Our Love Sroty part 3

1~4
Judul : our love story [part 3]
Author : HyukgumSmile
Genre : romance
Rating : general
Main Cast : lee hyuk jae, park ji yeon
Other Cast : lee dong hae, etc.

-Hyuk jae POV-
“jadi benar? Apa kau ingin bercerita?”
“mengapa kau mencintainya?”
Ucapan gadis itu masih terekam jelas di memori otakku. Untuk pertama kalinya aku berbagi kehidupan cintaku pada orang lain. Ah, dan aku lupa jika dia bukan orang lain.
“whoa, kau luar biasa. Pasti gadis itu bangga memilikimu”
“mengapa tidak kau katakan saja?”
“ahh, bukankan itu berarti kau masih punya banyak kesempatan?”
Aku terlihat begitu terbuka. Apa akan baik-baik saja jika begini? Bahkan aku tak pernah bercerita pada donghae yang selama ini sudah -jelasjelas- mampu menutupi rahasiaku serapat mungkin. Bagaimana jika dia tau? Bagaimana jika dia menyadarinya? Apa cintaku benar-benar buta? Hingga semua hal yang telah kusimpan serapat mungkin dengan begitu mudahnya terlontar padanya.
“tuhan akan memberikan imbalan lebih jika kau mau menunggu”
“Bagiku cintamu sungguh luar biasa”
“Jika yeoja itu adalah aku mungkin aku akan mempertimbangkannya ”
Hei,, yeoja itu memang dirimu! Mengapa kau berbicara seolah-olah kau tak mengerti apa-apa? Atau mungkin memang kau tak mengerti apapun hingga saat ini? Aku tersenyum kecut. ‘Dia tak akan sadar’ batinku. Semua percakapan kami tadi siang kembali terlintas dalam benakku, membuat lengkungan manis itu kembali tercipta di bibirku. Percakapan tadi,, dan kebersamaan kami.. belum pernah aku sedekat itu dengannya. Maksudku, dia menceritakan apa yang ada dibenaknya seperti aku ini bukan orang baru baginya. Walaupun memang aku bukan orang baru. Tapi, hei..dia trauma kepada seorang namja dan aku? Dia menerimaku dengan begitu mudah. Aku kembali menggenggam sebuah foto dan menaruhnya di dadaku. Dapat kurasakan desiran aliran listrik hanya dengan mengingat percakapan tadi siang. Dan debaran jantung yang tidak menentu ini hanya karena sebuah,, foto? Ya hanya karna sebuah foto! Sebuah foto yang untuk pertama kalinya kudapatkan tanpa harus bersembunyi darinya, sebuah foto yang begitu dekat, sebuah foto dengan ekspresi manis seorang yeoja yang mengacungkan dua jari tengah dan telunjuknya, sebuah foto yang dia sadar dan ingin aku memilikinya, foto yang begitu bermakna. Aku melirik foto yang sama yang berada dalam sebuah bingkai ukiran besar berwarna coklat muda. Terbuat dari belahan pohon jati yang kuat dengan motif ‘everlasting love’. Ya, jati yang kuat dan everlasting. Semoga saja. Semua kenangan bersamanya beberapa hari ini benar-benar membuatku tak mampu lagi berfikir untuk pergi. Maaf hae, gadis-mu yang telah menyeretku terlalu jauh, bukankah sudah kukatakan sebelumnya?
Drrtt.. drrtt..
Kurasakan getaran itu menjalar melalui bantalan empuk kasur. 1 pesan. Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul 08.30 pm. Siapa orang yang mengirim pesan semalam ini? Maksudku, ini sudah waktunya beristirahat bagi pelajar. Aku mendengus kesal. Jika bukan eonni, maka itu pasti lee dong hae. Kubuka pesan itu. eeh? Yeon?
From: yeon
Yakk! Mengapa kau tidak menghubungiku?
Kau tidak memberikan nomermu saat itu.
Aish, yeoja ini. Eeh, b_bagaimana dia bisa tau nomerku?
To: yeon
Aku lupa. Mianhae. Keundae, darimana kau tau nomerku?
SEND. Tak beberapa lama kemudian terdengar kembali bunyi nada dering ponselku. Tertanda pesan masuk. Yaampun, cepat sekali yeoja ini..
From: yeon
Lee donghae tentu saja. Siapa lagi..
Astaga lee donghae. bagaimana bisa dia memberikan nomer ponsel namja lain pada kekasihnya? Apa dia gila? Segera ku ketik pesan untuknya. Sekedar memastika bahwa yeoja itu benar-benar meminta nomerku padanya. Namun belum sempat aku mengetik isi pesan itu, nada dering ponselku kembali berbunyi. 1 pesan. Siapa? Bukankah pesan yeon belum kubalas?
