Our Love Story part 7

1~4
Judul : our love story[part 7]
Author : HyukgumSmile
Genre : romance
Rating : general
Main Cast : lee hyuk jae, park ji yeon
Other Cast : lee dong hae, etc.

“kau ingat tempat ini?”
“eum”
“kau ingat dulu aku pernah berjanji padamu disini?”
“ya, kau berjanji akan mencintaiku dan membahagiakanku”
“jika saja aku bahagia tanpamu apa kau akan melepaskan ku?”
“ck, mustahil. Kau begitu bahagia bersamaku.”
“tidak ada yang mustahil bagi tuhan”
“a apa maksudmu?”
“ayo kita,, berpisah saja.”
-Jiyeon POV-
DEG!
Aku terdiam. Masih berusaha mencerna setiap perkataan yang ia ucapkan kepadaku.
“a apa y yang kau katakan hae?” tanyaku bingung.
“ji-ah, aku… sebaiknya kita berakhir disini” ucapnya pelan.
Sebuah tombak sukses menancap didadaku. Sakit. Ujung tajamnya menggores bagian dalamku dengan begitu hebatnya. Tubuhku bergetar. Kata-kata itu adalah apa yang selama ini ia hindari. Sejauh yang pernah ia katakan padaku.
Aku mencoba mencari sebuah kebohongan. Melihat layar ponsel dan berharap bahwa saat ini adalah april mop lalu ia akan berteriak ‘kau kena!!’ atau mungkin saja ini adalah hari ulang tahunku dan teman-teman yang lain akan datang melempariku dengan sekotak kue dan menceburkanku kelaut. Tapi sialnya tidak! Ini bukan lelucon.
“k kau ingin mengatakan bahwa rasamu telah berubah?” tanyaku. Cairan bening itu telah menumpuk disekitar bola mataku, memaksa turun tetapi sekuat tenaga aku menahannya.
“tidak. Dari dulu, rasaku tidak pernah berubah untukmu. Aku sangat menyayangimu. Bahkan aku mengganggapmu sebagai adikku sendiri” tuturnya.
Adik? Adik apa?! Aku berstatus sebagai yeojachingunya selama dua tahun ini dan hari ini, dia berkata bahwa dia menganggapku sebagai adiknya? Lelucon macam apa ini? seketika itu juga emosiku menguar padanya.
“kau ingat dua tahun lalu? Disini? Aku berkata__”
“maukah kau menjadi satu-satunya yeojaku? Seseorang yang aku sayangi, menemani hariku. Aku berjanji untuk mencintamu dan membahagiakanmu sampai kapanpun” aku mengulang kata-kata panjang yang ia ucapkan padaku dua tahun lalu. Tepat di kursi ini.
“tidak. Kau keliru ji-ah. Kau keliru dalam menyimpan memori itu. kau tidak benar-benar mengingatnya dengan baik” tuturnya. Lalu? Apa jika aku dapat mengingatnya dengan baik hal ini tidak akan terjadi? Begitu?
“jadi hanya karena hal ini kau__”
“tidak. Tidak sama sekali.”
“lalu mengapa__”
“kau tau ji-ah, kita telah dijodohkan?” apa? Lelucon lagi? Argh!! Jantungku benar-benar seperti akan keluar mendengar penuturannya.
“omong kosong!”
“ya, anggap saja begitu. Lalu jika benar, kau akan melakukan apa?” tanyanya. Ada apa dengan namja ini? Mengapa semua yang dikatakannya seperti tidak penting sekali?!
“tentu saja aku menerimanya. Jika memang benar, bahkan eomma sudah mengenalmu” tuturku.
“benar. Tapi aku akan menolaknya”
DEG!
Sakit. Sakit sekali. Aku pernah berkali-kali bertengkar dengannya, bahkan pernah dengan terpaksa aku membiarkan selang infus memasuki pergelangan tanganku ketika aku menolak untuk makan saat bertengkar dengannya. Tapi rasanya tidak sesakit ini. Mendengar jawabannya..
“hae..” aku menatapnya seperti seseorang yang meminta belas kasih.
“aku berjanji akan mencintaimu dan membahagiakanmu. Itulah janjiku saat itu” semua ucapannya semakin membuatku tak mengerti.
“katakan! Katakan apa yang ingin kau katakan!” ucapku jengah. Aku mulai bosan dengan ini.
