Our Love Story part 1

1~4

Judul         : our love story[part 1]

Author      : HyukgumSmile

Genre        : romance

Rating       : general

Main Cast  : lee hyuk jae, park ji yeon

Other Cast : lee dong hae, etc.

 

This is..

A little side about love story..

In the world..

Ketika kau lebih memilih untuk merasakan daripada berfikir..
Memberi sebuah arti ketulusan dengan sepenuh hati..
Ingatlah bahwa cinta tak pernah salah..
Hanya mungkin waktu yang menentangmu..
Tuhan tak pernah menjanjikan hal yang tak mungkin ia berikan..
Walau pada dasarnya dia dapat memberikan apapun yang kau mau..
Dan cinta..
Adalah hal mutlak milik semua manusia..

-Hyukjae POV-

Ji yeon, Park ji yeon. Gadis biasa yang memiliki arti luar biasa. Dimata mereka, dia tak berkilau tapi tak pula redup. Cahayanya sedikit banyak telah mempengaruhi dunia beberapa orang. Park ji yeon, tinggi 163 cm. Tidak tinggi memang, juga tidak langsing. Tapi itu yang membuatnya berbeda, seperti timbunan lemak yang –memang- tidak berlebihan itu sebenarnya pas untuknya. Tidak termasuk kedalam ukuran tipe para pria yang memilih wanita tinggi langsing dengan lingkar pinggul yang dapat diukur dengan jengkal, Tidak. Namun, entah memang itu yang menjadi daya tariknya –mungkin-, karena tak sedikit pria yang mengincarnya, termasuk aku. Dia ramah, sangat ramah. Senyumnya, seperti.. kau tau, rasa buah semangka segar saat panas terik dan haus mendera? Kurang lebih seperti itu, sangat menyegarkan. Seperti memberikan energi positiv pada setiap orang yang melihatnya. Dia juga tak pernah memilih dalam berteman, semua orang seperti nyaman berada didekatnya. Caranya berjalan yang tak pernah terlihat sombong meskipun dia merupakan anak kesayangan guru matematika dan bahasa inggris, dan mungkin juga beberapa guru lainnya. Dia memang bukan han chaeri yang merupakan yeoja tercantik dengan tubuh yang sempurna disekolah. Dia juga bukan lee heesin yang merupakan juara umum bertahun-tahun, Bukan! Dia bukan yang paling pintar dan cantik, tapi dia memiliki keduanya. Sungguh wanita yang luar biasa, park ji yeon. Sangat menyilaukan. Masih lekat dalam ingatanku bagaimana dia berjalan didepan kelasku menuju kantin bersama teman-temannya, dengan segala gelak tawa dan celotehan ala wanita yang sangat ribut serta senyum manis dan tingkahnya yang manja. Dia bertingkah sama seperti wanita biasa lainnya, tidak pernah merasa lebih tinggi. Namun dia benar-benar menyilaukan, seperti,, berlian. Dia bersinar sangat terang, setidaknya dimataku. Dia.. park ji yeon.. yeojachingu temanku.

Dia bukan yeoja sembarangan yang –jika bisa- sesering mungkin bergonta-ganti pacar. Bukannya tidak laku, karna jika dia mau sungguh akan ada banyak pria yang mengantri untuk menjadi namjanya. Dia,, sangat menghargai arti sebuah hubungan. Terlebih setelah dikhianati beberapa tahun lalu, dia seperti menutup hati dan membuang jauh rasa percayanya terhadap namja. Ya sejauh yang aku tau, dia hanya memiliki 2 teman namja yang tentunya sudah berteman dengannya sejak lama. Tak sedikit pria yang sudah mencoba untuk meluluhkannya, tapi hatinya terlalu dalam tersakiti, seperti tak mampu lagi untuk percaya bahwa cinta itu masih ada. Hingga seorang pria yang kini berada disampingnya mampu meluluhkannya dengan cinta yang –mungkin- sungguh luar biasa. Dia, lee donghae. Satu-satunya namja yang mampu memasuki hatinya. Mereka seperti membangun hubungan masa depan, bijaksana, tak pernah terlihat berselisih paham, seperti semua masalah yang mereka hadapi selalu mereka bicarakan dengan kepala dingin, dan penuh kasih sayang tentunya. Tatapannya pada donghae, adalah apa yang selama ini –sungguh- aku inginkan. Ji yeon, selalu menatap donghae seperti seseorang yang benar-benar dia hormati, penuh cinta dan rasa seperti ‘kau adalah namja yang selama ini kucari’. Terdengar menjijikkan memang, tapi sungguh! Itulah kenyataannya. Mereka menjalin hubungan 2 tahun yang lalu, dan hingga saat ini pandangan mereka tak pernah berubah. Kalian pasti bertanya ‘mengapa kau tahu begitu banyak?’. Perlu kalian tau,, aku menyukainya. Ah ani! Aku mencintainya jauh sebelum dia mengenal lee donghae bahkan jauh sebelum dia tersakiti. Jauh. Sangat jauh. 6 tahun yang lalu tepatnya. Saat aku dan dia duduk dalam satu meja, satu kelas, satu sekolah. Saat kami masih bermain seperti anak-anak lainnya. saat aku sangat terobsesi menjadi pelindung baginya, saat aku bahkan merelakan wajahku menjadi mainan kakak-kakak kelas bejat yang ingin melukainya. Aku tak melawan, walaupun aku tau aku bisa. Aku hanya tak ingin dia melihatku saat aku dengan brutalnya tengah menyerang mereka yang telah berani mengganggu gadis-ku. Aku hanya ingin dia merasa nyaman bersamaku, hanya itu. Tapi apa,, dia,, hanya berfikir bahwa aku benar-benar ‘penyelamat’. Hanya ‘penyelamat’. Tak ada hal lebih yang terjadi setelah hari itu. Bahkan hingga saat ini, dia hanya memandangku sebagai teman.

