Our Love Story part 8

1~4

Judul         : our love story[part 8]

Author      : HyukgumSmile

Genre        : romance

Rating       : general

Main Cast  : lee hyuk jae, park ji yeon

Other Cast : lee dong hae, etc.

 

 

“aku benci gadis kekanakan”

BUGH!

 “lakukan sesukamu. Kebetulan sekali eomma dan hyung sedang berada di tokyo”

“baguslah”

BUGH!  BUGH!

-Author POV-

Hyuk jae benar-benar sangat sulit untuk mengendalikan emosinya saat ini. Ia kembali memukul wajah namja tampan itu beberapa kali -lagi. memang, hyuk jae tidak akan pernah bisa melayangkan pukulan terbaiknya pada namja itu. namun bukan berarti pukulannya yang terlihat biasa saja itu tidak menimbulkan efek apapun.

Dan donghae, ia sangat mengerti bagaimana keadaan sahabatnya itu. ia mengerti bahwa hyuk jae butuh pelampiasan atas menghilangnya dirinya beberapa hari lalu, membebaninya dengan berjuta pendapat karena tidak memberikan kabar apapun dan kali ini karena telah menyakiti ji yeon.

Donghae paham betul itu. hyuk jae bukanlah namja yang dengan begitu mudahnya melayangkan pukulan pada orang lain. Bukan. Terkecuali jika mereka telah menyakiti orang yang ia sayangi. Dan donghae, telah menyakiti yeoja yang ia cintai.

“sudah?” tanya namja yang kini benar-benar telah begitu sulit untuk berbicara itu.

Sebuah luka disudut kiri dan kanan bibirnya serta di ujung pelipis kanan. Ini bukanlah pukulan terbaik hyuk jae. catat itu! donghae tau hyuk jae tidak akan pernah menyakitinya. Karena ia telah mengenal namja itu dengan begitu baik.

Donghae menyeka darah pada pelipisnya yang telah mengalir mendekati mata. Lalu sedikit meludah. Membuang darah yang mengalir kedalam mulutnya. “baiklah, giliranku?”

Donghae yang tersungkur segera bangun dan membalas segala perlakuan hyuk. Ini cara mereka. Mereka tidak akan saling menyakiti. Mereka tau ini adalah satu-satunya jalan untuk meredakan segala emosi yang saat ini membuncah didalam dada mereka. Donghae menggenggam kerah kaos hyuk jae dan,,

BUGH! BUGH!

Hyuk jae hanya terdiam, ia merasa seperti ini suatu yang pantas untuknya. Donghae melayangkan dua pukulan pada pipi sebelah kanan hyuk jae. Membuat namja itu terkapar mencium marmer.

Donghae berhenti. Lalu kembali duduk pada ubin lantai rumahnya. Mereka terdiam. Sama-sama terduduk dan sulit untuk berbicara. Memegangi bagian yang luka dan sesekali meringis.

Nafas mereka terengah. Menunduk. Memperhatikan ubin keramik rumah donghae yang begitu mengkilap. Lalu menegakkan kembali kepala mereka. Bertemu pandang dalam satu garis lurus menuju manik mata masing-masing.

“ayo keluar” ujar donghae yang tiba-tiba berdiri terlebih dahulu lalu mengulurkan sebelah tangannya.

__

Hyuk jae menghela nafasnya berat, malam musim semi memang teramat dingin. Ia mengusap kedua tangannya lalu menghembuskan nafas diantara kedua telapak tangan itu. hyuk jae memperhatikan pemandangan sekitar. Warna warni indah terbentang luas disana.

Ya, hyuk jae memang menyukai ketinggian. Terlebih lagi ketika pikirannya tengah carut-marut seperti saat ini. Tak beberapa lama suara langkah kaki terdengar dari arah belakang. Orang itu berdiri disamping hyuk jae, menyodorkan segelas cappucino hangat.

“seperti biasa” ujarnya dengan tersenyum hangat.

Itu lee dong hae. Sifat mereka memang tidak terlalu berbeda, dan tempat ini adalah tempat biasa mereka menghabiskan akhir pekan. Disinilah mereka, di sebuah bukit. Di atas ketinggian. Memperhatikan keindahan pusat kota seoul yang selalu terlihat indah dengan segala warna warni lampunya.

Keduanya menyesap cappucino pemberian donghae. Hangat. Ya, ia memang memerlukan sesuatu yang seperti ini sekarang. Entah donghae yang benar-benar bodoh atau sebagian otaknya mungkin telah bergeser karena pukulan hyuk jae sehingga namja itu membawanya ketempat ini.

Ini musim semi! dan jelas sekali jika namja itu ingin hyuk jae mati membeku atau hipotermia di tempat sedingin ini. Tapi tidak, donghae tidak sejahat itu. ia telah menyediakan mantel hangat untuk sahabat tercintanya, hyuk jae. hyuk jae sedikit meringis saat kopi hangat itu menyapa luka di bibirnya. Membuat mata dan dahinya mengerut. Dan donghae yang memperhatikannya menghela nafas ringan.

“maaf telah memukulmu begitu keras” ujar donghae yang masih menatap lurus kerlap-kerlip lampu disana.

“tidak. Lukamu lebih banyak” jawab hyuk jae.

“setidaknya itu membuatku yakin jika kau begitu mencintai ji yeon” tuturnya setelah tersenyum miring sesaat. Dan pernyataan itu, sukses membuat hyuk jae memutar kepalanya.

“hae,,” ia memanggil donghae lirih.

“hmm?”

