Our Love Story part 9

1~4
Judul : our love story[part 9]
Author : HyukgumSmile
Genre : romance
Rating : general
Main Cast : lee hyuk jae, park ji yeon
Other Cast : lee dong hae, etc.

-Ji yeon POV-
Aku terus berlari menjauhi basement. Memberhentikan sebuah taksi dan menyebutkan sebuah alamat. Aku terus menangis didalam taksi meskipun aku menyadari tatapan tidak baik dari orang lain didalam besi berjalan ini.
Ini,, sama sekali tidak pernah ku sangka. Lee hyuk jae, sahabat dari seorang lee dong hae. Kedua namja brengsek itu.. akh! Mengapa aku baru sadar? Mengapa dengan bodohnya aku mau di permainkan seperti ini? Mereka menganggapku apa? Ya tuhan,, kuatkan aku.
Meskipun sejauh yang ku perkirakan usahaku untuk tidak menarik perhatian namja lain memang sangat minim, tapi aku tidak pernah mengira akan seperti ini. Hyuk jae, namja yang berbeda bagiku.
Bukan karena esensi yang lain, namun karena aku menghargainya. Lebih tepatnya aku merasa nyaman bersamanya. Aku kembali mengepalkan tanganku kuat. Membungkuk untuk sekedar menutupi wajah kusutku dengan kedua lutut. Kembali terngiang percakapan kedua namja itu di telingaku.
‘Aku pulang hanya setelah menerima pesan bahwa hati ji yeon milikmu’
‘jangan bercanda!’
‘aku percaya kau akan selalu mencintai park ji yeon’
Air mataku kembali mengalir meskipun rasanya persediaan air mataku telah menipis. Apa maksud semua ini? Mengapa sepertinya aku adalah barang yang dengan sesuka hati mereka diberikan pada siapapun. Lee dong hae, bahkan namja itu masih sangat tau bahwa sampai saat ini hanya dia yang berada di hatiku. Dan hyuk jae, apa maksudnya dengan cinta? Hanya karena satu setengah bulan bersama? Ck, gila! Dapat kurasakan mobil terhenti. Aku mendongak memandangi pagar tinggi rumah mewah didepanku. Aku merogoh beberapa lembar uang kertas dan memberikannya asal.
“nona ,, ada apa? Apa yang terjadi?” seorang pelayan menghampiriku ketika baru saja aku memasuki kawasan rumah.
“tak apa bi, aku ingin istirahat.” Aku segera berjalan menuju kamar setelah memberikan pesan agar tidak menggangguku. Mereka mengangguk dan membiarkanku berjalan sendiri. Aku membaringkan tubuhku di ranjang kamar.
Entah mengapa mengetahui hyuk jae mencintaiku membuatku begitu marah namun tidak ada perasaan kecewa sedikitpun. Aku mengernyit merasakan denyutan di ujung kepalaku. Hh, selalu begini jika sudah lelah. Aku mencoba menutup mataku sesaat sebelum benar-benar pulas dan akal sehatku hilang di telan alam mimpi.

-Hyuk jae POV-
Aku terus berusaha menghubunginya. Setelah gadis itu berada cukup jauh aku baru merasa bahwa ji yeon harus tau. Aku sempat mengejarnya namun terlambat, dia teelihat memasuki salah satu taksi yang berkeliaran di sekitar bandara. Ck, baru saja donghae pergi tapi justru masalah baru seperti ini muncul kembali.
Sekali lagi aku mencoba menghubunginya, meskipun aku tau dia pasti pulang. Ji yeon tidak memiliki banyak teman dekat. Selain aku dan donghae selama ini dia hanya memiliki hyorin dan seung mi. Entah sudah berapa pesan yang ku kirimkan padanya, tak satupun ada balasan. Setiap aku menghubunginya dia juga tidak pernah ingin menjawab.
Hhh, aku menghela nafas. Menyandarkan punggungku pada sandaaran sofa. Walaupun sejak lama aku tau, cepat atau lambat semua ini pasti akan terbongkar. Tapi, untuk saat ini aku sama sekali tidak tau harus berbuat apa. Aku tidak menyiapkan diriku atas apapun yang akan menimpaku. ‘sial, seharusnya aku memikirkan ini sejak lama’ rutukku dalam hati.
Aku mencoba memejamkan mataku namun sedetik kemudian terbuka kembali. Bayangan donghae dan ji yeon melintas begitu saja dalam otakku. Mengapa seperti aku tersangka utamanya disini? Aargh!!

