IMPOSSIBLE LOVE (2/2)

Untitled-1

Judul         : IMPOSSIBLE LOVE  (2/2)

Author      : HyukgumSmile

Genre        : romance

Rating       : PG-17

Main Cast  : Cho Kyu Hyun, Park Ji Yeon

Other Cast : choi siwon.

Summary : Jika memang kita harus egois…

‘bagaimana ujian akhirmu?’

Sekali lagi ji yeon membaca pesan terakhir yang kyu hyun kirimkan padanya beberapa saat yang lalu. memang setelah malam dimana kyu hyun menciumnya, ji yeon merasa ada sesuatu yang berbeda terjadi pada dirinya, pada diri kyu hyun dan juga pada hubungan mereka.

Hubungan? Kkk~ ji yeon seperti ingin tertawa saja mengingat semuanya. Bagaimana bisa namja kurang ajar yang setahun lebih muda darinya itu dengan berani menciumnya dan berkata jika ia menyukai ji yeon? Ini benar-benar gila.

“kepalamu terbentur nona?”

Ji yeon berbalik ketika menemukan jungso berada dibelakangnya. Yeoja itu memang sedang berada di balkon rumah. Ia tersenyum ketika jungso memberikannya secangkir penuh coklat panas.

“Oppa!?”

Jungso mengambil tempat bertepatan disamping adiknya. Mengelus-elus dinding cangkir  untuk memberikan kesan hangat di malam musim semi itu.

“chukkae! Kau membuatku bangga” Jungso mengelus pelan rambut ji yeon sebelum akhirnya yeoja itu memeluknya erat.

“gomawo oppa. Aku sangat senang”

Ji yeon baru saja menerima hasil test akhirnya pagi ini. Dan memang karena kecerdasannya bukanlah hal yang patut diragukan maka tak ayal jika peringkat terbaik didapatnya dengan mudah.

“mm. Usahamu tidak sia-sia”

“ne” angguk ji yeon mantap.

“apa kau masih berhubungan baik dengan siwon?”

Seketika yeoja itu menegakkan tubuhnya dan menatap jungso bingung. Aah, semenjak hari dimana ia harus kehilangan ciuman pertamanya entah mengapa yeoja itu tak terlalu memikirkan siwon.

“aish, aku lupa menghubunginya!” ji yeon menepuk dahinya pelan.

“syukurlah kau ingat. Dia menanyakan kabarmu sejak semalam”

Dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku hoodie. Namun sialnya ponsel itu justru terjatuh tepat dibawah kaki jungso. Namja itu mengambilnya sejenak sebelum mengembalikannya pada ji yeon dan dengan cepat yeoja itu mengirimkan sebuah pesan pada sepupunya, siwon.

Ji yeon mendesah lega mengingat siwon yang terlalu baik padanya sementara ia mengacuhkan namja itu beberapa hari ini. memang sebulan setelah liburan keluarga itu ia sempat bertukar nomer ponsel dengan beberapa sepupunya.

“nugu?”

“ne?” ji yeon menatap namja disampingnya. Merasa tak mengerti dengan maksud pertanyaan itu.

“nugu? Pria yang sedang mendekatimu?” Seketika ji yeon tersentak. Pria?

“e eobseo. Tidak ada” jawabnya terbata.

“ck, gadis bodoh. isi pesanmu mencurigakan!”

Mata ji yeon seketika melebar mengingat ia belum mengeluarkan pesan kyu hyun saat jungso berbaik hati untuk mengambilkan ponselnya yang terjatuh beberapa saat yang lalu. Otaknya pun segera berputar cepat mencari berbagai alasan.

“i itu.. itu siwon. Ya siwon, oppa”

Yeoja itu memukul ringan bahu jungso. Membuat jungso tertawa pelan melihat tingkah bodoh adiknya jika sedang berbohong. Di elusnya pelan rambut ji yeon sebelum akhirnya berdiri.

“ya sudah, ini sudah larut. Tidurlah”

__

PRANG!

Keributan dari ruang tengah itu menyedot perhatian seisi rumah. Ji yeon segera berlari dan menemukan appanya yang mematung dan wajah sendu dari eommanya.

“eomma!!” teriaknya.

Ji yeon berjalan cepat menuruni anak tangga namun sebelah lengannya segera ditahan oleh jungso. Namja itu juga terdiam memperhatikan kedua orang tua mereka yang sepertinya tengah berada dalam sebuah masalah.

