Supposition Sequel

 

Judul         : Supposition sequel

Author      : HyukgumSmile

Genre        : romance, married life

Rating       : PG-17

Main Cast  : cho kyu hyun, shin je young

Other Cast : shin dong hee, lee donghae, song victoria etc

Disclaimer : “Kita batalkan pernikahan ini. aku setuju”

 

Ketika logika bercampur emosi hati meraup segala fikiran dan duniaku, membahagiakanmu adalah satu opsi tak terbantahkan yang menjadi bukti samar diantara hubungan kita..

Tapi.. bagaimana dengan bayangan semu yang datang menghampiri? Mengusik untuk perlahan menipiskan benang penghubung dan terus mengikis bagaikan ujung sebuah pedang..

Dapatkan kita bertahan??

 

-Author POV-

Pagi itu suasana rumah terasa sedikit ricuh. Dua orang wanita paruh baya tampak tengah sibuk mempersiapkan beberapa makanan ‘berat’ untuk menyambut tamu agung mereka. Berbeda dengan eommanya, je yeoung lebih memilik berada di kamar. Duduk manis didepan sebuah cermin besar dan sesekali menambah tebal bedak di ujung pipinya.

Bunyi memekakkan telinga yang sebenarnya sangat ia tunggu pun akhirnya terdengar. Suara deru mobil yang seketika berhenti didepan halaman rumahnya dan nyanyian merdu eommanya.

“sayang, kyu hyun datang!!”

 

__

“sudah lama?” yeoja itu baru saja membuka pintu rumah dan menemukan kyu hyun tengah bersandar pada pintu audi hitamnya. Manik mata yeoja itu langsung tertuju pada senyum polos milik namja itu. je young dapat merasakan segarnya pagi jika selalu ditemani kyu hyun.

Namja itu menggelengkan kepalanya sekali, lalu menegakkan posisi tubuhnya. Dan seperti sebuah hipnotis, senyuman namja itu seperti memaksa je young untuk melangkah mendekat.

“selamat pagi nona shin” kyu hyun memajukan selangkah jejaknya sebelum mengamit pinggang je young dan mengecup pipinya sekilas. “kau cantik hari ini” sambungnya kemudian.

Je young hanya terdiam. Sejenak merasakan hatinya meronta-ronta ingin keluar dan sedetik kemudian ia sadar jika sebentar lagi ia akan mengalami gagal jantung sesaat. Kyu hyun mengamit jemari yeoja itu dan menuntunnya untuk memasuki mobil. Seperti mengerti jika je young tak akan mampu melakukan apapun untuk beberapa saat, beberapa saat lagi dan beberapa saat seterusnya.

 

__

“kau terlihat bersemangat”

“mm. Tentu saja!”

Mereka saat ini tengah berada didalam mobil. Membelah jalanan kota seoul menuju ke suatu tempat. je young tersenyum girang, mengingat kenyataan jika ia akan segera bertemu dengan oppa tercintanya.

“aku penasaran bagaimana wajah oppamu” tukas kyuhyun. Namja itu nampak serius dengan kemudinya meskipun sebenarnya ia tetap memperhatikan setiap gerak-gerik je young.

“kau pernah melihatnya, dulu” jawab yeoja itu.

“ne, dulu. Saat aku berumur 13 tahun. apa yang aku tau saat itu”

“kau tau banyak hal. Kecuali aku” ujar je young skeptis. Ya, memang sudah selama itu mereka tinggal berdampingan. Hanya saja kyu hyun baru mengenal je young setelah mereka duduk di kelas yang sama saat sekolah menengah.

“aku kan sudah minta maaf untuk yang satu itu” kyu hyun manatap je young bingung.

“dan aku juga sudah menerima maafmu untuk yang satu itu” je young membung muka. Memilih untuk menatap kaca jendela jika kyu hyun sudah berinisiatif untuk menatap manik matanya.

“lalu apa masalahmu je?”

“he? Apa? Aku tidak mempermasalahkan apa-apa”

Kyu hyun menghembuskan nafas beratnya. Mendesah gusar meskipun sebuah senyuman terukir pada bibirnya. Yeoja itu, masih saja kekanakan walau terkadang beberapa kali sempat bersikap sangat bijak.

Kyu hyun diam. Lebih memilih untuk mengalah daripada mengambil resiko membuat kepala yeoja itu kembali menimbulkan rasa sakit yang kuat. Mengingat ia baru saja meninggalkan rumah sakit tiga bulan yang lalu.

Kyu hyun menatap jemarinya diam. Seketika lengkungan manis itu kembali menghiasi wajahnya ketika memperhatikan benda bulat berkilau pada jemari tangannya. Ya, mereka sudah bertunangan dua bulan yang lalu. dan berencana akan menikah dua bulan kedepan. Untuk itulah, kakak laki-laki je young menyempatkan diri untuk pulang demi hari bahagia adik tercintanya itu.

“berhenti menatap kaca je” ujar kyu hyun datar. Namun entah memang kesal atau hanya sedang mencari sebuah perhatiaan, yeoja itu justru semakin terpaku pada kaca jendela mobil meskipun mobil itu telah berhenti di pelataran parkir bandara.

Je yeong kesal. Namja itu hanya mengatakan satu kalimat tak berarti. Dan lebih kesal lagi ketika je young mendengar suara pintu yang terbuka kemudian tertutup kembali. ‘ck, namja brengsek’ umpatnya dalam hati. Setidaknya bisakah ia membujuk je young terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar, bukan?

Je young terdiam. Sebuah bayangan melintas didepan kaca jendela. Membuat lamunannya yang terasa jauh memudar begitu saja. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum pintu mobil itu terbuka.

“tidak bisakah kau membuat oppamu menunggu lebih lama?”

Dengan satu hentakan je young sadar, buah fikirannya terlalu jauh menilik ‘namja brengsek’ itu saat ini berada didepannya. Membukakannya pintu dan menunduk. Kyu hyun mengamit jemari je young lembut, memaksanya untuk segera keluar dari persembunyian maya-nya.

“oppamu di pintu berapa?” tanyanya kemudian.

