Our Love Story part 2


1~4

Judul : our love story [part 2]
Author : HyukgumSmile
Genre : romance
Rating : general
Main Cast : lee hyuk jae, park ji yeon
Other Cast : lee dong hae, etc.

-jiyeon POV-
aku segera turun setelah membayar tagihan taksi yang aku tumpangi. Hahh, setelah mempersiapkan segala keperluan untuk bazar aku perlu menyegarkan fikiran. Setidaknya setelah mereka memforsirku untuk bekerja sejak sore tadi hingga sekarang.
Lebih baik aku mencari tempat makan. Ini sudah entah yang keberapa kalinya aku melewatkan makan malamku jika rapat panitia diadakan. Ya, jabatanku yang mengurus seksi stan memang sedikit banyak menguras tenaga dan waktuku. Untung saja donghae tidak tau. Bukan, aku yang tidak memberitaunya. Anak itu bisa lebih cerewet dari seorang ahjumma-ahjumma jika sedang mengomel, tentu ditambah dengan kenyataan aku yang mengabaikan keadaan perutku yang kosong.
Dari dulu dia selalu memohon agar aku makan tepat waktu. Manis sekali bukan. Dia bilang dia tak ingin melihatku menderita seperi kakaknya-donghwa- yang harus di operasi karena lipatan usus besar yang penyebab utamanya adalah jadwal makan tidak teratur.
Tapi mau bagaimana lagi. Itu semua adalah konsekuensi karena aku menerima jabatan ini dengan sadarku. Ya, pihak sekolah tak pernah memaksa. Aku dapat menolak jabatan yang di berikan sekolah saat itu jika aku tidak mau atau mungkin tak sanggup. Tapi kedua alasan itu sungguh bukan aku. Aku tau aku mampu dan aku ingin terlibat dalam segala hiruk-pikuk kegiatan sekolah itu. kau akan sadar betapa pentingnya masa sekolah menegah ini jika kau juga sadar bahwa waktumu disana tidak akan lama lagi.
Aku sudah memasuki tingkat kedua semester akhir. Kurang lebih hanya tinggal setahun lagi waktuku disana. Karena itu aku sangat ingin berpartisipasi dalam acara sekolah. Lagipula, aku tak ingin mengecewakan pihak sekolah yang telah memilihku. Bagiku, itu sungguh sebuah kehormatan karena mereka yakin bahwa aku bisa. Itu berarti mereka mengakui kemampuanku, bukan?
Aku segera memasuki pelataran tempat perbelanjaan itu. Berkeliling mencari tempat makan yang sedikit hening. Aku tidak terlalu suka keramaian. Tepat disaat aku melewati sebuah bookstore besar, aku melihat seseorang seperti,, hyuk jae. Untuk apa dia disini? Aku mencoba memasuki bookstore itu dan berdiri sedikit didepannya.
Kenapa dia rajin sekali, membeli begitu banyak buku tebal. Apa dia akan sanggup membacanya? Dia terus berjalan, sepertinya menuju kasir. Dia,, tidak menyadari kehadiranku. Ya tuhan, kenapa serius sekali. Aku berjalan mengikutinya lalu memanggilnya dengan sedikit berteriak.
“lee hyuk jae-ssi”
-Author POV-
Hyuk jae segera menghampiri jiyeon setelah membayar harga buku yang ia beli. Dia tak ingin membuat gadis itu menunggu lebih lama. Beberapa saat yang lalu ia memang sangat terkejut dengan kehadiran gadis itu. Bagaimana tidak, dia menemukan gadis-nya ditempat seperti ini. Maksudnya, tempat perbelanjaan ini bukannya kecil. Namun mereka di pertemukan dengan sengaja oleh tuhan.
Ini seperti cerita drama televisi yang sering ditonton oleh kakaknya, bertemu di suatu tempat yang sepertinya tidak mungkin. Jika dalam drama hal-hal seperti itu dianggap tanda berjodoh, maka hyukjae terlalu pintar untuk percaya dengan hal yang tidak pasti seperti itu. ‘ini hanya kebetulan’ pikirnya.
“apa aku terlalu lama?” tanya hyukjae pada jiyeon yang telah menunggunya di pintu bookstore.
“tidak, tidak sama sekali” balas jiyeon tersenyum. Ya tuhan, ‘lee hyuk jae jangan pingsan sekarang!’ batinnya.
Setelah itu suasana hening tecipta di antara mereka. Tak ada yang sanggup untuk memulai percakapan. Ji yeon masih canggung dengan kebersamaannya bersama hyukjae. Bagaimanapun bersikap sedekat ini tak pernah ia lakukan pada sembarang namja. Ia juga takut hyukjae akan menatapnya sebagai wanita ‘genit’-mungkin- jika dia tiba-tiba bersikap sok akrab dengan namja itu.
Lain lagi dengan lee hyuk jae. Dia merasa seperti perasaan gugup yang bahkan hingga sekarang dia tak tau bagaimana cara mengatasinya. Dia juga takut gadis didepannya ini akan menganggapnya namja ‘bejat’ yang bersikap berlebihan terhadap yeojachingu sahabatnya sendiri. Keadaan mereka benar-benar serba salah.
Mereka hanya bisa berkata dalam pikiran mereka. Mereka juga harus berpikir sebelum bertindak. Tidak ingin menimbulkan kesan tak baik pada lawan bicara. Lagipula, ini pertama kalinya mereka berada dalam keadaan seperti ini. Biasanya selalu ada lee dong hae atau jikapun tidak mereka memiliki orang lain yang mereka kenal disisi mereka untuk meredakan keheningan yang tercipta seperti ini.