-Author POV-

07.15 , ‘sebentar lagi. Ya! Sebentar lagi aku akan terlambat’ batin hyukjae. Dia benar-benar kacau hari ini. Itu karna mimpi indahnya tadi malam berakhir dengan guyuran air oleh noonanya, lee sora. Gila, sampai kapan kakak perempuannya itu akan selalu memupuskan mimpi indah yang sudah dia rajut bersama jiyeon? Ini sudah entah yang keberapa kalinya. Selalu begitu jika ia menginap dirumah. Dia terus menggeram dalam mobil audi putihnya. Ya, lee hyuk jae bukan namja sembarangan. Dia satu-satunya pewaris perusahaan milik appanya, lee corp. Namja itu segera memacu mobilnya menuju gerbang sekolah, ‘sedikit lagi’ batinnya. Setelah memarkirkan mobilnya, namja itu segera berlari menuju ruang kelasnya. Hari ini kim seosaengnim akan masuk di jam pertama, guru killer itu tak pernah pandang bulu dalam menghukum muridnya. Lagi pula selain itu dia juga tak ingin tertinggal pelajaran favoritenya, matematika. Lee hyuk jae, salah satu namja yang dapat diperhitungkan kehadirannya di sekolah itu. Tampan, kaya, sexy dan juga pintar. Siapa yang tidak akan tertarik dengannya. Kemampuan otaknya juga bisa dibilang sedikit lebih baik daripada anak seumurannya. 176 cm, tinggi putih dengan rahang tegas dan rambut cepak yang dipadukan dengan otot perut dan lengan yang,, ya sulit dijelaskan dengan kata-kata. Meskipun bukan namja yang terpopuler, namun kehadirannya mampu menyedot perhatian sekitar. Apalagi setelah berteman dengan lee donghae,, ya, namja berperawakan sama yang juga menarik perhatian. “yak.. lee hyuk jae!!” teriak seseorang dari arah belakangnya. ‘itu pasti donghae’ batin hyuk. Dia segera berbalik dan mendapati namja itu dibelakangnya dengan penampilan yang.. wow. Dia lee donghae, 173 cm, hanya sedikit lebih pendek dari hyukjae. Pewaris tunggal keluarga lee, otot perut dan lengan dan,, ya kurang lebih sama dengan hyuk jae. Hari ini donghae terlihat seperti biasa, menawan. Celana kain hitam dan kemeja putih kebanggan sekolah mereka yang bisa dikatakan pas dengan tubuhnya. Menunjukkan beberapa bagian otot lengan yang seperti tidak muat lagi untuk bersarang dibaju itu. Kerah baju atas yang terbuka dengan bagian tangan yang dilipat hingga siku, tas yang disandang sebelah bahu dan sebelahnya lagi blazzer hitam sekolah. Perfect.

“kau juga terlambat?” tanya hyuk.

“hmm, tadi aku harus menjemput ji yeon” balas donghae dengan senyum cerahnya, entahlah bagaimana perasaan hyuk sekarang.

“lalu dimana dia?” sekuat mungkin mencoba untuk biasa saja.

“aku disini . Mianhae, aku harus mengecek beberapa buku tugas yang harus dikumpulkan hari ini” ucapnya. Itu dia, berlian hyuk. Pusat tata suryanya.

“yasudah, aku akan kekelas bersama hyuk. Kau segeralah masuk, annyeong” seru donghae pada yeojanya.

“eum! Annyeong. Annyeong eunhyuk-ssi.” Balas jiyeon. Donghae segera menarik kepala gadis itu dan mengecup keningnya sebentar sebelum gadis itu pergi, lalu menarik lengan hyuk untuk menuju kelas. Begitulah kesehariannya, mereka sudah biasa seperti itu, toh semua orang juga tau ‘lee donghae hanya milik park jiyeon dan sebaliknya’. Karena hal itu hyuk selalu menolak ajakan donghae untuk pergi kesekolah bersama, hanya akan menyakiti hatinya jika ia berada diantara dua orang yang bahkan sedikitpun tak mengerti bagaimana hancurnya perasaannya saat ini.

-ji yeon POV-

Aish, aku terlambat. Karena tugas yang begitu banyak dan harus dikumpulkan hari ini juga aku terpaksa bekerja ekstra. Lagi pula aku tak ingin mengecewakan miss. Han , guru bahasa inggris itu membebankan tugas kelompok padaku dengan menjadikanku ketua kelompok, menyebalkan. Beruntung pintu gerbang sekolah belum ditutup. Pagi ini aku dijemput donghae, supir pribadi appa sedang tidak masuk bekerja. Beruntung sekali memiliki namjachingu sepertinya. Donghae, namja yang sudah 2 tahun ini mengisi hari-hariku. Dia,, sungguh sempurna untuk ukuran seorang namja yang mencintaiku. Tadi pagi dia datang untuk menjemputku dan juga meminta izin pada eomma untuk memulangkanku sedikit terlambat. Eomma memang sudah tau bagaimana hubunganku dengan namja ini. Kami tiba di parkiran sekolah dan segera keluar dari mobil audi hitamnya.