Je young kembali mengerjap. Untuk beberapa detik sebelumnya, je young merasa kyu hyun benar-benar brengsek. Bertindak sesuka hatinya kemudian berkata semaunya. Namun anehnya, je young tak pernah keberatan untuk yang satu itu. dan untuk detik berikutnya,entah mengapa ia merasa harus bersyukur memiliki kyu hyun disampingnya.

“je? Ayolah, jangan terlalu larut dalam pesonaku”

Dan dalam beberapa detik berikutnya, je young menyesali perbuatannya. Tak seharusnya ia memikirkan namja itu jika pada akhirnya hanya menimbulkan sebuah seringai mengerikan sekaligus menjijikkan dari wajahnya.

 

__

“jadi gadis kecil ini akan menikah dua bulan lagi?”

Seorang namja tampak pura-pura terkejut. Membesarkan kedua bola matanya dengan lucu lalu menarik kepala je young menuju dadanya. Diacaknya rambut je young pelan sebelum kembali bergumam “kau belum cukup umur” hardiknya.

Semua orang yang berada didalam ruangan itu tertawa kencang. Kehadiran namja itu terlihat semakin menghangatkan suasana makan malam dua keluarga itu. kyu hyun tampak tersenyum ketika je young memberengut manja pada oppanya itu. mengerucutkan kedua bibirnya namun justru membuatnya terlihat semakin cantik.

“mereka memang harus segera dinikahkan” sambung eomma je young. “itu saja kami masih berbaik hati” shindong terlihat sedikit bingung dengan perkataan eommanya.

“jika saja kau melihat apa yang mereka lakukan, mungkin kau akan langsung menikahkan mereka hari itu juga shindong-ah” sambung nyonya cho.

Je young tampak menundukkan kepalanya. Mengingat kejadian tiga bulan silam membuatnya benar-benar malu. belum lagi tatapan shindong yang menatapnya tak percaya. Kyu hyun terkesiap ketika justru tatapan oppa satu-satunya je young itu beralih padanya.

“jadi, apa yang kau lakukan pada adikku, adik ipar?” tanya shindong dengan wajah yang –semua orang tau- ia buat seolah-olah marah. Namun entah mengapa perasaan hangat justru mengalir dalam hati kyu hyun ketika panggilan ‘adik ipar’ itu ia dengar langsung dari mulut shindong.

“ng.. itu,, aku”

“mereka berciuman” kyu hyun dan je young sontak menoleh pada seseorang yang baru saja datang. Seseorang itu tampak masuk dengan santai lalu membungkuk pada semua orang “mian ahjussi, ajumma aku terlambat” seseorang yang baru saja tersenyum ramah itu segera berjalan menuju meja makan. Mengambil tempat duduk disamping kyu hyun, berhadapan dengan shindong.

“kau tau hyung, bahkan namja yang kau panggil adik ipar ini memarahi dan mengatakan jika aku mengganggu mereka saat itu” kyu hyun dan je young masih menatap namja yang –sebenarnya- tak begitu perduli dengan tatapan tajam mereka. Namja itu justru semakin memajukan tubuhnya dan memasang tampang seserius mungkin.

“mengganggu?”tanya shindong bingung.

“ne, saat itu masih pagi dan mereka dengan seenak hati mereka berciuman dikamar rumah sakit” je young tersentak begitu pula dengan kyu hyun “dan yang lebih parahnya lagi,, mereka hanya berdua disana”

“LEE DONG HAE!!”

 

__

Je young masih berdiri diatas balkon kamarnya. Merasakan hembusan angin malam yang menggelitik pipi. Membiarkan mereka menerbangkan beberapa beberapa helai rambut hitam legamnya mengudara.

Je young terdiam. Fikirannya kembali melayang pada makan malam hangat-menyenangkan sekaligus memalukan itu. bukan. Bukan tindakan bodoh lee dong hae itu yang ia fikirkan. Tapi, perkataan oppanya yang hingga saat ini masih mengusik bagian terkecil dari otak berfikirnya. ‘belum cukup umur’. Apa benar?

“apa yang kau fikirkan?”

Ji yeon terkesiap ketika sepasang tangan tengah merangkul bahunya erat membawa yeoja itu dalam pelukan hangat seorang cho kyu hyun. je yeong terdiam. Berada dalam pelukan namja itu memang salah satu impian besarnya selama ini. mengingat bagaimana ia tersiksa dengan segala perlakuan kyu hyun terhadapnya dulu, kejadian malam ini adalah apa yang selalu berputar di otaknya ketika melihat kyu hyun juga merangkul manis yeoja itu, song victoria.

“bukan apa-apa” je young tersenyum sebentar sebelum sebelah tangannya menyentuh lengan kyu hyu yang melingkari bahunya.

“benarkah?”

“hmm”

“baiklah, kalau begitu. Aku hanya ingin berpamitan” ujar kyu hyun pelan. Namja itu memandang lurus hal yang saat ini juga dipandangi oleh je young. Kamarnya. Diseberang sana.

“berpamitan?” je young menaikkan sebelah alis matanya tak mengerti. Tidak biasanya namja itu bersikap seolah orang baru. Biasanya ia akan datang dan pergi sesukanya dari rumah ini.

“hmm, sepertinya setelah oppamu kembali kau akan dijaga ketat mulai saat ini” tuturnya. Je young tertawa pelan, disusul oleh namja itu. je young dapat merasakan nafas hangat kyu hyun pada bahunya. Lalu tak lama kemudian namja itu kembali bergumam “terlebih lagi karena oppamu percaya ucapan namja bodoh itu”

Je young akhirnya tak mampu menahan tawa kerasnya. Mendengar nada kesal milik kyu hyun entah mengapa terasa sangat lucu ditelinganya. Yeoja itu tak dapat berhenti hingga akhirnya kyu hyun membenamkan kepalanya pada leher je young. Membuat yeoja itu terdiam sebelum akhirnya dengan cepat kyu hyun kembali  mengangkat kepalanya.

“akhirnya kau diam” ujar kyu hyun “tidakkah kau berfikir akan merepotkan jika setiap kau tertawa aku harus menghentikanmu dengan cara seperti itu?” sambungnya.