From: hae
Ya hyuk jae-ah. Tadi ji yeon meminta nomer ponselmu.
sepertinya penting untuk acara belajar kalian.
mianhae, baru memberitau-mu. Annyeong!
Aish, benar anak ini. Tapi apa dia tidak marah padaku? Semacam rasa cemburu, begitu. Apa tidak sama-sekali? Aahh, dia selalu mengatakan bahwa dia mempercayaiku. Dan aku, meskipun tak pernah membahayakan yeoja-nya namun aku adalah orang yang telah berniat untuk menghancurkan hubungannya. Baiklah, aku memang bejat.
‘bwara mr. Simple simple’‘~~
Terdengar suara dering panggilan ponselku. Aku segera mengambil ponsel itu dan mencoba mengetahui siapa lagi orang yang melakukan hal seperti ini, meribut diwaktu istirahatku. Eh? Yeon? Kenapa yeoja ini menghubungiku? Aish, ini sudah malam dan dia seorang yeoja. Ya tuhan, bagaimana ini? Aku belum pernah menerima panggilan dari seorang gadis, kecuali noonaku tentunya. Eh? Apa noona masih gadis? Eum..
”aish apa yang kufikirkan?!”. Aku mengacak pelan rambutku. Kenapa yeoja ini selalu membuatku tidak dapat melakukan apa-apa? Tolong berfikirlah lee hyuk jae!
“yak!! Bocah monyet! Matikan suara ponselmu itu! ribut sekali” ujar noona dari luar. Ya, aku menginap dirumah malam ini. Selain karena tugasku yang telah selesai, eomma juga memaksaku untuk pulang. Dan lagi, aku juga ingin membicarakan tentang keikutsertaanku untuk olimpiade tahun ini. Eum, ngomong-ngomong bagaimana dengan ponselku ini?
“yaa lee hyuk jaee!!” akh, dia gadis atau bukan? Mengapa seperti preman? Berbeda sekali dengan eomma. Aku segera memutuskan untuk menerima panggilan yeon.
“yeobseo yeon”
“yaa mengapa lama sekalii??” ujarnya. Ya tuhan, mengapa semua yeoja disekitarku seperti ini?
“kau yeoja atau bukan? Pelankan suaramu. Aku bisa tuli.”
“salahmu membuatku menunggu begitu lama”
“eum, aku baru saja keluar dari kamar mandi. Aku tidak tau kau menelfonku”
“gotjimal! Dasar monyet pembohong! Lee hyuk jae pembohoong!!” ujar noona dari luar. Aish, aku segera menutup ponselku dengan sebelah tangan dan berteriak.
“yaa! Diamlah dan jangan menguping pembicaraanku!” ujarku.
“apa kau bilang? Hei! Aku noonamu! Eomma!!” aku memutar bola mataku. Apa benar dia noonaku?
“ekhm, yobseo yeon?” sapaku lagi.
“BWAHAHAHA! Apa itu noonamu? Mengapa kalian lucu sekali? Bwaha” mataku terasa akan pecah mendengar reaksinya. Aku sudah membayangkan jika dia akan berfikir bahwa aku adik yang kurang ajar karena memperlakukan noona seperti itu. tapi ternyata,, tidak! Walaupun makhluk setengah gadis itu pantas mendapatkannya, tapi kali ini aku harus berterimakasih padanya karena telah membuat yeon tertawa.
“m_mianhae jika kau merasa tidak nyaman” ucapku
“tidak, aku senang. Aku ingin bertemu dengan noonamu nanti” jawabnya. Mwo? Sebenarnya ada apa dengan dua yeoja ini? Mengapa aneh sekali?
“kenapa kau diam?” tanyanya.
“eum, tidak. Mengapa kau ingin bertemu dengan noona?” tanyaku mengabaikan pertanyaannya. Aku lebih penasaran dengan apa yang difikirkannya.
“sepertinya noonamu menyenangkan. Aku ingin bertemu dengannya saat kerumahmu nanti”
“eeh? Kerumahku?”
“ne. Ah ya, aku lupa. Aku menghubungimu untuk mencocokkan jadwal belajar kita. Apa besok kau bisa? Kebetulan aku tidak memiliki jadwal apapun” tuturnya. Membuatku terdiam sejenak. Ahh, bazar sekolah sudah selesai! Dan sekarang saatnya belajar bersamanya. Astaga , kenapa cepat sekali?
“hyuk, yeobseo?”
“ne. Yeon. Baiklah, aku bisa. Nanti akan kukirimkan alamat apartemenku” ucapku spontan. Memang besok aku tidak memiliki jadwal apapun. Tapi untuk bertemu dengannya,, apa aku siap?
