IMPOSSIBLE LOVE (1/2)

Untitled-1

Judul         : IMPOSSIBLE LOVE  (1/2)

Author      : HyukgumSmile

Genre        : romance, twoshoot

Rating       : PG-17

Main Cast  : Cho Kyu Hyun, Park Ji Yeon

Other Cast : lee hyuk jae, lee dong hae, choi siwon.

Summary : Jika memang kita harus egois.

 

Bermacam perspektif cinta bertebaran di muka bumi ini,

Aku, kau, dia, mereka.

Tersenyum dan tertawa, menangis dan terisak..

Disetiap perjalanan hidup yang kulalui,

Kuakui kau ada pada garis terpenting meskipun hanya melintas sesaat.

Lalu apa yang dapat kita lakukan jika dunia bahkan pencipta tak sejalan?

Menentang takdir? Membiarkan mereka mengumpat dan tetap berjalan lurus?

Membiarkan dunia mengucilkan kita yang telah tak berdaya melawan cinta?

Atau menyerah?

 

-The Begining-

“ji yeon cepat turun!!”

Gadis itu mendecak pelan setelah suara merdu milik eommanya menggema dengan indah dalam gendang telinganya. Menyerang rumah siput dan berpotensi merusak pendengarannya.

“iya eomma sebentar!” balasnya tak kalah kuat.

“kau sudah mengatakan itu tiga kali nona. Cepat turun atau aku sendiri yang akan menjemputmu!”

Gadis itu mengerutkan keningnya kemudian berdiri. Meletakkan setumpuk tugas diatas meja jati itu dan berjalan gontai menuju lantai bawah. Ia memutar bola matanya jengah ketika menemukan meja makan telah penuh dengan berbagai macam makanan yang sebenarnya –pasti- lezat.

“jangan tunjukkan wajah itu padaku, nona”

Ji yeon menatap wanita paruh baya yang sedang sibuk itu dengan wajah datarnya lalu berjalan dan menarik kursi disebelah kakak tercintanya.

“tersenyumlah, cantik” jungso  mengusap rambut adiknya pelan sementara wanita paruh baya itu masih asik dengan kegiatannya.

“aku tidak suka diganggu saat belajar” protesnya.

Gadis itu mempoutkan bibirnya dan berdecak kesal. Membuat jungso terkekeh pelan melihat kelakuan adiknya yang kekanakan.

“ck, ayolah ini ulang tahun appa nona manis. Kau harus menghabiskan waktumu bersama kami. Setidaknya hanya untuk makan malam. Bukankah kau sudah sibuk di perpustakaan kota sejak tadi pagi, hmm?”

Gadis itu menarik nafas nya pelan. Memang tidak akan ada yang mengerti jika dia saat ini begitu dikejar detline tugas akhir sekolahnya. Ck, dia harus mempersiapkan ujian kenaikan kelasnya bulan depan. Ditatapnya jungso jengah.

“oppa! Apa kau tidak ingin aku mendapatkan nilai yang baik? Aku harus menyelesaikan test akhirku!!” pekiknya. Berteriak dengan membesarkan kedua bola matanya. Seakan menegaskan jika ‘aku-tidak-main-main’.

“kau berlebihan. Test mu itu diadakan bulan depan. Aku tidak bodoh”

Jungso terkikik pelan melihat wajah frustasi gadis itu. ia berdiri dari kursinya dan menyentil pelan kening adiknya sebelum berjalan menuju dapur.

“biar aku saja eomma”

Jungso menemui eommanya dan membantunya membawakan sepiring besar kalkun papperoni. Sedangkan wanita itu melepaskan aproan hitamnya lalu mengusap sayang rambut jungso dan berjalan menuju meja makan.

 

__

Suasana menyenangkan tercipta ditengah acra makan malam keluarga itu. ji yeon terlihat tersenyum menanggapi setiap pembicaraan keluarganya yang sebenarnya juga ia butuhkan.

Hanya saja beberapa hari ini ia harus mengurung diri karena kesibukan dan tugas sekolahnya yang terasa semakin menjadi-jadi. Beruntung sekali libur natal ini ia dapat menghabiskannya bersama keluarga kecilnya.

“musim semi ini..”

“aku harus mempersiapkan diriku untuk menghadapi test akhir, appa”

Seketika ji yeon memotong pembicaraan appanya. Seperti sudah sangat mengerti kemana arah tujuan pembicaraan itu.

“appamu belum selesai berbicara sayang” sela eommanya.

“aku rasa appa akan berbicara mengenai liburan keluarga, akhir minggu ini, busan dan.. yah, apa aku salah appa?”

Ji yeon melirik sebentar pria paruh baya itu. ia terlihat memperhatikan gadis kecilnya dan sesaat kemudian mengukir sebuah senyuman.

“sepertinya instingmu sangat kuat” ujar appanya “ benar. Liburan keluarga, busan, akhir minggu, keluarga besar, dan tidak boleh ada yang tidak ikut” tegasnya kemudian.

“appa!!”

“ya, sayang?”

Ji yeon memberengut kesal. Ck, dia sudah memiliki berbagai rencana untuk belajar bersama teman temannya disaat liburan nanti. Dan,, berita ini memupuskan semuanya.

“appa, ayolah. Aku harus test” rajuknya.

“tuan putri, ayolah. Hanya sekali dalam satu tahun pun kau masih ingin melewatkan waktu berkumpulmu dengan seluruh keluarga?”

