Our Love Story part 5

1~4

Judul : our love story[part 5]
Author : parkJiyeon
Genre : romance
Rating : general
Main Cast : lee hyuk jae, park ji yeon
Other Cast : lee dong hae, etc.

-Hyuk jae POV-

Aku menarik selimut tebal yang semalam melingkari tubuhku begitu erat dan saat ini telah terbengkalai di sekitar pinggangku. Kenapa pagi musim semi terasa semakin dingin saja? Bahkan penghangat ruangan terasa tidak bekerja dengan baik. Kulirik sekilas jam dinding kamarku. 06.30. ah, pantas saja rasanya masih mengantuk. Aku segera menarik selimutku hingga ujungnya menyentuh hidungku. Hangat. Sedikit lebih baik memang daripada harus meringkuk demi menahan hawa menusuk ini. Aku segera menutup mataku yang masih sangat terasa berat. Mari tidur!!
__
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali saat bias-bias cahaya matahari menembus kaca jendela kamarku. Menghantarkan cahaya matahari yang penuh dengan vitamin dan menghangatkan pagiku.
“ngghh” aku menggeliat kekiri dan ke kanan untuk membiasakan tubuhku.
Ya, sudah hampir dua minggu ini aku tidak dapat menikmati acara tidur siangku. Untuk apalagi jika bukan belajar dengan ji yeon. Selain itu, aku juga harus bangun lebih pagi untuk melaporkan hasil belajarku pada kim seosaengnim. Menyebalkan.
Aku segera menatap jam dinding yang bertengger indah disana. 08.00. baiklah, lumayan untuk hari ini. Aku begitu ingin bermalas-malasan hari ini. Kebetulan sekali hari ini aku tidak memiliki janji dengan ji yeon. Ya, yeoja itu menghabisakan harinya untuk belajar dirumahku kemarin. Bukan. Bukan hingga sore, tapi malam. Gila kan? Ya, aku juga baru menyadarinya.
Yeoja itu begitu nekat karena donghae ternyata memiliki janji lain dengan siwon yang membuatnya tak dapat menemani yeoja itu. hmm, hangat. Kutorehkan pandanganku menuju jendela kamar. Ah, sudah terbuka. Itu pertanda bahwa bibi han telah datang. Kucoba untuk menajamkan indra penciumanku. Benar. Bau waffle panggang.pasti enak. Aku segera mengangkat tubuhku dari ranjang berukuran king size ini. Aku tak ingin sarapan pagiku mendingin karena kembali ku tinggali tidur. Aku berjalan menuju kamar mandi, tak lupa untuk mengambil handuk dan segera membersihkan diri. beberapa saat setelah membersihkan diri dan berganti pakaian santai, aku segera keluar dari tempat peristirahatan ini dan menuju ke arah meja makan.
Tepat sekali. Waffle panggang dengan sauce strawberry dan sweet wipped cream. Dapat ku dengar bunyi suara perutku yang sudah tidak ingin bersabar lagi. Ya, karena bibi han pulang di sore hari, maka tadi malam aku menguras otakku untuk mengerjakan beberapa soal dengan perut kosong. Bersama ji yeon tentunya.
Aku segera mengambil tempat duduk dan meletakkan sepotong waffle pada piringku. ‘Tidak bisa, ini tidak akan cukup’ batinku. Aku mengambil sepotong waffle lagi lalu menyiramnya dengan sauce strawberry dan whipped cream. Tak lama kemudian bibi han datang membawa segelas susu hangat. Hmm, bibi han benar-benar seperti eomma.
“kau sudah bangun?” tanya bibi han.
“eum” jawabku dengan mulut yang sedikit terisi.
“baiklah, aku akan membersihkan rumah. Kau makanlah yang banyak” ujarnya lagi. Aku segera menahan lengan bibi han. Yang benar saja, aku akan memakan sarapanku –yang dibuatkan oleh bibi han- sementara bibi membersihkan rumah? Namja macam apa aku ini?
“bibi temani aku makan. Bibi sudah makan?” ujarku sedikit bermanja. Ya walaupun aku tak kehilangan perhatian eomma sedikitpun, dengan adanya bibi disini setidaknya aku merasakan eomma secara visual.