“ayo, nanti kita terlambat” katanya.

“eumb, kau duluan saja. Sepertinya tugas ku tertinggal. Eottokae..” dengusku. Aish bagaimana bisa aku melupakan tugas yang sudah aku kerjakan hingga merelakan tidur siangku itu. Pabo!

“beritau saja bibi kim untuk mengantarkannya. Aku tunggu disana” jawabnya dengan mengacak pelan rambutku dan tersenyum. Ah,, aku selalu suka ketika dia memperlakukanku seperti itu.

“eum! Aku akan menghubungi rumah dulu” jawabku. Dia mengangguk dan pergi menuju koridor masuk. Aku segera mengeluarkan telefon genggamku dan menghubungi rumah. Terdengan bunyi nada sambungan beberapa saat hingga suara seorang wanita terdengar di ujung sana.

“yeobseo” suara di ujung telefon.

“yeobseo bibi kim, ini aku.”

“ah ne, ada apa nona?” tanya bibi kim.

“bi, tolong antarkan buku tugasku, bisakah? Aku harus mengumpulkannya hari ini”

“ne, nanti akan bibi antarkan. Ada yang lain nona?”

“tidak bi, itu saja. Gomawo bi” balasku dan mematikan sambungan telefon. Aku segera berlari menuju koridor dimana donghae sudah menungguku. Ah itu dia! Seperti biasa, bersama hyukjae. Sahabat karibnya. Dia begitu sering membicarakan pria itu didepanku. Entah mungkin karena sudah begitu nyaman dengan pria yang sudah hampir 2 tahun ini menjaadi sahabatnya. Aku segera meminta maaf karena membuat mereka menunggu, lalu dongahe memintaku untuk segera menuju kelas. Dia menarik tengkuk ku dan mendaratkan kecupan ringannya di dahiku. Selalu begini dari dulu, dan aku menikmati setiap perhatian dan segala sikap manisnya. Lee donghae, namjachinguku.

-Eunhyuk POV-

Setelah bunyi bel istirahat menggema aku segera melarikan diri menuju kantin. Cacing dalam perutku benar-benar meminta asupan makanan, terlebih lagi karena aku melewatkan sarapan pagiku. Setelah sampai aku segera memesan makananku, suasana kantin sangat ramai, sepertinya banyak anak-anak yang melupakan sarapan paginya juga. Setelah pesananku datang aku segera menuju bangku kosong didekat taman kantin. Ya, itu tempat favoriteku dan entah mengapa tak pernah terisi oleh orang lain. Donghae pernah berkata bahwa beberapa yeoja ‘nekat’ selalu menjaga tempat itu. Walaupun sebenarnya aku tidak terlalu perduli, tapi setidaknya aku harus berterimakasih karena tidak perlu bersusah payah lagi mencari bangku kosong. Kusantap makanan yang masih hangat itu, menikmati angin musim semi yang sejuk. Udara yang mulai mendingin benar-benar pas dengan makanan hangat ini. Beruntung aku tidak lupa membawa sweater dan baju hangatku.

“chogio, bolehkah aku duduk disini?” terdengar suara wanita yang,, pastinya aku kenal. Aku mendongak, memastikan bahwa dia, pusat tata suryaku, tengah berdiri manis menunggu jawabanku.

“eoh, eunhyuk-ssi” tukasnya lagi. Aku terdiam, sedikit gugup memang. Apa yang harus aku lakukan. Ya tuhan, tolong jangan disaat seperti ini. Pikiranku benar-benar sedang tidak dapat diajak bekerjasama saat ini.

“ekhm, eunhyuk-ssi. Bolehkah?” tanyanya lagi. Membuatku tersadar dari lamunanku.

“oh, ji yeon-ah. Eum, tentu. Silahkan” tukasku. Dia tersenyum manis kemudian duduk diseberang kursiku. Ya tuhan, kebaikan apa yang telah aku lakukan?

“gomawoo eunhyuk-ssi. Tidak ada bangku yang tersisa lagi disini. Sepertinya anak-anak itu melupakan sarapan paginya”

Deg!

Kenapa dia juga memikirkan hal yang sama denganku? Tuhan, sadarkan aku sebelum aku terpuruk lebih dalam.

“eunhyuk-ssi gwenchana? Apa ada masalah?” tanyanya. Akh, eunhyuk neo paboya! Kenapa kau melamun didepannya.

“ah, ani. Dimana donghae? Dia tidak bersamamu?” kataku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“dia di ruangan jung seosangenim. Sepertinya dia dipilih untuk mengikuti olimpiade tahun ini.” Jawabnya santai. Yah, meskipun hampir 2 tahun bersahabat dengan donghae, aku tak pernah berani bertindak berlebihan terhadap jiyeon. Kami berbicara hanya seperlunya saja.

“oh, aku tidak tau mengenai hal itu” tuturku.

“ya, dia baru saja dipanggil saat akan memasuki pintu kantin ini. Hmm,, aku akan mengantarkan makan siangnya nanti.” Ucapnya lagi dengan senyuman khasnya. Jiyeon tak pernah tau bagaimana perasaanku terhadapnya. Karena itu, ji yeon tak pernah menutupi bagaimana bahagianya dia memiliki seorang lee donghae. Berbeda denganku, sakit. Sangat sakit rasanya melihat yeoja yang begitu kau cintai bahagia bersama namja lain. Terlebih lagi, dia tak pernah tau bagaimana perasaanmu.