“eum,, kalau begitu aku ingin kesana saja” tutur jiyeon yang tiba-tiba memecah keheningan. Hyuk jae segera mendongakkan kepalanya setelah mendengar pernyataan yeoja itu.
“apa kau sudah makan?” tanya hyuk jae tepat pada saat jiyeon akan melangkah pergi.
“eh??”
“apa kau sudah makan? Ayo makan bersama. Aku tau tempat yang menyenangkan disini” ucap hyuk jae. ‘Yak! Apa yang kau katakan bodoh’ umpatnya dalam hati. Ia mencoba tersenyum pada ji yeon. Namun, hyuk jae segera memupuskan harapannya setelah melihat keraguan pada mimik wajah yeoja itu. ‘apa dia sudah makan?’ ‘bodoh! Apa yang kau pikirkan hyuk jae!’ ‘bagaimana jika dia menolak?’ batinnya.
“eumm,, i-itu.. aku, sudah ma__”
Kryuukk..
Oh, suara apa itu? Tidak,, jangan katakan itu,,
“perutmu tidak dapat berbohong nona park. Ayo makan. Aku yang traktir” ujar hyukjae. Entahlah, dia merasa begitu senang ketika mengetahui gadis ini belum makan. Hyuk jae segera menyambar pergelangan tangan jiyeon dan membawanya ke subuah tempat makan.
__
“jadi kau baru saja pulang dari rumah kim seosaengnim?” tanya jiyeon setelah mereka memesan beberapa makanan untuk disantap.
“eum. Dia menghubungiku dan memintaku untuk datang” jawab hyukjae
“untuk apa?”
“hanya ingin memberikan beberapa materi dan rekomendasi buku” jawab namja itu lagi.
“lalu?”
“lalu apa?”
“semua buku itu rekomendasi kim seosaengnim, begitu?” tanya jiyeon
“ya begitulah. Aku hanya memiliki beberapa, jadi kuputuskan untuk membeli sisanya.” Jawab hyukjae lagi.
“gomawoo” ucap gadis itu setelah pesanan mereka datang. Sepiring nasi goreng kimchi dengan segelas jus strawberry untuk hyuk jae dan sepiring steak blackpaper dengan segelas milkshake strawberry untuk jiyeon. Gadis itu segera menyeruput minumannya dan menggumam lega. Membuat hyukjae terkesima dengan ekspresi yang di keluarkan gadis itu.
“apa itu tidak berlebihan?” sambung gadis itu setelah mulai memotong steaknya.
“tidak jika untuk pelajaran” jawaban namja itu mampu membuat jiyeon terdiam. Dia seperti menemukan sosok lain dari seorang hyuk jae yang selama ini terkenal pendiam dan cuek.
“whoa, orang tuamu pasti bangga memiliki anak sepertimu” dan kali ini hyukjae yang dibuat terdiam oleh perkataan yang terlontar dari mulut gadis itu. Apa benar dia jiyeon? Ini bukan seperti percakapan mereka. Ini seperti percakapan dua orang sahabat yang penuh dengan ekspresi. Ya, ekspresi baru gadis itu. Hyukjae berjanji akan menyimpannya dibagian paling penting dalam memorinya.
“benarkah? Aku juga berpikir begitu”.
“eum..” jiyeon mengangguk pelan.
“lagipula, kita harus mempertahankan posisi sekolah yang tahun lalu mendapat gelar tiga besar” sambung hyuk jae. Gadis itu terdiam.
“ahh, benar juga. Ini pasti akan sulit”
“tidak. Jikapun iya, aku akan membantumu untuk keluar dari kesulitan ini” terang hyukjae yang kembali membuat gadis itu terdiam. ‘Eoh, tunggu! Apa yang aku katakan? aakkkh’. Dia juga tidak tau mengapa kata seperti itu bisa keluar dari mulutnya.
“benarkah? Wah, aku sangat beruntung terpilih bersamamu” balas yeoja itu.
“ini Akan lebih mudah karena kau cerdas dan tahun lalu juga mengikuti lomba yang sama bukan?” sambungnya lagi. Hyukjae benar-benar tak dapat menahan senyumannya melihat berbagai ekspresi yang dikeluarkan yeoja itu.
“bukan karena aku cerdas, tapi karena kita bekerjasama” balas hyuk. “kau juga cerdas” lanjutnya.
“bagaimana kau bisa tau bahwa aku cerdas?” selidik jiyeon dengan wajah yang dibuat-buat seolah curiga. ‘ah benar juga. Darimana kau tau lee hyuk jae’ geram namja itu lagi. Bagaimana bisa dia mengeluarka kata-kata yang membahayakan kelangsungan hidupnya didepan gadis ini berkali-kali? Catat! Berkali-kali.
“eum,, dari kim seosaengnim tentunya” jawab hyuk jae spontan.
“benarkah?? baiklah.” Jawab jiyeon. Membuat hyukjae dapat bernafas lega dan kembali melahap makanannya.
“jadi, mengapa kau jahat sekali tidak membawaku bersamamu kerumah kim seosaengnim?” tanya gadis itu lagi. Matilah kau lee hyuk jae!
“itu,, aku, tidak tau nomer handphonemu. Lagipula, bukankah kau bilang selama 5 hari ini akan sibuk dengan persiapan bazar sekolah? Aku tidak ingin mengganggumu” jawab namja itu.
“ah, matta! Aku lupa. Berikan handphone mu” pintanya cepat.
“eeh? Untuk apa?”