“kita telah dijodohkan. Tepat tiga tahun yang lalu. Saat perusahaan appamu dan appaku menjalin hubungan kerjasama perusahaan yang baik. Mereka menjodohkan kita namun tidak memberitaukan apapun pada kita. ani! Maksudku,, padamu. Eomma memberitauku tepat setelah perjodohan itu diikat. Eomma memintaku untuk mencintaimu dan membuatmu juga mencintaiku. Ya, seperti yang kau tau. Aku berusaha selama hampir satu tahun dan lalu mendapatkanmu. Aku berjanji akan mencintaimu karena aku begitu mencintai eomma dan appa. Aku tidak bisa menolak permintaan mereka. Aku mencoba, berusaha semampuku untuk mencintaimu. Tapi,,, aku tidak bisa ji-ah.” Aku menetaskan buliran air mataku yang sejak awal telah kutahan mati-matian. Dapat kulihat juga air mata menggenang dipelupuk matanya. Hei, untuk apa dia menangis? Bukankah yang tersakiti disini adalah aku?
“aku benar-benar tidak bisa meskipun aku telah mencoba sejauh ini. Dua tahun, menghadapi segala pertengkaran dan tawa bersamamu. Aku telah memaksakan hatiku untuk hanya memandangmu. Tapi,, aku tidak bisa. aku benar-benar tidak bisa.”
“kau berkata bahwa eommamu mengenalku bukan? Ya, mereka memang mengenalku dengan baik. Sebagai pasangan dari putri mereka kelak. Apa kau pernah berfikir mengapa eommamu begitu menyukaiku? Membiarkanmu selalu bersamaku? Mempercayaiku? Itu semua karena mereka telah mengenalku. Jauh sebelum kau memperkenalkanku kepada mereka.” Aku kembali tertohok. Mencerna beberapa kata yang begitu menusukku.
“jadi, ini semua adalah kebohongan? Selama dua tahun ini?” tanyaku dingin. Aku begitu terpukul dengan segala kenyataan ini. Mereka. Eomma, appa, donghae. Mereka membohongiku? Ada apa ini?!
“maafkan aku ji-ya”
“kenapa? kenapa kau membohongiku? kenapa tidak dari awal saja kau menolak semua ini?!” teriakku. Aku benar-benar frustasi. Tidak ada hal yang lebih menyakitkan daripada ini. Semua orang yang kau sayangi menghianatimu. Dan untuk pertama kalinya aku berteriak begitu keras padanya.
“aku begitu mencintai eomma, aku tidak bisa menolaknya” ia menatapku nanar.
“lalu kau membahagiakan eommamu dengan mengorbankan perasaanku?”
“bukan begitu ji-ya, aku__”
“aku mempercayaimu karena kau berjanji akan mencintaiku. Dua tahun, dua tahun aku dengan begitu bodohnya menyerahkan perasaanku padamu. kau tau, kurasa kau telah sukses membuatku bahagia selama ini. Haruskah aku berterimakasih? Atas kebahagiaan yang selama ini kau berikan? Atau atas perlakuanmu yang telah menyakitiku? Untuk kedua kalinya, aku tertipu oleh makhluk menjijikkan seperti kalian. Apa kalian tidak mengerti bagaimana perasaanku?!!” aku berteriak sekuat yang kubisa. Deburan ombak tak membuat suaraku tertelan oleh gaungannya. Air mataku mengalir begitu deras. Sakit sekali rasanya.
“kau tidak mengerti ji-ya. Kau tidak__”
“aku mengerti. Aku yang paling mengerti. Dan kau, bisakah kau hapus air matamu itu? heii, aku yang tersakiti disini!”
“aku mohon ji-ya, jaga emosimu. Ini tidak akan baik untukmu.”
“berhenti memberikanku perhatianmu! Aku muak!! Aku muak mendengarnya”
“aku menyayangimu”
“tentu saja. Sebagai adik? Benar sekali. Aku juga menyayangimu oppa!” ujarku segera berdiri dan beranjak dari tempat itu. tempat yang dulu menyimpan kenangan begitu manis bagiku. Tempat aku memulai segalanya dengan orang yang sampai saat ini bahkan masih kucintai.
“kau mau kemana?”
“bukan urusanmu”
“kumohon, bisakah kita bicarakan ini baik-baik? Aku benar-benar minta maaf” ujarnya setelah menahan pergelangan tanganku. Aku memutar tubuhku kearahnya.