“a_anio… mianhae” ia berkata terbata-bata. Seperti beban berat itu kembali berada di pundaknya saat ini.

“untuk apa?”

“untuk menyakitimu, mengecewakanmu.” Hyuk jae menunduk.

Ia takut air matanya akan jatuh lagi. bagaimanapun, topik ini adalah apa yang selama ini begitu tidak ingin ia bicarakan. Namun, entah apa yang lucu saat ini. Donghae justru tertawa pelan menanggapi pernyataan hyuk jae.

“tidak. Seharusnya aku berterimakasih padamu” ujarnya. Membuat hyuk jae kembali memutar kepalanya. Melihat namja yang bahkan sampai saat ini saja masih menatap lurus kesana.

“hae,, aku__”

“aku tidak mencintainya hyuk. Aku rasa ji yeon sudah menceritakannya padamu”

“jangan bercanda” decak hyuk jae.

“aku tidak pernah seserius ini hyuk. Kau tau, aku telah membohonginya begitu lama” donghae segera berbalik dan menatap lurus mata hyuk jae. mencoba memberi tahu namja didepannya itu bahwa ini sama sekali bukan lelucon. Dan hyuk jae,, benar! Ia tidak menemukan sedikitpun kebohongan dimata donghae.

“tapi kau selama ini begitu menyayanginya hae. Semua orang tau itu” ujar hyuk jae tenang. Dia tidak akan terpancing emosi sedikitpun. Mereka sudah meluapkannya tadi. Dan sekarang, saatnya membicarakan ini baik-baik.

“sekali lagi, aku berbohong. Aku dan ji yeon dijodohkan tiga tahun yang lalu. Dan yang selama ini aku lakukan adalah usahaku untuk membahagiakan eomma. Eomma memintaku untuk mencintai ji yeon. Tapi aku tidak bisa. bahkan setelah menghabiskan dua tahun yang panjang dengannya.” Tutur donghae. Ia tidak ingin menyembunyikan apapun lagi saat ini pada sahabatnya.

“dia mencintaimu hae” hyuk jae berkata lirih.

“aku tau. Tapi percuma. Aku tidak akan pernah bahagia. Aku tidak mencintainya dan dia akan selalu hidup dalam kebohonganku.”

“lalu bagaimana sekarang?” tanya hyu jae.

“lindungi dia untukku” ujar donghae begitu yakin. Ia menatap hyuk jae yang saat ini membulatkan matanya maksimal.

“kau gila”

“tidak. Kau mencintainya. Dan dia,, mulai mencintaimu” membuat hyuk jae semakin membulatkan matanya.

“apa yang kau katakan huh?”

“mian hyuk. Jeongmal mianhaeyo. Aku membuatmu menderita selama dua tahun ini” donghae menunduk menatap kedua kakinya yang saat ini masih menopang tubuhnya. Ia hampir saja menangis mengingat betapa jahatnya ia karena telah begitu menyiksa sahabatnya sendiri selama ini. atau dengan kata lain, donghae telah tau lama mengenai perasaan hyuk jae pada yeoja itu.

“hae,,”

“aku sudah tau. Bahkan sebelum kita berteman baik. Kau,, begitu mencintainya. Namun permintaan eomma, membuatku dengan sangat brengsek menyiksamu selama ini.” Ujarnya masih menunduk.

“terkadang aku ingin menyelesaikannya begitu aku tau kau orang yang sama sekali tidak pantas untuk disakiti. Kau terlalu baik. Tapi begitu mengingat bagaimana cara eomma memintaku untuk mencintainya, aku kehilangan duniaku. Kau tau kan, eomma begitu berharga bagiku. Aku akan melakukan apapun demi eomma meskipun aku harus menjadi orang yang begitu brengsek.” Dan akhirnya pandangan itu mulai mengabur.

“aku merasa,, begitu tak pantas untuk menjadi sahabatmu. Kau begitu baik padaku dan aku membalas segalanya dengan begitu buruk.” Namja itu terdiam. Bahunya sedikit bergetar. Lalu tak lama ia merasakan sesuatu yang hangat memeluknya. Lee hyuk jae. namja itu tidak akan membiarkan sahabatnya terpuruk seperti ini. ia merasa begitu bersalah karena telah memperlihatkan perasaannya begitu saja dihadapan donghae.

“maafkan aku hae,,” hyuk jae menepuk bahu namja itu perlahan. Namun donghae segera menjauh dan menatapnya dengan tajam

“jangan katakan itu. kau membuatku merasa semakin buruk hyuk! Aku tau bagaimana perasaanmu ketika setiap pagi harus melihatku menyentuh ji yeon. Terkadang aku harus meladeni sifat manjanya. Aku tau aku menyakitimu namun aku tetap tidak berhenti. aku yang brengsek disini!” ucapnya semakin mengeras.

“tidak, tidak ada yang salah. Aku meminta maaf karena telah membuatmu seperti ini.”

“bisakah kita tetap berteman? Kumohon jangan membenciku” ujung mata itu mulai basah. Meskipun tak akan ada air mata diantara mereka. Hanya wajah kusutnya yang hingga saat ini masih tetap sama.

Hyuk jae terkekeh pelan “bagaimana bisa aku membencimu, huh?” jawabnya ringan.

“senang mendengarnya. Kau tau, kau sabahat terbaikku. Aku tidak akan menemukan teman sepertimu dimanapun” donghae hanya merangkul ringan hyuk jae. menatap lurus langit gelap disana.