-Author POV-
Hyuk jae tetap berusaha menghubungi ji yeon. Ini entah sudah hari yang ke berapa ji yeon tidak mengangkat telfonnya, tidak membalas pesannya, bahkan tidak ingin di temui walaupun hyuk jae memakai bermacam alasan. Dan ya sepertinya memang beban hyuk jae akan semakin berat dengan ocehan kim seosaengnim pagi ini. Guru killer itu seperti tau saja jika mereka sedang bermasalah. Dia meminta hyuk untuk segera menyelesaikan masalah mereka agar tidak berpengaruh besar terhadap persiapan mereka selama ini.
“hhh., dia fikir ini semudah yang dia bayangkan” rutuk namja itu ketika kembali ji yeon tidak membalas panggilannya. Terkadang ada emosi tersulut dengan sendirinya jika mengetahui yeoja itu mengacuhkannya. Ditambah lagi dengan –sebenarnya- nasihat kim seosaengnim yang terasa seperti beban tambahan baginya.
Ini sudah seminggu. Ya,, tepatnya delapan hari. Beberapa hari yang lalu ji yeon menolaknya karena alasan yang begitu banyak. Seperti semua telah di persiapkan dengan matang oleh yeoja itu. dan hyuk jae, sejauh hanya mampu menghormati daerah pribadi yeoja itu. ia mengerti jika saja ji yeon masih ingin menenangkan diri. toh, yang ia lakukan selama ini hanya berusaha dan terus berusaha.

-Hyuk jae POV-
Ini sudah entah hari yang ke berapa. Kepalaku seperti menolak untuk menghitung hari dimana ji yeon mengacuhkanku. Entahlah, aku merasa bersalah namun seperti ada sebuah kelegaan dalam diriku. Setidaknya park ji yeon telah tau bagaimana perasaanku. Yang saat ini begitu aku takutkan adalah kebenciannya. Bagaimana jika dia membenciku?
Bagiku, em,, mungkin tidak begitu menjadi masalah jika dia marah, karena hal seperti itu mungkin hanyalah emosi sesaat. Namun jika sudah berkaitan dengan rasa benci, hatiku seperti ada rasa perih yang tak bisa ku atasi dengan cara apapun selain kata maaf darinya. Aku mengacak rambutku gusar, sepulang sekolah aku selalu mencarinya namun yeoja itu selalu saja pulang lebih cepat.

__
Aku baru saja keluar dari ruangan itu. Ck, kim seosaengnim benar-benar membuatku semakin kesal. Ah tidak, takut lebih tepatnya. Aku kembali teringat kata-katanya sesaat sebelum aku meninggalkan ruangan itu.
“aku mohon hyuk. kau tau, waktu kalian tinggal satu bulan lagi”
Aku memejamkan mataku. Memikirkan yeoja itu selalu membuatku setidaknya sedikit lebih tenang. Entah mengapa, beberapa hari ini aku selalu memikirkannya. Saat dimana dia sendiri dan tidak memiliki siapapun. Hal itu selalu saja melintas dan terasa begitu nyata. Aku melajukan langkah kakiku menuju kelasnya.
Baru saja bel pulang berbunyi, membuatku merasa bahwa hari ini aku harus menemuinya. Siswa lain terlihat seperti baru saja keluar dari ruangan itu, dan ji yeon,, benar! Dia berjalan cepat menuju anak tangga didekat kelasnya.
Aku mengejarnya. Entah mungkin dia tau atau tidak, yang pasti dia tidak sedikitpun mempercepat langkahnya namun juga tidak memperlambat. Aku melihatnya keluar dari koridor menuju lapangan basket.
“yeon!” panggilku. Dapat kulihat dia berhenti dan menegang sebelum kembali berjalan dan kali ini, dia mempercepat langkah kakinya.
“yeon! Tunggu yeon” aku kembali memanggilnya membuatnya semakin mempercepat langkah kakinya. Namun, dia park ji yeon. Yeoja dengan tungkai kaki yang tidak bisa disamakan denganku. Aku berjalan tidak lebih cepat namun berhasil menyusulnya. Mengait pergelangan tangannya lembut dan menariknya menuju taman sekolah.
Dia mengikutiku. Entah mengapa dia terlihat seperti diam dan tidak melawan. Aku berhenti didekat sebuah pohon mapple. Pohon ini tempat dimana aku dan dia duduk saat bazar dulu. Aku diam, dia juga terdiam. Aku berusaha merangkai kata untuk memberikan pengertian sebaik mungkin agar dia mengerti. Namun belum sempat aku melontarkannya, dia berdiri. Memandang lurus ke arah depan kemudian berjalan.
“tunggu yeon, kumohon” ucapku pada akhirnya.
“aku tidak memiliki banyak waktu. Cepat katakan” suaranya terdengar begitu dingin dengan intonasi yang begitu datar. Seketika hatiku terasa seperti menciut dan mengecil mengetahui ini seperti bukti bahwa dia memang membenciku.
“baiklah, aku pergi” ujarnya kembali.
“aku minta maaf, kumohon duduklah” aku menggenggam tangannya, memintanya duduk untuk sekedar mendengarkan ocehan panjangku mengenai masalah kami ini. Dia menatapku dingin solah meminta penjelasan lebih. Baiklah, ini saatnya.
“baiklah yeon, aku__” dia menatapku semakin dingin. Seperti aura pembunuh keluar begitu saja dari tatapan matanya.
“oke, jangan dibahas. aku membawamu ke tempat ini untuk membicarakan hal penting” aku menghela nafasku sejenak. Menghembuskan karbondioksida itu pelan dari hidungku. “ini mengenai kim seosaengnim. Kau tau, em,, dia sepertinya tau sedang terjadi maslaah diantara kita. Ya,, walaupun ya,, kau tau. Bukan__ maksudku bukan aku yang memberi taunya tapi__”
“bisakah langsung saja hyuk” ujarnya dingin. akh, bodoh! Dari begitu banyak pernyataan yang ingin aku keluarkan mengapa hanya terdengar seperti ‘emm’ dan ‘ya’ saja yang terlontar?
Ya tuhan, apa yang terjadi padaku. Aku seperti anak idiot yang sama sekali tidak tau harus berbicara apa didepannya. Tapi entah mengapa aku merasa kegugupanku sebelum ini menguap begitu saja mengetahui dia memanggil namaku kembali.
“maafkan aku. Kim seosaengnim memintaku untuk melanjutkan kegiatan belajar kita. Ya, kau tau kan hingga saat ini kita masih terikat perjanjian dengan sekolah. Kita terpilih untuk mengikuti olimpiade itu dan kau,, hampir dua minggu ini menghilang” akhirnya meskipun belum seberapa aku merasa itu kalimat terpanjangku hari ini.
“kau dapat menjelaskannya. Aku__”
“aku mohon jangan mengundurkan diri. yeon, ini sudah terlalu dekat” ujarku yang merasa seperti dia ingin menghindar dariku dengan mengundurkan diri dari olimppiade ini.
Bukan! Aku sama sekali tidak memikirkan kegiatan belajar kami yang mungkin kalian fikir akan menguntungkanku. Tapi disini aku benar-benar tidak akan menemukan partner seperti ji yeon hanya dalam waktu satu bulan saja.
“tidak. Tidak akan. Aku masih tau diri” ujarnya begitu tenang. Dan entah sejak kapan intonasi dan nada bicaranya menjadi sedikit lebih baik. Ini seperti perbincangan harian kami namun bedanya kali ini tidak diselingi dengan berbagai candaan dan tingkah anehnya.
“jadi bisakah kita em,, belajar bersama kembali?” tanyaku sedikit gugup. Ya, meski tidak bermaksud apapun aku tetap saja merasa seperti tidak tau diri disini.