Yeoja itu diam tak membalas pertanyaan kyuhyun. Justru dalam semua jawaban yang ada dalam otaknya, terselip satu pertanyaan besar. Satu pertanyaan yang muncul hari ini. satu pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh dirinya sendiri. ‘apakah ia benar-benar siap?’

“baiklah, aku harus pulang” suara kyu hyun sedikit banyak telah kembali menyedot alam sadarnya. Membuatnya dapat merasakan tindakan namja itu dan mendengarkan perkataannya dengan baik.

Je young masih bungkam. Berusaha menetralkan raut wajahnya sebelum berbalik. Yeoja itu tersenyum sekilas sebelum akhirnya mengangguk. Namun sekali lagi respon aneh dilontarkan tubuhnya ketika kyu hyun menunduk dan mengecup sekilas pipinya.

Kyu hyun memang tak pernah berbuat lebih padanya. Terlebih lagi setelah kejadian di rumah sakit waktu itu. dan je young,, entah mengapa merasa begitu dihormati oleh namja itu. ia menegakkan kepalanya dan menatap kyu hyun sekilas.

“jallja” ucapnya.

Akhirnya namja itu berlalu melewati pintu kamarnya. Tak berapa lama je young dengan jelas melihat namja itu berjalan melintasi jalanan kompleks lalu menghilang dibalik pintu rumahnya.

 

__

‘kau masih 21 tahun, bagaimana mungkin sudah ingin menikah?’

‘kau masih terlalu kekanakan! Lihatlah sikapmu!’

Je young berdiri kaku diantara semua serapah yang terlontar untuknya. Tidak ada siapa-siapa disana. Hanya dia, sendirian. Didalam ruang putih, hampa dan kosong. ruang yang terlihat terlentang jauh dan tak menemukan ujung itu sangat putih dan bercahaya terang.

‘apa kau mampu menjadi istri yang baik? Melayani suamimu dengan baik?’

‘kau sudah merasa sanggup untuk menjadi ibu rumah tangga?’

‘mengandung anak dari suamimu? Melahirkan dan membesarkannya? Kau sanggup?’

Semua teriakan itu semakin terasa mengeras. Memekakkan telinga dan membuat jantungnya bertalu seperti dihantam palu raksasa. Je yeong menutup kedua telinganya. Entah mengapa kakinya terasa begitu lemas. Setiap teriakan itu terasa seperti tertancap pada nadinya dan mengalir deras dalam darahnya. Membuatnya tak dapat berdiri. Teriakan itu meracuninya.

Je yeong berlutut lemas. Tungkai kakinya benar-benar sudah tak mampu untuk sekedar menopang berat badannya saja. Bahkan saat ini lututnya terasa seperti akan meleleh. Memakan satu persatu keberadaan raganya disana.

‘gadis kecil, kau ingin permen?’

‘bermainlah dulu bersama teman-temanmu’

‘kau, tak akan mampu melakukannya!!’

“ANDWEE!!”

“je, kau kenapa? Ada apa?”

Je young terduduk lemas, tubuhnya bergetar halus mengingat setip detail mimpi yang merasuki tubuhnya. Basah. Ia basah. Penuh dengan keringat dingin yang menyelubungi perasaan gundah miliknya. Indra pendengarannya yang sejak awal terasa seperti mati rasa perlahan mendengar sayup-sayup panggilan namanya.

“je, jawab aku. Ada apa?”

Je young menoleh dan menemukan kyu hyun disana. Duduk disampingnya dan memegang erat sebelah tangannya. Namun aneh, je young sama sekali tak merasa aman bahkan tenang karenanya. sebaliknya, seperti ada beban menohok dalam jantungnya yang ingin segera ia keluarkan. Karena tak perduli sebanyak apa udara yang ia hirup, paru-parunya tetap terasa kosong melompong.

“aku,, mimpi buruk” jawab yeoja itu pelan. Sangat pelan. “sepertinya aku arus mencuci wajahku”

Je young segera menuruni ranjangnya, berjalan cepat menuju kamar mandi didalam sana. Meninggalkan kyu hyun yang tak mengerti dengan keadaannya. Sayup-sayup terdengar suara air menggericik dan raungan kecil disana. Je young.. menangis? Kyu hyun segera berjalan menuju pintu dan memutar handlenya cepat.

“je, ada apa? Buka pintunya. Biarkan aku masuk!”

Je young menatap nanar pintu didepannya. Handle pintu itu berkali-kali berputar karena ia sengaja menutup diri dari dunia luar untuk sementara waktu. Hatinya, sesak entah karena apa. Dan lebih menyesakkan lagi ketika suara kyu hyun kembali menggema.

“je, tolong buka pintunya. Apa kau baik-baik saja?”

Air mata yeoja itu benar-benar sudah tak tertahankan lagi. mendengar suara parau penuh kekhawatiran milik kyu hyun membuatnya semakin tak membaik. Ia sedang tidak baik. Begitupun fikirannya. Dengan cepat je young membasuh airan air mata itu dan membuka pintu perlahan.

“je..” namja itu memajukan langkahnya menatap kedua mata je young yang sembab. Tubuhnya memang terlalu sensitif untuk hal-hal semacam itu.

“aku,, baik-baik saja” je young mengangkat kepalanya dan dengan cepat mengeluarkan seberkas senyuman tipis disana. Tangan kyu hyun sigap mendarat pada pipinya. Mengelusnya pelan. Merasakan jejak air mata itu disana.

“kau, menangis. Kenapa?”

Kyu hyun menundukkan wajahnya. Menatap je young yang memejamkan matanya untuk merasakan sentuhan lembut jemari kyu hyun. yeoja itu, seperti menyimpan beban yang sangat besar dalam raut wajahnya. Je young menggeleng.

“aku baik-baik saja” ucapnya memastikan. Ia kembali tersenyum dan menyentuh tangan kyu hyun yang berada pada pipi tirusnya.

“benar?” sekai lagi je young mengangguk. Mencoba meyakinkan kyu hyun dengan tindakan bodoh dan anggukannya yang berlebihan. Namun kyu hyun lebih dari sekedar mengerti untuk tidak bertanya lebih jauh.

Dengan cepat ditenggelamkannya wajah je young dalam dekapannya. Memberikan kehangatan dan ketenangan pada yeoja itu. ia tau, je young sedang tidak baik-baik saja dalam anggukan pelan atas jawaban baik-baik saja darinya. Kyu hyun tau. menilik getaran kecil tubuh yeoja itu dalam pelukannya.

