Our Love Story part 6

1~4

Judul         : our love story[part 6]

Author      : HyukgumSmile

Genre        : romance

Rating       : general

Main Cast  : lee hyuk jae, park ji yeon

Other Cast : lee dong hae, etc.

 

 

-Hyuk jae POV-

“dia milikku tuan lee hyuk jae”

“hae bisakah kau mendengarkan penjelasanku? Aku..”

“tidak bisa! bagiku semua telah cukup. Cukup. Lee hyuk jae-ssi. Nae kka!”

“hae,, hae tunggu..”

“…..”

“hae. Hae tolong dengarkan aku hae”

“DONGHAE!!!”

Aku terbangun dari mimpi burukku. Pertengkaran hebat bersama lee donghae, kepergiannya, tatapan kebenciannya. Bahkan ia tidak memberikanku kesempatan untuk berbicara. Sebegitu bencikah dia padaku?

Aku segera menyambar segelas air putih dipinggiran ranjang, menyeruputnya tanpa bernafas hingga tertinggal setengah bagian. Keringat dingin mengalir dari seluruh tubuhku. Tanganku refleks memegangi dada kiri atasku yang terasa begitu tak beraturan. Aah, semua ini semakin membuatku kacau.

“donghae-ah..” kata itu terlontar begitu saja dari bibirku. Nampak jelas jika tuhan tengah menunjukkan betapa aku telah berbuat kesalahan yang begitu besar.

Aku beranjak dari ranjangku dan berjalan menuju kamar mandi. Mencuci wajahku dengan sabun dan mengeringkannya. Aku merasa perutku sudah saatnya untuk diisi. Kumatikan keran air dan berjalan menuju pintu. Aku dapat melihat makan siangku yang telah mendingin di atas meja makan.

Ya, bibi han tetap bersikeras memintaku untuk makan meskipun hanya sedikit. dan lihatlah apa yang telah aku lakukan? Menelantarkan makanan yang dengan susah payah telah dibuatkan oleh bibi untukku? ‘Baiklah, ini saatnya makan’ batinku.

__

Setelah merasa cukup kenyang aku menaruh piring yang masih terisi setengahnya itu di wastafel dan berniat untuk kembali melanjutkan istirahatku.

Ting.. Tung..

Kudengar bunyi bell dari arah pintu masuk. Ku urungkan niatku untuk memasuki kamar dan segera berjalan menuju intercom rumah.

“siapa?” tanyaku tanpa memperhatikan monitor intercom.

“ini aku hyuk, bisa kau bukakan pintumu?”

Tanpa melihat wajahnya saja aku telah tau jika itu adalah jiyeon. Aku segera memutar kepalaku dan melihatnya tengah menunduk berada sedikit jauh dari camera luar. Aku menekan beberapa kombinasi password untuk membuka pintu apartemen ini. Dan,

Cklek..

Tak lama kemudian kudengar decitan suara pintu tertutup. Indra pendengaranku menangkap sebuah suara gaduh, seperti hentakan kaki namun begitu cepat. Aku berjalan mendekati pintu dan disaat itu pula seorang yeoja datang memelukku begitu erat.

Ia menautkan lengannya pada bahuku. Memaksaku untuk sedikit menunduk. Ia terisak begitu telah mendapatkan sebuah sandaran. Dapat kurasakan kaos bahuku basah dan bahunya bergetar begitu hebat. Ia menumpukan dagunya pada bahu kananku dan terus menangis.

Bukan! Bukan perasaan berdebar yang saat ini aku rasakan. Walaupun memang jantungku kembali bekerja ekstra, tapi melihatnya menangis seperti ini membuatku tidak merasakan kebahagiaan. Justru getaran jantung ini membuatku merasakan begitu banyak kesakitan setiap isak tangisnya menggema di gendang telingaku.

Kucoba untuk merangkulnya. Memeluknya melalui punggung atasnya. Ia semakin mengeratkan pelukannya padaku. Membuatku tak dapat melakukan apapun. Biarlah seperti ini dulu..
-Ji yeon POV-

Hhh, sudah tiga hari ini donghae tidak datang. Aku terpaksa harus diantarkan oleh supir pribadi appa setiap paginya. Siang itu setelah mendapat kabar bahwa ia tidak datang, aku mengunjungi rumahnya. Tapi eommanya berkata bahwa donghae tengah pergi dan ia juga tidak tau kemana namja itu pergi.