-Ji yeon POV-
Aku berdiri disini, memandang lurus kedepan dengan tatapan kosong. Aku kembali memikirkan percakapanku dengan hyuk jae siang tadi.
‘jadi bisakah kita em,, belajar bersama kembali?’
‘akan ku fikirkan’ aku berdiri dan berniat melangkahkan kaki. Namun tiba-tiba saja seseorang memegang bahuku pelan.
‘kumohon yeon, jika memang tidak bisa karenaku maka anggaplah ini demi sekolah. Aku,, memohon langsung padamu. jika kau memang lebih nyaman dengan belajar sendiri, aku tak apa.’
Kata-katanya terus terngiang didalam otakku hingga saat ini. Dan disinilah aku sekarang, didalam lift menuju apartemen hyuk jae. ya, aku tidak dapat menolaknya. Meskipun ada sedikit rasa marah namun aku sadar bahwa cinta sama sekali tidak dapat dihentikan kedatangannya.
Aku hanya akan bersikap seperti teman biasa baginya. Itu sudah cukup. Bagiku saat ini sangat penting untuk lebih memikirkan sekolah yang dengan baiknya telah memilihku untuk melakukan tugas mulia ini. Dan apa yang aku lakukan sekarang, ku anggap sebuah pengorbanan dariku untuk sekolah.
Aku juga tidak dapat sepenuhnya menyalahkan hyuk jae atas kepergian donghae dari sisiku. Aku kembali teringat alasan namja itu meninggalkanku dan sama sekali tidak berkaitan dengan hyuk jae. justru saat ini aku merasa seperti bersalah telah berfikir terlalu picik padanya saat emosiku begitu memuncak beberapa minggu lalu. Dan hari ini, aku bahkan merasa telah melupakan kejadian itu meski belum sepenuhnya.
Setidaknya hal positif dari semua ini, aku tenang dari teror fikiranku mengenai lee donghae. Seperti masalahku dengan hyuk jae ini membuatku lupa bahwa aku baru saja kehilangan seorang namja yang begitu aku cintai.