 

__

“kenapa kembali? tidak jadi pergi?”

Kyu hyun duduk pada salah satu kursi di ruang keluarga itu. setelah kembali dan melihat segelas susu serta sarapan pagi yang sempat ia tinggalkan akhirnya ia kembali memakan bagiannya.

“tidak, je young sedang tidak enak badan” sahutnya pelan. Ia menggeliat pelan sebelum akhirnya bersila dan meletakkan semangkuk sereal itu diantara lipatan kakinya. Pagi itu, memang ia berencana untuk membawa je young sarapan bersama di cafe langganan mereka sebelum akhirnya pergi untuk mengecek persiapan pernikahan yang akan berlangsung mungkin sebulan lagi.

“tidak enak badan? Mimpi buruk lagi?” kyu hyun mengangguk pelan. Menatap nunanya sekilas sebelum akhirnya menyendokkan kembali campuran sereal dan susu itu kedalam mulutnya.

Ya, akhir-akhir ini je young terlihat aneh. Ia sering sekali mengalami mimpi buruk dan anehnya tak pernah ingin bercerita pada kyu hyun. ia akan berkata bahwa ia baik-baik saja dan lebih memilik untuk menyendiri didalam kamarnya.

“hmm” gumam kyu hyun malas.

“lalu bagaimana dengan undangan pernikahanmu?”

“entahlah. Mungkin besok, setelah je young sudah merasa lebih baik” kyu hyun mengedikkan bahunya acuh. Sebenarnya pertanyaan itu juga mengelilingi kepalanya. Bagaimana undangan pernikahan mereka, gedung pernikahan mereka yang ingin didekorasi sendiri oleh je young bahkan sedikit terbengkalai saat ini. belum lagi baju pernikahan mereka. Namun kyu hyun tak ingin terlalu memaksakan yeoja itu dengan kodisinya yang sangat tidak baik saat ini. karena itu ia lebih memilih untuk diam daripada berkoar-koar tak menentu.

 

__

Drrt.. drrt..

“yeobseo”

“……”

“hmm. Nugu?”

“……”

“eoh, hyung. Wae?”

“……”

“j jakkaman. Waegeurae?”

“……”

“aa arraseo. Ne, ne hyung”

 

__

Pagi itu kyu hyun tersentak. Tiba-tiba saja dering ponsel membangunkan tidur panjangnya. Ia sempat menggerutu tak jelas sebelum ia tau jika nomor tak bernama yang menghubunginya adalah shindong, kakak laki-laki je young.

Namja itu berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit. Tak memperdulikan sumpah serapah beberapa orang yang memakinya karena tabrakan bahu yang sebenarnya tidak ia lakukan dengan sengaja. Hanya saja mereka  tak mengerti bagaimana setengah dunia kyu hyun menghilang mendengar berita jika yeoja yang saat ini menyesakkan hatinya dilarikan menuju rumah sakit beberapa jam yang lalu.

“hyung!”

Kyu hyun berlari gusar menuju shindong yang saat ini masih berdiri didepan sebuah kamar. Namja itu tak dapat untuk sekedar memperlambat jalan kakiya meskipun berkali-kali ia sempat tersandung kakinya sendiri.

“hyung, apa yang terjadi? Bagaimana bisa je young dibawa disini hyung?” kyu hyun segera mencecar namja itu dengan beribu pertanyaan yang menyesakkan pikirannya.

“tenanglah. Dia sudah baik-baik saja” shindong memegang erat lengan kyu hyun. takut jika sewaktu-waktu namja itu akan terjatuh karena ia terlihat mengabaikan dirinya sendiri demi je young. Lihat saja, ia masih memakai piyama tidurnya meskipun telah terbalut jaket hoodie putih dan,, sendal rumah yang sepertinya tak sempat ia ganti.

Namja itu mambawa kyu hyun untuk duduk. Sedikit menenangkan perasaan kyu hyun yang mulai membaik mendengar menuturan darinya. Namja itu tertawa pelan melihat betapa namja didepannya begitu mencintai adiknya.

“kau sangat mencintainya?” tanya shindong tiba-tiba. Kyu hyun menatap namja didepannya dengan tatapan tak mengerti.

“hyung..”

“jawab saja” potong shindong cepat.

“ne hyung, sangat” shindong kembali tertawa. Melihat wajah serius kyu hyun membuat perutnya terasa geli. Serius, takut dan bodoh. Tiga ekspresi yang disatukan kyuhyun dengan baik pada wajahnya.

“apa sedalam itu?”

“andai aku bisa menjelaskannya hyung” kyu hyun menunduk memandangi ubin bersih rumah sakit itu. bau menyengat obat-obatan yang sebenarnya ia tidak suka tak membuatnya menyerah untuk tetap menunggu je young.

“beberapa hari ini ia sering mengalami mimpi buruk” ujar shindong “dan parahnya, pagi ini ia menangis seperti orang kehilangan harga diri. menangis dengan keras hingga jatuh pingsan” tambah namja bertubuh gempal itu.

“karena eomma dan appa sedang pergi ke busan untuk beberapa hari, aku juga tidak mengerti sehingga membawanya ke rumah sakit ini” namja itu menghela nafasnya ringan “dokter bilang dia sudah tidak apa-apa. Dia hanya terlalu banyak fikiran dan kelelahan. Entah apa yang gadis itu fikirkan” shondong menggeleng kan kepalanya tak percaya. Ditatapnya kyu hyun yang masih diam memperhatikan setiap perkataannya itu. lalu tersenyum.

“temui dia didalam. Dia menunggumu” shindong menepuk pundak kyu hyun sebelum berlalu menuju lobby. Sepertinya namja itu akan pulang.

 

__

Kyu hyun berjalan gontai menuju ruangan dengan nomer 285 itu. membukanya pelan sebelum terhenti didepan pintu. Jantung namja itu terasa seperti dihujam ribuan jarum melihat je young terbaring disana dengan selang infus menembus kulitnya.