“baiklah. Sudah dulu hyuk. Jallja”
“eum. Jallja” ucapku kemudian mematikan sambungan telfon. Tanganku refleks memegang dada atas bagian kiriku. Benar. Jantungku sedang bekerja ekstra lagi malam ini. Aku tersenyum mengingatnya. Ini malam pertama kami berbicara melalui telefon. ‘Ya tuhan. Mengapa kau baik sekali padaku? Terimakasih banyak tuhan’ Batinku.
“eomma, kau lihatlah dia. Sudah kukatakan jangan memintanya pulang lagi. Biarkan saja dia membusuk di apartemennya itu” aku tersadar karena suara gaduh yang berasal dari luar. Noona? Ah ya! Noona!! Aku segera berlari menuju pintu dan ruang keluarga. Disana kutemukan noona sedang merengek di pelukan eomma. Ck, selalu seperti anak kecil. Namun aku tak begitu perduli.
“itu dia eomma, dia__” GREPP. Aku segera menarik noona kedalam pelukanku sebelum dia mengoceh lebih banyak lagi. Itu hanya akan membuat kesehatan indra pendengaranku terancam.
“gomawo noona. Gomawo” ucapku dengan tersenyum bahagia. Kulonggarkan pelukanku dan ku ciumi pipinya.
“kau memang noonaku. Ya, kau adalah noonaku.” Ucapku mengecup singkat dahinya lalu meyentilnya sebentar dan kembali memasuki kamarku dengan senyum bahagia.
“eeh? Dia.. kenapa? Eomma, jin apa yang telah merasukinya” dapat ku dengar gumaman noona di belakang. Namun aku tak begitu menghiraukannya. Ahh, sepertinya aku akan tidur begitu nyenyak malam ini.
-Author POV-
Hyuk jae melajukan audinya cepat menuju apartemennya di kawasan myeongdong. Tarikan indah di kedua sudut bibirnya menghiasi suasana hatinya pagi ini. Bagaimana tidak, pagi ini yeoja cerewet itu membangunkannya untuk meminta alamat apartemennya. Membangunkannya dengan dering ponsel pada jam tidurnya. Hei.. ini akhir pekan. Bagaimana bisa yeoja itu membangunkannya pada jam 7 pagi? Aish, benar-benar. Tapi bukannya kesal, hyukjae justru berterimakasih terkhusus kepada kim seosaengnim karena memberikannya kesempatan untuk tetap memandang yeoja itu. hyuk jae segera membersihkan dirinya setelah sambungan ponsel terputus di ujung sana. Ia segera turun menuju ruang makan keluarga. Membuat eomma dan noonanya membesarkan mata maksimal karena kaget. Benar kata sora, setan apa yang merasukinya?
“pagi eooma, appa, noona” sapanya riang. Eeh? Biasanya anak ini akan mengamuk besar jika sora membangunkannya terlalu pagi untuk menikmati sarapannya. Bocah ini akan menghabiskan sepanjang paginya dengan tidur dan akan bangun jika suasana sekitarnya telah terasa panas. Tepat sekali, siang hari! Setelah menghabiskan sarapan paginya, ia segera berangkat menuju apartemennya untuk bersiap-siap.
“aku pergi appa, eomma!” tukasnya segera berjalan cepat menuju pintu keluar.
“apa dia sedang jatuh cinta?” tanya appanya dingin. Ya benar. Hyuk jae sedang jatuh cinta. Appanya tau itu.
Hyuk jae segera menghubungi bibi han untuk membantunya membereskan apartemennya. Yeoja itu akan melotot kagum jika melihat keadaan apartemennya yang kacau balau saat ini. Sedangkan dia sendiri, dia akan menuju sebuah tempat perbelanjaan untuk membeli beberapa makanan ringan. Dia tak ingin mengecewakan yeoja yang untuk pertama kalinya itu mengunjungi kediamannya. Ah, ya! Dia yeoja pertama! Selalu menjadi yeoja pertama.
Audi putihnya segera melaju menuju tempat perbelanjaan itu. ini untuk pertama kalinya ia berbelanja kebutuhan rumah. Ah, ani! Ini hanya beberapa makanan ringan untuk yeoja cerewet yang akan mengujungi kediamannya. Untuk pertama kalinya dia berbelanja, demi seorang yeoja. Setelah beberapa makanan ringan itu memenuhi keranjangnya, ia segera menuju kasir untuk membayarnya. Hyuk jae segera keluar menuju parkiran, membuka kap belakang mobilnya dan menaruh segala bentuk belanjaannya disana. Hyuk jae lalu melajukan mobilnya menuju apartemen untuk berbenah.