“katakan. Katakan semuanya!” tuturku cepat. Membuatnya menghela nafas frustasi.
“aku menyayangimu. Sejak pertama kita bertemu. Sejak aku berusaha untuk mendapatkanmu. Semua sikap manja dan perhatianmu. Ku akui aku begitu menyayangimu. Tapi bisakah kita hanya seperti sahabat?” tuturnya panjang.
Aku mendecak pelan didepannya. Sungguh alasan yang begitu klise. Ketika seseorang berkata ia begitu mencintaimu namun hanya meminta untuk bersahabat, apa yang akan kalian lakukan? Menamparnya? Oh tentu saja! Aku ingin. Tapi perasaanku seolah berkata jika aku tidak berhak sedikitpun untuk menyentuhnya lagi.
“kau tau ji-ya, aku kehilangan gadis-ku setelah berusaha mendapatkanmu. Dan hingga saat ini begitu sulit bagiku untuk menggantikan posisinya denganmu” aku membulatkan kedua mataku maksimal.
“maksudmu,, aku yang menghancurkan kehidupanmu? Begitu? Apa kau tau bagaimana hancurnya hatiku? Apa kau tau bagaimana aku harus bersikap saat ini? Apa kau tau aku___”
“dengarkan aku park ji yeon!!” teriaknya keras melawan suaraku yang juga semakin mengeras.
“bagus. Bahkan saat ini kau memanggil namaku dengan begitu lengkap. Baiklah, Lee Dong Hae!” tegasku. Tepat setelah itu aku segera berbalik, berjalan pergi.
“ini keputusan terbaik. Aku tak ingin terus menyakitimu dengan kebohongan ini”
“kau telah melakukannya tuan lee!”
“aku tengah berusaha. Percayalah ji-ya, ini demi kebahagiaanmu. Ada seorang yang begitu mencintaimu diluar sana. Bisakah kau berjanji untuk bahagia tanpaku?” ujarnya. Cih, brengsek!
“aku telah mencobanya semenjak kau berusaha untuk melepaskanku” air mataku semakin tak terkendali. Meskipun aku telah mencoba untuk membuat suaraku senormal mungkin.
“aku,, akan pergi” seketika aku menghentikan langkah kakiku. “hyung memintaku melanjutkan pendidikanku di new york.” Tes! Tes! Tes! Air mataku. Suaraku. Hatiku. Semuanya seperti mencelos menuju tanah. Hilang. Nyawaku seperti hilang.
“aku ingin kau melupakanku. Aku,, tidak ingin menyakitimu lebih dalam lagi. aku memang brengsek. Ya aku tau itu. Tapi,, bisakah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya?” ucapnya bergetar.
Aku hanya mampu terdiam ditempatku berdiri. Tak lama kurasakan tangan kekarnya melingkar di bahuku. Ia memelukku begitu erat. Air mataku kembali berjatuhan. Tak dapat kutahan isakan kecil mengiring pertemuan terakhir ini. Tak lama ia melonggarkan pelukannya.
“terima kasih ji-ah” ucapnya.
Kukepal erat kelima jariku. Kugigit bibir bawahku. Sebisa mungkin tak mengeluarkan kelemahanku didepannya. Meskipun begitu sakit dan terluka. Aku,, aku masih mencintainya. Kukuatkan hatiku untuk melepaskannya. Lee dong hae.
“selamat tinggal” ucapku lalu berlalu begitu cepat meninggalkan pantai ini dan segala kenangan pahit hari ini.
Aku berlari dan terus berlari hingga aku terjatuh dibawah sebuah pohon kelapa tua. Aku meringkuk, memeluk kedua lututku erat. Mengepalkan kedua tanganku hingga buku-buku jariku terlihat mulai memutih dan terasa kebas. Menahan segala desakan air mata yang kali ini begitu mengendalikanku.
‘Aku membutuhkanmu hae. Kenapa harus seperti ini?’ batinku. Aku benar-benar tidak tahan aku segera berlari menuju pinggiran jalan dan memberhentikan sebuah taksi. Mengucapkan sebuah alamat yang entah mengapa terlontar begitu saja dari bibirku. Saat ini, aku begitu membutuhkan seseorang.
