Love Is…

love is...

Judul         : Love Is…

Author      : HyukgumSmile

Genre        : romance, life journey

Rating       : PG-17

Main Cast  : Cho kyu hyun, Park ji Yeon

 

Harapku pernah berkata untuk sekali saja menilai keseluruhan hidup ini bukan hanya dari segi sederhana.

Sederhana.

Sebegitu mudahkah hidup ini untuk dikatakan sederhana? Sesederhana apa hidup ini hingga dinilai dengan harga sederhana. Lalu, sesederhana apa nalurimu untuk menerima seluruh kesederhanaan hidup?

Aku tak biasa. Meski hanya dengan sebingkai kesan bahagia. Sederhana, tak pernah menyentuh relung hidupku.

Aku berkecukupan. Lebih dari orang-orang yang perlu menghabiskan waktu untuk banting tulang mencari uang. Aku cukup. Punya segalanya. Dan tak mungkin sederhana menjangkauku.

Awalnya, terkesan konyol ketika seorang berkata padaku “kau hanya perlu kesederhanaan untuk bahagia” dan sumpah! Setelahnya aku hanya tertawa besar. Menertawakan pikiran kolotnya atas konsep kehidupan yang terlalu.. ya, sederhana.

Aku tak tau mengapa, hanya konsep hidup yang sederhana tak pernah terlintas dalam benakku. Tak sesederhana itu untuk menerima segala cobaaan dalam hidup. Memaknainya dalam bentuk yang lebih positif sementara tak seluruh ujian yang diberikan tuhan berakhir dengan nilai keberhasilan seratus persen.

Oh, maksudku,, sederhana itu tak ada! Hanya ilusi dalam bayangan hidup semata. Tak lebih dari kepekaan mereka yang merasa perlu saling menghargai hingga tak perlu merasa tinggi dengan segala konsep sederhana.

Sederhana itu hanya,, bualan lama.

Namun entahlah, aku tak mengerti ketika sore itu, saat hyuk jae menghubungiku untuk segera datang, aku menemukan’nya’.

Sosok sederhana dalam konteks yang tak biasa. Dia hanya duduk. Di sudut bagian taman yang sepi bersama seekor anjing cihuahua yang lucu.

Tak ada yang berbeda. Dia tak ubahnya remaja lain yang dimasa pubertasnya tengah menjajakan diri dengan duduk manis dan membaca sebuah buku putih ditepian taman kota.

Awalnya. Pikirku begitu.

Aku tersenyum. Buliran sinar putih yang terpancar dari senyumannya meracuniku. Membuatku setidaknya harus mendatangi taman itu setiap sore pada jam yang sama untuk menemukannya membaca sebuah buka yang sama.

Aku terkesima. Ia selalu tersenyum dalam bacaannya. Terkadang, sebuah earphone menempel kuat pada indra pendengarnya untuk menambah suasana berbeda.

Aku terkesima. Sekali lagi, untuk yang kesekian kalinya.

Semenjak saat itu waktu sore-ku selalu memiliki jadwal ketat yang -dengan serius- mulai ku atur. Tak ada yang boleh menggangguku ketika jam menunjukkan dentingan lima.

Tak ada lagi permainan basket yang berlebihan. Dan ketika ia tersenyum, tak ada lagi arogansi yang berarti.

Aku mulai terbiasa. Mengikutinya dalam setiap ritme himpitan dada yang mulai menggema. Menyaksikannya membaca dengan seulas senyuman penuh permata yang berkilauan. Dan pada akhirnya aku terjebak.

Masuk dalam lingkaran hitam pesonanya tanpa tau jalan untuk kembali.

Memandanginya menjadi sesuatu yang harus  kulakukan jika esok, aku tak ingin kalang-kabut karena alasan tak jelas. Menatap senyumannya juga seperti menjadi sebuah kebutuhan bagi setiap gerak ragaku. Dan menunggunya berbicara, adalah keinginanku.

Lama aku hanya berdiam diri. menunggu saat yang tepat untuk sekedar berkata “hai, aku cho kyu hyun”. tapi tidak. Nyatanya hal seperti itu tak pernah benar-benar kulakukan.

Sebulan setelahnya, aku menggila. Keinginan untuk menjadikannya sesuatu yang special terus menghantuiku. Membayangi otak kecilku untuk terus mendatanginya di setiap sore yang cerah.

Lalu hari itu, kuputuskan untuk benar-benar mendatanginya.

Mulanya terasa wajar. Tak ada yang janggal ketika aku melangkah perlahan mendekatinya.  Cihuahua putih itu masih bersamanya. Menggulung manja dalam dekapannya.

