Our Love Story part 4

1~4
Judul : our love story[part 4]
Author : HyukgumSmile
Genre : romance
Rating : general
Main Cast : lee hyuk jae, park ji yeon
Other Cast : lee dong hae, etc.

-Ji yeon POV-
Suasana di ruang tengah sungguh sepi. Aku dan hyuk tengah berkonsentrasi memecahkan beberapa soal matematika. Dan sejauh ini yang mampu ku kerjakan hanya sebagian kecil dari yang telah terselesaikan oleh hyuk. Whoa,, dia benar-benar cerdas. Seperti semua rumus dan angka berpangkat derajat dan berakar itu telah mendarah daging ditubuhnya. Mengalir dalam setiap meter kubik aliran darahnya. Ini sudah hampir tiga jam dan dia masih bersemangat untuk mengerjakan semua soal yang semakin lama semakin terlihat seperti monster bagiku.
Argh, kepalaku seakan ingin pecah. Tapi entah mengapa hatiku memerintahkanku untuk terus memahami rumus dan menambah jumlah koleksi soal yang dapat ku kerjakan. Semangat namja ini seperti menular. Karna hanya dengan melihat dia tersenyum begitu menyelesaikan soal yang ia hadapi saja mampu membuatku berfikir ‘baiklah, samakan kedudukan park ji yeon!’. Yah begitulah.
“apa ini benar?” ujarku setelah menyelesaikan sebuah soal yang –bukannya- mudah. ia segera mengambil kertas yang penuh coretan tinta biru milikku dan mengamati beberapa digit angka yang –mungkin- saat ini terlihat seperti untaian titik-titik yang membentuk suatu garis abstrak. Ya, hasil yang tak berbentuk. Penjumlahan di sudut kiri entah kemana sambungannya. Perkalian di pojok kanan bawah entah dimana pula hasilnya. Alis tebal hyuk melengkung membentuk kerutan kecil, lalu kembali pada tempatnya semula setelah menemukan sambungan yang tepat.
“igo” ujarnya memberikan kembali kertasku “sudah benar, tapi apa menurutmu tidak terlalu rumit?” sambungnya.
“apa? Apanya yang rumit?” tanyaku tak mengerti. Ia segera membalik lembar demi lembar bukunya dan menemukan soal yang sama.
“lihatlah. Hanya setengah dari panjang seluruh pencarianmu” ujarnya menyodorkan sebuah kertas. Aku meneliti setiap detail tulisan milikku lalu kembali pada miliknya. Sama.. sama.. sa.. tunggu! Ada yang salah. Mengapa ini berbeda?
“euh? Mengapa berbeda? Hyuk, kau yakin tidak salah rumus?” tanyaku dengan begitu polosnya. Ia segera merapatkan duduknya dan menjelaskan beberapa bagian.
“hasilnya sama, lihatlah!” ujarnya. “kau sudah benar, tapi caramu begitu sulit. Kau tau, kau hanya perlu memindah ruaskan bagian ini, nah ini akan terlihat sama. Kau tinggal mencoret beberapa bilangan konstan dan simbol-simbol tak penting. Lalu.. bla..bla..bla” dia menjelaskan sejelas yang ia bisa. Aku memperhatikan namja ini dengan seksama. Benar juga, mengapa tidak terfikirkan sama sekali? Aku terus memperhatikannya, sesekali melirik wajahnya yang begitu serius dalam menjelaskan materi ini. Dia,, terlihat begitu berwibawa disaat seperti ini. Wajahnya seperti mengeluarkan aura jenius yang tidak dimiliki namja lain yang –bahkan- lebih pintar darinya. Seperti kim kibum misalnya. Ia tidak memiliki aura seperti yang hyuk jae miliki.
“jadi begitu. Kau mengerti?” tanyanya membuyarkan lamunanku. Dia menatapku sejenak seperti meminta sebuah jawaban.
“eum. Tapi kurasa tak masalah jika aku tetap menggunakan caraku sendiri” kerasku.
“heii, kau akan mengikuti sebuah olimpiade, bukan lomba menghafal rumus. Tinggalkan cara belajar kolotmu” ia memukul kepala bagian atasku pelan. Benar-benar seperti oppa, selalu memukul kepalaku jika telah selesai menasehatiku. Ia kembali pada soal yang sebelumnya ia kerjakan. Ugh! Aku bosan.
“hyuk, aku lelah” ujarku.
“eeh?”
“bisakah kita beristirahat? Apa kepalamu tidak terasa berat? Atau mungkin jika isi kepalamu itu hanya deretan angka-angka yang tak terhingga jumlahnya?” jelasku. Ia terkekeh ringan.
“isi kepalamu juga memiliki deretan angka-angka yang tak terhingga jumlahnya. Hanya saja kau terlalu malas untuk mengeksplorasinya” ia menyentuh keningku dengan ujung telunjuknya. Aku meniup poniku pelan, kesal.
“jangan gunakan teorimu dalam keadaan seperti ini” ujarku.
“arasseo, beristirahatlah. Ini sudah hampir tiga jam” balasnya. Tak lama kulihat seorang wanita paruh baya menghampiri kami dan menaruh beberapa makanan ringan. Bibi itu tersenyum padaku lalu pada hyuk. Apa,, eommanya?
