kau memiliki hubungan seperti ini dengan adik sepupumu sendiri. Dan kalian telah melewati batas-batas yang seharusnya kalian jaga dengan baik!!” teriak jungso frustasi.

“oppa, mianhae”

“lalu apa dengan meminta maaf akan mengembalikan keadaan?” tegasnya. Ji yeon menggeleng pelan.

“jawab aku, apa kau mencintainya?” jungso duduk didepan adik satu-satunya. beruntung sekali apartemen itu kedap suara. Jika tidak maka terbongkar sudah setiap rahasia yang berusaha mereka tutup rapat dari semua orang.

“JAWAB AKU JI YEON!” teriak jungso frustasi. Tindakan diam yeoja itu seakan menjawab segalanya. Ji yeon, hanya mampu menundukkan wajahnya. Tak sanggup jika harus melihat wajah memerah jungso karena menahan amarah. Jungso kalap. Setiap emosi mengincar perasaannya tanpa ampun. Niat untuk mengunjungi adik satu-satunya justru berujung pada manik matanya yang menangkap langsung adegan ciuman kedua saudara sedarah itu didepan matanya sendiri. Ji yeon dan kyu hyun.

“maafkan aku oppa. Aku tau,, aku yang salah. Mianhae” ji yeon berlutut memeluk kaki oppanya. Menangis tersedu dibawah sana dan hal itu tentu membuat jungso tidak dapat mengatakan apapun. Jungso tak pernah berfikir akan menemukan kenyataan menyakitkan seperti ini dalam keluarganya.

Ia juga tidak ingin setega itu pada adiknya. Karena sejauh ini, tidak pernah ada satu namja pun yang mampu mendekati ji yeon. Dan disaat namja impiannya datang justru ia datang dari kalangan yang tak seharusnya dapat bersama. Kyu hyun. mereka satu darah, satu keturunan, dan yang lebih menyakitkan adalah mereka satu keluarga besar. Dipejamkannya kedua matanya erat.

“putuskan hubunganmu dengannya” ucap jungso kemudian “lalu segera minta appa mengurus surat pindahmu”

Ji yeon mendongak, menatap oppanya tak percaya. Tidak, ia tidak bisa meninggalkan kyu hyun begitu saja. Perasaannya tidak dapat dihilangkan begitu saja. Setidaknya untuk saat ini. benang antara dirinya dan kyu hyun benar-benar terlalu kuat untuk sekedar dijauhkan secara paksa seperti ini.

“oppa kumohon jangan seperti ini” ji yeon kembali berlutut memohon pada jungso. Meletakkan kepalanya diujung kaki jungso. Memohon tanpa ampun agar namja itu tak menyulitkannya dengan cara seperti ini.

“Tidak! Kalian harus dipisahkan. Cepat katakan ini padanya lalu urus surat pindahmu” ji yeon menggeleng tak percaya. Tidak semudah itu mengatakan hal ini pada kyu hyun. terlebih disaat hatinya juga menolak untuk berpisah dengan namja itu. ji yeon menggeleng kuat. Berusaha menepis kenyataan yang semakin lama semakin menggerogoti asa dalam dirinya.

“Atau kau ingin aku mengatakan ini pada appa dan eomma? Membuat penyakit jantung itu membunuh appa seketika dan keluarga kita akan dikucilkan orang banyak?”

DEG!

Ji yeon terdiam. ancam namja itu benar-benar diluar pemikirannya. Appa, eomma. Dikucilkan? Air mata itu jatuh semakin deras. Berada diantara pilihan sulit seperti ini bukanlah keinginan hidupnya. Ji yeon juga tak pernah menginginkan untuk jatuh cinta pada kyu hyun. Ji yeon terdiam. Tidak, ia tak ingin semuanya seperti ini.

 

__

Ji yeon berjalan lunglai menuju pintu apartemennya. Beberapa hari ini, ia sudah sebisa mungkin menjauh dari kyu hyun. tak pernah menerima panggilan namja itu, mengabaikan pesannya bahkan tak pernah membukakan pintu untuknya. Beruntung ji yeon tak pernah memberikan password apartemen itu pada kyu hyun. walau dengan sangat jelas namja itu pasti tau. 030288. Hari ulang tahun kyu hyun.