“aku sudah makan, kau teruskan saja” bibi mengelus pelan ujung kepalaku. Eommaa.
“kalau begitu temani saja bi. Ayolah, hmm” aku tersenyum pada bibi. Dan ya, bibi pasti duduk. Seperti dugaanku. Ia mengacak rambutku pelan lalu mengambil tempat duduk didepanku. Aku kembali menyeruput susu hangat buatan bibi. Pagiku memang selalu terasa menyenangkan jika seperti ini.
“apa kabar ji yeon? Kalian telah berkencan” dua kalimat itu sukses membuatku membelalakkan mataku. Membuat susu hangat yang baru saja ku minum hampir menyembur jika aku tidak menahannya. Aku menekan segala apapun yang hampir keluar itu untuk tetap melewati tenggorokanku hingga lambung. Kupejam erat mataku ketika rasa sakit dan sesak disekitar leherku menyerang. “kau memang seperti bocah” ujar bibi kembali ketika baru saja aku menuntaskan satu masalahku.
“ck, bibi bertanya hal yang tidak-tidak. Sudah kubilang kami hanya belajar” kilahku yang sebenarnya sangat tidak mungkin dipercaya oleh bibi.
“benar kataku. Kau akan jadi bocah bodoh jika sudah mengenai wanita”
Ya tuhan, mengapa seolah-olah bahwa aku adalah orang idiot yang tak pernah berpacaran dan menyentuh wanita saja? Walaupun, ya memang benar. Tapi,, tak perlu ditekankan. Aku sadar, sangat sadar akan itu.
“bukankan bibi bilang harus jadi diri sendiri? Jadi, ya beginilah aku” kulihat bibi han tersenyum memandangiku. Aku tau jawabanku pasti benar.
“kau memang cerdas” ia berdiri dan mengusap kembali kepalaku. Benar kan dugaanku. “aku tidak punya waktu banyak, lanjutkan sarapanmu. Aku ingin membersihkan apartemen ini. Lihat apa yang kau lakukan tadi malam! Ya tuhan kau ini” ujarnya sembari berjalan menuju ruang tengah. Membuatku tertawa pelan. Benar-benar seperti eomma. Mengomel namun terus saja berjalan. Seperti kau berbicara namun tau yang kau bicarakan adalah hal yang kurang penting, maka kau akan melakukannya dengan diselingi aktivitas lain. Dengan perhitungan jika didengar bersyukur. jika tidak, lanjutkan aktivitasmu yang sebelumnya telah kau lakukan.
Aku kembali menjejalkan beberapa potong waffle kedalam mulutku. Waffle bibi han memang tidak pernah tertandingi oleh rasa toko manapun. Kecuali waffle eomma tentunya. Tinggal beberapa potong lagi. Hh perutku akan benar-benar bahagia pagi ini.
Drrt.. drrt..
Terasa getaran ponsel sedikit membuat piring kosongku bergeser beberapa inci. Aku segera melihat layar ponselku untuk sekedar memastikan siapa yang telah menghubungiku di pagi ini.
Incoming call: donghae
Ehh? Kenapa bocah ini menghubungiku? Jarang sekali rasanya aku berhubungan melalui komunikasi telephone seperti ini dengannya. Biasanya ia akan menghubungiku jika ia ingin aku temani untuk menghabiskan akhir pekannya.
“yeobseo?” sapaku.
“kau sudah bangun?” ‘pertanyaan bodoh’.
“kau fikir siapa yang menjawab panggilanmu? Bodoh.”
“ck, arraseo. Kau begitu sensitif setiap pagi hari”
“ya! Aku bukan wanita!”
“aku tidak bilang begitu. Aigoo,, aku ingin kerumahmu”
“aku tidak sedang dirumah.”
“assa! Aku ke apartemenmu kalau begitu”
“untuk apa? Ya! Yeobseo?!” aish, anak itu selalu saja memaksa.
Dibalik sikapnya yang selalu terlihat dewasa didepan ji yeon, sebenarnya donghae adalah bocah manja dihadapanku. Bahkan sering kali aku merasa seperti menjadi seorang hyung baginya.