“itu,, eommamu?” tanyaku menunjuk wanita yang telah menghilang dibalik pantri tadi. Ia membalikkan tubuhnya untuk melihat arah tunjukku.
“bukan” jawabnya.
“benarkah? Tapi dia__”
“dia bibi han. Pengurus apartemen ini selain aku” potongnya.
“eum,, orangtuamu?”
“ada, dirumah” jawabnya santai. Eoh? Ada? Dirumah? Lalu mengapa dia..
“appa dan eomma tinggal dikawasan jongno-gu. Dekat perusahaan appa. Aku tidak memiliki masalah apapun dalam keluargaku. Aku hanya ingin lebih mandiri, mencoba hidup sendiri di sebuah apartemen yang jauh dari keluarga. Selain itu, tempat tinggal appa terlalu jauh sedangkan tempat ini begitu dekat dengan sekolah. Ini menguntungkanku karena,, eum,, aku punya sedikit masalah untuk bangun pagi” diakhiri dengan sebuah cengengesan ala hyuk jae tentunya.
Namun begitu banyak pertanyaan yang saat ini masih melintas dalam otakku. ‘jika ingin mandiri mengapa memilih apartemen mewah ini?’ ‘mengapa memakai jasa pembantu rumah tangga juga?’ ‘uang sakunya?’ ‘hubungannya dengan keluarganya?’ dan masih banyak lagi. Namun aku berusaha untuk tetap menjaga privasi hyuk. Aku tak ingin terlalu tau banyak tentangnya jika ia tidak mengizinkannya.
“aku akan pulang setiap akhir pekan jika tidak terlalu sibuk. Apartemen ini,, appa yang memilihkannya. Bibi han juga begitu. Awalnya aku ingin mengambil sebuah rumah kecil disamping sekolah. Kau tau? Tapi apa menentangnya. Aku hanya akan diperbolehkan hidup sendiri jika menerima apartemen ini” jelasnya padaku “Ada lagi yang mengganjal di pikiranmu?” ck, ternyata namja ini benar-benar dapat membaca pikiranku! Tepat sekali!
“eum,, uang sakumu?” tanyaku sedikit pelan.
“appa mengirimkannya setiap minggu. Namun aku tak suka terlalu banyak menghamburkan uang appa.” Ujarnya lagi. Ekm, namja ini.. memang benar-benar memiliki banyak kelebihan. Kau tau? Sifatnya begitu dewasa. Jauh berbeda denganku yang hingga saat ini begitu sering menghamburkan uang appa.
“begitukah? Aku jadi,, merasa begitu kecil. Haruskan aku meminta hal yang sama dengan appa? Aku juga ingin mandiri” rengekku.
“ck, aku bukan appamu! Lagipula kau seorang yeoja. Yang benar saja kau ini” tuturnya yang entah mengapa begitu saja memupuskan segala imajinasiku untuk hidup mandiri sama sepertinya.
“ternyata kau begitu menyebalkan. Aku suntuk!” ujarku mengalihkan pembicaraan ini.
“kau ingin apa? Aku akan meminta bibi han untuk membelikannya” tuturnya.
“bibi han? Eem, sudah berapa lama kau di urus olehnya?” aish, mengapa aku begitu penasaran dengan kehidupan namja ini?
“4 tahun. tepat saat aku pindak ke apartemen ini” jawabnya. Baiklah. Ekhm, mengapa terasa panas? Aku melirik balkon sekilas, bias-bias cahaya matahari begitu terang. Aku mengalihkan pandanganku menuju jam dinding diatas tv flat milik hyuk. 12.30 pm. Whoaa, sudah siang saja. Apa seperti ini rasanya belajar bersama? Ya, ini pertama kalinya untukku. Donghae tak pernah ingin jika aku menawarinya untuk belajar bersama. Padahal aku sungguh sangat antusias jika belajar dengan seseorang seperti ini. Ahh ya. Mengingat donghae membuatku mengingat es krim.
“hyuka-ah, apa bibi han suka es krim?” ujarku spontan. Dapat kulihat dia tersenyum lembut dan menutup buku pelajarannya.
“kau ingin es krim eoh?” ujarnya yang kusambut dengan anggukan mantap. Euh, es krim.. pasti segar.
“baiklah, akan kuminta bibi__”
“tidak. Ayo ke tokonya saja” ujarku.
“tapi bukankah ada bi__”
“ayolah..aku ingin menikmatinya di dalam toko” ujarku. Sebenarnya bukan itu. hanya saja aku terlalu suntuk jika harus berada diruang tengah dan mengerjakan puluhan soal rumit ini. Lagi pula aku tak akan tega meminta bibi han keluar dan kembali lagi –nantinya- hanya untuk membelikanku es krim. Appa tak pernah mengajarkanku seperti itu. aku segera memasang wajah memohonku yang sepertinya begitu ampuh.
“arasseo, aku akan mengambil jaketku dulu” ujarnya lalu berjalan menuju pintu dan beberapa saat kemudian kembali dengan pakaian yang sedikit lebih formal. Ah, tidak perlu berganti pakaian sebenarnya. Dia seperti tadi saja sudah lebih dari cukup. Tak akan ada orang yang memprotes gaya busananya. Semua busana seperti memang cocok untuk tubuhnya. Ia segera meminta izin pada bibi han yang berada di dapur.