Saat aku bertanya apa dia sakit, eommanya menjawab tidak. Membuat keningku berkerut. Jadi? Apa yang terjadi dengannya? Aku mencoba menghubunginya berkali-kali, namun semenjak saat itu ia seperti tidak dapat dihubungi sama sekali.

Beberapa waktu lalu aku bertanya pada hyuk, tapi namja itu juga menjawab sama. Ia juga mendapatkan perlakuan yang sama sepertiku dari donghae.

Sebenarnya kemana namja itu? ia terlihat seperti tengah menghadapi masalah yang begitu rumit. Menjadi begitu susah untuk ditemui. Bahkan ketika aku menghubunginya dan ia menjawab panggilanku, ia tak banyak berbicara.

Tidak kudengar kata-kata ‘aku merindukanmu’ atau ‘apa kabarmu?’ yang selalu ia ucapkan ketika tidak bertemu denganku sehari saja. Bahkan ketika aku bertanya ia berada dimana dan apa yang tengah ia lakukan saat ini ia hanya menjawab ‘aku,, hanya butuh waktu. Kau tau, aku sedikit sibuk beberapa hari ini. Nanti akan kuhubungi lagi, annyeong’.

Hanya itu. Tak ada kata-kata yang berarti. Bahkan tak terdengar lagi panggilan ‘ji-ah’ yang selalu ia gunakan untuk memanggilku. Aku benar-benar bingung dengan yang terjadi pada namja ini. Padahal semenjak kami memulai komitmen untuk bersama ia selalu memintaku untuk tidak menyembunyikan apapun darinya.

Ya, walaupun sejauh ini aku masih menghargai beberapa privasi miliknya. Aku terdiam di halaman belakang rumah ini. Angin musim semi. sekali lagi sedikit menenangkanku.

Drrt.. drrt..

Getaran ponsel memaksaku untuk membuka mata. Aku segera meraih ponselku dan meneliti nama seseorang yang ingin berbicara padaku di ujung sana. Kedua sudut bibirku tertarik begitu saja ketika mengetahui namja itu, donghae. Tengah menghubungiku.

“yeobseo?” sapaku.

“yeobseo ji-ah..” panggilnya. Ahh, panggilan itu. seperti sudah lama sekali.

“hmm”

“apa kabarmu? Apa kau baik-baik saja?” tanyanya. Aku menganggukan kepalaku kuat meskipun ia tidak akan melihatnya.

“eum. Aku baik. Bagaimana denganmu?”

Seperti telah lama saja tidak seperti ini. Padahal, sebelum empat hari ini dia selalu menghubungiku ketika aku akan tidur dan sebelum menjemputku di setiap paginya.

“aku,, sedikit tidak baik. Bisakah kita bertemu?” Ck, mengapa ia berbicara begitu datar dan seketika itu juga membuat moodku menjadi buruk?

“kau kenapa hae? Apa kau sakit?”

“tidak ji-ah, aku tidak sakit. Jadi, bagaimana? Bisakah kita bertemu?” ujarnya kembali.

Aneh. Tidak ada kata ‘kau begitu kekanakan’ darinya bahkan ketika aku meninggikan suaraku karena mencemaskannya. Apa yang akan terjadi? Mengapa perasaanku berkata seperti ada sesuatu yang sangat buruk akan terjadi? “ji-ah?” panggilnya lagi.

“eum,, Aku akan bersiap-siap” jawabku ringan.

“baiklah, 15 menit lagi aku akan menjemputmu”

“arraseo”

“itu saja, aku tutup ne? Anyyeong”

Setelah itu sambungan tertutup bahkan sebelum aku membalas salam terakhirnya. Ck, namja itu pintar sekali menjatuhkan moodku.

__

Donghae benar, ia datang tepat 15 menit setelah sambungan telepon terputus. Aku tidak menyiapkan apapun, hanya menambahkan setelan mantel hangat dan sedikit berbedak. Entahlah, aku seperti tidak bergairah untuk berdandan. Ia datang dengan baju kaos longgar dan kemeja diluarnya. Membukakanku pintu dan membawaku dalam mobilnya.

“kita akan kemana?” tanyaku.

“lihatlah nanti” ujarnya pelan. Ia mengacak rambutku, membuat tatanannya sedikit berubah.

“ya! Singkirkan tanganmu!” teriakku.