Kyu hyun tertegun ketika yeoja itu sedikit menggeliat. Menunjukkan jika sebenarnya ia tidak nyaman dengan keadaan ini. kyu hyun tersenyum ketika manik mata gadis itu mulai terbuka dan perlahan terfokus hanya padanya.

“sudah merasa lebih baik?” kyu hyun berjalan cepat. Berdiri dipinggiran tempat tidur dan menggenggam tangan je young erat. Yeoja itu mengangguk sebelum sebuah senyum terukir pada wajahnya.

“apa ada yang sakit?” kyu hyun menggerakkan sebelah tangannya untuk sekedar merasakan panas tubuh je young. Kemudian tangan itu berpindah menuju pipinya yang mulai terlihat cekung. Dan sekali lagi, yeoja itu hanya membalas dengan gelengan kepala.

“perlu ku panggilkan dokter?” kyu hyun tersenyum dalam pahit. Jika bukan karena memikirkan je young saat ini mungkin ia telah meneteskan cairan bodoh yang selama ini tak pernah terasa mendesak keluar. Tapi ia belum, ani, tak ingin lebih tepatnya menunjukkan rasa sedih itu untuk membebani yeoja didepannya.

“tak apa, aku sudah baik-baik saja” je young mengerti. Terlalu banyak yang ia sembunyikan dari kyuhyun membuat terlalu banyak luka pula disana. Menggores tanpa ampun. Diletakkannya tangan kyu hyun di dadanya. Merasakan detak jantung je young yang mengalun rapi, tenang dan indah.

“bisa kau ceritakan padaku?” namja itu menatap je young putus asa. Namun tetap ada senyuman yang melengkung disana. Membuat je young entah mengapa merasa sangat amat bersalah. Namun sekali lagi, ia hanya menggeleng pelan. Membuat kyu hyun menunduk menahan emosinya.

“arraseo, mungkin lain kali” ujarnya. Lelehan besi panas seperti menyirami hati je young. Bahkan ketika berkali-kali ia telah menyakiti kyu hyun, namja itu tetap menunggu penjelasannya. Menunggu hal yang selama ini mengganggu dirinya hingga membuatnya berada di tempat ini. dan kyu hyun, sudah terlalu sabar untuknya.

“aku lapar” ujar je young pelan.

“kau lapar? Ingin makan apa?” namja itu segera berdiri tegap mendengar kata yang keluar dari mulut je young.

“entahlah, apapun yang menurutmu baik” ujarnya. Kyu hyun tersenyum dan mengangguk pelan sebelum akhirnya mengecup sayang kening je young dan menghilang dibalik pintu.

 

__

Sekotak bubur itu tiba-tiba saja berserakan di lantai rumah sakit. Terlepas begitu saja dari tangan kyu hyun ketika ceceran darah merah menetes satu persatu di lantai rumah sakit. Dan yang lebih mengejutkan jantungnya adalah tetesan darah itu berawal dari pintu masuk ruangan je young.

Namja itu membuka kasar pintu kamar dan jantungnya terasa seperti akan hilang. Hangus bersama memanasnya kedua matanya. Benda terpenting dalam tubuh manusia itu seperti telah hilang dari peredaran. Tak terasa memberikan detakan pasti. Atau memang mungkin detakan itu akan hilang sejalan dengan menghilang dan tidak ditemukannya je young?

“suster!!” teriak kyu hyun cepat. Dadanya masih memompa udara dengan baik meskipun saat ini seluruh paru-parunya terasa kosong dan hampa. “susteerr!!” teriaknya lagi. ‘kemana orang-orang dirumah sakit ini?’ batinnya.

“ya tuan, ada apa?” Dua orang yeoja berpakaian serba putih tampak mendekati kyu hyyun.

“kemana nona shin? Kemana shin je young?” suara namja itu mulai berat.

 

__

Kepala kyu hyun mulai berat menyaksikan CCTV rumah sakit yang menunjukkan jika je young memang sengaja melarikan diri. je young tampak pergi dengan cardigan hitam dan baju yang awalnya ia pakai dari rumah.

“bagaimana bisa ia melarikan diri?” gumam kyu hyun namun dapat dipastikan tertangkap suara oleh mereka yang berada disana.

“maaf tuan, tapi setelah anda pergi kami masih melihat nona shin didalam ruangannya” ujar salah satu yeoja itu.

“lalu, kalian tidak menjaganya? Bukankah itu tugas kalian?” kedua yeoja itu tampak menunduk takut. Bisa dipastikan jika mereka bukanlah pihak yang benar-benar bersih kali ini. kyu hyun meremas rambutnya gusar.

“Tidak bisakah kalian bekerja dengan baik? Kekasihku hilang dan tak ada satupun yang tau keberadaannya. Bagaimana bisa seorang pasien yang lemah dapat melarikan diri dari penjagaan ketat rumah sakit ini” ujar namja itu skeptis.

“tapi tuan..”

“kalian berdua berada dalam masalah jika aku tidak menemukannya dalam kondisi yang baik” ancam kyu hyun sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. ia merogoh ponsel miliknya lalu menekan beberapa nomor.

“yeobseo. Hyung..” tersambung.

 

__

Kyu hyun terduduk lemas di kursi sebuah taman. Ini sudah berjam-jam berlalu semenjak je young menghilang dan kyu hyun sama sekali tak mampu menemukannya. Kyu hyun mengerutkan keningnya. Berusaha mengingat tempat mana lagi yang mungkin didatangi je young disaat seperti ini.

Ia sudah menghubungi seluruh teman yeoja itu namun nihil. Ia juga telah menghubungi donghae dan hasilnya tetap sama. Jadi, kemana lagi ia harus pergi sementara semua orang yang  kyu hyun tau dekat dengannya tidak menemukan keberadaan je young disekitar mereka. Berkali-kali namja itu menghubungi je young namun tak sekali pun yeoja itu mengangkatnya.

Kyu hyun menunduk lemas. Pancaran matanya tak lagi tajam. Tak lagi akurat. Tak lagi membiaskan sinar kepintaran yang luar biasa mengingat ia telah kehilangan dunianya. Kyu hyun mengehentakkan punggungnya keras pada kursi taman itu. tak habis pikir dengan apa yang ada dalam fikiran je young. Atau lebih tepatnya lagi, apa yang sebenarnya mengganggu fikiran yeojanya itu.