“ooh.. em.. kau.. pasti bangga memiliki donghae” yak! Pernyataan macam apa itu? Neo pabonya lee hyuk jae. Bagaimana bisa kau menanyakan hal yang sudah pasti dan juga akan menyakiti hatimu sendiri. Benar-benar idiot. Tapi walau bagaimanapun tetap saja aku menunggu jawaban darinya.

“eum..” jawabnya mantap “tentu saja, dia baik dan pintar. Dia juga mencintaiku dan itu cukup bagiku.” Dia mengatakannya dengan segenap semangat yang ia punya. Meskipun jarang berbicara, tapi dia tak pernah tertutup padaku. Mungkin juga karena kami sudah saling mengenal sejak lama, meskipun tidak dekat. Setidaknya tak ada yang perlu dia tutup-tutupi tentang donghae padaku. Aku tersenyum miris.

“aku senang mendengarnya” ya, hanya itu yang dapat aku katakan saat ini. Tidak mungkin sekali rasanya menyatakan bagaimana perasaanku padanya disaat dia begitu mencintai sahabatku. Itu hanya akan membuatnya berfikir bahwa aku adalah ‘pria bejat yang dengan lancangnya mencintai yeojachingu sahabatnya sendiri’. Kurang lebih akan seperti itu akhirnya.

“benarkah? Aku juga senang mendengarmu berkata seperti itu.”

Dia tersenyum. Dan senyum itu.. ji yeon-ah jangan membuatku semakin mencintaimu! Aku hanya membalasnya dengan senyuman terbaik yang ku miliki. ‘Akh, ini akan semakin sulit’ batinku.

-Author POV-

Lee hyuk jae segera melangkahkan kakinya menuju kantor sesaat setelah hyunra memberitaunya bahwa kim seosaengnim tengah memanggilnya. Aish, ada apa ini. Sepertinya aku tidak melakukan kesalahan apapun saat pelajarannya. Untuk apa dia memanggilku. Apa yang akan dia lakukan terhadapku. Semua pertanyaan itu bergerilya di kepalanya.

Ya walau bagaimanapun baik hubungannya dengan kim seosaengnim, tetap saja. Kim seosaengnim bukan tipe guru yang sering memanggil muridnya. Dia akan lebih senang mempemalukan murid didepan teman-temannya. Begitulah killer gurunya itu. Hyukjae mempercepat langkahnya, ia tak ingin membuat gurunya itu semakin marah karena menunggunya jika memang hal yang akan dia bicarakan merupakan hal buruk nantinya.

Setelah melewati beberapa koridor dan menuju belokan di ujung kelas, hyuk jae segera memasuki ruangan kantor guru. Berjalan menuju ruangan kim seosaengnim –tentunya-. Meskipun sekarang dia semakin bertanya-tanya apa sebenarnya kesalahannya. Setibanya didepan pintu kin seosaengnim, hyuk jae menghela nafasnya berat lalu mulai mengetuk pintu pembatas ruangan itu.

“silahkan masuk” terdengar suara dari dalam. Lalu dengan segenap keberaniannya hyuk jae segera memasuki ruangan itu. Terdengan bunyi khas pintu yang terbuka kemudian tertutup kembali. Hyuk jae berbalik menatap gurunya dengan sopan.

“mianhae seosaengnim, aku terlambat” tuturnya.

“ne,, gwenchana. Silahkan duduk” jawab gurunya itu dengan nada ramah. Dari situ dapat disimpulkan bahwa hal yang akan mereka bicarakan bukanlah merupakan hal yang buruk. Hyuk jae segera mengambil tempat duduk disebelah seseorang. Tunggu! Ah, dia juga baru sadar ternyata ada murid lain diruangan ini, apa karena tadi dia begitu takut? Molla.

Baru saja hyuk jae duduk, memperhatikan kim seosaengnim yang sedang membolak-balik isi map. Hyukjae yang penasaran segera memalingkan wajahnya untuk melihat ‘partnernya’ yang secara bersamaan juga dipanggil oleh kim seosaengnim. Dan tepat disaat matanya menangkap bayangan seorang gadis yang –juga- tengah menatapnya itu, seperti ada sengatan listrik yang dapat membuatmu tak berkutik walaupun hanya sementara.

“park ji yeon..”

“eunhyuk-ssi..”

Tukas mereka secara bersamaan. Ini gila. Apa yang terjadi disini?

“ah, kalian sudah saling mengenal? Baguslah, ini jadi tidak akan sulit” tukas kim seosaengnim. ‘Apa yang orang ini bicarakan’ batin hyuk.

“mianhanda seosaengnim, bisa anda jelaskan maksudnya?” tanya hyuk jae.

“ah ye, seperti yang kalian tau, olimpiade tahunan akan segera diakan. Mungkin hanya beberapa bulan lagi, dan sekolah kita tak pernah absen untuk mengirimkan murid-murid berpotensinya.” Jelas kim seosaengnim.

“lalu, ada apa dengan kami seosaengnim?” tanya gadis itu dengan polosnya.

“aku memilih kalian berdua untuk mewakili sekolah dalam cabang matematika” tukasnya lagi.

“mwo?!”