“oppa! Lepaskan!”

“tenanglah ji-ah, biarkan mereka memanggil kita. Baru kita boleh ikut campur”

Ji yeon terdiam mencerna setiap perkataan jungso. kakaknya benar, mungkin tidak seharusnya ia ikut campur jika eomma dan appanya memiliki sebuah masalah hingga mereka sendiri yang berniat menceritakannya padanya.

__

Malam itu jungso dan jiyeon duduk bersama kedua orang tuanya. Wajah lusuh appa dan eommanya seperti memberikan kesan negatif akan sesuatu yang akan mereka bicarakan saat ini.

“besok pagi, kita berangkat ke jepang” ucap tuan park.

Ji yeon dan jungso tersentak. Mendengar nada bicara appanya sepertinya ini akan serius. Mata ji yeon telah dipenuhi oleh cairan bening itu. segala pemikiran berkecamuk didalam hatinya. Hening. Suasana hening tercipta.

“Besok, kita semua akan berangkat menuju jepang. Bibi kalian terjatuh dan mengalami koma pagi ini”

__

Ji yeon dan keluarganya berjalan cepat menuju luar bandara. Wajah tegang tak dapat ia sembunyikan ketika mengetahui jika ternyata eomma siwon adalah sosok ‘bibi’ yang dibicarakan appanya.

“paman, bibi”

Namja yang sama seperti dua bulan lalu kembali menemui mereka. Namun tak ada basa-basi lagi kali ini. ia hanya mengambil beberapa koper bawaan mereka, menaruhnya menuju bagasi dan segera mengemudikan mobil.

Tak ada sapaan hangat seperti yang ji yeon rasakan ketika ia mendapatkan pesan dari namja itu. ji yeon terperangah, padahal ia telah berusaha untuk tersenyum. Sesuatu yang sulit sekali rasanya untuk dilakukan. Namun namja itu justru hanya menunjukkan wajah datarnya.

Setibanya dirumah sakit tuan dan nyonya park segera berlari menuju ruangan ICU, sedangkan jungso berlari menuju kamar mandi dan menyisakan ji yeon yang berjalan mencari ruangan bibinya. Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah yang cepat menuju ke arahnya.

“mengapa kau meninggalkanku?”

Ji yeon seketika menghangat saat namja itu berdiri disampingnya dan menanyakan hal yang Sebenarnya juga berputar didalam pikiran ji yeon. ‘ kenapa ia meninggalkan kyu hyun disana?’

Dipandanginya namja itu sekilas sebelum akhirnya tak kuasa untuk menundukkan kepalanya. Bayangan dua bulan lalu kembali melintas didalam benaknya setelah memperhatikan namja itu dan berhenti pada bibir tebalnya.

Kyu hyun mengerti. Semburat merah pada pipi ji yeon menjelaskan segalanya. Ia tersenyum sekilas memperhatikan wajah cantik yeoja itu dari samping. Perlahan melangkah lebih dekat menuju ji yeon.

“maafkan aku. Aku..”

“oh! siwon-ah!”

Ji yeon segera berjalan cepat ketika melihat siwon -sepupunya itu melintas pada lorong rumah sakit. Namja itu nampak menunduk lalu tersentak ketika mendengar gema suara ji yeon. Ia berusaha keras untuk tersenyum pada yeoja itu meskipun ji yeon tau itu bukanlah sebuah senyuman tulus darinya.

Ji yeon berbicara sebentar dengan namja itu hingga akhirnya namja itu kembali menunduk. Kyu hyun masih memperhatikan mereka. Dan satu hal yang membuat matanya tersentak adalah ketika ji yeon memeluk siwon erat didepan matanya. Seketika saja tangannya mengepal kuat menimbulkan urat biru keunguan disana.

__

Setelah memperhatikan keadaan eommanya bersama ji yeon dari luar ruangan, mereka berjalan menuju ruang tunggu yang juga dipenuhi oleh keluarga mereka lainnya. ji yeon berjalan dan duduk disamping siwon. Namja itu perlu diawasi mengingat keadaannya yang masih labil.

Kondisi eommanya belum dapat dipastikan hingga malam itu. dokter mengatakan jika hasil lab baru akan keluar beberapa hari lagi dan selama itu siwon harus berbesar hati hanya dapat melihat eommanya dari balik pintu kaca.

“kau harus makan” bujuk ji yeon. Tuan choi mengatakan jika namja itu belum memasukkan satu makananpun kedalam perutnya sejak semalam.