“aku pulang!” teriaknya. Membuat wanita tua yang sedang membersihkan ruang tamu itu terkaget.
“tenanglah tuan lee, anda terlihat terlalu menggebu-gebu” protes bibi han.
“euh? Benarkah?” hyuk jae segera melirik jam dinding yang bertengger diatas televisi flatnya. 08.00. masih ada waktu 60 menit lagi. Ia kembali teringat pada janjinya dengan yeoja itu. ji yeon bilang ia akan datang jam sembilan pagi ini.
“kenapa kau terlihat begitu bahagia?” tanya bibi han penasaran. Hyuk jae tidak memperdulikan pertanyaan itu.
“aku ingin bersiap-siap bi. Tolong selesaikan sebelum jam 9 bi, setelah ini aku akan ada janji” ucapnya segera berjalan menuju pintu kamar.
“dengan seorang yeoja? Oh baiklah. Aku akan tersisihkan setelah ini” ucap bibi han menghangatkan pagi itu dengan candannya.
“haha, tidak. Bibi adalah yang nomer satu. Setelah eomma pastinya.” Ucap hyuk jae meyakinkan.
“kau selalu bisa. Sudah sana, ganti pakaianmu! Jangan kecewakan yeoja pertama yang akan mengunjungimu” membuat rona merah di wajah hyuk jae keluar.
“ini hanya belajar bersama bi” sambung hyuk jae. Ya, walau bagaimanapun bibi han telah tau banyak tentangnya. Dia mengurus hyuk jae sejak 4 tahun lalu. Dan selama itu bibi han tau, tak ada satu orang yeoja pun yang pernah dibawa hyuk jae ke apartemen ini.
“arasseo” jawab bibi han. Ia hanya tersenyum menyadari bahwa namja yang sudah selama 4 tahun ini di asuhnya tengah jatuh cinta. Hyuk jae segera memutar kenop pintu coklat itu. memasuki kamarnya untuk sekedar berganti pakaian. Ingat! Dia sudah mandi. Dia hanya perlu memperbaiki penampilannya. Hyukjae memakai celana jeans biru dengan kemeja kotak casual. Dia segera menyisir rambutnya rapi dengan memberi sedikit gel pengeras rambut. Sedikit. Sedikit lagi. Ah tidak, sangat banyak tepatnya. Ia kembali melirik jam dinding kamarnya. Masih ada waktu ujarnya. Ia kembali merapikan rambut pendeknya dengan sisir.
“beribu kalipun kau sisir tidak akan merubah apapun. Yang ada rambutmu akan semakin tipis. Kau mau botak sebelum waktunya?” ujar bibi han yang memasuki kamar hyuk untuk mengantarkan beberapa baju bersih. Ya, itu sudah biasa. Bibi han sudah seperti eommanya bagi hyuk jae.
“eoh? Benarkah?” Tanyanya. Hyuk jae bertanya dengan nada yang seperti ‘bagaimana bisa?’. Kurang lebih begitu. Bibi han melihat bocah itu dari ujung rambut hingga kakinya. Ia menggeleng pelan lalu mendesah. Ia berjalan menuju hyuk jae yang masih menunjukkan raut bingung pada wajahnya.
“igo! Kau ingin belajar atau ke pub?” ujar bibi han sambil memegang pinggiran celana jeans hyuk jae yang sedikit ketat.
“atau kau ingin melamar kerja sebagai waitres?” ujar wanita itu lagi memegang ujung kerah kemeja hyuk jae yang memang -sengaja- dibuka dua kancing atasnya.
“oh, atau kau ingin pergi kesebuah acara pesta formal?” ujarnya lagi menyentuh rambut hyuk jae. Menekan lengkungan rambut itu kebawah beberapa kali. Namun lengkungan itu tetap kembali seperti keadaan semula. Nampak jelas bahwa bocah ini menggunakan begitu banyak gel.
“ya tuhan. Kau memakai sebotol penuh gel? Apa kau ingin bangkrut jika harus menghabiskan sebotol gel setiap yeoja itu datang lagi nanti?” ujar bibi han terkesan mengintimidasi. Hyuk jae hanya memasang wajah ‘tak mengerti’ miliknya. Ia memperhatikan wajah bibi han yang terlihat jengah dengan penampilannya. ‘apa seburuk itu?’ batinnya.
“jadilah dirimu sendiri” ujar bibi han tersenyum. Menyentuh kedua pipi tirus hyuk jae dengan tangannya. Berusaha meyakinkan bocah bodoh itu.
“apa harus begitu?” tanya hyuk. Bibi han memutar bola matanya.
“ya. Harus begitu.”
“tapi aku ingin dia mengagumiku bi” ujar hyuk jae dengan wajah yang memelas. Persis seperti anak kecil yang meminta permen.