“ayo berangkat” ucapnya dengan senyum begitu tulus. Dapat kulihat sebagian tubuh bibi han timbul di balik pantri. Ia kembali tersenyum padaku dan aku membalasnya. Hyuk jae memalingkan wajahnya menghadap bibi han-juga-.
“bi, tolong jaga rumah ne.” Ucapnya tersenyum.
“arraseo. Kau, tolong jaga anak gadis ini.” Ucapnya pada hyuk lalu melihatku “Dan..”
“park ji yeon imnida” sambungku.
“ah,, jiyeon. tolong jaga bocah pabo ini. Dia sedikit bodoh jika didekat wanita” ucap bibi han yang membuatku tertawa geli.
“bibi! Aish.. ” geramnya seperti anak kecil. “kami berangkat dulu”
“aku pergi bi. Annyeong” ucapku sebelum melangkahkan kakiku menuju pintu keluar apartemen ini. Es krim.. tunggu aku!
-Hyuk jae POV-
Disinilah aku, duduk manis dalam sebuah etalase toko dengan semangkuk es krim swalt double porsi dan beberapa potong donat. Yeoja itu,, entah mengapa aku tak dapat menolak ajakannya untuk menikmati siang disini. Meskipun aku tak begitu suka benda dingin semi padat-cair didepanku ini, aku tetap memesankan semangkuk porsi double untukku. Selain itu, selama ini aku juga tak terlalu ingin membuang-buang uang saku pemberian appa dengan duduk di sebuah toko seperti saat ini. Namun, wajah memelas miliknya memaksaku untuk datang ke tempat ini. Dan saat ini, aku sedang duduk bersamanya dengan semangkuk es krim strawberry porsi double yang sebagian isinya telah melesat memasuki mulutnya. Ya tuhan, aku baru tau dia pecinta es krim. Dia terus menyendokkan berkali-kali sendok penuh es krim itu menuju mulutnya tanpa begitu memperdulikanku. Sesekali dia tersenyum seperti anak kecil saat mulutnya telah sesak padat oleh cairan dingin itu. ia mendongak memperlihatkan wajah manisnya yang terlihat begitu bahagia.
“kau tidak memakan es krimmu?” tanyanya. Aku hanya menggeleng sembari melihat ujung kepalanya yang –kembali- menunduk untuk menyantap makanannya.
“mengapa? Tidak enak?” tanyanya lagi. Ya tuhan, ada cairan es krim di ujung bibirnya. Ck, mengapa dia terlihat seperti anak kecil? begitu manis.
“aku tidak terlalu menyukai es krim” ujarku setelah menggelengkan kepalaku.
“eoh, kenapa?” dia mendongakkan wajahnya cepat beberapa saat setelah mendengar ucapanku.
“ya,, mungkin hanya tidak terbiasa” ujarku.
“kalau begitu biasakanlah. Kau akan sering mengunjungi tempat ini nantinya” serunya dengan tetap menyendokkan es krim ke dalam mulutnya.
“mengapa begitu?”
“karna aku tidak bisa hidup tanpa es krim” ujarnya begitu manis. ‘es krim?’ ‘tidak bisa hidup tanpa es krim?’
“apa begitu enak?” tanyaku
“eum. Cobalah, kau pasti suka” aku hanya menatap aneh pada semangkuk benda didepanku yang sudah mulai mencair.
“mereka tidak akan meracunimu. Percayalah, ini enak!” tekannya lagi.
“emm, entahlah. Aku tidak pernah mengatakan ini tidak enak” ujarku menyendok beberapa es krim dan mengangkat benda besi itu, membuat benda lembek cair yang ada di atasnya meleleh.
“cobalah dulu. Hmm” ujarnya ia menyodorkan sendok berisi es krim itu ke mulutku.membuatku mau tak mau harus membiarkan benda dingin itu melesat melalui kerongkonganku. “bagaimana?” sambungnya.
“emm, lumayan” ujarku. Benar. Tak terlalu buruk ternyata. Gadis ini benar. Menghabiskan siang hari dengan semangkuk es krim tidak begitu buruk. Suasana siang yang hangat meskipun saat ini sedang musim semi terasa lebih sejuk ditengah toko ini.
“benarkah? Apa kau suka?” ia menatapku begitu ceria. Seolah-olah aku adalah seseorang yang kehilangan jati diriku dan –barusaja- menemukannya kembali.
“kurasa begitu” ujarku kembali melesatkan sesendok es krim lagi dan lagi.
“assa! Bukankah tadi sudah kukatakan. Aku tau ini akan terjadi” ia mengambil sebuah donat dan memotongnya menjadi beberapa bagian. Mencelupkan bagian kecil potongan donat itu ke mangkuk es krimnya dan menyodorkannya padaku.
“ini. Ucapan terimakasihku” ujarnya.
“hmm? Untuk?”
“untuk membayarkan makan siangku yang begitu menyenangkan” tukasnya.
“ck, aku tidak pernah mengatakan akan membayarkan milikmu” candaku. Ia terlihat sedikit mendelik kesal. Mendecakkan lidahnya dan memutar bola matanya sekali.