-Author POV-
-Beberapa Minggu Kemudian-
“hei, apa yang kau lakukan?!” seorang namja terlihat sedikit kesal.
“apa? Aku lapar..” balas seorang lagi dengan mempoutkan bibirnya.
“punyamu sudah porsi double. Ya ampun..”
“yak! Aku hanya meminta sedikit. mengapa kau pelit sekali!” ujarnya membela diri. namja itu mendengus pelan, menghembuskan nafas ringannya dan menggeleng.
“arraseo, arraseo. Setelah ini kau mau kemana? Ini sudah sore dan kita belum belajar yeon”
“ya hyuk jae! aku bukan robot. Setidaknya biarkan aku beristirahat dulu” ujarnya merengut. Membuat namja didepannya ini mau tak mau harus menurut.
“ne, ne. Arra” ujarnya.
Kemudian mereka kembali berjalan menuju sebuah taman. Angin sore berhembus begitu pelan membelai kedua pipi mereka. Memberikan kesan dingin namun menyenangkan.
Ya, meskipun awalnya ji yeon terlihat begitu keberatan dengan semua ini tapi nyatanya mereka tetap melanjutkan kegiatan mereka. Ini sudah tiga minggu setelah ji yeon memutuskan untuk menerima ajakan hyuk jae. mungkin memang minggu pertama terasa begitu sulit karena sikap dingin ji yeon pada hyuk jae.
namun itu tak berlangsung lama karena toh seiring berjalannya waktu sikap yeoja itu kembali normal pada hyuk jae. mereka menemukan kenyamanan kembali diantara mereka. Saling berbagi dan tertawa. Persis seperti saat pertama mereka memulai untuk meruntuhkan benteng kekakukan diantara mereka.
Ini H-5 sebelum olimpiade itu dilangsungkan. Ji yeon merasa jika hari ini mereka harus terbebas dari kegiatan menghapal dan mengerjakan soal-soal menakutkan itu. dan yang lebih penting lagi, mereka harus beristirahat setidaknya hanya untuk memulihkan stamina yang telah terkuras hampir tiga bulan ini.
Park ji yeon menarik lengan hyuk jae menuju sebuah taman. Setelah mereka memutuskan untuk menikmati semangkuk es krim di kedai langganan ji yeon, mereka mengistirahatkan diri pada sebuah kursi panjang di sudut taman.
“ini yang kau bilang beristirahat?” tanya hyuk. Ji yeon menjawabnya dengan anggukan mantap. Yeoja itu seperti begitu senang dengan kegiatan hari ini. Meskipun tetap saja rasa lelah itu menyerang, namun ini lebih terlihat seperti refreshing baginya.
Tiga minggu ini hyuk jae menguras otaknya untuk memakan segala macam soal matematika yang begitu rumit dan menjengkelkan itu.
“justru kau akan lelah jika seperti ini” ujar namja itu ringan. Ia sama sekali tidak menyalahkan cara ji yeon untuk beristirahat, karena apapun yang ia lakukan bersama yeoja itu akan selalu terasa menyenangkan. Ia hanya lebih mengkhawatirkan ji yeon. Yeoja itu bisa saja jatuh sakit jika seperti ini seharian.
“lelah apanya? Ini menyenangkan!” ujarnya menggerutu. Walau seperti apapun nada hyuk jae berbicara, ji yeon akan selalu menjawabnya dengan sebuah rengekan dan gembungan di pipinya. Terkadang entahlah, namja itu merasa begitu bodoh karena tidak dapat menahan diri untuk melarang yeoja itu jika sudah merengut manja.
“ini menguras energi yeon” ji yeon segera memutar arah kepalanya. Kembali memandang hyuk jae dengan pipi yang menggembung.
“jadi kau kehilangan banyak energi karena menemaniku?” tanyanya sewot. Argh! Yeoja ini memang,, sulit sekali untuk berbicara dengannya. Pantas saja donghae selalu berkata pada hyuk jae agar bersabar padanya.
“bukan begitu. Aish,, kau ini” hyuk jae mengacak pelan rambut ji yeon yang hanya diam saja. Terkadang, meskipun sama-sama tau bagaimana perasaan mereka ji yeon tak pernah lagi merasa risih. Sebaliknya, ada kehangatan ala sahabat diantara mereka saat ini.
Memang terdengar aneh mengingat donghae baru saja pergi sebulan yang lalu sedangkan ia telah kembali dekat dengan seorang namja. Masih lekat dalam ingatannya ketika hampir setahun donghae berusaha untuk meruntuhkan pertahanannya dan itu tidak termasuk untuk mendapatkan hatinya.
Namun saat ini ia bersama namja yang hanya dalam waktu tiga bulan ini menemaninya. Bertingkah tidak jauh berbeda dengan tingkahnya saat masih bersama donghae dulu. Bahkan warga sekolah mereka pun tidak mengerti dengan apa yang terjadi diantara mereka saat ini. Mereka seperti sepasang kekasih tanpa status.
“kita masih punya empat hari lagi untuk tertidur pulas” ujar yeoja itu asal. Ia memang akan seperti itu jika sudah berhadapan dengan es krim. Ya, hyuk jae sadar akan itu semenjak beberapa bulan yang lalu.