“aku tidak lapar”

“kumohon siwon-ah, jangan seperti ini” ji yeon menatap namja itu khawatir sedangkan siwon menatapnya dengan sebuah senyuman.

“aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir seperti itu” jelasnya.

“tentu saja aku menghawatirkanmu, kau belum mengisi perutmu bahkan dari semalam!”

Ji yeon menatap namja itu jengah,  bukannya tidak bosan untuk membujuk namja itu agar mau makan. Sebenarnya ia tidak akan seperduli itu jika saja siwon bukanlah anggota keluarganya.

“aku tidak lapar nona park” siwon mengelus ujung kepala ji yeon pelan namun segera ditepis oleh yeoja itu. ia mendengus pelan dan menatap siwon garang.

“terserahmu! Aku hanya ingin mengingatkan jika kau seperti ini maka sama saja dengan kau menyiksa eommamu. Kau fikir dia mau melihatmu seperti ini? bukan dengan cara seperti ini kau menghadapi masalah. Sebaliknya, justru kau harus sehat. Tunjukkan pada eommamu jika kau baik-baik saja dan akan selalu disisinya!”

Nafas ji yeon terputus setelah mengutarakan semua pikirannya. Jantungnya terasa kembang kempis  mengingatkan namja itu jika hal yang ia lakukan bukanlah hal yang baik.

__

Yeoja itu baru saja keluar dari ruang tunggu rumah sakit. Setelah terperangah dengan perkataannya akhirnya siwon menyerah dan memakan makanannya. Ji yeon berjalan menuju toilet. Ini sudah jam 3 pagi dan ia belum beristirahat sedikitpun sejak pertama menginjakkan kakinya di negara itu.

“sepertinya kau sangat mengkhawatirkannya”

Ji yeon terdiam mengelus dadanya ketika suara berat yang tiba-tiba itu berbicara padanya. Pupil matanya menangkap bayangan kyu hyun bersandar pada dinding dan melipat kedua tangannya. Namja itu berdiri didalam kegelapan koridor rumah sakit yang sudah tak berlampu.

“apa yang kau lakukan disana?”

“menunggu yeojaku”

DEG!

Jantung ji yeon kembali bekerja melewati batas ketika namja itu melontarkan sepenggal kalimat yang entah mengapa dapat membuatnya merasa membeku. Ji yeon menatap namja yang saat ini tengah memandanginya dengan seyuman kecil.

Kyu hyun tau, yeoja itu tak pernah bisa mendengar suatu pujian atau kata-kata romantis dari bibirnya. Buktinya hanya dengan dua penggal kalimat itu saja ji yeon terdiam. Tak mampu mengatakan apapun.

“kau kembali menginggalkanku”

Ucapnya datar. Ia memandangi ji yeon yang sepertinya sudah tersadar dan menatapnya dengan pandangan mata bersalah. Bagus, karena dari situ saja kyu hyun tau bagaimana isi perasaan yeoja itu terhadapnya.

“a aku..”

“mencemaskan sepupumu itu?” ji yeon mendongak dan menatap kyu hyun tak percaya.

“ya! Dia juga sepupumu bodoh!”

Kyu hyun tersenyum. Suasana tegang yang diciptakan oleh yeoja itu sendiri sepertinya sudah mulai menghilang. Bahkan ia telah berani menatap kyu hyun dan mengatakannya bodoh. ckck.

“anggap saja begitu. Lalu kita apa?”

Ji yeon terdiam. Benar, mereka apa? Apa sebutan yang pantas untuk mereka? Apa ada sepupu yang pernah berciuman? Atau,, adakah sepasang kekasih yang memiliki satu nenek? Jadi.. apa namanya hubungan yang tengah mereka jalani ini? bahkan.. tunggu! Mereka bukan sepasang kekasih. Kyu hyun tak pernah memintanya untuk menjadi kekasih namja itu.

“aku merindukanmu!”

Ji yeon kembali menatap namja yang tersenyum padanya. memikirkan perasaannya yang berdebar sangat kencang ketika namja itu memperlakukannya seperti ini, membuatnya lupa diri. kyu hyun menegakkan tubuhnya lalu dengan sigap menarik tangan ji yeon. Membawanya kedalam keremangan malam.

“kau tidak merindukanku?” sambungnya kemudian.