Ya tuhan, mau apa dia kesini? Donghae memang telah tau alamat apartemenku semenjak dua minggu lalu. Dari siapa lagi jika bukan yeoja itu. namun ini untuk pertama kalinya ia akan berkunjung. Sebelumnya, karena aku menutupi kenyataan bahwa aku tinggal dalam sebuah apartemen, dia selalu datang kerumah appa. Ya atas permintaanku tentunya. Kami biasa berkumpul dalam kamarku, lalu dia akan menghancurkan seisi kamarku, memainkan seluruh kaset gameku, mandi disana dan tak lupa makan.
Bocah itu memang telah lama dekat dengan eomma dan appa, kecuali noona. Ia begitu membenci donghae yang selama ini hanya menambah pekerjaannya. Ya, setelah donghae pulang, maka yang akan membersihkan kamarku adalah noona. Kkk~ sebenarnya aku menyukai bagian yang itu.
Aku telah selesai dengan sarapanku. ‘kenyang sekali’ batinku. Aku segera bangkit dari tempat dudukku lalu menaruh piring kotor menuju wastafel.
Ting tung!
Terdengar suara bel dari luar. Tak lama kulihat donghae mendekat kearahku yang saat ini telah kembali berada pada meja makan.
“cepat sekali..” ujarku.
“saat menghubungimu tadi aku sudah di lobby”
“kalau begitu kenapa kau menghubungiku jika telah pasti kau akan datang?” bocah ini, pagi-pagi telah menyulut kekesalanku. Untuk apa dia menghubungiku jika dia telah berada di lobby apartemen? Dia tinggal memasuki lift dan sampai dilantai apartemenku. Sekali lagi, dia begitu kekanakan.
“aku hanya memastikan kau ada dirumah” ujarnya polos.
“kau pikir aku akan kemana pagi-pagi begini?” ujarku lagi.
“ck, mengapa kau begitu cerewet? Sudahlah, aku lapar” ia segera duduk pada bangku meja makan. Bibi han tiba-tiba datang dengan sebuah piring dan segelas susu hangat. Bocah ini pasti memintanya tadi. “gomawo bi” ia melihat bibi han dengan begitu manis. Terlihat bibi han sedikit tersenyum dan mengusap ujung kepalanya lalu kembali berjalan menuju ruang keluarga. Mungkin bibi belum selesai dengan tugasnya.
Bocah itu segera menyambar beberapa potong waffle dan menyiraminya dengan sauce dan whipped cream, lalu makan dengan lahapnya.
“apa eommamu tidak memberimu makan?” tuturku.
“yak! Jaga bicaramu. Aku hanya sedang malas sarapan dirumah” ia berbicara dengan mulut penuh waffle dan cream diujung bibirnya. Benar-benar seperti anak yang tidak diberi makan.
“lalu untuk apa kau kesini?” aku segera bertanya maksud kedatangannya.
“jadi, aku tidak boleh berkunjung?”
“ck, alasan yang begitu klise. Aku tidak bodoh, katakan!” bocah ini terlalu bodoh untuk membohongiku. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah bisa.
“arra, aku sedikit berselisih faham dengan hyung. Masalah pendidikan. Membuatku mual saja” keluhnya.
Ia berhenti mengunyah sarapannya saat menjelaskan alasannya itu padaku. Lalu kembali menyendokkan sepotong waffle lagi kedalam mulutnya. Aku hanya mengangguk paham dan kembali meneguk susu hangatku yang tadinya telah kuminum hampir setengahnya.
“baiklah, kau boleh disini” aku berdiri menaruh gelasku menuju wastafel, donghae menyusulku untuk beberapa saat. Setelah mencuci piringnya sendiri aku segera berbalik menatapnya “asalkan kau berjanji untuk tidak menghancurkan apapun disini. Kau tau, disini hanya ada bibi han, bukan noona” sambungku.
“arraseo. Kau fikir aku sekejam apa huh?” ia segera berjalan menuju ruang tengah yang sepertinya telah selesai dibersihkan oleh bibi han.
Ia mengambil remote televisi dan memilih untuk menonton cartoon kesukaannya. Ya itu cartoonnya di setiap minggu pagi. Sekali lagi, dia kekanakan. Bukankah sudah aku katakan?
__
“yakk! Yaak! Ya,, lagii. Eugh!!” suara bocah itu benar-benar memecahkan gendang telinga. Apa benar umurnya telah 18 tahun? mengapa begitu kekanakan sekali. Ck, lee dong hae. Akan selalu seperti itu jika ia ingin melupakan masalahnya.