“kau tau, lebih baik dia tidak mengagumimu sama sekali daripada dia hanya mengagumi seseorang yang bukan dirimu. Kau ingin hidup dalam kepura-puraan?” tutur bibi han “ lagipula, jika hari ini dia mengagumimu. Apa ada jaminan dia akan tetap menggagumimu setelah dia tau dirimu yang sebenarnya?” lanjut bibi han. Sebenarnya dia tau, bocah ini pasti mengerti harus bersikap seperti apa. Tapi cinta yang telah menjalar kesegala inci bagian tubuhnya membuat segala stimulus menuju otaknya menyendat. Hingga bocah ini tak tau harus melakukan apa. Seperti anak SMP yang baru akan memulai kisah cintanya. See? Beginilah akibat cinta pada bocah ini. Dia juga pernah melihat hyuk jae melakukan hal ini 4 tahun yang lalu. Dan hari ini, bocah ini melakukan hal yang sama. Bagaimana hyuk jae bisa berfikir bahwa bibi han tidak akan tau jika dia sedang jatuh cinta? Wanita ini telah mengetahui sifatnya semenjak 4 tahun yang lalu. Bibi han mengelus rambut hyukjae pelan.
“jadilah dirimu sendiri” ujarnya lagi “cepatlah. Waktumu tak banyak lagi” sambungnya. Bibi han segera berjalan keluar, membiarkan bocah itu mengurus dirinya. Hingga tiba-tiba sebuah tangan menarik ujung lengan bajunya.
“bi,,, pilihkan baju untukku” ucap hyuk jae merengek seperti anak kecil. Membuat bibi han kembali memutar bola matanya.
“minggir kau. Dasar bocah pabo!” ucapnya berjalan menuju lemari. Hyuk jae hanya mampu tersenyum lebar. Menunjukkan deretan gigi rapi bersama gummy smile andalannya.
“igo. Pakai ini. Ini juga” bibi han menaruh sepasang baju dan celana di atas ranjang king size hyuk jae. “dan jangan lupa bersihkan gel-mu. Kau seperti suamiku saat akan berangkat ke gereja. Setelah kering jangan berikan apapun untuk rambutmu. Lakukan saja seperti ini” sambung bibi han yang tangannya yang mengacak pelan rambut hyuk jae. Membuat rambut tegang ber-gel itu tampak berantakan. Setelahnya bibi han segera berjalan keluar. Dan namja bodoh itu, hanya mampu terdiam memperhatikan punggung bibi han yang semakin menjauh dan menghilang dibalik pintu.
“benar-benar berpengalaman” ucapnya seraya menyambar tumpukan baju yang telah dipilih bibi han dan berjalan menuju kamar mandi. Dia melirik sebentar jam dindingnya lalu berlari kencang.
“dia akan dataaang!” ujarnya. Lalu terdengar bunyi keras dentuman pintu kamar mandi.
-ji yeon POV-
“jadi kau juga baru tau alamat hyuk jae?” tanyaku padanya. Ya, donghae memaksa untuk mengantarkanku kerumah hyuk. Ia tiba-tiba datang dan berdiri-bersandar pada audi hitamnya yang ia parkir didepan rumah. Bahkan dia tak memberi tau akan menjemputku. Padahal aku sudah meminta supir pribadi appa untuk mengantarkanku. Membuatku harus membungkuk berkali-kali pada appa dan jung aboenim untuk meminta maaf. Dengan santainya namja yang bertopang pada sisi bagian mobilnya itu melambai dan memamerkan senyum khasnya. Membuatku frustasi saja. Dan ketika aku bertanya mengapa dia tiba-tiba menjemputku dia hanya mejawab ‘aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja’ begitulah katanya tadi. Oh ayolah! Aku akan di antar oleh supir pribadi appa yang sudah kukenal sejak kecil. Memang tidak ada yang tak mungkin, tapi 18 tahun mengenal jung aboenim menurutku dia bukan orang yang membahayakan.
“eum” jawabnya mantap. Dia terus menatap lurus jalan menuju kawasan myeongdong.
“jadi kau mengantarkanku karena ingin tau rumah hyuk, begitu?” sedikit tak percaya memang, tapi tidak juga terkejut. Ya, biasa saja.
“salah satunya itu. bukankah sudah kukatakan padamu, aku ingin memastikan kau baik-baik saja. Itu alasan utamaku. Dan lagi, aku juga ada janji bertemu siwon” tuturnya panjang.
“jadi?” tanyaku tak perduli.
“heii, jangan seperti itu. rumah siwon juga berada didekat sana” tuturnya lagi.
“jadi karena itu?” tanyaku.