-Author POV-
“apa dia sudah tidur?” tanya seorang wanita tua dari arah belakang. Hyuk jae memutar arah kepalanya, melihat wanita itu sebentar lalu mengagguk. Kemudian terdengar bunyi seperti pintu yang tertutup.
Ya, ia menghubungi bibi han dan memintanya untuk datang tepat setelah yeoja itu menceritakan segalanya. Ia menghabiskan begitu banyak air mata dan pada akhirnya ia hanya ingin berhenti menangis jika berada didekat hyuk jae.
Ya, yeoja itu menyandarkan kepalanya pada bahu hyuk dan memeluk pinggang namja itu diatas balkon ruang tamu hyuk jae. dan hyuk jae, perasaan kecewa begitu kentara dalam hatinya. Ia tidak menyangka bahwa lee dong hae akan melakukan hal seperti ini. Ini sungguh jauh diluar perkiraannya.
Hyuk jae melingkarkan tangannya pada bahu yeoja itu dan sesekali mengelusnya. Menghantarkan sugesti ketenangan pada ji yeon. Tak lama setelah itu ji yeon tertidur dalam pelukan hyuk jae.
Namja itu lalu mengangkatnya perlahan. Menidurkannya pada ranjang king size miliknya. Lalu meminta bibi han untuk menggantikan pakaian ji yeon. Dan disinilah hyuk jae, duduk di tepian ranjangnya memandang yeoja yang saat ini terlihat begitu kusut.
Guratan lelah terpancar begitu nyata dari wajah manisnya. Matanya yang membengkak dan pipi tirusnya yang terasa dingin. Ia seperti begitu menderita dengan semua ini. Hyuk jae hanya mampu melihatnya. Ia tidak begitu berani untuk menyentuh yeoja itu.
Ji yeon baru saja tersakiti dan hyuk jae tak ingin menambah beban padanya. Hyuk menarik ujung selimut dan menutupi tubuh yeoja itu. tangannya terhenti ketika ia melihat goresan luka pada lututnya.
Ji yeon, mengeluarkan darah pada lututnya. Membuat hyuk jae kembali merasakan kekecewaan yang saat ini entah kepada siapa harus ia lampiaskan. Ia telah meminta bibi han menghubungi kedua orang tua ji yeon. Sepertinya yeoja itu tidak perlu datang ke sekolah besok. Ia terlalu rapuh untuk menghadapi dunia luar.
Hyuk jae segera mengambil krim oles pada kotak obat di ujung kamarnya. Mengoleskan cairan dingin itu sebentar bahkan meniupnya agar lebih cepat kering. Lalu kembali menyelimuti ji yeon. Ia berdiri dan memandang ji yeon sejenak lalu berjalan menuju ke arah luar.

-Hyukjae POV-
“begitu?”
Aku mengangguk pelan. Menundukkan kepalaku dalam setelah menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada bibi han.
“kau tau letak kesalahanmu?” tanya bibi han lembut.
“ne”
“kenapa kau melakukannya?”
“bi, aku.. aku mencintainya sejak bertahun-tahun yang lalu” jujurku penuh penyesalan.
“lalu mereka?”
“mereka menjalin hubungan dua tahun yang lalu”
“dan apa dengan begitu kau merasa lebih berhak atas ji yeon?”
Aku terdiam. Benar, aku memang tidak memiliki hak apapun atas yeoja itu. dulu, saat ini dan mungkin sampai kapanpun tidak. Aku menggeleng pelan.
“kenapa tidak kau coba untuk melupakannya?”
“sudah bi, berkali-kali aku berusaha untuk menghapusnya dari duniaku, berusaha untuk mencintai yeoja lain tapi__”
“tidak bisa? kau terlalu mencintainya?” potong bibi han cepat. Dan sekali lagi, aku kembali mengangguk.
“lalu untuk apa kau bersahabat dengan lee donghae?”
Kutatap bibi han yang memandangiku dengan lembut. Aku menyerah, kurasa apapun alasan yang kumiliki tetap akan berujung salah. Aku kembali mengingat donghae dan raut wajah kecewanya padaku beberapa hari yang lalu. mengingat kebersamaanku dengannya dan sifatnya yang meskipun kekanakan namun tetap selalu bisa mengerti bagaimana keadaanku selama ini.