Gadis itu tak memperdulikan pertanyaan hyukjae, ia segera menyambar handphone hyukjae yang terletak di sebelah piring nasi goreng kimchi namja itu. Hyuk jae hanya dapat terdiam melihat apa yang dilakukan yeoja ini padanya.
“ini..” ujarnya memberikan kembali ponsel hyukjae. Namja itu memperhatikan perubahan yang terjadipada ponselnya.
“yeon?” tanyanya ragu setelah melihat nama kontak baru itu.
“eum. Aku lebih suka dipanggil begitu. Jangan diganti. Atau selamanya aku tak akan ingin lagi dipanggil olehmu” tutur gadis itu dengan mimik wajah yang begitu manja. Membuat hyukjae terkesima. Ini pertama kalinya gadis itu menunjukkan sifat manjanya didepan hyuk jae.
“eeng,, baiklah..” jawabnya gugup.
“apa kau juga suka strawberry hyukjae-ssi?” tanya gadis itu. Sekali lagi, untuk pertama kalinya gadis itu menunjukkan sifat cerewetnya untuk hyukjae. Semuanya untuk pertama kalinya terjadi hari ini.
“bisakah kau menghilangkan kata –ssi dibelakang namaku? Itu terlalu formal, dan kau membuatku terlihat seperti orang tua” balas hyukjae mencoba membalas candaan jiyeon.
“tapi itu akan terdengar aneh” jawabnya.
“tidak. Kau hanya perlu memanggilku hyukjae” jawab namja itu.
“itu terlalu panjang. Ada panggilan lain?”
“mengapa kau cerewet sekali?”
“hyuk! Aku akan memanggilmu hyuk” balas jiyeon tanpa memperdulikan hyukjae. Namja ini hanya mampu diam setelah seharian ini bersama yeoja yang ternyata sangat jauh dari apa yang dia pikirkan selama ini.
“baiklah” ujar hyukjae mengalah. Lagipula, belum ada yang memanggilnya seperti itu. Selama ini, jika bukan hyukjae orang akan memanggilnya eunhyuk. Tapi tak apa. Hanya gadis ini yang akan memanggilnya sepeti itu dan hanya akan gadis ini. Dia tersenyum mengingat ini seperti panggilan spesial baginya, lalu kembali menyeruput jus strawberry miliknya.
“jadi,, kau belum menjawab pertanyaanku, hyuk. Apa kau juga suka strawberry?” sambung yeoja itu kembali. Dan begitulah percakapan terjadi diantara mereka sepanjang malam itu hingga hyukjae mengantarkan jiyeon untuk pulang.
Mereka memulai segala sesuatu dengan perlahan. Seperti laut yang menunggu lembayung terbenam di peraduannya. Lama memang, namun pasti! Dan terimakasih untuk hari itu. Hyuk jae benar-benar akan mengingat hari dimana dia dapat mengenal jiyeon lebih dekat lagi.
-hyuk jae POV-
“heii, fokuslah” tegur donghae entah untuk yang ke berapa kalinya sejak tadi.
“mian,,” dan hanya itu yang dapat aku katakan. Pikiranku terlalu sibuk untuk mengingat kejadian malam itu. Makan malam bersamanya, mengetahui nomer handphonenya, mengetahui dimana rumahnya, dapat melihat berbagai ekspresi mengagumkannya,, ya tuhan, aku benar-benar beruntung.
Dapat kupastikan bahwa aku telah melakukan kebaikan yang begitu besar pada kehidupanku sebelumnya hingga tuhan terlihat begitu baik dengan memberikanku berbagai macam cara untuk tetap memandang jiyeon.
Dan lagi, dia ternyata juga menyukai srtawberry. Apa ini hanya sebuah kebetulan? Bahkan setelah kejadian itu aku seakan tidak perduli. Ya, aku memikirkan seorang yeoja yang saat ini namjachingunya berada disampingku. Maafkan aku hae, tapi sungguh wanitamu benar-benar telah menarikku begitu dalam. Sangat sulit bagiku untuk keluar kembali.
“lee hyuk jae-ssi,, kau termenung lagi?” tanya donghae geram. Aish, anak ini membuyarkan lamunanku saja.
“astaga. Heii kau kenapa? Apa terjadi sesuatu? Katakanlah” ujarnya lagi. Dia terlihat benar-benar penasaran dengan isi pikiranku.
“kau,, sedang jatuh cinta? Benarkan?” ucapnya lagi. Aish, bocah sialan ini. Apa yang dia katakan. Tapi dia benar, aku sedang jatuh cinta. Donghae selalu dapat mengerti apa yang aku pikirkan. Mungkin karena hampir dua tahun ini aku selalu bersamanya.
Haruskah aku berterus terang? Mengatakan bahwa aku memang jatuh cinta? Lalu bertemu seorang gadis di sebuah tempat perbelanjaan, mengajaknya makan malam, bercengkrama dan mengantarnya pulang? Lalu pada akhirnya aku harus menjawab park jiyeon jika bocah ini bertanya siapa gadis yang ku maksud? ‘Hei!! Kau ingin mati?’ batinku.
“ck, kau benar-benar sok tau! Sudah, ayo pulang” ujarku seraya menyambar tas punggungku dan berjalan mendahuluinya. Eeh? Kenapa begitu sepi?
“bahkan kau tidak tau jika bel pulang telah berbunyi semenjak,, 30 menit yang lalu” ujarnya setelah melirik sebentar arloji di tangannya. Aku juga melakukan hal yang sama. Hanya sekedar memastikan bahwa bocah ini tidak membohongiku. Dan,, oh, dia benar sekali. Lihat! Aku benar-benar melupakan duniaku jika sudah melamunkan gadis itu.