“hanya pria bodoh yang membiarkan gadisnya untuk membayar makan siang mereka” deg! Gadisnya? Maksudnya.. gadisku begitu? Apa yang dikatakannya? Mengapa tiba-tiba saja kerja jantungku menjadi dua kali lebih cepat seperti ini? Dan dia,, masih memandangku dengan tampang kesal miliknya. Membuatku menahan tawa. ‘jangan berfikir macam-macam hyuk jae!’ batinku.
“kau bukan yeojaku” aku menentangnya. Dia terlihat sedikit mundur dan berfikir. Lalu beberapa saat kemudian kembali melihatku dengan wajah yang lebih kesal lagi dari sebelumnya. Kedua pipi yang menggembung dengan kerutan di sekitar kening dan matanya. Membuat indra penglihatannya itu terlihat seperti garis lurus, sangat sipit. Tarikan otot-otot sekitar mata yang mempengaruhi bentuk hidungnya yang –sebenarnya- tidak terlalu mancung itu semakin tenggelam. Ugh! Yeoja ini. Ingin membuatku terperangkap lebih dalam rupanya.
“arraseo. Aku traktir” aku segera menyambar donat yang tadinya ia tawarkan padaku yang hingga saat ini masih menggantung ditangan manisnya. Terjepit diantara jari telunjuk dan ibu jarinya. Dia tersenyum begitu donat yang berada ditangannya telah hilang.
“jinjjalyo? Eoh, gomawoo hyuk-ah” teriaknya.
“itu kata terikhlas yang pernah ku dengar” kembali dia mendelik padaku. Ya! Gadis ini mengapa penuh dengan ekspresi? Hentikanlah. Ini hanya akan mempersulit rasaku. Namun bukannya marah, yeoja ini justru menarik dalam udara sekitarnya dan menghembuskannya cepat. Lalu ia kembali menunduk.
“aku tidak akan marah. Aku orang yang baik. Bukankah aku cukup berjasa hari ini? Aku mengenalkannya pada es krim dan membuat siangnya di akhir pekan ini terasa lebih baik. Bukannya dia yang seharusnya berterimakasih. Mengapa dunia penuh dengan orang aneh” gumamnya sendiri. Ia bergumam sembari menunduk dan menyendokkan tumpukan es itu kembali kedalam mulutnya. Ck, dia kekanakan sekali. Apa itu bermaksud menyindirku? Ahaha, park ji yeon. Mengapa bisa aku begitu mencintaimu? Aku terus memperhatikan wajahnya yang masih menunduk. Membuatku –entah mengapa- ingin tersenyum.
“arasseo. Gomawo yeon” ujarku. Dia kembali mendongakkan wajah berserinya lalu tersenyum cerah.
“eum. Cheonmalyo. Tak apa, aku tak melakukan apapun” ucapnya seraya mengibaskan sebelah tangannya berkali-kali. Terlihat seperti orang yang telah berjasa besar bagimu namun ia tetap terlihat rendah hati. Lucu sekali. Aku benar-benar tidak dapat menahan tawaku lagi. Bagaimana bisa dia bersikap seperti orang yang sangat berjasa dalam hidupku hanya karena telah memperkenalkanku dengan semangkuk es krim? Yeoja ini.. Park ji yeon, kau memang benar-benar berbeda. Apa itu alasanku mencintaimu? Ah tidak. Bahkan setelah bertahun-tahun memendam rasa ini padamu aku tetap tak dapat mendefinisikan alasan mengapa aku begitu mencintaimu. Hanya saja, mata dan hatiku selalu penuh sesak oleh bayanganmu. Seperti aku terlahir memang hanya untuk memandangmu. Memberikan ketulusan ini padamu. Dan menunggu keajaiban yang kau sebut imbalan dari tuhan. Aku berharap tuhan memberikanku lebih. Seperti yang kau katakan, ‘tuhan akan memberikan imbalan lebih jika kau mau menunggu’. Dan aku, telah menunggumu jauh sebelum ini.

-Author POV-
Pagi itu hyuk jae datang lebih awal, ia diminta oleh kim seosaengnim untuk melaporkan hasil belajar mereka. Ya, hari ini tepat seminggu sudah hyuk jae dan ji yeon belajar bersama. Selain di apartemen hyuk jae, terkadang mereka juga menghabiskan waktu istirahat sekolah untuk sekedar mengerjakan soal-soal baru. Dan perkembangan itu yang selalu di pantau oleh kim seosaengnim.
Empat hari lalu kim seosaengnim memanggil hyuk jae, hanya untuk mengetahui respon ji yeon saat belajar. Guru itu juga merasa sedikit khawatir jika saja ji yeon tidak merasa nyaman bersama hyuk jae begitupun sebaliknya. Ternyata ajaibnya tidak. Justru perkembangan dua anak manusia ini lebih cepat dibandingkan perkiraannya. Bayangkan, dihari pertama mereka belajar saja mereka telah menghabiskan waktu makan siang mereka bersama.
Begitulah isi laporan hyuk jae empat hari lalu. Dan hari ini, kim seosaengnim ingin jauh lebih tau. Mungkin bagaimana cara belajar mereka, apa saja yang sekiranya mereka tidak ketahui dan yang lainnya. ya, walau bagaimanapun guru itu bertanggung jawab atas kedua anak manusia itu. dialah yang telah memilih mereka untuk mengemban beban berat ini.