Jungso hanya memberikannya waktu satu minggu. Dan dua hari lagi, syarat itu akan berakhir. Ji yeon sempat berfikir untuk mengabaikannya. Namun kesehatan kedua orang tuanya benar-benar mengusik perasaan yeoja itu. haruskah ia mengatakan ini pada kyu hyun? berpisah? bagaimana bisa? bahkan hanya lima hari tak menemukan senyuman namja itu membuatnya hampir gila. Tak mendengarkan suara namja itu membuatnya lupa diri dan pada akhirnya dosen gendut itu terpaksa mengusirnya dari dalam kelas karena seluruh rumus logaritma ji yeon telah berganti dengan nama kyuhyun.

Ji yeon membeku ketika bayangan namja itu tertangkap oleh retina matanya. Menghantarkan aliran kerinduan yang sangat besar disana. Hatinya mencelos mengetahui jika namja itu masih berdiri mematung didepan pintu apartemennya. Ia segera berdiri tegap ketika menemukan bayangan ji yeon yang tengah berjalan menuju ke arahnya. Kyu hyun sigap berlari dan memeluk yeoja itu protektif. Memberikan kehangatan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

“apa kau baik-baik saja?” tanya namja itu cemas. Ji yeon terpukul. Melihat betapa besarnya cinta mereka berdua namun harus terhalang izin tuhan. Ia mengangguk pelan. Menyeruakkan kembali tubuhnya kedalam pelukan kyu hyun.

“maafkan aku. Aku tidak dapat melindungimu__”

“kita perlu bicara kyu” potong ji yeon cepat.

 

__

Ji yeon terdiam kaku. Ia dengan berat hati telah menyampaikan segala keputusan jungso untuk mereka. Namun kyu hyun hanya diam. Tak memberikan respon apapun pada ji yeon dan itu semakin membuatnya sakit.

“sudah kuduga” gumamnya pelan. Ji yeon menatap namja itu memohon. Memohon sebuah permintaan maaf yang sangat ia butuhkan saat ini.

“sejak awal aku sudah menyangka jika suatu saat ini akan terjadi” ujar namja itu dingin. “dan dulu, aku berfikir jika ini terjadi maka aku hanya harus melepaskanmu. Tapi,, itu dulu. Sebelum aku benar-benar jatuh dalam dunia seorang park ji yeon” ji yeon tersentak. Ia tak pernah menyangka jika namja itu akan mengatakan hal semenyakitkan ini.

“sebelum aku benar benar sadar jika kau adalah satu-satunya yeoja dalam hidupku. Dan sebelum aku benar-benar sadar jika aku,, jatuh cinta padamu. benar benar cinta. Tak seperti perasaan aneh yang menyerang remaja labil. Aku, mencintaimu”

Ji yeon meneteskan air matanya. Sekalipun, tak pernah terbesit dalam fikirannya untuk menggoreskan raut menyedihkan seperti itu pada kyu hyun. ia,,, bukan dirinya yang menginginkan segala hal menyakitkan ini terjadi.

“bolehkah kita egois?” kyu hyun menatap ji yeon. Tatapan putus asa dan memohon dari dalam matanya benar-benar menyiksa yeoja itu. menusuk hatinya dengan beribu jarum panas. Sakit. Jauh lebih menyakitkan dari apapun.

“kyu..”

“tidak bisa??” tanya namja itu kembali.

“kyu, aku..”

“aku mencintaimu. Apa itu tidak cukup untuk membuatmu mau menjalani semua ini secara egois bersamaku?” kilatan marah terpancar jelas dari kedua manik indah itu.

“apa hanya seperti ini ujung dari segala yang kita lalui bersama? Aku mencintaimu yeon. Sangat!!” teriak namja itu keras. Ji yeon menutup kedua matanya. Merasakan hangat nafas kyu hyun yang menderu kencang membuat hatinya semakin hancur. Disentuhnya bahu namja itu pelan.