“ck, yaa! Lagii!” dia terus berteriak ditengah ruang keluarga yang sepi ini. Ya, hanya aku dan dia. Bibi han meminta izin untuk pulang lebih awal karena ada sebuah urusan dan meninggalkanku dengan bocah gila ini.
Bayangkan saja, setelah sarapan pagi selesai, ia mengajakku untuk menonton sebuah drama korea. Heii, aku pria normal! Drama korea tidak ada dalam kamusku selama ini. Setelah itu ia memintaku, ani! Memaksaku lebih tepatnya untuk mentraktirnya makan siang di sebuah kedai jajangmyeon didekat apartemen.
Memang bukan jajanan mahal, dua porsi jajangmyeon memang tidak akan menguras dompetku. Tapi ini? Apa ini? Setelah itu ia menyeretku menuju sebuah swalayan untuk berbelanja makanan kecil. ‘aku ingin dirumahmu hingga malam dan aku tak ingin mati kelaparan’ begitulah katanya.
Dan aku, kembali lagi kehilangan beberapa lembar uang saku ku untuk membayar seluruh jajanan yang benar-benar tidak bisa dikatakan sedikit. ia membeli dua bungkus keripik singkong, dua bungkus keripik kentang, satu bungkus marshmellow, tiga kaleng minuman soda dan sebungkus lagi entah jajanan apa itu. setelah itu ia segera menyeretku pulang lalu menghidupkan PS3 milikku. Memaksaku bermain dengannya. Bocah gila!
“kyaaa! Aku menang! Kau lihat kan? Aku menang!!” ia segera membanting stik game ditangannya dan menunjuk layar monitor yang terpampang tulisan ‘you win’ lalu menuju ke arahku, memegang kedua bahuku dan mengguncangnya berkali kali.
Sekali lagi, dia masih bocah! Dia memang jarang sekali menang. Sudah sedari tadi siang hingga sore ini ia terus berusaha menang dariku dan mempertaruhkan beberapa makanan yang sebenarnya adalah milikku.
Ia segera mengambil soda taruhan kami dan membukanya. Lalu menyeruputnya dengan begitu bahagia. Ck! Lee dong hae.
“kau mau kemana?” ujarnya ketika aku berdiri dari tempat dudukku dan hendak berjalan.
“apa isi kepalamu telah kembali normal?” tanyaku yang dijawab dengan sekali anggukan darinya.
“kalau isi hatimu? Apa sudah merasa lebih baik?” ujarku lagi. Dan ia juga menjawabnya dengan sekali anggukan mantap.
“ baiklah, aku ingin mandi. Ini sudah sore hae. Lagipula terus-terusan bermain game akan merusak matamu. Berhentilah sebentar” tuturku panjang. Ia melihatku sejenak lalu menghela nafasnya panjang.
“geurae, mandilah. Aku ingin mengambil beberapa buku tugas di mobil” tuturnya. lalu ia juga berdiri dan berjalan ke arah pintu.
“kau ingin menyelesaikan tugas?” aku sedikit tidak percaya. Bagaimana bisa ia membawaku kesana-kemari dan memintaku melakukan ini-itu bersamanya ditengah niatnya untuk menyelesaikan tugas?
“eum. Soal matematika. Kau tau, aku sedikit tidak mengerti. Cepatlah mandi, aku juga ingin mandi” ia segera berlalu menuju pintu lalu terdengar bunyi dentuman pintu yang tertutup. Aku segera meremas rambut depanku karena pusing.
“ck! Bocah sialan” rutukku, lalu aku berjalan menuju pantri dan mengambil segelas air sebelum menuju kamar dan mandi.
Aku memilih berendam sebentar, setelah berjam-jam bermain PS3 bersama bocah itu kepalaku sedikit terasa pusing. Aku meneggelamkan wajahku kedalam air bathup, menahan nafas sebentar lalu kembali mencari oksigen pada udara terbuka.
Sebenarnya bukan hal buruk juga jika donghae menghabiskan waktu disini. Ya, kalian tau, hanya dengannya aku dapat menghabiskan waktu seperti ini. Meskipun temanku bukan hanya bocah itu, tetap saja aku sangat dekat dengannya. Ia telah kuanggap seperti dongsaengku sendiri.