“aku nyaman bersamanya bi, dia.. dia adalah orang yang paling mengerti bagaimana keadaanku” kudengar bibi han mendesah pelan. Ia memposisikan duduknya pada sofa yang sama dan menyentuh pundakku.
“dengar hyuk, memang benar jika orang-orang mengatakan bahwa cinta tidak pernah salah. Kau, tidak pernah salah akan cintamu padanya. Tapi..” aku memandang bibi han yang terdiam sejenak.
“kau salah telah membiarkan cinta itu tumbuh hingga kau melupakan dunia nyatamu. Karena cinta menjadi berbeda ketika mereka mengendalikanmu” sambungnya.
“tapi bi,,”
“jika suatu ketika sebuah rumput tumbuh dihalaman rumahmu, itu bukan salahmu. Tapi kesalahanmu adalah tetap membiarkannya tumbuh dan berkembang hingga menjadi pengganggu” aku terdiam.
“aku, selalu mendukungmu. Siapa dan gadis manapun yang kau pilih, aku akan tetap mendukungmu. Tapi ingat hyuk, ketika kau mendapatkan sebuah kebahagiaan dengan merebut kebahagiaan orang lain, itu tidak benar”
“apa kau tau bagaimana rasanya jika kau berada dalam posisi donghae saat ini? mengapa kau tidak memilih untuk menjauh darinya jika memang kau tidak dapat melupakan yeojanya? kau salah satu yang memiliki andil besar dalam masalah ini.” bibi han mengusap punggungku pelan mengetahui nafas beratku karena beban yang beberapa hari ini kupikul.
“kau, sahabat terbaiknya. Dan kau harus memilih. Jangan biarkan orang-orang tersakiti hanya karna sebuah keegoisan. Terkadang, menjadi dewasa dapat diukur dari sebuah bentuk pengorbanan”
Aku menunduk mendengarkan setiap perkataan bibi han. Kepalaku kembali terasa berat dengan segala kenyataan bahwa aku salah selama ini.
“aku senang kau tumbuh dewasa dengan cara seperti ini. selesaikan masalahmu dengan kepala dingin. kau sedang di uji untuk menyikapi masalahmu sendiri. Dan kedewasaanmu akan ditentukan dari sebuah hasil.”
Aku mendengar suara gaduh dari arah belakang. Kemudian kulihat bibi han berdiri dan menepuk pundakku sebelum beranjak menuju kasur.
“ini,, salahku? Karena membiarkan cintaku tumbuh semakin besar padamu?”
Aku meremas keras rambutku. Menyadari jika semua ini tak lepas dari campur tanganku dan perasaanku.
“ini, berikan ini padanya”
Tak beberapa lama bibi han kembali datang dan membawa semangkuk bubur buatannya. Aku mengambilnya dan berjalan menuju kamarku.
Cklekk
“masih tertidur” gumamku ketika kutemukan ia masih terlelap di atas ranjangku. Kuletakkan mangkuk bubur buatan bibi diatas meja ranjang.
Kutatap wajah miliknya yang entah mengapa sepertinya akan kurindukan. Setelah menceritakan segalanya pada bibi han aku merasa harus memutuskan satu hal yang mungkin akan membuat segalanya lebih baik.
“mainhae, aku menyakitimu”
Kujulurkan tanganku menuju pipi tirusnya. Namun segera kuhentikan sebelum sempat aku menyentuhnya. Sekelebat bayangan donghae melintas begitu saja dalam fikiranku.
“aku.. tidak berhak” desahku. Kujulurkan tanganku hingga akhirnya hanya mengelus pelan rambut tebal miliknya.
“jallja”
Aku berjalan menuju pintu dengan beribu rasa yang berkecamuk didalam hatiku. Pilihanku. Kenyataan bahwa donghae dan ji yeon …
Aku menutup pintu setelah berganti pakaian dan memakai sebuah sweater tipis. kusambar kunci mobil kesayanganku dan berjalan menuju pintu apartemen.

-Author POV-
“kau mau kemana?” tanya bibi han tepat setelah hyuk jae menutup pelan pintu kamarnya.
Ia tak ingin membangunkan yeoja itu. bibi han tampak sudah bersiap-siap untuk tidur karena seluruh ruangan telah terlihat rapi dan tertata kembali.
“aku ingin keluar sebentar bi. Bisakah bibi membantuku menjaga ji yeon?” tutur hyuk. Ia melihat senyuman pada wajah wanita itu.