“kyu,, “ ji yeon terdiam sejenak “Kau adikku” ujarnya kemudian. Sebuah palu raksasa mengahantam jantungnya. Tidak pernah ia berfikir untuk menganggap namja itu sebagai adik. Kyu hyun adalah seorang ‘namja’ baginya. Ya namja yang ia cintai.

“jangan gila yeon. Aku mencintaimu! Kita bisa pergi jika kita mau” namja itu berkata dengan segala asa yang ia miliki. Membawa ji yeon pergi.

“kyu,, aku.. tidak bisa” ji yeon semakin tak dapat menahan tangisannya “apa kata orang pada keluarga kita nanti” sambungnya.

“jangan bodoh! Kau mencintaiku dan aku juga mencintaimu! Untuk apa memikirkan pendapat orang lain” jawab namja itu frustasi.

“kita satu darah kyu. Kau__”

“aku bukan adikmu! Jangan pernah mengatakannya lagi!” potong kyuhyun cepat. Dan nada bentakan itu, menandakan habisnya kesabaran seorang cho kyu hyun. Ji yeon menahan emosinya semakin keras. Ia tau bagaimana perasaan namja itu. ia juga merasakan hal yang sama dan itu juga tidak mudah untuknya.

“aku mohon kyu, ayo kita berhenti” Kyu hyun terdiam kemudian berbalik menuju ji yeon. Dicengkramnya lengan yeoja itu kuat sebelum akhirnya menatap matanya tajam.

“katakan padaku, apa kau mencintaiku? Apa kau pernah mencintaiku?” ucapnya berat.

“kyu..”

“katakan padaku! Kau tidak pernah mengatakannya meskipun berkali-kali telah kuungkapkan perasaanku padamu!!” ji yeon menutup matanya. Merasakan nafas memburu namja itu pada wajahnya. “katakan padaku..” suara namja itu seketika melemah bersamaan dengan cengkramannya.

“aku mencintaimu. Aku mencintaimu” suara parau dari bibir ji yeon terdengar seperti ujung tombak bagi kyu hyun. tombak tajam yang menggores hatinya sangat dalam.

“lalu untuk apa kau melakukan semua ini?” mata namja itu mulai berkaca-kaca seperti sudah tak mampu untuk menampung seluruh kesedihannya.

“untuk appa, untuk eomma, untuk keluarga besar kita dan yang paling penting, untukmu” namja itu menatap tajam ji yeon.

“aku tidak bahagia! Kau tau aku tidak akan pernah bahagia tanpamu!” teriaknya kemudian.

“jangan egois kyu, tak ada satupun pembenaran atas hubungan kita. Bahkan tuhan pun tak pernah memberikan kita izin. Kau harus tau seberapa besar dosa kita jika kita tetap egois seperti ini. fikirkanlah orang-orang disekitar kita. Aku tidak ingin kehilangan appa!”

Akhirnya tangisan itupun semakin tak terbendung. Ji yeon benar, ia seharusnya memilih kebenaran meskipun jangan tanya seberapa hancur hatinya saat ini. bukan hanya kyu hyun saja. Ia jauh lebih teriris mengetahui akhir cerita mereka yang harus seperti ini.

“jangan temui aku lagi. anggap saja semua ini tak pernah ada” ji yeon berbalik pergi meninggalkan kyu hyun yang masih tertunduk lemas.

“jadi inikah yang kau inginkan? Memanggilmu nuna? Menganggapmu seperti kakakku sendiri?” teriak kyu hyun keras. “baiklah! Semoga kau bahagia dengan keputusanmu, NUNA!!!”

 

 

-two days later-

Kyu hyun masih tertidur meskipun jam dinding sudah menunjukkan pukul dua siang. Tubuhnya tak ingin bekerjasama meskipun hanya untuk sekedar turun dari ranjang. Sebenarnya ia tidak pernah tidur. Usai pertengkarannya bersama ji yeon malam itu ia tak pernah berhenti menangis.