Tahun ini akan lebih sulit lagi, karena tahun lalu hyuk jae telah sukses memenangkan olimpiadenya, dan,, rasanya tidak mungkin sekolah tidak akan menekan mereka untuk mempertahankannya. Ya, ini sedikit lebih berat.
Namja tampan itu tengah berjalan menuju koridor masuk sekolah. Ia baru saja memarkirkan audi putihnya di tempat biasa. Ia menutup pintu mobil itu dengan sedikit malas. ‘hhh, melelahkan’ batinnya. Ya, ia sama sekali tidak terbiasa bangun sepagi ini. Ia melirik arloji hitam kesayanggannya itu ‘seharusnya masih tidur’ pikirnya.
Ini sudah untuk yang kedua kalinya untuk sepekan ini saja. Guru killer itu memanggilnya untuk datang 30 menit lebih awal. Ya tuhan, bahkan eommanya pun tidak pernah membangunkannya untuk bersekolah sepagi ini. Namja itu berjalan pelan menjauhi mobilnya. Lihat! Bahkan baru beberapa mobil saja yang terparkir disini.
Bagaimana bisa, seorang hyuk jae yang begitu terkenal dengan ‘datang terlambat’-nya justru datang sebelum murid ter-rajinpun datang. ‘ini gila’ pikirnya lagi. Namja itu sedikit menambah kecepatannya, tidak ingin membuat gurunya menunggu.
“hyuk jae-ah” panggil seseorang dari arah belakang.
“eoh, hae. Bagaimana kau bisa datang sepagi ini?” tanya namja itu.
“kau juga, mengapa bisa datang sepagi ini?”
“ck, jangan jawab pertanyaanku dengan pertanyaan baru.” Ketus hyuk jae.
“ck, bisakah kau hanya menjawab. Lee hyuk jae” balas lee donghae. Ya, donghae memang selalu senang jika melihat namja didepannya ini kesal. Ia lebih terlihat seperti manusia, lucu. Dan pagi ini, ia sepertinya butuh sebuah hiburan.
“kau membuang waktuku” hyuk jae segera berbalik kembali menuju koridor. Namja ini begitu kesal jika donghae, sahabatnya itu telah menggodanya.
“ya hyuk jae!! Kau! Aish, jawab aku!” ujar donghae yang terlihat seperti begitu kesal dengan namja yang telah mengacuhkannya itu. padahal, sungguh hyuk jae telah tau bahwa donghae benar-benar ingin menggodanya pagi ini.
“ya!! Geumanhae!!” teriaknya setelah berbalik kembali menghadap sahabatnya itu. donghae hanya mampu tertawa lepas. Benar-benar tidak tahan jika hyuk jae telah begitu kesal seperti ini.
Namja itu -hyuk jae- segera berjalan cepat menuju lee dong hae yang tengah membungkukan badannya dengan memegangi bagian perut bawah yang sepertinya begitu sakit karena tertawa lepas. Terlihat jelas bahwa ia telah berhasil menggoda hyuk jae. Bahu bidang itu bergerak keatas kebawah bergantian. Membuat hyuk jae semakin kesal.
“ck, kau..” geramnya dan dengan secepat yang ia bisa ia segera menaruh lengan tangannya pada bahu lee dong hae. Mengitari leher namja maskulin itu dan tak lama kemudian kepala namja itu –lee dong hae- telah berada tepat dibawah ketiak hyuk jae. Ia sesekali menjitaki kepala namja itu dengan pelan. Tak bermaksud menyakiti memang. Ini cara mereka menyampaikan bentuk kekesalan satu sama lainnya.
“a a aaa. Appo! Aaa hyuk jae, geumanhae” teriak seorang lee dong hae.
“lepaskan? Kau pikir semudah itu? setelah menghancurkan mood ku?” hyuk jae semakin mengeraskan tekanan pada leher dong hae.
“aaa, mani appoko!” namja itu hanya dapat pasrah. Ya, lee hyuk jae akan selalu begini. Sebenarnya tidak sakit sama sekali, kau bisa merasakannya jika kau tak percaya. Hanya saja akan begitu aneh jika keu tertawa lepas saat sedang berada dalam posisi seperti ini. Mereka masih dalam keadaan yang sama seperti tadi, tak berubah sedikitpun. Hyuk jae masih saja merasa kesal pada namja itu dan donghae,, ya beginilah resiko jika ia telah sukses menggoda seorang lee hyuk jae.
“kalian,, apa yang kalian lakukan?” ji yeon. Gadis itu begitu kaget ketika melihat kedua sahabat itu bertingkah seperti orang yang tengah berkelahi.
“eoh..” kedua namja itu segera menolehkan wajah mereka. Sontak mereka melepaskan kontak fisik mereka setelah jiyeon, gadis itu, berdiri mematung menatap mereka. Eum,, mereka memang tidak pernah menunjukkan sikap seperti ini didepan ji yeon. Donghae selalu berkata ingin terlihat berwibawa didepan yeojachingunya itu. dan hari ini, mereka telah begitu sukses membongkar rahasia persahabatan mereka dihadapan gadis itu.