“ck, seperti kau akan pergi jauh saja.” Hyuk jae segera menghujani kepala hae dengan sebuah jitakan ringan. Membuat donghae mengaduh pelan meski sebenarnya tidak ada rasa apapun selain kelegaan dalam hatinya.

Mereka tertawa lepas sesaat setelahnya. Ya, bayangkan saja rasanya memendam rahasia yang begitu besar selama dua tahun. dan saat ini, kau melepaskannya. Seperti terbelenggu dalam sebuah sangkar dan hari ini saatnya kau bebas. Mereka terdiam, terdengar jelas helaan nafas mereka yang masih memburu karena tertawa puas.

Tiba-tiba suasana hening tercipta. Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Mereka sibuk dengan pemikiran masing masing. Hingga donghae merasa ia tidak harus menyembunyikan suatu hal lagi pada hyuk jae.

“kau tau hyuk,, kau benar.” hyuk jae segera memutar arah pandangan matanya. Sekali lagi, mencoba mencari sebuah kebohongan. Tapi nihil. Namja didepannya tidak dalam keadaan bercanda. Hyuk jae kembali menatap lurus kedepan. Menghela nafasnya ringan.

“kemana?”

“New York”

“untuk apa?”

“ne?”

“untuk apa kau pergi?”

“hyung memintaku melanjutkan sekolahku disana. Selain itu, semakin sering kami bertemu akan semakin menyakitkan hatinya” hyuk jae kembali diam. Di tidak tau harus berbuat apa. Toh, jika ia marah donghae akan tetap pergi. Jika ia memohon agar donghae tidak pergi donghae tetap saja akan pergi. Namja itu bukan tipe plin-plan. Ia akan memikirkan segala keputusannya dan tidak akan mudah untuk berubah haluan. Ya, itulah donghae.

“hyuk jae-ah..”

“hmm?”

“bolehkah aku meminta satu hal padamu?”

“semacam permintaan terakhir?”

“hmm, bisa dikatakan begitu”

“kau,, seperti kita tidak akan pernah bertemu lagi saja”

“bisakah kau hanya menjawab ya atau tidak?” ucapnya jengah.

Namja itu terkekeh ringan “Ternyata kau sensitif jika malam.”

“jangan mengujiku lee hyuk jae”

“arra. Katakan”

“dapatkan ji yeon” telinganya sedang bermasalah. Ya, ia yakin indra pendengar itu sedang bermasalah kini. “dapatkan dia. Demi kebahagiaanmu” sontah hyuk jae mengalihkan pandangannya menatap namja itu. “setidaknya ingatlah, ini demi aku” sambungnya.

“yak! Apa yang kau katakan bodoh!” hyuk jae memukul pelan bahu donghae.

“kumohon. Kalian adalah kebahagiaanku. Bisakah kau membuatnya mencintaimu? Setidaknya aku tidak perlu meragukan cintamu untuknya. Aku ingin kalian bahagia”

“kau gila!”

“kita sama-sama gila tuan”

“aku tidak bisa”

“jangan katakan itu lagi. aku tidak menerima penolakan”

“hae..” hyuk jae menatap namja itu nanar. Mendengar permintaan bodoh namja itu saja sudah menimbulkan beban baru baginya.

“berusahalah. Aku percaya padamu”

__

Hyuk jae menekan beberapa kombinasi angka. Membuat pintu didepannya terbuka. Ia segera memasuki apartemennya. Hh, ini sudah larut. Sangat larut tepatnya. Ini sudah tengah malam dan ia baru saja kembali dari pertemuannya dengan donghae.

Lusa, namja itu akan berangkat lusa. Ia meminta hyuk jae untuk tidak memberitau ji yeon dan sudah sangat jelas hyuk jae menolaknya. Ia meneguk segelas air ketika kakinya membawanya menuju pantri.

Apartemen ini gelap. Bibi han pasti berada di kamar tamu. Ia tau bibi han tidak akan meninggalkan ji yeon di saat seperti ini. Lagi pula sebelum benar-benar memasuki apartemen ini ia masih melihat alas kaki bibi han disana.

Hyuk jae menyeret kakinya menuju kamar. Membuka pintu kamar itu perlahan dan menemukan yeoja itu masih diatas ranjangnya. Ia mendekati ji yeon dan memperhatikan setiap lekukan wajah manis yeoja itu.

ji yeon, masih tertidur pulas dengan mata yang sudah tidak terlalu sembab. hyuk jae mengelus puncak kepala yeoja itu. membuat yeoja itu menggeliat pelan dan kembali diam. Memberikan efek seulas senyum pada kedua sudut bibir hyuk jae. kelakuan yeoja itu memang akan selalu mengukir sebuah kebahagiaan pada diri hyuk jae. menjalarkan rasa hangat ke seluruh tubuh namja itu.

hyuk jae menyeret sebuah kursi duduk menuju tepi ranjang. Meletakkan ujung ekornya disana dan bersandar pada tepian ranjang. Memperhatikan yeoja itu pelahan sebelum tertidur. Percakapannya bersama donghae tadi sedikit banyak kembali menambah beban untuknya. Namja itu meminta hyuk jae untuk mendapatkan yeojanya. Eum,, mantan yeojanya mungkin.