“seosaengnim, apa ini benar?” tanya yeoja yang sepertinya antusias dengan berita itu.

“ne. kalian harus mulai belajar bersama. Aku rasa kalian partner yang akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa” lanjutnya lagi.

“mwoga?! Seosaengnim, apakah ini sudah difikirkan betul. Maksudku, Aku rasa banyak murid lain yang lebih baik dariku” tutur lee hyuk jae. Bukannya ia tidak mau. Tapi berita ini, bahkan berita ini jauh dari kata berita buruk. Berbeda dengan park ji yeon yang sepertinya sangat antusian. Lee hyuk jae justru tak dapat berfikir bagaimana hari-hari yang akan dia lalui nanti. Disaat dia baru akan berusaha melupakan yeoja ini, mengapa tuhan seperti tak mengizinkannya.

“kalian adalah yang terbaik dalam cabang ini.” Ucap kim seosaengnim meyakinkan. “kalian bersedia?” tanyanya lagi. Dia menatap hyukjae dan jiyeon bergantin.

“eum,, baiklah seosaengnim. Aku akan berusaha.” Tukas park jiyeon.

“lalu kau, lee hyuk jae?”

“eum,, aku,, baiklah seosaengnim. Aku menerimanya.” Begitulah kata-kata yang keluar dari mulutnya.

“baiklah, itu saja. Kalian boleh keluar. Ah ya, waktu kalian hanya 3 bulan”

‘mwo?! Ya tuhan benar-benar berita buruk rupanya’ batin hyuk jae.

-Hyuk jae POV-

“jadi,, kapan kita mulai belajar?” ucap jiyeon saat kami berjalan keluar dari ruangan kim seosaengnim. Apa? Apa katanya? Mulai belajar? Yaampun, bahkan pikiranku masih melayang-layang karena keputusan bodohku ini. Bayangkan saja, ini terjadi disaat aku sudah mulai bertekad untuk melupakannya dan merelakannya untuk donghae. Tapi kenapa tuhan seperti tidak ingin aku melakukan itu? Astaga, apa tuhan ingin dosaku lebih besar lagi dengan semakin mencintai gadis ini. Arghh!!

“hyuk jae-ssi?” sapanya membuyarkan lamunanku.

“eum,, ya. Kau bilang apa ji yeon-ssi?” tanyaku. Aku benar-benar lupa dia menanyakan apa. Jadi, bisa kalian bayangkan bagaimana keadaanku jika nantinya memang harus belajar besamanya? Berdua saja? Catat! Berdua saja. Sedangkan berjalan disampingnya saja sudah membuatku melupakan duniaku.

“aku bertanya, kapan kita bisa mulai belajar lee hyuk jae-ssi” tukasnya dengan sedikit cemberut.

“eum, maafkan aku. Kapanpun, aku bisa. jadi tergantung padamu saja” tukasku. Apa lagi yang kukatakan? Mengapa aku seperti seorang budak yang siap menjalankan perintah majikannya setiap saat? Walaupun memang, aku sudah diperbudak oleh hatinya sejak bertahun-tahun lalu.

“geurae. Tetapi, sepertinya aku akan sibuk untuk beberapa hari ini. Kau tau, bazar sekolah akan diadakan 5 hari lagi. Eum,, aku,, salah satu koordinatornya.” Balasnya dengan sedikit canggung. Mungkin merasa bersalah. Tapi entahlah, toh dalam waktu 5 hari kedepan aku dapat mempersiapkan diriku untuk menghadapinya. Ingat! Aku akan terjebak bersamanya selama 3 bulan.

“ne, gwenchana. Kita bisa belajar setelah bazar sekolah selesai.” Ucapku

“akan aku usahakan untuk meluangkan waktu untukmu” tuturnya kembali.

Glek! Apa itu? Kenapa kata-kata itu seperti.. oh, jantungku. Jangan sekarang, kumohon. Astaga, benar kataku, ini akan semakin sulit.

“tidak perlu, sebaiknya kau fokus terhadap acaramu. Aku akan menunggumu. Hanya 5 hari bukan?” ya, hanya 5 hari tak akan berarti apa-apa bagiku. Bukankan aku sudah menunggumu selama 6 tahun? Bedanya 6 tahun lalu aku tidak memberitau mu bahwa aku akan ‘menunggu’.

“ah ye. Setelah itu aku akan terfokus pada materi kita.” Tuturnya

“ne. Kita sudah sampai. Masuklah ke kelasmu, aku juga akan masuk. Annyeong” ucapku lalu berlalu menuju kelas. Miss han sudah menungguku.

“hyuk jae-ssi..” panggilnya dari kejauhan.

“ne??” jawabku saat berbalik.

“aku harap kau datang saat bazar nanti” lalu dia tersenyum manis, berbalik menuju kelasnya dan menghilang dibalik pintu putih susu itu.

-Author POV-

“aku harap kau datang saat bazar nanti” ucap gadis itu tersenyum dan berlalu menuju kelas. Deg.. deg.. deg.. hyuk jae menatap lurus koridor kosong yang tadinya menjadi tempat gadis itu berpijak. Ia segera memegang dadanya, detak jantungnya ini benar-benar membuatnya merasa akan mati. Kencang. Sangat kencang. Tentu saja, ini untuk pertama kalinya wanita itu memintanya melakukan sesuatu.