Ia tertawa pelan sebelum akhirnya mempercepat laju mobilnya. ‘ah ya, hyuk!’ aku mengeluarkan ponsel dan kemudian jemariku dengan lincahnya bergerilya disana.

__

Aku sudah menghubungi hyuk untuk membatalkan acara belajar kami siang ini. Belakangan ini aku terlalu banyak menghabiskan waktu dengannya. Dan kurasa kencan sore seperti ini akan menyenangkan. Dan disinilah kami. Lotte world.

“mengapa kemari?” tanyaku yang begitu penasaran. Aku melirik ponselku dan ini, bukan tanggal anniversary kami.

“hanya sedang ingin bermain” jawabnya singkat lalu tersenyum kepadaku dan menggenggam tanganku untuk menaiki semua wahana yang ada disini. Senyuman itu, seperti senyuman yang setiap hari selalu ia berikan.

Ya tuhan, aku menjadi begitu bersemangat karena namja ini. Aku tersenyum senang dan ikut bersamanya. Ia mengajakku berkeliling tempat ini dengan selalu menggenggam tanganku erat. Heii aku bukan anak kecil! Tapi tak apa, aku senang.

__

“AAAaa!” aku berteriak  begitu lepas saat putaran terakhir roller coaster ini berlangsung. “menyenangkan sekali!” sambungku ketika kami telah turun dari kursi penumpang.

“kau suka?” tanyanya dan kubalas dengan anggukan mantap.

“kalau begitu ayo naik lagi”

‘eoh? Naik lagi?’ aku membesarkan kedua mataku dan menahan sebelah tanganku ketika ia menarik tanganku menuju tempat penjualan tiket kembali.

“kenapa?” tanyanya. Setelah berhenti dan memandangiku dengan tatapan ‘tidak mengerti’ miliknya.

“ya! Aku haus. Aku lapar. Apa kau ingin membunuhku?” ujarku. Ia tertawa pelan.

“ya, kau sendiri yang mengatakan jika itu menyenangkan” ujarnya menunjuk permainan yang baru saja kunaiki bersamanya tadi.

“tapi,, tapi.. bukan seperti ini juga hae!”

“arraseo, ayo duduk disana. Kita makan es krim”bujuknya. Aku mengeluarkan tatapan berbinah milikku.

“assa! Kajja!” lalu menarik tangannya menuju bangku taman.

Ia pergi sebentar menuju tempat penjualan es krim. Aku melirik pergelangan tanganku dan menemukan pukul 03.30 pm disana. Aku kembali bersantai dan memejamkan mataku.

Beberapa memori dua tahun yang lalu kembali terlintas dalam pikiranku. Lalu aku membuka mataku  perlahan. “benar, sudah lama tidak ketempat ini” ujarku.

Beberapa saat kemudian dapat kulihat donghae datang membawa dua cup sedang es krim. Whoa,, dia tau sekali. Aku segera menyambar es krim rasa kesukaanku, strawberry.

Sesekali aku berbincang dengannya dan tertawa pelan. Bahkan terkadang aku tertawa dengan begitu lepas, membuatnya memandang sekeliling lalu membungkuk meminta maaf karena beberapa orang yang merasa terganggu dengan aktivitasku ini. Kami menceritakan segala yang kami ingat saat disini sembari menghabiskan semangkuk es krim.

-Donghae POV-

Dia menghabisakan semangkuk porsi es krim kesukaannya itu dengan lahap, membuat sudut-sudut bibirnya terhiasi lelehan es krim yang justru membuatnya terlihat lebih manis.

“pelan-pelan saja” tuturku. Ia memandangiku sejenak sebelum kembali menyesap es krim miliknya.

“kau ingin aku pelan seperti apa lagi?” ujarnya dengan nada jengah “aku ingin makan es krim, bukan meminum cairannya” jelasnya padaku.

Aku tersenyum memandanginya. Ck, sifat kekanakannya tidak pernah hilang meskipun kosa kata dan caranya berbicara terlihat semakin bagus.

“tapi kau terlihat aneh”

“eung? Aneh apa?” ia mengangkat kepalanya dan menatapku bingung.

“lihat saja! Kau. tujuhbelas tahun. es krim. Dan berantakan” ujarku pelan.

Aku melayangkan ibu jariku menuju sudut bibirnya. Menyapu sisa es krim yang masih terasa dingin itu dari bibir tipisnya.

“bagaimana jika ada namja tampan yang melihatmu” ujarku menggoda.

“aku tidak memerlukan mereka lagi” jawabnya cepat.