Aku kembali menutup mata merasakan air hangat yang menjalar pada kulit terluarku. Menghantarkan stimulus pada saraf sensorikku dan mengirimkan rangsangan rileks pada otak.
Tok.. tok.. tok..
“ya! Hyuk jae! apa yang kau lakukan? Aku juga ingin mandi” teriaknya dari luar. Ah, bocah bodoh itu lagi. Mengganggu waktu rileksasiku saja.
“di kamar sebelah juga ada kamar mandi” ujarku tak peduli.
“ tapi aku ingin mandi di bathup mu!” kerasnya. Ck! Bocah!!
“kalau begitu tunggulah!!” teriakku. Menyebalkan sekali bocah ini.
“haha, arraseo. Jangan marah! Aku akan mencoba mengerjakan tugasku dulu” ujarnya. Aku tak menyahut sedikitpun. Ia pun pasti tau jika aku diam, berarti aku menjawab ‘ya’. Aku kembali menenggelamkan wajahku untuk terakhir kalinya lalu segera keluar dari bathup.
Aku menuju ruang shower dan kembali memanjakan tubuhku dengan pijatan ringan dari shower. Melumuri rambutku dengan sedikit shampo dan tubuhku dengan body soap.
Tok..tok..tok..
Aku kembali terkejut ketika bocah itu kembali mengetuk pintu kamar mandiku.
“apa lagi??” teriakku dari dalam.
“ya! Aku tidak menemukan beberapa rumus. Dimana buku yang kau tunjukkan padaku beberapa hari lalu?” ujarnya.
“cari saja di atas meja” aku benar-benar malas menanggapi bocah itu.
“tidak ada. Kau pikir aku bodoh. Aku bertanya karena tidak menemukannya disini” ujarnya lagi. Ehh? Tidak ada? Kurasa,, ah matta! aku menaruhnya di ruang belajarku.
“carilah di ruang belajarku! Pintu kedua dari kamar” teriakku lagi. Setelah itu dapat ku dengar suara derap kaki menjauhi pintu, lalu bunyi dentuman pintu yang cukup keras. Aish bocah itu, bukankah ia telah berjanji untuk tidak merusak apapun? Dan lagi, dia tidah berterimakasih sedikitpun? ‘Lee dong hae, lihat saja bagaimana nasib tugasmu nanti’ batinku. Aku segera menuntaskan acara mandi soreku.
Lima menit setelah itu aku membilas seluruh tubuhku dan melilitkan handuk di sekitar pinggangku. Aku berjalan menuju lemari pakaian. Ya, lemari pakaian ini memiliki dua pintu. Depan dan belakang. Membuatku lebih mudah untuk mengaksesnya melalui kamar mandi ini ataupun melalui kamarku.
Aku memakai boxer pendek dengan atasan baju kaos hitam. Aku menaruh handuk kering pada ujung kepalaku untuk sekedar mengeringkan rambut. ‘sedang apa bocah itu?’ tidak terdengar sedikitpun suara dari ruang tengah.
Apa begitu sulit soal yang diberikan kim seosaengnim? Atau memang otaknya yang minimalis tidak dapat menyelesaikan tugas itu meskipun telah dibantu oleh beberapa buku-ku? Aku berjalan keluar menuju ruang tengah.
“apa begitu sulit hae?” ujarku berjalan melewati meja ruang tengah tanpa meliriknya sedikitpun. Aku berjalan menuju dapur untuk mendapatkan beberapa gelas air segar. Tapi apa ini? Tidak ada sahutan darinya. Aku melirik ruang tengah, dan..
“hae? Apa begitu ssu__ hah? Kemana dia?” aku melirik ke arah ruang tengah dan tidak sedikitpun melihat donghae disana. Kemana bocah itu?
“ahh,, benar. Ruang belajar” ucapku setelah memaksa otakku memutar beberapa memori sebelum ini. Tapi bukankah ini sudah terlalu lama? Jangan katakan anak itu tidak dapat menemukan buku yang ku letakkan diatas meja didekat beberapa coretan tanganku mengenai ji… yeon? Omo! Astaga!!