Ji yeon terdiam. Kata-kata appanya benar-benar tepat sasaran. Dan setelah itu tidak ada lagi yang dapat ia katakan.

 

__

Ji yeon turun. Menyeret koper miliknya sebelum kereta itu kembali melaju dan membawanya entah ke tujuan mana. Bahunya terkulai lemas mengingat tahun lalu keluarga appanya yang –memang- sangat bersemangat jika sudah berkumpul itu mengadakan berbagai perlombaan.

Apa? Perlombaan? Ya benar, perlombaan dan harus diikuti oleh semua anggota keluarga. Dan ji yeon bukanlah tipe anak yang akan tertawa lepas mendengar berita seperti itu. ia mengekori jungso yang –juga- terlihat bersemangat menuju pelataran parkir.

“eoh, itu dia yeobo!!”

Tiba-tiba saja tundukan kepala ji yeon terangkat mendengar sebuah teriakan dari eommanya. Ia memfokuskan diri menatap satu fokus yang saat ini terlihat melambaikan tangan pada kedua orang tuanya.

Namja itu terlihat berlari menghampiri mereka dan segera memeluk eomma dan appa. Lalu memeluk akrab jungso dan kemudian berdiri didepannya. Mereka terlihat kikuk sebelum akhirnya namja itu menjulurkan tangannya dan disambut tak kalah kaku oleh ji yeon.

Namja itu, cho kyu hyun. anak kedua paman cho. Suami adiknya appa. Dan dia, setahun lebih muda dari ji yeon, tapi tubuhnya bisa dikatakan hampir sama seperti jungso. ‘Ck, dasar muka tua’ rutuk ji yeon dalam hati.

Mereka memang tak pernah akur. Bahkan sejak mereka masih mengeluarkan lendir bening itu dari mulut mereka. Ji yeon tidak suka pada namja itu. baginya, kyu hyun hanyalah namja sok cuek yang sangat piawai mengambil hati semua orang dan tidak sopan. Ia, tidak pernah menggunakan bahasa formal pada ji yeon.

“ayo paman, semuanya sudah menunggu di villa”

Namja itu mengambil alih koper bawaan appa dan eomma ji yeon lalu menyeretnya menuju sebuah mobil. Benar kan? Sangat piawai.

“eoh, kau sendiri? Membawa mobil ini?”

“ne, aku sendiri bi”

Namja itu tersenyum manis dan kemudian membantu jungso memasukkan koper mereka di bagasi belakang. Appa segera mengambil tempat di sebelah kemudi sedangkan ji yeon, jungso dan eommanya duduk di belakang.

“sejak kapan kau bisa mengendarai mobil?”

“kurang lebih setahun yang lalu, paman”

“wah, sudah memiliki surat izin?”

“belum. Tahun depan aku baru dapat mengurusnya”

“ah, ne. Umurmu belum cukup ternyata. Tapi kau terlihat jauh lebih dewasa dari ji yeon”

Ji yeon tersentak. Menatap appanya tak percaya karena dengan ringannya membandingkan ji yeon dengan namja itu.

“benarkah?”

Kyu hyun memutar kepalanya menatap ji yeon. Memberikan seringai menjijikkan itu padanya. Bagus! Puas kau, cho kyu hyun? batinnya.

“menyetir saja yang benar!”

Ji yeon menanggapi namja itu kesal. Membuat appa dan eommanya tertawa. Dan yang lebih membuatnya kesal adalah namja itu ikut menertawakannya. Ck, sialan.

Perjalanan menuju villa memang memakan waktu yang cukup lama. Membuat jungso yang sudah kelelahan itu tertidur dan eommanya juga. Sedangkan ji yeon, tak mampu tertidur karena mendengarkan obrolan kyu hyun dengan appanya yang sesekali sangat tepat menyinggungnya.

“sudah sampai, paman”

Mobil itu berhenti dan dengan cepat ji yeon berlari keluar. Berjalan cepat menuju pintu masuk villa dan berdiri disana. Ia tersenyum ketika koper miliknya tengah diseret oleh namja itu. sebenarnya, ia sengaja meninggalkannya dan membiarkan appa yang meminta namja itu membawanya. Bukankah ia tidak pernah membantah appa? Kkk~

“kalian sudah sampai?”

Dua orang wanita paruh baya yang notabenenya adalah adik appa datang menghampiri mereka. Park han ah, dan park seung il. Appa memang satu-satunya namja dalam keluarga. Oleh karena itu hanya ji yeon dan jungso lah yang mewarisi marga mereka.

“ji yeon-ah!!”

Yeoja itu mengalihkan pandangannya ketika suara tak asing memekakkan telinganya. Lee brother. Oh, ayolah. Mereka adalah yang terdekat dengannya.

“hyuk jae-ah! Donghae-ah!”

Ji yeon berlari dan memeluk mereka bergantian. Memang, selain karena mereka sepantaran, hyuk jae dan dong hae adalah yang paling memiliki kemiripan fikiran dengan ji yeon.

“eoh, paman, bibi. Anyyeong!”

Kembali perhatian teralihkan ketika namja tinggi tegap itu datang. Dia, choi siwon. Sepupu kebanggan ji yeon. Yeoja itu akan sangat bersemangat jika telah menceritakan mengenai bagaimana tampan dan kayanya siwon. Belum lagi namja itu sangat sopan dan taat beragama. Tidak seperti…

“ji yeon. Apa kabar?”