“wae?”

“untuk apa? Aku sudah memilikimu dan kurasa itu cukup untuk saat ini” sambungnya dengan ekspresi yang… genit.

“m mwo? Untuk saat ini?”

“mm!” dia mengangguk pasti.

“ya! Jadi jika kau sudah merasa kurang kau akan berselingkuh, begitu?” tanyaku sedikit meninggikan nada bicaraku padanya.

“anio,, bahasamu sangat frontal. Aku hanya akan mencari namja lain untuk beberapa waktu lalu akan kembali lagi padamu.” ucapnya pasti.

“lain kali gunakan bahasa yang lebih baik, arraseo?!” ia menepuk sebelah pipiku sebelum usadari ia telah berdiri.

“ayo main lagi!”

__

Aigo,, bagaimana bisa yeoja dengan porsi tubuh seperti itu menarikku kuat seperti ini. Setelah menghabiskan cup es krim milikinya ia menarikku dengan setengah berlari menuju..

“MWO?! APA INI? AKU TIDAK MAU!!” aku mundur selangkah melihatnya membawaku menuju sebuah ‘ghost house’

“ayolah hae, sepertinya menyenangkan” ia kembali menarik sebelah tanganku namun segera kutahan.

“shirro!” tolakku.

“ayolah hae, kajja!”

“aku bilang tidak berarti tidak” aku mundur selangkah lagi dan menjauhinya. Dapat kulihat wajah memerah miliknya, sepertinya dia kesal. Tapi, siapa yang ingin dibawa ketempat seperti ini, huh?

“ayolah oppa, ayo”

“iya tunggu sebentar chagi..”

Sayup kudengar suara sepasang kekasih disampingku. Oh, ayolah. Baiklah, benar! Aku yang takut! Apa kalian puas? Aku tidak bisa tersenyum manis seperti namja itu dan menurut begitu saja ketika seseorang menarikku menuju tempat menyeramkan seperti itu. ANIOO!!

“hae..”

“tidak ji-ah, aku..”

“ya kau! kenapa sangat pengecut huh? Dulu saat pertama kali membawaku ke tempat ini kau juga tidak ingin masuk. Penakut!”

Aku terdiam, melihat yeoja itu berteriak didepanku membuatku sedikit shock. Belum lagi beberapa kata yang terlontar darinya membuat nyaliku –entah mengapa- tersulut begitu saja untuk sesegera mungkin masuk kedalam.

“a apa? Pengecut?”

“ne!”

“pe na kut?”

“ne!”

“y ya! Apa katamu?”

“pengecut! Penakut! Itu lee dong hae. Dengar semua, ternyata namja ini pnmffhh”

Aku segera menutup mulutnya yang semenjak tadi sudah berkoar-koar memekikkan telinga. Omo, apa dia ingin mempermalukanku didepan semua orang?

“lephfaskan!” ujarnya dengan pelafalan yang berantakan. Wajar saja, kedua bibirnya tengah tertutup rapat oleh tanganku.

“KAU…” terlihat rona yang semakin memerah disana. Membuatku bergidik sedikit ngeri. Aigo, bisa hancur dunia jika ji yeon marah. Yeoja kekanakan sepertinya akan segera merajuk dan merutuk minta di antarkan pulang.

“mianhae, baiklah ayo masuk” ujarku akhirnya mengalah. Dan sejerus kemudian sebuah senyum mengembang dari sudut bibirnya. Ia menarik lenganku untuk berjalan mendekati meja penjualan tiket.

‘oh, lee dong hae. Kau pasti bisa”

__

“AAA!!!”

Aku membenamkan jari telunjukku semakin dalam pada lubang telinga. Aigo, kenapa jadi dia yang berteriak seperti ini? kurasa beberapa saat yang lalu dia yang bersikeras membawaku masuk.

“AAA!! Aku ingin keluar..” dia mengeratkan pelukannya pada lenganku.

Kereta ini terus saja berjalan menyusuri rumah hantu yang ternyata tidak seberapa menakutkan ini. bahkan saat ini aku tengah duduk tenang sedangkan yeoja itu.. aish, sulit sekali untuk tidak tertawa.

“cepatlah,, aku tidak ingin disini” suaranya terdengar bergetar mengingat kami baru saja masuk dan kereta ini berjalan dengan begitu pelannya.

“AAA! APA ITU!?” ia kembali berteriak dan terus saja seperti itu sepanjang perjalanan didalam permainan.