Sepertinya ji yeon memang harus kehilangan dunianya karena saat ini tubuhnya dengan baik menjawab pertanyaan namja itu. semburat merah pipinya menguar, memberikan kesan lebih cantik pada dirinya. Dan seulas senyum pada wajah kyu hyun.

“jawab aku” pinta namja itu lembut.

Kyu hyun mengalihkan sebelah tangannya pada pipi yeoja itu. mengelus rona merah itu perlahan. Namun sialnya tindakan itu justru membuat rona itu semakin tercetak jelas. Sebelah tangannya masih bertahan pada pinggang ji yeon. Memaksanya untuk tidak menjauhkan diri.

“kau merindukanku? Hmm?”

Sebuah senyum kemenangan terukir pada garis bibir kyuhyun ketika dengan gamblangnya ji yeon mengangguk dengan menundukkan kepalanya. Membuat rasa yang hampir dua bulan ia tahan terlepas dengan bebasnya.

Didekatinya yeoja itu perlahan. Menundukkan kepalanya karena memang perbedaan tinggi mereka yang cukup signifikan. Kyu hyun menyatukan kening mereka dan dapat merasakan nafas hangat ji yeon pada wajahnya. Memperhatikan wajah yeoja itu yang tegang dengan mata tertutup membuatnya semakin tidak dapat menahan diri.

Sebuah ciuman singkat diberikannya mengingat saat ini mereka tidak berada dalam keadaan yang tepat. Kyu hyun mendaratkan bibirnya cukup singkat dan tak sempat bermain disana. Namun sesuatu didalam dirinya terasa seperti meloncat tinggi mengingat ciuman pertamanya dengan yeoja yang sama dua bulan yang lalu.

“hhh~ ternyata ini sulit”

Gumamnya kemudian. Ia masih menyatukan keningnya pada ji yeon. Masih menutup mata dan bernafas dengan benar meskipun saat ini hatinya begitu tersiksa berada didekat yeoja itu.  Andaikan saja ini bukan rumah sakit dan mereka sedang tidak bersama anggota keluarga yang lain mungkin namja itu akan membuat bibi ji yeon bengkak. Karena sungguh ia selalu menginginkan bibir tipis itu lagi dan lagi.

Berbeda dengan ji yeon yang masih terperangah. Berjuta kupu-kupu seperti sedang terbang didalam perutnya. Menggelitik dan meminta untuk keluar. Ia bahagia. Ya ia tau itu. ia bahagia diperlakukan seperti ini oleh kyu hyun. tak masalah baginya mengenai ciuman pertamanya ataupun sikap namja itu yang mencium ji yeon semaunya. Jika pada akhirnya ia menikmati ini semua.

“wae?” tanya yeoja itu pelan.

“merindukanmu. Ternyata tidak semudah yang kufikirkan” balas kyu hyun.

Namja itu membuka matanya dan melakukan gerakan pelan agar ji yeon juga melakukan hal yang sama. Manik mata mereka beradu, bertemu pada satu titik hitam yang menghanyutkan. Ji yeon baru tersadar jika ternyata kyu hyun telah merebut hatinya semenjak malam itu. mata coklat hazel miliknya, seperti mengikat ji yeon dan membuatnya tak mampu untuk menyadari keberadaan pria lain disekitarnya.

“ottokhae? Ini baru dua bulan. Bagaimana kelabu hatiku jika tidak melihatmu berbulan-bulan lagi” ucaknya kemudian. Ji yeon masih menatap namja itu dalam, mendengarkan setiap perkataan yang mampu membuatnya terbang.

“hhh~” gusar kyu hyun kemudian. Ia menyandarkan kepalanya pada pundak ji yeon. Memaksa yeoja itu untuk mengerti bagaimana beratnya perasaan kyu hyun saat ini.

__

Satu minggu berada di rumah sakit membuat ji yeon terbiasa untuk tidak tertidur jika malam hari. Karena perasaan siwon yang masih labil membuat namja itu sering tidur sangat larut dan ji yeon harus terus memperhatikannya hingga ia benar-benar tertidur.

Apa yang dilakukan ji yeon setelahnya? Menemui kyu hyun tentu. Namja pemaksa itu selalu akan membawanya pergi menuju taman rumah sakit dan menghabiskan dua jam mereka bersama sebelum akhirnya kembali dan tertidur.

Dan jangan tanyakan sudah berapa banyak ciuman yang ji yeon terima karena namja itu tak pernah berhenti untuk melakukannya jika mereka sudah berdua.