Eh? Tapi, tadi itu bukannya seperti bagaimana seseorang memintanya untuk berkencan? Gadis itu tersenyum manis setelah mengatakan itu. Dan lagipula, gadis itu seperti berharap bahwa hyuk jae akan datang. Bukankah itu keajaiban? Tanpa sadar lengkungan manis itu terukir dari bibirnya. Dia bahagia. Walaupun itu tidak bisa dikatakan ‘ajakan berkencan’ karena, yah kalianpun tau gadis itu milik orang lain. Tapi setidaknya, ini adalah untuk pertama kalinya setelah 6 tahun. Dan hyuk jae, dia benar-benar gila.

-Jiyeon  POV-

Setelah ini, aku merasa harus bersikap lebih baik terhadap hyuk jae-ssi. Selain karena dia adalah pertner belajarku mulai saat ini, dia juga bukan orang asing. Kami sudah saling mengenal sejak,, ahh sejak 6 tahun yang lalu sepertinya. Bukannya selama ini aku bersikap jahat padanya. Hanya saja aku merasa harus menjaga jarak terhadap namja manapun setelah sempat di khianati seseorang dimasa laluku.

Dan lagipula dia adalah sahabat donghae. Omo! Donghae! Aku melupakannya. Aish, ini karena panggilan kim seosaengnim. Membuatku harus melewatkan makan siangku bersamanya. Ya tuhan..

Aku melangkahkan kakiku cepat setelah bel berbunyi. Namja itu, dia memiliki sifat manja akut yang jika dibiarkan akan menimbulkan perang dingin walaupun tidak akan begitu mencekam. Itu dia! Aku segera berlari mengejarnya, eum meskipun jarak kelas kami hanya 3 ruangan tapi tetap saja ini menyulitkan. Oh,, oh,, omo! Dia melihatku. Tapi,, hei mengapa dia mengabaikanku? Ya tuhan dia benar-benar marah. Aku semakin mempercepat langkahku menuju donghae.

“hae-ya..” teriakku. Dia berbalik melihatku dan tampak sedikit terkejut. Lalu sedetik kemudian dia terlihat tersenyum. Tunggu! Ada yang salah disini. Bagaimana bisa dia tersenyum saat kami sedang,, ah, atau dia tidak marah? Begitu?

“eoh, ji-ya. Kenapa kau berlari seperti itu?” ujarnya.

“eum, aku mengejarmu. Kau,, tidak sedang marah padaku?” ucapku. Dia menekuk wajahnya dan menautkan kedua alis tebalnya.

“marah? Kenapa harus?”

“aku meninggalkanmu saat makan siang dan tidak memberi kabar padamu. Sebenarnya aku__”

“aku tau. Dan aku tidak marah” ujarnya tersenyum.

“eoh? Kau tau? Bagaimana bisa?”

“hyuk jae memberitau ku. Chukkae!” ujarnya sembari mengusap puncak kepalaku lembut.

“kau,, benar-benar tidak marah? Tapi kan aku__”

“aku mendukungmu. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan bagiku untuk tidak marah padamu. Sudah?” ujarnya seraya menundukkan tubuhnya. Ya, tinggi badan kami berbeda sekitar 10 cm. Dan itu sedikit menyulitkan menurutku. Dan,, astaga. Mengapa bisa sedekat ini? Aish, dasar namja mesum. Selalu saja bisa membuatku salah tingkah. Apa dia tidak tau bagaimana keadaan jantungku saat ini.

“eum,, benarkah? Kalau begitu baiklah. Ayo kita pulang!” ujarku lalu segera menjauhkan tubuhku. Bisa mati aku jika terus begini. Aku mengamit tangannya dan menyeretnya menuju parkiran. Terlihat jelas seringai kemenangan dari bibirnya tipisnya itu. Selalu seperti ini ketika dia berhasil membuatku gugup.

“ah ya! Eum, hae. Nanti sore aku ada rapat panitia di kantor, bolehkan?” tanyaku padanya. Ya, aku selalu meminta izin darinya sebelum melakukan apapun. Entah bagaimana aku menjelaskannya. Tapi aku seperti menganggap namja ini sebagai pemimpin dalam hidupku. Seperti, semua yang aku lakukan selalu berpatokan pada keputusannya.

“bukankah sudah kubilang, aku mendukungmu. Chagia~” ujarnya dengan senyumnya yang –seperti biasa- selalu menawan.

“berhenti memanggilku dengan panggilan menjijikkan itu hae!” ucapku padanya.

“hmm,, baiklah, tuan putri. Masuklah” ujarnya setelah membukakan pintu audi hitam miliknya. Selalu seperti ini. Dia selalu mampu membuatku merasa nyaman setiap kali berada disisinya. Sikap manisnya juga tidak pernah berubah sejak 2 tahun lalu. Masih ku ingat bagaimana usahanya untuk meluluhkan hatiku. Membayangkan itu semua membuatku tersenyum dengan sendirinnya.

“mengapa kau tersenyum? Ada yang salah?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

“tidak. Aku hanya membayangkan masa-masa 2 tahun lalu.” Ujarku.

“bagaimana bisa kau tersenyum saat membayangkan bagian kelam hidupku” ujarnya mendengus.

“bagian kelam?”

“ya. Masa disaat aku harus menghabiskan setengah semesterku hanya demi meruntuhkan pertahananmu? Dan itu belum termasuk membuatmu membuatku mencintaiku?” Ujarnya sedikit mendengus.

“ne. Itu sangat lucu jika di kenang. Bukankah itu masa yang meyenangkan?”