Kyu hyun menggeliat sebentar sebelum akhirnya ahra masuk dan mengganti makan malam yang tak ia sentuh sama sekali. Ahra duduk disampingnya dan mengelus kepala adiknya pelan.

“aku tidak tau apa yang terjadi padamu, kau tak pernah seperti ini sebelumnya. Tapi bisakah kau kembali? appa dan eomma sangat mencemaskanmu” gadis itu berkaca-kaca melihat keadaan adiknya yang seperti mayat tak bernyawa. Kyu hyun memang telah kehilangan separuh nyawanya. Ji yeon.

Suara ribut mengusik ahra dan kyu hyun. ahra segera berdiri dan berjalan menuju pintu. Namun belum sempat ia membukanya pintu itu telah terbuka dari luar. Menampilkan sosok park jungso dengan raut wajah yang sulit di jelaskan.

“ahra-ya, aku ingin berbicara dengan kyu hyun. tolong tinggalkan kamar ini”

Ahra menatap kyu hyun sebentar sebelum mengangguk dan berlalu pergi. Jung so terdiam, melihat keadaan adik sepupunya yang sangat menggenaskan. Namja itu terdiam melihat mangkuk berisi penuh yang dibawa ahra. Kyu hyun, masih menolak untuk makan. Jungso berjalan pelan menuju ranjang. Mendudukkan dirinya dipinggiran ranjang kyu hyun.

“kyu..” panggilnya pelan “aku tau, ini berat untukmu” jungso seperti tercekik memperhatikan namja itu tanpa ekspresi terus memandanginya.

“aku tau, kau sangat mencintainya. Tapi kau harus sadar jika ini tidak benar. Bencilah padaku, karena aku yang memaksanya untuk meninggalkanmu” ujar jungso pelan.

“tapi, bisakah kalian tidak egois untuk memaksakan cinta kalian? Pikirkan juga appamu, appa kami. Keluarga besar kita kyu. Jangan seperti ini. kesedihanmu dan kesedihannya juga menyiksaku. Tapi cobalah untuk kembali pada kenyataan. Kalian, tidak akan pernah bisa bersama”

Jungso menyeka kasar air matanya. Melihat keadaan kyu hyun dan ji yeon sama saja membunuhnya perlahan. Kesedihan dua orang adiknya itu adalah hal yang paling tidak ia inginkan. Diambilnya selembar amplop dari dalam saku dan meletakkannya disamping bantal tidur kyu hyun.

“ini. dia memintaku untuk memberikan ini padamu. kumohon bangkitlah kyu. Kau pasti bisa” Jungso berdiri dan berlalu pergi meninggalkan kyu hyun disana.

Kyu hyun bangkit, mata sembab miliknya memburamkan penglihatan. Membuat kepalanya terasa berat dan pusing akibat tidak mengisi perutnya dengan apapun. Diliriknya surat pemberian jungso dan menatapnya jengah. Namun entah apa yang membawanya untuk tetap membaca isi surat itu.

Kyu,  mungkin ketika kau membuka surat ini aku sudah tidak dapat menemuimu lagi. aku, ingin meminta maaf. Mungkin kau benar aku yang terlalu egois, aku hanya memikirkan appa dan tidak memikirkan perasaanmu. Tapi,, aku masih disini kyu. Masih didalam hatimu meskipun kau tak dapat melihatku..

Kyu hyun tersenyum miris membaca sebagian isi surat itu.

Kyu, terimakasih untuk memberikanku semua ini. kebahagiaan yang tak pernah kedapatkan dimanapun selain padamu. kau, namja brengsek yang telah mencuri hati dan ciuman pertamaku. Bisakah kau menjaga itu dengan baik? Karna hingga saat ini, mereka tak pernah ingin kembali padaku.

 Kyu, aku memutuskan untuk pergi. Pagi ini.

Kyu hyun tersentak, kedua bola matanya membesar seketika.

Tak perlu panik, karena saat kau membaca surat ini maka aku telah pergi menuju suatu tempat yang mungkin tak akan mempertemukan kita. Appa memiliki beberapa relasi agar aku dapat bersekolah disana.