“je, kau dimana?”

Pancaran sinar oranye matahari seperti tak mengerti jika biasan cahaya indah itu justru membuat kyu hyun semakin gusar. Tidak menemukan keberadaan je young sementara langit sudah mulai gelap. Tidakkah dia terlalu bodoh untuk menjadi kekasih je young? Bahkan ia tak bisa menemukan satu jalan fikiran yang bertitik sama dengan yeoja itu.

Kyu hyun kalut. Semua beban emosi berkecamuk didalam dirinya. Beberapa orang yang ia minta untuk membantunya tak menghubunginya hingga saat ini. itu berarti jika je young benar-benar belum ditemukan bukan?

Drrt drrt..

“yeobseo”

“…..”

“ne, hyung”

“…..”

“…..”

“…..”

“ne, hyung. Aku masih disini”

“…..”

“arraseo. Gomawo hyung”

Kyu hyun menyambar kunci mobil dari dalam saku hoodinya dan berlari menuju mobil. Sebuah pesan masuk dari shindong. Memberitaukan keberadaan ponsel je young yang masih aktif. Sontak mata kyu hyun membulat maksimal melihat alamat itu..

 

__

Kyu hyun berjalan ringan mengikuti arah beberapa pohon mapple yang menuntunnya menuju puncak bukit. Kenangan masa lalu menyedot memorinya. Ini,, tempat ia menghabiskan banyak waktu bersama je young dulu. Ia tersenyum samar ketika akhirnya sinyal menuju otak memberi tau dirinya bahwa wanita yang saat ini tengah duduk manis disana adalah je young. Kyu hyun mempercepat langkahnya dan berdiri tepat disamping yeoja itu.

“kau menemukanku” ujar je young pelan. Kyu hyun diam.

“kau benar-benar menemukanku” suara yeoja itu mulai terdengar parau.

“benarkah kau menemukanku?” kyu hyun segera mendudukkan dirinya dan menarik yeoja itu kedalam pelukannya.

“benar, aku menemukanmu” ujarnya pelan. Bahu je young bergetar hebat. Ia menangis dengan sangat keras dalam pelukan kyu hyun. jemari lentiknya menggengam bagian depan hoodie kyu hyun. sementara kyu hyun sendiri tak mampu melakukan apapun selain menenangkannya.

“kyu..” panggil je young dalam tangisannya.

“hmm?”

“kyu..”

“ya je, ada apa?’ sahutnya kembali.

“kyu..” kyu hyun menghela nafas pelan sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dan menangkup wajah je young. Membingkai kedua pipinya dan memaksa yeoja itu untuk menatap manik matanya.

“ya sayang, aku disini. Ada apa?” ujarnya lembut. Dan detik berikutnya tangisan lebih keras milik je young menghiasi malam sunyi itu. kyu hyun berusaha menghapus aliran yang entah bagaimana kuatnya dapat kembali membentuk aliran yang sama berulang ulang. Hingga akhirnya namja itu menarik je young dan menenggelamkannya kedalam pelukan hangat seorang cho kyu hyun. “aku disni je. Aku bersamamu” ujarnya kembali.

 

__

Malam itu sunyi. Hanya menyisakan kyu hyun dan je young yang masih terdiam di tempat duduk mereka masing-masing. Suara beberapa ekor serangga seperti mengerti jika mereka tidak sedang ingin berdua saja. Je young terdiam memandangi rerumputan, sedangkan kyu hyun terdiam memandangi je young.

“jadi, bisa kau mulai?” tanya kyu hyun memulai pembicaraan.

“bagaimana kau bisa menemukanku?”

“jangan mengalihkan pembicaraan”

Kyu hyun mengusap pelan rambut je young kemudian telapak tangan yang dingin itu beralih pada pipi je young mengusapnya pelan penuh kasih sayang. Kemudian tangan itu berhenti dan menjauh. Namun tak lama, sebelum akhirnya je young dapat merasakan bahunya hangat karena hoodie kyu hyun yang menutupinya. Yeoja itu terdiam untuk sesaat. Menyadari jika kyu hyun bukanlah namja yang pantas untuk ia perlakukan seperti itu.

“kyu..”

“kau bisa kedinginan dan jatuh sakit. Dan aku tak ingin itu terjadi”

Sejenak keheningan menyelimuti mereka. Kembali je young harus berterimakasih pada kawanan serangga yang entah bagaimana caranya sangat mengisi kekosongan malam itu. pikiran je yong kembali melayang pada segala mimpi buruknya lalu kembali pada kyu hyun. tak lama bayangan mimpi buruk itu kembali mengusik namun sesaat kyu hyun juga kembali memenuhi pikirannya.

Setiap stigma terpendam yang ingin ia ungkapkan terasa pupus manakala bayangan wajah kyu hyun menggema dalam otaknya. Namun juga bukanlah hal yang mudah mengingat dorongan kuat dari dalam dirinya selalu memaksa.

“pernikahan ini,, apa menurutmu akan baik-baik saja?” akhirnya je young memutuskan untuk membuka suara. Kyu hyun menatapnya lembut.

“tentu saja. Memang apanya yang tidak akan baik-baik saja?” tanya kyu hyun.

“entahlah. Tapi aku,, merasa,,” je young menarik nafasnya dalam “sebaiknya kita tunda saja pernikahan ini” lanjutnya kemudian. Untuk sejenak mereka saling terdiam. Sibuk dengan fikiran dan opini dalam otak masing-masing.

“benarkah? Kenapa kau berfikir seperti itu?” diluar dugaan. Kyu hyun justru mengamit jemari je young dan tersenyum manis padanya. Menanyakan alasan je young dengan cara yang sangat amat sempurna.

“a aku.. aku hanya merasa belum siap kyu. Terkadang aku berfikir jika aku terlalu tidak baik untukmu. Kau.. mungkin kau bisa saja menjadi suami yang baik. Tapi aku?? Aku merasa seolah tak mampu untuk menjadi istri yang baik bagimu nanti” suara yeoja itu terdengar mulai parau. Namun kyu hyun tetap menatapnya dengan sebuah senyuman tulus.