“ruang belajar?? M_mwo?” setelah beberapa kenyataan melintas dalam otakku. Refleks aku membesarkan maksimal kedua bola mataku. Astaga! Donghae sedang di ruang belajar? Tempat aku menghabiskan hariku jika aku sedang rajin membaca. Tempat dimana aku menumpahkan berbagai coretan tentang segala perasaanku mengenai ji yeon. Dan,, yang lebih parahnya lagi. Ruang itu adalah tempatku menempelkan segala foto ji yeon yang ku ambil secara diam-diam selama ini. Ya tuhan, mati aku!
Tubuhku benar-benar tertohok mengetahui perbuatan bodoh yang telah kulakukan. Bagaimana tidak. Aku yang secara tidak langsung meminta donghae untuk melihat ketertarikanku pada yeojanya selama ini. Pabo! Kau memang pabo lee hyuk jae!
Aku segera melangkahkan lebar kaki-ku menuju ruang belajarku. Sesaat setelah aku tiba didepan pintu, dapat kulihat. Donghae. Namja itu, tengah membaca buku yang berisi penuh coretanku mengenai ji yeon. Seluruh tubuhku menegang. Apa yang harus kulakukan sekarang? Keringat dingin mulai mengucur dari pelipisku, ani! Seluruh tubuhku lebih tepatnya.
Aku melangkah pelan. Entah mengapa rasa takut yang begitu besar dapat kurasakan saat ini. Untuk pertama kalinya aku benar-benar takut untuk menghadapi sebuah kenyataan. Sabahat terbaikku, telah mengetahui bahwa aku mencintai yeoja-nya. Aku kembali melangkahkan kakiku terseok-seok. Terasa seperti ada beban yang begitu besar tengah menahan kakiku untuk tidak melangkah mendekati donghae. Nampak jelas segala bentuk ketakutan dunia tengah berkecimpung didalam hatiku.
Aku mencelos mengetahui semua foto ji yeon menghiasi hampir di seluruh bagian kamar ini. Dan sudah begitu jelas. Donghae, pasti telah melihatnya. Aku kembali melangkah untuk sekedar memasuki ruangan itu. tidak. Kakiku tidak kuat lagi. Aku berhenti tepat setelah dua langkah melewati pintu.
“D_dong,, hae-ah” panggilku gemetar. Tenggorokanku seperti tercekat dan tidak dapat mengeluarkan kata apapun.
Dengan bersusah payah aku berusaha memanggil nama namja itu. entahlah, seperti ada bongkahan besar yang menyendat ditengah leherku saat ini. Membuatku tak dapat mengatakan apapun selain namanya. Dia, donghae. Segera menundukkan kepalanya begitu mendengar namanya yang dipanggil olehku.
Ia menaruh kembali buku laknat yang berada di tangannya. Menoleh pada dinding depannya yang dipenuhi oleh gambar gadis yang saat ini miliknya. Kembali menunduk dan mendesah berat lalu berbalik. Ia memutar tubuhnya begitu pelan. Seperti ada begitu besar kekecewaan dalam dirinya padaku. ‘Ya tuhan, hae..’ batinku. Aku terdiam tak mampu untuk sekedar berkata ‘ini salah paham hae’ atau ‘ini tidak seperti yang kau pikirkan hae’ atau yang lebih baik lagi ‘aku bisa menjelaskan semua ini hae’ tidak! Bibirku beku, tubuhku pun begitu. Sulit sekali rasanya menyelaraskan apa yang otak dan hatiku perintahkan.
Aku mamatung. Dapat kulihat ia mengulas senyum kecil lalu berjalan melewatiku begitu saja. Angin yang berhembus di antara kami seperti ikut menyiratkan betapa bencinya namja ini padaku. Dan sekali lagi, aku terdiam. Tak mampu untuk sekedar berbalik dan menahannya pergi ataupun mengejarnya untuk menjelaskan segala permasalahan ini. Aku mengepalkan tanganku kuat, mencoba untuk melawan ketidak berdayaanku saat ini.
“aku pulang” ujarnya. Lalu beberapa saat kemudian dapat kudengar dentuman pintu yang tidak terlalu keras dari arah depan. Dia,,pergi. Donghae, sahabat yang selama dua tahun ini telah menemaniku telah mengetahui rahasia besarku yang begitu bejat.