Tapi tetap saja ini tidak semudah yang orang bayangkan. Hyuk jae selalu menghormati dan menghargai gadis didepannya itu sebagai kekasih sahabatnya dan sekarang,, dunia dengan segala kegilaannya memintanya untuk mendapatkan yeoja itu. merepotkan. Ia memijit sebentar tulang dahinya dan kembali memandangi yeoja itu. memandangi wajah damai ji yeon membuatnya tertidur pulas. Bahkan ia lupa untuk sekedar membersihkan dirinya ataupun mengganti baju casualnya menjadi piyama tidur. Ia kembali kehilangan dunianya ketika ji yeon kembali menguasai pikirannya.

 

-ji yeon POV-

“nnghh” aku menggeliat diatas sebuah kasur. Hangatnya matahari pagi yang menembus kaca jendela membangunkanku.

Aish, kepalaku masih terasa pusing. Aku memegangi ujung kepalaku yang saat ini rasanya entah seperti apa. Membuat segala yang ada disekelilingku terasa seperti berputar. Mataku masih mengerjap beberapa kali untuk membiasakan cahaya matahari yang sepertinya sudah begitu tinggi.

Eeh? Apa? Matahari yang begitu tinggi? aku segera membulatkan maksimal mataku. Menorehkan kepalaku menuju arah jam dinding dan..

“Dimana jam dindingku?” aku kembali terkejut dengan,, apa ini? Kenapa kamarku menjadi biru sapphire seperti ini? Kepalaku kembali terasa berdenyut dan membawaku pada perputaran dunia. Aku menunduk menyembunyikan kepalaku diantara kedua lututku. Berusaha menetralisir rasa sakit karena terlalu banyak menangis ini.

“kau sudah bangun?” suara seorang namja sukses membuatku mengangkat kepalaku untuk memperhatikannya. Tepat sekali! Lee hyuk jae. ia berjalan begitu santai menuju kearahku dengan senyum khas miliknya dan segala benda yang ia gunakan.. ia memakai celana training longgar dan t-shirt pas body. Ya tuhan,, mataku!

“yeon-ah,, kau sudah bangun?” aku merasa sesuatu yang hangat menyentuh bahuku dan mengguncangnya sebentar. Membuatku tersadar akan lamunanku dan memandanginya.

Sekarang namja itu tengah duduk di pinggiran ranjang balas memandangiku lekat. Ya tuhan, apa yang kulakukan dikamar seorang namja seperti ini? aku refleks memundurkan tubuhku dan menyilangkan kedua tangan didepan dadaku.

“APA YANG KAU LAKUKAN!!!” teriakku. Ia menutup kedua telinganya dan memejamkan matanya.

“ya, kau kenapa? Bukankah semalam_”

“SEMALAM APA? SEMALAM APA? KENAPA AKMPFF” aku kembali histeris ketika namja itu berujar semalam. Semalam? Apa yang terjadi? Tapi sungguh, yang apling menyebalkan dari semua ini adalah karena tangan besarnya yang saat ini tengah menyumpal rapat bibirku. Membutku tak dapat untuk sekedar berbicara ringan.

“ya!! kau yang datang kemari. Kanapa menyalahkanku?” teriaknya kesal. Apa? Aku yang datang kemari? Semalam bukannya… omo! Aku baru ingat, aku yang mencarinya. Setelah bertemu dengan,, donghae.

Aku kembali menggelengkan kepalaku mengingat semalam aku dengan begitu idiotnya menangis dan menemui hyuk jae. kau memalukan park ji yeon!

“kau sudah mengingatnya?” ujarnya masih dengan nada yang sedikit kesal. Aku menorehkan kepalaku dan mendapatinya tengah berdiri dan melipat kedua tangannya di dada.

Aku tertawa hambar mengingat betapa bodohnya aku menuduhnya melakukan sesuatu padaku. Ia bahkan menolongku tadi malam dan lagi, dia lee hyuk jae. namja paling sopan yang pernah kutemui. Aku menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal sama sekali. Benar-benar memalukan.

“bagus jika kau sudah ingat. Keluarlah, nanti sarapanmu dingin.” Ujarnya sedikit mundur dan berjalan menjauh. Aku kembali menundukkan wajahku, merutuki diriku yang begitu idiot.

“kau tidak ingin makan?” ia kembali bertanya setelah berhenti tidak jauh dari ujung ranjang. Memandangiku sedikit aneh dan tidak ada tatapan kesal namun masih terlihat menjengkelkan. Aku tersenyum manis mendengar perutku yang telah berbunyi mengetahui makanan yang telah menungguku.

“eum! Bantu aku” ujarku setelah mengangguk dan sedikit bergeser menuju tepian ranjang. Luka di sekitar tungkai lututku ini menyusahkan saja. Ia terlihat berjalan mendekatiku dan berhenti tepat didepanku. Mengukurkan tangannya pelan. Aku menyambutnya girang. Selain merasa diperhatikan, aku juga merasa aroma omelet semakin dekat saja sepertinya.

“AAAA!!!” aku terkejut. Memperhatikan kedua lengan baju yang menutupi seluruh permukaan tanganku. Begitu longgar dan besar. Refleks aku mendorong hyuk jae hingga tersungkur di lantai kamar dan mengibaskan kedua tanganku yang sepenuhnya tertutupi lengan piyama yang bahkan masih bersisa di ujungnya.

“ya!! Kau kenapa? Apa kepalamu terbentur sesuatu?” ujarnya dengan wajah yang jauh lebih kesal dari sebelumnya. Ia menggosokkan sebelah tangannya pada ujung ekornya yang sepertinya sakit.

“kemana bajuku? Apa yang kau lakukan padaku??!”

Aku kembali mengibaskan tanganku dan menunjuknya sesekali dengan wajah yang begitu ketakutan. Aku kembali meliriknya yang,, oh? Tersenyum?