Seketika ji yeon terdiam ketika namja itu berdiri didepannya. Ji yeon tersenyum sekilas dan terlihat sedikit canggung. Memang, ji yeon pernah menyukai namja itu dulu. Tapi itu dulu, saat dirinya masih menginjak dunia pubertas. Dan saat ini hanya menyisakan rasa kagum. Tapi tetap saja..

“a aku baik. Bagaimana denganmu?”

“tak jauh berbeda. Kau terlihat semakin cantik”

Sontak ji yeon segera menunduk mendengar pujian itu. siwon memang pria idaman! Sayang saja dia adalah sepupunya meskipun menilik marga, mereka tetap diperbolehkan untuk menikah.

“ck, bualanmu mengangumkan choi”

Ji yeon segera menolehkan tatapan tajamnya pada kyu hyun, sedangkan namja itu menatapnya dengan cengiran bocah dan menaik-turunkan kedua alisnya. Ya, siwon juga setahun lebih muda darinya. Namun entah mengapa ji yeon tidak pernah merasa terganggu jika namja itu tidak menggunakan bahasa formal padanya.

Mungkin yang satu ini semacam pengecualian. Kkk~

“sudah, sudah. Kyu, bawakan koper ji yeon ke kamarnya. Ji yeon, kau bisa ikuti kyu hyun. dan siwon, tolong antarkan hyung mu menuju kamarnya”

Ji yeon melotot tak percaya mendengarkan perintah Ny. Cho itu. mengapa tidak siwon saja yang mengantarkannya? Aish, seharusnya ia tak meninggalkan kopernya bersama namja setan itu.

 

__

Ji yeon berjalan mengekori kyu hyun. ia menundukkan kepalanya dan bergumam tak jelas mengingat jika saja ia tidak meninggalkan kopernya maka ia akan bersama siwon saat ini. ia terus berjalan mengikuti jejak kaki namja didepannya.

“aww..”

Ji yeon terhenti dan mengusap pelan keningnya yang terasa sedikit sakit. Menatap ujung kaki kyu hyun yang telah berhenti didepannya. Ia kemudian mendongak dan menatap namja itu garang.

“ya! Kenapa berhenti tiba-tiba?!” pekiknya.

“sudah sampai, bodoh” jawab namja itu ringan.

“mwo?! Aku lebih tu darimu! Berani sekali kau..”

“jangan kotori fikiranmu dengan bayangan tuan muda choi itu. apa menurutmu dia yang akan mengantarkanmu jika kopermu tidak bersamaku?” kyu hyun memajukan tubuhnya. Membuat ji yeon refleks memundurkan diri namun tak sengaja mencium aroma maskulin namja itu.

“a apa yang kau__”

“aku sudah meminta pada eomma untuk menjagamu selama disini” pria itu mengeluarkan smirknya dan semakin mendekat. Membuat ji yeon merinding ngeri dan semakin memundurkan tubuh.

“noona,, selamat menikmati liburanmu”

Ucapnya kemudian. Ji yeon merasakan bulu romanya menegang. Senyuman setan namja itu semakin menguasainya.

BRUK

“aww!!”

Ji yeon terjatuh. Tepat didepan mata namja itu. Namun seolah tak perduli, kyu hyun kemudian menegakkan tubuhnya dan kembali mengeluarkan senyuman miringnya sebelum berlalu dibalik pintu.

 

__

Malamnya, makan malam keluarga diadakan. Berhubung mereka hanya empat keluarga, villa yang sangat luas milik keluarga choi itu tentu saja mampu menampung mereka. Setiap sudut meja makan riuh. Setiap orang duduk tak beraturan. Para appa berkumpul di ujung sana, apa eomma di ujung satunya lagi dan tersisalah tempat di tengah-tengah untuk mereka para anak-anak.

Jungso tengah asik bergurau dengan ahra, sora dan sungmin. Sedangkan ji yeon asik bersama bersama hyuk jae, donghae, jiwon, sungjin, siwon dan juga ada namja setan itu disana.

“jadi, test akhirmu baru akan diadakan bulan depan noona?”

Ji yeon mengangguk menanggapi pertanyaan sungjin. Lalu kembali memasukkan potongan sallad itu kedalam mulutnya.

“mengapa lama sekali? Testku bahkan sudah berakhir sebelum natal” ucap namja itu kemudian.

“entahlah, sekolah itu seperti mengulur waktu untuk membuatku menjadi gila” jawab ji yeon asal.

Namun anehnya membuat mereka yang berada disekitarnya justru tertawa. Bahkan respon positif dari siwon yang mengelus puncak kepalanya membuat ji yeon semakin bersemangat.

“eonni, apa kau hanya akan memakan semua sayuran itu?”

Berganti jiwon yang bertanya. Melihat kelakuan ji yeon yang sedari tadi hanya menghabiskan semangkuk sallad saja. Sebenarnya, ji yeon tengah berusaha untuk mengurangi porsi makannya. Namun kebetulan chef rumah sedang menyediakan sallad, ia berfikir untuk memakan itu saja untuk saat ini.

“dia sedang mengurangi berat badannya. Kau tidak lihat seperti apa lipatan lemaknya?”