“ck, kau menyebalkan. Walaupun rumah hyuk jae sangat jauh dari rumah siwon, aku akan tetap mengantarkanmu. Bukankah sudah kubilang __”
“kau ingin memastikanku baik-baik saja. Baiklah, alasanmu diterima” ujarku memotong pembicaraannya.
“jangan marah, aku benar-benar menghawatirkanmu.kau tau? Jangan berfikiran macam-macam. Kau paham betul bahwa aku tak mungkin berselingkuh dengan siwon” ujarnya. Ck, namja bodoh ini.
“ya, tapi dengan adiknya mungkin saja” ketusku. Kutatap wajahnya yang memancarkan tawa khas seorang lee dong hae.
“kau cemburu eoh?”
“tidak”
“iya”
“tidak. Tidak mungkin. Tidak akan. Aku tidak cemburu” ketusku. Kenapa dia semakin menjengkelkan saja? Urgh!
“dengar yeoja yang tidak pandai berbohong. Aku tidak mungkin berselingkuh dengan adiknya. Kau tau, dia itu bukan yeoja cerewet yang suka merajuk dan dengan rakusnya akan menghabiskan uangku untuk membelikannya ice cream swalt porsi double ditambah dengan beberapa porsi do__”
“hentikan! Kau menyebalkan!” tukasku. bagaimana bisa dia mengatakan itu semua didepan mataku? Heii aku tersinggung saat ini!
“dan lagi, dia bukan yeoja yang jika berbohong akan mengucapkan kata yang sama berulang kali dan dengan manisnya akan menggembungkan kedua pipinya” ucapnya meneruskan pernyataannya tadi tanpa memperdulikanku. Eoh? Tapi kata-kata terakhir itu..
“ah,, dan yang paling penting. Dia bukan yeoja yang mencintaku seperti seorang park ji yeon” ucapnya mengakhiri serentetan panjang pernyataannya tentangku. Membuat rona merah itu kembali keluar. Aku segera mengalihkan pandanganku keluar jendela. Bisa mati aku jika tetap memandangnya dengan keadaan seperti ini. Dia, lee dong hae. Selalu saja mengeluarkan kata-kata manis yang membuatku tak berkutik sedikitpun.
“dia juga bukan yeoja yang jika malu akan membuang pandangannya keluar jendela karena takut untuk kupandangi” lanjutnya.
“yakk!!” aku membalikkan tubuhku menghadapnya. Namun, belum sempat melakukan apapun sebuah benda lembut dan hangat mendarat di keningku. “sudah sampai” ujarnya setelah menyudahi kecupan singkatnya di dahiku. Dia memang namja gila. Demi apapun, tolong telan aku menuju dasar bumi sekarang! Rona merah dipipiku semakin jelas terlihat.
“tapi adiknya cantik. Sangat cantik” ujarku menyambung pembicaraan kami tadi. Aku tak begitu perduli jika kami telah sampai.
“ya, aku tau. Tapi entahlah. Mataku hanya mampu memandangmu” AAA!! Apa-apaan namja ini! Aku menunduk. Menyembunyikan wajahku yang sudah pasti seperti kepiting rebus saat ini. Namun tangan kekarnya menarik daguku. Memaksaku menatap matanya. Tangannya bergerak menuju pipiku kemudian bersarang di rahangku. Dapat kurasakan ibu jarinya mengusap pelan tonjolan pipiku dengan lembut.
“aku suka melihatmu tersipu. Kau terlihat begitu manis” tuturnya lagi. “sekarang masuklah, hyuk jae pasti sudah menunggumu lama”. Omo! Hyuk jae? Aku segera melirik arloji yang bertengger manis di pergelangan tangan kiriku. 09.15. oh baiklah, aku terlambat! Aku segera memandang wajah donghae cemas, meminta izin sebenarnya. Ia mengangguk sejenak, pertanda memperbolehkanku untuk pergi. Aku segera membuka seatbelt-ku dan membereskan segala macam barang yang akan ku bawa ke atas nanti.
“tenanglah, hyuk jae tidak akan memangsamu hanya karena kau terlambat datang” ucap donghae menenangkanku. Aku melihatnya sejenak sebelum membuka pintu mobil.
“kau tak ingin berkunjung?” tanyaku
“lain kali saja, aku juga terlambat sepertinya” jawabnya tersenyum
“baiklah, aku pergi dulu. Anyyeong” aku segera membuka pintu setelah donghae menghadiahi sebuah kecupan lagi di keningku.
“eum, anyyeong” dapat kulihat mobilnya yang pergi tergesa-gesa. Benar, dia sudah terlambat. Begitupun aku. Aku segera memasuki lobby apartemen dan menuju sebuah lift. Menekan nomer lantai tujuanku. ‘semoga dia tidak marah’ batinku.