“jadi,, bisa kau ceritakan siapa gadis beruntung itu?” sambungnya lagi.
“gadis beruntung?” tanyaku.
“ya. Gadis manis yang dengan pesonanya dapat memikat hyuk jae setelah bertahun-tahun mengubur cintanya” ujarnya lagi.
“ck, diamlah! Kau cerewet sekali” Ya, aku memang pernah mencoba berpaling dari jiyeon dengan berkencan dengan beberapa wanita. Saat itu jiyeon juga telah memiliki kang min hyuk. Dan minji, seorang gadis lugu, persis seperti park ji yeon mampu mengalihkan pandanganku.
Namun tepat disaat aku mulai menyukainya, dia dipaksa pindah oleh keluarganya. Dia telah di jodohkan, begitu kata appanya padaku. Setelah itu aku berpikir bahwa tuhan tak ingin aku berpaling dari jiyeon. Apalagi, kami kembali berada dalam kelas yang sama saat itu. Dan ji yeon juga baru saja tersakiti oleh namja bejat itu. Ya, begitulah.
“apa aku salah? Dimana letak kesalahanku?” ujar donghae lagi.
“tidak. Kau tidak salah. Ya, memang aku tak pernah membuka hati untuk gadis manapun lagi. Dan ya, aku sedang jatuh cinta. Tapi tidak, aku tidak akan bercerita apapun padamu. Ayo pulang” tegasku. Donghae hanya tersenyum. Dia selalu tau sifatku yang tidak pernah ingin membahas masalah asmara dengan siapapun. Aku berjalan kembali mendahuluinya. Tak berapa lama kurasakan sebuah lengan kokoh bergelayut di bahuku.
“jadi,, bagaimana acara belajarmu dengan jiyeon?” tanyanya lagi.
“belum ada” ujarku
“belum? Bukankah kalian dipanggil tiga hari yang lalu? Bagaimana bisa belum belajar sama-sekali?” aish bocah cerewet ini.
“atau,, apa jiyeon bersikap tidak baik padamu? Apa dia yang menolak untuk belajar bersama? Aish anak itu” ujarnya “dia memang begitu, akan sedikit lebih sulit untuk dekat dengan seorang namja. Kau tau. Aku akan berbicara padanya nanti” ujarnya lagi. ‘Kau salah hae, dia tidak pernah menolakku. Bahkan beberapa hari yang lalu kami makan bersama dan dia memeperlihatkan beberapa ekspresi yang selama ini hanya ditunjukkannya padamu’ batinku.
“tidak, itu sudah kesepakatan kami. Dia bilang dia akan sibuk mengurus bazar sekolah” tuturku. Tidak mungkin aku mengatakan yang sejujurnya pada namja ini.
“benarkah? Apa dia bersikap baik padamu? Apa kalian sudah akrab?” tanyanya tak percaya.
“hmm. Setelah bazar sekolah kami baru akan belajar” sambungku. Dia tampak terdiam sesaat, lalu tersenyum.
“baiklah, aku harap kau berhasil” ucapnya. Aku memandangnya tidak mengerti.
“maksudku, kau dan dia berhasil memenangkan olimpiade itu nanti” ujarnya lagi tanpa rasa bersalah. ‘hae, kau membuat jantungku hampir saja melompat. Kupikir kau sudah tau mengenai perasaanku’ ujarku dalam hati. Bocah ini benar-benar membuatku hampir mati. Aku membalas rangkulan tangannya dan kembali berjalan menuju parkiran sekolah.
“gomawo” ucapku padanya setelah audi hitamnya terlihat.
“eum. Cheonma”
__
Ini akhir pekan, hari dimana bazar sekolah di adakan. Awalnya aku tak pernah tertarik untuk datang pada acara seperti ini. Tapi ucapan jiyeon saat itu membuatku ‘harus’ datang, bagaimanapun caranya. aku datang dengan pakaian formal casual. Celana jeans longgar dengan kemeja kota-kotak biru dan sebuah kamera SLR-208. Aku juga tak begitu tertarik dengan stan-stan yang ada. Aku hanya berkeliling dan memotret beberapa objek menarik, jiyeon pastinya.
Ya, jika ada kesempatan aku memang selalu akan membawa kamera ini untuk mengabadikan momen-momen mengagumkan jiyeon. Bahkan beberapa fotonya sudah terpampang jelas di kamar apartemenku. Saat ini gadis itu sedang sibuk, ia tampak berkeliling untuk memantau beberapa stan yang ada. Dengan ditemani donghae, gadis itu tampak begitu menikmati bazar ini dan perannya sebagai seksi stan.
“eunhyuk-ah” kudengar teriakan seorang namja.
“eoh, donghae-ya”
“kau datang? Bukankah kau bilang kau tidak suka acara seperti ini?” tanyanya. Setelah berjalan mendekatiku bersama jiyeon.
“aku yang mengundangnya” jawab gadis itu saat aku baru akan membuka mulutku. Apa? Hei, aku baru saja akan mencari alasan lain. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu didepan namjachingunya?
“benarkah?” tanya donghae terlihat biasa saja.
“eum. Aku yang memintanya datang. Tapi benarkah kau tidak menyukai acara ini?” tanya gadis itu padaku. Oh, bagus. Cepat pikirkan apa yang akan kau katakan lee hyuk jae!
“dulu dia selalu berfikir begitu, dia tidak suka keramaian” sambung donghae. Sedangkan aku? Aku hanya diam, memperhatikan perbincangan kedua orang ini.