Kyu hyun menyambar sebelum sempat ji yeon menjawab pertanyaan ji won. Membuat semua orang kembali tertawa namun kali ini justru menertawakannya. Ji yeon menatap kyu hyun garang, bersiap mengeluarkan sumpah serapahnya. Namun..

“ini, makanlah meskipun hanya sedikit”

Ji yeon terdiam ketika sepiring bistik panggang telah tergeletak manis didepannya. Bahkan telah terpotong rapi dan ia hanya tinggal memakannya. Ji yeon melirik sebentar sebelum tersenyum malu mengetahui jika siwon lah yang memperlakukannya seperti itu.

Sementara di sisi lain, seorang namja tengah menggertakkan giginya geram.

 

__

Setelah makan malam yang menyenangkan itu akhirnya para anak-anak memutuskan untuk bermain kartu sejenak. Menimbulkan tawa keras dari ruang belakang villa . wajah sungjin, ji yeon, ji won dan siwon sudah tidak berbentuk lagi karena coretan tepung putih akibat kalah dalam permainan. Belum lagi hyuk jae dan donghae yang sudah menyerah untuk bermain karena tidak pernah menang.

“akh.. aku lelah. hae-ah, sebaiknya kita tidur”

Hyuk jae melirik donghae dan dibalas dengan anggukan pelan. Sementara siwon terlihat mengemasi kartu dan tepung yang berserakan di atas meja. Ji yeon berjalan menuju taman dibelakang villa. Berhenti didepan sebuah keran air untuk membersihkan wajahnya.

“kau terlihat sangat bahagia”

Ji yeon tersentak ketika berbalik dan menemukan kyu hyun tengah menyandarkan diri pada sebuah tiang dan melipat kedua tangannya di dada. Ia tersenyum sekilas memandangi ji yeon.

“ya! Bisakah kau datang dengan cara yang lebih baik? Kau membuatku hampir kehilangan jantung bodoh!” teriaknya.

Entah mengapa ia tak pernah bisa berbicara dengan baik pada namja itu. selalu dengan teriakan dan ujung mata yang sangat runcing. Berbeda sekali saat ia memperlakukan siwon dan yang lainnya dengan ramah dan baik.

“kecilkan suaramu. Kau ini wanita atau apa?”

“mwo?! Ya akhmmpf”

Ji yeon terpekik dalam dekapan tangan kyu hyun pada mulutnya. Kyu hyun menariknya kuat menuju sebuah taman dibawah pohon. Sedikit rindang disana. Dan juga gelap. Ji yeon melebarkan kedua matanya ketika merasa bahwa kyu hyun akan bersikap tidak baik padanya.

Apa namja itu akan membunuhnya? Menghilangkan jejaknya lalu membuangnya kedalam jurang. Mengingat jika ji yeon tidak mengenal tempat ini dengan baik dan juga kelakuan buruknya terhadap namja itu.

“yeon-ah, ji yeon-ah!!”

Terdengar suara siwon yang memanggil namanya. Sepertinya siwon tengah mencarinya yang tidak kembali sedari tadi. Ji yeon mengeluarkan pekikannya yang tertahan karena telapak tangan kyu hyun.

“sst! Diamlah!”

Tegas namja itu yang spontan membuat ji yeon tak mampu melakukan apapun. Suara panggilan itu masih menggema hingga lama-kelamaan menghilang ditelan pekatnya malam.

Suara jangkrik mengisi keheningan malam itu. setelah siwon berlalu, kyu hyun mencoba untuk memeriksa keadaan apakah benar namja itu telah pergi. Ia kembali terduduk dan menatap ji  yeon sebelum akhirnya..

“akh!! Apa yang kau lakukan?” pekiknya.

“melarikan diri darimu, tentu saja”

Dengan sigap ji yeon mencoba berdiri setelah kyu hyun sedikit melonggarkan cengkramannya. Namun kyu hyun lebih cepat, menarik yeoja itu dan membuatnya kembali terduduk tepat dihadapannya.

“apa yang kau inginkan?!” teriaknya.

“sudah kukatakan kecilkan suaramu!!”

Ji yeon terdiam setelah mendengar nada perintah dari mulut namja itu. yang benar saja, ia tak ingin mati muda hanya karena membantah perkataannya.

“nappeun!” gumamnya kecil.

“aku masih bisa mendengarnya. Dan kau, seharusnya kau berterimakasih padaku karena kesempatanmu untuk berdekatan dengan tuan muda choi di meja makan malam ini.”

Ji yeon mendongakkan kepalanya, menatap kyu hyun tak percaya. Sedangkan namja itu hanya tersenyum smirk dan membuat ji yeon kembali menunduk.

“b benar hanya itu yang kau ingin kan? Ucapan terimakasih? Kalau begitu.. terimakasih. Cah, lepaskan aku!”

Ji yeon berusaha memberontak sementara cengkraman kyu hyun masih sekuat sebelumnya. Ji yeon bergidik ketika tatapan lekat dari namja itu menghujam manik matanya. Menghantarkan getaran ringan di ujung jantungnya.

Ji yeon merasa sudah cukup tertekan karena mata elang itu masih saja menghujamnya meskipun berkali-kali ia telah mengalihkan pandangannya pada objek lain.

“a apa lagi? sebenarnya apa yang kau inginkan?!” teriaknya frustasi.