Yeoja itu terus menyendokkan es krim porsi double kedalam mulutnya. Sementara cup yang berada di tangan hyuk jae telah tak berisi sama sekali. Hyuk jae memang tidak akan bisa memaksakan perutnya dengan porsi double es krim seperti yeoja itu. sementara semua orang tau, perutnya dengan yeoja itu tidak bisa dibandingkan begitu saja. Tapi ternyata yeoja itu memiliki nafsu makan yang luar biasa berlebih dari dirinya.
“baiklah, jangan menggangguku empat hari kedepan” hyuk jae menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi taman.
“apa? Siapa kau berani melarangku? Jangan sok berkuasa!” hyuk jae tersenyum ringan lalu menutup kedua matanya menikmati semilir angin yang berhembus.
Ia tau, yeoja itu akan datang dengan atau tidak di undang. Ia tetap akan datang meskipun hyuk jae melarang dan ia tetap akan datang meskipun hyuk jae menentangnya. Ya, dia park ji yeon. Seorang yeoja yang bertindak lebih dari seorang teman bagi hyuk jae. mereka memang tidak pernah membahas tentang hal itu sampai saat ini. Tapi entah mengapa hyuk jae merasa jika ji yeon telah mulai menerimanya saat ini.
“ck, terserahmu saja.”
“aku tau kau akan menerimaku” ji yeon mendelik pada hyuk jae yang tersenyum ringan. Bahkan yeoja itu tau bahwa hyuk jae tak mampu menolaknya. Ji yeon terdiam. Ia merasa jika namja ini terlalu baik padanya.
Teringat kembali saat dimana ia mendengar dengan jelas namja itu mengatakan ia mencintai ji yeon di depan seorang lee dong hae. Ia kembali berfikir bagaimana perasaannya beberapa waktu ini. Ji yeon, yeoja itu merasa begitu nyaman dengan lee hyuk jae meskipun rasa marah itu masih ada. Kecil memang, tapi tetap masih ada. Ia melirik hyuk jae kembali, namja itu menerimanya dengan baik meski telah diperlakukan dengan tidak baik olehnya.
“hyuk..” sapanya.
“hmm?”
“kau,, bolehkan aku tau sesuatu?”
“katakanlah” hyuk jae membuka matanya perlahan. Memperhatikan yeoja itu dengan tersenyum.
“sejak kapan kau mencintaiku” ji yeon bertanya pelan berbanding terbalik dengan reaksi hyuk jae yang begitu terkejut. Bagaimana tidak, mereka tidak pernah membahas masalah ini setelah hari itu. dan tiba-tiba saja yeoja itu bertanya padanya.
“kau,, ingin tau?” hyuk jae bertanya tak percaya.
“em!” ji yeon mengangguk sekali. Ia benar-benar penasaran pada jawaban namja itu saat ini. Namja itu memandang lurus kedepan, seperti mempersiapkan rangkaian kata-kata untuk di keluarkannya.
“6 tahun lalu” hyuk jae masih memandang lurus dengan raut wajah yang begitu sulit untuk di artikan. Dan ji yeon, hanya mampu menjatuhkan rahangnya menerima pernyataan hyuk jae. dia tak pernah menyangka jika…
“kau,,, apa selama itu?” tanyanya. Hyuk jae mengangguk sebentar.
“kurang lebih seperti itu” hyuk jae tetap tersenyum dalam menjelaskan hal ini. Ia takut, ia sama sekali tidak dapat menerka reaksi apa yang akan diberikan ji yeon padanya. “maafkan aku” sambungnya. Ji yeon hanya terdiam, yeoja itu tidak marah.
Satu-satunya yang saat ini berkecamuk dalam pikirannya adalah bagaimana perasaan hyuk jae ketika dia bersama kang min hyuk dulu? Saat dia bersama donghae yang notabene-nya adalah sahabat hyuk jae sendiri? Saat setiap pagi ia harus menerima kecupan yang diberikan donghae. Bahkan disaat ia bercerita mengenai donghae kepada namja itu. ji yeon,, merasa sangat buruk. Ia merasa telah begitu menyakiti hati hyuk jae.
“jangan merasa bersalah. Aku yang terlalu bodoh, tidak mengatakannya padamu” seperti tau apa yang difikirkan ji yeon, hyuk jae segera berusaha menetralkan hari yeoja itu. memberika sugesti bahwa ia tak apa-apa saat ini. Ia tersenyum memandangi wajah ji yeon yang saat ini terlihat bingung. Mungkin ia tidak tau harus berkata apa pada hyuk jae.
“kau yang memintaku untuk mengatakannya. Jangan sampai ini mengganggumu. Em,, aku,, tidak pernah memintamu memandangku. Cukup seperti ini saja.” Hyuk jae kembali menatap lurus kedepan.
Ujung matanya menangkap bayangan ji yeon yang memandanginya dan kemudian tersenyum. Memberikan kesan lega dalam dirinya. Ia senang akhirnya yeoja itu tidak terbebani sedikitpun oleh ocehannya. Ia juga senang karena sedikit lagi bebannya telah hilang. Dia, lee hyuk jae. namja yang saat ini masih terus berusaha. Berbeda dengan park ji yeon, dia merasa begitu berharga saat ini. Sangat berharga, setidaknya dimata hyuk jae.