“ya, tapi itu dulu. Setelah hadir disini kurasa tak seburuk yang ku pikirkan” sambungku.
“jeongmalyo?” tanya gadis itu.
“eum.” Balasku dengan sedikit anggukan. Lalu terdengar suara ponsel donghae berbunyi. Dia sedikit menjauh dan tak lama kemudian kembali lagi.
“ji-ya, aku rasa aku harus pergi sebentar. Hyuk, tolong temani yeoja-ku” ujarnya
“kau mau kemana?” tanyanya manja pada donghae. ‘Ciss, menjijikkan’ benakku. Namun sebisa mungkin kutahan apapun umpatan yang seharusnya ku keluarkan itu.
“siwon menungguku, kami ada janji untuk membahas beberapa materi. Nanti aku akan kembali. Hyuk, bisakan?” tanyanya padaku setelah berusaha menjelaskan keadaannya pada gadis itu. Aku hanya mengangguk dan tersenyum kikuk.
“lagi pula, ini agar kalian bisa saling mengenal” sambung namja itu.
“yak! Kami sudah saling mengenal” protes jiyeon
“arra, kalau begitu agar kalian semakin akrab lagi. Cah, aku pergi dulu” ujar nya. Donghae mencium kening jiyeon sebentar sebelum pergi berlalu. ‘Ck, seperti biasa’ ujarku dalam hati.
“jadi kau sudah berkeliling?” tanyanya memecah keheningan setelah donghae pergi.
“sudah, disana sangat ramai sekali” ujarku menunjuk stan makanan di sudut lapangan sekolah.
“hmm, ya begitulah mereka. Untung saja aku sudah mengantisipasi jumlah makanan yang akan dibutuhkan” ujarnya lagi.
“kau bekerja dengan sangat baik” tuturku. Dia berhenti berjalan dan memandangku. Membuatku juga terhenti dan memikirkan lagi apa yang telah aku katakan. ‘siial!’ batinku.
“benarkah? Eumm, aku juga berpikir seperti itu” ujarnya dengan muka berbinar. Satu ekspresi baru lagi! Aku hanya mengangguk dan tersenyum senang. Kami melanjutkan perjalanan untuk berkeliling.
“gomawo” ucapnya tiba-tiba
“untuk apa?” tanyaku.
“kau orang pertama yang telah memuji hasil kerjaku” ucapnya tersenyum dan menundukkan kepalanya
“jinja?” tanyaku.
“eum. Selama ini orang-orang hanya menikmati apa yang menjadi kerja kerasku tanpa sedikitpun memuji” ujarnya “ini sudah tahun ketiga dan kau memujiku tepat disaat pertama kali kau datang. gomawo” ucapnya lagi. Aku hanya terdiam mendengarkan penjelasannya. Hei, dia mengeluarkan isi hatinya padaku! Bukankan berarti dia mempercayaiku?
“kau memang bekerja dengan baik. Cheonmalyo” ucapku padanya. Dia tersenyum sangat manis dan kemudian tertunduk lagi.
“waegeurae?” tanyaku. Aku sedikit tidak mengerti dengan perubahan sifatnya yang sering tiba-tiba. Eum, mungkin juga karena baru beberapa hari ini aku dapat melihat ekspresinya yang seperti itu.
“mianhae” ucapnya lagi. ‘eeh? Ada apa lagi?’ batinku.
“aku mengundangmu ketempat ramai seperti ini” jelasnya. Mwo? Jadi dia merasa bersalah hanya karena mengundangku ketempat ini? Hei, aku hanya tidak suka. Bukannya phobia atau apa..
“gwenchana. Aku yang memutuskan untuk datang, kau tidak pernah memaksaku. Dan lagipula, aku menikmati tempat ini” balasku.
“benarkah?” tanyanya. Aku hanya mengangguk mengiyakannya.
“eum,, kau benar tidak suka keramaian?” tanyanya lagi.
“ya begitulah. Sejak kecil aku terbiasa sendiri, jadi aku tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ramai” jelasku.
“kenapa bisa sama?” gumamnya pelan, tapi masih dapat terdengar jelas oleh indra pendengaranku.
“ne?” tanyaku
“kenapa bisa sama?” tanyanya dengan suara yang lebih jelas. “aku juga tidak suka keramaian. Dan alasan itu,, persis sekali” tuturnya dengan raut wajah yang membingungkan. Antara senang, kaget dan bingung.
“benarkah?” tanyaku
“eum! karena aku terbiasa manja sejak kecil. Aku jadi tidak ingin ada banyak orang disekitarku. Cukup orang yang aku sayang. Aku tak ingin orang lain mencampuri masalahku. Karena itu aku hanya akan berbicapa pada orang yang telah kukenal baik saja” jelasnya panjang.
Dia menghirup udara karena pernyataannya yang tidak putus tadi seperti menyedot semua pasokan oksigen dalam paru-parunya. Aku melihatnya terkesima. ‘Benar. Sama persis! Kenapa bisa begini?’.
“sepertinya kita berjodoh” sambungnya. MWO? Apa gadis ini gila? Berbicara seperti itu pada sahabat kekasihnya sendiri.
“haha,, aku hanya bercanda. Mungkin itu hanya kebetulan” tuturnya lagi yang sedikit banyak telah turut andil dalam upaya penormalan detak jantungku ini.
“aku rasa kesamaan kita yang membuatku nyamam bersamamu” lanjutnya dengan wajah yang kembali serius. Gadis ini! Apa dia tidak tau jika jantung ini baru saja berdetak normal? Apa dia ingin membunuhku? Begitu?