Namun aneh, seketika beberapa langkahku menjadi sedikit lebih lambat,, semakin melambat dan pada akhirnya aku terhenti. Aku tertohok. Menatap padanya tak percaya.

Buku itu.. bukan novel, bukan pula majalah remaja. Tapi buku itu, adalah buku kosong dengan tulisan braile.

 

Lama setelahnya aku mengurung diri. mencoba untuk paham kenyataan yang menyelimuti seluruh kesadaranku dengan rumit. Aku terdiam. godam besar memukul kepalaku. Meninggalkan sebuah lubang bernama kekecewaan.

Setelah seminggu berlalu, aku kembali melewati taman kota. Tak berharap banyak ketika akhirnya mataku kembali menemukannya tengah membaca ditempat yang sama. Dan kali ini, buku yang berbeda.

Aku terdiam. cukup paham ketika jantungku berisi gedebum hasil banyak rasa yang berbaur menjadi satu. Aku terdiam. dan baru kusadari, selama ini, jemarinya terus bergerak untuk membaca susunan huruf itu.

Baru kusadari.

Sore itu akhirnya kuputuskan untuk menungguinya hingga pulang. Menentang segala perlakuan yang selama ini selalu kulakukan.

Pulang sebelum ia terlebih dahulu melakukannya.

Aku hanya takut, jika saja aku menatap punggungnya yang menjauh apa yang akan kulakukan nanti. Namun aku baru sadar jika apapun yang akan kulakukan nanti, aku perlu untuk melihatnya pulang.

Dan sore itu, ia benar-benar pulang. Didepan mataku, berjalan dengan sebuah tongkat yang selama ini selalu ia letakkan dibalik tas kecilnya dan dengan tuntunan seekor anjing.

Aku melangkah. Entah mengapa merasa perlu untuk mengikutinya. Berjalan pelan menjadi pilihanku. Berada hanya lima meter dari punggung indahnya.

Kemudian aku terdiam. tiba-tiba ia berhenti lalu menoleh menuju sekitar. Kuikuti arah pandangnya cepat, namun aku tak menemukan apapun.

Setelahnya, ia kembali berjalan. Namun beberapa langkah setelah itu, ia kembali berhenti. “kau,, datang?” ucapnya entah kepada siapa.

Aku bergidik. Aku? Apa dia berbicara padaku? Aku sempat menoleh dan tak menemukan siapapun disana. Lalu kuberanikan diri untuk melangkan maju dan berdiri hanya satu meter dibelakangnya.

“kau,, berbicara padaku?” tanyaku ragu.

Kemudian ia berputar pelan. Lalu sejurus arah kami yang telah menyatu, ia tersenyum dengan tulus. Senyuman pertamanya untukku. Dan debaran itu, menghujam jantungku dengan keras.

Dia terlihat mengangguk “kenapa kau datang?” tanyanya kemudian.

Aku mengerut tak mengerti. ‘kenapa aku datang?’ aku datang karena aku ingin. Hanya karena aku..

Tunggu! Dia bertanya tentang.. aku melotot tak percaya “selama ini kau..”

Dan dia kembali mengangguk. “bada memberitauku” ujarnya.

Aku kembali merasa tak mengerti. Kemudian ia menaikkan tali kulit yang melingkari pergelangan tangannya dan membiarkan cihuahua dibawah sana menyalakku dengan ramah. Aku terkesiap, kemudian tersenyum ramah.

“hai bada. Benar kau mengenaliku?” tanyaku menatap arah bawah.

Dia menyalak. Menjulurkan lidahnya antusias “sepertinya bada menyukaimu” sambungnya.

Aku mendongak. Kemudian menemukan senyuman itu kembali terukir darinya
“bagaimana bisa?” ajuku yang memang ingin berbicara lebih lama.

“entahlah, dia selalu berbeda ketika kau ada”

Dan aku kembali tersenyum “kau…”

Dia mengangguk “orang-orang sepertiku memang harus mengetahui segala hal dari lingkungan sekitar. Kami tak dapat melihat, bukan?”

Ia masih tersenyum. Dan kemudian, aku menyadari banyak hal dengan cepat.

“bada anjing betina. Kau pasti tampan, karena itu dia menyukaimu” ujarnya kembali.

Senyumku semakin merekah bebas. “benarkah?” ujarku menatap cihuahua mungil yang kembali menyalak itu.

“apa rumahmu disekitar taman?”

Aku mendongak, menatapnya dalam satu keteguhan mata. Tunggu! Jika dia bertanya mengenai rumah, barang jelas dia akan bertanya mengapa aku sering datang. Detik berikutnya aku berfikir cukup keras.