__

“jangan menangis” aku mengusap pelan rambutnya.

“aku tidak ingin kesana lagi!” pekiknya.

“bukankah kau yang menginginkannya tadi?”

“tapi fikiranku tidak semenakutkan itu” jawabnya masih terisak.

“aigo,, itu tidak seberapa seram ji-ah”

“…..”

“ayolah, jangan kekanakan” bujukku lembut.

“aku takut..” dia berkata pelan, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya masih bergetar pelan dan suara isakan kecilnya masih dapat kudengar. Aku tertawa pelan membayangkan seberapa antusiasnya ia beberapa saat yang lalu.

“arraseo, tapi itu sudah tidak ada lagi” aku menunduk dan memaksa kedua tangnnya untuk terbuka. Melihat matanya yang sembab hanya karena menangis kecil. Ya, ji yeon memang wanita yang sensitif.

Aku terdiam memperhatikan wajahnya yang sedikit memerah. Membuat debaran jantungku menjadi tidak teratur dan rasa seperti… entahlah, aku masih memikirkan sesuatu yang saat ini begitu mengganjal fikiranku.

“jangan tinggalkan aku”

DEG!

W wae? Kenapa seperti ini? kenapa…

__

Dia masih duduk dan mulai terlihat tenang, setelah aku berusaha untuk membuatnya berhenti terisak. Aku kembali membawanya menuju permainan kesukaanku.

“eoh?”

“mm, wae?”

“kau ingin naik ini?”

“ne, kau takut?”

“tidak, hanya saja…”

“hanya saja??”

“eum,, aku ingat kencan pertama kita”

Dapat kulihat semburat merah keluar dari pipi gembung miliknya. Dia menunduk sebelum akhirnya menarik lenganku menuju meja tiket.

Kami duduk pada sebuah bianglala besar yang mulai bergerak naik. Aku menolehkan wajahku pada jendela, menyapu pemandangan diluar sana yang terlihat mulai mengecil.

Ji yeon, tak jauh  berbeda denganku. Bahkan ia terlihat lebih antusias dengan keadaan ini. aku terdiam sejenak, entah mengapa perasaan itu masih saja berkeliaran dalam hatiku.

Fikiranku melayang pada masa-masa sebelum aku dan ji yeon bersama. Mengingat bagaimana usahaku untuk mendapatkannya dan seketika perasaanku kembali kacau.

“hae-ya” aku tersadar ketika aku merasakan sebuah goncangan pelan pada bahuku oleh ji yeon.

“apa yang kau fikirkan?” tanyanya kemudian.

“n ne? Ah, anio. Aku tidak memikirkan apapun” jawabku mencoba untuk bersikap seperti biasa.

“jinjja? Kau,, tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku?”

Aku terdiam memikirkan pertanyaannya. Sepertinya yeoja ini mulai tertular sifat hyuk jae yang senang sekali membaca fikiran orang.

“gwenchana, tidak ada apa-apa” aku menggenggam tangannya lembut dan tersenyum. Kemudian menariknya kedalam pelukanku dan meletakkan ujung daguku di kepalanya.

Hhh~ sudah lama tidak seperti ini. empat hari tidak masuk sekolah membuatku merindukan saat-saat manjanya, saat aku menggodanya dengan baik dan menimbulkan semburat merah itu pada pipinya, saat dia berbicara dengan begitu cerewet…

“hae..” panggilnya kemudian.

“hmm?”

“jika kau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja. Aku,, berjanji akan mendengarkannya dengan baik” ucapnya pelan. Aku mendesah gusar kemudian menutup mataku keras.

“ne, arraseo” hanya itu yang dapat kukatakan. Untuk saat ini berbicara terlalu banyak sepertinya akan memperburuk keadaan.

“jangan sembunyikan apapun dariku” aku semakin menggeram. Kuusap pelan rambutnya yang saat ini masih berada didalam dekapanku.

“aku harap kau masih mengingat apa yang kau katakan padaku disini, dua tahun yang lalu”

Aku menatap langit biru, mencoba mengeluarkan sesakku dan melimpahkannya pada langit luas.

-flashback-

“bukankah indah?”

“eum!”

Aku memandangi wajahnya tersenyum, membuatku mau tidak mau harus ikut tersenyum. Dan entah mengapa juga ikut merasakan kebahagiaan yang ia rasakan.

“ya, kenapa kau menatapku seperti itu?”