__
Dia, lee hyuk jae. jangan tanya kemampuannya dalam bidang ini. Saat ini ia tengah berdiri bersama yeoja pujaannya diatas sebuah panggung bertuliskan “1”. Ya, mereka menang. Sesekali mereka tertawa melihat kim seoseangnim yang tengah berdiri memperhatikan mereka dengan bertepuk tangan dan sesekali mengacungkan jempolnya.
Ini membahagiakan? Tentu saja! Pencapaian atas usaha mereka selama tiga bulan untuk menguras isi otak mereka berbuah manis. Baru saja beberapa saat yang lalu panitia mengumumkan bahwa mereka berhak menempati peringkat pertama. Sesekali mereka berpandangan dan kembali tersenyum. Mengingat betapa keras usaha mereka untuk menghasilkan ini.

-Hyuk jae POV-
Beberapa minggu setelah selesainya olimpiade itu kehidupanku kembali seperti semula. Yang berbeda hanya sepertinya aku semakin terkenal dan di segani saja di tempat ini. Entahlah, tapi aku merasa seperti semua orang memandangku berbeda dan tak sedikit dari mereka yang mengucapkan kata “selamat” padaku bahkan berkali-kali.
Dan perbedann lainnya tentu saja keberadaan ji yeon disampingku. Tidak ada kegiatan belajar bersama lagi di antara kami setelah olimpiade itu selesai. Aku dan dia telah menyelesaikan tugas yang di embankan kepada kami dengan baik. Dan itu pertanda bahwa ini adalah akhir.
Aku kembali berjalan melewati lorong dan berhenti didepan ruangan kim seosaengnim. Membawakan piala besar hasil jirih payahku bersama ji yeon beberapa hari yang lalu. Setelah selesai aku segera bejalan keluar menuju ruang kelasku. Sebentar lagi jam istirahat akan berakhir.
“oppa! Hyuk jae oppa!” dapat ku dengar suara seorang yeoja memanggilku dari arah berlawanan. Aku menolehkan kepalaku dan menemukan seorang yeoja tengah memandangku.
“ne? Aku?” tanyaku padanya. Ia mengangguk dan berlari kecil ke arahku.
“hm. Oppa masih mengingatku?” tanyanya. Aku memandangnya sejenak, sepertinya wajahnya begitu familiar tapi,, aku tidak mengingat namanya seikitpun. Aku kembali memutar otakku menemukan suatu ingatan tentang namanya namun tetap nihil.
“kau,, emm..”
“hana. Kim hana” ujarnya singkat.
“aah! Ya, Ada apa mencariku?” aku baru ingat, yeoja ini kim hana, leader club dance di sekolah ini.
“aku ingin mendengar jawabanmu oppa” ujarnya pelan. Ah,, aku baru ingat tawarannya beberapa bulan lalu tetang menjadi mentor untuk club dance. ‘aish, aku belum memikirkanya sejauh ini’ batinku.
“oppa lupa? Aku pernah mm__”
“arraseo. Aku ingat” potongku cepat.
“lalu bagaimana oppa?” tanyanya lagi. aku terdiam memikirkannya, setidaknya aku perlu waktu untuk memutuskan ini. Namun sesaat sebelum aku menjawab pertanyaannya, bel masuk segera berbunyi. Menyelamatkanku untuk sekedar berfikir sejenak.
“akan ku jawab nanti, sekarang kembalilah ke kelasmu” aku mendengarnya mendesah kecewa lalu berbalik berjalan menjauhiku. Aku pun segera mengambil langkah menuju ruang kelas. Aku tidak ingin terlambat.

__
“baiklah, aku terima” putusku setelah berfikir bahwa ini bukan hal yang buruk. Selain dance merupakan salah satu kegemaranku, aku juga tidak memiliki kegiatan lain setelah olimpiade minggu yang lalu berakhir. Mungkin ini akan berfungsi untuk mengisi waktu senggangku nantinya.
“jinja? Aa, gomawo oppa” hana membungkuk beberapa kali. Terlihat ukiran senyum lepas dari kedua sudut bibirnya.
“ne. Atur saja jadwalnya. Beri tau aku nanti”
“ne oppa. Sekali lagi terimakasih” ia membungkuk sekali lagi dan kemudian berlalu.