“rumahku, tidak terlalu dekat. Hanya aku lebih memilih untuk bermain basket bersama teman-teman disekitar taman”

Gadis itu mengangguk. “kau selalu membaca disetiap sore?” tanyaku balik.

Dan dia mengangguk dalam kelucuan yang sempurna “aku senang membaca” ujarnya.

Lalu kami terdiam. tenggelam dalam pemikiran masing-masing hingga akhirnya kuputuskan untuk menanyai rumahnya.

“rumahku di bungseok. Dua kompleks dari sini. Aku baru akan pulang ketika tiba-tiba bada menyalak bersemangat setelah hampir seminggu kau tak datang” jawabnya.

Aku terdiam. oke, dia mengetahui keberadaanku selama ini. satu dari beribu kenyataan yang mengalirkan ribuan listrik kedalam ulu hatiku.

Aku kemudian tersenyum. “ada masalah kecil. Jadi, boleh aku mengantarkanmu pulang? Rumahku satu kompleks setelah bungseok”

Dan sore itu kututup dengan kebohongan besar mengenai letak rumah yang seharusnya berbalik arah dan akan membutuhkan banyak tenanga untuk mengantarkannya.

Namun aku menurut saja. Naluri mengiringku menuju titik dimana aku terlalu sulit untuk membedakan hitam dan putih. Segalanya berpendar dalam gerai warna abu-abu yang menyilaukan.

Aku terdiam. dalam hening kufikirkan betapa beban moral menyukai gadis sepertinya akan menghantui hidupku. Namun hati kecilku terasa terketuk halus. Membuatku bergeming dari kenyataan dunia yang menusuk permukaan kulit.

Dan setelahnya, semua orang harus tau, jika sederhana itu memang ada.

Sesederhana senyuman miliknya disore hari. Sapaan hangat yang mengiringku pada pertemananku bersamanya. Dan sesederhana kami saling mengenal didunia yang pendar cahanyanya amat sangat berbeda.

Dia hanya mengenal hitam. Sementara duniaku penuh dengan jutaan warna.

Namun sekali lagi, segalanya terlalu sederhana ketika pendar dunia kami yang berbeda, aku jadikan perpaduan yang indah. Membentuk pendar lain yang lebih bercahaya. Lebih indah. Dan lebih bermakna.

Percayalah, hidup itu sederhana.

Sesederhana kau memaknai cinta, dan bahagia.

“namaku cho kyu hyun. dan kau?”

“aku ji yeon. Park ji yeon”

-FIN-

Sebisa mungkin tolong tinggalkan jejak ya^^

With love, Park ji yeon.

6 thoughts on “Love Is…

  1. marly says:

    Waaahh so sweeetttt..^^
    Jd ji yeon buta yah..kasiaan😦 tapi si kyu ternyata diam2 suka merhatiin jiyeon..🙂 walaupun dia jg ga tau klo jiyeon buta awalnya…
    Syukurlah mereka akhirnya berkenalan..hehehehee \(`▽`)/ ternyata bada jg suka sama kyuhyun..hahahahaa..

    Haii.. Salam kenal. Sbnrnya semalam sih aku sempat berkunjung di blog sini.. aku langsung baca ff yg judul ny Supposition sama sequel ny..trus aku baru comment pas di sequelnya itu..signal aku lelet banget soalnya makanya skrg balik lagi buat bongkar2 disini..gpp kaaann..hehee, sekali lagi salam kenal yaaaaahhhh🙂

  2. HyukgumFiction says:

    salam kenal juga^^ gapapa kok. selama pengunjung blog ini saling mengharai aku gak terlalu masalah sama komentar atau apapun itu. tapi makasih ya udah mau ninggalin jejak:)
    iya, gapapa. memang blog ini fungsinya buat dibongkar-bongkar😀 semoga isinya gak mengecewakan ya^^

  3. Nova susmala says:

    Huwaaaaa..
    Sweet, ceritanya sweet..
    Eh, annyeooong, reader baru, nova disini..
    Salam kenal..
    Sblumnya ud ninggalin jejak kok..
    Eheheee, cerita kyk gini nih yg mgkn perlu banyak sy baca..
    Bner2 ngerefreshin otak, stlh brktat dgn tugas akhir yg tk slesai2..#curcol ahahahaaaa.
    Author fightiiing..!!

  4. Novi says:

    Cinta itw mang sederhana…haaaa so sweet….aq suka ff ini….

  5. setia says:

    ada kata special yg tadi aku bc. mnrtku yg seharusnya spesial. klo pun mau dg kata yg sebenarnya di cetak miring.
    semoga saran ku diterima.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s