“jangan ikuti emosimu” ujar wanita tua itu.
“selesaikan masalahmu dengan baik” sambungnya.
Ia memegang halus pipi hyuk jae dan memutar tubuhnya memasuki ruang kamar didepannya. Hyuk jae mengangguk pelan sebelum kembali berjalan menuju lobby bawah.
__
Hyuk jae melajukan audi putihnya menuju sebuah alamat. Ya, rumah kediaman lee dong hae. Ia telah memikirkan segalanya. Perbuatannya selama ini, keputusan yang baru saja ia ambil dan resiko yang nantinya akan ia terima. Hyuk jae sudah memikirkan semuanya.
Ia memasuki gerbang rumah donghae dan memarkirkan kendaraannya didekat teras tamu. Tidak begitu memperdulikan pos keamanan di gerbang depan. Hyuk jae berjalan keluar dari mobilnya dan segera menuju pintu masuk yang bisa dikatakan cukup mewah.
Pintu besar dan tinggi dengan bahan kayu yang sangat kuat dan ukiran serla lapisan perak dan berbagai macamnya. Hyuk jae tetap tidak perduli. Toh, seluruh penjaga rumah telah mengenalnya.
Ia segera memasuki rumah tersebut dan tak lama kemudian datang seorang ahjumma yang sepertinya adalah salah satu pelayan rumah donghae.
“aku ingin mencari dong hae, apa dia dirumah bi?” tanya hyuk begitu sopan.
Ya, dia bukannya sedang emosi. Bukannya bibi han telah mengingatkannya akan ‘emosi’ tadi? Dia hanya ingin secepatnya tau apa tujuan namja bernama lee dong hae itu untuk memutuskan park ji yeon. Itu saja.
“ada tuan, sebentar saya panggilkan” ujarnya lalu dibalas oleh anggukan dari hyuk jae.
Bibi itu tampak menaiki lantai dua, tempat kamar donghae berada. Jika tidak mengingat bagaimana kejadian beberapa waktu yang lalu maka dengan tidak sungkannya ia akan berjalan menuju lantai dua.
Membuka pintu kamar donghae, menghempaskan dirinya pada kasur kamar itu dan sesekali ikut bermain game dengannya. Tapi itu dulu, sebelum donghae memergoki kamar belajarnya yang penuh dengan foto ji yeon.
Tak lama kemudian terdengar suara hentakan kaki.
“sebentar tuan, tuan donghae sedang bersiap-siap” ujar bibi itu dan kemudian berbalik menuju arah belakang.
Sepi. Tiba-tiba ruang tengah rumah ini terasa sangat sepi. Hyuk jae mendongakkan wajahnya ketika ia mendengar derap langkah kaki seseorang menuruni tangga. Disana terlihatlah sesosok lee dong hae.
Hyuk jae menatapnya datar. Ada yang aneh disini. Donghae berjalan cepat dan ia datang menghampiri hyuk jae dengan tersenyum riang. Senyuman yang selalu ia tunjukkan setiap harinya pada hyuk jae.
“hyuk jae-ah. Lama tidak bertemu” ia merentangkan kedua tangannya dan memeluk hyuk jae erat.
“hmm, aku merindukanmu” sambungnya. Hyuk jae tertegun melihat reaksi donghae padanya.
“jangan bergurau hae, aku tau persis kau mengerti maksud kedatanganku” ujar hyuk namun tidak sedikitpun melepaskan pelukan dong hae.
Ya, ia juga merindukan namja itu. Sahabatnya. Namun ini terlihat seperti sebuah sandiwara besar yang tengah ia lakukan.
Bagaimana bisa namja itu memeluknya setelah empat hari yang lalu ia memergoki ruang belajar hyuk jae yang penuh dengan foto yeojanya lalu saat ini dengan ceria tersenyum kepada hyuk. Seperti tidak terjadi apapun.
“apa? Aku tidak mengerti.” Ucapnya polos lalu melepaskan pelukannya. Ia berjalan menuju sebuah sofa dan duduk pada tangan sofa tersebut sambil menyilangkan kedua kakinya.
“hae.. mengapa kau meninggalkannya?” tanya hyuk jae langsung. Donghae terlihat tersenyum sebelum menjawab pertanyaan itu.