“yak! Kau pikir ini lucu? Cepat katakan apa yang kau lakukan padaku!” cecarku padanya. Ia kembali merubah wajahnya menjadi begitu datar dan mendecak kesal.

“ck. Kau fikir__”

Cklekk..

Terdengar suara pintu yang terbuka pelan. Refleks aku dan hyuk jae menorehkan kepala kami menuju arah suara. Bibi han?

“cepatlah keluar, sarapan kalian akan dingin jika kalian terus bermesraan seperti itu” sontak aku melebarkan kedua bola mataku mendengar ucapan bibi han.

“bibi!!”

“bibi!!”

Aku dan namja itu menegur bibi han yang saat ini terlihat tersenyum memandangi kami. Dan entah mengapa ia tertawa semakin keras dan membuka lebar pintu kamar ini.

“aigoo,, kenapa kalian begitu serasi?” aku kembali terkejut dengan perkataan bibi han. Ku putar kepalaku menuju hyuk jae dan mendapati namja itu membuang wajahnya. Dan, well. Semburat merah menghiasi kedua telinganya.

“kenapa kau memandanginya? Ck, kalian seperti pengantin baru”

“bibi! Cukup bi” dapat kudengar suara hyuk jae sedikit mengeras dan berusaha untuk berdiri. Ia berjalan keluar terlebih dahulu, melewati bibi han dan tak tampak lagi dibalik pintu. Aku menoleh tak mengerti. Ada apa dengan namja itu?

“sudahlah, dia akan baik dengan sendirinya nanti. Cuci mukamu dan segera sarapan” bibi han tersenyum dan kembali lenyap dibalik pintu. “ah ya, sayang, bajumu itu aku yang menggantikannya.” Ujarnya sebelum benar-benar hilang.

Aku memandang ke arah bawah. ‘ternyata bukan hyuk jae’ batinku. Aku segera turun dari ranjang dan mencuci wajahku dengan sedikit air.

“aigo,, kau berantakan sekali” aku memperhatikan cermin didepanku. Rambut yang begitu kusut dan piyama yang begitu longgar. Aku merapikan beberapa bagian dan berjalan keluar menuju pintu kamar mandi. Perutku sudah begitu lapar. Aku tertegun ketika memperhatikan keadaan kamar yang begitu berantakan.

Cklekk..

Kulihat hyuk jae kembali masuk melewatiku menuju bufet. Ia terlihat sedikit terkejut ketika berbalik dan menemukanku di belakangnya.

Benarkah kata bibi han? kami seperti,, pengantin baru? Aku memperhatikannya yang hanya mengenakan baju rumahan namun terlihat begitu tampan dengan sebelah tangan yang bersarang di sakunya, aku yang begitu berantakan dengan baju longgar dan keadaan kamar yang,, ya, berantakan. Apa seperti ini maksudnya?

“eum,, ponselku tertinggal.” Ujarnya sedikit kaku lalu kembali berlalu menuju pintu. Aku tersenyum kecil menyadari kegugupannya lalu berjalan mengikuti hyuk jae menuju pintu dengan tetap tersenyum. Ini serius, ternyata manis juga jika membayangkan hal-hal seperti ini.

__

Aku berjalan menuju meja makan. Entah mengapa aku merasa ini seperti rumahku sendiri. Mungkin  karena semua yang ada di rumah ini memperlakukanku dengan baik. Aku berjalan melewati ruang tamu.

Benar sekali, omelet dengan daging sapi panggang. Hmm, pasti enak. Aku berhenti ketika meja makan berada tepat didepanku. Dapat kulihat hyuk jae tengah menghabiskan sarapan paginya dengan tenang. Disana ada dua gelas susu coklat hangat.

Hyuk jae meneguk susu hangatnya lalu sesekali melirik tab ditangannya. Ia berhenti ketika melihatku didepannya, berdiri dengan tangan yang sama sekali tidak terlihat sudah memegangi sandaran kursi meja makan.

“kau tidak ingin sarapan?” ujarnya ketika melihatku masih berdiri didepan meja makan. Dan,, kryuuuk!! “bagus, perutmu telah menjawabnya. Duduklah” dia tersenyum memandangiku yang benar-benar terlihat begitu bodoh saat ini. Aku menggeser kursiku dan duduk disana. Mulai menyantap omelet didepanku dengan lahap.

“aigo,, kau benar-benar sesuatu yeon.” Ujarnya yang sukses menghentikan suapan pertamaku. “berdoalah dahulu” sambungnya.

“ah,matta!” aku menyatukan kedua tanganku dan mulai berdoa. Bersyukur kepada tuhan yang hingga saat ini masih memberikanku kesempatan untuk menikmati segalanya. Setelah berdoa aku kembali melahap sarapanku. Emm, enak sekali. Aku merasa perutku akan meminta hal seperti ini kembali nantinya. Aku memandangi bibi han yang masih berkecimpung didapur dan memunggungi kami.

“masakan bibi han lezat sekali” ujarku. Aku tetap menyuapkan potongan omelet kedalam mulutku. Sayang sekali jika omelet ini dingin nantinya.

“karena itu aku memilihnya” jawab hyuk jae.

“eum,, enak sekali” ujarku kembali setelah menghabiskan potongan omelet terakhirku. Aku meneguk susu coklat hangat dengan begitu senangnya. Entah mengapa, ini tidak terasa janggal bagiku. Padahal, aku tidak pernah menghabiskan sarapan pagiku dengan orang lain selain keluarga.