“ji-ah” donghae terlihat begitu terkejut melihat ji yeon berada disana. Selama ini, dia tidak pernah bertingkah kekanakan seperti ini didepan ji yeon. Ia hanya akan melakukan itu didepan sahabatnya ini. Hyuk jae. Gadis itu masih saja termenung melihat kedua namja itu ‘heran’. Membuat donghae takut, ‘apa ini akan berdampak nantinya?’ batin donghae. Lee hyuk jae pun tak kalah terkejutnya. Namja ini sama saja. Tidak pernah bersikap kekanakan jika bukan pada donghae. Dia terkenal begitu cool di sekolah ini. Hyuk jae juga mau melakukan hal tadi karena berfikir ini masih pagi. Tidak akan ada orang yang melihat mereka. Begitulah analisis hyuk jae. ‘Aish, bagaimana ini?’ batin hyuk.
“ya hyuk-ah! Apa yang kau lakukan? Hae-ya, apa kau terluka? Dia melukaimu?” tutur yeoja itu setelah mendekatkan diri pada donghae, memeriksa apa ada yang berkurang pada tubuh namja itu setelah mendapat perlakuan tidak wajar dari seorang lee hyuk jae. Ia menunjuk hyuk jae dengan jari telunjuk kanannnya.
Dengan gurat wajah yang bukannya terlihat kesal, justru malah semakin menggemaskan. Mata yang ia buat seolah-olah tajam menusuk hyuk jae, kembali lagi, terlihat seperti garis lurus. Dengan kedua pipi yang menggembung. Persis seperti saat mereka di toko es krim seminggu lalu. Namun bedanya, kali ini yeoja itu bertindak seolah-olah hyuk jae adalah seorang yang telah menyerang namja-nya dengan begitu brutal.
Dengan tarikan nafas yang sedikit lebih cepat dan kedua kaki yang sedikit lebar. Mencoba untuk mengintimidasi seorang lee hyuk jae. Namun, bukannya takut. Namja itu justru benar-benar tak mampu menahan tawanya. Dan lee donghae? Sama saja. Pasalnya yeoja itu belum pernah sekalipun bersikap seperti itu didepannya.
“bwahahahah” tawa lepas kedua namja itu begitu membahana. Mereka menunjuk-nunjuk bagian wajan ji yeon yang –saat ini- justru memperlihatkan wajah tak mengerti. ‘apa yang salah disini?’ batinnya. Dan raut wajah itu, semakin membuat kedua namja itu tertawa lepas. Sebutir cairan bening mengalir dari ujung mata mereka berdua. Benar-benar menghibur.
“hei,, apa yang salah disini? Mengapa kalian tertawa? Dan kau, aku membelamu!!” kesalnya. Ji yeon benar-benar tak habis pikir. Ia yang sejak pagi-pagi buta telah dijemput donghae untuk berangkat menuju sekolah dengan keadaan yang masih mengantuk tiba-tiba terkejut dengan tingkah pola kedua namja yang saat ini terlihat begitu autis.
Ia berusaha membela namja-nya dengan bertanya pada seorang lee hyuk jae. Ia tak bermaksud marah sedikitpun. Justru awalnya yeoja ini begitu takut hyuk jae akan berfikir jika ia benar-benar marah. Namun apa? Kedua namja pabo ini malah tertawa dengan lepasnya. Tak lupa pula dengan menunjuk bagian wajah ji yeon yang –memang sangat- terlihat lucu. Hanya saja yeoja ini tidak tau.
“maaf ji-ah, hanya saja wajahmu begitu menggemaskan. Maafkan kami ne?” tutur donghae setelah beberapa saat mencoba menenagkan diri. ia menghapus jejak-jejak air mata pada ujung indra penglihatannya itu. ia harus kembali bersikap dewasa. Begitupun dengan hyuk jae. Meskipun mereka masih tidak dapat melupakan wajah menggemaskan ji yeon barusan. Dan senyum itu,, masih saja terpampang jelas pada wajah keduanya. Senyum yang seolah begitu menahan sebuah tawa.
“benar yeon, maafkan kami” sambung hyuk jae yang juga merasa bertanggung jawab atas rasa bingung yeoja ini.
“yaa! Mengapa kalian tertawa? Aku bertanya apa yang salah. Dan lagi kalian seperti orang yang ingin berkelahi. Lalu sekarang terlihat kembali akrab. Apa yang terjadi?” tanya ji yeon begitu penasaran dengan kedua namja ini.
“kami hanya bercanda. Kau tau, ala pria” ujar donghae menyikut pelan lengan hyuk jae dan dibalas oleh sebuah anggukan setuju.
“tapi kalian__”
“itu adalah cara kami untuk mengungkapkan kekesalan diantara kami” sambung hyuk jae. Ji yeon menatap namja itu tajam.
“hei!! mengapa kau begitu menyukai memotong omonganku, hmm? Bahkan aku__”
“aku sudah tau apa yang akan kau katakan” potong hyuk jae kembali. Membuat yeoja ini semakin kesal.
“aigo,, sudahlah. Kalian ini. Kau, lee hyuk jae. Jangan melampiaskan kekesalanmu pada yeojaku. Aku menggodamu bukan untuk membiarkanmu menggoda gadis ini” donghae melingkarkan lengannya pada bahu ji yeon. Ji yeon tak begitu perduli, ia masih heran dengan kemampuan membaca pikiran milik hyuk jae.