Ji yeon bergetar ketika nafas hangat namja itu berhembus bebas disekitar indra pendengarannya. Jemarinya berkait semakin erat. Lalu ia memejamkan mata dengan refleks ketika namja itu berkata..

“kau!”

 

__

Pagi itu suasana dingin menyelimuti ruang makan keluarga besar itu. masih terdengar suasana riuh disana. Ji yeon baru saja selesai membersihkan diri dan membawa diri untuk berbaur bersama sungjin dan ji won.

“eonni, kau sudah bangun?”

Ji yeon tersenyum ringan sebelum mengambil sebuah tempat kosong disamping ji won. Meletakkan beberapa potong buah kedalam mangkuknya dan memakannya tidak berselera.

“kau tidak ingin makan eonni?”

Ji won menatap ji yeon khawatir. Setelah hanya makan sallad lalu hari ini ia hanya memakan semangkuk buah bahkan dengan wajah yang tidak baik.

“noona, apa kau baik-baik saja?”

Ji yeon mengangguk pelan kemudian kembali memasukkan potongan apel itu kedalam mulutnya. Mengunyahnya untuk sekedar mengisi perut karena menurut perkiraannya siang ini akan ada acara yang membosankan.

“ji yeon-ah, semalam aku mencarimu. Kau baik-baik saja?”

Ji yeon menolehkan kepalanya dan mendapati siwon tengah duduk di sampingnya dengan wajah yang terlihat sangat khawatir. Membuat semangatnya seketika kembali.

“gwenchana, aku baik-baik saja. Maaf semalam aku meninggalkanmu. Perutku sedang tidak bersahabat” bohongnya.

“mwo? Perutmu? Kau sakit?”

“anio, aku tidak apa-apa”

Ji yeon tersenyum tulus pada siwon sementara namja itu memperhatikannya cemas. Ya tuhan, bagaimana raut wajah namja itu seandainya ia memberitau siwon jika semalam namja setan itu ‘menculiknya’?

“kau,, hanya makan buah?” siwon menelik tajam pada ji yeon.

“oh, itu. aku..”

“ahem!!”

Ucapan yeoja itu terhenti ketika sebuah suara menarik perhatiannya. Ia mencari sumber suara itu dan menemukan kyu hyun, tengah duduk persis didepannya. Melipat kedua tangannya dan menatap ji yeon dengan senyum yang begitu mengerikan.

Seketika seluruh tubuh ji yeon meremang. Mengingat percakapan mereka tadi malam. Bibirnya memucat dan keringat dingin itu mulai terasa di ujung tengkuknya.

“ji yeon, kau baik-baik saja?”

Ji yeon tersadar dan segera menatap siwon. Mengalihkan pandangannya dari kyu hyun. ia berusaha sebisa mungkin mengatur ekspresinya. Dan tersenyum.

“a ania, gwenchana. Permisi, aku ingin ke kamar sebentar”

 

__

Benar dugaan ji yeon, siang itu akan ada kegiatan membosankan. Ani, sangat membosankan lebih tepatnya. Yang benar saja, remaja seperti mereka diminta untuk memainkan permainan mencari harta karun. Ck, tidak masuk akal.

Seluruh anggota keluarga dibagi atas empat kelompok dan setiap kelompok berisikan empat orang. Permainan gila ini memaksa mereka untuk menyusuri hutan pinus milik keluarga choi. Oleh karena itu, harus ada namja dalam setiap kelompok.

Dan entah memang karena kesialannya atau apa, ji yeon kembali harus bertemu dengan namja setan itu. beruntung sekali bersamanya juga ada hyuk jae dan juga ahra eonni.

“ini, peta harta karun kalian. Aku harap tidak ada yang bermain curang dan ikuti petunjuknya. Arrachi?”

“NE!”

Sungjin dan donghae terlihat begitu antusias. Semenjak semua orang tua mengumumkan agar permainan dimulai, mereka tersenyum cerah dan berkumpul untuk menyusun strategi. Cih, yang benar saja.

“karena kalian ada empat kelompok, maka bendera yang kami letakkan hanya tiga. Jadi team yang tidak mendapatkan bendera akan menjalani hukuman.”

Ji yeon tersentak. Hukuman? Oh ayolah. Mereka bukan lagi anak kecil. Untuk apa melakukan permainan konyol seperti ini? batinnya.

Seluruh anggota berpencar untuk mempersiapkan segala peralatan mereka. Ji yeon memasuki kamarnya membawa sebuah senter, makanan dan selimut. Simpel. Tidak sebesar tas punggung bawaan donghae yang seperti akan menelannya saja.

Pukul empat sore permainan dimulai, setiap grup berpencar entah kemana. Sedangkan ji yeon terus berjalan mengikuti hyuk jae didepannya. Kyu hyun berjaga di belakang dan arha sibuk memegangi anjing cihuahua kesayangan hyuk jae.

“seharusnya kau tidak membawanya hyuk” ujar wanita itu ketus.

“lalu aku akan meninggalkannya bersama siapa? Kau fikir eomma mau repot-repot merawatnya, huh?”

“kalau begitu titipkan saja di tempat penitipan hewan. Kita berlibur hanya seminggu, apa sulitnya meninggalkan anjing ini disana”

Seketika hyuk jae berbalik, menatap ahra dengan tatapan tidak terima. Ia berjalan mendekati ahra dan merebut chocho darinya.

“kalau kau tidak mau menjaganya, katakan saja!” ujar namja itu ketus.