-Author POV-
‘eum,, ini sudah lewat 15 menit. Apa dia tersesat? Mengapa dia terlambat?’ batin hyuk jae terus menggumam menimbulkan begitu banyak pertanyaan yang sampai saat ini tak satupun dapat dijawabnya. ‘apa terjadi sesuatu? Apa dia baik-baik saja?’ ‘atau,, jangan-jangan..’ ‘ah ani! Aku tidak boleh berfikir seperti itu. ucapan adalah doa. Lee hyuk jae!’ ‘tapi,, mengapa belum datang juga?’ batinnya terus mendesah gelisah. Membuat bibi han yang memperhatikannya dari paintri hanya dapat menggeleng pelan dan tersenyum.
Ting! Tung!
Terdengar suara bel berbunyi. Bibi han segera meletakkan gelas dan sebuah kain pengelap kaca diatas meja. Berjalan menuju pintu depan.
“ingat! Jadi diri sendiri” ucap bibi han mengingatkan hyuk jae. ‘memangnya aku bersikap seperti apa?’ ‘baiklah. Jadi diri sendiri!’ ‘kau pasti bisa lee hyuk jae’ batinnya berkali kali.
“itu dia, sambutlah” ujar bibi han setelah melihat seseorang didepan pintu melalui camera intercom. Hyu kjae segera berjalan menuju pintu dan membukakannya untuk ji yeon.
Cklekk..
Terdengar suara decitan pintu. Ya, yeoja itu telah masuk. Kini ia berdiri tepat didepan pintu masuk.
“hyuk-ah, maaf aku terlambat” ucapnya seraya membungkuk beberapa kali. Gadis itu menggunakan jeans biru pekat dengan atasan baju kemeja afron longgar berwarna coklat muda. Begitu senada dengan kulit putih susunya. Ditambah dengan rambut hitam legamnya yang terurai begitu indah. Membuat hyukjae hanya mampu terdiam untuk beberapa saat.
“hyuk, jangan marah. Jeball” ucapnya lagi menyadarkan hyuk jae akan lamunannya. Yeoja ini terlihat begitu cantik.
“tidak, aku tidak marah yeon. Masuklah” jawabnya. Ji yeon hanya mampu membalas senyuman manis namja itu. hyuk jae tampak memukau dengan celana treaning tidak begitu ketat dengan atasan kaus biru muda yang tidak longgar namun tidak pula pas body. Ditambah dengan tatanan rambutnya yang dibiarkan sedikit berantakan, justru membuatnya terlihat semakin,, seksi. ‘Beginikah dia jika dirumah?’ pikir yeon.
“jinja?” tanyanya “lalu mengapa kau diam saja” sambung ji yeon.
“hanya sedang ingin. Apa kau tersesat? Apa terjadi sesuatu?” tanya hyuk dengan wajah yang –sebenarnya- tak biasa namun tidak pula terlalu cemas. Dia hanya mengeluarkan sifat kesehariannya. ‘Ingat! Menjadi diri sendiri’ tegasnya dalam hati. Hyuk jae berjalan menuju ruang tamu diikuti ji yeon di belakangnya.
“tidak, apartemenmu cukup mudah ditemukan. Hanya saja tadi ada sedikit masalah dengan donghae” ujar jiyeon.
“eoh? Kau bersamanya?”
“ya, dia memaksa mengantarkanku pagi ini”
“lalu?”
“sudah pergi”
“kalian,, bertengkar?” tanya hyuk.
“ahaha,, bukan” tawa jiyeon cepat “ hanya ada yang perlu dibicarakan” lanjutnya. Hyuk jae melihatnya dengan sedikit khawatir. Ya bagaimanapun orang yang sedang jiyeon bicarakan adalah sahabatnya.
“jangan tatap aku begitu. Tidak terjadi apa-apa. Sungguh!” tegas yeoja itu melihat tatapan hyuk jae yang menunjukkan kekhawatirannya akan masalah jiyeon.
“baiklah. Jika terjadi sesuatu jangan hubungi aku.” Canda hyuk.
“hss. Kau terlihat seperti oppaku. Dia sudah memiliki janji bersama siwon” ujarnya sembari duduk pada sofa ruang tamu itu. eh? Bukan. Ini ruang keluarga, pasalnya ada televisi dan dari sini kau dapat melihat langsung dapur belakang. ‘Apa tidak memiliki ruang tamu?’ batin jiyeon.
“kau ingin minum apa?” tanya namja itu mengagetkan ji yeon.