“kau suka susu coklat?” tanyanya.

“ya,, eum, sangat!” jawabku mantap. Hei,, itu minuman kesukaanku.

“oh,, kalau begitu setelah selesai istirahatlah kembali” ujarnya membuatku sangat tidak mengerti.

“em,, itu__ apa kita tidak akan ke sekolah?” tanyaku.

Ia meletakkan tab ditangannya dan duduk dengan tegap menatapku lembut “kau ingin seluruh isi sekolah memperhatikanmu karena datang setelah istirahat pertama selesai?” ehh? Apa maksudnya?

“kau pikir akan ada guru yang membiarkanmu masuk ke kelasnya?”

“memangnya kenap__” kepalaku memutar kencang setelah beberapa pemikiran rumit menyinggahi otakku. Aku menoleh pada sebuah jam dinding dan ,, 08.43. hampir waktunya istirahat pertama.

Bagus! Apa yang kulakukan sekarang? Berada dirumah seorang namja, memakai bajunya dan bolos sekolah? Sementara saat ini aku menikmati sarapan pagiku, aku telah tertinggal jam mata pelajaran hari ini. Sial!

“kenapa kau tidak membangunkanku?” ujarku ketus padanya.

“kau bisa tanyakan bibi han seberapa sering aku membangunkanmu” namja itu menjawab dan kembali memperhatikan tabnya.

“ya! Aku pasti bangun jika kau membangunkanku!”

“buktinya.. tidak! Kau seperti seekor sapi jika tidur.”

“yakk!!” ck, namja ini benar-benar membuatku kesal. Aku hampir berdiri jika saja perkataannya tidak menahanku.

“aku sudah meminta izin pada eommamu. Pada sekolah juga. Bibi bilang kau kelelahan dan luka di lututmu belum sembuh. Jadi beristirahat saja” ia berkata setelah meletakkan tab itu di atas meja. “aku akan tidur di ruang tamu” ujarnya lagi setelah berdiri dari kursi meja makan dan berlalu.

Ia menuju sofa dan memilih untuk menonton televisi. Sekali lagi, aku tidak dapat berkata apapun. Tidak dapat membantah ataupun menolak. Sialnya, otakku selalu mengikuti apapun perintahnya. Dan benar. Setelah menyelesaikan sarapan pagiku aku kembali tertidur. Aku juga merasa butuh beristirahat saat ini.

-Hyuk jae POV-

Siang itu ji yeon pulang setelah bibi han selesai mengeringkan bajunya. Setelah itu apartemen terasa kembali sunyi. Oh tuhan, betapa beberapa jam sebelumnya benar-benar terasa seperti kehidupan kami berdua. ingat! kami! Aku kembali menuju kamarku setelah bibi han juga berpamitan untuk pulang.

Seharian yeoja itu berada disini membuatku tak bebas walau hanya untuk menikmati apartemenku sendiri. Aku merasa canggung karena untuk pertama kalinya seorang yeoja kubiarkan menginap walaupun kami tidak melakukan apapun.

Hh, aku melanggar begitu banyak prinsipku selama ini hanya karena yeoja yang satu itu. pengaruhnya benar-benar sulit untuk dicegah. Karena dengan begitu saja aku mengikutinya. Ini seperti candu. Seperti pecandu menemukan ekstasinya. Seperti itulah ketika aku menemukannya. Park ji yeon.

__

Aku benci hari ini. Bocah bodoh itu akan segera pergi dalam beberapa jam lagi. hh~ cepat sekali rasanya. Setelah bel pulang berbunyi aku segera melangkahkan kaki ku menuju ruang kelas ji yeon.

Mau tidak mau aku tetap harus memberitau ji yeon tetang ini. Aku melewati koridor depan kelas dan bertemu di ruang paling ujung. Berdiri didepan pintu dan tepat pada saat yeoja itu akan keluar dari ruangannya.

“ada yang ingin aku bicarakan”

__

Aku menariknya menuju taman sekolah. Berhenti di dekat kolam jernih milik sekolah. Aku memutar tubuhku menghadapnya. Melihat guratan bingung pada wajah manis itu. ku lirik arloji hitam di pergelangan tanganku. ‘tinggal beberapa jam lagi’ batinku. Aku kembali melihatnya, memberikan ekspresi seserius mungkin yang aku miliki.

“yeon,,”

“hmm”

“aku rasa__ kau.. emm__ mungkin ini…” darimana aku harus memulainya? Ya tuhan. Aku pasti akan menyakitinya jika saja dia mendengar kembali nama donghae. Tapi, ini akan lebih menyakitkan jika dia tidak mengetahui sama sekali kepergian bocah itu.

“katakan sesuatu, tuan lee hyuk jae” ujarnya diiringi dengan senyum tulus. Oh, aku yang akan merubah senyuman itu nantinya. Haruskah aku memberitahukannya?

“emm, begini yeon. Donghae..”

“aku tidak ingin mendengarnya!” potongnya sebelum aku menyelesaikan perkataanku. Dapat kulihat perubahan raut wajahnya yang seketika menjadi begitu gelap. Aura ketidak sukaan terpancar dari sorot matanya.

“tapi yeon..”

“berhenti hyuk! Kumohon..” ia kembali memotong perkataanku dengan wajah yang sedikit lebih melunak namun menimbulkan kesan memelas. Ya tuhan, benar sekali. Aku telah merubah senyumannya.

“kau,, sudah tau?”

“hmm. Semalam dia menghubungiku”

“apa yang dia katakan?”