Ya, aku memang namja brengsek yang telah menikam sahabatku sendiri. ‘Aku memang brengsek. Aku brengsek’ batinku. Kakiku terasa melemas. Seperti setiap sendiku telah berkarat. Tak mampu lagi untuk tegap. Aku terjatuh, berlutut pada pintu masuk kamar yang selama ini telah aku gunakan untuk melakukan perbuatan yang telah begitu menyakiti sahabatku sendiri.
Aku menjatuhkan diriku pada lantai kamar yang dingin. Aku tak perduli. Saraf tubuhku sudah tidak dapat merasakan apapun selain penyesalan yang begitu dalam. Aku meringkuk perlahan. Mencoba menahan air mata yang selama ini begitu tidak ku izinkan untuk membanjiri pipiku. Tapi, kali ini mereka lebih kuat. Mereka menerobos pertahananku dan jatuh begitu deras mengaliri kedua pipiku.
Teringat segala hal yang telah kulalui bersama donghae selama dua tahun ini. Semuanya hilang begitu saja karena kesalahanku yang begitu besar. Aku bejat! Aku,, telah,, melukai sahabatku sendiri. Lee dong hae.
“maafkan aku hae” isakku. Air mata ini benar-benar kuat. Aku tak dapat menahan apapun yang terjadi pada tubuhku saat ini. Bahuku bergetar hebat. Menyesal? Pasti. Sangat.
__
Secepat mungkin aku melangkah menuju koridor sekolah. Menaiki tangga bangunan menuju lantai dua. Aku berbelok ke arah kiri dan masuk kedalam sebuah ruangan keempat dari tangga. Ya, ini kelasku. Mataku secepat kilat mencari sesosok bayangan sesorang yang semalam telah aku sakiti. Pagi ini setelah aku menyelesaikan urusanku dengan kim seosaengnim aku segera mencari donghae.
“kemana dia..” ujarku bingung. Kursi tempat biasa ia duduk saat ini tengah kosong. 15 menit lagi pelajaran akan dimulai. Apa dia terlambat? Aku masih berfikir keras. Mengingat tempat apa saja yang paling sering dikunjungi donghae setiap pagi. Dan hasilnya,, nihil.
Namja itu akan segera menuju kelas setelah memarkirkan mobilnya. Aku kembali berfikir, lalu sedetik kemudian aku merubah arah tujuanku menuju ruangan ketiga dari kelasku.
“park ji yeon.” Panggilku setelah aku sampai didepan kelasnya. Dapat kudengar teriakan beberapa yeoja dari dalam sana. Tidak begitu ku acuhkan. Aku lebih fokus kepada seorang yeoja yang saat ini tengah memandangiku dari tempat duduknya dengan wajah sedikit terkejut dan heran.
Ia berdiri pelan dan memohon izin pada teman-temannya untuk menghampiriku. Aku menarik pergelangan tangannya keluar kelas dan memadangnya intens.. park ji yeon, memandangiku dengan penuh tanda tanya seolah tak mengerti aku akan berbuat apa. Apa,, yeoja ini belum tau? Apa,, donghae tidak memberitaunya?
“ya hyuk! Ada apa” teriaknya keras menyadarkan lamunanku.
“ne?”
“kau kenapa? Mendatangi kelasku seperti seorang mencari anaknya yang hilang. Lalu membawaku kesini dan tidak menjawab beberapa kali panggilanku. Kau,, ada masalah?” tuturnya panjang lebar. Aku terkesiap mendengar jawabannya. Mengapa dia tau? Apa harus aku katakan bahwa,,, tidak! Tidak hyuk!
“anio yeon. Aku hanya ingin bertanya dimana donghae” ujarku tersenyum. Terpaksa mungkin. Karena memang mau tak mau aku harus menyembunyikan masalah ini. Kenapa? Karena bahkan sampai saat inipun donghae juga belum memberitaukannya.
“aku tidak tau”
“bagaimana bisa? siapa yang mengantarkanmu sekolah?”
“tentu saja supirku.”
“kau bertengkar dengan donghae?” tanyaku lagi. Mengapa suasananya seperti aku akan menyebabkan masalah besar? Ya! Aku akan menyebabkan sebuah masalah besar.