“ngg”

Kyu hyun melepaskan tautannya pada bibir mungil ji yeon. Membuat mereka berdua terengah dan mengatur nafas mereka masing-masing. Kyu hyun menatap yeoja itu intens. Cengkraman kuat jemari ji yeon pada rambut belakangnya membuatnya sering lupa diri.

Ditutupnya kedua matanya sebentar lalu menarik nafas panjang sebelum akhirnya menyandarkan keningnya pada pundak ji yeon. Walau bagaimanapun ia harus berfikiran jernih mengingat keadaan mereka saat ini. kyu  hyun merasa ji yeon memukul lengannya pelan.

“kau ingin membunuhku, huh?” kesalnya.

Namja itu terkekeh pelan. Ia memang gila jika sudah berada didekat ji yeon. Selalu saja ia akan kehilangan dunianya dan dengan seketika menjelma menjadi namja kurang ajar. Kyu hyun menegakkan tubuhnya, menatap ji yeon lembut.

“mianhae, kau terlalu menggoda” jawabnya asal.

“dasar kau mesum!”

Mereka tertawa pelan sebelum kyu hyun kembali menenggelamkan wajahnya dipundak ji yeon. Memeluk pinggul yeoja itu dan membawanya semakin mendekat.

“haah~ kau benar-benar meracuniku” ujarnya frustasi.

“meracuni apa?”

“kau. wajahmu. Bibirmu. Senyummu dan otak bodohmu”

“yak!!”

Ji yeon memukul bahu namja yang saat ini kembali bergerak karena tertawa. Ji yeon meletakkan dahinya pada bahu kyu hyun. Menikmati waktu mereka yang singkat namun bermakna.

__

“nugu?”

“appa. Appa bilang hasil labnya sudah keluar”

“lalu?”

“aku rasa kita harus pulang”

Kyu hyun menggeram kasar. Setelah lebih dari seminggu hanya menghabiskan waktu dua jam bersama yeoja itu akhirnya malam ini ia berhasil membawa ji yeon kabur untuk menikmati makan malam berdua di salah satu restoran mewah tokyo.

Bahkan mereka sudah merencanakan perjalanan mereka menjelang pukul sepuluh malam nanti. Tapi berita tiba-tiba semua ini membuatnya harus membatalkan segala rencana mereka dan membawa ji yeon kembali ke rumah sakit .

Ji yeon menggenggam tangan namja itu lembut. Ia tau bagaimana perasaan kyu hyun karena ia juga merasakan hal yang sama. Ini.. kencan pertama mereka. Bisa dikatakan seperti itu.

“mungkin lain kali”

Ia tersenyum sekedar berkata bahwa dirinya tak apa-apa. Mengelus pelan punggung tangan kyu hyun agar namja itu mengerti bahwa keadaanlah yang memaksa mereka. Kyu hyun mendesah pelan sebelum akhirnya tersenyum kecil dan balas menggandeng jemari ji yeon. Membawanya menuju mobil.

__

Ji yeon berjalan cepat. Telefon dari appanya membuatnya harus segera sampai di ruang tunggu keluarga itu.

‘cepatlah, siwon membutuhkanmu’

‘dia berteriak seperti orang gila’

Perkataan appanya kembali terngiang dalam benak ji yeon. Bahkan secara tak sadar ia telah meninggalkan kyu hyun yang sedari tadi mencoba menyusulnya dengan langkah besarnya. Ji yeon menelisik seisi ruangan ketika baru saja sampai. Setiap orang seperti sedang berembuk dengan raut wajah yang masam.

“dimana siwon?”

Tanya ji yeon spontan. Kyu hyun hanya terdiam memperhatikan ekspresi yeoja itu. tak lama ia berjalan cepat menuju lorong rumah sakit setelah jungso memberitau keberadaan siwon. Ji yeon berjalan cepat meninggalkan kyu hyun dibelakangnya.

“siwon-ah” ji yeon berdiri tak jauh dari namja itu. namja yang seketika mendongak ketika mendengar namanya dipanggil itu segera berdiri dan berjalan cepat menuju ji yeon. Dan dengan cepat tangan kekarnya memeluk tubuh ji yeon dengan erat.

“ji yeon-ah, eomma..” suaranya parau dan ada isakan kecil disana. Membuat ji yeon yang awalnya merasa terkejut berubah diam. Dibalasnya pelukan siwon dan mengelus punggung namja itu pelan.