“hyuk, kenapa kau diam saja?” ucapnya sambil menepuk ujung bahuku. Membuatku tersadar bahwa sedari tadi aku hanya memperhatikannya saja tanpa berkata sepatah katapun. Pabo!
“eum,, tidak. Aku hanya ingin mendengarkanmu berbicara hingga selesai”
“hmm” dia menganggu-anggukkan kepalanya tanda mengerti. “apa kau masih ingin berkeliling?” tanyanya lagi.
“memangnya kenapa?”
“aku lelah, aku tidak sanggup menemanimu berkeliling lagi. Kecuali jika kau ingin menemaniku beristirahat sebentar” ucapnya memelas “kita bisa berkeliling lagi nanti. Otte?” sambungnya. Aku memasang ekspresi berfikir, seolah-olah ini adalah pilihan berat. Padahal tak perlu berfikir, jika nantinya tidak kembali berkelilingpun aku tetap akan memilih untuk menemaninya. Dia seperti terlihat cemas, membuatku harus menahan tawa sebaik mungkin.
“bukankah donghae memintaku untuk menjagamu” ujarku yang disambut girang olehnya.
“assa! Baiklah, disana saja.” Dia menunjuk bangku taman panjang dibawah pohon mapple. Aku mengangguk pelan dan kembali berjalan menuju tempat itu. semilir angin membuatku bernafas lega. Musim semi, aku mencintaimu.
-ji yeon POV-
Kami berjalan menuju bangku taman dibawah pohon mapple itu. setelah donghae pergi aku sesegera mungkin mencairkan suasana. Bagaimanapun aku sudah berjanji akan berlaku baik padanya. Lee hyuk jae, nampak sangat casual dengan tampilan formalnya. Aku baru sadar jika donghae memiliki sahabat yang tak kalah tampan. Oh, astaga! Apa yang ku fikirkan? Dasar nappeun yeoja!
Suasana musim semi telah membuat hampir sebagian besar daun pohon ini menguning. Bahkan beberapa diantaranya telah berguguran. Ditambah dengan hembusan ringan angin yang sejuk dan menenangkan ini,, aku, selalu suka musim semi. Biasanya setiap musim semi aku akan membawa donghae ke kebun appa untuk melihat daun berguguran yang terbang karena kekuatan angin lalu terhempas di tanah.
Aku selalu menyukainya. Seperti siklus kehidupan bagiku. Karena aku salah satu orang yang mempercayai perputaran kehidupan seperti pengulangan kembali masa lalumu. Ya, seperti itulah. Daun akan tumbuh dan membesar lalu menguning dan gugur dan pada akhirnya akan ada daun baru lagi yang tumbuh. Hal yang dapat kau pelajari adalah bahwa apapun yang sekarang ada didekapanmu akan hilang dan berganti dengan hal baru yang lebih baik. Dan juga, jika kau menginginkan kebahagiaan kau harus berusaha.
Karena itu, tempat dimana daun gugur tidak akan pernah ditumbuhi bunga. Begitupun hidupmu, tak ada usaha maka takkan ada kebahagiaan. Kembali lagi pada siklus ‘pengulangan’ bukan? Kau berusaha, kau dapatkan kebahagiaanmu! Donghae selalu menyukai ketika aku menceritakan gambaran pikiranku tentang kehidupan, dia selalu berkata bahwa aku adalah wanita cerdas dengan segudang kosa-kata.
“hei, mengapa melamun?” tanya hyuk saat kami telah duduk pada bangku taman itu.
“tidak. Hanya saja, disini sejuk sekali” aku merentangkan tanganku, mencoba menghirup udara sebanyak mungkin.
“eum. Aku sangat menyukai musim semi” ujarnya. ‘Eoh? Sama!’ batinku. Aku rasa kim seosaengnim tidak salah memilihku bersamanya. Kami memiliki banyak kecocokan yang membuatku merasa begitu nyaman. Tunggu! aku teringat sesuatu..
“ah ya! Aku baru ingat. Donghae bilang kau sedang jatuh cinta. Pantas saja jika kau terlihat begitu bahagia” ucapku. Donghae menceritakannya beberapa hari yang lalu. Dapat kulihat wajahnya sedikit menegang. Tentu saja, dia pasti malu.
“kau,, tau dari__ aish, pasti donghae!” ucapnya geram. Dia sangat lucu jika seperti itu. seperti anak-anak yang baru saja kalah bermain game.
“jadi benar? Apa kau ingin bercerita?” ujarku spontan. Walaupun sepertinya tidak mungkin. Donghae bilang dia tidak akan bercerita pada siapapun mengenai masalah asmaranya.
“baiklah, aku tidak akan memaksa. Lagipula mana mungkin kau bercerita padaku, pada donghae saja kau tertutup. Mianhae sudah__”
“benar, aku sedang jatuh cinta” jujurnya memotong omonganku. “ada lagi yang ingin kau ketahui?” tanyanya.
“mengapa kau mencintainya?”
“entahlah, bagiku tidak ada alasan untuk dapat mencintai orang lain. Jika kau tertarik karena parasnya, itu hanya suka. Jika kau tertarik karena kelebihannya, itu adalah kagum. Karena bagiku cinta bukan hanya mengenai kelebihan. Tapi cinta bermakna kau mencintai apapun yang ada pada dirinya meskipun itu keburukannya sekalipun” tuturnya panjang-lebar. Aku hanya dapat menjatuhkan rahangku. Dia, apa sedalam itu makna cinta baginya? Dia luar biasa sekali.