“hyuk, bukan begitu..”

“ck! Diamlah! Mengapa kalian justru bertengkar?!” sela kyu hyun. ji yeon terperangah memperhatikan perkelahian ketiga orang itu “hyung, kau saja yang di belakang. Biar aku yang memimpin”

Kyu hyun segera merebut senter dari tangan hyuk jae dan berjalan kedepan. Tak lupa melihat sebentar peta lalu mulai berusaha untuk memimpin.

“ikuti aku!”

 

__

Beberapa saat berlalu hingga mereka telah sampai di tengah hutan. Kyu hyun melirik arloji miliknya kemudian bergumam pelan.

“ck, merepotkan”

“ne?”

“aku tidak bicara padamu!”

Kyu hyun kembali berjalan meninggalkan ji yeon yang merengut. Bukankah dia berniat baik? Ji yeon baru saja ingin memberikannya minuman. Namun sifat namja itu kembali membuatnya emosi.

“hyuk, maafkan aku. Biar aku saja”

“tidak perlu, aku bisa melakukannya”

“kumohon hyuk, kau berjaga saja. Biar aku yang menjaganya”

“tidak”

“hyuk”

“tidak!”

“BISAKAH KALIAN DIAM?!!”

Hyuk jae dan ahra berhenti. Seketika suasana menjadi hening. Hyuk jae dan ahra yang sama-sama memegangi chocho dan ji yeon hanya terpaku karena teriakan keras kyu hyun.

Suara gonggongan anjing seketika menyadarkan mereka. Membuyarkan lamunan panjang dari masing-masing mereka.

“hyuk, aku rasa..”

“eonni, chocho lari!!”

 

__

Hampir lima belas menit mereka mencari keberadaan anjing itu. membuat kyu hyun semakin menggeram kesal. Seharusnya mereka sudah sampai dan mendapatkan bendera  jika saja dua orang idiot itu tidak membuat ulah seperti ini.

“kita tinggalkan saja dia” ucap kyu hyun tiba-tiba.

“mwo?!”

“tinggalkan saja hyung, kau bisa membeli yang baru”

Ujar namja itu santai. Hyuk jae menatap kyu hyun tak percaya, seketika emosinya terpancing setelah dengan mudahnya namja itu menganggap peliharaannya.

“tidak! Aku akan terus mencarinya”

“tidak bisa hyung, kita harus melanjutkan perjalanan”

“aku tidak mau!”

“hyung, jangan egois! Ini sudah sore. Apa kau mau kita terjebak didalam hutan ini hingga malam?” teriak kyu hyun keras.

“terserahmu! Jika kau ingin pergi melanjutkan perjalanan ini, silahkan. Aku, akan tetap disini mencari chocho!”

Kedua namja itu beradu mata. Memberikan tatapan saling membenci ala lelaki. Wajah kyu hyun memerah menahan emosi, tapi lebih parah lagi wajah hyuk jae.

“baiklah, ayo kita pergi”

Kyu hyun beranjak pergi meninggalkan ji yeon dan arha. Kedua yeoja itu terlihat bingung untuk melakukan apa. Sadar jika tidak ada yang mengikutinya, kyu hyun berbalik dan menatap mereka gusar.

“APA LAGI?!” teriaknya.

“a aku rasa aku harus membantu hyuk jae, kyu. Walau bagaimanapun aku yang menghilangkannya” ahra berjalan menuju hyuk jae, meninggalkan ji yeon yang saat ini mendapatkan tatapan tajam dari namja itu.

“a aku… aku fikir akan lebih baik jika kita membantu hyuk jae” timpal yeoja itu.

 

__

Mereka berpencar. Mau tidak mau, kyu hyun harus ikut membantu mereka. Kyu hyun dan ji yeon pergi ke arah timur sedangkan arha dan hyuk jae pergi ke arah berlawanan. Berkali-kali ji yeon memukuli lengannya. Menyadari kebodohannya karena memakai t-shirt lengan pendek.

Dan puluhan nyamuk itu memang sialan! Lengannya sudah penuh benjolan merah. Lalu apa lagi?!!

“ini, pakailah”

Kyu hyun melepaskan jaket luarannya dan memberikannya pada ji yeon. Tidak dengan mengatakan apapun, ia kembali berjalan menyusuri hutan itu. ji yeon terdiam.

“sejak kapan dia membaik?”

Mereka kembali melanjutkan perjalan, lurus menuju ujung timur hutan. Entah apa saja yang telah mereka temukan sedari tadi. Yang pasti, chocho bukanlah salah satu darinya.

‘auuuu’

Ji yeon dengan cepat merapat. Memegangi lengan kyu hyun ketika namja itu juga berhenti didepannya.

“kau dengar itu kyu?”

“eum”

“apa itu serigala?” tanya yeoja itu kembali.

“mungkin”

“ayo kita kembali” perintahnya cepat. Namun kyu hyun tak bergeming.

“aku rasa kita harus menemukan chocho” ledeknya.

“tapi,,”

‘auuuu’

Ji yeon kembali mendelik kedalam lekukan siku kyu hyun. memperlihatkan wajah ketakutannya yang justru membuat kyu hyun tersenyum kecil.

“kyu, aku rasa kita sudah berjalan telalu jauh” Ji yeon berjalan mundur tak tentu arah. Sepertinya ia benar-benar ketakutan.