“kita masih kuliah, terkadang teriakan keras memaksaku untuk percaya jika bermain dengan beberapa sahabat adalah hal yang harus kulalukan saat ini, bukannya menikah, menjadi istri atau bahkan hamil dan melahirkan. Aku egois kyu, aku bukanlah wanita yang pantas untuk menjaga anak-anakmu. Lihatlah! Aku egois” dan kemudian tangisan itu pecah dalam keheningan.

“beberapa kali aku berfikir jika teriakan keras itu hanya khayalanku semata. Namun, semakin hari mimpi itu terasa semakin nyata. Aku bahkan tak mampu bangun lebih awal darimu. Bagaimana bisa aku menyiapkan segala keperluanmu? Aku, bukanlah yeoja yang kemampuan memasaknya bisa dikatakan bagus. Lalu, bagaimana aku harus menyiapkan sarapan dan makan malammu nanti?”

“seandainya aku tidak egois dan memaksakan keinginanku. Tapi aku tidak begitu kyu! Aku tidak seperti itu. aku labil. Bagaimana rumah tangga kita nanti jika kau menikahi gadis bodoh dan tak mampu melakukan apa-apa sepertiku ini?” lalu pada akhirnya je young menunduk. Membiarkan air matanya jatuh menuju bumi. Mencoba untuk bernafas lebih baik setelah mengeluarkan bongkahan batu besar yang menyendat paru-parunya.

Kyu hyun masih terdiam. Mendengarkan segala yang menjadi beban je young selama ini. menyadari jika itulah yang selalu mengganggu pikiran yeojanya untuk beberapa minggu ini. dan berfikir. Mencerna ulang perkataan je young padanya.

“geurae. Kita tunda saja pernikahan ini” ucapnya kemudian. Sontak je young menegakkan kepalanya dan menatap kyu hyun tak percaya. Namja itu berkata dengan nada ringan dan tanpa  beban. Dan lagi, ada sebuah senyuman terukir pada bibirnya. Jujur, ada satu bagian yang terasa amat sakit melihat namja itu menerima keputusannya tanpa perlawanan.

“kyu..”

“kita batalkan pernikahan ini. Aku setuju” ujarnya sekali lagi.

“tapi,, tapi..”

“tak apa” kyu hyun menatap je young hangat. Lalu dengan cepat namja itu menggenggam erat kedua jemarinya. “aku berada dalam posisi ini, bukan berarti sangat menginginkan pernikahan” ucapnya. “tapi satu hal yang aku inginkan lebih dari sekedar pernikahan adalah kehadiran dirimu disini”

“mungkin benar jika usiamu terlalu muda untuk menjadi seorang ibu. Meskipun aku tak percaya jika kau tak bisa menjadi istri yang baik untukku” kyu hyun menatap yeoja itu lembut “dengarkan aku. Kau, adalah yang terbaik. Jadi, bisakah kau berfikir untuk menilai dirimu lebih baik?”

“t tapi kyu,, kau..”

“kita bisa menikah kapanpun. Dan aku bisa menunggumu sampai waktu itu datang” tegasnya. Je young menatap manik mata itu. berusaha mencari kebohongan yang sialnya tak sedikitpun ia temukan. “kita bisa menikah saat kau telah lulus dari kuliahmu. Juga disaat kau sudah siap untuk menjadi istri dan ibu yang sempurna untuk anak-anak kita nanti. Kita akan berdiri di altar dan mengucapkan janji suci itu. dan hingga waktunya tiba, aku akan selalu berada disini”

“tapi pernikahan itu tinggal..”

“tiga minggu lagi. tak apa, kita akan menjelaskan ini pada keluarga kita”

Sedetik kemudian kyu hyun tersenyum lalu memajukan tubuhnya dan memeluk je young erat. Baginya, bukan masalah besar jika harus membatalkan pernikahan mereka. Tapi akan sangat berat jika ia harus melihat je young terus saja menyiksa diri dengan fikiran bodohnya itu. karena itu, pilihan terbaik hanyalah menunggu. Menunggu je young siap.

“tidakkah kau merasa bukit ini mulai asing?” ujar kyu hyun kemudian.

“tentu saja. Kau tak pernah datang semenjak kau sibuk dengan kuliahmu” sambung je young.

“eii, kau menyalahkanku? Tidakkah kau fikir kau juga begitu?”

“benarkah? Aku lebih senang melupakan segala hal jika sedang bersamamu”

“aish, anak pintar”

“aku tau”

 

__

Je young mengeratkan genggaman jemarinya pada kyu hyun. saat ini yeoja itu tengah berjalan dibelakang kyu hyun menuju rumahnya. Shindong baru saja menghubungi kyu hyun untuk segera membawa pulang je young jika telah menemukannya.

“tak apa. Mereka pasti mengerti”

Seolah paham betul isi pikiran je young, kyu hyun berusaha menenangkan yeoja itu dengan sesekali mengelus punggung tangannya. Untuk sesaat, je young terdiam. Kesungguhan namja itu untuk menyanggupi permintaannya membuat salah satu bagian hatinya terasa semakin sakit.

“je,, kau pulang. Kau baik-baik saja?”

Mereka segera disambut oleh celotehan ala para ahjumma dengan kicauan kekhawatiran mereka. Namun aneh, je yeong tetap saja tak bisa melepaskan tautan jemarinya pada kyuhyun. Yeoja itu justru mempererat genggamannya dan memilih untuk selalu berada tak jauh dari kyuhyun.

“ekhm.. semuanya, kami ingin membicarakan sesuatu”

Je yeong terdiam. Hatinya terasa semakin diremas dengan kuat. Untuk sesaat saja, ia lupa bagaimana cara untuk bernafas karena keputusan yang saat ini mulai ia ragukan kebenarannya. Je young mulai berfikir jika keputusan ini tidak benar. Hatinya mulai terbagi dan fikiran bodoh itu kembali menghiasi kepalanya.

“aku dan je young, memutuskan untuk..”

Hatinya semakin terasa sakit. Sedangkan paru-parunya sendiri mulai terasa terhimpit. Je young terkesiap. Tidak bernafas untuk sementara waktu ia pilih sebagai option terbaik untuk dilakukan. Namun aneh, justru saat ini ia merasa semakin sakit dan jantungnnya mulai mati rasa.