“whoa, kau luar biasa. Pasti gadis itu bangga memilikimu” tuturku. Benar! Gadis mana yang tak bangga memiliki namja dengan cinta yang luar biasa sepertinya?
“sayangnya tidak” sahutnya.
“mwo? Kenapa?” balasku terkejut.
“dia tidak tau.. sama sekali” lanjutnya yang semakin membuatku terkejut.
“mengapa tidak kau katakan saja?” saranku padanya.
“ingin sekali. Tapi,, dia sudah menjadi milik orang lain” tuturnya. Ya tuhan kasihan sekali namja ini.
“sudah menikah? begitu maksudmu?”
“tidak. Hanya menjalin hubungan kekasih” jawabnya.
“ahh, bukankan itu berarti kau masih punya banyak kesempatan?”
“seharusnya begitu. Tapi, dia terlihat begitu mencintai namjanya” jawabnya lagi. Miris sekali memang. Seharusnya yeoja itu sadar bahwa namja ini begitu mencintainya. Bagaimana bisa dia tidak menyadarinya? Pabo!
“ekhm.. kau, membawa kamera?” aku berusaha mencairkan suasana hening ini. Percakapan tadi sungguh intim, kurasa aku terlalu mengorek dalam isi hatinya yang sebenarnya penuh luka.
“eum, aku suka memotret” ujarnya dengan senyum ceria.
“kau tidak perlu mengasihaniku. Merubah topik tidak akan merubah apapun. Dan lagi, aku tidak pernah terluka karena mencintainya. Bukankah sudah kukatakan? Mencintai itu mengenai apapun yang ada dalam dirinya. Aku tetap mencintainya meskipun dia mencintai namja lain” sambungnya. Ya tuhan, apa namja ini bisa membaca pikiran orang lain? Mengapa dia mengetahui segala isi kepalaku?
“mian” ujarku merasa bersalah. Bagaimanapun aku telah berfikiran aneh tentangnya. Seharusnya aku tidak mengambil kesimpulan sesuka hatiku.
“hmm, mau berapa kali kau ingin meminta maaf? Ini bukan salahmu” ujarnya tersenyum. “bukankah sudah kubilang bahwa__”
“kau tidak terluka. Ya, aku tau. Jangan katakan itu lagi.” ujarku memotong perkataannya. membuatnya tertawa lepas.
“kau lucu sekali” tunjuknya padaku. Akupun hanya ikut tersenyum melihat tawanya yang –benarbenar- seperti anak kecil.
“kau tak ingin mengambil gambarku? aku panitia disini” ujarku padanya.
“entahlah, aku kurang yakin. Apa kau dapat menjamin agar kameraku ini tidak akan rusak” ujarnya. Mwo? Namja ini!
“yak!! Apa maksudmu?” teriakku geram.
“ah, arra, arra. Ayo segera bergaya. Jangan begitu, kau jelek sekali saat cemberut” ujarnya.
“cerewet sekali. Cepatlah!”
“sudah. Ini” dia memberikanku layar kamera dimana wajah manisku terpampang.
“eoh, bagus juga” ujarku.
“sudah kukatakan, ini hanya hobi. Aku bukan seorang profesional” dia mengambil kamera itu segera dari genggamanku ketika aku akan melihat gambar lainnya. aku mendengus kesal, tidak benar-benar marah tentunya.
“kau tau, eonniku juga bekerja sebagai fotografer terkenal di kota ini,,”
“kau berniat ingin mengecilkan semangatku?” sambarnya dengan cepat.
“dengarkan dulu” ujarku dengan nada mengancam lalu dia kembali diam dan mendengarkanku. “eonni dulunya adalah gadis biasa. Dia mempelajari fotografer secara otodidak. Hanya berawal dari hobi. Namun setelah bertahun-tahun terus berlatih, akhirnya sebuah perusahaan besar mengontraknya hingga dia menjadi seperti sekarang. Kau mengerti maksudku?” aku bertanya serius padanya. Dia hanya menggeleng polos sepeti bocah.
“maksudku, sesuatu yang kau asah terus menerus tanpa memperdulikan betapa kau ingin menjadi yang terbaik adalah sebuah proses. Cukup dengan memberikan apa yang kau mampu maka semua akan berjalan sebagaimana mestinya. Intinya adalah ketulusan. Setulus apa kau ingin menjadi seseorang yang bahagia. Mengenai gadis-mu itu, jika kau bahagia hanya dengan melihatnya bahagia, itulah ketulusanmu. Kau tau, tuhan akan memberikan imbalan lebih jika kau mau menunggu. Bagiku cintamu sungguh luar biasa, jika yeoja itu adalah aku mungkin aku akan mempertimbangkannya ” ujarku padanya. Dia hanya terdiam memandangiku. Apa aku salah? Dia tidak termotivasi sedikitpun dengan ucapanku?
“begitukah?” tanyanya dengan wajah yang datar.
“eum. Begitulah teori yang kupegang” balasku.
“baiklah, aku percaya. Kuharap kau dapat mempertanggung jawabkan ini” balasnya penuh pengharapan. Dia tersenyum. Seperti sangat bahagia dengan tutur kataku tadi.
“kita lihat saja nanti” sambutku. Hmm, semilir angin begitu menyegarkan. Kami saling berpandangan kemudian tertawa mengingat hal bodoh apa saja yang telah kami bicarakan. Hhah,, ini menyenangkan. Lee hyuk jae, mulai saat ini bukan orang asing lagi. Catat! Bukan lagi.
-TBC-