“hss.. kau gadis yang kejam!” ujarnya sakartis.

“yak!! Apa maksudmu!” teriakku geram. Dan dia hanya tertawa pelan.

“ish, kau kekanakan sekali. Aku hanya bercanda.” Ujarnya. Apa? Kekanakan?

“…..” aku hanya diam.

“aish, arasseo. Aku minta maaf. Aku teraktir es cream ne?” tanyanya. ‘Hanya es krim? Tidak mau!!’ batinku.

“baiklah, ditambah burger dan beberapa menu yang kau inginkan” ujarnya lagi mengalah. Dengan spontannya kepalaku berbelok melihatnya dan menyunggingkan senyum terbaikku.

“benarkah? Arasseo. Aku memaafkanmu.” Ujarku bahagia.

“seperti biasa. Dasar gadis manja” ujarnya mencubit pipiku.

“akh, appo!!” aku mengelus pipiku “tapi kau tetap mencintaiku” lanjutku.

“benar. Aku mencintaimu”

-Hyuk jae POV-

Sore ini aku memacu mobilku menuju daerah pinggiran  gangnam, kim seosaengnim memintaku untuk datang kerumahnya. Hss, yang benar saja. Ini masih hari yang sama dengan hari pemanggilanku untuk mengikuti olimpiade bersama jiyeon. Dan sekarang aku sudah harus selalu terkoneksi dengan guru killer itu. Hari ini dia ingin memberikanku beberapa materi untuk dipelajari, begitulah katanya tadi.

Aku tidak begitu tahu darimana dia menemukan nomer handphoneku. Yang jelas dia menghubungiku tepat saat aku baru akan menyentuhkan jemariku pada televisi kesayanganku. Aku segera menepikan mobilku didekat daerah itu. Aish, dimana rumahnya? Mengapa begitu sulit? Aku segera mengeluarkan handphone silverku. Melihat kembali alamat yang telah dikirimkan guru itu tadi.

“Amster walt, laintai 4 nomer 311? Ck, mengapa tidak sekalian amsterdam saja. Merepotkan.” Ujarku. Aku segera melajukan mobilku kembali. Dimana amsterwalt? Aku baru mendengar ada nama apartemen seperti itu.

Bukan!

Bukan!

Bukan!

Bukan!

Ah! Itu dia. Tapi, bukankah aku sudah melewati bangunan ini tadi? Mengapa seolah-olah aku baru sadar? Ah ani, aku memang baru sadar. Amsterwalt, apartemen yang cukup mewah dengan interior gabungan klasik dan restaurant masakan khas jepang dibawahnya.

“Pantas saja tidak terlihat” ujarku. Aku segera berjalan menuju koridor. Ternyata ruangan disini terpisah. Kau akan tau jika kau memasukinya. Ini tidak seperti yang kau bayangkan jika kau hanya melihat bangunan ini dari luar.

Restaurant yang kau lihat tadi ternyata hanya bagian kanan dari koridor panjang menuju meja resepsionis dan bagian kirinya, astaga,, kau dapat melihat restaurant yang menjajakan makanan western. Orang cerdik mana yang telah membuat konsep seperti ini, dan lagi pula,, semahal apa apartemen disini jika pelayanannya saja sudah seperti hotel bintang lima, ini gila!

“ada yang dapat saya bantu tuan?” tanya resepsionis itu ramah.

“aku memiliki janji dengan seseorang dilantai 4” jawabku singkat.

“baiklah, perlu saya antarkan tuan?” tanyanya lagi.

“tidak perlu, aku bisa sendiri” jawabku ringan. Lalu aku berjalan menuju koridor sebelah kiri yang berujung pada sebuah lift. Aku segera menekan angka 4 dan menunggu lift membawaku menuju lantai apartement kim seosaengnim.

Ting!

Bunyi lift terdengar, aku keluar dan mencari sebuah kamar dengan nomer 311. Tidak sulit ternyata, hanya tiga kamar dari blok utama koridor depan. Aku menekan bel dan tak lama terdengar bunyi pintu terbuka.

“masuklah hyuk.” terdengar suara dari dalam memintaku untuk masuk. Aku segera masuk dan menemukan ruangan ala klasik europe dengan furniture serba coklat yang dipadukan dengan warna dinding yang crem, ‘waw,, selera kim seosaengnim boleh juga’.

“duduklah, kau ingin minum apa?” ujarnya padaku yang masih berdiri di depan pintu masuk.

“ne seosaengnim, tidak perlu repot-repot.” Jawabku. Aku melihatnya berbicara pada seorang wanita yang memakai baju terusan anggun, persis seperti eomma. Ah, itu pasti istrinya. Wanita itu mengangguk dan kembali pergi menuju dapur. Aku segera duduk dan disusul oleh kim seosaengnim beberapa saat kemudian.

Aku berbincang tentang beberapa hal mengenai olimpiade ini bersamanya. Karena tahun lalu aku juga menjadi perwakilan sekolah, tak begitu sulit untukku memahami segala tetek-bengek peraturan olimpiade ini. Dapat kudengar suara langkah kaki menuju sofa dan kemudian wanita itu datang dan mengantarkan dua ice lemon tea. Dia tersenyum dan kemudian kembali menuju dapur-menurutku-.

“istrimu?” tanyaku pada seosaengnim dengan muka yang sedikit bingung. Pasalnya wanita itu tidak berbicara sedikitpun. Membuatku ragu, mungkin saja itu pembantunya.