“ahh,, kau sudah tau? aigo,, bukankah ini terlalu cepat? Ck, ada apa dengan kalian?” ujarnya setelah tersenyum sinis.
Hyuk jae hanya mampu mengepalkan tangannya menahan emosi. Ia tidak boleh tersulut emosi seperti ini. ingat nasihat bibi han, ia harus menyelesaikan masalah ini dengan sebaik mungkin.
“hae..” ucapnya tertahan.
“dia telah menceritakannya padamu? apa dia menangis dalam pelukanmu dan kau menenangkannya dengan baik? Seperti cerita dalam sebuah drama bukan?” tutur donghae kembali. hyuk jae masih mampu menahan emosinya.
“kenapa hae?” tanya hyuk jae lagi.
“mengapa kau sangat ingin tau?” donghae masih duduk disana. Mengeluarkan berbagai ekspresi yang tidak dapat ditebak samasekali oleh hyuk jae.
“aku tidak ingin menyakitimu” hyuk jae mengeluarkan suara beratnya.
“begitukah?”
Hyuk jae mengepalkan kedua tangannya. Berbagai pertanyaan yang donghae tujukan padanya seperti sebuah pertanyaan introgasi dan jelas sekali bahwa ia adalah pihak yang sangat bersalah disini.
Donghae berbicara dengan nada yang sangat menekankan bahwa ‘bukankah-kau-telah-menyakitkiku-bahkan-sangat-dalam?’ dan itu membuat hyuk jae merasa semakin gusar.
“lee dong hae…” Suaranya semakin terdengar berat, pertanda ia telah mulai tersulut emosi.
Donghae yang mendengar namja itu bersikeras ingin tau kembali tersenyum miring. Ia berdiri dari duduknya, menyembunyikan kedua tangannya pada saku celana dan berjalan mendekati hyuk jae.
“eumm,, aku bosan” tuturnya tepat disamping telinga hyuk. Lalu ia berjalan menuju sofa di belakang hyuk jae. Membuat hyuk semakin mengepalkan erat kelima jarinya.
“hae,, jika ini mengenai kejadian hari itu aku__”
“tidak.tidak. aku bosan. Hanya itu” jawabnya cepat.
Donghae mengeluarkan suara tinggi namun datar miliknya. Berkata seolah-olah menyiratkan ‘benar-kejadian-itu-adalah-pemicu-semua-ini’, dan hyuk jae sekali lagi hanya mampu terdiam.
“……”
“kau tau, eum,, dia terlalu manja dan bersikap semaunya. Aku bosan. Bosan. aku ingin mencari yeoja baru saja” ucapnya.
Berkali kali donghae menekankan kata bosan dengan ekspresi yang mampu membuat emosi hyuk jae tersulut. Namja yang sejak tadi sukses menahan emosinya itu kini berjalan menuju donghae dan menggenggam kerah bajunya kuat.
“kau,, jangan main-main!” ucap hyuk jae tersengal.
Emosinya benar-benar sudah tidak terbendung lagi. namun donghae tidak merasa takut sedikitpun. Ia tersenyum manis kepada hyuk jae meskipun kondisinya sangat berbahaya saat ini.
“aku benci gadis kekanakan”
BUGH!
Tepat setelah donghae mengatakan kalimat terakhirnya hyuk jae melayangkan sebuah pukulan pada wajah donghae. Membuat namja itu tersungkur. Dan darah segar mengalir dari ujung bibir tipisnya.
Hyuk jae masih berdiri. Mengatur nafasnya yang semakin tersengal. Memperhatikan namja yang masih saja tersenyum itu. donghae mengusap pelan luka di ujung bibirnya lalu tersenyum miring melihat hyuk jae.
“lakukan sesukamu. Kebetulan sekali eomma dan hyung sedang berada di tokyo” ucapnya sambil meringis menahan sakit dibibirnya. Ia tetap saja tersenyum meskipun sebelah bibirnya terasa begitu perih.
“baguslah” ucap hyuk sembari berjalan menuju donghae. Ia berjongkok lalu sekali lagi..
BUGH! BUGH!

-TBC-

With Love, Park Ji Yeon

2 thoughts on “Our Love Story part 7

  1. deerfishymonkey says:

    Si dongek tega amat yah.. kasian jiyeon tapi kesempatan nih buat hyukjae..

  2. BebyPanda says:

    , Knapa jd brkelahi sich..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s