“ck, arraseo. Kau lolos kali ini nona park” tunjuk hyuk pada ji yeon. Ia segera melepaskan lengan donghae yang bertengger pada bahu jiyeon dan menggantinya dengan meletakkan lengannya pada bahu namja itu. bermaksud membawanya kekelas. Ji yeon yang masih tidak mengerti apapun hanya mampu terdiam, sedangkan lee dong hae terlihat lebih memilih bersama dengan lee hyuk jae.
“ck! Yaa, kalian mau kemana?” tanya jiyeon.
“pergilah ke kelasmu. Bukankah setiap pagi juga begini” lee hyuk jae segera berbalik memandang ji yeon dengan senyum ejekan-nya setelah menjawab pertanyaan yeoja itu.
“Tapi ini masih begitu pagi. Tidak akan ada seorangpun di kelasku”
“….”
“ya! Lee dong hae-ssi. Kau menjemputku begitu pagi lalu menelantarkanku begitu saja?” gadis itu semakin berteriak kencang karena kedua namja itu juga terlihat semakin menjauh.
“…..” kembali tak ada sahutan dari donghae maupun hyuk jae. ‘ck, mereka mau mati rupanya’ batin ji yeon.
“yaa!! Tunggu aku! Hei, namja brengsek. Kau.. yaaaa” gadis itu segera berlari mengejar kedua namja didepannya. Suasana sekolah yang begitu sepi tak dapat mengalahkan keceriaan mereka. Bahkan mereka telah menghangatkan pagi musim semi yang semakin terasa dingin ini. Ya, mereka bertiga.
__
“jadi kim seosaengnim memata-mataiku?” ujar ji yeon berteriak. “aww, appo. Kenapa kau memukulku?” lanjutnya lagi setelah merasa sesuatu yang cukup keras membentur ujung kepalanya. Donghae, namja itu dengan gemasnya menjitaki kepala yeoja itu. bagaimana tidak, dia dengan begitu frontalnya berteriak ditengah kantin sekolah yang memang tidak bisa dikatakan ramai. Namun, tetap saja ini masih di lingkungan sekolah. Setidaknya akan ada satu atau dua orang yang akan mendengarkannya. Ya, mereka bertiga sedang berada di kantin sekolah. Mereka dibebaskan dari jam belajar mereka hingga jam istirahat berbunyi. Itu imbalan karena mereka telah dengan sangat baiknya menerima ajakan guru mereka untuk belajar khusus di ruang kantor. Ya, ternyata donghae datang sepagi itu juga karena panggilan dari sekolah. Setelah melaporkan perkembangan belajar mereka, para guru itu dengan sepihak memutuskan agar mereka belajar untuk dua jam pelajaran. Dan sekarang, mereka mendapat kebebasan untuk jam berikutnya. Ketiga bocah ini lebih memilih untuk mengisi perut mereka di kantin sekolah.
“kau,, apa kau ingin mati? Ini masih di sekolah” donghae terlihat tak percaya dengan yeoja pabo disebelahnya itu.
“heii, dimana letak kesalahanku? Guru itu meminta hyuk untuk melaporkan segala perkembangaku” ji yeon sedikitpun tak mau kalah. Ia merasa donghae terlalu berlebihan memukulnya untuk hal sepele seperti itu. bahkan seharusnya ia bisa hanya memberitahu saja untuk mengecilkan volume suara gadis itu.
“jangan kekanakan. Dia memperhatikanmu karena kau muridnya. Apa kau fikir dia akan menyukaimu, begitu?”
“mungkin saja. Kau tau, aku begitu cantik” dengan begitu percaya diri yeoja itu membanggakan sesuatu yang –sebenarnya- memang tidak salah sedikitpun. Dia memang gadis yang cantik. Namun tingkah polosnya, benar-benar membuat donghae frustasi.
“kau memang gadis gila”
“sekali lagi. Kau tetap mencintaiku”
“ck, kau terlalu perc__”
“jadi hyuk, apa menurutmu kim seosaengnim menyukaiku?” potong ji yeon. Ia tak ingin berdebat dengan namja itu –donghae- didepan hyuk, sahabat donghae. Sahabatnya juga. Ia membelokkan wajahnya menuju hyuk dan memasang wajah menggemaskan untuk meminta jawaban dari hyuk
“ne?” jawab hyuk sedikit kaget. Bagaimana bisa yeoja ini bertanya hal yang –sepertinya- tidak mungkin.
“jawablah” ji yeon benar-benar tidak tau jika donghae telah begitu kesal karen ia abaikan. Namun, begitulah donghae. Selalu bersikap sedewasa mungkin selagi ia mampu.
“kurasa,, itu,, em,, tidak mungkin yeon. Kau tau__”
“jadi menurutmu aku tidak cantik?” ya tuhan, gadis ini benar-benar telah belajar bagaimana cara membaca pikiran orang lain dari hyuk jae.
“b_bukan begitu yeon”
“arraseo” gadis itu mulai menekuk wajahnya kesal. Hei, ia pun tau bahwa hyuk jae tidak akan menjawab tidak. Karena semua orang juga tau jika dia cantik.