“bukan kearah sana! Ya, ji yeon!” teriak namja itu ketika ji yeon berjalan cepat menuju arah yang berlawanan. Namja itu segera mengejarnya dan menarik pergelangan tangan ji yeon. Namun naas, ujung kaki yeoja itu telah dahulu melewati sebuah tebing.

 

__

“ck, sepertinya kau memang sangat senang mencari masalah”

Kyu hyun menekuk lututnya. Seluruh tubuhnya terasa sakit setelah terjatuh bersama ji yeon dari tebing yang cukup tinggi. Parahnya lagi, yeoja itu berakhir dengan menjadikan kyu hyun alas tidurnya.

“mianhae” jawabnya lemas.

“sudah kukatakan itu bukan jalan pulang”

“aku terlalu cemas!” bela ji yeon.

“jadi berhentilah untuk bertindak berlebihan”

Kyu hyun memandang wajah itu. memang guratan ketakutan terukir diwajahnya. Membuat kyu hyun entah bagaimana caranya tak dapat lagi berkata apa-apa. Matahari senja mulai turun. Menyisakan warna oranye pada langit. Menimbulkan biasan warna yang cantik terutama jika terlihat dari ketinggian seperti ini. kyu hyun melirik arlojinya lalu berdecak kesal.

“akh, rusak” ujarnya. Ditatapnya ji yeon pelan sebelum akhirnya, “kau benar-benar tidak bisa berjalan?” tanya namja itu. ji yeon menggeleng pelan, sebuah luka membuat kakinya melemah dan tidak tahan untuk berdiri terlalu lama.

“mana tas mu?”

“untuk apa?”

“melihat peta”

“petanya bersama hyuk jae”

Kyu hyun terdiam. Menatap ji yeon dengan wajah datarnya. Lalu ia kembali mengacak isi dalam tas ji yeon.

“apa lagi?”

“mana sentermu?”

“dibawa ahra nuna”

“aish, kau ini!!”

Kyu hyun mengacak rambutnya gusar. Matahari sudah semakin menurun. Menyisakan bayangan gelap disekitar mereka. Seketika ji yeon merapatkan tubuhnya saat suara lolongan itu kembali terdengar. Tubuhnya sedikit bergetar meskipun ia menyembunyikan dengan baik ekspresi memalukan itu.

Kyu hyun melingkarkan tangannya pada pundak ji yeon. Memaksa yeoja itu untuk bersandar pada bahunya. Sesekali ia mengelus lembut pangkal lengan ji yeon. Membuat ji yeon dengan perlahan menjadi tenang.

“tenang, ada aku disini” bisiknya.

 

__

“kyu!! Cho kyu hyun!!”

“ji yeon-ah!!”

“park ji yeon!!”

Kyu hyun tersentak ketika mendengar teriakan dari beberapa orang di dekatnya. Sepertinya seluruh keluarga mencari karena hingga selarut ini mereka belum juga kembali.

Kyu hyun mengguncang pelan bahu ji yeon. Menyadarkannya jika ia sudah tertidur di bahu namja itu hampir dua jam lamanya.

“mereka datang”

Ujarnya pada yeoja itu. ji yeon segera terbangun dan berteriak semampunya. Berusaha agar keluarganya dapat menemukan dirinya bersama kyu hyun didalam pelosok hutan.

 

_tiga hari kemudian_

Ji yeon terbaring di atas tempat tidurnya. Sepertinya liburan kali ini ini ia harus bersyukur karena selamat dari permainan konyol itu dan juga tidak perlu memainkan permainan aneh lagi. meskipun ia harus merelakan kakinya untuk menjadi korban.

“kau sudah makan?”

Ji yeon tersenyum melihat namja didepannya. Selama tiga hari ini memang hanya namja itu yang sering berkunjung kedalam kamarnya. Menanyakan kabarnya dan apakan ia sudah makan atau belum.

“sudah, kau sendiri?”

“aku? Sudah. Bagaimana kabarmu?”

“mulai membaik. Lihat, sudah bisa digerakkan”

Ji yeon menggerakkan kakinya pelan, memberikan bukti pada namja itu jika ia sudah merasa lebih baik saat ini.

“Syukurlah. Kursi rodamu akan datang malam ini”

“benarkah?” ji yeon terlihat begitu antusias. Mengendap didalam kamar selama tiga hari bukanlah pilihan yang lebih baik daripada memakai kursi roda.

“eum. Appa yang memesannya”

“paman choi? Ah, ucapkan padanya terimakasih”

Ji yeon tersenyum senang. Siwon memang selalu dapat merubah moodnya. Namja itu juga akan menemaninya jika ia sedang merasa bosan.

“kalau begitu, aku permisi. Aku harus menemani appamu untuk membeli beberapa botol soju”

“mwo? Kalian akan minum bersama?”

“ah, tidak. Hanya appamu dan appa-appa lainnya”

Ji yeon tertawa mendengar perkataan namja itu. kemudian siwon berlalu setelah mengelus pelan ujung kepalan ji yeon. Ia berjalan menuju pintu dan tersentak kaget ketika menemukan seseorang disana.

 

__

Tok.. tok.. tok..

Ji yeon menatap pintu masuk lalu melirik jam dinding kamarnya. Siapa yang datang malam-malam seperti ini?

“masuk” ujarnya.