Aku,, tidak akan mungkin lagi dapat menemanimu. Jadi kumohon jaga dengan baik kesehatanmu dan hiduplah dengan benar. Lupakan aku dan carilah yeoja lain yang tidak akan menyakitimu seperti yang kulakukan. Cho kyu hyun, Aku Mencintaimu. Kau adalah namja pertama yang membuatku merasakan hal yang tak benar, tak pasti dan tak terlupakan. Aku pergi..

Kyu hyun meremas kuat kertas itu dan menangis. Seluruh tubuhnya bergetar dan air mata itu kembali keluar. Kyu hyun menggeram frustasi. Meremas surat itu dan mencampakkannya ke sudut ruangan.

“aku mencintaimu ji yeon-ah!!!” teriaknya kuat.

 

-Epilog-

‘sometimes like people always said, that love not must be together’

‘happiness just like a sunrise in the morning. You still taste it, with your heart’

‘And an egoism act. Just make you hurt more and more again’

 

Yeoja itu masih terduduk disana, menunggu suatu keadaan yang akan membawanya pada kehidupan baru. Ia menatap layar ponselnya tersenyum. Mendapati kabar dari sepupunya..

‘london malam ini indah. Kau harus berkunjung sesekali’

Ji yeon menatapnya getir. Berita baik yang diterimanya hari ini. ditengah segala kegelapan kehidupannya yang baru saja akan dimulai.

‘attention please, passenger japan air JT309 to london please check your boarding pass now. Our flight will begin at 09.30 thank you’

-FIN-

FC5 aku post sehari sebelum aku ujian semester. Kamis:)

 

With love, Park Ji Yeon.

9 thoughts on “The Fact (Impossible Love Sequel)

  1. vieyoungie says:

    omo… kasian mereka..

  2. tata says:

    eh, q kyakx pernah bca ff ne dblog lain deh. bnet g sih?
    pi lupa dblog mna.

  3. Ha KyunG says:

    aaAAaaaHHHHH..SUMPah NyesEEk bCAnya..huuufttttt..
    Siksa BATiN klO gnI jDInya…#Galaaauuuu…
    AAAaaHhhh KYu MA yEoN BkaaLL gMna JDInya HubAn MReKAA..???
    bTW cHinGu aQ daH KiRiM PsaN eMaiL ke KMu mau mnTA pWnya FC4..nmA eMAIl aq “Betsy SparKyu”..
    Hrap Cpat DI BlaSS..;D
    GoMAWoO:)

    SEmanGAdd ChINgU bUAt UJiaN sMEsTERnya..;D

  4. Dwi_h@E says:

    hihihi…. Kenapa harus pisah

    Mereka kan cuma sepupu, bukan sodara kandung

    Awal nya dibuat seneng dg kebersama’an mereka, apalg dg kata” kyu yg gombal nya mengalahkan kegombalan si ikan mokpo
    Tapi tapi tapi kenapa ending nya kaya gini huahhhhhhh……… *ga terima*
    Ayo kyu kejar ji yeon lg, minta restu dari orang tua ji yeon

    Semangat menjalankan ujian nya

  5. bunnydiamond says:

    Fiiuuhhh,, akhirnya selese juga, akhir yg miris😦
    Fighting (ง’̀⌣’́)ง

  6. Kim Hyera says:

    astaga, gk nyangka klo ternyata mereka saudara sepupu..
    bener” kisah yg ‘mengenaskan’..

  7. @uliezgaem says:

    duh gini nih klo cinta sedarah,, pasti sad ending…. berharap ada sebuah fakta yg tiba2 mengejutkan smuanya yg bisa mempersatukan mereka,,, hehehe
    #modus minta squel :p

  8. ini akhirnya pisah dong !

  9. Asmaul says:

    Heyhey aku baru disini.ff yang ini keren bgt.aku udah bca yg sebelum ny,disini kyu jd dwasa bgt.adakah sequel selanjutnya?ditunggu;)*bow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s