“ulljima. Aku disini”

__

Namja itu masih terisak dalam pelukan ji yeon, meskipun tubuhnya sudah tak bergetar sehebat sebelumnya. Ji yeon masih mengelus pelan punggung siwon saat namja itu tiba-tiba melonggarkan pelukannya.

“sudah merasa lebih baik?” ji yeon menatap namja itu lembut. Sedangkan siwon memperhatikan ji yeon dengan wajah yang begitu kusut namun pada akhirnya mengangguk.

“baiklah, sudah ingin bercerita?” lanjutnya.

Siwon diam, ji yeon juga terdiam. Yeoja itu masih setia menanti curahan hati siwon sementara namja itu sendiri terlihat masih menenangkan dirinya. Mereka duduk disalah satu koridor rumah sakit, menatap lurus kearah depan.

“ada pembengkakan pembuluh darah di otak eomma” tutur namja itu tiba-tiba. Ji yeon masih terdiam memperhatikan namja itu bercerita.

“karena gaya hidup eomma yang kurang baik dan benturan itu semakin memperparahnya” lanjut siwon. Ji yeon menggenggam tangan siwon erat. Menatapnya prihatin.

“lalu?”

“mereka bilang jalan satu-satunya hanyalah operasi”

“lalu apa yang kau tunggu?”

Siwon kembali menatap lurus kedepan, membuang tatapannya dari ji yeon dan membuat yeoja itu semakin tidak mengerti.

“kesempatannya sangat kecil. Hanya 30%” jawab siwon. “dan aku… sama sekali belum siap kehilangan eomma” sambungnya.

Ji yeon terdiam. Untuk sesaat ia tidak tau harus melakukan apa. Ia juga tidak dapat memikirkan apa yang harus ia ucapka pada siwon. Keadaannya memang sulit. Meskipun ji yeon menasihatinya sedemikian bijak tetap saja berbicara tidak semudah merasakan.

“begini, kau harus tau jika semua manusia pasti akan pergi. Bukankah kau mengerti akan itu?” namja itu mengangguk pelan.

“jika seandainya eommamu__”

“ini tidak semudah yang kau fikirkan yeon” potong siwon cepat. Ji yeon terdiam.

“memang, ini tidak semudah yang kufikirkan. Aku.. aku juga tidak pernah menghadapi persoalan seperti ini tapi, apa dengan fikiran rumitmu itu kau dapat membantu eommamu?”

“kenapa tidak kau berikan ia kesempatan jika memang hanya itu satu-satunya jalan bagi eommamu untuk sembuh? Jika kau menahannya seperti ini, bukannya mungkin eommamu dalam keadaan selalu baik. Kau hanya akan menyiksanya dengan berbagai obat dan alat yang terpasang pada tubuhnya.”

“jangan mengulur waktu siwon-ah. Yang terpenting adalah kau telah berusaha  sejauh ini dan jika berakhir tidak baik maka kau harus bertanya pada tuhan. Karena semua ini ada dalam catatan tuhan”

Siwon terdiam. Menggenggam tangan ji yeon semakin keras dan terus saja mengeluarkan cairan bening itu dari matanya. Ji yeon tau ini pasti berat, tapi tak ada lagi yang bisa ia katakan jika sudah seperti ini keadaannya.

“yeon,, ini terasa sangat berat” lirihnya pelan.

Namun tiba-tiba siwon memeluknya erat sebelum akhirnya mencium sebelah pipi ji yeon dan berlalu pergi. Meninggalkan sebuah kepalan keras ditangan seorang namja lainnya disudut ruangan.

“aku akan bicarakan ini lagi dengan appa”

__

“dari mana saja kau?”

Ji yeon kembali tersentak menemukan kyu hyun ditempat yang sama saat pertama kali berada di rumah sakit itu.

“apa yang kau lakukan disana?” tanya ji yeon pelan.

“aku bertanya darimana saja kau?” suara itu meninggi. Membuat ji yeon terdiam sesaat.

“aku, baru saja..”

“menenangkan sepupumu?” sambung kyu hyun sinis. Ji yeon terpaku. Oh, jangan katakan jika.. kyu hyun tengah cemburu. Tapi,, siwon itu sepupu mereka. Picisan sekali.

“jangan kekanakan kyu, aku menenangkan sepupumu!” tekan ji yeon.