“membatalkan..”

“andwe!!” teriaknya kemudian.

 

-Tiga Minggu Kemudian-

“ahaha,, kau ingat wajahnnya saat itu kyu? ‘andwe!!’ “ shindong dan kyu hyun tertawa terbahak ketika dua lelaki itu memilih untuk menepikan diri dari sesaknya tamu yang memadati lantai dansa.

“ahah.. hyung. Dan saat dia terdiam menjadi sorotan seisi rumah dengan teriakan konyolnya itu” kyu hyun memegangi perutnya erat. Sedangkan shindong terlihat menyeka air mata di ujung matanya.

“berhenti membicarakan itu!!” je young menggerutu kesal. Kedua namja bodoh yang saat ini terlihat sangat akrab itu benar-benar mempermalukannya. Bukannya sedikit orang-orang yang mendengar celotehan mereka. Namun mereka tidak perduli dan tetap saja menceritakan kejadian memalukan itu.

“kau lucu sekali je” gumam kyu hyun.

“diamlah!!”

“wajahmu saat itu.. hmp” kyu hyun kembali membekap mulutnya.

“ya! Jika aku tidak meneriakkan itu mana mungkin kau ada di acara ini, bodoh” ujar je young kesal. Kedua pipi yeoja itu memerah dan semakin memerah lagi karena efek blush on disana.

“ng? Tidak. Aku akan tetap berada dalam acara ini” kyu hyun menarik yeoja itu mendekat kepadanya “tapi mungkin tidak akan secepat ini” bisiknya kemudian. Ia mendekatkan dirinya pada je young dan tersenyum. Je young mulai kesal, dan itu tidak baik jika ditunjukkan dialam acara ini. kyu hyun menunduk perlahan..

“ya,, ya,, jangan tunjukkan adegan menjijikkan itu didepanku!” teriak shindong menyela.

“ck, hyung diamlah! Aku ingin mencium istriku”

-epilog-

“je, bangun” kyu hyun mengguncang pelan bahu je young. Namun yeoja itu masih saja terlihat asik dengan dunia bawah sadarnya.

“je, kau ada kuliah pagi hari ini. dan ingat, ini bukan rumah eomma jadi tidak akan ada yang menyiapkan sarapan pagi untukmu. Cepat bangun” ujar namja itu kembali.

Ye, mereka baru saja menempati rumah baru mereka. Malam setelah acara resepsi itu selesai kyu hyun segera mempertemukan je young dengan rumah pemberian appanya atau lebih tepatnya apartemen mewah dengan dua kamar dan berbagai perabotan mahal didalamnya dikawasan gangnam.

“hnggg” je young menggeliat pelan dalam selimut tebalnya. Membuat kyu hyun tersenyum miring dan sebuah ide konyol melintas dalam pemikirannya. Ia berjalan menuju sisi lain tempat tidur. Lama terdiam hingga hampir saja kembali memasuki alam mimpinya, sesuatu yang berat je young rasakan di atas perutnya.

“yeobo, cepat bangun” ucap kyu hyun lembut di dekat telinga je young “aku butuh sarapan pagi” sambungnya. Je young kembali tak bergerak membiarkan tingkah absurd kyu hyun dibelakang tubuhnya. Ya, diam saja. Sebelum sebuah ciuman mendarat di bahu je yong yang masih berlapis baju tidur sutra itu.

“aaa!! Apa yang kau lakukan cho kyu hyun!” teriak yeoja itu cepat. Je young bergerak turun dari tempat tidur lalu berdiri dan dengan sigap mengilangkan kedua tangannya didepan dada. Kyu hyun terkekeh pelan. Memang hanya itu satu-satunya cara yang mempu membuat yeoja itu terbangun. Kyu hyun mengenyampingkan tubuhnya dan menopang kepalanya dengan lengan.

“apa? Bukankah kau istriku?” ujar namja itu santai.

“t tapi, bukannya__”

“apa? Bukannya apa cho?” tanyanya pelan.

“cho? Hng! Dwaesseo. Berbicara denganmu hanya akan meracuni otakku dengan hal-hal mesum” yeoja itu menghentakkan kakinya sebelum berjalan keluar kamar. Dan tak lama kemudian terdengar gebrakan alat dapur yang mengusik telinga.

-FIN-

 

With love, Park Ji Yeon.

11 thoughts on “Supposition Sequel

  1. marly says:

    Jadi nikah jg akhirnyaaa…hehehehee..cepet2 buat aegy yaaah #plaaakk -_-“

  2. elfexotic says:

    butuh sequel lg..:-D

  3. yua says:

    sequelnya lg eonni😀
    dijadiin series aja kayaknya bagus.hehe
    sukaaa^^

  4. leenawon says:

    Hahaha..
    Tetep berdebat, suka bgt sifat Kyu yg tenang disini, Jeyoung kena syndrom menuju pernikahan..
    Ditambah Shindong makin seru, kkk..
    Huwaaa, dan akhirnya mereka menikah~ tralala trilili ^^//

  5. Henif Daru Utami says:

    Hahaaa giliran Kyuhyun mau ngebatalin pernikahan-nya aja, Baru nyadar Jeyoung terus teriak ”ANDWAE!” hahaa konyol banget Jeyoung,kekeke.
    Tapi, keren akhirnya mereka nikah juga🙂

  6. Cho handa says:

    segitu takutnya jeyoung akan menjadi istri yg gk baik buat kyuhyun, je sampai sakit krna pikiran bodohnya sendiri.
    tp untung ya kyu bisa nyakin kan je kalau semua akan baik2 aja.

  7. ginachoi407 says:

    dikira gak bakal jadi nikahnya udah deg deg an aja…
    ^^

  8. hahahahaha
    jeyoung kena syndrom pra nikah

  9. Ooooo jd je young terkena syndrome pra wedding ya … kasihan … tp untung kyu oppa bs menerima nya .. bahkan bersedia menunda hingga je young siap ..

    Wkwkkwkwkwkwk .. jd yg teriak ” andwe ” itu je young ? Kira in keluarga mereka .. iya pst lucu liat ekspresi nya wkt itu …

    Eii knp je young takut sentuhan nampyeon nya ??? Hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s