-Author POV-
Esoknya jadwal itu telah sampai di atas meja hyuk jae, hana sendiri yang mengantarkannya. Ck, jadwal itu berisi hampir setiap hari kegiatan dance di auditorium sekolah. Tapi tak apa, itu bukan masalah besar bagi hyuk jae. baginya, ia perlu suatu kegiatan untuk membiasakan diri lagi tanpa ji yeon. Ia juga baru ingat jika dulu ia meminta ji yeon untuk memaafkannya karena sekolah dan tentu saja saat ini hal itu sudah tidak berlaku lagi.
Hyuk jae memasukkan jadwal itu kedalam tasnya dan segera berjalan menuju auditorium. Hari ini hari pertamanya. Rasa gugup melanda begitu saja ketika ia harus memasuki sebuah club bukan sebagai junior namun justru senior.
Sejenak hyuk jae merasa menjadi pusat perhatian ketika ia baru saja memasuki ruangan itu. setiap yeoja terlihat tersenyum bahkan beberapa diantaranya berbisik dengan yang lainnya.
“annyeong oppa” sambut kim hana pada hyuk jae. membuat namja itu mengangguk pelan untuk menerima sapaannya. Ia segera menyeret lengan hyuk jae menuju kerumunan. “ini hyuk jae oppa, mentor baru kita”
Dan kembali beberapa yeoja itu berbisik sesama mereka. Entah apa yang aneh saat ini, tapi hyuk jae merasa sangat ingin tau apa yang para yeoja itu bisikkan tentangnya.
“perkenalkan dirimu oppa” ujar hana.
“annyeong, lee hyuk jae imnida. Aku bukan yang paling benar disini, jadi mari belajar bersama-sama” dan pernyataan itu sukses membuat para yeoja itu membuka mulut. Berdecak kagum hanya untuk sepenggal omongan kecil darinya.
“ada yang ingin kalian tanyakan lagi?” hana mengambil alih pembicaraan.
“oppa, mengapa kau ingin menjadi mentor disini?” pertanyaan itu mendapat anggukan dari beberapa yeoja lainnya.
“ku dengar kau sangat sibuk dengan olimpiade dan pacar barumu itu” ujar yeoja lainnya.
Hyuk jae menghela nafas pelan. ‘Gosip murahan lagi’ pikirnya dalam hati. Ya, memang beberapa waktu ini beredar gosip tentang dirinya bersama ji yeon. Dan entah mengapa ia begitu jengah mendengar kabar seperti itu.
“pertama, dance adalah salah satu hoby bagiku. Kedua, olimpiade itu telah berakhir lebih dari tiga minggu yang lalu dan yang ketiga, park ji yeon bukanlah yeojachinguku” ucapku tegas dengan tetap tersenyum. Menanggapi mereka tidak harus dengan emosi. Mereka hanya korban tukang gosip murahan di sekolah ini.
“oo” jawab mereka bersamaan.
“baiklah itu saja, kita akan mulai latihan bersama hyuk jae oppa hari ini. Ayo lakukan pemanasan” ujar hana memutus percakapan diantara kerumunan itu. hyuk jae juga segera beranjak menuju ruang ganti. Ia tidak mungkin berada dalam club dance dengan celana kain dan kemeja sekolah seperti itu.

__
Hyuk jae berjalan menuju auditorium bersama hana. Yeoja itu menunggunya didepan kelas untuk menjemput hyuk jae. mereka berbincang sepanjang perjalanan menuju auditorium, setelah sampai telihat beberapa yeoja lain yang telah datang terlebih dahulu.
Hyuk jae membungkuk kepada beberapa yeoja yang saat ini melihatnya dengan tersenyum lebar. Ini sudah lebih dari seminggu kedatangan hyuk jae di club dance itu dan sudah hampir selama itu pula kim hana dan yeoja lainnya terlihat begitu akrab dengannya. Hyuk jae memang tidak menutup diri pada yeoja-yeoja itu untuk hal-hal umum.
“oppa tidak mau ke ruang ganti?” tanya yeoja pada hyuk jae.
“ne, aku permisi” jawabnya dan segera berjalan menuju ruang ganti pakaian. Ia memakai baju kaos putih lengan pendek dan celana training panjang. Setelah selesai ia segera keluar dan menemukan pandangan kagum dari beberapa yeoja untuknya.
Hyuk jae memang bukan satu-satunya namja dalam club itu, tapi tepat setelah ia resmi masuk dalam kelompok itu seluruh perhatian memang selalu tertuju padanya. Hyuk jae kembali berjalan menuju kerumunan itu.
Drrt.. drrt..
Terasa getaran ponsel menjalar melalui kantung celananya. Ia segera meraih ponselnya dan melihat nama park ji yeon disana. Hyuk jae mengerutkan dahinya sesaat sebelum menerima panggilan itu.
“yeobseo yeon”
“hyuk!!” jawab yeoja itu ceria.
“ada apa?” hyuk jae tersenyum ringan membayangkan ekspresi yeoja itu saat ini.
“ada beberapa soal yang tidak dapat kukerjakan” ujarnya pada hyuk jae.
“kau,, ingin kerumahku?”
“eum. Ingin kubawakan sesuatu? Es krim?”
“yeon,, maaf aku tidak bisa” ujar hyuk jae pelan. Dan detik berikutnya ada sesuatu menembus hatinya ketika nada yeoja itu berubah murung.
“kenapa?”
“em,, aku__”
“oppa, ayo cepat!!” terdengar seseorang memanggil hyuk jae dan kerumunan orang itu
memperhatikannya. menunggunya untuk memulai latihan hari ini.
“ne, sebentar hana. Yeon, nanti aku hububungi lagi. anyyeong” ujar hyuk jae menutup panggilan ji yeon dan mengantungi ponselnya. Ia berlari menuju kerumunan anggota club dan meminta maaf berkali-kali.