“yeon, kau tau. Kau memang jelek. Terutama saat kau menekuk wajahmu dengan tidak sedikitpun tersenyum.” Jelas hyuk. Hanya bermaksud membuat yeoja itu mengganti ekspresinya. Tapi,,
“jadi menurutmu aku benar-benar tidak cantik?” membuat hyuk jae sedikit bingung bagaimana harus menjelaskannya. Eum,, ia juga harus menjaga perasaan donghae disini. Hyuk jae menarik nafasnya pelan lalu tersenyum begitu tampan.
“tidak yeon, kau cantik. Jika tidak, donghae tidak mungkin memilihmu. Kau tau, selera namja ini sedikit tinggi.” Hyuk jae menunjuk donghae yang membalasnya dengan senyum lebar pertanda meng-iya-kan. Sakit. Menyertakan nama namja lain dalam alasanmu untuk mengatakan bahwa seorang yeoja yang kau cintai cantik memang begitu menyakitkan. Namun ia harus sadar, yeoja ini milik donghae. Bukan dirinya. Yeoja itu segera tersenyum ceria. Ia berdiri dari tempat duduknya. Meninggalkan donghae dan segera menuju ke sebelah hyuk jae. Ia mengamit lengan namja itu, terlihat begitu berterimakasih.
“gomawo hyuk-ah. Heii, kau dengar itu?” ji yeon menunjuk donghae dengan dagunya. Membuat namja itu terkesiap sebentar, lalu ia tersenyum samar.
“kau tau, jika hyuk jae mengatakan yang sebenarnya ia hanya takut kau akan memaknnya hidup-hidup” wajah donghae yang awalnya terlihat begitu serius tiba-tiba tertawa dengan lepasnya. Ia begitu terhibur dengan wajah kesal ji yeon. Memang, tidak ada yang perlu di tutup-tutupi lagi tentang betapa kekanakannya persahabatan mereka. Toh, ji yeon sudah benar-benar tau. Yeoja itu memaksanya menceritakan segalanya tadi.
“ya kau!! Hyuk, aku benar-benar cantik bukan?” jiyeon semakin mengamit lengan hyuk lebih erat. Deg,, deg,, deg. ‘astaga, jangan sekarang’ batin hyuk. Ya, ji yeon tak pernah tau dampak perlakuannya begitu besar terhadap tubuh hyuk jae. Buktinya, ia hanya dapat terdiam, benar-benar tidak tau harus berbuat apa. Bahkan jika otaknya memerintahkan sesuatu pun, saat ini tubuhnya akan melawan. Meskipun sebenarnya ada perasaan senang dengan perlakuan yeoja ini, tapi tetap saja,, ya tuhan, ada donghae disini! Namun, tunggu! Ada yang salah disini. mengapa donghae terlihat biasa saja dengan pemandangan ini?. “hyuk, jawab!” paksa yeoja itu.
“ne? Ekhm, yeon. I_itu,, ya kau memang cantik” jawab hyuk jae tergagap.
“kau lihat? Kau membuatnya tertekan.” Donghae segera menyambar pembicaraan dengan cemoohnya. “jangan tindas hyuk jae lagi ji-ah. Kumohon” tutur donghae setelah melihat ji yeon seperti akan bertanya kembali. Ia juga tak dapat lagi menahan tawanya karena dapat membuat yeoja ini semakin kesal.
“ck, kalian berdua. Kau, aku membencimu!” ujar ji yeon dengan ujung telunjuk mengarah pada donghae. Ia melepaskan rangkulannya pada lengah hyuk jae. Membuat namja itu dapat bernafas begitu lega.
“aku tau” ujar hae.
“aku juga__”
“aku juga tau” potong hae kembali.
“aku benar-benar membencimu. Aku pergi” ji yeon segera memungut tas ranselnya, berjalan menjauh dari meja mereka. Membuat hyuk jae sedikit terkejut.
“hae, kau tidak mengejarnya?” ucap hyuk jae dengan wajah yang sedikit cemas. Ya, walau bagaimanapun ia ada disitu saat sepasang kekasih itu sedang berdebat.
“dia akan kembali. Tunggu sebentar lagi..” donghae menyandarkan punggungnya pada bangku kantin lalu melirik arloji yang bertengger manis pada pergelangan tangannya. “sekarang” tegasnya pada hyuk. Hyuk jae yang sedikit terkejut segera mendongakkan wajahnya memandang donghae. Lalu,,
“kau tidak menahanku?” ji yeon kembali –masih- dengan wajah kesalnya. ‘benar, dia kembali’ batin hyuk. Lalu beberapa saat kemudian kedua sahabat itu kembali tertawa lepas masih karena alasan yang sama, ji yeon. Mereka benar-benar tidak dapat menahan tawa untuk yang kedua kalinya. Yeoja ini, sungguh berbeda. Membuat atmosfer sekitar terasa begitu berbeda hanya dengan ekspresinya. Park ji yeon.
-TBC-

With love, Park ji yeon

2 thoughts on “Our Love Story part 4

  1. deerfishymonkey says:

    Masih ngerasa aneh dsini karakter hyukjae pinter bgt, mana pelajaran matematika lagi ngga dia bgt dah heehee..

  2. BebyPanda says:

    , hahaha
    Jiyi bnr2 lucu, Ya ampun gemes bngt, Hahaha
    Apa mrka bkl baik2 aja??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s