“tidak juga,, aku__”
“arraseo. Aku ingin ke kantor dulu. Kim seosaengnim memanggilku” ujarku buru-buru ketika aku teringat, mungkin saja hae berangkat sangat pagi untuk menemui gurunya.
“kim seosaengnim? Apa aku__”
“tidak yeon. Ini tugas kelas” potongku. Aku segera berlari menuju ruang kantor. Menemui guru bidang study biologi untuk menanyakan keberadaan hae.
__
‘tadi hyungnya menghubungiku. Ia mengatakan bahwa donghae sedang tidak dapat masuk sekolah’ ucapan itu masih terngiang jelas di telingaku. ‘apa dia sakit seosangnim?’ ‘hyungnya tidak memberikan kabar apapun. Hanya itu’.
Begitulah percakapanku beberapa hari lalu. Ya, ini adalah hari ketiga donghae tidak datang untuk mengikuti pelajaran di sekolah. Sempat kudengar kabar bahwa ia datang menuju ruangan kepala sekolah namun begitu aku mendatangi ruangan itu, kepala seolah berkata bahwa donghae telah pulang. Aku menyandarkan kepalaku pada dinding ranjang dan mendesah pelan.
“apa aku harus kerumahmu hae?” ujarku. Aku memang belum pernah ke rumahnya setelah kejadian itu. aku takut, seperti yang telah kukatakan. Aku menyakitinya begitu dalam. Entah mengapa meskipun tidak melihatnya menangis, aku begitu terpukul mengetahui kenyataan jika ia tidak ingin bertemu lagi denganku. Aku kembali mengingat kejadian hari itu.
“hhh, jeongmal mianhaeyo hae” setetes cairan bening itu kembali keluar dari ujung mataku. Hanya setetes dan segera ku seka dengan punggung tanganku. Kepalaku terasa sangat berat. Sebuah batu besar seperti sedang kupikul di bahu ini.
Aku merebahkan tubuhku dan menyangga kepalaku dengan sebuah bantal. Masalah ini benar-benar membuatku tertekan. Aku tidak bernafsu menyentuh apapun. Aku melewati makan siangku. Aku mengunci rapat ruang belajarku dan memindahkan segala buku yang kuperlukan kesini.
Tidak seperti biasa, aku begitu bahagia ketika akan memasuki kamar itu, tapi sekarang, setelah menyakiti donghae. Aku merasa tidak pantas saja memiliki segala foto yeoja itu. aku mengubur semua tulisan, foto dan menyisakan kenangan hanya pada memori otakku. Aku ingin istirahat.
Kebetulan sekali siang ini tidak ada jadwal belajar, ji yeon bilang ada janji lain dan aku tidak mungkin melarangnya. Aku segera menutup mataku yang terasa semakin berat. Dan perlahan aku tertidur..
__
“kau tau hyuk, aku mencintainya sejak dulu”
“hae,, aku..”
“aku hanya tidak menyangka dengan begitu liciknya kau menyimpan perasaan pada yeojaku.”
“hae..”
“bahkan semenjak pertama kali kita berteman kau telah tau bahwa dia milikku”
“…..”
“dia milikku tuan lee hyuk jae”
“hae bisakah kau mendengarkan penjelasanku? Aku..”
“tidak bisa! bagiku semua telah cukup. Cukup. Lee hyuk jae-ssi. Nae kka!”
“hae,, hae tunggu..”
“…..”
“hae. Hae tolong dengarkan aku hae”
“HAE!!!”
-TBC-
With love, Park ji yeon

4 thoughts on “Our Love Story part 5

  1. elfexotic says:

    saking ngerasa bersalah ampe kebawa mimpi..
    aku jd ikut degdegan waktu hyuk nyuruh donghae nyari buku d ruang belajar..pasti katahuan..

  2. deerfishymonkey says:

    Huaah akhirnya ketauan juga..tinggal nunggu pengakuan hyukjae k jiyeon nih..

  3. little devil says:

    hemm..donghae harusnya dengaer dulu tuh penjelasan hyukjae

  4. BebyPanda says:

    , tuch kan.. jd ribet.. udah hyuk ngalah aja demi abng hae.. kmu psti bza..
    semangat..
    hah pdhal EunHae lg cute cute’y..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s