“dia memintaku untuk datang..”

“lalu?”

“aku tidak mau”

“kenapa?”

“entahlah, hanya tidak ingin”

“yeon,, jangan seperti ini. Walau bagaimanapun dia tetap..”

“dia bukan siapa-siapa lagi bagiku. Apa dia yang memintamu untuk membawaku?” kami terlibat pembicaraan yang entah mengapa terasa begitu rumit. Aku menginginkan yeoja yang aku cintai untuk bertemu dengan sahabatku yang sebenarnya adalah mantan namjachingunya. Entahlah, begitu rumit jika aku menggunakan otakku untuk menjelaskannya.

“bukan. Ini keinginanku. Kau bisa pergi denganku jika kau mau” ujarku berharap padanya. Tapi yeoja itu justru menunduk dan terdiam. Ia menghela nafas panjang lalu kembali mengangkat kepalanya. Dapat kulihat cairan bening itu pasti telah melewati ambang batas kemampuan kelopak matanya tadi.

“tidak. Aku tidak pergi” ucapnya sedikit parau.

“tapi yeon__”

“dia menunggumu hyuk. Pergilah.” Ia berbalik dan melangkah menjauhiku.

Ia berjalan begitu pelan. Seperti tungkai kakinya telah begitu rapuh untuk sekedar menopang tubuh itu. begitu sakit rasanya melihat yeoja yang memenuhi ruang hatimu terlihat begitu rapuh karena namja lain.

“2F. Dia di terminal 2F jika kau ingin datang.” Teriakku sebelum ia jauh. Aku segera berbalik menemui mobilku dan memacunya menuju bandara.

Aku melirik sebentar arlojiku ‘sial! Terlambat’ batinku. Aku menambah kecepatan audi putihku. Mengejar bocah bodoh yang saat ini begitu terasa penting dalam hidupku. Sahabatku. Lee dong hae.

-Author POV-

Terdengar suara yang begitu bising memanggil penumpang pesawat untuk segera melakukan check in. Dua namja yang masih terdiam di bangku ruang tunggu itu semakin terdiam mengetahui waktu mereka hanya tinggal beberapa menit lagi. mereka sibuk dengan sejuta pemikiran yang hingga saat ini belum tentu dimana ujungnya.

“jangan gugup tuan lee” ujar namja manis yang saat ini terlihat begitu tegar.

“diamlah..”

“kau membuang waktuku jika datang hanya untuk diam seperti ini” ujar namja itu lagi.

“kau yang memintaku datang” lee dong hae baru saja akan membuka suara ketika terdengar kembali suara bising yang untuk saat ini terasa seperti sinyal bahwa waktu mereka semakin sempit saja.

“hh, baiklah. Aku akan merindukanmu” ujarnya. Ia berdiri dengan tas sandang dan jaket sport jeans. Kaos putih pas body sebagai dalaman, sepatu cats dan celana jeans biru. Pas sekali untuk ukuran seorang lee dong hae.

Lee hyuk jae segera berdiri sekedar untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan lee donghae. Namja itu memandang donghae lekat sebelum menghembuskan nafas beratnya.

“hh, jangan berkata seolah-olah kau tak akan kembali” ujar hyuk jae setelah sepenuhnya berdiri. Ia tau kini waktunya akan semakin sempit saja.

“may be” jawab namja itu dengan mengedikkan bahunya dan memandang hyuk jae lepas.

“aku membencimu!”

“aku mencintaimu!”

“hss” ringis hyuk jae menahan tawanya. Namja itu selalu saja bisa merubah mood hyuk jae. bahkan ketika hyuk jae sangat ingin menelannya hidup-hidup karena tidak menjanjikan satu hal indah pun setelah kepergiannya. “seringlah berkunjung” sambungnya.

“ciss, kau fikir aku siapa? Rumah eommaku masih disini!” ujar donghae dengan sedikit mendengus.

“arraseo. Baguslah jika kau masih ingat”

“yakk!!” donghae segera maju menuju lee hyuk jae. mengepalkan tangannya dan meletakkannya sejajar telinga. Membuat orang yang melihat mereka akan mengira jika mereka sedang berkelahi hebat.

Tapi tidak, kepala lee hyuk jae justru tengah berada di antara lengan dan belahan ketiak lee dong hae. Namja itu terus saja memberikan jitakan ringan di kepala hyuk jae yang saat ini tengah berusaha untuk melepaskan diri. setelah puas mereka kembali memberi jarak diantara mereka dan tertawa pelan.

“aku serius. Kau harus berkunjung!” ancam lee hyuk jae setelah merasa bahwa percakapan ini hanya akan membuang waktunya bersama bocah itu.

“kau pikir kau siapa?!”

“aku lee hyuk jae. berkuasa penuh atas kepemilikanmu saat ini” omel hyuk jae setelah donghae berhasil menyulut emosinya kembali.

“cih, aku masih normal! Arraseo. Aku akan pulang” ujar dong hae pelan setelah memperhatikan perubahan wajah hyuk jae yang terlihat mulai tersulut emosi. Namja itu pun sadar bahwa apa yang mereka lakukan hanya akan membuang waktu mereka. Tapi tetap saja, inilah mereka.

“tapi… aku pulang hanya setelah menerima pesan bahwa hati ji yeon telah menjadi milikmu” tukas dong hae.

“kau gila!”

“tak apa jika demi kebahagiaan kalian berdua”

“jangan bercanda!”