“dengan membiarkannya mencium pipimu?” ji yeon membesarkan kedua matanya. Yang ia tau, kyu hyun telah melihat semua yang ia lakukan bersama siwon.

“i itu..”

“aku tidak suka jika kau disentuh namja lain” kyu hyun maju dan mencengkram lengan ji yeon cukup kuat. Memberikan tatapan kesalnya pada yeoja itu.

“jangan seperti ini kyu. Siwon itu sepupumu. Cobalah untuk berada dalam posisinya dan pahami dia”

“aku mengerti!” pekiknya “tapi aku tak ingin milikku disentuh oleh siapapun” tegasnya kembali.

“kyu..”

“park ji yeon, kau milikku. Dan jangan pernah memberikan dirimu pada siapapun!”

Ji yeon terdiam. Sejujurnya dia sangat mengerti bagaimana perasaan kyu hyun saat melihat kejadian seperti itu. Tapi itu bukan keinginannya. Bukan juga rencana yang ia susun. Apa karena selama ini siwon selalu ia perlakukan spesial? Apa itu alasan kyu hyun selalu bersikap seperti ini jika ia sedang bersama siwon?

Ji yeon menghela nafasnya ringan. Ia tau, keadaan mereka yang dulu tidak pernah baik sementara respon ji yeon terhadap siwon yang selalu berbeda membuat keadaan semakin sulit. Bukannnya anggota keluarga mereka tidak tau bagaimana spesialnya siwon dimata yeoja itu dulu. Tapi itu dulu. Bukankah sudah ia tegaskan jika saat ini yang tersisa hanya rasa kagum? Sedangkan hatinya sudah seperti ruangan hampa karena telah dibawa pergi oleh kyu hyun.

“dengarkan aku..” ditangkupkannya kedua tangannya pada wajah namja itu.

“apapun yang kau fikirkan mengenai aku dan siwon itu tidaklah benar. Maafkan aku, mungkin memang benar jika itu terlalu berlebihan, tapi bukan aku yang menginginkannya”

Ditatapnya sebentar kedua bola mata hazel itu. dan titik coklat berbinar itu kini mulai redup, seperti emosi dan debaran nafas kyu hyun yang juga mulai mereda. Ji yeon tersenyum sesaat, barusaha menetralkan perasaan kyu hyun.

“aku, dan siwon tidak__”

“kau pernah mencintainya dulu” potong namja itu cepat. Disentuhnya salah satu telapak tangan ji yeon yang bersarang di pipinya lalu menunduk. Ji yeon seperti tersadar jika namja itu begitu takut kehilangan dirinya. Bukankah begitu?

Mengingat ia tak memiliki perasaan apapun terhadap siwon selain cinta monyet sesaat karena memang namja itu begitu mengagumkan untuk namja kecil sepertinya saat itu. tapi, ayolah. Ji yeon tak pernah merasakan rasa yang hingga saat ini masih diberikan kyu hyun padanya.

Terlalu munafik bukan jika kau tidak mengatakannya? Ya, mungkin ji yeon juga akan melakukan hal yang sama jika ahra bukanlah kakak kandung kyu hyun. karena namja itu begitu dekat dengan ahra. Tapi kembali lagi, ahra adalah kakak kandungnya dan ji yeon tak berhak melarang mereka. Ji yeon tersenyum lalu berusaha menegakkan kepala kyu hyun. menatap matanya lembut.

“apa yang kau mengerti tentang cinta saat umurmu masih tiga belas tahun?” tutur ji yeon. Saat itu siwon masih tiga belas tahun dan ji yeon juga masih gadis belia yang bertualang untuk mencari jati diri.

“tapi__”

“kau hanya perlu percaya padaku. Hanya itu” potong ji yeon. “dan selebihnya, kau bisa serahkan padaku. Bagaimana aku menjaga kepercayaan yang kau berikan dan kau,, juga harus melakukan hal yang sama”

Kyu hyun menatap kedua manik mata ji yeon. Berusaha memadatkan berbagai perkataan yeoja itu kedalam memorinya. Itu janji ji yeon, janji mereka lebih tepatnya. Ya, ia hanya perlu percaya. Bukankah ji yeon yang memintanya?

Namja itu seharusnya tau, ji yeon tak akan pernah menghianatinya. Lihatlah! Bahkan mata bulat berbinar milik yeoja itu hanya akan terpaku padanya. Kyu hyun tersenyum  tulus. Menyadari kebodohannya melakukan hal kekanakan semacam ini. Tapi, hey cemburu itu hal lumrah bagi mereka yang mencinta. Dipandanginya wajah  ji yeon sebentar sebelum akhirnya mencium telapak tangan yeoja itu lembut.