With love, park ji yeon

7 thoughts on “Our Love Story part 2

  1. elfexotic says:

    kemaren ktemu blog ini waktu baca fabulously castle d blognya redwinebluesky.. jd, mari berpetualang d blog ini..:-D

  2. deerfishymonkey says:

    segitu dalemnya cinta hyukjae sama jiyeon.. lanjut baca part 3nyaa..

  3. bunnydiamond says:

    Haihaihaiiii Dian…. Hemm ini life school kah???
    Hyuk kasian… Tapi ngebayangin yang jadi rivalnya donghae koq jadi ga tega ya Yan?? Hemm makin penasaran nihh:p

  4. Rasty Resty says:

    Sangat menarik sekali ide cerita ini..
    Lee Hyukjae menyukai pacar temennya.. Maksudnya cinta terpendam
    Nanti gmana Ji Yeon bs jatuh cinta sm Hyuk ya? Mungkin karna dilihat Hyuk orangnya baik dan tulus kli ya

  5. little devil says:

    dasar ji yeon,, orang dia sendiri yang gx sadar kox kalau hyukjae udah suka dari 6 tahun lalu,, puft

  6. BebyPanda says:

    , Jiyi org tu adalah kamu.. Hyuk tuch ska kmu, apa kmu gk sadar.. huft
    sabar hyuk.. semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s