“arraseo. Tapi bisakah kau mempertahankan cintamu padanya? Setidaknya demi aku” ujar donghae yang sekali lagi mengagetkan namja itu. “aku ingin mendengar sesuatu darimu” ujar donghae kembali. Kali ini dengan tatapan yang begitu mejengkelkan.

“aku mencintaimu” ujar hyuk jae cepat. Mereka tertawa keras sebelum akhirnya kembali suara itu terdengar.

“aku juga mencintaimu. Aku harus pergi” donghae memeluk hyukjae erat sebelum akhirnya menyeret pegangan koper miliknya. “lee hyukjae, aku percaya kau akan selalu mencintai park ji yeon”

__

Hyuk jae melangkah keluar dari pintu kaca besar itu. beberapa menit yang lalu, pesawat keberangkatan sore yang ditumpangi lee donghae baru saja lepas landas. Ia menghirup udara dingin yang semakin terasa menusuk saja.

Ya, ini masih pertengahan musim semi. angin kencang terasa semakin membelai wajahnya. Ia merapatkan matel hangat coklatnya melanjutkan langkah kaki menuju basement. Ia segera berlari menuju audi putihnya, melewati anak tangga dan berbelok ke arah kiri.

Matanya membesar maksimal ketika mengetahui seorang yang entah mengapa bisa berada disana saat ini.

“y_yeon..” panggilnya.

“……”

“apa yang kau lakukan disini? kau.. ingin menemui donghae?”

“……” gadis itu masih tetap terdiam memandangi hyuk jae. memberikan tatapan yang sama sekali tidak seperti biasanya. Ia terdiam dengan tatapan mata yang lurus dan begitu tajam.

Terlihat aura seperti marah, emosi,, dan seperti,, tidak percaya. Ji yeon tetap tak bergeming meskipun hyuk jae menanyainya berkali-kali. Namja itu berjalan mendekat. Sekedar memastikan bahwa yeoja itu baik-baik saja.

“yeon??” hyuk jae kembali memanggil ji yeon. Namun yeoja itu tetap bungkam, tidak memberikan tanggapan apapun.

“donghae baru saja__”

“sejak kapan?”

“emm,, baru beberapa menit yy__”

“sejak kapan?” tanya ji yeon semakin mengeraskan suaranya. Membuat namja itu terlihat seperti tidak mengerti.

“aku tidak mengerti,, kau kenapa?”

“hss, ternyata kalian tidak jauh berbeda!” yeoja itu berbalik menjauh setelah memberikan senyum miringnya kepada hyuk jae. meninggalkan namja itu begitu saja. Hyuk jae segera mengejarnya dan menggenggam pergelangan tangan yeoja itu.

“ya, ada apa denganmu?” tanyanya. Yeoja itu berbalik dan memberikan tatapan membunuhnya pada hyuk jae.

“kau! Sejak kapan kau menyukaiku?!!”

DEG!!

Ji yeon semakin meninggikan suaranya. Menatap hyuk jae semakin hina. Membuat namja itu terdiam tak dapat berkutik.

“k_kkau..”

“sejak kapan hyuk?” tanya yeoja itu kembali. Namun hyuk jae hanya diam, tak dapat berkata apapun. Segala pemikiran berkecamuk didalam otaknya.  Kenapa yeoja ini bisa tau? Apa yang akan dia lakukan setelah ini? Semua pemikiran itu terus menghantuinya. Membuatnya tidak dapat mengeluarkan satu pun pembelaan atas kejadian ini.

“aku pikir kau berbeda! Aku mempercayaimu karena ku pikir kau jauh lebih baik! Tapi ternyata kau tidak lebih dari lee dong hae!” ia diam, menghela nafasnya semakin berat. Oh tidak! Cairan bening itu kembali terkumpul di pelupuk matanya. ‘Apa yang kau lakukan lee hyuk jae?!’ batin namja itu “mengapa kau begitu kejam memperlakukanku seperti ini?” sambungnya. Suara yeoja itu semakin mengecil dan hilang.

“yeon,, a_aku..”

“sejak kapan hyuk?”

“y_yeon..”

“jawab aku! Lee hyuk jae!” kerasnya. “apa karena kau donghae meninggalkanku?” sontak hyuk jae mengangkat kepalanya yang sejak tadi terasa begitu berat walau hanya untuk mendongak. Ia mengepalkan kedua tangannya menahan emosi.

“ya tuhan yeon! Aku__”

“aku mengerti. Memang tidak akan ada kejujuran disekitarku.”

Yeoja itu melangkahkan kakinya menjauh, tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun dari hyuk jae. Hyuk jae berteriak kuat tepat setelah yeoja itu menghilang di belokan ujung basement. Hyuk jae mengangkat kedua tangannya. Memposisikan tanya itu untuk sekedar meremas rambut bagian kiri dan kanan kepalanya kuat.

“aarrrg!!”

Hyuk jae terdiam. Merasakan bahwa bebannya semakin terasa berat saja. Ia berbalik dan memasuki audinya. Menumpukan kepalanya pada stir mobil dan berkali-kali menghempaskan kepalan tangannya pada bulatan stir itu.

 

-TBC-

With love, Park ji yeon

 

3 thoughts on “Our Love Story part 8

  1. deerfishymonkey says:

    akh akhirnya ketauan juga..
    moga jiyeonnya luluh ama hyukjaenya..

  2. little devil says:

    suka sama cara eunhae menyelesaikan masalah mereka.. nggax munafik tapi juga nggx saling menyakiti

  3. BebyPanda says:

    , makin rumit..
    Beby jga mencintaimu abang hae..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s