Aku tersentak mendapati yeija itu menatapku dengan tatapan bingung miliknya. Dia,, sangat lucu jika sedang ber ekspresi seperti itu.

“anio, hanya saja..” aku menggenggam kedua tangannya “ kau harus ingat hari ini, tempat ini, dan kencan pertama ini” dia mulai tersipu dan menunduk malu.

“kenapa harus begitu?” tanyanya pelan.

“karena disini dan saat inilah kau akan memberikan hatimu untukku” aku tersenyum mengetahui responnya yang tidak dapat mengatakan apapun. “berjanjilah untuk tidak menutupi apapun dariku. Dan aku juga berjanji tidak akan menyembunyikan apapun darimu”

-flashback end-

Ji yeon semakin memelukku erat, membuat dadaku semakin sesak. Aku memandangi rambut tebal miliknya. Memikirkan bagaimana harus mengatakan semua.

 

-Jiyeon POV-

Sore itu setelah menaiki sebuah bianglala dan kembali mengabiskan semangkuk es krim, Donghae mengajakku untuk berjalan-jalan menuju pantai. Tidak begitu jauh dari lotte world. Aku melepas alas kakiku dan berjalan disebelahnya.

Hh~ aku sangat menyukai pantai. Dan ini, sekali lagi adalah tempat pertama yang aku dan donghaae datangi bersama. Aku berjalan dan sesekali menendang kumpulan buih yang bergerombol menyerangku di tepian pantai.

Donghae menggenggam erat jemariku dan menuntunku untuk tidak bermain ombak. Sesekali aku berkejaran dengan ombak yang datang mengunjungi tepi pantai dan Donghae segera menarik tanganku. Ck, tidak bisakah jika ia tidak mengganggu? Walaupun ya, alasan yang ia gunakan sedikit masuk akal. Agar baju bawahanku tidak basah.

Baiklah, dia benar. Lagi pula ini musim semi dan aku tidak membawa satupun baju ganti. Setelah sedikit jauh dia menarikku menuju satu kursi dan duduk disana. Memandang matahari sore di musim semi, hangat.

Entah mengapa aku merasa bahwa ia berbeda hari ini. dan perasaan buruk semenjak pertama ia menghubungku tadi masih saja dapt kurasakan meskipun kami telah melewati hari yang panjang dan menyenangkan seperti ini.

Kami terdiam, tak ada satupun yang berbicara. Mata kami masih saja asik dengan warna oranye yang cantik di ujung pantai. Seperti bola bulat besar itu akan tenggelam dan menghilang didalam laut saja.

“kau ingat tempat ini?” ujarnya membuka percakapan.

“eum” kuanggukkan kepalaku pasti dan tersenyum padanya. Tapi seperti ada yang salah karena ia hanya memberikanku senyuman sekilasnya lalu mengalihkan tatapannya dariku. Ia menunduk dalam dan itu membuat perasaanku semakin tidak membaik.

“kau ingat dulu aku pernah berjanji padamu disini?” tanyanya setelah memandangi laut didepan kami sebentar.

“ya, kau berjanji akan mencintaiku dan membahagiakanku” ucapku. Masih kuingat dengan begitu jelas janjinya itu. Dan lagi, ia hanya tersenyum simpul dan kembali memandangi lautan.

“jika saja aku bahagia tanpamu apa kau akan melepaskan ku?” ujarnya.

DEG!

A apa yang dia bicarakan? Ck, mana mungkin seperti itu? aish, apa dia sedang berusaha untuk mempermainkanku? Dasar kau lee dong hae!

“ck,  mustahil. Kau begitu bahagia bersamaku.” Ujarku mencibirnya. Aku mencoba untuk tidak merasakan apapun. Bukankah memang semenjak sdua tahun yang lalu kami cukup sering berbicara serius seperti saat ini?

“tidak ada yang mustahil bagi tuhan” ujarnya kemudian. Dan perkataan itu, sukses membuatku memutar tungkai leherku menatapnya.

“a apa maksudmu?” ujarku. Benar dugaanku, ada yang tidak beres disini.

“ayo kita,, berpisah saja.”

 

-TBC-

2 thoughts on “Our Love Story part 6

  1. deerfishymonkey says:

    Donghae mutusin jiyeon demi hyukjae nih..

  2. BebyPanda says:

    , knpa abng hae lakukan itu? apa krna eunhyuk atw krna org lain?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s