“terserahmu saja. Aku tak ingin merepotkan” balasnya. Hyuk jae segera menuju dapur. Seperti ingin membuatkan sesuatu yang begitu special. Sedangkan ji yeon hanya menatap sekitar. Apartemen ini,, terletak di tengah-tengah kawasan myeongdong. Kawasan terkenal padat dengan segudang aktivitasnya. Tidak mudah mencari apartemen murah di daerah ini. Dan apartemen hyuk jae, pastinya salah satu yang berharga selangit. Ji yeon pernah mendengar dari namjachingunya bahwa hyuk adalah pewaris tunggal lee.crop. jadi, pantas saja fasilitasnya seperti ini. Apartemen berwarna putih mendekati crem itu begitu besar dengan sebuah pantri dan dapur kotor. Ada dua balkon dan empat pintu, dua diantaranya kamar, satu ruang belajar dan satu laginya adalah tempat latihan untuk hyuk jae. Ya, selain matematika namja itu juga mahir dalam olah tubuh, dance. Beberapa kali ia memenangkan turnamen dan lomba-loma besar. Bahkan club dance sekolah telah berkali-kali memintanya untuk menjadi mentor. Namun buka hyuk jae namanya jika ia begitu saja menerima tawaran itu. lama berada didapur hyuk jae kembali dengan dua gelas milkshake strawberry pada kedua tangannya . sebenarnya ia telah menyiapkan ini sebelumnya.
“milkshake?” seru jiyeon antusias.
“eum. Duduklah. Taruh bukumu disana” tunjuk hyuk jae pada meja kaca didepannya.
“arraseo” ji yeon seperti menurut begitu saja ketika isi kepalanya telah dipenuhi oleh bayang-bayang milkshake dingin nan segar itu. hyuk jae segera menyodorkan segelas milkshake di tangannya dan beberapa saat kemudian hanya tersisa separuhnya saja.
“apa begitu haus? Ingin ku ambilkan lagi?” tanyanya memandang ji yeon takjub. Yeoja itu hanya menggerakkan kepalanya kekiri dan ke kanan dengan tersenyum dan meletakkan gelas milkshake tersebut keatas meja.
“igo. Aku juga memiliki beberapa buku.” Ucapnya menyodorkan beberapa tumpukan buku pada hyuk jae.
“kau membawanya sendiri?” tanya hyuk jae.
“apa kau melihat seseorang dibelakangku saat aku datang tadi? Oh, atau sesuatu yang sebenarnya tidak terlihat tapi__”
“yaa geumanhae..” potong hyuk jae. Ya, namja itu sedikit tidak nyaman dengan pembicaraan berbau mistis seperti itu. tapi ji yeon juga –sebenarnya- tidak bermaksud apapun.
“kau takut??” tanya jiyeon pelan. Yeoja itu ingin tertawa namun ia merasa harus menghargai namja diepannya.
“tidak”
“ya”
“tidak”
“begitukah? Lalu bagaimana dengan gadis itu?” tunjuk ji yeon pada sudut pantri dapur.
“gadis? Mana?”
“itu hyuk,, lihatlah! Atau.. apa kau__”
“ yaa! Yeon geumanhae! Geurae, aku takut” hyuk jae terlihat sedikit tertekan dengan perlakuan yeoja itu.
“bwahahahah! Kau,, lucu sekali. Kau takut hantu!!” tawanya begitu lepas.
“bukan takut. Hanya merasa tidak nyaman” ralatnya.
“sama saja! Penakut!”
“yakk!!”
“ahaha! Arraseo. Arraseo.” ‘Aish, yeoja ini’ batin hyuk. Ya , hanya jiyeon yang dapat memperlakukan hyuk seperti ini. Sebelumnya tak ada satu wanitapun yang akan berani mengoloknya seperti ji yeon.
“baiklah, ayo belajar” dengan cepat yeoja itu terlihat seperti biasa saja. Tak merasa bersalah sedikitpun dengan keadaan psikis hyuk jae yang sudah mendekati kata mati. Bagaimana tidak, yeoja itu memancingnya dengan pembahasan yang,, entahlah. Ditambah dengan kenyataan bahwa mereka, saat ini, begitu dekat. Ini adalah untuk pertama kalinya hyuk jae mengundang seorang gadis, dan sekarang ia bercengkrama dengan yeoja itu diruang tengah apartemennya. Ya tuhan, sungguh keajaiban.
-TBC-
With love, Park ji yeon

3 thoughts on “Our Love Sroty part 3

  1. elfexotic says:

    Hyuk, Jiyeon kn udah sama Donghae.. gimana kalo kamu sma aku aja?? ^^

  2. deerfishymonkey says:

    Ya ampun hyukjae takut hantu hahhaa

  3. BebyPanda says:

    , wach smga hub mrka lebih baik, ingat hyuk jd dri sendri..
    Ada apa dgn Abng hae?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s