Ji yeon menatap tak percaya ketika menemukan seseorang yang kini berdiri di ujung pintu dan manatapnya.

“kursi roda mu” ujarnya singkat.

Seketika ji yeon tersenyum cerah melihat benda yang berada didalam kotak yang dibawa namja itu. kyu hyun tertegun, namun ia berusaha untuk mengendalikan dirinya dan duduk disebelah ji yeon.

“sudah datang?” tanya ji yeon. kyu hyun mengangguk sekali.

“mau mencobanya?” tanya namja itu. dan kali ini dijawab oleh sebuah anggukan dari ji yeon.

 

__

Ji yeon merapatkan sweater tipis yang ia gunakan malam itu. kyu hyun membawanya berkeliling taman dan entah mengapa ia hanya menuruti setiap perkataan namja itu. seperti ada sebuah rasa hangat disana. Ji yeon tersentak ketika sebuah jaket tebal menyelimuti tubuhnya.

“ini malam musim semi. apa kau terlalu bodoh untuk memakai sweater tipis itu?”

ji yeon terdiam. Aneh, kali ini rasanya ia sangat tidak ingin membalas cercaan namja itu dengan teriakan. Ia justru tersenyum dan terkikik pelan menyadari jika namja itu benar.

Tiba –tiba kursi roda itu berhenti, tepat di sebuah taman belakang didekat pondok kecil yang terbuat dari bambu. Kyu hyun berdiri disamping yeoja itu. memperhatikan pemandangan kerlap-kerlip lampu di bawah sana.

Seketika ji yeon tersentak ketika kyu hyun merangkak berpindah dan berjongkok didepannya. Ini kali pertama mereka sedekat ini secara sadar. Namun ji yeon tidak merasa harus menjauh darinya.

“kau…”

Namja itu berbicara lalu berhenti sebentar. Memandang ji yeon sesaat sebelum akhirnya menyentuh tangan yeoja itu.

“k kyu..”

Ji yeon terbelalak kaget. Dengan cepat kyu hyun menyambar bibir tipisnya. Membiarkan bibirnya menempel disana cukup lama. Hingga akhirnya ji yeon yang sedari awal tak mampu bergerak walau untuk sekedar menutup mata kali ini meresponnya.

Yeoja itu menutup kedua matanya dan menggenggam tangan kyu hyun lebih erat. Sebelah tangannya meremas ujung baju untuk meluapkan emosi didalam dirinnya.

Jutaan volt listrik seperti menyerang tubuh dan menguji kinerja jantungnya ketika kyu hyun mulai menggerakkan pelan bibirnya disana. Hangat. Tak ada perasaan dingin ditengah malam musim semi itu meskipun saat ini jaket tebal yang bertengger di pundak ji yeon telah terjatuh.

Namja itu mengecupnya pelan. Lembut sekali. Seolah-olah bibir ji yeon adalah sebuah permen kapas yang rapuh. Sebelah tangannya beralih menuju tengkuk yeoja itu dan memaksanya untuk memperdalam ciuman mereka.

Kyu hyun memang pandai. Karena bahkan disaat pertama kali melakukannya, ji yeon telah berani membalas pergerakan namja itu. sebuah kehangatan menjalar dalam hatinya. Ini.. ciuman pertamanya.

Kyu hyun melepaskan tautan mereka lalu menatap wajah yeoja itu lekat. Kedua pipi ji yeon yang memerah dan rambutnya yang sedikit berantakan. Kyu hyun mengalihkan sebelah tangannya menuju jantung. Dan seketika memandangi ji yeon dengan raut wajah terkejut.

“apa kau merasakannya? Apa kau merasakan ini?”

Ditariknya sebelah tangan ji yeon dan meletakkannya disana. Debaran keras jantung kyu hyun membuat ji yeon terdiam. Ini sama seperti yang ia alami.

“apa kau merasakannya?” ji yeon mengangguk pelan sebelum akhirnya dagunya tertarik dan membuat matanya terfokus pada namja itu.

“nuna, sepertinya aku menyukaimu”

 

-TBC-

14 thoughts on “IMPOSSIBLE LOVE (1/2)

  1. elfexotic says:

    aku udh baca d FWF.. suka tp lbih suka sequelnyaa..:-)

  2. vinda says:

    Kya…masa jiyeon jd nunna kyuhyun

  3. Ha Kyung SparKyu says:

    ThoOr aP nGaaK slAah Kyu My MaN ciuM ma Ji YeOn..???
    mrkAKn s’DarAaN..!!!
    WaaaHh mmNg EviL b’NeeR..Cri p’KaRaa..#MukuUL DahIi..

  4. Dwi_h@E says:

    aihhhhhh……. Kyu ngemesin

    Thor bikin ff hae dong
    Ff nc dan hae nya playboy *plissssssss*

  5. Novi says:

    Ya ampun ccho kyu ternyata dibalik sikapmu yg jahil tersimpan cinta bwt jiyeon…ckckckck…..ffnya keren….

  6. bunnydiamond says:

    Kyaaaaaaaaaa > O < …….
    Thoorrr…. Babyyyyy ….
    Ckckckck,,,, keren thor,,, semangatt (ง'̀⌣'́)ง

  7. @uliezgaem says:

    ya ampun kyu maen cium2 jja… dasar epil…hehehe

    trus siwon oppa ama siapa dung… ama aq jja kali ya…hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s