-Ji yeon POV-
Aku baru selesai bersiap untuk pergi. Hari ini aku ingin ke apartemen hyuk. Ada beberapa soal yang begitu rumit dan tidak dapat ku selesaikan. Aku segera merogoh ponselku dan mencari nomor hyuk jae. aku berdiri di balkon sambil memperhatikan beberapa pengguna jalan di bawah sana.
Mataku membulat ketika memperhatikan sepasang muda mudi tengah berjalan bermesraan disana, merangkul lengan namjanya dan berjalan dengan tertawa lepas. Tiba-tiba saja ingatanku berputar pada beberapa kejadian belakangan ini. Sudah satu bulan lebih aku tidak bertemu dengan hyuk jae dan selama itu juga tersebar begitu luas kabar bahwa aku dan hyuk jae berpisah.
Dasar memang gosip murahan, dari mana mereka bisa tau jika aku telah berpisah dengan hyuk jae sementara kami tidak pernah terikat hubungan apapun? Ada lagi kabar yang menyatakan jika hyuk jae mencampakkanku. Cih! Tidak taukah mereka jika hyuk jae adalah namja yang begitu mengejarku sejak lama?
Senyum licikku mengembang begitu saja setelah mengulang kembali pemikiran terakhirku itu. dan ada juga kabar bahwa hyuk jae tengah dekat dengan seorang yeoja.. eum,, hann.. hana. Jika tidak salah itu namanya.
Dia leader club dance sekolah. Memang bukan apa-apa dibandingkan denganku. Jika memang dia leader dance, dia pasti lincah. Dan lagi, aku pernah melihatnya dan dia,, terlihat lebih cantik. Lebih langsing juga tentunya.
Namun aku bukanlah orang yang begitu memperdulikan berita murahan seperti itu. aku segera menghubungi hyuk jae setelah menemukan nomer ponselnya. Terdengar sambungan telepon beberapa saat sebelum dia mengangkatnya.
“yeobseo yeon” panggilnya.
“yeobseo hyuk” jawabku ceria.
“ada apa?”
“ada beberapa soal yang tidak dapat kukerjakan”
“kau,, ingin kerumahku?” suaranya pelan. Aku tersenyum mengetahui dia mengerti maksudku.
“eum. Ingin kubawakan sesuatu? Es krim?” aku membayangkan makan siang bersamanya dengan semangkuk es krim nanti. Namun entahlah, terdengar nada khawatir dalam pertanyaannya.
“yeon,, maaf aku tidak bisa” ujarnya pelan. Tepat sekali! Sesuai dugaanku.
“kenapa?” aku mengurangi nada, berbicara satu oktav lebih rendah menandakan jika aku tengah kecewa.
“em,, aku__”
“oppa, ayo cepat!”
Deg!
Raut wajahku seketika berubah mendengar suara itu. suara seorang yeoja memanggilnya. Siapa itu? aku semakin mengerutkan keningku saat seketika terasa hening di ujung sana.
“ne, sebentar hana. Yeon, nanti aku hububungi lagi. anyyeong” ujarnya cepat menutup panggilanku.
Itu,, hana? Yeoja yang dikabarkan dekat dengannya? Aku memasukkan ponselku kedalam tas dan mematung di balkon ini. Baru sebentar tadi rasanya aku begitu senang karena ingin bertemu dengannya. Lalu sekarang aku terasa begitu sakit karena mendengarnya bersama seorang yeoja. Hana.
Yeoja yang di kabarkan dekat dengannya oleh orang-orang. Aku kembali memutar memoriku dan mengingat segala percakapan yeoja-yeoja dengan gosip mereka itu. jadi hyuk jae,, benar-benar sedang dekat dengan hana? Kenapa bisa? ya tuhan, kenapa aku menjadi tidak bersemangat seperti ini?
Aku kembali berjalan menuju kamarku. Mengurungkan niatku untuk pergi dan menghempaskan tubuhku pada ranjang kamar. Aku menutup mataku untuk melupakan segala kejadian hari ini. Tiba-tiba saja aku merasa begitu lelah.

-TBC-

With love, Park ji yeon

4 thoughts on “Our Love Story part 9

  1. husna says:

    baru ketemu blog ni …

  2. deerfishymonkey says:

    oh yess jiyeonnya jealous nih..pertanda mulai suka sama hyukjae..

  3. puput says:

    Oke..jd our love story baru ampe 9 y..hmm..
    Harus sabar nungguin update nih kyna..
    Ceritana bagus..cuma..rasanya..penjelasan donghae pas mutusin jiyeon qo ky org yg krg jujur y..
    Kecuali kl dinext partnya,ortu jiyeon or donghae ngejelasin ke jiyeon kl mreka emg bener mw dijodohin..
    Lbh bgs lg kl ortuna jiyeon nanyain hub jiyeon-donghae stlh donghae pergi and jiyeon kliatan akrab ma eunhyuk..
    Yah..hny saran c..
    Plus..ini c eunhyuk kpn mw maju untuk dapetin jiyeon?hadeuh..bikin gemes aj ma tingkahna eunhyuk.. :@

  4. BebyPanda says:

    , jiyi mulai ada rasa..
    smga cpt jadian, Abng hae biar ama beby aja..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s