“arraseo. Mianhae” ujarnya kemudian. Sebuah pelukan hangat ia berikan untuk yeoja yang baru saja semakin memadati hatinya yang telah terasa sempit. Ani! Lebih tepatnya tak ada lagi ruang saat ini. Karena tepat disaat yeoja itu memintanya untuk percaya. Maka ruang dihati kyu hyun telah sesak padat dengan nama ji yeon. Tak ada hal lain. Hanya park ji yeon.

-Epilog-

Tidak semua teori mengenai cinta benar. Ya, tidak benar karena kita percaya berbagai spekulasi dari diri kita sendiri. Untuk apa mempercayai orang lain jika kau mengalami hal yang berbeda jauh. Ciptakan saja teori hidupmu sendiri. Karena cinta bukan mengenai teori, tapi cinta satu satunya hanyalah mengenai hati.

Lalu, bagaimana dengan cinta buta? Ya, cinta buta. Seperti yang setiap orang alami, perjalanan hidup menciptakan teori tersendiri. Maka jika kau percaya, berarti kau pernah mengalaminya. Short and simple.

Ji yeon dan kyu hyun hanyalah satu dari segelintir orang yang tengah berusaha keras untuk tidak mempercayai teori cinta. Mencoba terlepas dari keterikatan dunia yang mengekang mereka. Sempit. Gelap. Seperti tak ada tempat untuk orang seperti mereka. Benarkah? Atau mereka tengah mengalami cinta buta? Ya, mereka tengah berusaha membutakan mata, hati dan terkadang pendengaran mereka hanya demi sebuah mimpi yang mereka bangun bersama. Terdengar egois memang, ditengah jutaan lawan jenis yang bertebaran didunia justru mereka memilih untuk tetap mempertahankan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan.

Salahkah mereka? Entahlah, setiap otak manusia diciptakan dengan berbagai macam spekulasi. Dan cinta adalah salah satu tembok yang sulit diruntuhkan hanya dengan spekulasi. Biarlah mereka menjadi egois. Tidak bolehkah mereka bahagia walaupun harus menjadi egois ditengah orang-orang yang berwajah munafik?

Mereka egois. Ya, selamanya akan selalu seperti itu. Tak apa bagi mereka jika memang berpasang mata diluar sana menilai salah. Karena kembali lagi, hidup akan menciptakan teori mereka sendiri.

-FIN-

With love, park ji yeon.

10 thoughts on “IMPOSSIBLE LOVE (2/2)

  1. Ha Kyung SparKyu says:

    WEeee critanYa SnGaaD m’NariKk..!!
    ChInGUu aP nGaaK m’SlAaH klOo OrtU Kyu-YeoN amPee TwU HuB_GaN mRekAa..???kN s’Pu2aN..????
    ThOr Ff Yg In ad s’QUelnYaKan..??
    AaaaHh p’NaSaarAaN MaUu jdi gmNa Hub_GaN cInTa s’Pu2aN..???(RumIitt)

    HWaitiNg ChiNgUu..!!!:D

  2. Dwi_h@E says:

    itu mah mrk pacaran
    Kaya.a siwon juga suka ma ji yeon

    Bikin sequel dong
    Gimana hubungan mrk kesana nya, di restui ga ?

  3. Novi says:

    ‘park jiyeon kw itw milikku.’ huaaa…cho kyu qmu protektif n cemburuan skali,hahahaha….. Tp msh bingung sih bgmn kelanjutn imposible love mereka….. Yah setidaknya merka msh memperthnkn cinta mrk…kkk

  4. bunnydiamond says:

    Thorr…. Gantuunngg,,,, penasaran….
    Ada sequelnya kah???
    Semangatt (ง’̀⌣’́)ง

  5. @uliezgaem says:

    ngegantung,,, trs sebenarnya perasaan siwon ke jiyeon itu seperti apa….

    ok next read for squel😉

  6. puput says:

    Kalo ke sepupu masih boleh kan y?jd ga impossible amat untuk jadi sama spupu..
    *lgsg ngarep pny spu2 ky kyu..😀

  7. iyin88 says:

    Ji yeon emng pecinta sppu ya, jd gni deh.
    Tp sbnernya gak impossible2 bngt kn bukn sppu sdarah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s