“ne, dia sedang tidak enak badan. Maaf karena dia tidak menyapamu.” Balasnya ringan. Ohh, benar itu istrinya. Aku tersenyum dan mengangguk meng-iya-kan permohonan maafnya.

“kau datang sendiri? Dimana jiyeon? Apa kalian tidak akrab?” tanyanya beruntun.

“ah, jiyeon sedang tidak bisa datang seosaengnim. Eum, untuk lima hari kedepan dia harus mengurus acara bazar sekolah.” Ujarku. Benar juga. Aku jadi teringat gadis itu, dimana dia sekarang..

“ih iya, dia panitia bazar. Aku lupa. Dia juga sudah meminta izin padaku. Eum, apa menurutmu dia partner yang baik?” tanya seosaengnim dengan wajah antusiasnya.

“ne? Maksud seosaengnim?” ujarku pura-pura tidak mengerti.

“apa kau nyaman bersamanya? Eum, dalam belajar maksudku” jelasnya.

“oh, ne seosaengnim. Aku sudah mengenalnya lama, kemungkinan besar tidak akan ada masalah dalam pembelajaran nanti”

“baiklah, tunggu sebentar. Ada beberapa materi yang harus kalian pelajari lagi.” Ujarnya. Kemudian dia berdiri dan menghilang dibalik sebuah ruangan. Aku  menghela nafasku berat. Meskipun hubungan kami sedikit lebih baik daripada hubungan seosaengnim dengan murid lainnya, tetap saja berada dalam rumah seorang guru tidak akan pernah membuatmu nyaman apapun alasannya.

Aku menyambar ice lemon tea-ku, menyeruputnya sedikit. ‘Ah, segar sekali’ batinku. Ku perhatikan beberpapa detail apartemen ini. Besar juga. Apartemen ini memiliki 7 lantai dengan hampir 50 kamar di setiap laintainya. Ini bukan hotel! Tapi apartement. Bisa kau bayangkan seberapa luas tempat ini.

Bentuk bangunan yang terlihat tidak besar dari bagian depan seperti hanya sebuah kamuflasae. Restaurant jepang yang diapit olah toko perhiasan dan butik pakaian wanita itu hanya sebagian kecil dari seluruh bangunan ini. Seperti yang kukatakan tadi, kau akan tau jika kau memasukinya. Tak beberapa lama aku melihat seosaengnim keluar dari ruangannya membawa sebuah map kuning tipis. Kemudian dia duduk dan menjelaskan bagaimana dan apa saja yang harus aku pelajari.

“ne seosangnim, baiklah aku permisi pulang. Ada beberapa buku yang sepertinya perlu untuk dibeli” tukasku setelah semua penjelasan seosaengnim.

“Hati-hati dijalan” ucapnya yang masih berdiri didepan pintu. Ah,, aku jadi ingat appa. Sudah dua minggu ini aku tidak pulang karena tugas sekolah yang begitu banyak.

Ya, aku tidak tinggal dengan orang tuaku. Aku memilih tinggal sendiri di sebuah apartemen. Selain karena alasan ‘ingin mandiri’ rumah appa juga terlalu jauh dari sekolah dan ditambah dengan kebiasaanku yang sangat sulit untuk bangun pagi, sedikit banyak akan sangat menyulitkanku nantinya.

Karena itu aku memilih sebuah apartemen minimalis mediternia di kawasan myeongdong. Tidak mewah memang, tidak pula biasa saja. Hanya seperti apa yang aku inginkan.

Aku segera melajukan audiku menuju sebuah tempat perbelanjaan yang cukup lengkap di kota ini. Setelah sebelumnya berkeliling beberapa saat, aku akhirnya memasuki sebuah bookstore langgananku.

Kulangkahkan kakiku menuju suatu sudut dimana tumpukan buku pelajaran berada. Kutelusuri setiap buku dengan teliti. Ya, aku sedang mencari beberapa buku rekomendasi kim seosaengnim yang belum aku miliki. Beberapa tumpukan buku yang sedikit tebal itu telah bersarang di tanganku. Setelah dirasa cukup aku berjalan menuju kasir.

Kulirik sebentar arloji hitam yang bertengger pada tangan kiriku. Hampir jam 7 malam. Baiklah, aku melewati jam makan malamku hari ini. Pantas saja rasanya perutku seperti meronta-ronta meminta diisi. ‘Apa harus makan diluar? Ah, tidak bisa! Makan dirumah saja.’ Pikirku. Aku terus berjalan menuju kasir hingga sebuah suara merdu tertangkap oleh sinyal pendengaranku .

“lee hyuk jae-ssi..” teriaknya.

-TBC-

-with love-

park ji yeon

5 thoughts on “Our Love Story part 1

  1. elfexotic says:

    kayanya Kyuhyun lbih cocok jd castnya dh..
    kn dy yg pernh menang olimpiade. tp Hyuk jg gk apa2 sh, terserah authornya sj..kkkk

  2. deerfishymonkey says:

    Sedih amat hyukjaenya one side love ama pacarnya donghae pula😦

  3. little devil says:

    tumben hyukjae jadi orang kalem.. gpp sih tpi dia lebih cocok jadi bad boy😀 …

  4. BebyPanda says:

    , Eunhyuk setia bngt.. sbr hyuk kalau jodoh gk kmana kok..
    Semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s